Pasangan Idaman

Terikatnya jalinan cinta dua orang insan dalam sebuah pernikahan adalah perkara yang sangat diperhatikan dalam syariat Islam yang mulia ini. Bahkan kita dianjurkan untuk serius dalam permasalahan ini dan dilarang menjadikan hal ini sebagai bahan candaan atau main-main.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ثلاث جدهن جد وهزلهن جد: النكاح والطلاق والرجعة

“Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius: nikah, cerai dan ruju.’” (Diriwayatkan oleh Al Arba’ah kecuali An Nasa’i. Dihasankan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah)

Salah satunya dikarenakan menikah berarti mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup tidak hanya untuk satu-dua hari saja bahkan seumur hidup, insya Allah. Jika demikian, merupakan salah satu kemuliaan syariat Islam bahwa orang yang hendak menikah diperintahkan untuk berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup.

Sungguh sayang, anjuran ini sudah semakin diabaikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Sebagian mereka terjerumus dalam perbuatan maksiat seperti pacaran dan semacamnya, sehingga mereka pun akhirnya menikah dengan kekasih mereka tanpa memperhatikan bagaimana keadaan agamanya. Sebagian lagi memilih pasangannya hanya dengan pertimbangan fisik. Mereka berlomba mencari wanita cantik untuk dipinang tanpa peduli bagaimana kondisi agamanya. Sebagian lagi menikah untuk menumpuk kekayaan. Mereka pun meminang lelaki atau wanita yang kaya raya untuk mendapatkan hartanya. Yang terbaik tentu adalah apa yang dianjurkan oleh syariat, yaitu berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup serta menimbang anjuran-anjuran agama dalam memilih pasangan.

Setiap muslim yang ingin beruntung dunia akhirat hendaknya mengidam-idamkan sosok suami dan istri dengan kriteria sebagai berikut: Read more »

Shahabat Berbuat Bid’ah!!??

Alhamdulillah. Wa sholatu wa ‘alaa rasulillahi wa ‘alaa ‘alihi wa ash habihi ajma’in wa man tabi’ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma Ba’du.

Yaa ayyuhal ikhwah, sungguh banyak syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh orang-orang ahlu bid’ah untuk memuluskan mereka dalam berbuat bid’ah. Namun kita harus tetap meyakini bahwasannya Islam ini sudah sempurna dan syari’at Islam juga mencakup seluruh hukum, dan tiada yang sempurna melainkan syari’at yang telah dibawa oleh Allah dan Rasul-Nya.

Maka dari itu seseorang apabila tidak kembali kepada Allah dan Rasul-Nya niscaya ia tidak akan diberikan rahmat oleh Allah. Dan Subhanallah, saudara-saudara kita masih saja ada yang terperangkap dalam tipu daya syaithon dan menganggap apa yang mereka lakukan baik. Sebab tentu saja, banyak diantara mereka yang tidak faham tentang dien, tidak juga faham terhadap tipu daya iblis dan kroni-kroninya, menganggap segalanya yang berbau ibadah baik, sehingga kabur antara batas sunnah dan bid’ah.

Beberapa hari ini juga saya mendapati syubhat-syubhat, salah satunya syubhat yang dilontarkan oleh salah seorang khatib di khutbah shalat jum’at di Masjid Al Muhajirin di perumahan Araya. Berikut akan saya bahas Insya Allah.

Syubhat tersebut adalah, “Bid’ah itu ada bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah (maksudnya bid’ah yang baik dan bid’ah yang sesat), sebab para shahabat juga pernah melakukan bid’ah, sebagaimana Ummi Maktum yang adzan pertama sebelum adzan subuh, kemudian rasululloh shallallahu’alaihi wa salam membiarkannya. Sebab hal itu adalah baik. Dan juga perkataan Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu yang mengomentari sholat tarawih secara berjama’ah dengan perkataan, ‘Inilah sebaik-baik bid’ah’. Maka dari itulah kalau kita bilang tahlilan, dzikir berjama’ah itu bukan bid’ah, sebagaimana kita puasa di bulan Rajab, karena bulan ini sangat mulia dan salah satu bulan yang diistimewakan oleh Allah Azza Wa Jalla”.

Kurang lebih demikian isi khutbah jum’at seorang khatib fulan. Read more »

Dauroh Ittiba’us Sunnah

Rangkaian Dauroh Ittiba’us Sunnah

Insya Allah akan didakan di Sidoarjo Juli – Agustus 2009

Ahad, 5 Juli 2009 pukul 8.30 – 11.30

Materi : Taubat, Kewajiban Seumur Hidup

Pemateri : Ust. Dr. Nurul Mukhlisin

(alumni Jami’ah Islamiyah Madinah)

Ahad, 2 Agustus 2009 pukul 8.30 – 11.30

Materi : Dahsyatnya Ayat Kursi

Pemateri : Ust. Dr. Ali Musri
(alumni Jami’ah Islamiyah Madinah, Rektor STDI Imam Syafi’i)

Ahad, 9 Agustus 2009 pukul 9.00 – 11.30

Materi : Hikmah Dalam Berdakwah

Pemateri : Ust. Abdullah Zaen, Lc.

(mahasiswa S2 Jami’ah Islamiyah Madinah)

TEMPAT : Masjid Shalahuddin

Puri Surya Jaya, Gedangan, Sidoarjo

Informasi : 03177976168

Rahasia Kurma

Kurma adalah buah yang berkah, Rasulullah SAW mewasiatkan kepada kita untuk memakannya ketika mulai berbuka dari puasa Ramadhan.

Dari Salman ibn ‘Aamir, Sesungguhnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Jika salahs eorang diantara kalian akan berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma sebab kurma itu berkah, kalau tidak ada maka dengan air karena air itu bersih dan suci. (HT. Abu Daud dan Tirmidzi)


Dari Anas, sesungguhnya Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam ; berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma mengkel segar yang baru dipetik dari pohonnya-pent) sebelum shalat, kalau tidak ada ruthab, maka dengan beberapa kurma matang, kalau tidak ada, maka dengan meneguk beberapa tegukan air putih. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Tidak diragukan lagi bahwa dibalik sunnah nabi ini ada petunjuk medis dan manfaat yang banyak bagi kesehatan, dan hukum yang bagus. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam telah memilih makanan ini dan tidak memilih yang lainnya karena adanya manfaat yang sangat besar, tidak hanya karena buah itu banyak dijumpai di lingkungannya semata. Maka, ketika seorang yang berpuasa mulai berbuka maka organ-organ tubuhnya akan bersiap; dan organ pencernaan mulai berakivitas kembali, khususnya lambung yang butuh untuk diberikan sesuatu yang lembut, dan memulai mengakifkan kerjanya kembali dengan halus. Dan orang yang sedang berpuasa, pada keadaan ini, sangat butuh akan makanan yang mengandung gula yang mudah dicerna, yang bisa menghilangkan rasa lapar, persis seperti ia butuh akan air.

Dan nutrisi makanan yang tercepat bisa dicerna dan sampai ke darah adalah zat gula, khususnya makanan yang mengandung satu atau dua zat gula (glukosa atau sukrosa). Sebab tubuh mampu menyerap dengan mudah dan cepat zat gula itu hanya dalam beberapa menit. Apalagi jika lambung dan perut sedang kosong, seperti orang yang berpuasa ini.


Andai anda mencari makanan yang bisa menyamai dua kandungan yang dituju ini secara bersama (menghilangkan lapar dan dahaga secara bersamaan dengan satu makanan), maka anda tidak akan pernah menemukan makanan itu lebih baik daripada apa yang disuguhkan oleh sunnah nabawiyah, dimana sunnah memotivasi orang yang berpuasa untuk membuka puasanya dengan zat gula manis sekaligus kaya akan air (ruthab) atau pun tamar (kurma matang).

Berdasarkan penelitian bio-kimia, ditemukan bahwa satu bagian kurma yang kita makan sama dengan 86 – 87 % beratnya; mengandung 20 – 24 % air; 70 – 75 % gula; 2 – 3 % protein; 8,5% serat; sangat kecil sekali kandungan lemah jenuh (lecithine).


Berdasarkan penelitian tersebut, juga ditemukan bahwa ruthab (kurma mengkel) mengandung 65 – 70 % air berdasarkan berat bersihnya; 24 – 58 % zat gula; 1,2 – 2 % protein; 2,5 % serat, dan sedikit sekali mengandung lemak jenuh (lecithine).


Berdasarkan penelitian kimiawi dan fisiologi yang dilakukan Dr. Ahmad Abdul Ra’ouf Hisyam dan Dr. Ali Ahmad Syahhat, diperoleh data sebagai berikut:

  • Mengkonsumsi ruthab (kurma mengkel, masih segar, matang dipohon) atau tamar (kurma matang kering seperti yang tersebar di Indonesia -pent) setiap kali mengawali buka akan menambah terhadap badan persentase yang besar akan kandungan zat gula, maka dengan ini akan hilang penyakit anemia (kurang darah), sehingga tubuh lebih menjadi bergairah;

  • Saat lambung kosong dari makanan, maka ia akan mudah mencerna dan menyerap makanan kecil yang mengandung gula ini secara cepat dan maksimal;

  • Sesungguhnya kandungan ruthab dan tamar akan zat gula dalam bentuk kimia sederhana menjadikan proses mencerna dan menyerap di lambung sangat mudah, sebab 2/3 (dua per tiga) zat gula ada dalam tamar dan dalam bentuk zat kimia sederhana. Hal ini pun bisa meningkatkan kadar gula dalam darah dalam waktu yang singkat;

  • Sesungguhnya adanya tamar yang mengandung air, dan ruthab yang mengandung air tinggi (65 - 70 %) akan menambahkan terhadap tubuh persentase yang tidak membahayakan, maka dengan itu seorang yang berpuasa tidak harus meminum air dalam jumlah banyak ketika berbuka. (Abm)

Dr. Hissaan Syamsi Basya

SIFAT DUDUK DALAM SHALAT DUA RAKA’AT

Oleh
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Telah berselisih para ulama dalam masalah sifat duduk di dalam shalat yang dua raka’at seperti shalat shubuh, shalat jum’at, dan shalat-shalat sunat yang dua rakaat, apakah sifat duduknya iftirasy seperti duduk di antara dua sujud, atau tawarruk?

Sebagian ulama berpendapat bahwa : Setiap shalat yang dua raka’at atau dengan kata lain setiap shalat yang hanya ada satu tasyahhudnya saja, seperti shalat shubuh, shalat jum’at, dan shalat-shalat sunat yang dua raka’at, sifat duduknya adalah iftirasy seperti duduk di antara dua sujud.

Dalil meraka ialah kemutlakan hadits-hadits atau riwayat yang menjelaskan bahwa hukum asal sifat duduk di dalam shalat adalah iftirasy. Kecuali shalat-shalat yang ada dua tasyahhud-nya seperti shalat zhuhur, ashar, maghrib, isyaa’, dan shalat-shalat sunat yang empat raka’at, maka duduk akhirnya tawarruk.

Ringkasnya, kalau shalat itu dua raka’at maka kembali kepada hukum asal sifat duduk di dalam shalat yaitu iftirasy. Dan kalau shalat itu mempunyai dua tasyahhud, maka sifat duduk tasyahhud awal adalah iftirasy, sedangkan tasyahhud akhir sifat duduknya tawarruk.

Inilah yang menjadi madzhabnya Imam Ahmad bin Hambal dan mereka yang sepaham dengan beliau.

Adapun madzhab Imam Abu Hanifah, karena sangat berpegang dengan hukum asal sifat duduk di dalam shalat adalah iftirasy, maka madzhab beliau tidak membedakan antara shalat yang dua raka’at dengan shalat yang mempunyai dua tasyahhud atau antara tasyahhud awal dan akhir sama saja, yaitu kembali kepada hukum asal sifat duduk di dalam shalat yaitu iftirasy, tidak ada tawarruk.

Madzhab Imam Abu Hanifah ini lemah, kalau tidak mau dikatakan sangat lemah, karena jelas sekali bertentangan dengan sejumlah hadits yang menjelaskan adanya sifat duduk tawarruk.

Kita kembali ke madzhab Imam Ahmad, dari keputusan madzhab beliau kita mengetahui, tidak ada satupun dalil -setahu saya- yang sampai kepada kita yang menjelaskan secara khusus bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kalau shalat yang dua raka’at seperti shalat shubuh dan lain-lain sifat duduknya adalah iftirasy. Atau sebagian Shahabat pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka’at duduknya iftirasy. Sebab, kalau ada riwayat yang seperti ini, sah dan tegas, maka tidak ada lagi perselisihan, tetapi wajib bagi kita taslim dan mengamalkannya sesuai dengan contoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena tidak ada dalil khusus seperti yang saya terangkan di atas, maka tahulah kita bahwa masalah ini adalah masalah cara mengeluarkan hukum atau istimbath yang sering membawa perselisihan yang berkepanjangan di antara para ulama’.
Read more »

Shodaqoh

Diriwayatkan dari Abu Hurairoh radhiyallahu `anhu, ia berkata: Seseorang datang menemui Rasulullah -Shallalaahu `Alaihi Wa `Ala Alihi Wa Sallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, shodaqoh yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?“  Beliau bersabda :

“Engkau bershodaqoh dalam keadaan sehat, amat membutuhkannya, khawatir miskin, dan berangan-angan menjadi orang kaya. Janganlah menunda-nunda (shodaqoh) sehingga jika ajal telah sampai ke kerongkongan engkau berkata, ‘Untuk si fulan sekian, untuk si fulan sekian.’ Padahal memang harta itu untuk si fulan”

H.R. Bukhari, lafazh ini darinya dan Muslim.

Jadi bersegeralah bersedekah, jangan menunggu uang banyak baru bersedekah, bersedekahlan meskipun dengan setengah biji kurma, karena hal itu insyaAllah akan menyelamatkan kita dari api neraka dan memudahkan semua jalan kita.

Jangan takut harta kita berkurang karena bersedekah, harta tidak akan kurang karena sedekah, hal ini dijamin oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam (Rosulllah telah menjaminnya !!)

“Tiga hal yang aku bersumpah atas ketiganya;
1. Tidak berkurang harta karena shodaqoh,

2. Tidak teraniaya seorang hamba dengan aniaya yang ia shabar atasnya, melainkan Alalah Azza Wajalla menambahkan kemuliaan, dan
3. Tidak membuka seorang hamba pintu meminta-minta (mulai mengemis dan meminta-minta -red), melainkan Allah membuka atasnya pintu kefakiran”

(HR Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Tanya Jawab: Tentang Salafush Sholeh

Bismillahirahmaanirrahiim,

Alhamdulillah. Wa sholatu ‘alaa muhammadin wa ‘alaa ‘alihii wa ash habihi wa man tabi’ahum bi ihsan ilaa yaumiddin. Amma Ba’du.

Di sebuah Komunitas Muslim Surabaya ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh seseorang fulan yang kebetulan ikut di sana. Mulanya membahas tentang Di manakah Allah. Hingga kemudian membahas tentang Mu’tazillah dan seterusnya. Sehingga orang yang awam terhadap masalah dien ini pun terkadang ragu terhadap diri mereka sendiri. Dan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pun seolah memberikan pertanyaan juga terhadap diri kita sendiri, apakah kita sudah meniti jalan salafush sholeh ataukah belum. Sangat berat memang untuk bisa seperti mereka–salafush sholeh. Tapi kita harus berusaha, sebab merekalah golongan yang selamat, dan jalan merekalah jalan yang selamat.

Pertanyaan-pertanyaan itu adalah seperti:
1. Siapakah yang dimaksud dengan “para salafush sholeh”? tolong sebutkan nama2nya!
2. Apakah mereka dimulai dari para sahabat Nabi saw dan tabi’in?
3. Apakah semua sahabat Nabi saw adalah Salafush sholeh? Jika tidak, bukankah semua sahabat Nabi saw itu sama2 punya jasa yg besar mendampingi beliau dlm perjuangan Islam?
4. Adakah dasar di dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi saw yg menyuruh kita untuk mengikuti Salafush Sholeh?
5. Bagaimana kalau terjadi perbedaan pendapat di antara Salafush Sholeh, yg mana yg harus kita ikuti?
6. Apakah di dlm mu’tazilah itu tdk ada ulama yg mampu memahami Al-Qur’an dan sunnah Nabi saw?
7. Kalau di dalam mu’tazilah itu ada ulama, mengapa sesama ulama mengkafirkan? Bukankah ulama itu pewaris Nabi saw.
8. Bukankah perbedaan mazhab itu hanyalah dalam memahami teks Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw?
9. Apakah pemahaman Salafush sholeh terhadap Al-Qur’an dan sunnah itu pasti benar persis seperti yg dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya?
10. Jika sama2 belum pasti benar mutlak, mengapa terjadi saling mengkafirkan? Apa dasarnya?

Read more »

Aqidah Ath Thahawiyah

Oleh Abu Ja’far Ath Thahawi

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Al-‘Allamah Hujjatul Islam Abu Ja’far Al-Warraq Ath-Thahawi-di Mesir-berkata: “Inilah penuturan keterangan tentang aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, menurut mahdzab para ahli fiqih Islam: Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit Al-Kufi, Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim Al-Anshari dan Abu Abdillah Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani Ridwanallahu ‘alaihim ajma’in, beserta pokok-pokok keagamaan yang mereka yakini dan mereka gunakan untuk beribadah kepada Allah Rabbil ‘alamin.” ¹
1. Kami menyatakan tentang tauhid kepada Allah, berdasarkan keyakinan semata-mata berkat taufiq Allah: Sesungguhnya Allah itu Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya.
2. Tiada sesuatupun yang menyamai-Nya.
3. Tiada sesuatupun yang dapat melemahkannya.
4. Tiada yang berhak untuk diibadahi selain diri-Nya.
5. Yang Maha Terdahulu tanpa berawal, yang Maha Kekal tanpa pernah berakhir.
6. Tak akan pernah punah ataupun binasa.
7. Tak ada sesuatupun yang terjadi, melainkan dengan kehendak-Nya.
8. Tak dapat digapai oleh pikiran, tak juga dapat dicapai oleh pemahaman.
9. Tidak menyerupai makhluk-Nya.
10. Yang Maha Hidup tak pernah mati, yang Maha Terjaga dan tak pernah tertidur.
11. Mencipta tanpa merasa membutuhkan (kepada ciptaan-Nya), membagi rezeki tanpa mengharapkan imbalan.
12. Mematikan tanpa gentar dan Membangkitkan (setelah mati) tanpa kesulitan.
13. Dia telah memiliki sifat-sifat itu semenjak dahulu, sebelum mencipta. Dengan terciptanya para makhluk, tak bertambah sedikitpun sifat-sifat-Nya. Yang selalu tetap dengan sifat-sifat- Nya semenjak dahulu tanpa berawal, dan akan terus kekal dengan-Nya, sifat-sifat-Nya selamanya.
14. Nama-Nya Al-Khaliq sebagai Pencipta, tidaklah disandang-Nya baru setelah Dia menciptakan makhluk-makhluk-Nya. Dan namanya Al-Bari (Yang Menjadikan) tidaklah diambil baru seusai Dia menjadikan hamba-hamba-Nya.
15. Dia-lah pemilik sebutan Al-Rabb (Pemelihara), dan bukanlah Dia Marhub atau yang dipelihara. Dia juga pemilik sebutan Al-Khaliq dan bukanlah Dia sebagai makhluk.
16. Sebagaimana Dia adalah Dzat yang menghidupkan segala yang mati (Al-Muhyi), Dia-pun berhak atas sebutan itu, dari sebelum menghidupkan mereka. Demikian juga Ia berhak menyandang sebutan Al-Khaliq sebelum menciptakan mereka.
17. Untuk itulah, Dia-pun berkuasa atas segala sesuatu, sementara segala sesuatu itu berharap kepada-Nya. Segala urusan bagi-Nya mudah, dan Dia tidaklah membutuhkan sesuatu. Firman-Nya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura : 11).
18. Dia menciptakan makhluk dengan ilmu-Nya.
19. Dia menentukan takdir atas mereka.
20. Dia menuliskan ajal kematian bagi mereka.
21. Tiada sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya sebelum Dia menciptakan mereka. Bahkan Dia mengetahui apa yang akan mereka kerjakan, juga sebelum menciptakan mereka.
22. Dia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk ta’at dan melarang mereka melakukan maksiat.
23. Segala sesuatu berjalan sesuai dengan takdir dan kehendak-Nya, sedangkan kehendak-Nya itu pasti terlaksana. Tidak ada kehendak bagi hamba-Nya melainkan memang apa yang dikehendaki-Nya. Apa yang Dia kehendaki, pasti terjadi. Dan apa yang tidak Dia kehendaki tak akan terjadi.
24. Dia memberi petunjuk siapa saja yang Dia kehendaki, memelihara dan mengayominya karena keutamaan-Nya. Dia juga menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, menghinakan seseorang dan menghukumnya berdasarkan keadilan-Nya.
25. Seluruh makhluk berada di bawah kendali kehendak Allah di antara kemurahan, keutamaan, dan keadilan-Nya.
26. Dia mengungguli musuh-musuh-Nya dan tak tertandingi oleh lawan-lawan-Nya.
27. Tak seorang pun mampu menolak takdir-Nya, menolak ketetapan hukum-Nya, atau mengungguli urusan-Nya.
28. Kita mengimani semua itu, dan kita pun meyakini bahwa segalanya datang daripada-Nya.
29. Sesungguhnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba-Nya yang terpilih, Nabi-Nya yang terpandang, dan Rasul-Nya yang diridlai.
30. Sesungguhnya beliau adalah penutup para Nabi ‘Alaihimu As-Sallam.
31. Dia pemimpin orang-orang bertakwa.
32. Dia penghulu para Rasul.
33. Kekasih Rabb sekalian alam.
34. Segala pengakuan sebagai Nabi sesudah beliau adalah kesesatan dan hawa nafsu.
35. Beliau diutus kepada golongan jin secara umum dan kepada segenap umat manusia, dengan membawa kebenaran, petunjuk dan cahaya yang terang.
¹ ]Muqadimah ini dikutip dari matan Al Aqidah At Thohawiyah dengan komentar dan syarah Syaikh Al Albani[
36. Sesungguhnya Al-Qur’an adalah Kalamullah; berasal dari-Nya sebagai ucapan yang tak diketahui kaifiyah (bagaimana)nya, diturunkan kepada Rasul-Nya sebagai wahyu. Diimani oleh kaum mukminin dengan sebenar-benarnya. Mereka meyakininya sebagai kalam Ilahi yang sesungguhnya. Bukanlah sebagai makhluk sebagaimana ucapan hamba-Nya. Barangsiapa yang mendengarnya (mendengar bacaan Al-Qur’an) dan menganggap itu sebagai ucapan makhluk, maka ia telah kafir. Allah sungguh telah mencelanya, menghinanya, dan mengancamnya dengan Naar (Neraka) Saqar. Allah berfirman: “Aku akan memasukkan ke dalam (Naar) Saqar.” (QS. Al-Muddatsir: 26). Allah mengancam mereka dengan Naar Saqar tatkala mereka mengatakan: “Ini (Al-Qur’an) tidak lain hanyalah perkataan manusia.” (QS. Al-Muddatsir : 25). Dengan itu kita pun mengetahui bahwa Al-Qur’an itu adalah kalam (ucapan) Pencipta manusia dan tidak menyerupai ucapan manusia.
37. Barangsiapa yang mensifati Allah dengan kriteria-kriteria manusia, maka dia sungguh telah kafir. Barangsiapa yang memahami hal ini niscaya dia dapat mengambil pelajaran. Akan dapat menghindari ucapan yang seperti perkataan orang-orang kafir, dan mengetahui bahwa Allah dengan sifat-sifat-Nya tidaklah seperti makhluk-Nya.
38. Melihat Allah adalah hak pasti (benar adanya) bagi Ahli Jannah (penduduk surga) tanpa dapat dijangkau oleh ilmu manusia, dan tanpa manusia mengetahui bagaimana memahami hal itu sebagaimana dinyatakan Rabb kita dalam Al-Qur’an: “Wajah-wajah (orang mukmin) pada waktu itu berseri-seri. Mereka betul-betul memandang kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23). Pengertian (sebenar)nya, adalah sebagaimana yang dikehendaki dan diketahui oleh Allah. Setiap hadits shahih yang diriwayatkan dalam persoalan itu, pengertian sesungguhnya adalah sebagaimana yang dikehendaki Allah. Tidak pada tempatnya kita terlibat untuk mentakwilkannya dengan pendapat-pendapat kita, atau menduga-duga saja dengan hawa nafsu kita.
39. Sesungguhnya seseorang tidak akan selamat dalam agamanya, sebelum ia berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, dan menyerahkan ilmu yang belum jelas baginya kepada orang yang mengetahuinya.
40. Sesungguhnya Islam hanyalah berpijak di atas pondasi penyerahan diri dan kepasrahan kepada Allah.
41. Barangsiapa yang mencoba mempelajari ilmu yang terlarang, tidak puas pemahamannya untuk pasrah, maka ilmu yang dipelajarinya itu akan menutup jalan baginya untuk memurnikan tauhid, menjernihkan ilmu pengetahuan dan membetulkan keimanan.
42. Maka menjadilah ia orang yang terombang-ambing antara keimanan dan kekufuran, pembenaran dan pendustaan, pengikraran dan pengingkaran. Selalu kacau, bimbang, tidak bisa dikatakan ia membenarkan dan beriman, tidak juga dapat dikatakan kafir dan ingkar.
43. Tidak sah keimanan seseorang yang mengimani bahwa penghuni jannah akan memandang Rabb mereka, yang semata-mata ditegakkan di atas prasangka (keragu-raguan) menganggapnya sebagai ‘praduga’ atau takwil dengan pemikirannya. Karena penafsiran ‘penglihatan’ itu, dan juga penafsiran segala pengertian yang disandarkan kepada Rabb, haruslah tanpa mentakwilkannya dan dengan kepasrahan diri. Itulah sandaran dien/keyakinan kaum muslimin.
44. Barangsiapa yang tidak menghindari penafian Asma’ dan shifat Allah atau menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya, dia akan tergelincir dan tak akan dapat memelihara kesucian diri.
45. Sesungguhnya Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tersifati dengan sifat Wahdaniyah (Maha Tunggal), tersifati dengan sifat Fardaniyah (ke-Maha Esa-an). Tak seorangpun dari hamba-Nya yang menyamai sifat-sifat tersebut.
46. Maha suci diri-Nya dari batas-batas dan dimensi makhluk atau bagian dari makhluk, anggota tubuh dan perangkat-Nya. Dia tidak terkungkungi oleh enam penjuru arah yang mengungkungi makhluk ciptaan-Nya.
47. Mi’raj (naiknya Nabi ke Sidratul Muntaha) adalah benar adanya. Beliau telah diperjalankan dan dinaikan (ke langit) dengan tubuh kasarnya (jasmani) dalam keadaan sadar, dan juga ke tempat-tempat yang dikehendaki Allah di atas ketinggian. Allah-pun memuliakan beliau dan mewahyukan kepadanya apa yang hendak Dia wahyukan. “Tidaklah hatinya mendustakan apa yang dilihatnya.” (QS. An-Najm: 11). Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam atas diri beliau di dunia dan di akhirat. ²
48. Haudh (telaga) Al-Kautsar yang dijadikan Allah kemuliaan baginya -dan pertolongan bagi umatnya- adalah benar adanya.
49. Syafa’at yang diperuntukkan Allah bagi mereka adalah benar adanya sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadits.
50. Perjanjian yang diikatkan Allah atas diri Adam dan anak cucunya (sebelum mereka dilahirkan-pent.) adalah benar adanya.
51. Semenjak zaman yang tak berawal, Allah telah mengetahui jumlah hamba-Nya yang akan masuk Jannah dan yang akan masuk Naar secara keseluruhan. Jumlah itu tak akan bertambah atau berkurang. Demikian juga halnya perbuatan-perbuatan mereka yang telah Allah ketahui apa yang akan mereka perbuat itu (juga tak akan berubah).
52. Setiap pribadi akan dimudahkan menjalani apa yang sudah menjadi kodratnya, sedangkan amalan-amalan itu (dinilai) bagaimana akhirnya. Orang yang bahagia adalah orang yang berbahagia dengan ketentuan kodratnya. Demikian juga orang yang celaka adalah yang celaka dengan ketentuan kodratnya.
53. Asal dari takdir adalah rahasia Ilahi yang tak diketahui hamba-hamba-Nya. Tak dapat diselidiki baik oleh malaikat yang dekat dengan-Nya, ataupun Nabi yang diutus-Nya. Memberat-beratkan diri menyelidiki hal itu adalah sarana menuju kehinaan, tangga keharaman, dan mempercepat penyelewengan. Waspadai dan waspadailah seluruh pendapat-pendapat, pemikiran-pemikiran, dan bisikan-bisikan tentang takdir tersebut. Sesungguhnya Allah menutupi ilmu tentang takdir-Nya agar tidak diketahui makhluk-Nya dan melarang mereka untuk mencoba menggapainya. Sebagaimana yang difirmankan-Nya: “Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiyaa’: 23).
Barangsiapa yang bertanya: “Kenapa Dia lakukan itu?”, berarti ia menolak hukum Al-Qur’an. Barangsiapa menolak hukum Al-Qur’an, berarti ia termasuk orang-orang kafir.
54. Inilah sejumlah persoalan yang dibutuhkan oleh orang-orang yang hatinya terang dari kalangan para wali Allah. Itulah derajat orang-orang yang sudah mendalam ilmunya. Karena ilmu itu ada dua macam, yaitu: ilmu yang dapat digapai makhluk (ilmu agama-pent.) dan ilmu yang terselubung baginya (ilmu ghaib). Mengingkari ilmu yang pertama berarti kekufuran. Dan mengaku-aku memiliki ilmu yang kedua juga kekufuran. Keimanan itu hanyalah
2 [ Tambahan ini berasal dari matan Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah dengan komentar Al-Albani terpatri dengan menerima ilmu yang harus digapai manusia, dan menghindarkan diri dari mencari ilmu yang terselubung. ]
55. Kita juga mengimani adanya Al-Lauh Al-Mahfudz, Al-Qalam, dan segala yang tercatat di dalamnya.
56. Seandainya seluruh makhluk bersepakat terhadap suatu urusan yang telah Allah tetapkan untuk terjadi, agar urusan itu batal, mereka tak akan mampu untuk mengubahnya. Sebaliknya seandainya mereka berkumpul menghadapi urusan yang telah Allah tetapkan untuk tidak terjadi, agar urusan itu terjadi, merekapun tidak akan mampu mengubahnya. Qalam (catatan) Allah telah ditetapkan untuk segala sesuatu yang akan terjadi sampai datangnya Hari Kiamat.
57. Sesuatu yang -ditakdirkan- tidak akan menimpa seorang hamba, maka tidak akan menimpanya. Dan yang akan mengenainya, maka tidak akan meleset.
58. Hendaknya seorang hamba tahu bahwa ilmu Allah telah mendahului segala sesuatu yang akan terjadi pada makhluk-Nya. Dia telah menentukan takdir yang baku yang tak bisa berubah. Tak ada seorang makhluk pun baik di langit maupun di bumi yang dapat membatalkan, meralatnya, menghilangkannya, mengubahnya, menggantinya, mengurangi, ataupun menambahnya.
59. Itulah buhul ikatan keimanan dan dasar-dasar ma’rifat dan pengakuan terhadap ke-Esa-an dan ke-Rububiyyah-an Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana yang difirmankan dalam Al-Qur’an:
“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqan : 2). Dan firman-Nya: “Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (QS. Al-Ahzab : 38).
60. Maka celakalah orang yang betul-betul menjadi musuh Allah dalam persoalan takdir-Nya. Dan mengikutsertakan hatinya yang sakit untuk membahasnya.³ Karena lewat praduganya ia telah mencari-cari dan menyelidiki ilmu ghaib yang merupakan rahasia tersembunyi. Akhirnya ia kembali dengan membawa dosa dan kedustaan.
61. ‘Arsy dan Kursiy-Nya adalah benar adanya.
3 [ Ungkapan ini terdapat juga dalam naskah aslinya sebagai berikut: “Celakalah orang yang sesat dalam memahami takdir-Nya karena hatinya yang sakit.” Dalam naskah yang lain “Celakalah orang yang hatinya sakit dalam memahami takdirnya.” Yang tertulis di sini berasal dari matan AL-Aqidah Ath-Thahawiyyah dengan syarah Al-Albany.].
62. Dia tidak membutuhkan ‘Arsy-Nya itu dan apa yang ada di bawahnya. Dia menguasai segala sesuatu dan apa-apa yang ada di atasnya. Dan Dia tidak memberi kemampuan kepada makhluk-Nya untuk menguasai segala sesuatu.
63. Kita juga menyatakan dengan penuh keimanan dan penyerahan diri bahwa sesungguhnya Allah telah menjadikan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sebagai kekasih-Nya, dan mengajak Nabi Musa ‘alaihis salam untuk berbicara dengan sebenar-benarnya.
64. Kita mengimani para Malaikat, para Nabi, dan kitab-kitab yang diturunkan kepada para Rasul. Kita pun bersaksi, bahwa mereka berada di atas kebenaran yang nyata.
65. Kita menyebut mereka yang (shalat) menghadap kiblat kita dengan (sebutan) kaum muslimin dan kaum mukminin selama mereka mengakui apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membenarkan segala apa yang beliau ucapkan dan beritakan.
66. Kita tidak mempergunjingkan Allah dan tidak membantah (ajaran) dien Allah.
67. Kita tidak menyanggah Al-Qur’an, dan bersaksi bahwa ia adalah Kalam Rabbul ‘Alamin, diturunkan dengan perantaraan Ruhul Amin (Malaikat Jibril), lalu diajarkan kepada Penghulu para Nabi yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alaihi ajma’in (salaaman tasliman katsiran). Ia adalah Kalam Ilahi yaitu yang tak akan dapat diserupakan dengan ucapan makhlukmakhluk-Nya. Kita pun tidak mengatakannya sebagai makhluk dan (dengan itu) tidak akan menyelisihi Jama’ah kaum muslimin.
68. Kita tidak mengafirkan Ahli Kiblat (kaum muslimin) hanya karena suatu dosa, selama dia tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang dihalalkan. Namun kita juga tidak mengatakan bahwa dosa itu sama sekali tidak berbahaya bagi orang yang melakukannya selama ia masih beriman.
69. Kita mengharapkan agar orang-orang yang berbuat fajir dari kalangan mukminin dapat diampuni dosa-dosa mereka dan dimasukkan Jannah karena rahmat-Nya, namun kita tidak menganggap mereka aman dari siksa-Nya.
70. Merasa aman dari siksa, atau putus asa dari ampunan Allah, keduanya dapat mengeluarkan dari Islam. Jalan yang benar bagi orang Islam adalah antara keduanya
71. Seorang hamba hanya akan keluar dari keimanannya kalau ia mengingkari apa yang telah ia imani.
72. Iman adalah [pembenaran dalam hati], pengakuan dengan lidah, dan pembuktian dengan (amalan) anggota badan.
73. Seluruh yang diriwayatkan dengan shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa ajaran syari’at adalah benar adanya.
74. Iman itu adalah satu bentuk. Pemilik keimanan tersebut dilihat dari asal imannya (4 ) adalah sama. Keutamaan di antara mereka diukur dengan ketakwaan, rasa takut kepada Allah, menghindari hawa nafsu, dan melakukan sesuatu yang lebih utama.
75. Kaum mukminin seluruhnya adalah wali-wali Ar-Rahman.
76. Yang paling mulia di antara mereka adalah yang paling taat dan paling ittiba’ dengan ajaran Al-Qur’an.
77. Pengertian Iman adalah: Beriman kepada Allah, para Malaikat, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, dan Takdir baik maupun buruk, manis maupun pahit. Dan bahwa kesemuanya berasal dari Allah.
78. Kita mengimani semua itu. Kita tidak membeda-bedakan seorang pun di antara para Rasul. Kita membenarkan mereka semua beserta apa yang mereka bawa.
79. Para pelaku dosa besar di kalangan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (bisa) masuk Naar, namun mereka tak akan kekal di dalamnya kalau mereka mati dalam keadaan bertauhid. Meskipun mereka belum bertaubat namun mereka menemui Allah (mati) dengan menyadari dosa mereka. Mereka diserahkan kepada kehendak dan keputusan Allah. Kalau Dia menghendaki, maka mereka dapat diampuni dan dimaafkan dosa-dosa mereka dengan keutamaan-Nya, sebagaimana yang difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla: “Dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa’: 48, 116).
Dan jikalau Dia menghendaki, mereka diadzab-Nya di Naar dengan keadilan-Nya. Kemudian Allah akan mengeluarkan mereka dari dalamnya dengan rahmat-Nya dan syafa’at orang yang berhak memberi syafa’at di kalangan hamba-Nya yang ta’at. Lalu mereka pun diangkat ke Jannah-Nya. Hal itu karena Allah adalah Wali bagi siapa yang berma’rifah kepada-Nya, maka Dia pun tidak menjadikan keadaan mereka di dunia dan di akhirat sama seperti mereka yang tidak berma’rifah kepada-Nya. Yaitu mereka yang luput, tak mendapatkan petunjuk-Nya, dan tidak dapat memperoleh hak kewalian-Nya. Wahai Dzat yang menjadi Wali bagi Islam dan pemeluknya, teguhkanlah kami bersama Islam sehingga kami datang menghadap ke haribaan-Mu.
4 [ Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz dalam komentarnya terhadap Matan Al-Aqidah Ath-Thahahiwah menyatakan: ‘Ucapan beliau “Pemilik keimanan itu dilihat dari asal al-imannya adalah sama” perlu diteliti lagi. Bahkan jelas kebatilannya. Justru mereka bertingkat–tingkat dengan perbedaan yang mencolok. Iman para Rasul tidaklah dapat disamakan dengan iman selain mereka. Demikian juga imannya para khulafa’ur rasyidun dan para sahabat lainnya, tidaklah sama dengan generasi belakangan. Iman orang yang betul–betul beriman juga tak sama dengan iman orang fasik. Keterpautan itu, didasari dengan perbedaan apa yang di dalam hati, berupa pengenalan terhadap Allah, Asma’ dan Shifat-Nya dan apa–apa yang disyari’atkan bagi hamba-Nya. Itulah pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah. Berseberangan dengan pendapat Al-Murji’ah dan yang sependapat dengan mereka, Wallahul Musta’an. ]
80. Kami menganggap sah shalat (jama’ah) di belakang Imam, baik yang shalih maupun yang fasik dari kalangan Ahli Kiblat. Dan menshalatkan siapa saja yang meninggal di antara mereka.
81. Kita tak dapat memastikan mereka, masuk Jannah atau Naar.
82. Kita tak bisa bersaksi bahwa mereka itu kafir, musyrik, maupun munafik, selama semua itu tidak tampak nyata dari diri mereka. Kita menyerahkan rahasia hati mereka kepada Allah Ta’ala.
83. Kita tidak boleh mengangkat pedang (berperang/menumpahkan darah) terhadap seorang pun dari ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali terhadap mereka yang wajib diperangi.
84. Kita juga tidak membolehkan memberontak terhadap pemimpin-pemimpin dan Ulul ‘Amri kita, meskipun mereka berbuat lalim. Kita tidak menyumpahi mereka dan tidak berlepas diri dengan tidak taat kepada mereka. Kita berkeyakinan bahwa mentaati mereka sepanjang dalam ketaatan kepada Allah adalah wajib, selama mereka tidak menyuruh berbuat maksiat. Kita tetap mendoakan kebaikan untuk mereka dan agar mereka dikaruniai kebaikan jasmani maupun rohani.
85. Kita tetap mengikuti As-Sunnah dan Al-Jama’ah, menghindari sesuatu yang aneh, perselisihan (yang didasari menyelisihi Al-Jama’ah-pent.) dan menghindari perpecahan.
86. Kita mencintai orang yang adil dan menjaga amanah serta membenci orang yang zhalim dan khianat.
87. Terhadap sesuatu yang masih samar ilmunya bagi kita, kita mengucapkan Allahu A’lam.
88. Kita berpendapat disyari’atkannya mengusap khuff (sepatu) baik di waktu mukim maupun safar (bepergian). Sebagaimana dijelaskan dalam beberapa riwayat.
89. Jihad dan ibadah haji dilakukan bersama Ulul ‘Amri, baik yang shalih maupun yang fasik, hingga hari kiamat. Keduanya tak dapat dibatalkan dan dirusak oleh segala sesuatu.
90. Kita mengimani para Malaikat yang Mulia, pencatat amal manusia. Sesungguhnya Allah telah menjadikan mereka sebagai pengawas bagi kita.
91. Kita juga mengimani Malaikat Maut yang diberi tugas mencabut nyawa para makhluk hidup.
92. Kita pun mengimani adanya adzab kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya dan juga pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir kepadanya di dalam kubur tentang Rabb dan agamanya berdasarkan riwayat-riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat Ridwanullahu ‘alaihim ajma’in. Alam kubur adalah taman-taman Jannah atau kubangan-kubangan Naar.
93. Kita juga mengimani Hari Ba’ats dan balasan amal perbuatan pada hari kiamat, kita juga mengimani pendedahan (penyingkapan) amal perbuatan, hisab, pembacaan catatan amal, ganjaran baik dan siksa, shirat dan al-mizan di Hari Kiamat.
94. Jannah dan Naar adalah dua makhluk Allah yang kekal, tak akan punah dan binasa. Sesungguhnya Allah telah menciptakan keduanya sebelum penciptaan makhluk lain dan Allah-pun menciptakan penghuni bagi keduanya.
95. Barangsiapa yang dikehendaki-Nya untuk masuk Jannah, maka itu adalah keutamaan dari-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki-Nya untuk masuk Naar, maka itu adalah keadilan dari-Nya. Masing-masing akan beramal sesuai dengan apa yang menjadi ketetapan dari-Nya dan akan kembali kepada apa yang menjadi kodratnya. Kebaikan dan keburukan seluruhnya telah ditetapkan atas hamba-hamba-Nya.
96. Kemampuan, yang dengan wujudnya datang kewajiban amal adalah semacam taufik yang bukan merupakan kriteria mahkluk. Adapun kemampuan dalam arti kesehatan tubuh, potensi, kekuatan, dan selamatnya diri dari bermacam musibah, adalah persiapan sebelum melakukan amalan. Dengan itulah hukum tersebut digantungkan, sebagaimana yang difirmankan Allah:
“Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sebatas kesanggupannya.“ (QS. Al-Baqarah: 286).
97. Amal perbuatan hamba adalah makhluk Allah, namun juga hasil usaha hamba itu sendiri.
98. Allah hanya membebani mereka sebatas yang mereka mampu. Dan mereka pun memang tidak akan mampu melainkan sebatas apa yang dibebankan Allah atas mereka. Itulah pengertian kalimat Laa haula wa laa quwwata illa billah. Kita mengatakan: tiada jalan bagi seorang hamba dan tidak pula ia memiliki kebebasan beraktivitas, dan beranjak meninggalkan maksiat melainkan dengan pertolongan Allah. Dan seorang pun tidak memiliki kekuatan untuk melaksanakan dan bertahan dalam ketaatan kepada Allah, melainkan dengan taufik-Nya.
99. Segala sesuatu berlaku menurut kehendak, ilmu, keputusan dan takdir-Nya. Dia berbuat sekehendak-Nya, namun tidaklah sekali-kali Dia mendzhalimi hamba-Nya. “Tidaklah Dia ditanya tentang apa yang Dia perbuat, tetapi merekalah yang akan ditanya tentang (apa yang mereka perbuat).” (QS. Al-Anbiyaa’: 23).
100. Do’a dan sedekah orang yang hidup dapat bermanfaat bagi mereka yang sudah mati.
101. Allah Ta’ala mengabulkan segala do’a dan memenuhi segala kebutuhan hamba-Nya
102. Dia-lah yang memiliki segala sesuatu namun tidak dimiliki oleh sesuatu. Tidak sekejappun (hamba-hamba-Nya) lepas dari rasa butuh kepada-nya. Barangsiapa yang merasa tak butuh kepada Allah sekejappun, dia telah kafir dan termasuk orang yang binasa. 103. Allah Subahanahu wa Ta’ala juga Murka dan Ridhla, namun tidak menyerupai satupun dari makhluk-Nya.
104. Kita mencintai para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang di antaranya. Tidak juga kita bersikap meremehkan terhadap seorang pun dari mereka. Kita membenci siapa-siapa yang membenci mereka dan siapa-siapa yang menyebutkan mereka dengan kejelekan. Kita pun hanya menyebut mereka dalam kebaikan. Mencintai mereka adalah pengamalan ad-dien (agama), keimanan, dan ihsan. Sementara membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan melampaui batas.
105. Kita mengakui kekhalifahan sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang pertama adalah Abu Bakr As-Shiddiq radliyallahu ‘anhu sebagai sikap mengutamakan dan mengunggulkan dirinya atas semua umat Islam.
106. Kemudian ‘Umar bin Al-Khattab radliyallahu ‘anhu.
107. Setelah itu ‘Utsman bin ‘Affan radliyallahu ‘anhu.
108. Kemudian ‘Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu.
109. Merekalah yang disebut dengan Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun dan para imam yang mendapat petunjuk.
110. Sepuluh orang sahabat yang disebut-sebut Nabi dan diberi kabar gembira sebagai penghuni Jannah, kita akui sebagai penghuni Jannah berdasarkan persaksian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perkataan beliau yang benar. Mereka adalah: Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Thalhah [bin ‘Ubaidillah], Az-Zubeir [bin Al-Awwam], Sa’ad [bin Abi Waqqas], Sa’id [bin Zaid], Abdurrahman bin ‘Auf, dan Abu ‘Ubaidah Al-Jarrah –orang tepercaya umat ini–radliyallahu ‘anhum.
111. Barangsiapa yang membaguskan ucapannya terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, istri-istri beliau yang bersih dari segala noda, serta anak cucu beliau yang suci dari segala najis, maka orang itu telah selamat dari kemunafikan.
112. Para ‘ulama As-Salaf terdahulu [para sahabat-pent.] dan yang sesudah mereka dari kalangan Tabi’in adalah pelaku kebaikan dan ahli hadits, ahli fiqih, dan ahli ushul. Mereka semuanya harus disebutkan kebaikannya. Barangsiapa yang menjelek-jelekkan mereka, maka dia tidak berada di atas jalan mereka (para sahabat).
113. Kita tidak mengutamakan salah seorangpun di antara para wali Allah di atas seorang Nabi ‘Alaihi As-Sallam. Bahkan kita mengatakan bahwa seorang saja dari para Nabi itu lebih utama dibanding seluruh para wali.
114. Kita mengimani adanya karomah-karomah mereka dan segala riwayat tentang mereka yang dinukil dari para perawi yang tepercaya.
115. Kita juga mengimani adanya tanda-tanda hari kiamat berupa keluarnya Ad-Dajjal dan turunnya Nabi ‘Isa ‘Alaihis Sallam dari langit. Kita juga mengimani terbitnya matahari dari barat dan keluarnya Ad-Daabbah [salah satu tanda kiamat yaitu binatang yang dapat berbicara seperti manusia-pent.] dari kediamannya.
116. Kita tidak mempercayai (ucapan) dukun maupun peramal, demikian juga setiap orang yang mengakui sesuatu yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah serta Ijma’ kaum muslimin.
117. Kita meyakini bahwa Al-Jama’ah adalah haq dan kebenaran, sementara Al-Furqah adalah penyimpangan dan siksaan.
118. Ad-Dien (agama) Allah di langit dan di bumi hanyalah satu, yaitu dienul Islam, Allah berfirman: “Sesungguhnya agama (yang diridhlai) di sisi Allah hanyalah Al-Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 19). Dia juga berfirman: “Dan telah Aku ridlai Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3). Dan Islam itu berada di antara sikap berlebih-lebihan dan sikap meremehkan, antara menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk dan menafikkan (meniadakan) sifat-sifat itu, antara Jabriyah (kaum yang bersandar kepada takdir saja) dan Al-Qadariyah (kaum yang menolak takdir), dan antara yang merasa aman dari siksa Allah dan yang putus asa dari rahmat Allah.
119. Inilah agama dan keyakinan kami lahir maupun batin. Kami berlepas diri –dengan kembali kepada Allah– dari setiap yang menyelisihi apa yang kami sebutkan dan kami jelaskan. Kita memohon kepada Allah untuk menetapkan diri kita di atas keimanan, mematikan kita dengan keyakinan itu, memelihara kita dari pengaruh hawa nafsu yang bermacam-macam, dan dari pendapat-pendapat yang beraneka ragam, dan mahdzab-mahdzab yang jelek, seperti: Mu’tazilah, Al-Jahmiyyah, Al-Jabriyyah, Al-Qadariyyah, dan lain-lain, dari kalangan mereka yang menyelisihi Al-Jama’ah dan bersanding dengan kesesatan. Kita berlepas diri dari mereka. Dan mereka menurut kami adalah orang-orang sesat dan jahat. Wa billahi Al-‘Ishmatu wa At-Taufiq.

