<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Meneladani salafush sholeh</title>
	<atom:link href="http://alatsari.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alatsari.wordpress.com</link>
	<description>Kumpulan tulisan-tulisan dari Abu Aisyah Al Atsari</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Nov 2009 02:04:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='alatsari.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/4d600033cf040611ad2513c0f678091d?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Meneladani salafush sholeh</title>
		<link>http://alatsari.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>APAKAH TEPAT PERTANYAAN YANG DISAMPAIKAN : MANA DALILNYA ?? DAN MENGAPA BEGINI ?!</title>
		<link>http://alatsari.wordpress.com/2009/11/12/apakah-tepat-pertanyaan-yang-disampaikan-mana-dalilnya-dan-mengapa-begini/</link>
		<comments>http://alatsari.wordpress.com/2009/11/12/apakah-tepat-pertanyaan-yang-disampaikan-mana-dalilnya-dan-mengapa-begini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 02:04:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Aisyah Al Kediri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Umum]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alatsari.wordpress.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
Oleh

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menjelasakan tentang hukum tarian perempuan di depan anak-anak perempuan sejenisnya
Mengenai hal ini, kami sampaikan, jika yang dimaksud tari modern maka tidak boleh. Kalau ditanya, apa dalilnya ?

Jawabannya.

Meluruskan masalah-masalah itu sulit sekali. Mungkin ada yang berlebih-lebihan atau meremehkan dalam menanggapinya. Khususnya orang yang hidup dalam waktu yang lama dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=271&subd=alatsari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&nbsp;</p>
<div id="_mcePaste"><span style="background-color:#ffffff;">Oleh</span></div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menjelasakan tentang hukum tarian perempuan di depan anak-anak perempuan sejenisnya</div>
<div id="_mcePaste">Mengenai hal ini, kami sampaikan, jika yang dimaksud tari modern maka tidak boleh. Kalau ditanya, apa dalilnya ?</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Jawabannya.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Meluruskan masalah-masalah itu sulit sekali. Mungkin ada yang berlebih-lebihan atau meremehkan dalam menanggapinya. Khususnya orang yang hidup dalam waktu yang lama dalam amalan tertetntu. Bagi mereka telah tampak bahwa perkara itu ada penyimpangan dan syaraâ&#8217; menolak, tetapi mereka tetap berpaling dan kembali berbuat yang lebih parah dari yang lalu</div>
<div id="_mcePaste">Hal ini sebagai pelajaran bagi kita sekarang dan yang akan datang, bila membahas suatu masalah dituntut adanya dalil dalam rangka membersihkan taqlid.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Kaum muslimin hidup dalam waktu yang panjang. Mereka tidak mengenal selain madzhab Fulan dan madzhab Fulan, madzhab empat, madzhab ahlus sunnah wal jamaâ&#8217;ah dan atau madzhab yang menyimpang dari ahlus sunnah wal jamaâ&#8217;ah. Adapun yang bersandar kepada Allah Subhanahu wa Taâ&#8217;ala adalah generasi yang telah disaksikan kebaikannya (Salafush Shalih). Kemudian berlalu masa tersebut, sampai zaman Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya. Mereka menyeru kaum muslimin kepada keharusan untuk kembali kepada pemahaman Salafush Shalih dalam hal bersandar kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Tidak diragukan bahwa daâ&#8217;wah Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya mempunyai pengaruh yang bagus. Tetapi pada masa itu peranannya sangat kecil dan kejumudan berfikir menguasai beberapa orang terutama orang-orang awam.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Setelah generasi yang dibangunkan oleh Ibnu Taimiyah kaum muslimin kembali kepada kejumudan dalam memahami fiqih, kecuali pada akhir-akhir ini. Banyak sekali ulama yang memperbaharui daâ&#8217;wahnya untuk menggerakkan dan membangunkan manusia untuk kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Diantara ulama yang telah mendahului kita dalam hal ini adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Beliau telah menyeru untuk ittibaâ&#8217; (mengikuti) kepada Al-Qurâ&#8217;an dan As-Sunnah. Melihat keadaan penduduk Nejd yang aqidah keberhalaannya telah menguasai negeri mereka maka Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berusaha dengan gigih memeperbaiki tauhid mereka.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Tabiat manusia kemampuannya terbatas. Mereka tidak sanggup memerangi semua kehinaan sebagaimana yang mereka katakan. Karena itu daâ&#8217;wah beliau bertumpu pada daâ&#8217;wah penyebaran tauhid dan memerangi kesyirikan serta keberhalaan. Sehingga sampailah daâ&#8217;wah yang bagus ke dunia Islam. Walaupun antara beliau dan lawannya terjadi peperangan yang sangat disesalkan. Ini adalah sunnatullah pada makhlukNya dan kamu tidak akan dapat menemui perubahan sunatullah.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Pada saat ini telah banyak ulama yang memperbaharui daâ&#8217;wahnya kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Banyak sekali kebangkitan yang nampak dari bebagai kalangan di negeri-negeri Arab. Tetapi sangat disesalkan sekali negara-negara ajam (non Arab) masih nyenyak dalam tidurnya.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Kelemahan bangsa Arab sebagaimana saya tunjukkan tadi, adalah bahwa sebagian mereka masih sepotong-sepotong dalam memahami Islam. Ada yang mengetahui sebagian tetapi bodoh pada bagian yang lain. Maka kita lihat seorang laki-laki umum, yang tidak faham sesuatu sedikitpun apabila bertanya kepada orang alim tentang suatu masalah, dia berkata apa hukumnya ? Sama saja, apakah jawabannya tidak ada atau larangan, dia tergesa-gesa menuntut apa dalilnya ?</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Tidak selalu orang alim itu dapat memberikan dalil. Suatu dalil bisa diambil dengan cara istimbat (mengeluarkan dari sumbernya melalui ijtihad untuk menetapkan suatu hukum) dan iqtibas (mengambil faidah dari sumbernya), belum tentu secara jelas dan lugas dalam Al-Qurâ&#8217;an dan As-Sunnah. Seperti masalah ini, penanya hendak mengetahui sedalam-dalamnya dengan menanyakan &#8220;Apa Dalilnya&#8221; Seharusnya penanya tahu diri, apakah dia itu ahli dalil atau tidak ? Apa dia telah mempunyai pengenalan dalil yang maknanya umum dan khusus, mutlaq dan muqayyad, nasikh dan mansukh ? Sedang dia tidak faham sedikitpun terhadap pengenalan tersebut. Apakah tepat pertanyaan yang disampaikan.. &#8216;Apa Dalilnya ??!! Dan mengapa begini ?!&#8217;. Kami katakan tentang hukum tarian perempuan di depan suaminya, atau di depan saudara perempuannya sesama muslimah, bisa jadi boleh, bisa jadi dilarang ! Dan juga tarian laki-laki, dia menghendaki dalil diatas itu. Pada hakekatnya kami tidak menemukan dalil yang jelas dan gamblang dari Rasulullah Shallallahu â€˜alaihi wa sallam. Dasar tersebut ditemukan dengan istimbat, penelitian dan pemahaman. Karena itu kami katakan, tidaklah setiap masalah harus dijelaskan dalilnya secara rinci, sehingga mudah dipahami oleh setiap muslim. Baik itu orang umum yang buta baca tulis, atau penuntut ilmu. Tidak harus begitu untuk setiap pertanyaan. Karena itulah Allah Subhanahu wa</div>
<div></div>
<div>Taâ&#8217;ala berfirman.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>&#8220;Artinya : Bertanyalah kepada Ahlul ilmi jika kalian tidak tahu&#8221; [An-Nahl : 43]</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Diantara contoh ekstrim yang telah saya tunjukan tadi, manusia yang paling jahil akan menjadi penentang dalil. Kebanyakan manusia yang menisbatkan dirinya dalam daâ&#8217;wah kepada Al-Kitab dan As-Sunnah menyangka, bahwa orang yang berilmu itu apabila ditanya suatu masalah, dia harus menjawab dengan firman Allah Subhanahu wa Taâ&#8217;ala (Al-Qurâ&#8217;an) dan sunnah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam (As-Sunnah).</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Aku (Al-Albani) menjawab bahwa ini tidak wajib. Hal ini merupakan salah satu dari faedah-faedah berintima (cenderung) kepada Salafus Shalih. Jalan mereka dan fatwa-fatwa mereka merupakan dalil bagi perbuatan yang telah saya jelaskan. Jadi wajib menyebutkan dalil ketika masalah itu menuntut adanya dalil. Tapi tidak wajib bagi setiap pertanyan harus dijawab dengan : â€œKata Allah Subhanahu wa Taâ&#8217;ala begini atau kata Rasulullah Shallallahu â€˜alaihi wa sallam begini&#8217; . Terlebih masalah ini merupakan masalah hukum yang rumit dan penuh perselisihan di dalamnya.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Firman Allah Subhanahu wa Taâ&#8217;ala.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>&#8220;Artinya : Bertanyalah kepada Ahlul ilmi jika kalian tidak tahu&#8221; [An-Nahl : 43]</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Ini adalah secara umum. Tidak ada kewajiban kecuali bertanya kepada orang yang kalian duga ahli ilmu. Jika telah dijawab, wajib bagi kalian untuk mengikutinya. Kecuali bila engkau dengan jawaban yang syubhat dari seorang ahli ilmu lainnya, sebaiknya engkau jelaskan yang syubhat itu. Sedangkan orang alim tersebut wajib berusaha dengan kemampuan ilmunya untuk menghilangkan kesyubhatan yang telah tampak pada penanya.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Ringkasnya tarian wanita di depan suaminya dengan batasan yang telah disebut adalah boleh. Adapun tarian wanita di depan anak-anak perempuan, maka ada dua kemungkinan juga, sebagaimana tariian perempuan di depan suaminya. Jika tariannya tidak diiringi dengan kegemaran dan hanya merupakan bagian dari lambaian tangannya, dimana tidak disertai gerakan/ayunan pantat atau sejenisnya yang bisa menggerakkan syahwat atau menimbulkan syubhat. Tarian ini tidak apa-apa, jika memang benar namanya tarian. Apabila terdapat hal-hal selain yang disyaratkan di atas, maka larangan merupakan hukum asal</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>[Disunting dari sebagian jawaban dari pertanyaan Tarian Seorang Wanita dan Laki-laki kepada Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Majalah Al-Ashalah 8/15 Jumadil Akhir 1414H hal. 73. Edisi Indonesia 25 Fatwa Fadhilatus Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Penerjemah Muhaimin Abu Najiah, Semarang 1955, dan judul artikel oleh admin]</div>
<p>&nbsp;</p>
Posted in Fiqih Umum Tagged: fatwa <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alatsari.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alatsari.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alatsari.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alatsari.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alatsari.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alatsari.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alatsari.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alatsari.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alatsari.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alatsari.wordpress.com/271/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=271&subd=alatsari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alatsari.wordpress.com/2009/11/12/apakah-tepat-pertanyaan-yang-disampaikan-mana-dalilnya-dan-mengapa-begini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/233a5e176ad72c2325e0e4bdbee3d2c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Aisyah Al Kediri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berammar Ma&#8217;ruf Nahi Mungkar</title>
		<link>http://alatsari.wordpress.com/2009/10/27/berammar-maruf-nahi-mungkar/</link>
		<comments>http://alatsari.wordpress.com/2009/10/27/berammar-maruf-nahi-mungkar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 01:49:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Aisyah Al Kediri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alatsari.wordpress.com/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirahmaanirrahiim,
Alhamdulillah. Wa sholatu wa &#8216;alaa rasulillahi wa &#8216;alaa &#8216;alihi wa ash habihi wa man tabi&#8217;ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma ba&#8217;du.
Seorang muslim wajib berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar, atas diri mereka, keluarga, shahabat dan orang muslim ataupun kafir. Wajib atas budak atau merdeka, wajib kepada penguasa atau rakyat. Sebab agama ini adalah agama yang mana umatnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=268&subd=alatsari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="background-color:#ffffff;">Bismillahirahmaanirrahiim,</span></p>
<p>Alhamdulillah. Wa sholatu wa &#8216;alaa rasulillahi wa &#8216;alaa &#8216;alihi wa ash habihi wa man tabi&#8217;ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma ba&#8217;du.</p>
<p>Seorang muslim wajib berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar, atas diri mereka, keluarga, shahabat dan orang muslim ataupun kafir. Wajib atas budak atau merdeka, wajib kepada penguasa atau rakyat. Sebab agama ini adalah agama yang mana umatnya adalah umat yang terbaik dikarenakan berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar. Allah berfirman,</p>
<p><span style="font-family:'DejaVu Sans';">كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ</span></p>
<p>&#8220;Artinya : Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.&#8221; [Ali Imran: 110]</p>
<p>Agama Islam adalah agama terbaik dikarenakan hal ini. Sebab agama yang lain tidak berbuat demikian. Ketika agama Islam menyuruh umatnya untuk bertauhid, agama lain menyuruh umatnya untuk berbuat syirik. Ketika agama Islam menyuruh agar umatnya berbuat ma&#8217;ruf, agama lain menyuruh umat mereka untuk berbuat maksiat, berbuat kemungkaran. Inilah agama yang haq. Namun apabila ada orang muslim yang malah menyuruh saudaranya berbuat keji dan mungkar, maka ia bukanlah termasuk golongan umat Muhammad Shallallahu&#8217;alaihi wa salam. Sebagaimana orang-orang Syi&#8217;ah yang menyuruh kaumnya untuk membenci para shahabat, atau seperti JIL yang menghalalkan yang haram dan sebagainya.</p>
<p>Dari Abu Sa’id Al Khudry radhiyallahu ‘anhu berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)</p>
<p>Hadits di atas mempunyai pelajaran yang sangat penting dalam berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulloh menjelaskan hal ini,</p>
<p>“Sesungguhnya maksud dari hadits ini adalah: Tidak tinggal sesudah batas pengingkaran ini (dengan hati) sesuatu yang dikategorikan sebagai iman sampai seseorang mukmin itu melakukannya, akan tetapi mengingkari dengan hati merupakan batas terakhir dari keimanan, bukanlah maksudnya, bahwa barang siapa yang tidak mengingkari hal itu dia tidak memiliki keimanan sama sekali, oleh karena itu Rasulullah bersabda, “Tidaklah ada sesudah itu”, maka beliau menjadikan orang-orang yang beriman tiga tingkatan, masing-masing di antara mereka telah melakukan keimanan yang wajib atasnya, akan tetapi yang pertama (mengingkari dengan tangan) tatkala ia yang lebih mampu di antara mereka maka yang wajib atasnya lebih sempurna dari apa yang wajib atas yang kedua (mengingkari dengan lisan), dan apa yang wajib atas yang kedua lebih sempurna dari apa yang wajib atas yang terakhir, maka dengan demikian diketahui bahwa manusia bertingkat-tingkat dalam keimanan yang wajib atas mereka sesuai dengan kemampuannya beserta sampainya khitab (perintah) kepada mereka.” (Majmu’ Fatawa, 7/427)<span id="more-268"></span></p>
<p>Karakter umat Islam adalah berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar, baik dengan tangan mereka, lisan mereka atau mengingkari dengan hati. Makanya itu sungguh suatu hal yang aneh apabila seorang muslim tidak menampakkan kebencian mereka ketika ada kemungkaran, ketika ada kemaksiatan. Bahkan ada sebagian orang yang mengaku muslim, tapi dia diam saja ketika ada kemungkaran yang nyata di depan mereka. Seperti ketika ada kasus-kasus aliran Ahmadiyah yang terjadi beberapa tahun lalu, sebagian dari mereka malah membela ajaran mereka dan menganggap mereka tidak mengganggu kita.</p>
<p><strong>Bagaimana cara berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar ?<span style="font-weight:normal;background-color:#ffffff;"> </span></strong></p>
<p>Dengan tangan berarti mengubah yang mungkar dengan kekuatan. Hal ini bisa dilakukan kepada siapapun yang mempunyai kekuasaan atas diri seseorang, atau yang lebih mampu. Misalnya adalah penguasa terhadap rakyat, atasan kepada bawahan, kepala keluarga terhadap istri dan anak, orang tua terhadap anak kecil dan seterusnya. Dan mengingkari yang mungkar dengan tangan <span style="text-decoration:underline;">bukan berarti dengan senjata.</span></p>
<p>Dengan lisan berarti kita memberikan nasehat kepada siapapun yang berbuat kemungkaran. Hal ini dikarenakan kita tidak bisa mengubah mereka dengan tangan. Ini berarti kita memberikan nasehat kepada manusia, mengajarkan yang ma&#8217;ruf kepada manusia adalah termasuk berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar dengan lisan. Atau dakwah dengan tulisan adalah sama saja dengan lisan. Sebab tulisan itu menggambarkan apa yang kita ucapkan, sebagaimana para rasul yang berdakwah kepada pemimpin suatu negeri dengan mengirimkan surat. Mereka selalu menyampaikan ayat-ayat Allah di surat itu dan menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf (dengan mentauhidkan Allah dan mematuhi syari&#8217;at Allah dan Rasul-Nya) dan mencegah kemungkaran ( lepas dari perbuatan syirik dan nista).</p>
<p>Sedangkan mengingkari dengan hati, tak lain adalah tingkatan iman yang paling rendah. Dalam arti seorang muslim yang di dalam hatinya masih ada iman tentu mereka akan memahami bahwa suatu tindakan sesuai dengan syari&#8217;at atau tidak. Inilah kewajiban yang paling utama dalam berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar, yaitu mengingkari dengan hati. Sebab mustahil seseorang berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar dengan tangan mereka, tapi hati mereka tidak, juga mustahil seseorang berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar dengan lisan mereka, tapi hati mereka tidak. Perbuatan ini hanya terjadi pada orang-orang munafik.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p><span style="font-family:'DejaVu Sans';">وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِين</span></p>
<p>Artinya: “Di antara manusia ada yang mengatakan: &#8220;Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian&#8221;, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” [QS. Al Baqarah: 8]</p>
<p>dan juga dalam ayat berikutnya:</p>
<p><span style="font-family:'DejaVu Sans';">وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُون َلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُون</span></p>
<p>Artinya: “Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: &#8220;Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.&#8221; Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. [QS. Al Baqarah: 11-12]</p>
<p>Salah seorang berkata kepada Ibnu Mas’ud, “Binasalah orang yang tidak menyeru kepada kebaikan dan tidak mencegah dari kemungkaran”,lalu Ibnu Mas’ud berkata, “Justru binasalah orang yang tidak mengetahui dengan hatinya kebaikan dan tidak mengingkari dengan hatinya    kemungkaran.”(Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf beliau no. 37581)</p>
<p>Imam Ibnu Rajab mengomentari perkataan Ibnu Mas’ud di atas dan berkata :</p>
<p>“Maksud beliau adalah bahwa mengetahui yang ma’ruf dan mungkar dengan hati adalah kewajiban yang tidak gugur atas setiap orang, maka barang siapa yang tidak mengetahuinya maka dia akan binasa, adapun mengingkari dengan lisan dan tangan ini sesuai dengan kekuatan dan kemampuan.” (Jami’ul Ulum wal Hikam 2/258-259)</p>
<p><strong>Kaidah-kaidah</strong></p>
<p>Dalam berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar, ada kaidah yang harus dilihat terlebih dahulu. Yaitu:</p>
<p><strong>Pertama, mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadat</strong>. Ini yang harus difahami oleh orang-orang sebelum berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar. Manusia tidaklah serta merta akan menerima seseorang yang berdakwah atas mereka, dan juga tidak setiap hal yang diubah dengan tangan akan menghasilkan kebaikan. Semuanya ini perlu pertimbangan yang matang dan perlu kejelian. Sebab Islam ini adalah agama yang rahmat, bukan agama yang malah membuat manusia lari darinya.</p>
<p>Anas radhiyallahu&#8217;anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu&#8217;alaihi wa salam bersabda, &#8220;Mudahkanlah dan jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan membuat orang lari.&#8221; [HR. Bukhari]</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulloh berkata,</p>
<p>“Jika amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan kewajiban dan amalan sunah yang sangat agung (mulia) maka sesuatu yang wajib dan sunah hendaklah maslahat di dalamnya lebih kuat/besar dari mafsadatnya, karena para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan dengan membawa hal ini, dan Allah tidak menyukai kerusakan, bahkan setiap apa yang diperintahkan Allah adalah kebaikan,  dan Dia telah memuji kebaikan dan orang-orang yang berbuat baik dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, serta mencela orang-orang yang berbuat kerusakan dalam beberapa tempat, apabila mafsadat amar ma’ruf dan nahi mungkar lebih besar dari maslahatnya maka ia bukanlah sesuatu yang diperintahkan Allah, sekalipun telah ditinggalkan kewajiban dan dilakukan yang haram, sebab seorang mukmin hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam menghadapi hamba-Nya, karena ia tidak memiliki petunjuk untuk mereka, dan inilah makna firman Allah:</p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman perhatikanlah dirimu, orang yang sesat tidak akan membahayakanmu jika kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-Maa’idah: 105)</p>
<p>Dan mendapat petunjuk hanya dengan melakukan kewajiban.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 10. cet. Wizarah Syuun al Islamiyah)</p>
<p>Dan beliau menambahkan,</p>
<p>“Sesungguhnya perintah dan larangan jika menimbulkan maslahat dan menghilangkan mafsadat maka harus dilihat sesuatu yang berlawanan dengannya, jika maslahat yang hilang atau kerusakan yang muncul lebih besar maka bukanlah sesuatu yang diperintahkan, bahkan sesuatu yang diharamkan apabila kerusakannya lebih banyak dari maslahatnya, akan tetapi ukuran dari maslahat dan mafsadat adalah kacamata syari’at.”</p>
<p>Dan juga tidak dibenarkan apabila dengan berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar tersebut menjadikan kemungkaran yang lebih besar lagi. Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah rahimahulloh berkata,</p>
<p>&#8220;Jika mengingkari kemungkaran menimbulkan sesuatu yang lebih mungkar dandi benci oleh Allah dan Rasul-Nya, maka tidak boleh dilakukan, sekalipun Allah membenci pelaku kemungkaran dan mengutuknya.” (I’laamul Muwaqqi’iin, 3/4)</p>
<p>Jadi dilihat dari kondisi hilangnya kemungkaran itu ada 4 macam, yaitu:</p>
<p>1. Hilangnya kemungkaran tersebut secara total.</p>
<p>2. Kemungkaran akan berkurang, walaupun tidak sepenuhnya hilang, paling tidak disebagian tempat yang terdapat kemungkaran ini akan digantikan dengan yang ma&#8217;ruf.</p>
<p>3. Kemungkaran hilang, tapi ada kemungkaran serupa yang akan muncul di tempat lain.</p>
<p>4. Kemungkaran hilang, tapi muncul kemungkaran yang lebih besar lagi.</p>
<p><strong>Kedua, karakteristik ilmu dari orang yang berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar.</strong> Sudah barang tentu manusia yang berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar itu haruslah orang yang berilmu. Mustahil orang yang berilmu faham akan yang ma&#8217;ruf dan yang mungkar. Justru bagi mereka yang tidak berilmu, akan sama saja seperti manusia yang membuat bangunan dari pasir, yang mana akan hancur di terjang ombak. Maka dari itu adanya kaidah berkata itu adalah ilmu, dan diam juga adalah ilmu.</p>
<p>Seseorang ulama, dengan ilmunya maka ia wajib untuk berdakwah kepada para pengikutnya. Dan seorang muslim juga wajib berdakwah. Sehingga setiap manusia itu saling nasehat menasehati dengan manusia yang lainnya. Allah berfirman:</p>
<p><span style="font-family:'DejaVu Sans';">إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر</span></p>
