Seperti Apakah Salafi yang Dimaksud ? (bag-1)

Bismillahirahmaanirrahiim.

Alhamdulillah. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita nabi akhir zaman, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berserta keluarganya, shahabat serta para pengikutnya sampai akhir zaman. Amma ba’du.

Tulisan saya ini berkenan dengan janji saya untuk menanggapi sebuah email yang dialamatkan kepada milis ukki-stikom yang mana janji harus ditepati dan karena itulah kali ini saya akan bahas Insya Allah sampai selesai dan semoga dengan penjelasan saya ini saudara kita yang bernama Rais bisa faham dan mengerti tentang apa itu salaf, siapa mereka dan bagaimana mereka.

Islam adalah Agama yang Haq

Tidak dipungkiri lagi Allah Subhanahu wa ta’alaa telah menurunkan sebuah petunjuk. Yang mana petunjuk itulah yang menuntun manusia menuju kepada jalan selamat. Dan jalan itu hanya satu. Banyak orang yang mengatakan, “Banyak jalan menuju Roma”, tapi di dalam Islam hanya satu jalan menuju Allah. Yaitu dengan berpegang teguh kepada Allah dan Rasul-Nya. Berpegang kepada tali agama, yaitu syari’at-syari’atnya, menolak segala unsur bid’ah dan kurafat, serta istiqomah di atas jalan tersebut, dan bersabar atas segala cobaan yang menghadangnya.

Allah Subhanahu wa ta’alaa telah berfirman dengan jelas di Al Qur’an Al Kariim:
ِ

“Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.” [Al-Ma`idah :3]

Apabila Allah Subhanahu wa ta’alaa sendiri telah berfirman demikian niscaya, setiap orang harus meyakini bahwa Islam telah sempurna, Islam adalah agama yang benar, dan telah diridhai Islam tersebut, serta tidak akan ada lagi nabi terakhir karena di ayat itu juga telah menjelaskan ajaran yang telah dibawa oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam telah sempurna dan mustahil ada yang lebih sempurna lagi setelah itu.

Apabila Islam telah diyakini sebagai agama yang haq, maka segala kehidupan, segala tingkah laku, segala peribadatan harus sesuai dengan Islam. Sehingga apabila kita melangkah akan sangat hati-hati, ketika kita mau bicara, ketika kita mau melakukan sesuatu kita juga harus berfikir “Apakah yang sudah aku lakukan ini adalah cara Islam?”, sehingga belajar masalah agama dalam hal ini adalah menjadi benar-benar wajib, karena kalau dipikir dengan seksama maka segala aspek kehidupan mulai dari kita bangun tidur sampai tidur lagi tidak lepas dari masalah agama. Sehingga kehidupan kita akan teratur karena diatur oleh Allah dalam syari’at-syari’atnya, dan tubuh serta jiwa pun akan selalu pada ketundukan, sehingga akan memperoleh yang disebut dengan ketaqwaan. Dan inilah sebaik-baik manusia, yaitu bertaqwa terhadap tuhan-Nya.

Bertauhid kepada Allah

Bertauhid kepada Allah punya makna yang sangat luas. Diantaranya adalah mengesakan-Nya dalam segala peribadatan, kemudian juga menjadikan satu-satunya Dzat yang harus diagung-agungkan, sebagai tempat untuk meminta berkah, sebagai Dzat yang wajib untuk ditakuti, sebagai Dzat yang paling berhak untuk dimintai pertolongan dari segala kesulitan baik kesulitan yang mudah hingga kesulitan yang amat sangat sulit. Bertauhid kepada Allah juga maknanya adalah menjadikan Dia sebagai sesuatu yang harus dicintai, dikasihi lebih dari segalanya, menjadikan-Nya sebagai Dzat yang wajib untuk diAgungkan daripada yang lain, menjadikan-Nya sebagai Dzat tempat berharap dari segala sesuatu baik yang mungkin ataupun mustahil. Allah juga adalah tempat berhentinya segala pemikiran ghaib, berhentinya segala khayalan, berhentinya segala pemikiran yang terlalu tinggi dan tak berujung, berhentinya segala kemustahilan dan berhentinya segala perdebatan. Bertauhid kepada Allah juga bermakna berhentinya waktu, tak terpengaruh oleh tempat dan keadaan. Bertauhid kepada Allah juga bermakna mengimani segala sifat-sifat baik, dan mengimani segala sifat-sifat yang telah ditetapkan oleh Allah. Bertauhid kepada Allah juga bermakna bahwa segala yang ada di dunia ini sebesar apapun bentuknya hanyalah makhluk, sejelek apapun bentuknya adalah makhluk, seburuk apapun bentuknya adalah makhluk, semengerikan apapun bentuknya adalah makhluk, dan yang menguasai, menciptakan mereka, mengayomi mereka, memelihara mereka tidak lain hanyalah Allah Azza wa Jalla.

