Menentukan Awal Bulan Qomariyah dengan Rukyatul Hilal bukan Hisab

Bismillahirahmaanirrahiim.

Alhamdulillah. Wa sholatu’alaa rasulillah wa’alaa ‘alihi wa ash habihi wa man tabi’ahum bi ihsaan illaa yaumiddin. Amma ba’du.

Sesungguhnya perkara yang seringkali ada di bulan Ramadhan dan Syawwal setiap tahun dan berulang adalah menentukan awal bulan. Baik itu tanggal 1 Ramadhan ataupun tanggal 1 Syawwal. Allah dan Rasul-Nya telah mencontohkan berkali-kali tentang hal ini yaitu dengan melihat bulan bukan dengan hisab (menghitung dengan rumus tertentu). Kita akan bahas satu per satu.

Dalil Disyari’atkannya Melihat Hilal

Dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :

الشهر تسع وعشرون ليلة فلا تصوموا حتى تروه فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين

”Bulan itu ada 29 malam (hari). Janganlh kalian mulai berpuasa hingga melihat bulan. Apabila ia tertutup dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah hitungan hari (dalam satu bulan) menjadi 30 hari” (HR. Al-Bukhari no. 1907).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين

“Berpuasalah jika kalian telah melihat bulan, dan berbukalah jika kalian melihatnya pula. Dan apabila bulan tertutup (awan) dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari” (HR. Al-Bukhari no. 1909 dan Muslim no. 1081)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته وانسكوا لها فإن غم عليكم فأكملوا ثلاثين فإن شهد شاهدان فصوموا وأفطروا

“Berpuasalah jika kalian melihat bulan dan berbukalah jika kalian melihatnya pula, serta menyembelihlah (pada bulan Dzulhijjah) karena melihatnya. Jika bulan itu tertutup dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah (bulan Sya’ban) menjadi 30 hari. Dan jika ada dua orang yang memberi kesaksian melihat bulan, maka berpuasalah dan berbukalah kalian” (HR. Nasa’i dalam Al-Mujtabaa no. 2116, Ahmad 4/321, dan Ad-Daruquthni 3/120 no. 2193; lafadh ini milik An-Nasa’i. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaaul-Ghalil no. 909).

Apabila hilal telah terlihat yang menandakan tanda mulainya Bulan Ramadlan (atau bulan-bulan yang lainnya), maka disunnahkan membaca doa :

اَللهُ أَكْـبَرُ، اَللّهُمَّ أَهِلَّـهُ عَلَيْـنَا بِاْلأَمْـنِ وَاْلإِيْمـَانِ، وَالسَّلامَـةِ وَاْلإِسْلامِ، وَالتَّـوْفِيْـقِ لِمَا تُحِـبُّ وَتَـرْضَـى، رَبُّنـَا وَرَبُّكَ اللهُ

[Alloohu akbar. Alloohumma ahillahu ‘alainaa bil-amni wal-iimaan. Was-salaamati wal-islaami, wat-taufiiqi limaa tuhibbu wa tardloo. Robbunaa wa robbukallooh]

“Allah Maha Besar. Ya Allah, tampakkan bulan satu itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam serta mendapat taufiq untuk menjalankan apa yang Engkau senang dan rela. Rabb kami dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah” (HR. At-Tirmidzi no. 3451, Ad-Daarimi no. 1730, dan Ibnu Hibban dalam Mawaridudh-Dham’an hal. 589. At-Tirmidzi berkata : Hadits hasan gharib. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 3/423).

Pembahasan Hisab

Bagaimana dengan hisab, sebagian besar orang-orang menggunakan dalil hadits nomor 1907 yang diriwayatkan oleh Bukhari tersebut. Namun hal ini sangat tidaklah tepat. Sebab menggunakan dalil hadits yang mana hadits tersebut digunakan untuk dalil Rukyat adalah sebuah kesalahan. Ada beberapa faktor yang dianggap menyelisihi sunnah, diantaranya adalah:

1. Dengan metode hisab, seseorang bisa saja memperkirakan dan menghitung tanggal 1 Ramadhan atau 1 Syawwal jauh sebelum mereka menemui Ramadhan atau Syawwal. Bahkan dengan metode hisab seseorang bisa saja menghitung tanggal 1 Ramadhan 20 tahun ke depan.

2. Menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal telah diajarkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam. Semoderen apapun perhitungan hisab, seakurat apapun, tapi syari’at tetaplah syari’at. Dan yang benar adalah harus mengikuti syari’at yang di bawa oleh Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam.

3. Perhitungan hisab sudah ada sejak dulu, bahkan sebelum tahun hijriyah ada, hisab sudah ada sejak dulu. Karena itulah dulu para petani ataupun para nelayan faham kapan mereka panen, dan juga tahu kapan terjadi gerhana. Bahkan pada peradaban Mesir sudah ditemukan cara menghitung hisab, namun Allah dan Rasul-Nya mempunyai sunnah sendiri. Dan mengikuti sunnah itu lebih baik.

4. Menganggap hisab lebih baik daripada melihat hilal, maka seseorang akan terjerumus kepada kesalahan, yaitu meremehkan syari’at yang dibawa oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam. Dan sungguh aku nasehatkan kepada kalian untuk berhati-hati dalam masalah ini.

Hari Raya Mengikuti Pemerintah ataukah Menentukan waktu Sendiri?

Ada sebuah kaidah yang disampaikan oleh Syaikh Al Albani:

“Inilah yang sesuai dengan syari’at yang mudah ini (yaitu : berpuasa dan berhari raya ‘Iedul-Fithri bersama masyarakat/orang banyak – tidak menyendiri) yang diantara tujuan-tujuannya adalah menyatukan umat dan menyamakan barisan-barisan mereka, serta menjauhkan mereka dari segala sesuatu yang dapat mencerai-beraikan persatuan mereka dari pemikiran-pemikiran individualistis, sehingga syari’at tidaklah memihak kepada pemikiran seseorang – walaupun benar dari sudut pandang dirinya – dalam peribadatan yang bersifat jama’i seperti puasa, hari raya, dan shalat berjama’ah. Tidaklah Anda pernah melihat bahwa para shahabat radliyallaahu ‘anhum, mereka sebagiannya shalat di belakang lainnya dalam keadaan di antara mereka ada yang menilai bahwa menyentuh wanita, kemaluan, atau keluarnya darah termasuk pembatal-pembatal wudlu. Sebagian mereka ada yang shalat secara sempurna di waktu safar, dan sebagian lagi ada yang mengqasharnya ? Kendatipun demikian, perselisihan mereka dengan yang lainnya tidaklah menjadi penghalang bagi mereka untuk berkumpul (bersatu) di dalam masalah shalat di belakang imam yang tunggal, sehingga mereka tidak berpecah karenanya. Hal itu karena pengetahuan mereka bahwa perpecahan dalam agama lebih jelek dari sekedar perbedaan sebagian pendapat. Bahkan sampai pada tingkatan dimana sebagian mereka tidak menghiraukan suatu pendapat yang menyelisihi pendapat imam besar di lingkup yang lebih besar seperti ketika di Mina, hingga mendorongnya untuk meninggalkan pendapat pribadi secara mutlak dalam lingkup tersebut, demi menjauhi akibat buruk yang akan ditimbulkan karena beramal dari hasil pemikirannya (yang menyelisihi imam)”. Maka diriwayatkan oleh Abu Dawud 1/307 (sebuah contoh yang sangat baik dalam masalah ini) :

أن عثمان رضي الله عنه صلى بمنى أربعا , فقال عبد الله بن مسعود منكرا عليه : صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ركعتين , و مع أبي بكر ركعتين , و مع عمر ركعتين , و مع عثمان صدرا من إمارته ثم أتمها , ثم تفرقت بكم الطرق فلوددت أن لي من أربع ركعات ركعتين متقبلتين , ثم إن ابن مسعود صلى أربعا ! فقيل له : عبت على عثمان ثم صليت أربعا ! قال : الخلاف شر .

Bahwasannya ‘Utsman radliyallaahu ‘anhu shalat di Mina empat raka’at, maka berkatalah Abdullah bin Mas’ud dalam rangka mengingkari perbuatannya : “Aku shalat (ketika safar) bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dua raka’at, bersama Abu Bakar dua raka’at, dan bersama ‘Umar dua raka’at, dan bersama ‘Utsman di awal pemerintahannya, kemudian beliau melakukannya dengan sempurna (empat raka’at – tidak diqashar), kemudian kalian berselisih, dan aku ingin sekiranya empat raka’at itu tetap menjadi dua raka’at (sebagaimana dilakukan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam) Akan tetapi kemudian Ibnu Mas’ud shalat empat raka’at. Maka ditanyakan kepadanya : Engkau telah mencela perbuatan ‘Utsman, namun engkau sendiri shalat empat raka’at ?”. Maka beliau menjawab : “Perselisihan itu jelek”

[selesai - Lihat selengkapnya dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 224].

Sungguh pada sebagian masyarakat hal ini masih ada, yaitu ada yang mendahului, ada yang mengakhiri. Padahal yang benar adalah kita harus mengikuti pemerintah yaitu bersama-sama dengan umat Islam yang lainnya untuk berhari raya bersama-sama. Dan orang yang tidak melakukannya maka sesungguhnya mereka adalah orang yang ingin mencerai-beraikan barisan kaum muslimin.

Bagaimana Kalau Pemerintah Memakai Hisab?

Kita harus mengutamakan persatuan umat, yaitu dengan ikut merayakan Iedul Fitri atau Iedul Adha bersama-sama, apapun metode yang mereka gunakan. Walaupun begitu kita tetap yakin dan beriman bahwa yang benar adalah dengan menggunakan Rukyatul Hilal.

Penutup

Dalil-dalil tentang rukyatul Hilal sudah jelas, bahkan manusia harus mengikuti dalil daripada hawa nafsu mereka. Ini adalah persoalan iman, persoalan sunnah yang dibawa oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam. Satu pertanyaan yang mengganjal adalah, “Kalau memang hisab diperbolehkan, kenapa rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam hanya mengajarkan do’a ketika melihat hilal? Kenapa tidak diajarkan do’a menghitung hisab?” Maka sudah jelas ini adalah syari’at dari Allah dan bukan buatan semata.

Untuk hisab maka yang paling cocok adalah digunakan untuk menghitung waktu sholat atau terbit matahari. Namun ini bulan Qomariyah yang artinya menentukan hari lewat beredarnya bulan bukan matahari. Maka dari itulah menggunakan rukyatul Hilal adalah satu-satunya cara menentukan tanggal 1 tiap bulannya.

Wallahu’alam.

13 Responses

  1. salam ta’aruf,
    saya senang sekali membaca maqolah antum, semoga siapa yang membaca juga akhirnya mendapatkan ilmu.
    wassalaam…

  2. Salam Ta’aruf juga,…….akhi,..bagaimana dengan dalil dalil berikut ini,…bisakah dijadikan rujukan juga…??? “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan Bulan
    bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat)
    bagi perjalanan Bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun
    dan perhitungan (waktu) (Y−nus (10) : 5).
    Hadits Nabi SAW: Artinya: Apabila kamu melihat hilal berpuasalah, dan apabila
    kamu melihatnya beridulfitrilah! Jika Bulan terhalang oleh awan
    terhadapmu, maka estimasikanlah [HR al-Bukh±r³, dan lafal di atas
    adalah lafalnya, dan juga diriwayatkan Muslim].
    Hadits Nabi SAW : Artinya: Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak
    bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah
    demikian-demikian. Maksudnya adalah kadang-kadang dua puluh
    sembilan hari, dan kadang-kadang tiga puluh hari [HR al-Bukh±r³
    dan Muslim].
    Pada zamannya, Nabi saw dan para Sahabatnya tidak
    menggunakan hisab untuk menentukan masuknya bulan baru
    kamariah, melainkan menggunakan rukyat seperti terlihat dalam
    hadis pada butir c di atas dan beberapa hadis lain yang
    memerintahkan melakukan rukyat. Praktik dan perintah Nabi saw
    agar melakukan rukyat itu adalah praktik dan perintah yang disertai
    ‘illat (kausa hukum). ‘Illatnya dapat dipahami dalam hadis pada
    butir d di atas, yaitu keadaan umat pada waktu itu yang masih
    ummi.1 Keadaan ummi artinya adalah belum menguasai baca tulis
    dan ilmu hisab (astronomi), sehingga tidak mungkin melakukan
    penentuan awal bulan dengan hisab seperti isyarat yang
    dikehendaki oleh al-Quran dalam surat ar-Rahm±n dan Y−nus di
    atas.

    Artinya: Hukum itu berlaku menurut ada atau tidak adanya ‘illat
    dan sebabnya2,
    maka ketika ‘illat sudah tidak ada lagi, hukumnya pun tidak berlaku
    lagi. Artinya ketika keadaan ummi itu sudah hapus, karena tulis
    baca sudah berkembang dan pengetahuan hisab astronomi sudah
    maju, maka rukyat tidak diperlukan lagi dan tidak berlaku lagi.
    Dalam hal ini kita kembali kepada semangat umum dari al-Quran,
    yaitu melakukan perhitungan (hisab) untuk menentukan awal
    bulan baru qomariah.
    Bagaimana pendapat ini akhi…mingkin bisa memperkaya khazanah pengetahuan kita,..terima kasih,…..

    • Terima kasih atas pertanyaannya.

      Yang bisa saya jawab, yang pertama di zaman nabi apakah tidak ada yang namanya hisab? Jawabannya ada. Kalau tidak demikian bagaimana orang-orang kafir Quraisy bisa mengetahui musim dingin dan musim panas? Dan juga perhitungan bulan 30 hari juga sudah ada jauh sebelum jaman rasululloh shallallahu’alaihi wa salam ada.

      Bulan Qomariyah itu dihitung dengan masa beredarnya bulan. Adapun pengetahuan sekarang yang lebih maju tentang perhitungan bulan bahkan mungkin sampai hampir tepat perhitungannya tidak mengubah dalil dan syari’at tetap ditegakkan sebagai hujjah.

      Kedua, kalau diqiyaskan dengan kondisi Ummy yang tidak bisa baca tulis, maka kita telusuri lagi kapan para shahabat belajar baca dan tulis. Di dalam kitab Al Bidayah Wan Nihayah antum bisa membaca kapan para shahabat mulai belajar baca dan tulis. Mereka belajar ketika menguasai bangsa ‘Ajm. Di sanalah mereka baru belajar baca tulis dan itu ada di zaman Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu.

      Namun justru dari zaman itu sampai ke zaman tabi’in dan tabi’ut tabi’in tidak ada satupun dari ke-3 generasi itu menggunakan perhitungan (hisab). Ingatlah bahwasannya Islam sudah menguasai sampai Eropa ketika zamannya Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu, dan ingatlah juga kenapa harus ada mushaf Utsmani kalau mereka tidak bisa baca tulis?

      Ketiga, hisab boleh digunakan hanya sebagai perkiraan bukan untuk menentukan. Sebab syari’atnya tetap dengan melihat. Hisab adalah dari perhitungan manusia dan setiap perhitungan manusia bisa salah bisa benar. Anda bisa menjamin hisab itu 100% benar? Sedangkan yang benar itu hanya Allah semata? Yaitu syari’at yang diturunkan oleh Allah yang dibawa oleh Rasul-Nya?

      Semoga bisa menjawab Wallahua’lam bishawab.

      • Saya yakin, setiap datang waktu sholat , bung admin selalu melihat posisi matahari utk mengetahui apakah jadwal waktu sholatnya benar atau salah. Karena seperti yang bung admin katakan “Hisab adalah dari perhitungan manusia dan setiap perhitungan manusia bisa salah bisa benar. Anda bisa menjamin hisab itu 100% benar?”.
        Bukankah jadwal waktu sholat dibuat dengan hisab juga ? Bahkan untuk 20 tahun ke depan.
        CMIIW …

  3. #penggembira
    Memang benar sholat pakai waktu hisab, karena melihat kedudukan matahari. Hal itu akan berjalan konstan dan sekali lagi tidak setiap hitungan konstan yang ada sekarang pun bisa benar.
    Waktu hisab itu tergantung pada beberapa hal :
    1. faktor geografis
    2. faktor politik sebuah negara.
    Kalau anda jeli, maka anda akan dapati waktu hisab yang berbeda antara malaysia, indonesia, saudi, ataupun mesir dalam penentuan sholat. :)

  4. hmm makasih atas ilmunya,semoga bermanfaat bagi setiap org yg membacanya serta menjadi pahala bagi anda

  5. Masalah ini terulang lagi di penghujung Ramadhan 1432H/2011M
    kearogansian ormas2 mengalahkan pemerintahnya sendiri :'(

  6. Beda pendapat itu hal yang mungkin terjadi, setahu saya pengguna hisab sangat menghargai ru’yat, tapi karena meyakini hisab dengan berpegang dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah apa itu salah ? Apakah anda berani menyalahkan dalil-dalil itu ? Apakah anda mengikuti pemerintah yang menolak ruk’yat itu hal yang benar ? Kebenaran hanya ada di tangan Allah swt. Pengguna hisab tidak pernah meremehkan ru’yat kok. Apakah ada jaminan mengikuti pola pikir anda bisa menyatukan ummat. Belum tentu karena orang yang lebih alim dari pada andapun tidak sedikit dalam masalah ini.