<p>artinya:”kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” [Al Ashr: 3]</p>
<p>Selain berilmu, seseorang harus mempunyai penyantun dan sabar. Seseorang yang tidak santun, lemah lembut dan sabar, malah akan membuat manusia ini lari dari hidayah Allah. Lari dari rahmat Islam, padahal Islam adalah agama rahmatan lil &#8216;alamin. Sebagaimana hadits yang telah lalu</p>
<p>Anas radhiyallahu&#8217;anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu&#8217;alaihi wa salam bersabda, &#8220;Mudahkanlah dan jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan membuat orang lari.&#8221; [HR. Bukhari]</p>
<p>Tanpa lemah lembut mustahil hidayah itu akan masuk. Justru kebencian yang akan ada dan orang yang berbuat mungkar akan tetap menganggap tindakan mereka benar. Pada dasarnya manusia itu punya sifat tidak mau digurui dan cenderung lebih suka tidak dikritik. Maka dari itulah rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa salam selalu berdakwah dengan lemah lembut, dengan santun dan sabar. Sehingga banyak manusia yang mendapatkan hidayah dari-Nya, terkecuali orang-orang yang dikehendaki oleh Allah.</p>
<p><strong>Ketiga, syarat  perbuatan yang wajib untuk diingkari</strong>. Tidak seluruh kesalahan dan kemungkaran itu wajib diingkari terkecuali setelah ada syarat-syarat sebagai berikut:</p>
<p>1. Perbuatan tersebut jelas-jelas kemungkaran, kecil atau pun besar. Artinya, berammar ma&#8217;ruf tidak terbatas pada dosa-dosa besar saja, tapi juga dosa-dosa kecil. Kebanyakan orang itu salah sangka terhadap berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar ini hanya terbatas pada dosa-dosa besar, seperti minum khamr, zina dan sebagainya. Padahal perbuatan dosa kecil itu juga termasuk diwajibkan atas kita untuk berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar.</p>
<p>Apabila dosa-dosa kecil dibiarkan, maka kita akan menganggap dosa itu adalah suatu hal yang biasa. Yang akan mengakibatkan murka Allah karena kita membiarkan hal tersebut. Sebagaimana rahib-rahib Yahudi yang membiarkan umat mereka berbuat maksiat, tidak mengingkarinya, kemudian besoknya mereka membiarkannya, besoknya mereka memperbolehkannya, dan besoknya mereka ikut di dalamnya, dan besoknya lagi muncul kemaksiatan yang nilainya lebih besar dari sebelumnya. Ketika masih berupa dosa kecil ditegakkan ammar ma&#8217;ruf, maka tentu dalam dosa-dosa besar kita akan lebih perhatian.</p>
<p>2. Perbuatan maksiat itu masih melekat dalam diri seseorang. Maksudnya, telah dinasehati seseorang untuk tidak berbuat kemungkaran. Namun ia masih melakukannya, maka wajib bagi kita untuk terus menasehatinya hingga kemungkaran itu hilang dari dirinya. Baik yang tertutupi dan yang tidak.</p>
<p>3. Kemungkaran tersebut jelas dan nyata, tidak tersembunyi. Seseorang tidak boleh mencari kesalahan-kesalahan seorang muslim. Dan juga tidak boleh menguak aib orang lain. Kita boleh berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar kepada apa yang kita lihat secara zhahir. Rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa salam menilai seseorang secara zhahir bukan bathin. Maka dari itu seluruh amalan itu dilihat dari zhahirnya.</p>
<p>Allah berfirman yang artinya:</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujuraat: 12)</p>
<p>4. Kemungkaran tersebut adalah sesuatu yang disepakati oleh kaum muslimin, bukan masalah yang masih diperselisihkan oleh para ulama. Contoh masalah khilaf yang kita tidak boleh berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar atasnya adalah masalah khilaf utamanya suatu amalan, seperti turun sujud antara lutut dulu ataukah tangan dulu. Tidak boleh kita keras dalam masalah ini, hanya karena ada hadits yang mengatakan jangan meniru binatang. Sebab persoalan turun sujud inipun banyak yang berselisih.</p>
<p>Atau persoalan apakah boleh sholat orang yang setelah makan daging onta, atau jumlah raka&#8217;at dalam sholat tarawih, dan sebagainya. Ini masalah khilafiyah yang tidak perlu ditegakkan ammar ma&#8217;ruf nahi mungkar atasnya. Sedangkan permasalahan yang wajib ditegakkan adalah yang jelas-jelas keharamannya, seperti khamr, zina, nikah mut&#8217;ah, riba, maka ini wajib ditegakkan ammar ma&#8217;ruf nahi mungkar atasnya, tanpa terkecuali.</p>
<p><strong>Keempat, berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar kepada para penguasa.</strong> Manusia tidaklah sempurna, baik mereka rakyat jelata ataupu penguasa pasti mereka mempunyai sisi yang salah. Satu-satunya manusia yang dijamin kesalahannya hanyalah nabi dan rasul. Dalam berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar kepada penguasa tidaklah dengan serta merta berdemo kepada mereka, kemudian kesalahan-kesalahan mereka ditampakkan ataupun dengan kudeta (mengangkat senjata).</p>
<p>Ada metode-metode yang harus ditempuh, yaitu:</p>
<p>1. Tidak boleh mengangkat senjata. Sebab ini bukanlah manhaj ahlussunnah wal jama&#8217;ah. Mengangkat senjata hanyalah manhaj kaum khawarij. Imam Ibnu Nahas dalam Tanbihul Ghafilin berkata:</p>
<p>“Tidak boleh bagi seorang pun melarang penguasa dengan menggunakan kekerasan dan tangan serta tidak boleh angkat senjata, atau mengumpulkan masa, karena yang demikian itu menyebabkan fitnah dan menimbulkan kejahatan (kerusakan) serta hilangnya wibawa seorang pemimpin di hati masyarakat, dan terkadang bisa menyebabkan keberanian mereka untuk khuruj (kudeta) terhadapnya, dan rusak (hancur) nya suatu Negara, dan kerusakan lain yang nyata (tidak di pungkiri).</p>
<p>2. Menasehati para pemimpin secara sembunyi. Dalam arti bertemu secara langsung dan bicara empat mata.</p>
<p>‪Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa‬‬ ‫‪yang ingin menasihati pemimpin dalam suatu urusan maka jangan ia‬‬ ‫‪perlihatkan secara terang-terangan, akan tetapi hendaklah ia memegang‬‬ ‫‪tangan dan membawanya menyendiri, jika dia menerima nasihatnya itulah‬‬ ‫‪yang diharapkan, dan jika tidak, ia telah menyampaikan apa yang wajib‬‬ ‫atasnya”. [HR. Ahmad]</p>
<p>Namun hal ini tidaklah terjadi pada masyarakat kita saat ini. Mereka malah berdemo, memanggul poster yang berisi hinaan dan cacian terhadap penguasa. Ini bukanlah cara salafush sholeh, ini bukanlah yang dituntukan oleh rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa salam. Maka dari itu kita harus kembali kepada jalan salafush sholeh tentang bagaimanakah cara berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar yang benar. Sehingga Allah kembali menurunkan rahmat-Nya kepada kita dan tegaknya Islam bukan hanya mimpi di siang bolong belaka.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;">Ammar ma&#8217;ruf nahi mungkar itu ada tingkatannya, ada kaidahnya. Dan tidak boleh kita berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar kalau hal tersebut malah membuat kerusakan yang lainnya. Dan tidak boleh kita menguak aib orang lain, khususnya para pemimpin. Nasehatilah mereka dengan nasehat yang paling baik, dengan perkataan lembut dan sabar di atas jalan kebenaran.</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;">Semoga Allah mengampuni dosa kita, keluarga kita, dan saudara-saudara kita sesama muslim, dan di hari akhir kita dikelompokkan bersama dengan orang-orang sholih.</span></p>
<p>Wallahu a&#8217;lam bishawab.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maraji:</p>
<p><span style="background-color:#ffffff;">1. Al Qur&#8217;an Al Karim</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;">2. Ringkasan Shahih Bukhari</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;">3. Ringkasan Shahih Muslim</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;"><span style="background-color:#ffffff;">4. Bagaimana Cara Ber-Ammar Ma&#8217;ruf Nahi Mungkar, Ustadz Nur Ihsan, MA</span></span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;">5. Majmu&#8217; Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</span></p>
Posted in Manhaj, Tausiyah Tagged: dakwah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alatsari.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alatsari.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alatsari.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alatsari.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alatsari.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alatsari.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alatsari.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alatsari.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alatsari.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alatsari.wordpress.com/268/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=268&subd=alatsari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alatsari.wordpress.com/2009/10/27/berammar-maruf-nahi-mungkar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/233a5e176ad72c2325e0e4bdbee3d2c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Aisyah Al Kediri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Daurah Syar&#8217;iyah X Tentang Aqidah dan Manhaj</title>
		<link>http://alatsari.wordpress.com/2009/10/14/daurah-syariyah-x-tentang-aqidah-dan-manhaj/</link>
		<comments>http://alatsari.wordpress.com/2009/10/14/daurah-syariyah-x-tentang-aqidah-dan-manhaj/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 02:36:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Aisyah Al Kediri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktual]]></category>
		<category><![CDATA[daurah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alatsari.wordpress.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[
Posted in Aktual Tagged: daurah      <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=263&subd=alatsari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="aligncenter" src="http://1.bp.blogspot.com/_ki6FAdk-9qU/Ss1nKP6tJfI/AAAAAAAAAOg/Nvk6s40mYd8/s800/pamflet-dauroh-10.jpg" alt="" width="425" height="576" /></p>
Posted in Aktual Tagged: daurah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alatsari.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alatsari.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alatsari.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alatsari.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alatsari.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alatsari.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alatsari.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alatsari.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alatsari.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alatsari.wordpress.com/263/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=263&subd=alatsari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alatsari.wordpress.com/2009/10/14/daurah-syariyah-x-tentang-aqidah-dan-manhaj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/233a5e176ad72c2325e0e4bdbee3d2c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Aisyah Al Kediri</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.bp.blogspot.com/_ki6FAdk-9qU/Ss1nKP6tJfI/AAAAAAAAAOg/Nvk6s40mYd8/s800/pamflet-dauroh-10.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Meluruskan Pemikiran Konstekstual</title>
		<link>http://alatsari.wordpress.com/2009/10/12/meluruskan-pemikiran-konstekstual/</link>
		<comments>http://alatsari.wordpress.com/2009/10/12/meluruskan-pemikiran-konstekstual/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 02:08:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Aisyah Al Kediri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktual]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Gizwul Fikri]]></category>
		<category><![CDATA[JIL]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[sekulerisme]]></category>
		<category><![CDATA[ulil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alatsari.wordpress.com/?p=260</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirahmaanirrahiim, 
Washolatu wa&#8217;alaa rasulillahi wa&#8217;alaa &#8216;alihi wa ash hahibi ajma&#8217;in waman tabi&#8217;ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma Ba&#8217;du.
Kita tentu tidak asing dengan yang namanya Jaringan Islam Liberal yang mendapatkan dana dari FTA (Foundation to Asia) milik Yahudi tersebut. Kita tentu juga tidak asing dengan pemikiran-pemikiran mereka yang nyeleneh seputar agama Islam. Tentu saja, mereka adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=260&subd=alatsari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-bottom:0;"><span style="background-color:#ffffff;">Bismillahirahmaanirrahiim, </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY">Washolatu wa&#8217;alaa rasulillahi wa&#8217;alaa &#8216;alihi wa ash hahibi ajma&#8217;in waman tabi&#8217;ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma Ba&#8217;du.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Kita tentu tidak asing dengan yang namanya Jaringan Islam Liberal yang mendapatkan dana dari FTA (Foundation to Asia) milik Yahudi tersebut. Kita tentu juga tidak asing dengan pemikiran-pemikiran mereka yang nyeleneh seputar agama Islam. Tentu saja, mereka adalah Mu&#8217;tazillah zaman sekarang, yang mana sebagian besar pemikiran-pemikiran mereka dulunya pernah berkembang di zaman tabi&#8217;ut tabi&#8217;in. Dan salah satu Imam besar yang pernah berhadapan dengan mereka adalah Imam Ahmad bin Hambal rahimahulloh. Jaman sekarang, di saat manusia sudah dibutakan oleh kecanggihan teknologi dan juga banyak diantara mereka yang sombong terhadap apa yang mereka temukan dengan akal mereka, manusia pun mulai sedikit-demi-sedikit meninggalkan apa yang disebut pegangan hidup mereka. Padahal pegangan hidup itulah yang bakal menyelamatkan mereka, baik dari dunia ini maupun nanti di kehidupan selanjutnya. Pegangan itulah yang disebut Al Qur&#8217;an dan As Sunnah.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam bersabda, “<em>Aku tinggalkan kalian dalam keutamaan dan kemuliaan (ajaran agama) yang terang-benderang, malamnya seterang siangnya, dan tiada orang yang menyimpang darinya kecuali ia akan binasa.”</em> [Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah, al-Hakim dalam al-Mustadrak dari jalan periwayatan Imam Ahmad, dan oleh Ibnu Abi Ashim dengan sanad hasan dalam kitab as-Sunnah, hadits no. 48, dengan takhrij al-Albani, dan ia mensahihkannya dengan lanjutannya. Lihat kitab al-Muntaqa min Kitab at-Targhib wa Tarhib, 1/114, hadits no. 39]</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dari Abu Najih ’Irbadh bin Sariyah rodhiallohu ‘anhu dia berkata, <em>“Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati kami dengan nasihat yang menggetarkan hati dan mencucurkan air mata.</em> Kami bertanya, <em>“Wahai Rasulullah, seperti ini adalah nasihat perpisahan, karena itu berilah kami nasihat”</em>. Beliau bersabda, <em>“Aku wasiatkan kepada kalian untuk tetap menjaga ketakwaan kepada Alloh ‘azza wa jalla, tunduk taat (kepada pemimpin) meskipun kalian dipimpin oleh seorang budak Habsyi. Karena orang-orang yang hidup sesudahku akan melihat berbagai perselisihan, hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk (Alloh). Peganglah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah ajaran-ajaran yang baru (dalam agama) karena semua bid’ah adalah sesat.”</em> (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan shahih”)<span id="more-260"></span><br />
</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Yang akan saya bahas kali ini adalah syubhat yang dilontarkan oleh orang-orang ahlu kalam, liberal dan orang-orang yang mendukung mereka. Dan yang beberapa hal yang masyhur saat ini adalah pembahasan makna konstekstual. Mereka mengatakan bahwa dalam memahami dalil Al Qur&#8217;an dan As Sunnah itu tidaklah bersifat mutlak, tidaklah bersifat konstekstual, mereka istilahkan hal ini dengan <em>gebyah uyah</em><span style="font-style:normal;">, sebuah istilah yang menerima doktrin tanpa dipikir secara akal terlebih dahulu. Sebenarnya untuk membantah hal ini cukup dengan satu kalimat singkat, “Apakah ketika disuruh untuk beriman kepada Allah kita disuruh berpikir dulu baru kemudian beriman?”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Lontaran nasehat “Jangan berpikiran secara konstekstual” ini sebenarnya ditujukkan kepada salafiyin, kepada sebuah kelompok yang mereka namakan wahabi. Dan liberalisme, pluralisme, sekulerisme dan sufisme sejak dari dulu berseberangan dengan kelompok yang mereka namakan wahabi. Jadi yang akan kita bahas di sini lebih dari sebuah pembahasan pemikiran serta meluruskan seperti apakah kita dalam menggunakan dalil-dalil dari Al Qur&#8217;an dan As Sunnah sehingga yang dimaksud konstekstual itu tidak bernilai negatif terhadap orang-orang awam yang tidak faham masalah agama.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;"><strong>Al Qur&#8217;an sebagai Kalamulloh dan Hadits sebagai Khoirul Huda</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dalam khutbatul hajat, rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam bersabda, “Dan sebaik-baik perkataan adalah kalamulloh, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam”. Hal ini sering kita dengar ketika kita mendengarkan khutbah Jum&#8217;at dan juga ceramah-ceramah keagamaan. Namun tanpa kita sadari kita tidak faham maksudnya, dan juga kita tidak faham bagaimana mengamalkan nasehat beliau shallallahu&#8217;alaihi wa sallam yang mulia ini.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Apabila kita beriman kepada Al Qur&#8217;an dan kepada rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam maka, kita akan dihadapkan kepada persoalan, yaitu apakah kita menganggap Al Qur&#8217;an sebagai Kalamulloh ataukah sebagai makhluk. Mereka (kaum liberal) tentu saja menganggap Al Qur&#8217;an ini sebagai makhluk. Apa buktinya mereka menganggapnya sebagai makhluk? Mereka tidak lagi menghormati kedudukan Al Qur&#8217;an sebagai Kalamullah, kita bisa melihat bagaimana mereka mengambil sebagian ayat dan kemudian ditafsirkan menurut kata hati mereka. Atau mereka menganggap bahwa Al Qur&#8217;an itu adalah sebagai sebuah kitab yang mana sebagian isinya harus mengikuti perkembangan zaman. Jadi Al Qur&#8217;an mereka anggap adalah kitab seperti Injil orang-orang Nasrani sekarang ini yang bisa berubah karena perkembangan zaman, atau seperti Tauratnya orang-orang Yahudi sekarang ini yang sebagian isinya bisa ditolak atau diganti sebagaimana tafsiran menurut rahib mereka.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dengan kita bersyahadat Asyhadu anlaa ilaa haillallah wa ashyahadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh maka, kita punya konsekuensi yang besar. Tidak main-main konsekuensi ini, maka dari itulah dulu ketika orang-orang kafir Quraisy dihadapkan kepada dua kalimat syahadat ini, mereka tidak mau dan hanya sebagian saja yang mendapatkan petunjuk yang mau mengucapkannya dan masuk kepada Islam. Dengan bersyahadat kalimat tauhid, maka kita beriman kepada Allah, menunggalkan Allah dalam segala bentuk peribadatan, hanya mengagungkan-Nya, hanya memohon kepada-Nya, hanya bersujud kepada-Nya, dan hanya menghinakan diri kepada-Nya. Sehingga kita siap terhadap apa yang diaturnya, kita siap terhadap apa yang diperintahkan-Nya, kita siap terhadap apa yang diberikan Allah, kita juga siap terhadap konsekuensi apabila kita menentang perintahnya, yaitu siap menerima hukum Allah di dunia, dan siap mengikuti seorang manusia yang menjadi rasul yang membawa risalah untuk manusia. Sedangkan konsekuensi syahadat kedua adalah penyempurna dari syahadat yang pertama, yaitu mengambil seluruh syariat dari rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam, tidak menganggap rasul sebagai tuhan, tidak mengangkatnya sampai kepada derajat ketuhanan, meyakini apa yang dibawanya, membela ajarannya, membelanya baik dengan harta ataupun nyawa, dan apapun yang beliau sampaikan maka kita tunduk dan patuh seratus persen kepada beliau.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Inilah kekuatan Islam, inilah inti kekuatan Islam itu, yang apabila manusia lepas dari pemahaman ini, ataupun tidak faham terhadap masalah syahadat ini niscaya sia-sialah amalannya. Ibaratnya mereka mengetahui nama-nama arah mata angin utara, timur, barat, dan selatan, tapi tidak tahu yang mana utara, timur, barat dan selatan.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Namun, ternyata JIL berkata lain terhadap syari&#8217;at yang dibawa oleh Allah dan rasul-Nya ini. Bagi JIL dengan manusia menyerahkan setiap masalah kembali kepada syari&#8217;at agama, maka hal itu adalah kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi adalah cara untuk lari dari masalah. Sebagaimana tulisan Ulil Abshar Abdalla sebagai berikut:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Pandangan bahwa syari’at adalah suatu “paket lengkap” yang  sudah jadi, suatu resep dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah di segala zaman, adalah wujud ketidaktahuan dan ketidakmampuan memahami sunnah Tuhan itu sendiri.  Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua masalah adalah salah satu bentuk kemalasan berpikir atau lebih parah  lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah, sebentuk eskapisme, inilah yang menjadi sumber kemunduran umat Islam di mana-mana.” (Islam Liberal &amp; Fundamental hal. 13).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Ini adalah hal pertama yang saya bahas. Pemikiran JIL di atas sangat berbahaya dan tidak sepantasnya hal itu diucapkan oleh seorang muslim yang sholat, yang faham terhadap syari&#8217;at, yang faham bahwa Allah adalah tempat bergantung.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Kita jawab tulisan Ulil tersebut dengan firman Allah:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="RIGHT">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="RIGHT"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-size:large;">قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَد</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="RIGHT"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-size:large;">اللَّهُ الصَّمَدُ</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="RIGHT"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-size:large;">لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="RIGHT"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-size:large;">وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">Artinya:”Katakanlah: Dia-lah Allah Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dan tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada satu makhluk pun yang setara dengan Dia”. [Q.S. Al Ikhlash]</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Sebenarnya cukup firman Allah itu yang menjawab tulisan Ulil. Namun akan saya perjelas lebih lanjut lagi. Apabila kita menganggap bahwa Al Qur&#8217;an hanyalah doktrin, hanyalah sebuah konstekstual yang tidak mungkin diterima gebyah uyah begitu saja, maka sudah barang tentu hal ini salah. Allah menurunkan ayat-ayat yang muhkamat dan ayat-ayat yang mutasyabihat. Adapun ayat-ayat muhkamat, maka ayat-ayat tersebut bisa langsung dipraktekkan dan bisa langsung difahami. Sedangkan ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang tidak bisa ditafsiri secara langsung, tidak bisa difahami, dan perlu kita bertanya kepada orang yang tahu yaitu rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam sebagai pembawa syari&#8217;at untuk menjelaskannya, maka dari itulah ada hadits sebagai penjelas dan penafsir dari ayat-ayat tersebut. Adapun ayat-ayat yang tidak dijelaskan oleh rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam tafsirannya, maka dikembalikan lagi kepada Allah Azza wa Jalla, sebagai yang menurunkan firman-Nya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dan tidaklah seluruh permasalahan yang ada di dunia ini melainkan semuanya sudah terjawab di dalam kitab yang mulia ini. Di ayat kedua surat Al Ikhlash, Allah berfirman bahwa Dia adalah Dzat yang tempat bergantung segala sesuatu. Setiap makhluk yang bernafas, mereka pasti butuh oksigen, setiap manusia pasti membutuhkan rizki, yang mana hal itu diberikan oleh Allah secara cuma-cuma, dan setiap makhluk pasti punya masalah, dan cara untuk mengatasi persoalan masalah itu sudah barang tentu Allah juga yang tahu solusinya. Maka dari itulah Allah menurunkan firman-Nya, mengutus seorang rasul, sehingga manusia diberikan jalan, ditunjukkan jalan yang benar sehingga bisa selamat baik dunia maupun akhirat. Mustahil Allah membiarkan hamba-Nya melalang buana di dunia ini tanpa diberikan petunjuk untuk mengatasi segala persoalan yang mereka hadapi. Manusia diberikan akal untuk berfikir, namun akal manusia tersebut terbatas, akal bukanlah dewa yang harus dipuja dan disembah. Akal manusia terbatas, pada hal-hal yang dilihat dan dirasakan oleh panca indera. Sedangkan apa yang diketahui oleh Allah adalah melebihi apa yang bisa dilihat dan dirasakan oleh panca indera manusia. Maka dari itulah orang yang menjadikan syari&#8217;at agama sebagai solusi atas berbagai masalah, maka dia lebih berakal daripada ahlu akal. Inilah kehebatan Al Qur&#8217;an sebagai Kalamullah dan Hadits sebagai sebaik-baik petunjuk.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Maka dari itulah Allah menurunkan banyak sekali syari&#8217;at untuk bisa mengatasi setiap persoalan yang dihadapi manusia. Misalnya, ketika seseorang ingin dipanjangkan umurnya, maka Allah dan rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita silaturahim, apabila suatu daerah tidak pernah turun hujan dan kekeringan, maka Allah menurunkan solusinya yaitu sholat minta hujan, apabila penduduk di suatu negeri banyak yang miskin, maka Allah menurunkan solusinya, yaitu berzakat, berinfaq, bershodaqoh. Apabila ada seseorang mengidap penyakit, syari&#8217;at yang mulia ini pun telah menurunkan obatnya, banyak sekali riwayat-riwayat yang menjelaskan bagaimana mereka bisa sembuh dengan ruqyah dengan ayat-ayat Al Qur&#8217;an, ataupun do&#8217;a-do&#8217;a yang diajarkan oleh rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam, atau dengan tibbun nabawi, seperti madu, habatus saudah, dan sebagainya. Inilah syari&#8217;at Allah yang maha luas. Kalau kita tidak bergantung kepada Allah terhadap masalah-masalah yang kita hadapi, lalu apakah kita harus berpikir sendiri terhadap diri kita, sedangkan kita sendiri adalah orang lemah? Manusia itu lemah, akal mereka terbatas, dan tentu saja membutuhkan tempat bergantung dalam setiap persoalan. Dan tidak ada tempat yang lebih baik untuk bergantung selain kepada Allah.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;"><strong>Salahkah Kembali kepada Memahami Ayat Secara Konstekstual</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Pertama, kita lihat dulu maksud konstekstual ini. Apabila maksud konstekstual ini taqlid kepada salah seorang ulama, taqlid kepada orang-orang tertentu, atau golongan tertentu sudah barang tentu hal ini salah kaprah. Kedua, apabila maksud dari konstekstual ini adalah memahami Al Qur&#8217;an dan Al Hadits sesuai dengan pemikiran masing-masing dan tidak kembali kepada ayat-ayat Allah dengan pemahaman salafush sholeh, ini juga salah dan bisa menyesatkan. Ketiga, apabila maksud dari konstekstual ini adalah memahami Al Qur&#8217;an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam dan para shahabatnya, dan juga generasi yang mengikuti mereka, serta orang-orang beriman yang mengikuti mereka dengan baik, maka sudah barang tentu tuduhan konstekstual apabila dialamatkan kepada kelompok yang ketiga ini sangat salah besar.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Nyatanya tuduhan konstekstual itu selalu dialamatkan kepada wahabi atau salafiyin. Orang-orang liberal, dan orang-orang yang sefaham dengan mereka mengatakan bahwa wahabi atau salafiyin hanya memahami ayat-ayat secara ortodoksi, secara konstekstual, sehingga mereka tidak berkembang, mereka berpikir kuno dengan cara mengembalikan Islam seperti pada zaman shahabat. Orang-orang liberal menganggap hal ini salah, tapi mari kita bahas persoalan yang besar ini.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Al Qur&#8217;an dan Al Hadits adalah wahyu. Sebab wahyu itu ada dua, yaitu:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">1. Wahyu yang berbentuk teks dan kandungannya merupakan firman Allah Subhanahu wa ta&#8217;alaa, dan wahyu inilah yang dimaktub dalam Al Qur&#8217;an Al Kariim.</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">2. Wahyu yang kandungannya dari Allah Subhanahu wa ta&#8217;alaa, namun teks yang memuatnya diserahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam.</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Allah Subhanahu wa ta&#8217;alaa berfirman:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="RIGHT"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-size:large;">كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُون</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">artinya:”Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” [Q.S Al Baqarah: 151]</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Ibnu Katsir rahimahulloh ketika menafsiri ayat ini berkata, “Allah Ta’ala mengingatkan hamba-hamba-Nya akan kenikmatan-Nya yang telah dilimpahkan kepada mereka; berupa diutusnya Nabi Muhammad shollallahu&#8217;alaihi wasallam kepada mereka. Beliau membacakan kepada mereka ayat-ayat yang jelas kandungannya, dan beliau juga mensucikan diri mereka dari perangai yang hina, kepribadian yang kotor, dan perilaku orang-orang jahiliyyah. Sebagaimana beliau juga telah membawa mereka keluar dari kegelapan menuju kepada cahaya, mengajarkan kepada mereka Al Kitab yaitu Al Qur’an, Al Hikmah yaitu As Sunnah, dan mengajarkan kepada mereka apa-apa yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Dahulu mereka berada dalam kegelapan jahiliyyah, berperilaku bodoh, kemudian mereka berubah –berkat risalah dan kenabian dan menjadi berkepribadian para wali dan bertingkah laku para ulama’. Dengan demikian mereka telah menjadi orang yang paling dalam ilmunya, baik hatinya, jauh dari sikap mengada-ada, dan paling jujur ucapannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/195-196).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“Diriwayatkan dari sahabat Miqdan bin Ma’dikarib rodiallahu ‘anhu ia menuturkan: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ketahuilah bahwa aku telah diberi (diturunkan kepadaku) Al Kitab dan yang serupa dengannya (yaitu As Sunnah) bersamanya, Ketahuilah bahwa aku telah diberi (diturunkan kepadaku) Al Qur’an dan dan yang serupa dengannya (yaitu As Sunnah) bersamanya. Ketahuilah bahwa tak lama lagi akan ada orang yang bersila diatas balai-balai dan ia dalam keadaan kenyang, berkata:‘Hendaknya kamu mengikuti Al Qur’an (saja) sehingga apa yang kamu dapatkan di dalamnya halal, maka halalkanlah, dan apa yang kamu dapatkan diharamkan di dalamnya, maka haramkanlah.’” (HSR Ahmad dan Abu Dawud)</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dan seluruh para ulama ahli ushul dan fiqih telah sepakat bahwa Al Qur&#8217;an dan As Sunnah adalah satu sumber hukum yang mana keduanya adalah wahyu dan harus dita&#8217;ati. Maka dari itulah Allah menyuruh umat islam menjadikan rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam sebagai suri tauladan yang baik. Sebab mustahil orang yang punya salah, bisa salah karena ucapan dan perbuatannya dijadikan sebagai suri tauladan. Inilah mukjizat Al Qur&#8217;an yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam. Ia dilindungi oleh Allah atas segala kesalahan, dan bagi siapa yang mengikutinya akan ada jaminan syafa&#8217;at darinya, dan akan dimasukkan ke dalam umatnya, dan berakhir di dalam jannah.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="font-family:'DejaVu Sans';">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">artinya:”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [Q.S. Al Ahzab: 21]</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dan setiap orang pasti perkataannya bisa ditinggalkan ataupun diterima, selain nabi Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu&#8217;anhu:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY">“<span style="font-style:normal;">Tiada seorang pun melainkan perkataannya diterima dan sebagian lain ditolak, selain Nabi Shalalllahu&#8217;alaihi wa sallam” [ Diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Al Kabir]</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Mari kita lihat tulisan Ulil berikut:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Islam yang diwujudkan di madinah partikular, historis, dan kontekstual, sempurna untuk ukuran zamannya, tapi tidak sempurna untuk ukuran saat ini. Kita tidak bisa menerapkan apa saja yang diterapkan pada masa itu. Makanya, Islam pada masa Nabi one among others. Artinya, satu di antara kemungkinan untuk menerjemahkan Islam di muka bumi.” (Islam Liberal &amp; Fundamental, hal. 246).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Di sana jelas sekali pernyataan Islam liberal yang menuduh bahwa apa yang diperjuangkan oleh rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam, apa yang telah beliau korbannya harta dan darahnya, hanyalah satu dari bentuk Islam yang sebenarnya. Dan dikatakan apa yang beliau perjuangkan bukanlah Islam yang universal. Nanti akan kita bahas, kita perjelas saja maksud dari tulisan-tulisannya. Di tulisannya yang lain:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Nabi itu manusia biasa, tetapi diberi kelebihan oleh Allah. Dia itu aktor sosial yang menghendaki perubahan, seperti para pemimpin revolusi di dunia. Ia membangun idealisme, tapi tak semuanya bisa terwujud, karena struktur sosial tak bisa diubah sepenuhnya.” (Islam Liberal &amp; Fundamental, hal. 246).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Di sini sudah jelas bahwa Ulil, mengatakan bahwa nabi itu hanya aktor sosial, dan menyamakan nabi shallallahu&#8217;alaihi wa sallam seperti pemimpin-pemimpin revolusi lainnya, baik yang kafir ataupun muslim. Dan ini jelas sekali terlihat dari tulisannya yang berikut:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Menurut saya: Rasul Muhammad Saw adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang juga banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah).” (Idem hal 9-10).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Kita bahas dulu pernyataan mereka di atas. Di awal kita telah bahas bahwasannya Al Qur&#8217;an adalah Kalamulloh, dan Hadits adalah wahyu kedua, sehingga rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam adalah seorang panutan yang wajib bagi setiap muslim untuk mengikuti perintah beliau. Dan Allah juga telah memfirmankan di dalam kitab yang mulia tentang Rasul sebagai Uswatun Hasanah. Dari sini tentu saja, kedudukan rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam, selain sebagai seorang hamba, beliau mempunyai kelebihan, mempunyai keistimewaan, tidak bisa disandingkan dengan orang-orang kafir, tidak bisa disetarakan dengan pemimpin revolusi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam berjuang, berdakwah untuk rabb semesta alam. Beliau tidak minta upah, beliau juga tidak pernah menginginkan kedudukan, beliau juga tidak pernah menginginkan wanita, beliau adalah orang yang paling ikhlash di muka bumi ini dalam berdakwah. Beliau juga tak butuh pengikut ataupun prajurit untuk berjuang, beliau tunduk pada aturan dan pada perintah Allah, dan dengan perkataannya yang baik itulah akhirnya banyak orang yang datang sendiri kepada beliau shallallahu&#8217;alaihi wa sallam, dan dengan mukjizat yang dibawa oleh beliaulah akhirnya banyak orang yang mendapatkan petunjuk.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dan agama Islam, bukanlah sebuah agama mitos. Agama Islam itu adalah wahyu. Justru, kalau menganggap bahwa rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam hanyalah sebuah mitos, yang kita tahu sendiri apa itu definisi mitos, maka orang tersebut kalau tidak kafir ia pasti munafiq. Dengan menuduh rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam banyak kekurangannya, maka sudah pasti ia juga menuduh agama Islam ini ada kekurangannya. Padahal telah jelas dan Allah telah berfirman bahwa agama Islam yang beliau dakwahkan ini telah sempurna dan Allah telah memfirmankannya dalam sebuah ayat di surat Al Maidah ayat 3.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Diriwayatkan dari Imam Bukhari dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu&#8217;anha:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam sering sholat malam, sampai kaki beliau bengkak. Aku bertanya, “Wahai rasululloh, kenapa engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosamu sebelum dan setelahnya?”. Rasululloh menjawab, “Apakah aku tidak pantas menjadi seorang hamba yang bersyukur?”.</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Kita sebagai umat Islam harus mengakui bahwa rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam adalah sebaik-baik panutan. Namun tidak boleh mengangkatnya sampai kepada derajat ketuhanan. Beliau adalah hamba Allah yang paling mulia, dan tinggi derajatnya, namun kita tidak boleh menyamakan beliau seperti diri kita, dan orang lain. Beliau adalah manusia yang dijaga, sebab apabila beliau melakukan kesalahan, maka beliau ditegur oleh Allah dan teguran itu menjadi syari&#8217;at. Kemudian apabila beliau hendak berbuat yang dilarang Allah langsung menegurnya agar tidak berbuat demikian dan beliau langsung patuhi, sedangkan apabila beliau berkata sesuatu dan Allah mendiamkannya, maka menjadi syari&#8217;at, demikian juga ketika salah seorang shahabat melakukan sesuatu yang beliau mendiamkannya, maka itupun menjadi syari&#8217;at. Sehingga tiada satupun titik celah beliau berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri, dan tiada satupun titik celah beliau berbuat dosa, karena setiap langkah beliau terjaga.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Apakah rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam harus dikritisi dengan orang setingkat Ulil padahal beliau adalah satu-satunya orang yang harus diterima segala perkataannya? Ataukah kita yang sholat malam saja jarang, bahkan tidak pernah mungkin. Apakah kita yang sholat saja belum benar, puasa sunnah saja kadang-kadang, baca Al Qur&#8217;an saja mungkin masih kalah daripada baca koran mau mengkritisi rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam? Ataukah orang-orang seperti Ulil yang makan dari FTA-nya yahudi yang pantas untuk mengkritisi rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam?</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Kita umat Islam, kalau kita taqlid kita hanya taqlid kepada Allah dan Rasul-Nya. Apa yang dari Allah dan Rasul-Nya, maka kita terima, dan apa yang dilarang dari Allah dan rasul-Nya, maka kita tinggalkan. Inilah jalan Islam yang benar dan lurus, bukan jalan yang sesat.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Satu lagi kesesatan mereka adalah mengatakan bahwa nabi Muhammad shallallahu&#8217;alaihi wa sallam bukanlah nabi penutup. Sebagaimana tulisan Ulil berikut:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Nabi Muhammad sebagai ‘khatiman Nabiyyin’ seperti disebut dalam Al Qur’an tak diartikan sebagai penutup para nabi. Yang lebih tepat maknanya cincin. Ibarat jari diantara jari-jari lainnya, maka jari yang memakai cincin begitu diistimewakan, Karena itu sejarah kenabian akan tetap berlangsung setelah wafatnya Rasulullah.” (Islam Liberal &amp; Fundamental, hal. 244).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Darimanakah penafsiran ini, kalau tidak dari akal mereka? Jelas sekali bahwa kaum liberal mendukung nabi palsu, mendukung orang seperti Musailamah Al Kadzab, maka dari itu ketika dulu ada nabi palsu (Al Qiyadah Al Islamiyah) maka merekalah golongan yang pertama kali membela nabi palsu ini. Juga kita lihat bagaimana komentar-komentar mereka terhadap Ahmadiyah. Kita semua tahu bahwa Ulil bukan ahli hadits, ia juga bukan ahli tafsir, dan ia juga bukan nabi, maka dari itu apa yang ia katakan sudah pasti bisa tertolak, dan salah satu yang ditolak adalah apa yang ia tulis di atas.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Khotaman nabiyyin sudah pasti maksudnya adalah penutup nabi. Dan ia mengingkari hal ini sebagaimana tulisannya yang lain:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Oleh karena itu, Islam sebetulnya lebih tepat disebut sebagai sebuah ‘proses’ yang tak pernah selesai, ketimbang sebuah ‘lembaga agama’ yang sudah mati, baku, jumud, dan mengukung kebebasan. Ayat “inna al dina ‘inda allah al Islam (QS 3:19), lebih tepat diterjemahkan sebagai: ‘Sesunguhnya jalan religiusitas yang benar adalah proses yang tak pernah selesai menuju ketundukan (kepada Yang Maha Benar).’” (Idem hal. 15).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Bagi saya, wahyu tidak berhenti pada zaman Nabi, wahyu terus bekerja dan turun kepada manusia.” (Idem, hal. 10).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dalam masalah wahyu, sudah dibahas di atas. Dan wahyu sudah berhenti sejak rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam wafat. Sejak beliau wafat, maka tiada satupun wahyu yang turun, kenabian telah berakhir dan apabila mengingkari hal ini ia sama saja mengingkari hari kiamat. Salah satu rukun Iman adalah mengingkari hari kiamat. Sedangkan salah satu tanda-tanda hari kiamat adalah dengan diutusnya nabi terakhir, penutup dari semua para nabi, dan juga dengan wafatnya beliau shallallahu&#8217;alaihi wa sallam maka tanda-tanda kiamat sudah ada. Kalau ini diingkari, maka sudah pasti JIL mengingkari juga hari kiamat.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">JIL yang mengatakan bahwa Islam ini adalah universal, universal yang mereka maksudkan adalah universal yang menolak syari&#8217;at. Padahal di Al Qur&#8217;an sudah jelas syari&#8217;at-syari&#8217;at yang harus diikuti, juga dalam hadits-hadits nabi, namun mereka berkata lain soal ini:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh: soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab.” (Islam Liberal &amp; Fundamental, hal. 8, baca juga hal. 12, 14 &amp; 245).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Mereka menganggap bahwa jilbab, jenggot, qishash, ataupun rajam adalah budaya arab. Padahal budaya dengan syari&#8217;at itu adalah dua kata yang berbeda. Budaya adalah buatan manusia, sedangkan syari&#8217;at adalah sesuatu yang turun dari wahyu. Dan Islam menerima setiap budaya manusia, asalkan budaya itu tidak bertentangan dengan Islam. Dan syariat jenggot, jilbab, qishash, potong tangan, rajam, itu adalah syari&#8217;at yang sudah ada ketetapannya dan akan berlaku sampai nanti hari akhir. Inilah Islam yang sebenarnya, bukan Islam buatan mereka.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">JIL juga berpendapat, bahwa agar pendapat mereka tidak ditentang, mereka mengangkat isu kesederajatan sosial. Sebagaimana tulisan mereka:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Setiap doktrin yang hendak membentuk tembok antara ‘kami’ dan ‘mereka’ antara hizb Allah (golongan Allah) dan hizb syaithan (golongan setan) dengan penafsiran yang sempit atas dua kata itu, antara ‘Barat’ dan ‘Islam’; doktrin demikian adalah penyakit sosial yang akan menghancurkan nilai dasar Islam itu sendiri, nilai tentang kesederajatan umat manusia, nilai tentang manusia sebagai warga dunia yang satu.” (Idem, hal. 14).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Islam menganggap dua orang itu saudara, apabila keduanya bersyahadat, satu agama, dan tunduk di bawah hukum Allah. Apabila mereka tidak bersyahadat, satu agama dan tidak menjalankan syari&#8217;at-syari&#8217;at Allah, maka mereka bukanlah Islam, bukan saudara. Maka pantaslah apabila budaya barat yang banyak bertolak belakang dengan syari&#8217;at Islam itu dikatakan sebagai salah satu bentuk hizb syaithon.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="RIGHT"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-size:large;">اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُون</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">artinya: “Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi.” [Q.S. Al Mujadillah : 19]</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Ini bukti bahwa JIL adalah hizb syaithan, sebab apa yang mereka lakukan berusaha untuk memalingkan manusia dari jalan Islam yang benar, mereka berusaha dengan dana-dana dari orang-orang yahudi (sebut saja FTA) berusaha memalingkan manusia kepada ajaran Islam versi mereka. Dan mereka tidak sungkan-sungkan menampakkan tanduk setan mereka ketika memproklamirkan diri bahwa seluruh agama itu benar. Sebagaimana yang ditulis oleh Ulil:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan: semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti ini, jalan panjang menuju Yang Maha Benar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam keluarga besar yang sama, yaitu keluarga pencinta jalan menuju  kebenaran yang tak pernah ada ujungnya.” (Idem, hal. 15).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Umat Islam harus berijtihad mencari formula baru dalam menerjemahkan nilai-nilai itu dalam konteks kehidupan mereka sendiri. “Islam”nya Rasul di Madinah adalah salah satu kemungkinan menerjemahkan Islam yang universal di muka Bumi; ada kemungkinan lain untuk menerjemahkan Islam dengan cara lain dalam konteks yang lain pula. Islam di Madinah adalah one among others, salah satu jenis Islam yang hadir di muka Bumi.” (Idem, hal. 10).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Untuk membantah dua paragraf ini Allah telah berfirman dalam sebuah kalimat yang singkat, padat dan jelas, firman Allah tersebut adalah:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="RIGHT"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-size:large;">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">artinya: “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku atas dirimu, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu”. [Q.S. Al Maaidah ayat 3]</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah. Islam adalah satu-satunya agama yang bakal membawa manusia kepada jalan yang benar, pada keselamatan. Dan Islam ini sudah sempurna, tidak perlu kita melihat Islam-islam yang lain. Apa yang diperjuangkan oleh para shahabat, apa yang telah diperjuangkan oleh para ulama, mereka semua sudah menjelaskan kepada kita bahwa Islam itu sempurna, tidak perlu mencari Islam yang lain, dan inilah bukti bahwa tidak perlu formula baru untuk menerjemahkan nilai-nilai yang ada di dalam Islam.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Kalau ada orang yang membenci ahli hadits, ada yang membenci hadits, maka mereka bukanlah golongan ahlussunnah. Imam Ahmad rahimahulloh ketika ditanya siapakah ahlussunnah, beliau mejawab, “Selain ahli hadits aku tidak tahu.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Apa itu JIL? Mereka bukanlah ahli hadits, mereka malah orang yang paling membenci hadits di dunia ini. Memang dalam tulisan mereka menggunakan sepenggal hadits, tapi setelah itu mereka banyak mengingkari. Mereka berusaha mengingkari sebuah ayat dengan ayat, ayat mereka lawan dengan hadits, hadits mereka lawan dengan ayat-ayat Al Qur&#8217;an. Sungguh mereka telah membalik agama ini, dan mereka suatu saat akan dibalik sendiri oleh Allah.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Seandainya JIL mengatakan bahwa semua agama itu benar. Lalu kenapa mereka lebih membanggakan ajaran Nasrani atau katholik?</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Jadi, Islam bukan yang paling benar. Pemahaman serupa, terjadi di Kristen selama berabad-abad. Tidak ada jalan keselamatan di luar gereja. Baru pada 1965 masehi, Gereja katolik di Vatikan merevisi paham ini. Sedangkan Islam yang berusia 1,423 tahun dari hijrah nabi, belum memiliki kedewasaan yang sama seperti Katolik.” (Idem, hal. 247).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">JIL berusaha menutupi kemajuan-kemajuan yang ada pada diri Islam. Padahal kemajuan-kemajuan Islam itu terjadi sudah lama, banyak shiroh-shiroh yang menceritakan kemajuan Islam. Sebagaimana ilmuwan Al Jabbar, dengan aljabarnya, juga sebagaimana kemajuan yang dicapai umat Islam ketika menguasai banyak ilmu-ilmu, itu semua karena umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang benar. Yaitu jalan rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam dan jalan para shahabat.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Sekarang kita lihat bagaimana umat Islam bisa hancur. Kita masih ingat bagaimana sejarah orang-orang Tar-tar menyerang Baghdag. Mereka membakar kitab-kitab umat Islam, mereka menyebrang sungai Eufrat dan Trigis dengan menenggelamkan buku-buku umat Islam sampai-sampai seekor kuda bisa berjalan di atas tumpukan buku-buku itu. Dan di dalam sejarah sungai Eufrat dan Trigis itu sampai berwarna hitam karena tinta. Itu semua karena orang-orang munafik, orang-orang munafik yang berkhianat kepada Islam, mereka gila harta, gila kekuasaan, sehingga akhirnya tentara Tar-tar bisa masuk untuk menginjak-injak Islam, dan yang paling memalukan adalah manusia yang mati pertama kali adalah seorang wanita penari yang mereka menari di hadapan penguasa saat itu dengan cara terpanah.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dan tujuan JIL sudah pasti, ingin mengaburkan manusia dari Al Qur&#8217;an dan As Sunnah. Dari jalan yang terang benderang ini kepada jalan yang gelap. Mereka ingin membutakan manusia terhadap sejarah Islam yang mulia. Kita bisa lihat bagaimana Umar bin Abdul Aziz rahimahulloh yang ia adalah seorang pembaharu, di zamannya Islam mulia. JIL hanya menunjukkan kejelekan-kejelekan Islam dan mengubur dalam-dalam segala hal-hal yang paling baik yang ada di dalam sejarah Islam. Perbuatan mereka ini sungguh merupakan perbuatan yang jahat dan buruk.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Tujuan mereka sudah pasti ada sokongan dari orang-orang kafir untuk menguasai Islam dan menghancurkannya dari dalam. Umat Islam itu kuat karena mereka kembali kepada Al Qur&#8217;an dan As Sunnah. Hal ini sudah diketahui oleh orang-orang kafir. Maka dari itulah sekarang ini umat Islam lemah dan takut karena perbuatan mereka sendiri. Berapa banyak orang yang faham terhadap agama ini sekarang? Berapa banyak orang yang menyeru kepada kebenaran?</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah perbuatan fahisyah (perzinaan) merajalela di suatu masyarakat, hingga mereka berani melakukannya dengan terang-terangan, melainkan akan merajalela pula di  tengah-tengah mereka berbagai wabah dan penyakit yang  belum pernah menimpa umat sebelum mereka, dan tidaklah  mereka mengurangi takaran dan timbangan  (berbuat curang ketika menakar dan menimbang) melainkan mereka akan ditimpa kelaparan, kesusahan  dalam hidup, dan kezaliman para penguasa,dan tidaklah mereka enggan menunaikan zakat harta mereka, melainkan mereka akan dihalangi untuk mendapatkan hujan dari langit, dan kalau bukan karena binatang ternak, niscaya mereka tidak akan pernah diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah, Al Baihaqi dan Al Hakim, serta dihasankan oleh Al Albani)</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dari hadits ini hikmah dan pelajarannya banyak yang bisa diambil. Kita lihat ketika perzinaan merajalela dan dianggap sebagai suatu kebiasaan bahkan terang-terangan dilakukan oleh sebagian manusia, Allah pun menurunkan HIV/AIDS, apakah dulu sudah ada penyakit ini? Hal ini karena manusia sudah melewati batas. Sekalipun para ahli mengatakan tentang bagaimana virus ini menular, tapi kenapa bisa ada virus ini mereka tak bisa mengetahuinya, dan Rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam telah meriwayatkan jauh sebelum penyakit ini datang.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dan kita bisa lihat apa yang ada di bangsa kita dari hadits tersebut. Kekeringan padahal di negeri yang seharusnya hujan itu datang tiap tahun, kemudian juga kita bisa melihat bencana silih berganti, kita juga melihat bagaimana kesusahan-kesusahan terus-menerus bangsa ini, semuanya sudah diramalkan oleh rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam sebelum kita lahir, sebelum kita menghirup udara bebas sekarang ini. Cara kita mengambil pelajaran adalah dengan melihat permasalahan yang ada, lalu kita membaca ayat-ayat dan hadits-hadits beliau shallallahu&#8217;alaihi wa sallam. Kemudian kita melihat bagaimana pemahaman para salafush sholeh terhadap ayat dan hadits tersebut, lalu bagaimana mereka mengamalkannya. Inilah yang benar.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Jadi konstekstual itu bukanlah sesuatu yang hina. Kalau konstekstual maksud JIL adalah menghina pemahaman orang-orang terdahulu, maka mereka adalah orang-orang mutaakhirin yang menyesatkan. Bahkan rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam sudah meramalkan bahwa orang-orang mutaakhirin itu akan lebih jauh dari Islam. Allah telah berfirman: </span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="font-family:'DejaVu Sans';">وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيم</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”[Q.S. At Taubah : 100]</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Kalau JIL menganggap bahwa konstekstual yang mereka maksudkan yaitu denga kembali kepada apa yang dibawa oleh rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam sebagaimana yang difahami oleh orang-orang generasi awal adalah salah, maka mereka harus membuat ayat baru di dalam Al Qur&#8217;an yang mengatakan bahwa orang-oarng terdahulu yang masuk Islam, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak perlu diikuti lagi. Bagi saya, JIL bukanlah bagian dari Islam. Ia hanya mengambil kata Islam untuk meluluskan niatnya menyesatkan orang-orang Islam. Banyak orang-orang yang sudah tersesat dengan pemikiran mereka dan pemahaman mereka. Dan banyak juga para ulama baik para ulama yang ada di MUI, maupun di belahan lain di bumi ini, mereka selalu memfatwakan akan bahayanya pemahaman sekulerisme, pluralisme dan liberalisme.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;"><strong>Kesimpulan</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;font-weight:normal;" align="JUSTIFY">Dengan kita kembali kepada Al Qur&#8217;an dan As Sunnah sebagai pemahaman yang benar, maka kita bukan berarti melakukan perbuatan yang salah. Justru mereka yang menuduh kita terlalu ortodok, kita terlalu dipermak oleh doktrin-doktrin “Terima dan amalkan” merekalah sebenarnya yang tidak faham terhadap agama ini dan ingin menjerumuskan manusia-manusia yang miskin ilmu dan orang-orang awam khususnya. Orang-orang yang mereka tidak pernah ngaji, tidak pernah tahu Islam, bahkan mereka yang setiap hari disuguhkan terhadap realita, terhadap ilmu-ilmu selain dari Islam akan manggut-manggut saja menerima apa yang dikatakan oleh JIL. Berbeda dengan mereka yang telah diberi hidayah oleh Allah, yang selalu mengkaji Islam dari buku-buku para ulama, dari pakar-pakar Islam yang sebenarnya, bukan dari JIL, maka mereka akan melihat banyak sekali kegoncangan yang ada pada pemikiran JIL. <strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#ff0000;">Dan hal terbesar yang didakwahkan oleh JIL adalah, jangan lagi menjadikan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah sebagai pedoman hidup, berpikirlah dengan metode sendiri tapi menggunakan nama Islam, sehingga manusia lambat laun akan mengatakan bahwa dengan kembali kepada Al Qur&#8217;an dan As Sunnah sesuai dengan manhaj yang dibawa oleh para shahabat adalah sebuah metode yang usang.</span></span></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;font-weight:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Saya seringkali menahan amarah ketika melihat bagaimana orang-orang liberal yang mejadi bintang tamu di sebuah acara, baik itu acara seminar, atau diskusi kemudian mendatangkan pihak dari MUI, yang kita tahu secara jelas seolah-olah moderator mereka mengalahkan orang-orang yang berpihak kepada yang benar dan melawan liberal. Sungguh mereka (kaum liberal) akan terus berbuat kerusakan, namun mereka akan mengingkari dengan mengatakan “sesungguhnya kami berbuat perbaikan”. Hal ini sebagaimana mana yang telah kita ulas di bahas tentang tulisan-tulisan mereka dan Allah berfirman khusus mengenai orang-orang yang mengatakan perbaikan tapi sebenarnya mereka merusak,</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;font-weight:normal;" align="JUSTIFY"><span style="font-family:'DejaVu Sans';">وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونأَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُون</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;font-weight:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">artinya: “Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: &#8220;Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.&#8221; Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” [Q.S. Al Baqarah: 11-12]</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;font-weight:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Allah memasukkan golongan seperti ini kepada orang-orang munafik. Dan mungkin ada benarnya bahwa JIL adalah orang-orang munafik. Secara dzahirnya memang mereka demikian. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan yang mereka ada-adakan, dan menjaga kita semua di atas jalan lurus yang telah ditunjukkan oleh para nabi dan rasul.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;font-weight:normal;" align="JUSTIFY">Allahua&#8217;lam bishawab.</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;font-weight:normal;" align="JUSTIFY">
Posted in Aktual, Aqidah, Gizwul Fikri Tagged: JIL, liberalisme, pluralisme, sekulerisme, ulil <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alatsari.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alatsari.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alatsari.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alatsari.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alatsari.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alatsari.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alatsari.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alatsari.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alatsari.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alatsari.wordpress.com/260/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=260&subd=alatsari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alatsari.wordpress.com/2009/10/12/meluruskan-pemikiran-konstekstual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/233a5e176ad72c2325e0e4bdbee3d2c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Aisyah Al Kediri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shiroh Ulama Al Imam Asy Syafi&#8217;i Rahimahulloh</title>
		<link>http://alatsari.wordpress.com/2009/10/09/shiroh-ulama-al-imam-asy-syafii-rahimahulloh/</link>
		<comments>http://alatsari.wordpress.com/2009/10/09/shiroh-ulama-al-imam-asy-syafii-rahimahulloh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 02:06:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Aisyah Al Kediri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Shiroh]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Asy Syafi'ie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alatsari.wordpress.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Shiroh Ulama Al Imam Asy Syafi&#8217;i Rahimahulloh
Nama dan Nasabnya
Namanya adalah Muhammad bin Iddris bin Al Abbas bin Utsman bin Syafi&#8217;i bin Ubaid bin Abu Yazid bin Hasyim bin Al Muttalib (ayah Abdul Muttalib kakek Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam) bin Abdi Manaf. Beliau nasabnya bertemu dengan nasab Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam pada AbdiManaf.
Imam Al Baihaqi menyebutkan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=256&subd=alatsari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Shiroh Ulama Al Imam Asy Syafi&#8217;i Rahimahulloh</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Nama dan Nasabnya</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Namanya adalah Muhammad bin Iddris bin Al Abbas bin Utsman bin Syafi&#8217;i bin Ubaid bin Abu Yazid bin Hasyim bin Al Muttalib (ayah Abdul Muttalib kakek Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam) bin Abdi Manaf. Beliau nasabnya bertemu dengan nasab Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam pada AbdiManaf.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Imam Al Baihaqi menyebutkan, “Imam Asy Syafi&#8217;i dilahirkan di kota Ghazzah, kemudian dibawa ke Asqalan, lalu dibawa ke Makkah”.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Ibnu Hajar menambahkan, “Beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di kota Asqalan. Ketika berusia 2 tahun ibunya membawanya ke Hijaz dan hidup bersama orang-orang keturunan Yaman karena ibunya orang dari suku Azdiyah. Di usia 10 tahun, beliau dibawa ke Makkah karena khawatir nasabnya yang mulia akan lenyap.”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Kelahiran</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Dalam usia 7 tahun Imam Asy-Syafi’i selesai menghafal Al-Qur’an dan usia 10 tahun beliau hafal Al-Muwaththa’ karya Imam Malik, usia 15 tahun dengan izin  gurunya yang bernama Muslim bin Khalid Az-Zanji untuk  berfatwa. Beliau juga banyak menghafal syair-syair  Hudzail. Setelah itu beliau pergi ke Madinah untuk  belajar fiqih dari Imam Malik bin Anas hingga Imam Malik wafat tahun 179H, setelah itu beliau belajar dai Sufyan bin ‘Uyainah.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Dari hasil menggadaikan rumahnya seharga 16 dinar, Imam Syafi’i pergi ke Yaman. Karena ketidakmampuannya beliau bekerja di Yaman sambil belajar dari para ulama-ulama di sana di antaranya Ibnu Abi Yahya dan lainnya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Ketika itu, di saat pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid terjadi fitnah ‘A lawiyyin yang mengakibatkan seluruh ‘Alawiyyin terusir dari Yaman termasuk Imam Syafi’i. Beliau bersama rombongan ‘A lawiyyin dibawa ke Irak dengan diikat dan sambil disiksa. Keluar dari penjara Irak beliau belajar dari para ulama-ulama di  sana seperti Imam Muhammad bin Al-Hasan.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Ketika pemerintahan Al-Makmun yang dikuasai oleh para ulama ahli kalam dan merebak banyak bid’ah, beliau pergi ke Mesir dan beliau membuka halaqah di masjid Amr bin Al-‘Ash.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Guru dan Muridnya</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Imam Syafi’i mengambil ilmu dari para ulama di berbagai tempat misalnya di Makkah, Madinah, Kufah,Bashrah, Yaman, Syam dan Mesir. Imam AL-Baihaqi menyebutkan beberapa orang guru Imam Asy-Syafi’i di antaranya sebagai berikut:</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Di Makkkah</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">1. Imam Sufyan bi Uyainah.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">2. Abdurrahman bin Abu Bakar bin Abdullah bin Abu Mulaikah.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">3. Ismail bin Abdullah Al-Muqri.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">4. Muslim bin Khalid Az-Zanji.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Di Madinah</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">1. Imam Malik bin Anas.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">2. Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Darawirdi.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">3. Ibrahim bin Sa’ad bin Abdurrahman.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">4. Muhammad bin Ismail Abu Fudaik.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Di tempat-tempat yang lain</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">1. Hisyam bin Yusuf Al-Shan’ani.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">2. Mutharrif bin Mazin Al-Shan’ani.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">3. Waki’ bin Jarrah</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">4. Muhammad bin Hasan Al-Syaibani.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Adapun murid-murid beliau yang terkenal adalah:</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">1. Rabi’ bin Sulaiman bin Abdul Jabbar tokoh hadits dan fiqih, menjadi syaikh muazzin di masjid Fusthath.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">2. Abu Ibrahim Ismail bin Yahya bin Ismail bin Amr bin Muslim Al-Muzani Al-Mishri</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">3. Abu Yaqub Yusuf bin Yahya Al-Mishri Al-Buwaithi.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Beliau juga bertemu dengan Imam Ahmad bin Hambal dan saling mengambil ilmu antara keduanya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Karya-karyanya</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Imam Syafi’i memiliki karya tulis yang banyak sekali, di antaranya yang paling terkenal adalah:</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">1. Kitab Al-Umm, Kitab fiqih yang terdiri dari empat jilid berisi 128 masalah dan terbagi ke dalam 40 bab lebih.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">2. Kitab Al-Risalah Al-Jadidah, Kitab ini dianggap sebagai induk kitab ushul fiqh yang terdiri dari satu jilid besar yang sudah di-tahqiq oleh Ahmad Syakir.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">3. Selain yang dua ini ada beberapa kitab yang dinisbahkan kepada beliau di antaranya kitab Al Musnad, As-Sunan, Ar-Rad ‘ala Al-Barahimiyah dan  Mihnatu Imam A sy-Syafi’i.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Wafatnya</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Setelah mengalami penyakit wasir yang menyebabkan keluar darah terus menerus, Imam Asy-Syafi’i wafat pada akhir bulan Rajab tahun 204H dan dimakamkan di Mesir. Wallahu ‘A ’lam.</div>
<p><span style="background-color:#ffffff;"><strong>Nama dan Nasabnya</strong></span></p>
<p>Namanya adalah Muhammad bin Iddris bin Al Abbas bin Utsman bin Syafi&#8217;i bin Ubaid bin Abu Yazid bin Hasyim bin Al Muttalib (ayah Abdul Muttalib kakek Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam) bin Abdi Manaf. Beliau nasabnya bertemu dengan nasab Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam pada Abdi Manaf.</p>
<p><span style="background-color:#ffffff;">Imam Al Baihaqi menyebutkan, “Imam Asy Syafi&#8217;i dilahirkan di kota Ghazzah, kemudian dibawa ke Asqalan, lalu dibawa ke Makkah”.</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;">Ibnu Hajar menambahkan, “Beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di kota Asqalan. Ketika berusia 2 tahun ibunya membawanya ke Hijaz dan hidup bersama orang-orang keturunan Yaman karena ibunya orang dari suku Azdiyah. Di usia 10 tahun, beliau dibawa ke Makkah karena khawatir nasabnya yang mulia akan lenyap.”</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;"><strong>Kelahiran</strong></span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;">Dalam usia 7 tahun Imam Asy-Syafi’i selesai menghafal Al-Qur’an dan usia 10 tahun beliau hafal Al-Muwaththa’ karya Imam Malik, usia 15 tahun dengan izin  gurunya yang bernama Muslim bin Khalid Az-Zanji untuk  berfatwa. Beliau juga banyak menghafal syair-syair  Hudzail. Setelah itu beliau pergi ke Madinah untuk  belajar fiqih dari Imam Malik bin Anas hingga Imam Malik wafat tahun 179H, setelah itu beliau belajar dai Sufyan bin ‘Uyainah.</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;">Dari hasil menggadaikan rumahnya seharga 16 dinar, Imam Syafi’i pergi ke Yaman. Karena ketidakmampuannya beliau bekerja di Yaman sambil belajar dari para ulama-ulama di sana di antaranya Ibnu Abi Yahya dan lainnya. </span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;">Ketika itu, di saat pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid terjadi fitnah ‘A lawiyyin yang mengakibatkan seluruh ‘Alawiyyin terusir dari Yaman termasuk Imam Syafi’i. Beliau bersama rombongan ‘A lawiyyin dibawa ke Irak dengan diikat dan sambil disiksa. Keluar dari penjara Irak beliau belajar dari para ulama-ulama di  sana seperti Imam Muhammad bin Al-Hasan.</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;">Ketika pemerintahan Al-Makmun yang dikuasai oleh para ulama ahli kalam dan merebak banyak bid’ah, beliau pergi ke Mesir dan beliau membuka halaqah di masjid Amr bin Al-‘Ash.</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;"><strong>Guru dan Muridnya</strong></span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;">Imam Syafi’i mengambil ilmu dari para ulama di berbagai tempat misalnya di Makkah, Madinah, Kufah,Bashrah, Yaman, Syam dan Mesir. Imam AL-Baihaqi menyebutkan beberapa orang guru Imam Asy-Syafi’i di antaranya sebagai berikut:</span></p>
<p>Di Makkkah</p>
<p>1. Imam Sufyan bi Uyainah.</p>
<p>2. Abdurrahman bin Abu Bakar bin Abdullah bin Abu Mulaikah.</p>
<p>3. Ismail bin Abdullah Al-Muqri.</p>
<p>4. Muslim bin Khalid Az-Zanji.</p>
<p>Di Madinah</p>
<p>1. Imam Malik bin Anas.</p>
<p>2. Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Darawirdi.</p>
<p>3. Ibrahim bin Sa’ad bin Abdurrahman.</p>
<p>4. Muhammad bin Ismail Abu Fudaik.</p>
<p>Di tempat-tempat yang lain</p>
<p>1. Hisyam bin Yusuf Al-Shan’ani.</p>
<p>2. Mutharrif bin Mazin Al-Shan’ani.</p>
<p>3. Waki’ bin Jarrah</p>
<p>4. Muhammad bin Hasan Al-Syaibani.</p>
<p>Adapun murid-murid beliau yang terkenal adalah:</p>
<p>1. Rabi’ bin Sulaiman bin Abdul Jabbar tokoh hadits dan fiqih, menjadi syaikh muazzin di masjid Fusthath.</p>
<p>2. Abu Ibrahim Ismail bin Yahya bin Ismail bin Amr bin Muslim Al-Muzani Al-Mishri</p>
<p>3. Abu Yaqub Yusuf bin Yahya Al-Mishri Al-Buwaithi.</p>
<p>Beliau juga bertemu dengan Imam Ahmad bin Hambal dan saling mengambil ilmu antara keduanya.</p>
<p><span style="background-color:#ffffff;"><strong>Karya-karyanya</strong></span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;">Imam Syafi’i memiliki karya tulis yang banyak sekali, di antaranya yang paling terkenal adalah:</span></p>
<p>1. Kitab Al-Umm, Kitab fiqih yang terdiri dari empat jilid berisi 128 masalah dan terbagi ke dalam 40 bab lebih.</p>
<p>2. Kitab Al-Risalah Al-Jadidah, Kitab ini dianggap sebagai induk kitab ushul fiqh yang terdiri dari satu jilid besar yang sudah di-tahqiq oleh Ahmad Syakir.</p>
<p>3. Selain yang dua ini ada beberapa kitab yang dinisbahkan kepada beliau di antaranya kitab Al Musnad, As-Sunan, Ar-Rad ‘ala Al-Barahimiyah dan  Mihnatu Imam A sy-Syafi’i.</p>
<p><span style="background-color:#ffffff;"><strong>Wafatnya</strong></span></p>
<p>Setelah mengalami penyakit wasir yang menyebabkan keluar darah terus menerus, Imam Asy-Syafi’i wafat pada akhir bulan Rajab tahun 204H dan dimakamkan di Mesir. Wallahu ‘A ’lam.</p>
<p>[ Diambil dari Buku: Mukhtasar Aqidah wa Manhaj Al Imam Asy Syafi'ie edisi Indonesia Ringkasan Aqidah dan Manhaj Al Imam Asy Syafi'ie rahimahulloh oleh Ustadz Nurul Mukhlisin Asyrafuddin, Lc. , M.Ag. Semoga Allah menjaga beliau, mengampuni beliau, keluarganya, shahabatnya dan para murid serta orang-orang yang telah diajarkan ilmu oleh beliau. Sungguh saya mencintai beliau karena Allah dan rindu untuk bertemu dengannya lagi untuk menimba ilmu]</p>
Posted in Shiroh Tagged: Imam Asy Syafi'ie <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alatsari.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alatsari.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alatsari.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alatsari.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alatsari.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alatsari.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alatsari.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alatsari.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alatsari.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alatsari.wordpress.com/256/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=256&subd=alatsari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alatsari.wordpress.com/2009/10/09/shiroh-ulama-al-imam-asy-syafii-rahimahulloh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/233a5e176ad72c2325e0e4bdbee3d2c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Aisyah Al Kediri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bagaimanakah Sikap Kita Terhadap Pajak?</title>
		<link>http://alatsari.wordpress.com/2009/10/02/bagaimanakah-sikap-kita-terhadap-pajak/</link>
		<comments>http://alatsari.wordpress.com/2009/10/02/bagaimanakah-sikap-kita-terhadap-pajak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 14:30:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Aisyah Al Kediri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[pajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alatsari.wordpress.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirahmaanirrahiim,
Alhamdulillah. Washalatu wa&#8217;alaa rasulillahi wa &#8216;alaa &#8216;aliihi wa ash habihi ajma&#8217;in waman tabi&#8217;ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma ba&#8217;du.
Pengertian Pajak
Pajak menurut kamus bahasa indonesia adalah pungutan wajib, biasanya berupa uang yg harus dibayar oleh penduduk sbg sumbangan wajib kpd negara atau pemerintah sehubungan dng pendapatan, pemilikan, harga beli barang, dan sebagainya.
Dalam istilah bahasa Arab, pajak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=253&subd=alatsari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bismillahirahmaanirrahiim,</p>
<p>Alhamdulillah. Washalatu wa&#8217;alaa rasulillahi wa &#8216;alaa &#8216;aliihi wa ash habihi ajma&#8217;in waman tabi&#8217;ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma ba&#8217;du.</p>
<p><strong>Pengertian Pajak</strong></p>
<p>Pajak menurut kamus bahasa indonesia adalah pungutan wajib, biasanya berupa uang yg harus dibayar oleh penduduk sbg sumbangan wajib kpd negara atau pemerintah sehubungan dng pendapatan, pemilikan, harga beli barang, dan sebagainya.</p>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:101px;width:1px;height:1px;">Dalam istilah bahasa Arab, pajak dikenal dengan nama Al-Usyr [2] atau Al-Maks, atau bisa juga disebut Adh-Dharibah, yang artinya adalah ; “Pungutan yang ditarik dari rakyat oleh para penarik pajak” [3]. Atau suatu ketika bisa disebut Al-Kharaj, akan tetapi Al-Kharaj biasa digunakan untuk pungutan-pungutan yang berkaitan dengan tanah secara khusus.[4]</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:101px;width:1px;height:1px;">Sedangkan para pemungutnya disebut Shahibul Maks atau Al-Asysyar.</div>
<p>Dalam istilah bahasa Arab, pajak dikenal dengan nama Al-Usyr [<span style="font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Lihat Lisanul Arab 9/217-218, Al-Mu’jam Al-Wasith hal. 602, Cet. Al-Maktabah Al-Islamiyyah dan Mukhtar Ash-Shihah hal. 182</span>] atau Al-Maks, atau bisa juga disebut Adh-Dharibah, yang artinya adalah ; “Pungutan yang ditarik dari rakyat oleh para penarik pajak” [<span style="font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Lihat Lisanul Arab 9/217-218 dan 13/160 Cet Dar Ihya At-Turats Al-Arabi, Shahih Muslim dengan syarahnya oleh Imam Nawawi 11/202, dan Nailul Authar 4/559 Cet Darul Kitab Al-Arabi</span>]. Atau suatu ketika bisa disebut Al-Kharaj, akan tetapi Al-Kharaj biasa digunakan untuk pungutan-pungutan yang berkaitan dengan tanah secara khusus.[<span style="font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Lihat Al-Mughni 4/186-203</span>]</p>
<p>Sedangkan para pemungutnya disebut Shahibul Maks atau Al-Asysyar.</p>
<p><strong>Pajak Berbeda Dengan Zakat</strong></p>
<p>Dari pengertian di atas sudah pasti kita ketahui bahwa Pajak berbeda dengan zakat. Zakat adalah kewajiban yang harus dibayar oleh seorang muslim apabila telah memenuhi persyaratan wajib zakat. Zakat ada 2, yaitu zakat maal dan zakat Fithri. Zakat Maal adalah zakat yang dikeluarkan oleh seorang muslim apabila harta bendanya telah mencapai 1 nisab. Sedangkan zakat Fithri adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh masing-masing muslim, baik yang kecil ataupun yang balik, tua, muda, yang budak ataupun merdeka, ketika di bulan Ramaadhan, berupa makanan pokok.</p>
<p>Sedangkan pajak, adalah peraturan pemerintah yang mana mereka menarik pungutan sesuai dengan peraturan atau perundangan yang mereka buat kepada rakyatnya. Dan besarannya bermacam-macam, tidak sama di setiap negara, baik itu negara demokrasi, komunis ataupun monarki.</p>
<p><strong>Dari Manakah Uang Pajak Tersebut?</strong></p>
<p>Uang pajak di dapat dari banyak tempat. Dari masing-masing penduduk di negara tersebut, pertokoan, koperasi, pertanian, bank, pasar bahkan sampai tempat-tempat terlarang, seperti prostitusi, tempat judi, pabrik rokok, pabrik minuman keras, dan lain sebagainya.</p>
<p>Dari sini jelas kita bisa menyaksikan seandainya kita memakan uang pajak pun niscaya kita tak akan berani, mengingat dari mana uang tersebut berasal. Memang uang pajak tersebut telah membangun negara ini, seperti gedung, jembatan, imunisasi dan sebagainya. Dan pendapatan negara salah satu yang terbesar adalah dari pajak. Dan anehnya banyak sekali orang-orang yang duduk di parlemen memakan uang dari pajak ini, mereka memakan uang yang kita tahu sendiri dari mana asal uang tersebut.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا</p>
<p>Artinya: &#8220;Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka&#8221;. [Q.S. At Tahrim: 6]<span id="more-253"></span></p>
<p><strong>Hukum Memungut Pajak dan Pemungut Pajak</strong></p>
<p><span style="font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Dalam Islam telah dijelaskan keharaman pajak dengan dalil-dalil yang jelas, baik secara umum atau khusus masalah pajak itu sendiri.</p>
<p>Adapun dalil secara umum, semisal firman Allah.</span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;color:#333333;font-size:small;"><span style="line-height:normal;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِل</span></span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;"><br />
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil….”[An-NIsa : 29]</p>
<p>Dalam ayat diatas Allah melarang hamba-Nya saling memakan harta sesamanya dengan jalan yang tidak dibenarkan. Dan pajak adalah salah satu jalan yang batil untuk memakan harta sesamanya</p>
<p>Dalam sebuah hadits yang shahih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Tidak halal harta seseorang muslim kecuali dengan kerelaan dari pemiliknya” [Hadits ini shahih, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Jami’ush Shagir 7662, dan dalam Irwa’al Ghalil 1761 dan 1459.]</p>
<p>Adapun dalil secara khusus, ada beberapa hadits yang menjelaskan keharaman pajak dan ancaman bagi para penariknya, di antaranya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Sesungguhnya pelaku/pemungut pajak (diadzab) di neraka” [HR Ahmad 4/109, Abu Dawud kitab Al-Imarah : 7]</p>
<p>Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dan beliau berkata :”Sanadnya bagus, para perawinya adalah perawi (yang dipakai oleh) Bukhari-Muslim, kecuali Ibnu Lahi’ah ; kendati demikian, hadits ini shahih karena yang meriwayatkan dari Abu Lahi’ah adalah Qutaibah bin Sa’id Al-Mishri”.</p>
<p>Dan hadits tersebut dikuatkan oleh hadits lain, seperti.</p>
<p>“Dari Abu Khair Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata ; “Maslamah bin Makhlad (gubernur di negeri Mesir saat itu) menawarkankan tugas penarikan pajak kepada Ruwafi bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, maka ia berkata : ‘Sesungguhnya para penarik/pemungut pajak (diadzab) di neraka”[HR Ahmad 4/143, Abu Dawud 2930]</p>
<p>Berkata Syaikh Al-Albani rahimahullah : “(Karena telah jelas keabsahan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Lahi’ah dari Qutaibah) maka aku tetapkan untuk memindahkan hadits ini dari kitab Dha’if Al-Jami’ah Ash-Shaghir kepada kitab Shahih Al-Jami, dan dari kitab Dha’if At-Targhib kepada kitab Shahih At-Targhib” [Lihat Silsilah Ash-Shahihah jilid 7 bagian ke-2 hal. 1198-1199 oleh Al-Albani]</p>
<p>Hadits-hadits yang semakna juga dishahihkan oleh Dr Rabi Al-Madkhali hafidzahulllah dalam kitabnya, Al-Awashim wal Qawashim hal. 45</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang mengisahkan dilaksanakannya hukum rajam terhadap pelaku zina (seorang wanita dari Ghamid), setelah wanita tersebut diputuskan untuk dirajam, datanglah Khalid bin Walid Radhiyallahu ‘anhu menghampiri wanita itu dengan melemparkan batu ke arahnya, lalu darah wanita itu mengenai baju Khalid, kemudian Khalid marah sambil mencacinya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Pelan-pelan, wahai Khalid. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh dia telah bertaubat dengan taubat yang apabila penarik/pemungut pajak mau bertaubat (sepertinya) pasti diampuni. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan (untuk disiapkan jenazahnya), maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menshalatinya, lalu dikuburkan” [HR Muslim 20/5 no. 1695, Ahmad 5/348 no. 16605, Abu Dawud 4442, Baihaqi 4/18, 8/218, 221, Lihat Silsilah Ash-Shahihah hal. 715-716]</p>
<p>Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat beberapa ibrah/hikmah yang agung diantaranya ialah : “Bahwasanya pajak termasuk sejahat-jahat kemaksiatan dan termasuk dosa yang membinasakan (pelakunya), hal ini lantaran dia akan dituntut oleh manusia dengan tuntutan yang banyak sekali di akhirat nanti” [Lihat : Syarah Shahih Muslim 11/202 oleh Imam Nawawi]</span></p>
<p>[<span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Majalah Al-Furqon, Edisi I, Tahun VI/Sya'ban 1427/2006.]</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Kesimpulan singkat:</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Setelah mengetahui bagaimana hukum pajak dan hukum pemungutnya, maka sudah sepantasnya hal tersebut menjadikan pertimbangan bagi pemerintah Indonesia  saat ini. Seandainya pemerintah sudi mengganti pajak dengan zakat, maka negara ini akan makmur, sebab seorang muslim itu tidak boleh diambil hartanya dengan cara yang bathil. Tidak ada jizyah bagi orang muslim. Dan dari sini saya menasehati para penguasa untuk menghapus perpajakan dari bumi Indonesia dan menggantinya dengan zakat.</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Pertanyaan-pertanyaan Seputar Zakat</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">1. Apakah kita tidak membayar pajak saja, karena kita sudah tahu hukum pajak?</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">jawab: </span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Sebagai seorang muslim, kita harus patuh kepada pemimpin walaupun pemimpin tersebut zhalim terhadap kita. Pemerintah mewajibkan zakat, maka kita tetap harus menurutinya, selama pemimpin tersebut adalah seorang muslim. Sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kepada para sahabatnya Radhiyallahu ‘anhum bahwa akan datang di akhir zaman para pemimpin yang zhalim. Kemudian beliau ditanya tentang sikap kaum muslimin : “Bolehkah melawan/memberontak?”. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab ; “Tidak boleh! Selagi mereka masih menjalankan shalat” [HR Muslim : 1855 dari jalan Auf bin Malik Al-Asyja’i Radhiyallahu ‘anhu]</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Dijelaskan lagi dalam satu hadits yang panjang, setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan akan datangnya pemimin yang zahlim yang berhati setan dan berbadan manusia, Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu bertanya tentang sikap manusia ketika menjumpai pemimpin seperti ini. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab.</p>
<p>“Dengarlah dan patuhlah (pemimpinmu)! Walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil (paksa) hartamu” [HR Muslim kitab Al-Imarah : 1847]</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">2. Bagaimanakah seseorang yang bekerja di dinas perpajakan?</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">jawab:</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Saya menasehati mereka (yang bekerja di dinas perpajakan) karena tahu hukum-hukum pajak, hendaknya mereka mencari pekerjaan yang tidak berhubungan dengan pajak, sebab hukum-hukum di atas telah jelas. Namun apabila ia pindah pekerjaan malah membuat madharat, mungkin karena ia hanya dapat penghasilan dari situ, maka nasehat saya ia harus berhati-hati terhadap harta yang ia dapatkan dari pekerjaannya tersebut. Namun tetap ia harus mengingkari tentang pekerjaannya yang berada di dinas perpajakan, karena mengetahui hukum-hukum tentang pajak.</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">3. Lalu dari mana negara bisa mendapatkan pemasukan kalau tidak dari pajak? Bagaimana juga membayar para pegawai mereka?</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">jawab:</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Secara umum, negara itu mendapatkan pemasukan melalui:</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">1. Zakat</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">2. Sisa pembagian harta waris</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">3. Ghanimah (rampasan perang) dan fa&#8217;i (harta rampasan tanpa perang karena ditinggalkan pemiliknya)</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">4. Jizyah (upeti yang diambil oleh negara kepada orang-orang kafir yang tinggal di negara tersebut).</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">5. Kharaj / pajak bumi, yaitu pajak bumi yang harus dibayar oleh orang kafir apabila ia menggarap tanah di tanah kekuasaan kaum muslimin.</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">6. Shodaqoh sukarela dari rakyat.</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">7. Hasil tambang dan semisalnya.</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Catatan kecil:</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Ada salah seorang saudara kita yang kemungkinan pasti sudah tahu hukum pajak. Beliau adalah salah satu pembesar di salah satu partai besar di Indonesia. Namun perkataannya sangaat tidak diterima, yaitu ia berkata, &#8220;Zakat, bisa diambilkan dari para wajib pajak&#8221;. Dan ini saya dengar beberapa waktu lalu.</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Dari perkataan beliau ini, ada 3 kesimpulan, pertama ia mendukung tentang pajak, kedua ia ingin mencari simpatisan, yang ketiga, ia tidak tahu hukum tentang pajak.</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Kalau kesimpulan ketiga rassanya tidak mungkin sebab beliau ilmu agamanya diakui oleh para simpatisannya dan juga saya sendiri, atau mungkin memang beliau lupa. Namun kalau alasan beliau adalah pertama dan kedua, maka ini adalah sebuah peringatan. Karena hukum dari pajak sudah jelas, dan tidak dibenarkan mereka yang sudah punya kekuatan yang duduk di pemerintahan tidak merubah apa yang salah dengan tangan mereka, ataupun dengan lisan. Kalau mereka sudah punya kekuatan tapi tidak berdakwah dengan tangan dan lisannya, maka dakwah yang mereka lakukan di parlemen sudah jelas-jelas salah, sebab tidak sesuai dengan tuntunan rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam.</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Kalau ia ingin mencari simpatisan, maka ini juga tidak dibenarkan. Mencari simpatisan dengan cara mengeluarkan pendapat tanpa di dasari ilmu dan termasuk salah ini sudah pasti akan mengakibatkan banyak orang yang tersesat. Seandainya hal tersebut jadi dilaksanakan, maka saudara kita ini mendukung pemerintah untuk menzhalimi orang muslim. Dan sudah pasti dosanya sangat besar. </span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Kalau saudara kita ini membaca tulisan ini, saya berharap beliau bisa memperbaiki pendapatnya tersebut, sebab sangat berbahaya kalau sampai benar-benar terjadi.</span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;font-family:Tahoma, Arial, helvetica, sans-serif;line-height:normal;font-size:12px;color:#333333;">Wallahu&#8217;alam bishawab.</span></p>
Posted in Fiqih muamalah Tagged: pajak <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alatsari.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alatsari.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alatsari.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alatsari.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alatsari.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alatsari.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alatsari.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alatsari.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alatsari.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alatsari.wordpress.com/253/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=253&subd=alatsari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alatsari.wordpress.com/2009/10/02/bagaimanakah-sikap-kita-terhadap-pajak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/233a5e176ad72c2325e0e4bdbee3d2c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Aisyah Al Kediri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Partai dan Masuk Parlemen itu Hanyalah sebagai Sarana Dakwah?</title>
		<link>http://alatsari.wordpress.com/2009/09/16/partai-dan-masuk-parlemen-itu-hanyalah-sebagai-sarana-dakwah/</link>
		<comments>http://alatsari.wordpress.com/2009/09/16/partai-dan-masuk-parlemen-itu-hanyalah-sebagai-sarana-dakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 02:52:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Aisyah Al Kediri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Hudud]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[siyasah]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[partai]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alatsari.wordpress.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah. Washolatu wa &#8216;alaa rasulillahi wa &#8216;alaa &#8216;alihii wa ash habihi waman tabi&#8217;ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma Ba&#8217;du.
Dalam syari&#8217;at Islam, Allah dan Rasul-Nya mengajarkan Al Wara&#8217; wal Bara&#8217;. Yaitu loyalitas terhadap kaum muslimin dan berlepas dirinya kaum muslimin kepada orang kafir. Allah mengajarkan bahwa kita sebagai umat muslimin, harus secara kaffah menjadi muslim. Menjauhi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=249&subd=alatsari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-bottom:0;font-weight:normal;"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;">Alhamdulillah. Washolatu wa &#8216;alaa rasulillahi wa &#8216;alaa &#8216;alihii wa ash habihi waman tabi&#8217;ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma Ba&#8217;du.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-weight:normal;"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;">Dalam syari&#8217;at Islam, Allah dan Rasul-Nya mengajarkan Al Wara&#8217; wal Bara&#8217;. Yaitu loyalitas terhadap kaum muslimin dan berlepas dirinya kaum muslimin kepada orang kafir. Allah mengajarkan bahwa kita sebagai umat muslimin, harus secara kaffah menjadi muslim. Menjauhi sifat-sifat orang kafir, orang musyrik, baik dalam hal iman, aqidah, perbuatan, pakaian dan sifat-sifat yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang kafir. Alasannya sangat sederhana, karena mereka tidak menegakkan kalimatullah, justru apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik adalah menjatuhkan kalimatullah. Inilah yang menjadi dasar kita tidak boleh tasyabuh kepada orang kafir. Demikian juga kita tidak boleh mengikuti ideologi atau cara berfikir mereka dalam masalah yang besar, seperti masalah negara, masalah umat, sebab masalah negara dan masalah umat adalah masalah besar yang menyangkut jiwa kaum muslimin, hak-hak kaum muslimin, dan juga harta-harta kaum muslimin, yang mana darah dan harta mereka haram. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-weight:normal;">Ibnu Umar radhiyallahu &#8216;anhuma berkata: </span><strong>&#8216;Rasululloh Shalalllahu&#8217;alaihi wa salam bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari golongannya”&#8217;</strong><span style="font-weight:normal;"> [HR. Abu Dawud dengan sanad </span><em><span style="font-weight:normal;">jayyid . </span></em><span style="font-style:normal;"><span style="font-weight:normal;">Lihat juga Jami'ush Shahih Syaikh Al Albani 2831 dan 6149</span></span><span style="font-weight:normal;">]</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-weight:normal;text-align:right;"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِين</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-weight:normal;"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;">artinya:”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” [Q.S. Al Maidah: 51]</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-weight:normal;"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;">Abdullah bin &#8216;Amr berkata: “Barangsiapa membangun rumah di negeri kafir, membuat tempat ibadah mereka serta menyerupai mereka, sampai mati maka dibangkitkan bersama mereka pada hari kiamat” [telah dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Sunanul Kubra (9/2334)]</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-weight:normal;"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;">Kita semua tahu, setiap orang juga tahu bahwa Demokrasi bukanlah berasal dari Islam, demokrasi adalah alat orang kafir untuk memimpin diri mereka. Demokrasi Islam apalagi, ini hanyalah buatan orang-orang muta&#8217;akhirin yang mana mereka jauh dari As Sunnah, dan istilah demikian tidak pernah disebut-sebut sebelumnya, baik ketika zaman generasi-generasi awal ataupun jauh setelah itu. Padahal para ulama juga sudah mengetahui tentang filsafat-filsafat yang menyebar dari Yunani. Dan memang asal dari Demokrasi ini adalah dari Yunani, di mana saat itu negeri ini dipenuhi animisme dan dinamisme, kemusyrikan adalah pondasi negeri ini. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-weight:normal;"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;">Kita sering mendengar saudara-saudara kita di PKS berkata, “Kami mendirikan partai, mengikuti parlemen hanyalah sebagai sarana. Bukan tujuan utama. Kami melakukan ini untuk menolong umat, sebab banyak permasalahan-permasalahan umat yang sangat urgent. Kalau tidak ada orang muslim yang ada di parlemen, lalu bagaimana agama Islam bisa ditolong, bagaimana juga umat bisa ditolong?”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-weight:normal;"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;">Demokrasi sekarang ini disanjung dan dijunjung seperti sebuah cara untuk menyelamatkan sebuah negara. Dulu pada awal-awalnya berdakwah, PKS tidaklah menyebutkan bahwa Demokrasi bagian dari mereka. Dan benar, dulu mereka benar-benar tegas dalam berdakwah memerangi bid&#8217;ah, kekufuran dan kemusyrikan. Mereka sangat tegas, bahwasannya tidak ada Demokrasi dalam Islam, mereka mendirikan partai Islam hanyalah sebagai sarana untuk mendirikan khilafah Islamiyah. PKS yang sekarang?</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-weight:normal;"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;">Sebenarnya PKS dari dulu sampai sekarang tidak ada perubahan, namun yang sekarang mereka ingin lebih moderat daripada sebelumnya. Kalau dulu mereka tidak merangkul orang-orang liberal, orang-orang kafir, orang-orang nasionalis ataupun ahli bid&#8217;ah pembenci wahabi, tapi sekarang mereka ingin merangkul seluruh golongan. Akibatnya ada statemen yang sangat aneh dari PKS, bahwa mereka bukan wahabi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-weight:normal;"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;">Jadi dari sini ada 2 poin yang akan kita bahas. Yaitu: 1. Partai hanyalah sebagai sarana untuk berdakwah, ikut berpolitik di dalamnya dan takluk terhadap hukum-hukum di dalamnya. 2. Merangkul seluruh golongan baik dari kaum muslimin maupun yang selainnya, dan tidak menisbatkan diri pada jalan yang benar.<span id="more-249"></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><strong>Jawaban dari Syubhat PKS</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-weight:normal;"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;">Syaikh Muhammad Nasiruddin Al Albani rahimahulloh dalam Madharikun Nadhar memberikan jawaban seperti berikut dalam masalah mengikuti pemilu (parlemen)</span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;"><strong>Pertanyaan pertama: </strong></span><span style="font-size:normal;">Bagaimana hukum syar&#8217;i mengenai pemilu (parlemen) yang akan kami ikuti dalam rangka usaha mendirikan negara Islam atau </span><span style="font-size:normal;"><em>khilafah Islam?</em></span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;"><strong>Jawab: </strong></span><span style="font-size:normal;">Suasana paling membahagiakan kaum muslimin di negeri mereka ialah ketika bendera Laa </span><span style="font-size:normal;"><em>Ilaaha Illallah </em></span><span style="font-size:normal;">dikibarkan dan hukum Allah dijalankan. Sudah barang tentu setiap muslim menurut kemampuan masing-masing harus berjuang menegakkan negara Islam yang berdasarkan hukum Allah dan sunnah Rasul-Nya menurut </span><span style="font-size:normal;"><em>manhaj </em></span><span style="font-size:normal;">Salafus Shalih. Sudah diyakini oleh setiap cendekiawan muslim bahwa hal itu hanya bisa diwujudkan dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.</span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Sebagai langkah pertama, para ulama hendaklah melaksanakan dua perkara penting berikut ini:</span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;"><strong>Pertama, </strong></span><span style="font-size:normal;">Mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada kaum muslimin di lingkungannya. Alternatif satu-satunya adalah membersihkan ilmu yang mereka warisi dari para pendahulu dari segala bentuk syirik dan ajaran </span><span style="font-size:normal;"><em>paganisme </em></span><span style="font-size:normal;">yang telah membuat mayoritas umat Islam sekarang tidak lagi memahami makna kalimat </span><span style="font-size:normal;"><em>Laa ilaaha illallah. Kalimat thayyibah </em></span><span style="font-size:normal;">ini memberi konseksuensi wajibnya mengesakan Allah dalam beribadah hanya kepada-Nya semata tiada sekutu bagi-Nya. Tidak meminta bantuan kecuali kepada-Nya, tidak menyembelih kecuali untuk-Nya dan tidak bernadzar kecuali karena- Nya. Dan menyembah-Nya hanya dengan tata-cara yang telah disyariatkan oleh Allah melalui lisan Rasul-Nya, itulah konsekuensi kalimat syahadat Muhammadur Rasulullah.</span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Sebagai konsekuensinya, para ulama harus membersihkan kitab-kitab fiqih dari pendapat-pendapat dan ijtihad-ijtihad yang bertentangan dengan sunnah Nabi, agar ibadah mereka diterima oleh Allah. Mereka juga harus membersihkan sunnah Nabi dari hadits-hadits </span><span style="font-size:normal;"><em>dhaif </em></span><span style="font-size:normal;">dan </span><span style="font-size:normal;"><em>maudlu&#8217; </em></span><span style="font-size:normal;">yang sejak dahulu telah disusupkan ke dalamnya. Mereka juga harus membersihkan tingkah laku dan etika menyimpang yang terdapat dalam ajaran tarikat-tarikat sufi, misalnya berlebih-lebihan dalam ibadah dan kezuhudan dan masalah-masalah lain yang bertentangan dengan ilmu yang benar.</span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;"><strong>Kedua</strong></span><span style="font-size:normal;">, hendaklah mereka mendidik diri sendiri, keluarga dan kaum muslimin di lingkungan mereka dengan ilmu yang benar. Dengan demikian, ilmu mereka akan berguna dan amal mereka akan menjadi amal yang shalih, seperti yang difirmankan Allah:</span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا</span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;"><em>Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: &#8220;Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa&#8221;. Barangsiapa rnengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang salih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-rr.ya &#8220;. (QS. </em></span><span style="font-size:normal;">Al-Kahfi : 110)</span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:normal;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Bila terdapat segolongan kaum muslimin yang melaksanakan gerakan </strong></span></span></span><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:normal;"><em><span style="text-decoration:underline;"><strong>tashfiyah </strong></span></em></span></span><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:normal;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>dan </strong></span></span></span><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:normal;"><em><span style="text-decoration:underline;"><strong>tarbiyah </strong></span></em></span></span><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:normal;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>yang disyariatkan ini, niscaya tidak akan ada lagi di tengah mereka orang-orang yang mencampuradukkan cara-cara syirik dengan cara-cara syar&#8217;i. Karena mereka memahami hahwa Rasulullah telah membawa syariat yang paripurna, lengkap dengan pedoman dan wasilahnya.</strong></span></span></span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:normal;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Salah satu pedoman tersebut adalah larangan menyerupai orang- orang kafir, misalnya mengambil metode dan sistem mereka yang sejalan dengan tradisi dan adat mereka. Sebagai contoh, memilih pemimpin dan para anggota parlemen melalui pemungutan suara.</strong></span></span></span><span style="font-size:normal;"> Cara-cara seperti ini sejalan dengan kekufuran dan kejahilan mereka yang tidak lagi membedakan antara keimanan dan kekufuran, antara yang baik dan yang buruk, antara laki-laki dan perempuan, padahal Allah telah berfirman:</span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينمَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُون</span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;"><em>Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir) ? Mengapa kamu (berbuat demi­kian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan? </em></span><span style="font-size:normal;">(QS. Al-Qalam </span><span style="font-size:normal;"><em>35-36)</em></span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Dan Allah berfirman:</span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى</span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;"><em>&#8220;Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. &#8221; </em></span><span style="font-size:normal;">(QS. Ali Imran 36)</span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Demikian pula, mereka mengetahui bahwa dalam usaha menegakkan negara Islam, Rasulullah </span><span style="font-size:normal;"><em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam </em></span><span style="font-size:normal;">mengawalinya dengan dakwah tauhid dan memperingatkan mereka dari penyembahan­-penyembahan </span><span style="font-size:normal;"><em>thaghut. </em></span><span style="font-size:normal;">Lalu membimbing orang-orang yang menyambut dakwah beliau di atas hukum-hukum syar&#8217;i, sehingga kaum muslimin merasa bagaikan tubuh yang satu. Bila salah satu anggota tubuh merasa sakit maka seluruh tubuh turut merasakan demam dan tidak dapat tidur. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih. Tidak ada lagi di tengah mereka orang-orang yang terus-menerus melakukan dosa besar; riba, zina dan mencuri kecuali segelintir orang saja.</span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Barangsiapa benar-benar ingin mendirikan negara Islam, jangan-lah ia mengumpulkan massa yang pemikiran dan perilakunya saling bertentangan satu sama lain, seperti yang dilakukan oleh partai-partai Islam dewasa ini. Namun terlebih dahulu harus menyatukan pemikiran dan paham mereka di atas prinsip Islam yang benar, yakni berdasarkan Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah di atas pemahaman </span><span style="font-size:normal;"><em>Salafus Shalih </em></span><span style="font-size:normal;">seperti yang telah diuraikan di atas, saat itulah berlaku firman Allah:</span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُون بِنَصْرِ اللَّه </span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;"><em>Dan di hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman, dengan pertolongan Allah (QS. </em></span><span style="font-size:normal;">Ar- Ruum : 4-5)</span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Siapa saja yang menyimpang dari metode tersebut dalam mendirikan negara Islam dan mengikuti metode orang kafir dalam mendirikan negara mereka, maka perumpamaannya seperti orang yang berlindung dengan pasir yang mendidih dari panasnya api! Cara semacam itu jelas salah -jika tidak boleh disebut dosa- karena menyalahi petunjuk Rasulullah </span><span style="font-size:normal;"><em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam</em></span><span style="font-size:normal;"> dan tidak menjadikan beliau sebagai contoh teladan. Sedang Allah berfirman:</span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;"><em><span style="font-weight:normal;">Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahrnat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. </span></em></span><span style="font-size:normal;"><span style="font-weight:normal;">Al-Ahzab: </span></span><span style="font-size:normal;"><em><span style="font-weight:normal;">21)</span></em></span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Selesai kata Syaikh.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Dari apa yang dijelaskan beliau dapat kita ambil banyak catatan. Antara lain setiap firqoh menginginkan berdirinya negara Islam, berdirinya khalifah Islamiyah. Inilah yang diperjuangkan oleh Hizibiyin. Mereka berusaha mendirikan khilafah Islamiyah, namun cara yang mereka tempuh bermacam-macam. Walaupun bermacam-macam, namun dari tindakan mereka ada 3 golongan, yaitu:</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">1. G olongan yang bergerak aktif, yaitu mereka memakai banyak cara untuk menegakkan khilafah, antara lain mengikuti parlemen, berdemo dan sebagainya.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">2. Golongan yang berikutnya adalah mereka menuntut ilmu, beramal dan berdakwah, baik kepada umat muslim, orang kafir maupun penguasa.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">3. Golongan yang berikutnya mereka pasrah terhadap apa yang terjadi. Mereka tidak mengikuti jalan golongan pertama dan kedua. Mereka berpendapat dengan memperbanyak ibadah Allah akan meridhoi mereka, sebab yang mereka cari adalah ridho Allah. Kalau Allah telah meridhoi mereka, maka Allah akan berikan apapun yang mereka mau.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Golongan Ikhwanul Muslimin ini ada di golongan yang pertama. Sebab mereka menggunakan cara-cara yang tidak syar&#8217;i, dan menurut ijtihad mereka dengan mengikuti parlemen adalah salah satu cara untuk segera   mendirikan khilafah dan juga untuk menolong umat, serta jihad di jalan Allah. Sedangkan mereka mencela jalan yang dijalankan oleh golongan kedua dan ketiga.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Golongan ketiga kebanyakan dihuni oleh thoriqat-thoriqat shufiyyah, ataupun golongan mu&#8217;tazilah, yang mana mereka benar-benar tidak ada andil dan upaya untuk memperjuangkan Islam selain beribadah dan mempelajari filsafat dan tasawuf-tasawuf. Mereka lebih menggunakan akal, dan lebih menggunakan kata hati mereka dalam beribadah. Apabila menurut akal pas dan apabila mereka merasakan hati mereka pas, mereka akan mengambilnya.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Makanya itu kajian-kajian shufi lebih banyak tentang manajemen qolbu, ataupun tentang masalah-masalah amalan berpahala, berdzikir dengan jumlah tertentu, hari-hari tertentu, shalawat-shalawat tertentu yang semuanya adalah bid&#8217;ah. Adapun mu&#8217;tazilah, lebih mengkaji ayat-ayat sesuai dengan akal mereka, sebenarnya hampir ada kesamaan, bedanya adalah kaum mu&#8217;tazilah lebih berpikir secara logis, namun kaum shufi lebih ke arah hati.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Sedangkan golongan kedua adalah golongan moderat. Golongan ini tidaklah beramal tanpa ilmu, tidaklah berdakwah melainkan dakwah yang benar, dan berusaha di atas sunnah. Makanya itu sungguh berbeda dengan golongan pertama dan golongan ketiga. </span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Asy Syaikh menjelaskan apabila ingin menegakkan kalimat laailaahaillallah maka seseorang harus benar-benar menegakkan kalimat itu di dalam hati mereka. Dan cara ini mustahil ditempuh tanpa di dasari dengan ilmu. Menegakkan sunnah, meninggalkan khurafat, bid&#8217;ah dan takhayul, berlepas diri dari faham-faham filsafat, liberal, dan orientalis. Artinya berlepas diri dari orang-orang kafir, sifat-sifat mereka, pemikiran-pemikiran mereka yang mana semuanya tidak sesuai dengan syari&#8217;at Allah dan Rasul-Nya.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Maka dari itu kita timbang sekarang apa yang telah dilakukan saudara-saudara kita dengan apa yang dikatakan oleh Syaikh.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Tujuan dari didirikannya partai itu sendiri adalah untuk mengumpulkan masa, yang tentu saja masa disini bisa siapapun, orang yang aqidahnya bagus, orang ahli maksiat, orang ahli bid&#8217;ah, orang kafir dan seterusnya. Bisa jadi juga para ulama, orang alim, orang jumud, orang jahil dan lainnya. Mereka semua dalam satu wadah demi satu tujuan partainya. Kalau memang ini yang diinginkan maka sudah jelas hal ini akan mengakibatkan perpecahan di dalam tubuh partai tersebut. Walaupun mereka mengatakan bahwa perbedaan adalah rahmat, justru kalau perbedaan aqidah disatukan di dalam satu ruang lingkup maka akan terbentur antara satu kepentingan dengan kepentingan yang lain.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Tujuan mereka benar-benar mulia, namun cara yang mereka lakukan sungguh jauh dari apa yang disunnahkan, dari apa yang diajarkan oleh rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa salam. Mereka meniru cara-cara yang dilakukan oleh orang-orang kafir, mereka meniru adat istiadat mereka dengan memungut suara, yang mana Islam tidak mengajarkan hal ini dan bahwasannya hal ini kerusakannya lebih besar daripada manfaatnya. Namun sampai sekarang banyak orang yang tidak sadar terhadap ini semua. Sebagian orang-orang dari kalangan yang awam terhadap masalah dien, tentu mereka akan menganggap bahwasannya demokrasi adalah sebuah cara yang paling baik. Demokrasi mendengarkan seluruh aspirasi rakyat, mengajak seluruh rakyat ikut serta dalam pemilihan pemimpin. Orang-orang yang awam seperti ini tentu saja pendapat mereka bisa diterima dengan akal, sebab mereka belum faham terhadap masalah dien. Kita akan bahas.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Mereka berpendapat bahwasannya rakyat punya andil dalam menentukan nasib negara. Dengan memilih pemimpin ataupun calon legislatif yang mewakili mereka di parlemen, sehingga aspirasi mereka bisa tersampaikan. Dan juga dengan memilih pemimpin dengan pemungutan suara bisa menyalurkan aspirasi mereka dalam berpendapat dan juga hak-hak mereka dalam bersuara. </span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Sungguh Islam telah mengajarkan bagaimana caranya menyampaikan pendapat dengan benar, Islam juga telah mengatur segala hal. Hanya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan orang-orang jahil saja yang mengatakan Islam tidak mengatur dalam masalah mengeluarkan pendapat. Banyak contoh dari jaman shahabat, tabi&#8217;in, ataupun tabi&#8217;ut tabi&#8217;in dan generasi salaf sesudahnya, bahwasannya orang-orang yang tidak punya pengetahuan terhadap suatu masalah, mereka sama sekali tidak bersuara, sebab Allah telah berfirman:</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُون</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">artinya: “Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu apabila kamu tidak mengetahui” [Q.S. An Nahl: 43]</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Dengan landasan ayat ini, maka setiap insan yang tidak mempunyai pengetahuan terhadap sesuatu dilarang berfatwa ataupun berkata terhadap hal-hal yang mereka tidak mengetahuinya. Inilah jalan yang lurus. Dan orang-orang yang duduk di pemerintahan, yang duduk di legislatif, haruslah orang-orang yang berilmu, yang faham terhadap masalah dien, masalah pemerintahan, hudud dan berbagai hukum untuk menjelaskan segala sesuatu. Dan apabila rakyat ingin mengeluarkan pendapat mereka, maka mereka harus mengeluarkan pendapat mereka dengan cara yang paling baik, yaitu bertanya kepada orang yang lebih tahu dan faham terhadap masalahnya. </span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Sedangkan cara pemilihan yang sekarang ini dilakukan oleh manusia, bukanlah cara memilih pemimpin yang diajarkan oleh syari&#8217;at. Syari&#8217;at tidak pernah mengajarkan untuk menunjuk pemimpin. Berkali-kali di Al Qur&#8217;an diceritakan yang memilih pemimpin adalah ahlu &#8216;ad wal &#8216;aql dan juga para ulama. Merekalah yang mempunyai kredibilitas untuk memberitahu pemimpin-pemimpin yang paling baik untuk dijadikan pemimpin, bukan dengan cara memilih, bukan dengan cara memungut suara. Adapun pemungutan suara yang dilakukan oleh orang-orang sekarang ini mereka mencampur adukkan seluruh pendapat dari orang-orang yang diperbolehkan kesaksiannya, tidak diperbolehkan bersaksi bahkan yang tidak boleh diajukan pendapatnya. Mereka mengambil pendapat dari orang-orang fasik, orang-orang jahil, orang-orang munafiq, kafir, muslim, dan setiap pendapat orang-orang seperti ini dihargai sama dengan pendapat para ulama. Hingga akhirnya para ulama yang dikatakan oleh rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa salam sebagai pewaris para nabi, sebagai orang yang selalu dimintai pertanyaan terhadap suatu masalah tiada artinya.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Coba anda nilai sendiri, nilai pendapat seorang pemabuk disamakan dengan nilai pendapat seorang Syaikh seperti Syaikh bin Baaz, Syaikh Al Albani, ataupun yang kalau sekarang ini masih ada disamakan dengan pendapat Imam Bukhari. Padahal nilai seorang Imam Bukhari itu lebih daripada satu juta manusia yang ada sekarang ini. Dan sejak dulu para ulama pun sudah mengetahui tentang demokrasi ini, terbukti dulu filsafat-filsafat Yunani sudah masuk ke jazirah arab ketika masa tabi&#8217;in. Dan tentu saja hal mengenai demokrasi ini pun sudah mereka ketahui. Tapi mereka tidak memakainya dikarenakan sistem demokrasi ini lebih banyak pintu-pintu kerusakannya daripada pintu-pintu manfaatnya. </span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Garis besarnya adalah, demokrasi terdapat banyak kerusakan. Diantara kerusakannya sangat banyak, yaitu:</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">1. Kedustaan atau ingkar janji. Banyak orang-orang yang berkampanye akan melakukan ini dan itu tapi ternyata setelah jabatan itu diraihnya ia tidak amanah.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">2. Korupsi. Akan terjadi banyak sekali para peserta politik melakukan korupsi, sedangkan korupsi adalah sebuah dosa besar.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">3. Suap. Akan banyak orang yang menyuap seseorang hanya untuk memilihnya.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">4. Kemunafikan. Bermuka dua, memang sudah menjadi ciri khas dalam berpolitik. Tidak ada di dalam demokrasi itu orang yang tidak memilih bermuka dua. Sehingga dari luar mereka sepertinya baik, tapi ternyata di dalam hati mereka busuk.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">5. Terbukanya pintu-pintu kesyirikan, kemurtadan dan zindiq. Sebab orang-orang yang mengikuti sosok figur tertentu mereka akan menyanjungnya, dan yang lebih parah partai-partai dari agama tertentu akan menyebarkan ajarannya, ataupun partai-partai dari orang-orang quburiyun akan mengajarkan kesyirikan mereka, dan orang-orang zindiq akan mengajarkan kebodohan mereka.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">6. Membuka pintu-pintu syahwat dan menghalalkan segala cara. Tidak bisa kita pungkiri bahwasannya ada isu-isu yang beredar kalau para tokoh politik ada yang membeli wanita untuk mereka tiduri. Dan juga dalam beberapa waktu lalu saja di beberapa koran beredar berita dan faktanya adalah mereka mabuk-mabukan di ruang sidang, sambil menyewa wanita untuk berdangdutan. Na&#8217;udzubillah.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">7. Akan banyak perpecahan yang terjadi di kalangan kaum muslimin sendiri. Sebab antara partai satu dengan yang lainnya tidak bersatu, mereka mempertahankan ideologi mereka, mereka mempertahankan golongan mereka, sehingga kaum muslimin berpecah belah, padahal berpecah belah itu adalah sifat kaum musyrikin. Allah berfirman:</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِين مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُم</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">artinya: “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrikin, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan” [Q.S Ar Ruum:31-32]</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Dan masih banyak yang lainnya. Syaikh &#8216;Abdul Majid bin Mahmud Ar Raimi membahas dalam bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul 50 Indikasi Desktruktif Pemilu dan Demokrasi. Dan mustahil saya tulis secara lengkap di sini. </span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Dan kemudian jawaban dari kaum pencinta demokrasi ini ada. Jawaban mereka, “Tidak seluruh partai itu dusta, korupsi, suap, dan munafik. Pilihlah partai yang tidak melakukan hal-hal tersebut”.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Kalau tujuan partai, dengan masuk ke parlemen itu adalah tujuannya untuk menegakkan kalimatulloh dengan cara yang haq, yaitu memberantas kesyirikan, memberantas khurafat, memberantas takhayul, liberalis, orientalis, sosialis, serta menjadikan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah sebagai dasar mereka, dan mereka benar-benar memperjuangkan itu maka cara yang mereka lakukan itu adalah benar. Tapi yang ada sekarang, tiada satupun partai yang memperjuangkan ini. Yang kita lihat mereka tetap berbuat bid&#8217;ah, mereka tetap membiarkan kesyirikan merajalela, mereka tidak menegakkan kalimatulloh, bahkan mereka terkesan seakan-akan membiarkan. Tidak mengajak manusia untuk memahami ilmu, tidak mengajak manusia untuk memahami Al Qur&#8217;an dan As Sunnah.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Aneh sekali memang, disaat mereka menggembar-gemborkan untuk tidak meniru dunia barat, disaat mereka memboikot Amerika, justru adat-istiadat amerika tetap mereka pakai, seperti maulid, haul, pemungutan suara dan sebagainya. Ini semua adalah adat orang-orang ahli kitab, dan mereka memakainya, mengerjakannya.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Apabila ingin tegak Islam, maka harus kembali kepada ajaran para salafush sholeh, yaitu menyatukan ideologi umat, menyatukan manhajnya, menyatukan cara berfikir mereka, menyatukan aqidah mereka, sehingga apabila dalam hal-hal ini mereka bersatu, Insya Allah akan tegak Islam itu di negeri ini. Dan hal ini mustahil dilakukan kalau manusia itu tidak menegakkan Islam di dalam dada mereka. Mustahil mereka itu berhasil melakukannya kalau manusia masih jauh dari Islam, masih bergelimang dengan kemaksiatan, dan masih diselimuti oleh kebodohan. </span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Sesungguhnya Islam ini mulia, dan hanya akan berdiri dengan cara yang mulia. Yaitu dengan cara yang telah ditempuh oleh nabi-nabi terdahulu, dan juga yang lebih utama dengan cara yang ditempuh oleh Muhammad Shallallahu&#8217;alaihi wa salam. Caranya tidak lain adalah dengan menuntu ilmu syar&#8217;i, beramal dan berdakwah serta istiqomah di atas jalan yang lurus. Inilah sebaik-baik jalan. Inilah jalan yang akan mengantarkan mereka kepada keselamatan bukan jalan yang akan mengantar mereka kepada kebinasaan.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Kita lihat sekarang ini saudara-saudara kita yang duduk di parlemen. Betapa mereka berbuat yang sia-sia. Memperjuangkan hukum yang bukan hukum Allah, tidak berusaha memperbaiki tapi tunduk terhadap hukum-hukum tersebut. Tidak berusaha untuk mendakwahi tiap manusia baik yang muslim maupun yang kafir, tapi mereka diam saja ketika duduk di kursi kebanggaan mereka. Yang menjadi pokok tujuan mereka tiada lain adalah mencari kekuasaan untuk kemudian mendirikan yang dinamakan khilafah Islamiyah. Cara ini jelas tidak sesuai dengan cara yang syar&#8217;i.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Pernah suatu ketika rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa salam diberikan tiga hal agar beliau berhenti untuk berdakwah, yaitu harta, wanita, atau kedudukan yang mulia di para pembesar Quraisy. Namun beliau menolaknya. [Diriwayatkan oleh Abu Ya'la no. 1818, Abdun bin Humaid dalam Al-Muntakhab no. 1141, Abu Nu'aim dalam Dalaailun-Nubuwwah no. 182. ]</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Dari riwayat ini kita bisa mendapatkan sebuah pelajaran yang agung, hikmah yang besar. Bahwasannya rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa salam seandainya beliau memilih harta, maka sia-sia saja dakwah beliau, namun beliau dikukuhkan dan diteguhkan di atas jalan as sunnah untuk tidak memilihnya. Sebab beliau tidak butuh harta untuk berdakwah. Kemudian juga wanita, rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa salam tidak membutuhkan wanita yang menjadi tujuannya berdakwah. Sebab justru wanita akan membuat dakwah beliau lemah. Sedangkan kedudukan, beliau tetap menolaknya. </span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Seandainya kita secara logis berpikir tentang poin yang ketiga, kenapa rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa salam menolak untuk diberikan kedudukan, padahal seandainya beliau memperoleh kedudukan tentunya beliau akan dengan mudah mendekati pembesar-pembesar Quraisy, dan juga dengan mudah juga beliau bisa mengajak orang-orang yang ada di bawah beliau, namun beliau tidak menerimanya, beliau faham, bahwa dakwah yang paling mulia adalah dakwah yang dimulai dari bawah. Dari masyarakat. </span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Itulah mengapa beliau berjuang selama lebih dari 13 tahun di Makkah berdakwah menegakkan aqidah. Beliau sampaikan tauhid, beliau sampaikan ayat-ayat ancaman, beliau menerima wahyu yang berisi memperbaiki akhlaq, manhaj dan aqidah para shahabat, sehingga ketika setelah memiliki kekuatan beliau siap untuk melangkah ke arah yang lebih tinggi daripada itu. Dan tingkatan-tingkatan jihad rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa salam ini telah dijelaskan oleh Al Imam Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah rahimahulloh dalam kitab beliau Za&#8217;adul Maad. Yaitu dimulai kenapa dan alasan apa rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa salam tidak membalas perlakuan kaum kafir, dan juga kenapa rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa salam menolak ketika diberikan kedudukan. Semata-mata karena beliau faham bahwa apabila beliau menerima kedudukan, maka niscaya tidak akan ada orang yang akan mengikuti beliau dengan ikhlas. Beliau adalah seorang rasul yang menerima wahyu Al Qur&#8217;an, dan apabila beliau diberi kedudukan kemudian menerima, maka akan disibukkan diri beliau dengan kedudukannya. </span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Hal ini kita bisa lihat sekarnag, bagaimana orang-orang yang sudah diberikan kedudukan di parlemen. Apakah mereka mengurus umat? Apakah mereka masih lanjut berdakwah? Dalam skala prioritas, ketika mereka berjuang di bawah, mungkin persentase mereka berdakwah 80-90 persen, namun ketika mereka sudah di parlemen, sudah dapat kedudukan mereka sedikit sekali dalam masalah berdakwah. Ini disebabkan beberapa faktor:</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">1. Mereka tidak tunduk lagi kepada Al Qur&#8217;an dan lebih mendahulukan thoghut.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">2. Mereka tidak lagi ingat bagaimana perjuangan mereka ketika di bawah dulu, ketika mendakwahi orang-orang dengan ikhlas.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">3. Mereka disibukkan mengurus harta mereka yang diperoleh dari hasil gaji mereka, mereka disibukkan oleh pekerjaan mereka yang menumpuk, dan mereka lupa bahwa sekalipun sudah ada di atas dakwah tetap berjalan.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">4. Mereka disibukkan oleh orang-orang yang memusuhi mereka di parlemen, sehingga konsentrasi mereka terpecah antara mengurusi yang bawah dan yang atas. Memerangi gesekan-gesekan yang terjadi di antara mereka.</span></span></p>
<p style="widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;"><span style="font-style:normal;"><span style="font-weight:normal;">5. Mereka masih menggunakan metode berdakwah seperti ketika mereka ada di bawah. Yaitu ketika mereka melihat kesyrikan masih dibiarkan, melihat bid&#8217;ah masih dibiarkan, dengan dalih bahwa umat belum faham dengan ilmu dan mereka tidak punya kekuatan.</span></span></span><span style="font-size:normal;"><span style="font-style:normal;"><strong> </strong></span></span><span style="font-size:normal;"><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Padahal sudah menjadi kewajiban mereka yang telah mempunyai kedudukan dan kekuasaan untuk berdakwah dengan tangan, tidak lagi dengan lisan ataupun hati</strong></span></span></span><span style="font-size:normal;"><span style="font-style:normal;"><span style="font-weight:normal;">. Akhirnya mereka tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan lahirlah pemimpin-pemimpin yang menzhalimi rakyat. Dan Allah murka kemudian menimpakan adzab kepada rakyat dan negara, dikarenakan mereka tidak berammar ma&#8217;ruf nahi mungkar.</span></span></span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Kembali kepada kedua pertanyaan sebelumnya. </span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">1. Partai hanyalah sebagai sarana untuk berdakwah, ikut berpolitik di dalamnya dan takluk terhadap hukum-hukum di dalamnya. </span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">2. Merangkul seluruh golongan baik dari kaum muslimin maupun yang selainnya, dan tidak menisbatkan diri pada jalan yang benar.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Secara tersirat jawaban dari dua pertanyaan itu sudah terjawab di atas. Bahwa menjadikan partai sebagai sarana berdakwah adalah salah. Dan ikut berpolitik di sebuah sistem yang tidak syar&#8217;i tidak dibenarkan oleh syari&#8217;at, sebab kerusakan-kerusakannya lebih besar dari manfaat yang diterimanya, sebab bercampurnya antara sistem thoghut dan sistem Islam, namun yang dimenangkan tetap sistem thoghutnya. Dan mustahil seseorang yang sudah di parlemen untuk tidak tunduk terhadap hukum-hukum buatan manusia.</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Merangkul seluruh golongan yang tidak semanhaj dan seaqidah, akan menyebabkan kehancuran,  dan perpecahan, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Asy Syaikh Muhammad Nasirudin Al Albani rahimahulloh di atas. Jadi, masihkah anda menganggap bahwa partai hanyalah sarana dakwah saja? Dan masihkah berusaha untuk merangkul seluruh golongan daripada mendakwahi mereka dulu agar manhaj mereka benar?</span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Saya nasehatkan kepada ikhwah sekalian, jauhilah demokrasi, jangan terlibat di dalam urusan demokrasi. Sebelum dasar yang mereka gunakan adalah dasar Al qur&#8217;an dan As Sunnah. Sebab dasar itulah yang bisa menyelamatkan, bukan malah menghancurkan. </span></span></p>
<p style="font-style:normal;font-weight:normal;widows:0;orphans:0;" align="left"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size:normal;">Wallahua&#8217;lam bishawab.</span></span></p>
Posted in Fiqih Hudud, Manhaj, siyasah Tagged: demokrasi, partai, pemilu <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alatsari.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alatsari.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alatsari.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alatsari.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alatsari.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alatsari.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alatsari.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alatsari.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alatsari.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alatsari.wordpress.com/249/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=249&subd=alatsari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alatsari.wordpress.com/2009/09/16/partai-dan-masuk-parlemen-itu-hanyalah-sebagai-sarana-dakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/233a5e176ad72c2325e0e4bdbee3d2c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Aisyah Al Kediri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Nabi yang Ujub (Perhatikan ini wahai ikhwah yang selalu membanggakan diri!!!)</title>
		<link>http://alatsari.wordpress.com/2009/09/09/kisah-nabi-yang-ujub-perhatikan-ini-wahai-ikhwah-yang-selalu-membanggakan-diri/</link>
		<comments>http://alatsari.wordpress.com/2009/09/09/kisah-nabi-yang-ujub-perhatikan-ini-wahai-ikhwah-yang-selalu-membanggakan-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 02:08:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Aisyah Al Kediri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Shiroh]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>
		<category><![CDATA[parlemen]]></category>
		<category><![CDATA[partai]]></category>
		<category><![CDATA[riya']]></category>
		<category><![CDATA[ujub]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alatsari.wordpress.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Imam Ahmad meriwayatkan dari Suhaib berkata, &#8220;Apabila  Rasulullah shalat, beliau membisikkan sesuatu yang tidak aku  mengerti dan tidak menjelaskan kepada kami. Beliau bertanya, &#8216;Apakah kalian memperhatikanku?&#8217; Kami menjawab, &#8216;Ya.&#8217; Beliau  bersabda, &#8216;Sesungguhnya aku teringat salah seorang Nabi yang  memiliki pasukan dari kaumnya–dalam riwayat lain, &#8216;membanggakan umatnya&#8217;–Dia berkata,   &#8216;Siapa yang menandingi mereka? Atau siapa yang bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=244&subd=alatsari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Imam Ahmad meriwayatkan dari Suhaib berkata, &#8220;Apabila  Rasulullah shalat, beliau membisikkan sesuatu yang tidak aku  mengerti dan tidak menjelaskan kepada kami. Beliau bertanya, &#8216;Apakah kalian memperhatikanku?&#8217; Kami menjawab, &#8216;Ya.&#8217; Beliau  bersabda, &#8216;Sesungguhnya aku teringat salah seorang Nabi yang  memiliki pasukan dari kaumnya–dalam riwayat lain, &#8216;membanggakan umatnya&#8217;–Dia berkata,   &#8216;Siapa yang menandingi mereka? Atau siapa yang bisa melawan mereka? Atau ucapan seperti itu.&#8217;</p>
<p>Maka diwahyukan kepadanya, &#8220;Pilihlah satu dari tiga perkara untuk kaummu: Kami menguasakan musuh dari selain mereka atas mereka, atau kelaparan, atau kematian.&#8221; Maka Nabi itu bermusyawarah dengan kaumnya dan mereka berkata, &#8220;Engkau adalah Nabiyullah, engkau yang memutuskan. Pilihlah untuk kami.&#8221; Lalu dia mendirikan shalat setiap kali mereka sedang menghadapi urusan penting,  mereka mengatasinya melalui shalat. Maka dia shalat sesuai dengan kehendak Allah.</p>
<p>Nabi melanjutkan, &#8220;Kemudian dia berkata, &#8216;Ya Rabbi, adapun musuh dari selain mereka, maka jangan. Adapun kelaparan, maka jangan. Akan tetapi aku memilih kematian.&#8217; Lalu kematian dikirim kepada mereka, dan yang mati di kalangan mereka sebanyak tujuh puluh ribu.</p>
<p>Nabi bersabda, &#8220;Bisikanku yang kalian perhatikan itu adalah aku berkata, &#8216;Ya Allah, dengan-Mu aku berperang, dengan-Mu aku melawan dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.&#8221;<span id="more-244"></span><br />
<strong>TAKHRIJ HADITS</strong></p>
<p>Syaikh Albani dalam Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah, 5/588, no. 2455. Dia berkata, &#8220;Diriwayatkan oleh Ahmad (6/16), Abdur Rahman bin Mahdi menyampaikan kepada kami, Sulaiman bin Al-Mughirah menyampaikan kepada kami dari Tsabit bin Abdur Rahman bin Abi Laila dari Suhaib berkata&#8230;</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Sanad ini shahih di atas syarat Syaikhain, didukung oleh riwayat Ma&#8217;mar dari Tsabit Al-Bunani yang sejenis tanpa doa, yang di akhir hadits dan   riwayat lain dan tambahannya adalah tambahannya.&#8221; Dia menambahkan, &#8220;Dan jika dia menyampaikan hadits ini, dia pun menyampaikan hadits yang lain bahwa ada seorang raja dan raja itu memiliki seorang dukun&#8230;&#8221; Hadits selengkapnya.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Tirmidzi (2/236-237). Diriwayatkan oleh Muslim (8/229-231) dan Ahmad dalam riwayatnya (1/16-17) dari jalan Hammad bin Salamah: Tsabit menyampaikan kepada kami tanpa hadits yang pertama, dan Tirmidzi berkata, &#8220;Hadits<br />
hasan gharib.&#8221;</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Dan sanadnya di atas syarat Syaikhain juga.&#8221;</p>
<p>Hadits ini disebutkan pula oleh Syaikh Nashir (Albani) dalam As-Shahihah (3/50), no. 1061. Dia berkata tentang takhrij-nya,&#8221;Diriwayatkan oleh Ibnu Nashr dalam Ash-Shalah (2/35). Ishaq bin Ibrahim menyampaikan kepada kami, Abu Usamah memberitakan kepada kami, Sulaiman bin Al-Mughirah menyampaikan kepada kami dari Tsabit Al-Bunani dari Abdur Rahman bin Abu Laila dari Suhaib, lalu dia menyebutkan haditsnya.</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Ini adalah sanad shahih di atas syarat Syaikhain.&#8221;</p>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (4/333, 6/16) dari dua jalan yang lain dari Sulaiman bin Al-Mughirah dan dari jalan Hammad bin Salamah. Tsabit menyampaikan kepada kami hadits senada dengannya, dan di dalamnya terdapat tambahan bahwa shalat itu adalah shalat Subuh, dan berbisik itu terjadi sesudah shalat pada hari-hari perang Hunain. Dan Darimi meriwayatkan darinya (2/217)   ucapannya, &#8220;Ya  Allah, dengan-Mu aku  berusaha, dengan-Mu aku melawan, dan dengan-Mu aku berperang.&#8221; Dan sanad keduanya shahih di atas syarat Muslim.</p>
<p><strong> PENJELASAN HADITS</strong></p>
<p>Rasulullah memberitakan kepada kita di dalam hadits ini kisah tentang seorang Nabiyullah dengan umat yang besar jumlahnya dan tangguh. Dia melihat pemberian Allah ini dan takjub dengan apa yang dilihatnya. Dalam dirinya muncul kekaguman bahwa tidak ada yang mampu menghadapi umatnya, tidak ada yang bisa mengalahkannya.</p>
<p>Semestinya orang yang menduduki kursi kenabian tidak boleh bersikap demikian, karena ujub dengan diri sendiri atau dengan anak atau harta atau umat adalah penyakit yang buruk. Seorang mukmin dalam menghadang musuhnya tidak tertipu oleh bala tentaranya yang banyak, tidak kecut dengan bala tentaranya yang sedikit, karena kemenangan hanya dari Allah semata.</p>
<p style="text-align:right;">وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللَّه</p>
<p>&#8220;Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah.&#8221; (QS. Ali Imran: 126)</p>
<p style="text-align:right;">كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِين</p>
<p>&#8220;Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.&#8221; (QS. Al-Baqarah: 249)</p>
<p>Kadangkala membanggakan jumlah yang besar justru menjadi penyebab kekalahan.</p>
<p style="text-align:right;">لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِين</p>
<p>&#8220;Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu pada waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu  tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.&#8221; (QS. At-Taubah: 25)</p>
<p>Nabi ini dihukum pada kaumnya. Allah meminta kepadanya untuk memilih bagi    umatnya satu dari tiga perkara. Dikuasakannya    musuh dari selain mereka atas mereka atau kelaparan atau kematian.</p>
<p>Aku bertanya pada   diriku sendiri, rahasia apakah gerangan sehingga Nabi itu disuruh memilih satu dari tiga perkara. Maka aku mendapati bahwa satu dari tiga hal itu bisa melemahkan, bahkan melenyapkan kekuatan sebuah umat. Ia menghilangkan ujub yang ada di hati Nabi itu dan umatnya. Jika  Allah menguasakan musuh dari selain mereka atas mereka, maka musuh itu  akan   menghinakan dan merenggut kehormatan mereka. Jika kelaparan yang menimpa, maka kekuatan mereka lenyap dan mudah untuk dikalahkan. Jika mati, maka jumlah mereka berkurang.</p>
<p>Memilih satu dari tiga perkara adalah perkara yang membingungkan dan perlu pertimbangan yang matang. Nabi ini telah berunding dengan umatnya dan mereka    menyerahkan perkara itu kepadanya, karena dia adalah Nabiyullah. Para Nabi diberi petunjuk dan langkahnya adalah lurus.</p>
<p>Pilihan Nabi ini cukup tepat. Dia memilih kematian, bukan kelaparan atau kekuasaan musuh atas mereka. Jika seseorang yang hanya menimbang dengan tolak ukur dunia, niscaya dia memilih lain dari apa yang dipilih oleh Nabi itu.</p>
<p>Mungkin sebagian orang yang berpikiran dangkal berpendapat bahwa pilihan tepat adalah dikuasakannya musuh atas mereka, karena mereka akan tetap hidup walaupun musuh bisa saja membunuh sebagian dari mereka. Akan tetapi, Nabi ini tidak rela jika kaumnya dihina dan diinjak-injak. Dan pembunuhan tidak bisa terelakkan jika musuh mereka menguasai mereka. Kelaparan adalah perkara berat. Bisa jadi kelaparan menjadi penyebab kalahnya mereka dari musuh mereka, bahkan mungkin banyak yang mati karenanya.</p>
<p>Memilih kematian adalah memilih sesuatu yang pasti datang. Siapa yang hari ini tidak mati, maka dia akan mati besok atau lusa, tidak ada tempat berlari dan berlindung darinya. Nabi ini memilih kematian buat umatnya. Orang-orang yang kembali kepada Tuhan mereka diharapkan bisa diterima di sisi-Nya, dan orang-orang yang hidup sesudah mereka diharapkan bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada mereka. Bisa  jadi setelah mereka mati, Allah memberi ganti dalam jumlah yang banyak jika Dia berkehendak. Segala perkara berada di tangan Allah.</p>
<p>Nabi ini shalat. Begitulah para Nabi dan orang-orang shalih manakala      menghadapi perkara besar, mereka berdiri shalat. Maka dia shalat sesuai yang dikehendaki oleh Allah untuk shalat. Lalu Allah memberinya taufik untuk memilih perkara yang paling ringan. Dia berkata kepada Tuhannya, &#8220;Adapun musuh dari selain mereka, maka jangan. Kelaparan juga jangan, akan tetapi kematian.&#8221;</p>
<p>Kematian menyebar di kalangan mereka seperti api yang menyebar di hamparan rumput kering. Satu per satu wafat. Kematian menjemput dan membinasakan generasi   yang tumbuh. Dalam satu hari ada tujuh puluh ribu yang wafat. Akibat dari ujub yang ada pada Nabi ini kepada kaumnya sangatlah mengerikan. Rasulullah khawatir akibat seperti ini bisa menimpa para sahabatnya. Maka beliau berbisik setelah shalat, &#8220;Ya Allah, dengan-Mu aku berusaha, dengan-Mu aku melawan, dan dengan-Mu aku berperang.&#8221; Dan beliau mengingat kisah Nabi ini, maka beliau berdoa dengan doa seperti di atas kepada Allah, mengumumkan ketidakmampuan dan ketidakberdayaan serta hanya bergantung kepada kekuatan dan daya para sahabatnya. Dalam menghadapi musuh Nabi berpegang kepada Allah semata, tanpa selain-Nya. Hanya dari-Nya pertolongan dan kemenangan,dan tiada daya dan kekuatan kecuali hanya dengan-Nya.</p>
<p><strong>PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADITS</strong></p>
<p>1. Rasulullah memberi pengertian kepada sahabat-sahabatnya tentang sebab-sebab kelemahan dan kebinasaan. Di antaranya adalah ujub terhadap diri.<br />
2. Akibat ujub sangatlah mengerikan, sebagaimana yang terjadi pada umat Nabi tersebut. Hal itu karena ujub melemahkan tawakkal dan berpijak kepada Allah,  serta menjadikan seseorang hanya bergantung kepada sebab-sebab materi.<br />
3. Hendaknya para pemimpin, para panglima dan para pengendali   urusan harus     waspada. Jangan sampai Allah menurunkan apa yang telah Allah timpakan kepada kaum Nabi ini. Pada zaman ini kita sering melihat dan mendengar banyaknya kekaguman para pemimpin dan panglima terhadap tentara dan pengikut mereka.<br />
4. Bisa jadi sebab turunnya ujian adalah sesuatu yang samar, hanya diketahui oleh orang yang mengerti agama Allah. Musibah seperti ini bisa menimpa kaum shalih yang berjihad, sementara mereka tidak mengetahui darimana sebabnya.<br />
5. Adanya umat yang baik dalam jumlah besar sebelum kita. Pada kalangan mereka terdapat orang-orang yang berperang dan berjihad di jalan Allah. Dalam rentang waktu yang pendek, jumlah orang yang mati mencapai tujuh puluh ribu orang.<br />
6. Seorang muslim dianjurkan untuk melaksanakan shalat jika menghadapi       suatu perkara besar. Semoga Allah membimbingnya kepada pilihan yang paling lurus. Termasuk hal ini adalah Istikharah yang disyariatkan oleh Allah setelah dua rakaat.<br />
7. Dalam perkara yang mengharuskan memilih, seorang muslim hendaknya tidak    tergesa-gesa. Dia harus bermusyawarah seperti yang dilakukan oleh Nabi ini. Dia harus memikirkan dengan matang, menimbang antara pilihan-pilihan yang ada. Dia harus berdoa kepada Allah agar memberinya taufik sehingga bisa memilih dengan benar.</p>
<p>[Diambil dari Shahih Qashash Syaikh Dr. Umar Al Asyqar Edisi Terjemah Indonesia Kisah-kisah Shahih Seputar Para Nabi dan Rasul, Terbitan Pustaka Elba, Surabaya]</p>
<p>Dari saya, kisah ini adalah sebuah kisah yang penuh hikmah, yang mana sekarang ini banyak sekali manusia yang bersifat ujub. Mereka bangga dengan diri mereka yang telah berinfaq, bersedekah, membantu orang, padahal hal itu akan mengakibatkan rusaknya amal. Bayangkan saja seandainya seorang yang beramal dengan pahala sebesar gunung, kemudian dia bangga dengan amalnya, maka sifat bangganya ini akan menjadi riya&#8217;, tidak ikhlas karena Allah, maka di hari akhir ia akan dapati amalannya bagai debu yang berterbangan.</p>
<p>Sebagaimana dengan sikap saudara-saudara kita di salah satu partai, mereka selalu menampakkan sifat ujub mereka, agar orang-orang yang diluar mereka mengatakan wah ini lho, wah dan wah. Mereka bangga telah menolong korban gempa sementara lainnya tidak menolong. Mereka bangga telah berdakwah di parlemen, mereka bangga telah berdakwah untuk anak-anak jalanan, mereka juga bangga telah begini begitu, juga bangga dengan pengikut mereka yang banyak. Mereka melakukan itu semua untuk pamer. Allhu Musta&#8217;an.</p>
<p>Saya pribadi menilai, orang-orang yang mengaku mengikuti salafush sholeh tidak perlu menampakkan amalan-amalan mereka, tidak perlu membanggakan diri. Boleh jadi apa yang mereka lihat tidak seperti apa yang mereka ketahui. Kenapa mereka harus bertanya kepada salafiyin,<strong> <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#ff0000;">&#8220;Apa yang telah diperbuat oleh salafiyin? Apakah mereka terjun langsung ketika terjadi bencana? Apakah mereka telah terjun langsung ketika ada kristenisasi?&#8221;</span></span></strong></p>
<p><strong>Kita jawab,</strong> &#8220;Sesungguhnya amalan itu tidaklah untuk diperlihatkan.</p>
<p>Rosulullah bersabda: ”Tatkala Allah menciptakan bumi, bumi tersebut bergoyang-goyang, maka Allah pun menciptakan gunung-gunung kalau Allah lemparkan gunung-gunung tersebut di atas bumi maka tenanglah bumi. Maka para malaikatpun terkagum-kagum dengan penciptaan gunung, mereka berkata, ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhluk Mu yang lebih kuat dari gunung?” Allah berkata, “Ada yaitu besi”. Lalu mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhlukMu yang lebih kuat dari besi?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu api.”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk Mu yang lebih kuat dari pada api?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu angin” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada angin?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu seorang anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya lalu dia sembunyikan agar tidak diketahui tangan kanannya”. Diriwayatkan oleh Imam Ahamad dalam Musnadnya 3/124 dari hadits Anas bin Malik. Berkata Ibnu Hajar, ”Dari hadits Anas dengan sanad yang hasan marfu’” (Al-Fath 2/191).</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p style="text-align:right;">إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِير</p>
<p>yang artinya:<br />
“Jika kalian menampakkan sedekah kalian maka itu adalah baik sekali.<span style="color:#ff0000;"><strong> Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir maka menyembunyikanya itu lebih baik bagi kalian. Dan Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian, dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan”</strong></span> (QS. Al-Baqoroh: 271).</p>
<p>Saya yakin salafiyin tidak perlu dipuji atas tindakan mereka. Salafiyin juga tidak perlu mendapatkan pujian atas tersembunyinya amal-amal mereka. Salafiyin juga tidaklah bangga atas apa yang telah mereka lakukan, ketika seseorang menanyakan apa yang sudah kita perbuat, maka tentu saja kita berbuat yang terbaik tanpa perlu diberitahukan. Kalau manusia memandang perlu untuk diberitakan, buat apa? <em><span style="text-decoration:underline;">Apakah dengan memberitahukan amalan seseorang itu akan mendapatkan nilai yang lebih dari Allah Azza Wa Jalla?</span></em> Sementara Allah berfirman bahwasannya yang menyembunyikan amalan itu lebih baik?</p>
<p>Dengarlah wahai saudaraku yang duduk di parlemen, yang mereka berada di partai dan membanggakan partainya. Sesungguhnya amalan kepada Allah itu haruslah ikhlas dan bebas dari riya&#8217; dan sifat ujub. Sebab kedua sifat itu akan menghapus apa yang telah kalian lakukan.&#8221;</p>
<p>Nasehat saya yang berikutnya adalah, bahwasannya mereka yang bangga akan jumlah, maka dalam kisah di atas ada peringatan besar.<strong> Jangan bangga terhadap jumlah yang lebih, sekali-kali jangan merasa bahwa jumlah kaum muslimin yang banyak itu adalah sumber kekuatan. Kekuatan itu nomor dua, yang nomor satu adalah kualitas iman yang ada di dalam hati</strong>. Apabila kualitas iman itu bagus, niscaya baguslah seluruh amalannya. Lihatlah bagaimana ketika Perang Badar, lihatlah bagaimana ketika Perang Yarmuk, jumlah umat muslim tidaklah sebanding dengan jumlah musuh yang ada. Makanya <em><strong><span style="color:#ff0000;"><span style="text-decoration:underline;">Khalid bin Al Walid radhiyallahu&#8217;anhum berkata, &#8220;Janganlah kalian jadikan jumlah sebagai penentu kemenangan, sesungguhnya kalian kalah akibat dari dosa-dosa kalian&#8221;</span></span></strong></em> (Al Bidayah Wan Nihayah)</p>
<p>Banyak sekali nash-nash baik di Al Qur&#8217;an dan As Sunnah bahwasannya banyaknya umat belum tentu menjadi sebab kemenangan, justru yang menjadi kemenangan adalah mereka yang di dalam hatinya imannya benar, dan <span style="text-decoration:underline;">karena iman mereka benar niscaya Allah akan menurunkan pertolongan dan ini adalah janji Allah</span>. Buat apa kalian wahai saudaraku yang masuk partai memikirkan jumlah sementara hati-hati kalian masih dipenuhi bid&#8217;ah, khurafat dan takhayul? Apakah mau bersatu di atas aqidah yang amburadul, campur aduk dan tidak sesuai aqidah yang benar? Sungguh peristiwa perang Uhud ataupun perang Hunain adalah sebuah gambaran yang jelas bahwasannya ketika umat tidak sempurna imannya, tidak mengikuti Allah dan Rasul-Nya maka Allah tidak akan menolong mereka. Kalau hal ini tidak difahami oleh setiap muslim, niscaya percuma saja perjuangan kalian membentuk partai, kemudian mengatakan partai hanyalah sarana yang penting dakwahnya. Tidak perlu seseorang berdakwah untuk menasehati orang yang gemar berzina dengan ikut mendirikan pelacuran atau lokalisasi, atau tidak perlu juga untuk menasehati orang yang berjudi harus menyediakan meja untuk berjudi kemudian berdakwah di tengah perjudian. Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa salam adalah sebaik-baik contoh. Lihatlah bagaimana beliau tidak mengikuti atau membantu kesyirikan, atau membantu orang-orang menuangkan arak di saat kaum kafir Quraisy mabuk, pernahkah ada nash rasululloh shallallahu&#8217;alaih.i wa sallam membantu kesyirikan kaum kafir ataupun membantu menuangkan minuman seseorang untuk mabuk lalu berdakwah? Padahal kala itu umat beliau masih sedikit dan lemah. Sama seperti kita, di negara yang dipenuhi orang-orang liberal, sekuler dan nasionalis, perlukah dakwah itu dengan mendukung mereka?</p>
<p>Islam sesungguhnya agama yang mulia, bersih dari segala jenis kekufuran. Demokrasi jelas kekufuran. Dan orang yang mengatakan bahwa Demokrasi adalah salah satu jalan untuk meraih kemenangan, maka dia telah menyalahi nash-nash yang ada, dia melesat jauh dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya.</p>
<p><strong>Kesimpulannya,</strong> karena sifat ujub mereka melakukan hal-hal yang baik di dalam partai mereka, tidak bermanfaat sama sekali. Dan sekali lagi ujub bisa merusak amal, bisa merusak pahala dan mendatangkan kekalahan bagi kaum muslimin. Kalau ingin kaum muslimin menang, maka sempurnakan iman di hati mereka. Hanya itu sajalah yang bisa mengantarkan manusia menuju kemenangan, sebab setelah iman itu sempurna, maka sudah pasti Allah selalu menepati janji, yaitu dengan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong dirinya sendiri. Yaitu dengan cara menyempurnakan iman mereka, menegakkan dien di dalam hati mereka. Dan tidak ada cara lain selain menuntut ilmu syar&#8217;i, memahaminya, beramal, dan mendakwahkan. Inilah jihad yang ada ketika belum dikumandangkan jihad oleh Ulil Amri.</p>
<p>Wallahua&#8217;lam bishawab</p>
<p>[Ditulis oleh Abu Aisyah Al Kediri pada waktu shubuh, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, keluarganya, dan kaum muslimin]</p>
Posted in Manhaj, Shiroh, Tausiyah Tagged: parlemen, partai, riya', ujub <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alatsari.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alatsari.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alatsari.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alatsari.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alatsari.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alatsari.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alatsari.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alatsari.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alatsari.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alatsari.wordpress.com/244/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=244&subd=alatsari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alatsari.wordpress.com/2009/09/09/kisah-nabi-yang-ujub-perhatikan-ini-wahai-ikhwah-yang-selalu-membanggakan-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/233a5e176ad72c2325e0e4bdbee3d2c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Aisyah Al Kediri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Allah yang Menentukan Jenis Kelamin Anak di Dalam Kandungan, dan Sekali-kali Manusia tidak Bisa Mengaturnya</title>
		<link>http://alatsari.wordpress.com/2009/09/08/allah-yang-menentukan-jenis-kelamin-anak-di-dalam-kandungan-dan-sekali-kali-manusia-tidak-bisa-mengaturnya/</link>
		<comments>http://alatsari.wordpress.com/2009/09/08/allah-yang-menentukan-jenis-kelamin-anak-di-dalam-kandungan-dan-sekali-kali-manusia-tidak-bisa-mengaturnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 02:46:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Aisyah Al Kediri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[qadar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alatsari.wordpress.com/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirahmaanirrahiim,
Alhamdulillah. Washolatu &#8216;alaa rasulillahi wa &#8216;alaa alihii wa ash habihi waman tabi&#8217;ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma Ba&#8217;du.
Anak adalah salah satu anugrah dan karunia yang diberikan Allah. Allah berfirman dalam Kitabullah:
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya: Dan orang-orang yang berkata: &#8220;Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=242&subd=alatsari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bismillahirahmaanirrahiim,</p>
<p>Alhamdulillah. Washolatu &#8216;alaa rasulillahi wa &#8216;alaa alihii wa ash habihi waman tabi&#8217;ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma Ba&#8217;du.</p>
<p>Anak adalah salah satu anugrah dan karunia yang diberikan Allah. Allah berfirman dalam Kitabullah:</p>
<p>وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا</p>
<p>Artinya: Dan orang-orang yang berkata: &#8220;Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. [Q.S. Al Furqaan : 74]</p>
<p>Dan do&#8217;a Nabi Zakariya &#8216;alaihissalam :</p>
<p>َإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَل</p>
<p>artinya: “Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra,” [Q.S. Maryam: 5]</p>
<p>Maka jelaslah dari ayat-ayat tersebut bahwasannya anak merupakan karunia Allah Subhanahu wa ta&#8217;alaa. Yang mana Allah juga yang menentukan rizki anak tersebut, jodohnya, kelaminnya, dan juga matinya. Maka tidak sepantasnya manusia mencari-cari tahu jodohnya, kemudian juga khawatir terhadap rizkinya sehingga membunuh anak-anak mereka, kemudian juga dengan sombong mengatakan bahwa mereka tahu bagaimana caranya agar anak mereka lahir laki-laki ataupun lahir perempuan.<span id="more-242"></span></p>
<p>Hadis riwayat Anas bin Malik radhiyallahu&#8217;anhum<br />
Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa salam bersabda: “Sesungguhnya Allah Taala mengutus seorang malaikat di dalam rahim. Malaikat itu berkata: Ya Tuhan! Masih berupa air mani. Ya Tuhan! Sudah menjadi segumpal darah. Ya Tuhan! Sudah menjadi segumpal daging. Manakala Allah sudah memutuskan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka malaikat akan berkata: Ya Tuhan! Diciptakan sebagai lelaki ataukah perempuan? Sengsara ataukah bahagia? Bagaimanakah rezekinya? Dan bagaimanakah ajalnya? Semua itu sudah ditentukan dalam perut ibunya.” (Shahih Muslim No.4785 dan juga diriwayatkan oleh Bukhari)</p>
<p>Dari hadits di atas adalah sebuah khabar kebenaran bahwa yang menentukan seorang anak itu laki-laki atau perempuan, sengsara atau bahagia, rezekinya berapa, ajalnya bagaimana segalanya telah ditentukan semenjak manusia dalam kandungan ibunya. Yang demikian itu adalah sebuah kuasa Allah, sebagaimana Ia adalah Dzat yang telah menaqdirkan setiap daun yang jauh ke bumi, dan juga Dzat yang telah menaqdirkan seseorang itu mendapatkan Khusnul Khatimah ataupun Su&#8217;ul Khatimah. Maha Suci Allah yang telah mengatur segalanya, yang memberikan keadilan bagi setiap makhluk-Nya.</p>
<p>Sebagaimana juga yang dijelaskan di dalam hadits Arbain Nawawi hadits ke empat, Imam Nawawi memberikan hadits:</p>
<p>Dari Abu Abdirrohman, Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu’anhu, dia berkata: ”Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada kami dan beliau adalah orang yang selalu benar dan dibenarkan: ’Sesungguhnya setiap orang diantara kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah(air mani), kemudian menjadi ‘alaqoh(segumpal darah) selama waktu itu juga (empat puluh hari), kemudian menjadi mudhghoh(segumpal daging) selama waktu itu juga, lalu diutuslah seorang malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh padanya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat: Menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celakanya atau keberuntungannya. Maka demi Alloh yang tiada tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada diantara kamu yang melakukan amalan penduduk surga dan amalan itu mendekatkannya ke surga sehingga jarak antara dia dan surga kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga dia masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya ada seseorang diantara kamu yang melakukan amalan penduduk neraka dan amal itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapka atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke dalamnya.” (HR. Bukhori dan Muslim)</p>
<p>Al Imam Ibnu Al Qayyim rahimahullah dalam Miftahu Dar sa&#8217;adah berkata:<br />
Dalam hadits ini Anda lihat beliau menyerahkan masalah penentuan jenis kelamin  itu kepada kehendak Allah Subhanahu wata&#8217;alaa. Beliau menghubungkannya dengan masalah yang  tidak dapat dipengaruhi oleh alam, yakni kesengsaraan dan kebahagiaan, serta rezeki  dan ajal, dan malaikat tidak menuliskan apa yang dapat dipengaruhi oleh faktor alam.</p>
<p>Tidakkah Anda melihat Abdullah bin Salam hanya bertanya tentang kemiripan yang  masih mungkin untuk dijawab, dan tidak bertanya tentang penentuan jenis kelamin,  meskipun itu lebih dalam daripada sekedar kemiripan rupa. Wallahu a&#8217;lam. Kalau  Rasulullah shallallahu&#8217;alaihi wa salam telah mengatakannya, berarti itulah informasi yang benar.</p>
<p>Bagaimanapun juga bukti-bukti ini mematahkan apa yang diklaim sebagian  ilmuwan alam, bahwa ia tahu sebab-sebab janin menjadi lelaki atau wanita. Wallaahu  a&#8217;lam</p>
<p>Selesai perkataan beliau.</p>
<p>Dalam masalah taqdir Syaikh Shalih Alu Syaikh di Syarah Arba&#8217;in An Nawawi memberikan penjelasan ada 4 bentuk penulisan taqdir:<br />
1. Taqdir saabiq, yaitu penulisan taqdir bagi seluruh makhluk di lauh mahfudz 50 ribu tahun sebelum penciptaan bumi dan langit.<br />
2. Taqdir umri, yaitu penulisan taqdir bagi janin ketika berusia 4 bulan.<br />
3. Taqdir sanawi, yaitu penulisan taqdir bagi seluruh makhluk setiap tahunnya pada malam lailatul qodr.<br />
4. Taqdir yaumi, yaitu penulisan terhadap setiap kejadian setiap harinya.<br />
Keempat macam penulisan taqdir tersebut memungkinkan terjadinya perubahan kecuali pada taqdir sabiq. Sebagaimana firman Allah: (Surat Ar-Ra’d: 39).</p>
<p>يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ</p>
<p>artinya: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Umulkitab (Lohmahfuz).”</p>
<p>Taqdir Allah sama sekali bukan sebagai pemaksaan, Allah lebih tahu terhadap hambanya yang pantas mendapatkan kebaikan dan yang tidak.</p>
<p>Selesai perkataan beliau.</p>
<p>Kesimpulannya, segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah, bahkan juga termasuk anak yang berada di dalam kandungan. Nasib manusia sudah ditentukan, dan ini juga sebagai pembantah atas perkataan dukun dan peramal yang mengatakan nasib manusia itu bisa berubah atas kehendaknya sendiri. Memang benar nasib manusia bisa berubah atas kehendaknya sendiri, namun itu juga karena taqdir. Allah menjadikan seseorang nasibnya baik, nasibnya mujur atau biasa saja sejak dalam kandungan. Demikian pula matinya, baik berupa khusnul khatimah ataupun su&#8217;ul khatimah. Adapun orang-orang yang disesatkan maka mereka akan mengatakan hal-hal yang tidak diketahui, adapun orang-orang yang berilmu, mereka lebih cenderung diam untuk menjaga diri dari berkata tanpa ilmu.</p>
<p>Dan dari sini jelas juga sebagai bantahan bagi orang-orang yang mengatakan, mereka bisa memperkirakan bagaimana supaya bisa dapat anak laki-laki ataupun anak perempuan, sebagaimana adat istiadat tertentu yang bisa diketahui dengan membelah kelapa muda, atau dengan cara-cara tertentu. Atau yang sedikit lebih ilmiah lagi dengan mengambil hari sebelum haidh untuk mendapatkan anak laki-laki ataupun mengambil hari setelah haidh untuk mendapatkan anak perempuan atau sebaliknya untuk berhubungan dengan istri-istri mereka, berdasarkan hadits yang diriwayatkan  oleh Imam Muslim dalam kitabnya,</p>
<p>Saat itu Tsaubah berada bersama Nabi shallallahu&#8217;alaihi wa salam:<br />
Tiba-tiba datanglah seorang pendeta Yahudi.  la mengucapkan salam, &#8220;Assalamu &#8216;alaika yaa Muhammad!&#8221;  Serentak Tsaubah memukulnya. Hampir saja dia mati.  &#8220;Kenapa kamu memukul saya?&#8221; tanyanya.  Aku menjawab, &#8220;Mengapa tidak kamu panggil beliau Yaa Rasulullah?&#8221;<br />
&#8220;Kami hanya mau memanggilnya dengan menyebut nama yang diberikan<br />
keluarganya,&#8221; jawabnya.<br />
Mendengar ini, Rasulullah menyahut, &#8220;Namaku adalah Muhammad. Itulah nama<br />
yang diberikan keluargaku.&#8221;<br />
&#8220;Aku datang untuk bertanya kepadamu,&#8221; katanya.<br />
Beliau balik bertanya, &#8220;Apakah jawabanku berguna bagimu?&#8221;<br />
Si Yahudi menjawab, &#8220;Akan aku dengar dengan telingaku.&#8221;<br />
&#8220;Tanyalah!&#8221; kata Rasulullah sambil menggariskan sebatang kayu yang beliau  pegang ke tanah.<br />
&#8220;Di mana manusia pada hari kiamat?&#8221; tanyanya.<br />
Beliau menjawab, &#8220;Mereka berada di dalam kegelapan sebelum/zsr(jembatan).&#8221;<br />
Ia bertanya lagi, &#8220;Lalu siapa yang paling dahulu lewat?&#8221;<br />
Beliau menjawab, &#8220;Orang-orang Muhajirin yang miskin.&#8221;<br />
&#8220;Apa hadiah untuk mereka saat masuk surga?&#8221; tanyanya kemudian.<br />
Beliau menjawab, &#8220;Hati ikan besar.&#8221;<br />
Dia bertanya lagi, &#8220;Lalu apa makanan mereka setelah itu?&#8221;<br />
Beliau menjawab, &#8220;Untuk mereka disembelihkan sapi jantan surga yang makan  dari tetumbuhan surga.&#8221;<br />
&#8220;Apa minuman mereka?&#8221; tanyanya.<br />
Jawab beliau, &#8220;Mata air yang disebut salsabila.&#8221;<br />
la berkata, &#8220;Engkau benar.&#8221; Kemudian lanjutnya, &#8220;Aku ke sini juga untuk  menanyaimu tentang sesuatu yang hanya diketahui oleh Nabi atau satu orang atau  dua orang saja.&#8221;<br />
Beliau bertanya, &#8220;Akankah bermanfaat bagimu apabila aku jawab?&#8221;<br />
&#8220;Aku akan dengar dengan telingaku,&#8221; katanya. &#8220;Aku datang untuk bertanya  tentang anak.&#8221;<br />
Beliau bersabda, &#8220;Sperma lelaki berwarna putih, sedang punya wanita berwarna  kuning. Apabila keduanya berkumpul, lalu mani lelaki mengungguli mani perempuan,  maka anak itu lelaki dengan izin Allah Subhanahu wa ta&#8217;alaa. Dan, apabila mani wanita mengungguli mani lelaki, berarti anak itu perempuan dengan izin Allah Subhanallahu wa ta&#8217;alaa.&#8221;<br />
Si Yahudi berkata, &#8220;Ucapanmu sungguh benar, dan engkau benar-benar seorang  Nabi.&#8221;</p>
<p>Tetaplah di dalam hadits tersebut rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa salam menjelaskan menyerahkan kepada Allah dengan berkata “dengan izin Allah”. Sebab banyak juga kasus yang mana telah berusaha sebagaimana yang beliau sabdakan, tapi tidak mendapatkan hasilnya. Segalanya telah ditentukan Allah dan Allah berkehendak atas segala yang Ia kehendaki. Dan manusia tidak bisa mengendalikan hal ini</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam bishawab.</p>
Posted in Hadits Tagged: qadar <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alatsari.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alatsari.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alatsari.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alatsari.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alatsari.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alatsari.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alatsari.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alatsari.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alatsari.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alatsari.wordpress.com/242/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=242&subd=alatsari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alatsari.wordpress.com/2009/09/08/allah-yang-menentukan-jenis-kelamin-anak-di-dalam-kandungan-dan-sekali-kali-manusia-tidak-bisa-mengaturnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/233a5e176ad72c2325e0e4bdbee3d2c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Aisyah Al Kediri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Patokan Kita Dalam Waktu Shalat Bukanlah Jam</title>
		<link>http://alatsari.wordpress.com/2009/09/03/patokan-kita-dalam-waktu-shalat-bukanlah-jam/</link>
		<comments>http://alatsari.wordpress.com/2009/09/03/patokan-kita-dalam-waktu-shalat-bukanlah-jam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 02:17:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Aisyah Al Kediri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[waktu shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alatsari.wordpress.com/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[
Bismillahirahmaanirrahiim,
Alhamdulillah, washolatu wa &#8216;alaa rasulillah wa &#8216;alaa &#8216;aliihi wa ash habihi waman tabi&#8217;ahum bi ihsan ilaa yaumiddin. Amma Ba&#8217;du.
Ya ayyuhal ikhwah, sesungguhnya Allah telah menetapkan akan waktu-waktu sholat, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوت

Artinya:”Sesungguhnya Shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” [Q.S An Nisaa: 103]
Dan firman-Nya:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=239&subd=alatsari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom:0;"><em>Bismillahirahmaanirrahiim,</em></p>
<p style="margin-bottom:0;">Alhamdulillah, washolatu wa &#8216;alaa rasulillah wa &#8216;alaa &#8216;aliihi wa ash habihi waman tabi&#8217;ahum bi ihsan ilaa yaumiddin. Amma Ba&#8217;du.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Ya ayyuhal ikhwah, sesungguhnya Allah telah menetapkan akan waktu-waktu sholat, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:DejaVu Sans;"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,Times New Roman,serif;"><span style="font-size:large;">إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوت</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Artinya:”Sesungguhnya Shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” [Q.S An Nisaa: 103]</p>
<p style="margin-bottom:0;">Dan firman-Nya:</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,Times New Roman,serif;"><span style="font-size:medium;">وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِين</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">artinya: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” [ Q.S. Al A'raaf : 205 ]</p>
<p style="margin-bottom:0;">Dan firman-Nya:</p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,Times New Roman,serif;"><span style="font-size:medium;">حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِين</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">artinya: “Peliharalah semua shalatmu, dan peliharalah shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk” [Q.S. Al Baqarah: 238]</p>
<p style="margin-bottom:0;">Dan dari ayat-ayat tersebut maka jelas sudah, bahwa patokan utama dari shalat adalah dengan melihat matahari, bukan dengan patokan waktu. Ketika sekarang ini orang-orang sudah memakai patokan waktu yang dibuat oleh manusia—ahli falak khususnya—maka pada hakekatnya mereka tidak faham bagaimana waktu-waktu sholat itu yang sebenarnya. Sebab, dengan kita tidak mengerti waktu-waktu shalat maka niscaya banyak sekali sholat kita yang tidak terjaga. Dan orang yang tidak menjaga sholatnya benar-benar orang yang celaka.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Nimbus Roman No9 L,Times New Roman,serif;"><span style="font-size:large;">فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Artinya: “Maka celakalah orang-orang yang shalat” [Q.S. Al Maa'uun: 4]</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Di dalam Bulughul Maram Ibnu Hajar Asqolani mendahului bab Sholat dengan membawakan hadits tentang waktu-waktu sholat. Hal ini beliau lakukan karena memang sholat kalau belum masuk waktunya tidak dianggap sah. Adapun orang-orang yang tidak faham maka harus benar-benar memperhatikan hal ini.<span id="more-239"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Hadits ke-1</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">Dari Abdullah Ibnu Amr Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Waktu Dhuhur ialah jika matahari telah condong (ke barat) dan bayangan seseorang sama dengan tingginya selama waktu Ashar belum tiba, waktu Ashar masuk selama matahari belum menguning, waktu shalat Maghrib selama awan merah belum menghilang, waktu shalat Isya hingga tengah malam, dan waktu shalat Shubuh semenjak terbitnya fajar hingga matahari belum terbit.&#8221; Riwayat Muslim.</p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Hadits ke-2</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">Menurut riwayat Muslim dari hadits Buraidah tentang waktu shalat Ashar. &#8220;Dan matahari masih putih bersih.&#8221;</p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Hadits ke-3</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">Dari hadits Abu Musa: &#8220;Dan matahari masih tinggi.&#8221;</p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Hadits ke-4</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">Abu Barzah al-Aslamy Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah setelah usai shalat Ashar kemudian salah seorang di antara kami pulang ke rumahnya di ujung kota Madinah sedang matahari saat itu masih panas. Beliau biasanya suka mengakhirkan shalat Isya&#8217;, tidak suka tidur sebelumnya dan bercakap-cakap setelahnya. Beliau juga suka melakukan shalat Shubuh di saat seseorang masih dapat mengenal orang yang duduk disampingnya, beliau biasanya membaca 60 hingga 100 ayat. Muttafaq Alaihi.</p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Hadits ke-5</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">Menurut hadits Bukhari-Muslim dari Jabir: Adakalanya beliau melakukan shalat Isya&#8217; pada awal waktunya dan adakalanya beliau melakukannya pada akhir waktunya. Jika melihat mereka telah berkumpul beliau segera melakukannya dan jika melihat mereka terlambat beliau mengakhirkannya, sedang mengenai shalat Shubuh biasanya Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam menunaikannya pada saat masih gelap.</p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Hadits ke-6</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">Menurut Muslim dari hadits Abu Musa: Beliau menunaikan shalat Shubuh pada waktu fajar terbit di saat orang-orang hampir tidak mengenal satu sama lain.</p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Hadits ke-7</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">Rafi&#8217; Ibnu Kharij Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Kami pernah shalat Maghrib bersama Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam kemudian salah seorang di antara kami pulang dan ia masih dapat melihat tempat jatuhnya anak panah miliknya. Muttafaq Alaihi.</p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Hadits ke-8</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Pada suatu malam pernah Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam mengakhirkan shalat Isya&#8217; hingga larut malam. Kemudian beliau keluar dan shalat, dan bersabda: &#8220;Sungguh inilah waktunya jika tidak memberatkan umatku.&#8221; Riwayat Muslim.</p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Hadits ke-9</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila panas sangat menyengat, maka tunggulah waktu dingin untuk menunaikan shalat karena panas yang menyengat itu sebagian dari hembusan neraka jahannam.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Hadits ke-10</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">dari Rafi&#8217; Ibnu Khadij Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Lakukanlah shalat Shubuh pada waktu masih benar-benar Shubuh karena ia lebih besar pahalanya bagimu.&#8221; Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban.</p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Hadits ke-11</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa yang telah mengerjakan satu rakaat shalat Shubuh sebelum matahari terbit maka ia telah mendapatkan shalat Shubuh dan barangsiapa yang telah mengerjakan satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam maka ia telah mendapatkan shalat Ashar.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Hadits ke-12</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">Menurut riwayat Muslim dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu ada hadits serupa, beliau bersabda: &#8220;Sekali sujud sebagai pengganti daripada satu rakaat.&#8221; Kemudian beliau bersabda: &#8220;Sekali sujud itu adalah satu rakaat.&#8221;</p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Hadits ke-13</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">Dari Abu Said Al-Khudry bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Tidak ada shalat (sunat) setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit dan tidak ada shalat setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam.&#8221; Muttafaq Alaihi. Dalam lafadz Riwayat Muslim: &#8220;Tidak ada shalat setelah shalat fajar.&#8221;</p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Hadits ke-14</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">Dalam riwayat Muslim dari Uqbah Ibnu Amir: Tiga waktu dimana Rasulullah  Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam melarang kami melakukan shalat dan menguburkan mayit, yaitu: ketika matahari terbit hingga meninggi, ketika tengah hari hingga matahari condong ke barat, dan ketika matahari hampir terbenam.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Dari hadits-hadits di atas jelas sudah bahwasannya, rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam dan para shahabat tidaklah melakukan hisab terlebih dahulu untuk menentukan waktu shalat. Namun mereka menggunakan patokan melihat matahari, dan itulah patokan yang hakiki. Adapun kita menggunakan waktu jam adalah menyesuaikan karena pada dasarnya waktu yang terjadi adalah konstan dan tidak berubah. Wallahu&#8217;alam.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Namun yang akan saya bahas di sini bukanlah detail waktu-waktu sholatnya, melainkan pembahasan kepada masyarakat awam yang masih belum faham bahwasannya waktu sholat itu ditentukan dengan melihat matahari, bukan dihitung dengan falak secara langsung, tidak langsung dihisab, tapi hisab itu harus mengikuti petunjuk nabi shallallahu&#8217;alaihi wa sallam. Inilah yang sebenarnya harus diperhatikan.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Sebagaimana yang kita ketahui bersama, waktu-waktu sholat sekarang ini sama sekali tidak sesuai dengan waktu yang dijelaskan oleh nabi shallallahu&#8217;alaihi wa sallam. Hal ini juga telah dibahas oleh <a href="http://id.qiblati.com/forum/" target="_blank">Majalah Qiblati tentang masalah Fajar </a>Shodiq beberapa waktu yang lalu. Dan memang benar bahwasannya waktu sholat harus diperbaiki, dan masyarakat khususnya umat Islam harus difahamkan dulu bagaimanakah patokan waktu sholat yang benar, lalu menyesuaikan dengan waktu yang ada sebagai ketetapan. Walaupun waktu-waktu sholat yang ada sekarang dianggap sebagai ketetapan yang disepakati bersama, namun masih banyak yang harus diperbaiki di sana sini. Wallahu&#8217;alam bishawab.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Maraji:</p>
<p style="margin-bottom:0;">1. Al Qur&#8217;an Al Kariim</p>
<p style="margin-bottom:0;">2. Situs Majalah Qiblati</p>
<p style="margin-bottom:0;">3. Bulughul Maram</p>
Posted in Fiqih Sholat Tagged: waktu shalat <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alatsari.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alatsari.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alatsari.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alatsari.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alatsari.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alatsari.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alatsari.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alatsari.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alatsari.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alatsari.wordpress.com/239/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alatsari.wordpress.com&blog=1232586&post=239&subd=alatsari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alatsari.wordpress.com/2009/09/03/patokan-kita-dalam-waktu-shalat-bukanlah-jam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/233a5e176ad72c2325e0e4bdbee3d2c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Aisyah Al Kediri</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>