Jadi dengan kata yang lebih singkat, tauhid berarti mengesakan Allah dalam segala bentuk ketuhanan, peribadatan, persembahan, dan pengorbanan. Dan dalam menyembah kepada Allah, dalam bertauhid kepada-Nya, kita harus sadar kedudukan kita di mata Allah. Kita adalah hamba, dan kita hanya disuruh oleh Allah untuk melakukan perbuatan hamba, yaitu beribadah. Hanya itu saja. Menghamba kepada Allah ini harus lebih diperjelas lagi dalam hal keilahan. Karena itulah untuk masalah tauhid ini dibagi menjadi 3 hal.

Yaitu Allah sebagai Maha Pencipta, sebagai pencipta. Allah sebagai satu-satunya pencipta harus diyakini, sehingga seseorang yang menisbatkan segala sesuatu kejadian pada hal-hal tertentu semacam jin, penunggu hutan, ataupun penunggu sungai dan sebagainya harus sadar bahwa mereka adalah makhluk Allah dan Allah adalah pencipta mereka. Dan Allah juga menciptakan manusia dan mereka punya kewajiban sama dengan manusia yaitu beribadah kepada Allah. Sehingga ketika ada acara ngalap berkah, ataupun peramal-peramal, ataupun ada acara “Agar terhindar dari bencana” dan sebagainya yang kesemuanya itu tidak kembali kepada Allah, maka hal itu adalah kesyirikan yang menjerumuskan manusia kepada syirik akbar. Tidak mengimani bahwa Allah adalah sebagai pencipta.

Kedua, Allah sebagai satu-satunya illah. Tauhid uluhiyah atau ubudiyah. Dan dalam pembahasan ini seseorang yang mengaku muslim harus faham dengan tauhid ini lebih daripada dia mengenal mata pelajaran dia di sekolah setiap hari. Lebih dari sekedar dia faham tentang cara bercocok tanam ataupun cara dia memelihara hewan ternak mereka ataupun cara tentang bagaimana mereka bisa bertahan hidup. Karena dasar dari ibadah yang paling fatal adalah tauhid uluhiyah. Apabila tauhid uluhiyah ini rusak, maka orang yang telah beragama Islam telah batal Islamnya. Dengan tauhid uluhiyah berarti, setiap sholat, setiap berpuasa, setiap melakukan amalan-amalan yang sholeh, kesemuanya harus dikembalikan kepada Allah. Dengan apa-apa yang telah diajarkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam. Sebab tanpa dengan apa yang diajarkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam maka segala jenis peribadatannya tertolak, dan ia menjadi orang yang merugi.

Tauhid yang terakhir adalah Asma wash Shifaat. Yaitu nama-nama baik dan sifat-sifat Allah. Allah punya banyak nama-nama baik yang bisa kita kenal dengan Asma’ul Husna.  Jumlah Asma’ul Husna yang diajarkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam lebih dari 100. Dalam hadits tentang Asma’ul Husna tidak disebutkan bahwa nama-nama baik Allah itu terbatas hanya pada bilangan 99, tapi lebih, sebab di hadits lain dijelaskan dalam sebuah do’a rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam pernah berdo’a dengan arti “….dan dengan nama-nama baik yang Engkau simpan dalam ghaib-Mu”…. [hadits panjang tentang do'a rasululloh dimulai dari bertawassul kepada Allah dengan Al Qur'an melalui seorang hamba, yang dilahirkan oleh 2 orang hamba (Adam dan Hawa) dengan nama-nama baik Allah, baik itu yang telah diajarkan di dalam kitabulloh ataupun yang diajarkan oleh lisan rasul-Nya ataupun yang tersimpan dalam ghaib Allah. Hadits ini saya lupa diriwayatkan oleh Bukhari atau Muslim, yang saya ingat hadits ini adalah shohih entah diriwayatkan oleh siapa ].

Allah juga punya sifat-sifat, yang mana sifat-sifat Allah ini ada yang sesuai dengan nama-Nya, ada yang termasuk sifat fi’il (kata kerja). Seperti Allah punya sifat makar, tapi Allah tidak punya nama Al Makiir. Seperti Allah punya sifat Ghadzhab (marah) tapi Allah tidak punya nama Al Ghadzhab. Dan seterusnya. Demikianlah. Kenapa nama-nama dan sifat-sifat Allah ini sangat penting, karena hal ini adalah berhubungan dengan Allah. Yang mana setiap hal yang berhubungan dengan Allah maka hal itu menjadi dasar dalam Islam, yang mana Islam itu harus faham tentang tuhan-Nya. Banyak sekali agama-agama di dunia ini yang tidak mengulas tentang tuhan-Nya dan kebanyakan hanya mengambang tentang keimanan terhadap tuhan-Nya. Islam membahasnya lugas dan tegas. Di mana apabila sifat-sifat tentang tuhan itu sudah dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka tugas manusia adalah mengimaninya tanpa menakwilkan, membagaimanakan, mempertanyakan hakekatnya, menyerupakan ataupun menolak sifat ataupun nama tersebut. Tidak boleh tahrif,  tidak boleh ta’thil, tidak boleh tamtsil, tidak boleh takyif. Kita beriman apapun yang telah dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Contohnya adalah Ar Rahman, Allah punya sifat Ar Rahman. Yaitu Maha Penyayang, tapi kita tidak boleh menyerupakan sifat tersebut dengan sifat manusia. Ataupun merubahnya, menakwilkan sendiri dan seterusnya. Demikian juga Allah punya sifat Allah mempunyai tangan, namun kita tidak boleh mengibaratkan Tangan Allah ditafsirkan sebagai “kekuasaan”. Seperti ayat yang artinya:

“Tangan Allah di atas tangan mereka” [ Al Fath:10]

Maka tidak bisa kita menafsirkan tangan adalah kekuasan. Secara lafazh sudah berbeda dan secara makna pun sudah jelas jauh berbeda. Kemudian kita juga tidak boleh membagaimanakan tangan Allah, sehingga menyerupai makhluk-Nya, cukup kita beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan kita mempertanyakan hal tersebut, sehingga nantinya syetan akan datang kepada manusia untuk membisikkan jawaban dari pertanyaan tersebut. Sehingga kita mempunyai pemikiran-pemikiran kufur, sehingga datanglah pertanyaan ke dalam diri kita, “Kalau kita yang menciptakan tuhan, lalu siapa yang menciptakan tuhan?”. Na’udzubillah. Sungguh banyak para pemikir filsafat yang tersesat sampai di sini.

Lalu bagaimana cara kita mengimaninya? Kita katakan bahwa Tangan itu maklum, kalau tangan Allah ada di atas kita maka sesungguhnya tangan Allah bukan tangan makhluk-Nya dan makhluk-Nya juga bukanlah Allah. Sehingga kalau kita berfikir lebih jeli, maka kita akan faham secara dhahir dan hakiki bahwa “langit itu ada di atas kita”. Tapi apakah benar langit itu benar-benar dekat di atas kita?

Hal ini akan dibahas lebih jauh lagi dalam masalah tauhid asma’ wash shifaat.

bersambung ke bagian 2……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: