Suami Memakan Gaji Istri

Gaji atau pendapatan milik isteri, yang ia peroleh dari kerjanya, dapat
berpengaruh positif maupun negatif dalam kehidupana rumah tangga.
Artinya, pendapatan tersebut bisa lebih menguatkan sendi-sendi
keluarga, atau sebaliknya justru menghancurkannya. Ikatan suami-isteri
itu menjadi kuat, atau justru merenggangkannya.

Kadang, karena isteri merasa memiliki pendapatan sendiri, ia berlaku
hidup boros, dengan membelanjakan hasil pendapatannya untuk membeli
keperluan pribadi yang diinginkannya. Tetapi juga bisa menempanya
menjadi wanita yang hemat, dan lebih bijak dalam mengolah income
pribadinya, ia lantaran mengetahui betapa berat dan susahnya mencari
nafkah.

Yang kemudian menjadi pertanyaan, apakah uang itu milik isteri semata,
hingga tidak ada hak bagi suaminya untuk menikmatinya. Ataukah termasuk
milik bersama-sama dengan suaminya. Kapan saja suami membutuhkan, ia
dapat saja memakainya. Inilah tanda tanya yang muncul atas gaji atau
pendapatan isteri.

Permasalahan timbul seiring dengan perjalanan hari, kian pelik dan
kompleks. Seorang isteri yang mendapatkan uang (pendapatan) melalui
aktifitas kerja (yang sesuai dengan kodratnya), kemudian adanya
pemandangan yang berlawanan, yaitu suami yang memanfaatkan incomenya.
Bisa jadi, sebagai suami ia hanya memperoleh pendapatan yang sesedikit,
atau memang ia tidak bekerja. Bagaimana hukumnya dalam Islam? Menjawab
perkara-perkara di atas, berikut adalah pembahasan yang akan
mengantarkan menuju titik kejelasannya. Continue reading

Bagaimanakah Sikap Kita Terhadap Pajak?

Bismillahirahmaanirrahiim,

Alhamdulillah. Washalatu wa’alaa rasulillahi wa ‘alaa ‘aliihi wa ash habihi ajma’in waman tabi’ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma ba’du.

Pengertian Pajak

Pajak menurut kamus bahasa indonesia adalah pungutan wajib, biasanya berupa uang yg harus dibayar oleh penduduk sbg sumbangan wajib kpd negara atau pemerintah sehubungan dng pendapatan, pemilikan, harga beli barang, dan sebagainya.

Dalam istilah bahasa Arab, pajak dikenal dengan nama Al-Usyr [2] atau Al-Maks, atau bisa juga disebut Adh-Dharibah, yang artinya adalah ; “Pungutan yang ditarik dari rakyat oleh para penarik pajak” [3]. Atau suatu ketika bisa disebut Al-Kharaj, akan tetapi Al-Kharaj biasa digunakan untuk pungutan-pungutan yang berkaitan dengan tanah secara khusus.[4]
Sedangkan para pemungutnya disebut Shahibul Maks atau Al-Asysyar.

Dalam istilah bahasa Arab, pajak dikenal dengan nama Al-Usyr [Lihat Lisanul Arab 9/217-218, Al-Mu’jam Al-Wasith hal. 602, Cet. Al-Maktabah Al-Islamiyyah dan Mukhtar Ash-Shihah hal. 182] atau Al-Maks, atau bisa juga disebut Adh-Dharibah, yang artinya adalah ; “Pungutan yang ditarik dari rakyat oleh para penarik pajak” [Lihat Lisanul Arab 9/217-218 dan 13/160 Cet Dar Ihya At-Turats Al-Arabi, Shahih Muslim dengan syarahnya oleh Imam Nawawi 11/202, dan Nailul Authar 4/559 Cet Darul Kitab Al-Arabi]. Atau suatu ketika bisa disebut Al-Kharaj, akan tetapi Al-Kharaj biasa digunakan untuk pungutan-pungutan yang berkaitan dengan tanah secara khusus.[Lihat Al-Mughni 4/186-203]

Sedangkan para pemungutnya disebut Shahibul Maks atau Al-Asysyar.

Pajak Berbeda Dengan Zakat

Dari pengertian di atas sudah pasti kita ketahui bahwa Pajak berbeda dengan zakat. Zakat adalah kewajiban yang harus dibayar oleh seorang muslim apabila telah memenuhi persyaratan wajib zakat. Zakat ada 2, yaitu zakat maal dan zakat Fithri. Zakat Maal adalah zakat yang dikeluarkan oleh seorang muslim apabila harta bendanya telah mencapai 1 nisab. Sedangkan zakat Fithri adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh masing-masing muslim, baik yang kecil ataupun yang balik, tua, muda, yang budak ataupun merdeka, ketika di bulan Ramaadhan, berupa makanan pokok.

Sedangkan pajak, adalah peraturan pemerintah yang mana mereka menarik pungutan sesuai dengan peraturan atau perundangan yang mereka buat kepada rakyatnya. Dan besarannya bermacam-macam, tidak sama di setiap negara, baik itu negara demokrasi, komunis ataupun monarki.

Dari Manakah Uang Pajak Tersebut?

Uang pajak di dapat dari banyak tempat. Dari masing-masing penduduk di negara tersebut, pertokoan, koperasi, pertanian, bank, pasar bahkan sampai tempat-tempat terlarang, seperti prostitusi, tempat judi, pabrik rokok, pabrik minuman keras, dan lain sebagainya.

Dari sini jelas kita bisa menyaksikan seandainya kita memakan uang pajak pun niscaya kita tak akan berani, mengingat dari mana uang tersebut berasal. Memang uang pajak tersebut telah membangun negara ini, seperti gedung, jembatan, imunisasi dan sebagainya. Dan pendapatan negara salah satu yang terbesar adalah dari pajak. Dan anehnya banyak sekali orang-orang yang duduk di parlemen memakan uang dari pajak ini, mereka memakan uang yang kita tahu sendiri dari mana asal uang tersebut.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. [Q.S. At Tahrim: 6] Continue reading

HUKUM BERBISNIS WARNET

Oleh
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Pertanyaan
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Beberapa hari ini telah menjamur apa yang disebut dengan cafe-cafe internet, semacam tempat yang di dalamnya terdapat media computer, dimana pemiliknya menyewakan perjam, misalnya ; kepada para pelanggan yang melaluinya mereka dapat menjelajahi internet. Sekalipun terkadang hal ini juga digunakan oleh sebagian pelanggan yang sebenarnya tidak bisa ikut mengoperasikannya, hanya saja kebanyakan para pemuda justru menjadikannya sebagai ajang untuk menjelajahi sebagian situs-situs yang tidak senonoh.

Karenanya, kami berharap dari yang mulia berdasarkan apa yang telah kami paparkan diatas untuk memberikan pengarahan seputar hukum berbisnis warnet tesebut, hukum menyewakan kios/tempat bagi mereka yang menyewanya, hukum mengunjunginya dan ketentuan tentang hal itu, semoga Allah membalas kebaikan anda.

Jawaban
Para pemilik cafe-cafe dan pemilik media-media computer tersebut wajib menjaganya dari kerusakan dan para perusak serta menjauhi setiap kejelekan dan amal jelek.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa media-media computer tersebut ibarat senjata bermata dua akan tetapi realitasnya, kerusakan dan kejahatan yang lebih dominan ada di dalamnya dan mayoritas mereka yang sering mengunjungi cafe-cafe seperti itu dan melihat apa yang ditampilkan dan dikirim oleh media-media tersebut juga berupa kejahatan dan kerusakan.

Kami telah melihat sendiri pengaruh yang demikian serius dan penyimpangan yang terjadi pada para pemuda yang menerima tampilan gambar-gambar porno, ungkapan-ungkapan yang mengandung fitnah, syubhat-syubhat yang menyesatkan dan hikayat-hikayat dusta yang disediakan oleh media tersebut.

Nasehat kami untuk para pemilik warnet ini agar mencegah jenis berlangganan program seperti ini, baik di dalam menerima maupun menampilkannya.

Adalah wajib menjadikan suatu bentuk pengawasan ketat terhadap setiap pelanggan warnet tersebut hingga dia berhati-hati terhadapnya dan para pemiliknya dapat membatasinya pada hal-hal yang berguna buat kaum muslimin, baik terhadap urusan dien maupun urusan dunia mereka.

Wallahu a’lam

[Fatwa ini diucapkan dan didiktekan oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, pada tanggal 24-7-1420H]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerbit Darul Haq]

Adab-adab Da’i (bag-4 habis)

Ketujuh : Hikmah

Hendaklah dakwah ke jalan Alloh itu dilakukan dengan hikmah dan cara yang baik serta penuh kelemahlembutan ketika menerangkan kebenaran, sebagaimana firman Alloh Ta’ala :

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

”Serulah ke jalan tuhanmu dengan cara yang hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS an-Nahl : 125)

Apabila dakwah ke jalan Alloh dilakukan dengan sikap kasar dan bengis, maka akan lebih banyak memadharatkan ketimbang memberikan manfaat.

Kedelapan : Penuh Perhatian

Wajib bagi seorang da’i memiliki pengetahuan terhadap realita di negeri yang ia berdakwah di dalamnya dan mengetahui kondisi manusia yang ia dakwahi. Untuk itulah ia haruslah mengerti akan permasalahan-permasalahan yang terjadi dan problematika-problematika yang tersebar di masyarakat, sehingga ia menjadi orang yang memiliki pengetahuan yang mantap dan ia dapat memilih cara dakwah yang tepat bagi orang yang didakwahinya dan mengetahui tema-tema pembahasan yang penting bagi mereka.
Continue reading

Adab-adab Da’i (bag-3)

Ketiga : Mengamalkan Ilmu

Hal ini termasuk perkara yang penting di dalam kehidupan seorang da’i. Seorang da’i tanpa amal bagaikan seorang pemanah tanpa busur. Karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala sendiri telah mencela orang-orang yang berupaya melakukan perbaikan terhadap manusia namun melupakan diri mereka sendiri. Alloh Ta’ala berfirman :

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS al-Baqoroh : 44)

Dan firman-Nya Subhanahu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS ash-Shaff : 2-3)

Apabila seorang da’i adalah orang yang shalih (lurus) dan mustaqim (jujur) terhadap dirinya sendiri, maka manusia akan bersegera menerima ucapannya dan mendengar perkataannya, serta ia akan menjadi orang yang berpengaruh terhadap masyarakat.
Continue reading

Ghibah (bag-3)

GHIBAH MENGIKUTI ARUS
Syaikhul islam berkata,

Sebagian manusia ada yang menggunjing karena menyesuaikan diri dengan teman-temannya, para shahabat dan keluarganya, meskipun dia mengetahui bahwa orang yang digunjingkan itu bebas dari segala yang mereka katakan. Tetapi dia menganggap bahwa seandainya dia mencegah mereka, niscaya forum tersebut akan bubar dan pesertanya merasa keberatan serta menjauhinya. Karena itu ia melihat bahwa menyesuaikan dengan mereka merupakan pergaulan dan persahabatan yang baik. Kadangkala mereka marah lalu ia pun marah karena kemarahan mereka, kemudian ia larut bersama mereka.

Sebagian mereka ada yang membuat gunjingan dalam berbagai kedok. Sekali tempo dengan kedok agama dan kesholihan, semisal ia berkata, “Bukan kebiasaanku menyebut seseorang melainkan kebaikannya. Saya tidak suka menggunjing dan tidak pula suka berdusta. Tetapi saya hanya memberitahukan kepada kalian mengenai perihalnya.” Katanya lagi, “Demi Allah, dia miskin atau orang yang baik, tetapi dalam dirinya terdapat demikian dan demikian.” Adakalahnya dia mengatakan, “Jauhkan diri kita darinya; semoga Allah mengampuni kita dan dia.” Padahal niatnya hanyalah menilai kekuarangannya dan menghancurkan martabatnya. Mereka membuat ghibah dalam berbagai kedok agama dan keshalihan untuk menipu Allah dengan cara itu, sebagaimana mereka menipu makhluk. Dan kita melihat mereka melakukan berbagai ragam perbuatan ini dan sejenisnya.
Continue reading

Ghibah (bag-2)

GHIBAH KEPADA ORANG TERTENTU

Syaikhul Islam ditanya tentang ghibah: Apakah ghibah boleh terhadap orang-orang tertentu atau seseorang menunjuk orang tertentu? Dan apa hukum mengenai hal itu? Berilah fatwa kepada kami secara ringkas; agar orang-orang yang memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran mengetahui perkara tersebut sertamasing-masing pihak bisa bsersandar menurut kemampuannya dalam ilmu dan hukum!

Beliau menjawab,

Alhamdulillahirabbi’alamin. Prinsip pembicaraan mengenai masalah ini hendaknya diketahiu bahwa ghibah itu, sebagaimana ditafsirkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits shohih, tatkala beliau ditanya mengenai ghibah lalu beliau menjawab,

“artinya: Kamu menyebut tentang saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya.” Ditanyakan, “Wahai rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam, bagaimana menurutmu jika apa yang aku katakan mengenai suadaraku itu benar adanya?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan itu memang benar, maka kamu telah menggunjingnya; dan jika apa yang kamu katakan itu tidak benar, maka kamu telah mendustainya”
(Musllim dalam Al Birr, 2589/70; dan Abu Daud dalam Al Adab, no 4874; keduanya dari Abu Hurairah )

Beliau membedakan antara Ghibah(menggunjing) dan Buhtan (berdusta), dan bahwa berdusta terhadapnya merupakan suatu kebohongan baginya. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’alaa,

“artinya: Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu, “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita membicarakan ini. Mahasuci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar”.
(An Nur:16)

Dan frimanNya,

“artinya: Dan tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka.”
(Al Mumtahanah ayat 12)

Dalam hadits shahih disebutkan,

“Sesungguhnya Kaum Yahudi adalah kaum yang suka berdusta”
(HR. Al Bukhari dalam Al Anbiya’, no 3329 dari Anas)

Berdusta terhadap seseorang adalah haram, baik dia muslim maupun kafir, berbakti maupun durhaka, tetapi mengada-adakan kedustaan atas orang mukmin adalah jauh lebih berat, bahkan kedustaan itu seluruhnya adalah haram.
Continue reading

Ghibah (bag-1)

GHIBAH UNTUK ORANG FASIK

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimulloh ditanya tentag sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam “Tidak ada ghibah untuk orang yang fasik” apa batasan kefasikan? Dan seseorang breselisih dengan dua orang, salah satunya adalah peminum khamr, suka menemani minum, memakan barang haram, menghadiri tari-tarian, mendengarkan musik, atau mendengarkan syair-syair tentang muda-mudi: apakah bagi orang yang tidak memberi salam kepadanya berdosa?

Beliau menjawab:

Ucapan tersebut bukan hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, tetapi atsar yang diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri bahwa ia berkata, “Apakah kamu suka menyebut orang yang durhaka? Sebutkanlah tentang suatu kejelekan yang terdapat dalam dirinya agar manusia waspada terhadapnya”. Dalam hadits yang lain disebutkan, “Siapa saja yang melepaskan pakaian malunya, maka tidak ada ghibah untuknya”. Dua jenis berikut ini diperbolehkan ghibah tanpa diperselisihkan di kalangan ulama:

Pertama, seseorang menampakkan kedurhakaannya, misalnya kezhaliman, kenistaan dan bid’ah yang menyelisihi sunnah. Sebab jika dia menampakkan kemungkaran, maka wajib dicegah menurut kemampuan, sebagaimana sabdanya,

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman”
(HR. Muslim)

Dalam Al Musnad dan As Sunan dari Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu, bahwa ia berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca Al Qur’an dan membaca ayat ini, tetapi kalian memahaminya secara keliru,

“artinya: Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuknya”.
(Q.S Al Maidah 105)

Sesungguhnya aku mendengar Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“artinya: Manusia apabila melihat kemungkaran dan tidak merubahnya, maka nyaris Allah akan mengadzab mereka semua karena kemungkaran tersebut.”
(HR. Tirmidzi).
Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.