Hadist Arba’in Nawawi Larangan Berbuat Zalim

Hadist ke -24

عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ : يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلىَ نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّماً، فَلاَ تَظَالَمُوا . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ  ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ، يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُوْنِي . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ   مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ .   يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعَمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوْفِيْكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ    وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ .

[رواه مسلم]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Dzar Al Ghifari radhiallahuanhu dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabbnya Azza Wajalla bahwa Dia berfirman: Wahai hambaku, sesungguhya aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menetapkan haramnya (kezaliman itu) diantara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim. Wahai hambaku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan memberikan kalian hidayah. Wahai hambaku, kalian semuanya kelaparan kecuali siapa yang aku berikan kepadanya makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semuanya telanjang kecuali siapa yang aku berikan kepadanya pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni. Wahai hamba-Ku sesungguhnya tidak ada kemudharatan yang dapat kalian lakukan kepada-Ku sebagaimana tidak ada kemanfaatan yang kalian berikan kepada-Ku. Wahai hambaku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di antara kamu, niscaya hal tersebut tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin di antara kalian, semuanya seperti orang yang paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya  sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir semuanya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikaan maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah ada yang dicela kecuali dirinya.

(Riwayat Muslim)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث:

1.     Menegakkan keadilan di antara manusia serta haramnya kezaliman di antara mereka merupakan tujuan dari ajaran Islam yang paling penting.

2.     Wajib bagi setiap orang untuk memudahkan jalan petunjuk dan memintanya kepada Allah ta’ala.

3.     Semua makhluk sangat tergantung kepada Allah dalam mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan terhadap dirinya baik dalam perkara dunia maupun akhirat.

4.     Pentingnya istighfar dari perbuatan dosa dan sesungguhnya Allah ta’ala akan mengampuninya.

5.     Lemahnya makhluk dan ketidakmampuan mereka dalam mendatangkan kecelakaan dan kemanfaatan.

6.     Wajib bagi setiap mu’min untuk bersyukur kepada Allah ta’ala atas ni’mat-Nya dan taufiq-Nya.

7.     Sesungguhnya Allah ta’ala menghitung semua perbuatan seorang hamba dan membalasnya.

8.     Dalam hadits terdapat petunjuk untuk mengevaluasi diri (muhasabah) serta penyesalan atas dosa-dosa

Hadits Tentang Pengharaman Isbal

Diambil dari blog salah satu saudaraku.

Jumhur ulama mengatakan bahwa isbal jika tidak disertai dengan kesombongan, maka hukumnya tidak sampai pada derajat haram. Paling berat adalah makruh/tercela. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa isbal itu haram secara mutlak, baik dengan atau tanpa kesombongan. Saya ingin mengajak teman-teman mencermati keseluruhan hadits (walau di sini nanti saya tidak menyebutkan keseluruhannya – namun hanya berkisar pada sebagian besarnya saja) yang berbicara mengenai sifat pakaian, khususnya dalam bahasan isbal. Di sini saya lebih condong pada pendapat yang mengatkan bahwa isbal haram secara mutlak. Berikut penjelasannya :

1. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu

عن أبي هريرة رضى الله تعالى عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ta’ala ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwasannya beliau bersabda : “Apa-apa yang berada di bawah mata kaki dari kain, maka tempatnya adalah di neraka” [HR. Al-Bukhari nomor 5450, Ahmad nomor 9936, Abdurrazzaq nomor 19987, dan yang lainnya].

Abul-Jauzaa’ berkata : “Hadits ini bermakna umum, yaitu bahwa segala sesuatu dari kain yang dikenakan yang melebihi mata kaki adalah berdosa dan tempatnya di nereka (akibat dosa tersebut). Di sini tidak ditunjukkan pembatasan (taqyid) atas kesombongan. Objek yang dituju oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah pakaian. Bukan pelakunya secara langsung”.

2. Hadits Abu Dzarr radliyallaahu ‘anhu :

عن أبي ذر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم قال فقرأها رسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاث مرار قال أبو ذر خابوا وخسروا من هم يا رسول الله قال المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب

Dari Abi Dzarr radliyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda : “Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah di hari kiamat, tidak dilihat, dan tidak pula disucikan serta baginya adzab yang sanga pedih”. Abu Dzar berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengucapkannya tiga kali”. Kemudian Abu Dzarr bertanya : “Sungguh sangat jelek dan meruginya mereka itu wahai Rasulullah ?”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “(Mereka adalah) Musbil (orang yang melakukan isbal), orang yang gemar mengungkit-ungkit kebaikan yang telah diberikan, dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu” [HR. Muslim nomor 106, Abu Dawud nomor 4087, At-Tirmidzi nomor 1211, dan yang lainnya]. Read more »