    • Yang mengatakan kita harus ikut pemerintah, sekalipun pemerintah itu Zhalim dalam masalah penentuan awal bulan adalah para ulama. Dalam masalah penentuan awal bulan adalah amalan jama’ah. Yang mana keputusannya harus pada amir, bukan masing-masing pribadi atau ormas-ormas tertentu.

      Yang berpendapat seperti ini, Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dalam Majmu’ Fatawanya, Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahu ta’alaa.

      Urusannya berbeda kalau pemerintah mengajak rakyatnya untuk menyembah kepada selain Allah, mengajak minum khamer, mengajak judi, mengajak zina. Jelas hal ini tidk bisa kita ikuti, karena tidak ada dalam masalah syari’at. Sedangkan dalam penentuan bulan ada dalam masalah syari’at.

      Sudah jelas saya utarakan, bahwa:
      1. Menentukan awal bulan itu dengan Rukyatul Hilal.
      2. Keputusan penentuan awal bulan ditetapkan oleh Pemerintah.

      Jadi poin pertama apabila terpenuhi, tetap akan melihat poin yang kedua. Hal ini juga sesuai dengan apa yang terjadi di zaman para shahabat. Di mana di Madinah sudah berbuka sedangkan di Yaman belum. Banyak kisah-kisah seperti ini di masa shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, intinya setiap orang mengikuti Amir di tempatnya masing-masing, bukan melakukan sendiri-sendiri, atau ormas-ormasnya melakukannya sendiri-sendiri.

  7. Bukankah ilmu melihat bulan sudah sangat maju sekali sehingga awal bulan qomariah dengan pasti bisa dihitung dan dibuktikan lewat teropong. Apanya yang kurang dengan menghitung atau hisab, bukan mengira ngira atau nujum kali ya.

    • Kita mengikuti dalil yang shahih. Jaman rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam pun sudah ada ilmu hisab. Buktinya para petani bisa membaca bintang untuk menentukan kapan panen, juga dari ilmu pengetahuan sumeria, yang mana mereka juga bisa menghitung masa edar bulan dan matahari. Tapi kenapa rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam menyuruh untuk “Melihat” bukan menghitung?. :)

  8. (: bukan bermaksud menjelekan) klo benar pemerintah itu baik, kenapa masih ada tempat lokalisasi (perzinaan), tempat perjudian, membolehkan rokok-merokok, hal tersebut juga dilegalisasikan dalam undang-undang Negara, serta perda-perda yang ada. dan ironinya lagi presiden & wakilnya (pemimpin) kita justru menghadiri acara hari besar perayaan agama lain (misal Kristen [natal], Budha [waisak],dll). yang sudah jelas hal sedemikian itu tidak boleh diakukan oleh seorang muslim. itu berarti sudah menggadaikan agamanya. dan salah/kurang tepat dalam memahami perkara toleransi agama.
    masih pantaskah…..? itu dibilang ulil amri yang sesuai dengan Islam.
    dan Apakah Presiden & wakil itu pemimpin umat Islam satu/ di seluruh dunia.
    kita hendaknya bersyukur atas karunia-hidayah-sarana hidup yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita. dan jangan hanya Taqlid terhadap manusia dalam masalah agama. klo ngakunya Intelektual. apakah ada juga laranagan (dalil) yang tidak boleh menggunakan teknologi ataupun ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan…?
    harusnya kita ini memaklumi bahwa zaman dulu belum seperti sekarang (dalam bidang IPTEK), jadi memakai hitungan itu perlu, karena kita telah diberikan akal (otak),serta keberananya telah terbukti pada tahun 2011 yang lalu dalam menetukan 1 Syawal 1432 H di Indonesia.

    • Kita mengikuti dalil yang shahih. Jaman rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam pun sudah ada ilmu hisab. Buktinya para petani bisa membaca bintang untuk menentukan kapan panen, juga dari ilmu pengetahuan sumeria, yang mana mereka juga bisa menghitung masa edar bulan dan matahari. Tapi kenapa rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam menyuruh untuk “Melihat” bukan menghitung?.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: