Ilmu Musthalah Hadits bag-15

MAQLUB
Nudhatun-Nadhar halaman 47; Taisir Musthalah Hadits halaman 107; Ulumul-Hadits halaman 91; Al-Ba’itsul-Hatsits halaman 78; dan Tadriibur-Rawi halaman 191

Definisi

Menurut bahasa, kata “maqlub” adalah isim maf’ul dari kata qalb yang berarti membalikkan sesuatu dari bentuk yang semestinya.

Menurut istilah, hadits maqlub adalah “mengganti salah satu kata dari kata-kata yang terdapat pada sanad atau matan sebuah hadits, dengan cara mendahulukan kata yang seharusnya diakhirkan, mengakhirkan kata yang seharusnya didahulukan, atau dengan cara yang semisalnya.

Bagian-Bagiannya

Hadits maqlub terbagi menjadi dua bagian : maqlub sanad dan maqlub matan.

1. Maqlub Sanad

Maqlub sanad adalah hadits maqlub yang penggantiannya terjadi pada sanadnya. Maqlub sanad ini mempunyai dua bentuk :

Bentuk pertama : seorang perawi mendahulukan dan mengakhirkan satu nama dari nama-nama para perawi dan nama ayahnya. Misalnya sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ka’ab bin Murrah, namun seorang perawi meriwayatkan hadits tersebut dengan mengatakan : “Murrah bin Ka’ab”.

Tentang permasalahan ini Al-Khathib Al-baghdadi menulis sebuah buku yang beliau namai dengan Raf’ul-Irtiyab fil-Maqlub minal-Asmaa’ wal-Ansaab.

Bentuk Kedua : Seorang perawi mengganti salah satu nama dari nama-nama perawi sebuah hadits dengan nama lain, dengan tujuan supaya nama perawi tersebut tidak dikenal. Seperti hadits yang sudah terkenal diriwayatkan dari Salim, namun seorang perawi mengganti namanya dengan nama Nafi’.

Contoh:“

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Hammad bin ‘Amr An-Nashibi (seorang pendusta), dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu secara marfu’ :

فإذا لقيتم المشركين فـي الطريق فلا تـبدءوهم بالسلام

”Jika kalian bertemu dengan orang-orang musyrik di suatu jalan, maka janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada mereka”.

Hadits ini adalah hadits yang maqlub, karena Hammad membaliknya, dimana dia menjadikan hadits ini diriwayatkan dari Al-A’masy. Padahal sudah diketahui bersama bahwa hadits ini diriwayatkan dari Suhail bin Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu. Seperti inilah Imam Muslimmeriwayatkannya dalam kitabnya. Beliau meriwayatkannya dari Syu’bah, Ats-Tsauri, Jarir bin Abdul-Hamid, dan Abdul-‘Aziz Ad-Daruwardi; kesemuanya dari Suhail.

Pelaku perbuatan ini jika melakukannya dengan sengaja, maka ia dijuluki “pencuri hadits”. Perbuatan ini terkadang dilakukan oleh perawi yang terpercaya karena keliru, bukan karena kesengajaan sebagaimana yang dilakukan oleh perawi pendusta.

2. Maqlub Matan

Maqlub matan adalah hadits maqlub yang penggantiannya terjadi pada matannya. Maqlub matan ini mempunyai dua bentuk :

Bentuk pertama : Seorang perawi mendahulukan sebagianmatan yang seharusnya diakhirkan dari sebuah hadits dan mengakhirkan sebagian matan yang seharusnya didahulukan.

Contoh :

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu. Yaitu hadits tentang tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya, dimana hari itu tidak ada naungan selain naungan-Nya. Di dalamnya disebutkan salah satu dari ketujuh golongan tersebut :

رجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تـعلم يمينه ما تـنفق شماله

”dan seorang laki-laki yang bersedekah kemudian ia menyembunyikan sedekahnya sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya”. Ini adalah salah satu riwayat yang terbalik yang dilakukan oleh seorang perawi.

Sedangkan riwayat yang benar adalah : ”Sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya”. Seperti inilah hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Kitab Al-Muwaththa’-nya, Imam Bukhari dalam Kitab Shahih-nya, dan para ahli hadits lain. Itulah contoh dari bagian pertama, dimana ada keterbalikan dalam matannya karena sudah menjadi suatu yang maklum bahwa bersedekah itu dilakukan dengan tangan kanan.

Bentuk kedua : Seorang perawi menyambung sebuah matan hadits dengan sanad hadits lain dan menyambungkan sebuah sanad hadits dengan matan hadits lain. Penggantian ini dilakukan dalam rangka menguji sebagian ulama hadits, supaya bisa diketahui sampai dimana tingkat kekuatan hafalannya sebagaimana yang dilakukan oleh ulama’ Baghdad terhadap Imam Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari ketika datang menemui mereka.

Al-Khathib Al-Baghdadi meriwayatkan bahwa para ulama Baghdad berkumpul dan bersepakat untuk membolak-bailkkan matan dan sanad seratus hadits, dimana mereka menyambungkan matan dengan sanad lain dan menyambungkan sanad dengan matan lain. Kemudian mereka memberikan hadits-hadits yang mereka balik matan dan sanadnya kepada Imam Bukhari dan menanyakan kepadanya. Maka satu per satu beliau mampu mengembalikan matan ke sanadnya dan mengembalikan sanad ke matannya tanpa melakukan kesalahan sedikitpun.

Hukum Melakukan Pembalikan Matan atau Sanad

Hadits maqlub termasuk salah satu dari jenis-jenis hadits yang dla’if. Akan tetapi hukumnya berubah-ubah menurut sebab terjadinya pembalikan (qalb).

1. Jika pembalikan pada matan dan sanad hadits dilakukan bertujuan agar sanad atau matannya tidak diketahui, maka perbuatan ini tidak diperbolehkan karena perbuatan tersebut sama dengan merubah hadits. Sedangkan merubah hadits adalah perbuatan para perawi pendusta.

2. Jika dilakukan untuk menguji yang betujuan untuk mengecek tingkat kekuatan hafalan dan kelayakan seorang menjadi ahli hadits, maka hal ini diperbolehkan. Kebolehan melakukan pembalikan ini harus memenuhi syarat. Yaitu seorang perawi yang melakukan pembalikan harus menjelaskan matan dan sanad tersebut sebelum ia meninggalkan tempat.

AL-MAZIID FII MUTTASHIL AL-ASANID
Taisir Musthalah Hadits halaman 110; Nudhatun-Nadhar halaman 48; Al-Ba’itsul-Hatsits halaman 176; dan Tadribur-Rawi halaman 392

Definisi

Al-Mazid adalah isim maf’ul dari kata ziyaadah yang berarti tambahan.

Al-Muttashil adalah lawan kata dari Al-Munqathi’ yang berarti bersambung.

Sedangkan Al-Asaanid adalah bentuk jamak dari kata Isnad yang berarti mata rantai para perawi sebuah hadits.

Berdasarkan pada uraian di atas, maka Al-Maziid fii Muttashil Al-Asanid artinya : “Perawi yang ditambahkan dalam sebuah sanad hadits, dimana sanad tersebut jika dilihat maka tampak secara lahiriyyah seakan-akan tersambung.

Contoh

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnul-Mubarak, ia berkata,”Sufyan telah menceritakan kepadaku dari Abdurrahman bin Yazid, ia berkata : Bisr bin ‘Ubaidillah menceritakan kepadaku, ia berkata : Aku mendengar Abu Idris berkata : Aku mendengar Watsilah berkata : Aku mendengar Abu Martsad berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata :

”Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan janganlah kalian shalat menghadapnya” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi, keduanya dengan tambahan dan membuang “Abu Idris” )

Dalam hadits di atas ada dua perawi yang ditambahkan, yaitu Sufyan dan Abu Idris. Diperkirakan Sufyan tersebut ditambahkan ke dalam sanad di atas oleh perawi sebelum Ibnul-Mubarak. Karena para perawi yang terpercaya meriwayatkan hadits ini dari Ibnul-Mubarak dari Abu Yazid. Bahkan sebagian dari mereka ada yang menyatakan dengan tegas bahwa Ibnul-Mubarak mendengar langsung dari Abu Yazid.

Sedangkan Abu Idris diperkirakan ditambahkan oleh Ibnul-Mubarak. Karena para perawi yang terpercaya meriwayatkan hadits ini dari Abdurrahman bin Yazid dan tidak ada satupun dari mereka yang menyebutkan Abu Idris. Bahkan sebagian dari mereka ada yang mengatakan dengan tegas bahwa Bisr mendengar langsung dari Watsilah. Para ulama hadits yang terpercaya menghukumi bahwa Ibnul-Mubarak melakukan kesalahan pada kasus ini.

Tambahan di atas dapat ditolak dan dijadikan alasan untuk melemahkan perawi yang menambahkannya dengan syarat :

1.  Perawi yang tidak menambahkan lebih kuat hafalannya daripada perawi yang menambahkan.

2.  Terdapat dalam penambahan tersebut penjelasan yang tegas bahwa perawi satu dengan lainnya betul-betul mendengar.

Oleh karena itu, jika dua syarat di atas tidak dipenuhi atau salah satu dari keduanya (tidak dipenuhi); maka penambahan tersebut dimenangkan atau diterima. Sedangkan sanad yang tidak ada tambahannya dianggap terputus (Munqathi’ ), akan tetapi keterputusan sanad tersebut masih dianggap ringan. Inilah yang dimaksud mursal khafiy.

Dalam hal ini Imam Al-Khathib Al-Baghdadi telah mengarang sebuah buku yang beliau namakan dengan Tamyiz Al-Maziid fii Muttashil Al-Asaanid.

MUDLTHARIB
Nudhatun-Nadhar halaman 48; Taisir Musthalah Al-Hadits halaman 112; Tadribur-Rawi halaman 169; Ulumul-Hadits halaman 83; dan Al-Ba’itsul-Hatsits halaman 72

Definisi

Secara bahasa, kata mudltharib adalah kata benda yang berbentuk isim fa’il (pelaku) dari kata Al-Idlthirab yang berarti urusan yang diperselisihkan dan rusak aturannya.

Secara istilah, hadits Mudltharib adalah hadits yang diriwayatkan dari jalur yang berbeda-beda serta sama dalam tingkat kekuatannya, dimana satu jalur dengan yang lainnya tidak memungkinkan untuk disatukan atau digabungkan, dan tidak memungkinkan pula untuk dipiliha salah satu yang terkuat.

Akan tetapi jika antara jalur satu dengan yang lainnya dapat disatukan atau digabungkan, maka hilanglah ketidakjelasan (Al-Idlthirab) itu, dan dibolehkan untuk mengamalkan semua riwayat. Jika dapat dipilih salah satu yang terkuat, maka yang dibolehkan untuk diamalkan adalah riwayat yang terkuat tersebut saja.

Bagian-Bagian Hadits Mudltharib

Ketidaktetapan (Al-Idlthirab kadang-kadang terjadi pada matannya. Namun terjadinya ketidaktetapan (Al-Idlthirab) pada sanad lebih banyak daripada yang terjadi pada matannya.

1.  Mudltharib Sanad

Contohnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar, ia berkata,”Wahai Rasulullah, aku melihat rambutmu beruban”. Maka beliau bersabda :

”Yang telah membuat rambutku beruban adalah Hud dan saudara-saudaranya” (HR. At-Tirmidzi).

Imam Ad-Daruquthni berkata,”Hadits ini adalah hadits mudltharib, karena hadits ini tidak diriwayatkan kecuali satu dari jalan, yaitu dari Abu Ishaq. Periwayatan dari Abu Ishaq diperselisihkan oleh para ulama ahli hadits :

Diantara mereka ada yang meriwayatkan secara mursal (dari tabi’in langsung kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam).

Sebagian yang lain ada yang meriwayatkannya secara maushul (sambung sampai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam).

Sebagian yang lain ada yang menjadikannya termasuk ke dalam Musnad Abu Bakar (Kumpulan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar).

Sebagian yang lain ada yang menjadikannya termasuk ke dalam Musnad Sa’ad.

Sebagian yang lain ada yang menjadikannya masuk ke dalam Musnad ‘Aisyah. Dan lain sebagainya.

Semua perawi hadits tersebut semuanya terpercaya. Oleh karena itu, maka kesemua jalur sanad yang dimiliki oleh hadits tersebut tidak memungkinkan untuk dipilih salah satu yang terkuat dan tidak pula untuk disatukan atau digabungkan.

2.  Mudltharib Matan

Contohnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, dari Syuraik, dari Abu Hamzah, dari Asy-Sya’bi, dari Fathimah binti Qais, ia berkata,”Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang zakat. Maka beliau bersabda :

”Sesungguhnya dalam harta ada kewajiban yang lain selain kewajiban zakat”.  Sedangkan Imam Ibnu Majah meriwayatkan hadits ini dari jalur sanad yang sama dengan menggunakan ungkapan :

”Tidak ada kewajiban dalam harta selain kewajiban zakat”

Imam Al-‘Iraqi berkata,”Ketidaktetapan (Al-Idlthirab) yang ada pada hadits di atas tidak memungkinkan untuk ditakwilkan”.

Hukumnya

Al-Idlthirab menyebabkan hadits menjadi lemah. Hal inikarena dalam hadits mudltharib terdapat isyarat yang menunjukkan ketidaktelitian, baik pada sanad maupun matan.

Imam Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani telah mengarang buku tentang hal ini dan beliau namakan Al-Muqtarib fii Bayaanil-Mudltharib.  Buku tersebut beliau nukil dari kitab Al-‘Ilal karya Imam Ad-Daruquthni. Kemudian beliau berikan tambahan dan sempurnakan.

One Response

  1. 253 وحدثني عن مالك عن محمد بن يوسف عن السائب بن يزيد أنه قال أمر عمر بن الخطاب أبي بن كعب وتميما الداري أن يقوما للناس بإحدى عشرة ركعة قال وقد كان القارئ يقرأ بالمئين حتى كنا نعتمد على العصي من طول القيام وما كنا ننصرف إلا في فروع الفجر

    (Muwattho’ Malik)

    أخرج عبد الرزاق في مصنفه ( 4/260 ) عن داود بن قيس وغيره، عن محمد بن يوسف، عن السّائب بن يزيد
    أنّ عمرجمع النّاس في رمضان على أبي بن كعب، وعلى تميم الدّاري على إحدى وعشرين ركعة،يقرأون بالمئين وينصرفون عند بزوغ الفجر

    Apakah 2 hadits di atas termasuk dalam contoh matan yang idlthirab ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: