Ilmu Musthalah Hadits bag-8

MATRUK

Apabila penyebab kecacatannya pada perawi adalah tuduhan berdusta — yaitu sebab kedua –, maka haditsnya dinamakan hadits Matruk.

Pengertiannya

Al-Matruk menurut bahasa artinya dibuang, yang ditinggalkan.
Sedangkan menurut istilah adalah “hadits yang di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang dituduh berdusta”.

Pertama, hadits itu tidak diriwayatkan kecuali dari jalur dia saja, dan bertentangan dengan kaidah-kaidah umum yang digali oleh para ‘ulama dari nash-nash syar’i.

Kedua, dikenal berdusta dalam perkataan biasa, tetapi tidak nampak keduataannya di dalam hadits.

Contohnya

Hadits ‘Amru bin Syamr Al-Ju’fi Al-Kufi Asy-Syi’i dari Jabir, dari Abu Thufail, dari ‘Ali dan ‘Ammar, keduanya berkata,”Adalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan qunut pada shalat fajar, dan bertakbir pada hari Arafah dalam shalat Dhuhur dan memotong shalat ‘ashar pada akhir hari tasyriq“.
Imam An-Nasa’i dan Ad-Daruquthni dan ulama lainnya berkata tentang ‘Amru bin Syamr,”Haditsnya matruk“.

Dan jika hadits maudlu’ adalah seburuk-buruk tingkatan hadits dla’if, maka hadits matruk berada pada tingkatan berikutnya.

MUNKAR

Apabila sebab kecacatan perawi adalah karena banyaknya kesalahan, sering lupa, atau kefasiqan,; maka hadistnya dinamakan hadits Munkar.

Pengertiannya

Munkar menurut bahasa adalah isim maf’ul dari kata al-inkaar, lawan dari kata al-iqraar.

Adapaun hadits munkar menurut istilah, para ulama mendefiniskannya dengan dua pengertian berikut ini :

Pertama : yaitu sebuah hadits dengan perawi tunggal yang banyak kesalahan atau kelalaiannya, atau nampak kefasiqannya atau lemah ke-tsiqahannya.

Contohnya :

Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Ibnu Majah dari riwayat Abi Zakir Yahya bin Muhammad bin Qais, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya, dari ‘Aisyah secara marfu’ : “Makanlah balah (kurma mentah) dengan tamr (kurma matang), karena syaithan akan marah jika anak Adam memakannya”.

An-Nasa’i berkata,”Ini hadits munkar, Abu Zakir meriwayatkannyasendiri, dia seorang syaikh yang shalih. Imam Muslim meriwayatkannya dalam mutaba’at. Hanya saja ia tidak sampai pada derajat perawi yang dapat meriwayatkan hadits secara sendiri”.

Kedua : yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang lemah dan bertentangan dengan riwayat perawi yang tsiqah.

Perbedaan Antara Munkar dan Syadz Adalah :

a. Syadz adalah hadits yang diriwayatkan perawi yang maqbul yang bertentangan hadits yang diriwayatkan perawi yang lebih utama darinya.
b. Munkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh perawi dla’if yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi tsiqah.

Dengan demikian, menjadi jelas bahwa keduanya terdapat kesamaan dalam hal : “menyelisihi riwayat yang lebih kuat darinya”. Namun terdapat perbedaan dimana hadits syadz perawinya masih maqbul, sedangkan hadits munkar perawinya adalah dla’if.

Contohnya

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalur Habib bin Habib Az-Zayyat – tidak tsiqah – dari Abu Ishaq dan Aizar bin Harits, dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : Barangsiapa yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, berpuasa, dan menghormati tamu, dia masuk surga”.

Abu Hatim berkata,”Hadits ini munkar, karena para perawi tsiqah selain (Habib bin Zayyat) meriwayatkannya dari Abu Ishaq hanya sampai kepada shahabat (mauqif), dan riwayat inilah yang dikenal”.

Dan hadits munkar sangat lemah, menempati urutan setelah matruk.

Dan karena definisi kedua dari hadits munkar adalah lawan dari hadits ma’ruf, maka berikut ini akan diuraikan pula tentang penjelasan hadits ma’ruf, meskipun ia termasuk bagian dari hadits maqbul yang dapat dijadikan hujjah.

MA’RUF

Pengertiannya

Al-Ma’ruf artinya yang dikenal atau yang terkenal, dan menurut bahasa berbentuk isim maf’ul.

Dan hadits ma’ruf menurut istilah adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah, yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang dla’if (kebalikan dari hadits munkar).

Contohnya

Hadits yang diriwayatkan sebagian perawi tsiqah pada hadits Habib bin Habib Az-Zayyat – yang telah disebutkan sebelumnya – dari Abu Ishaq, dari Al-Aizar bin Harits, dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma secara mauquf (hanya sampai kepada shahabat), tidak dimarfu’kan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Artinya, bahwa perkataan ini tidak dinisbatkan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, tetapi dinisbatkan kepada Ibnu ‘Abbas.

Maka, Habib tidak tsiqah, dan ia telah memarfu’kan hadits, lalu menjadikannya sebagai perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, sedangkan sebagian perawi tsiqah menjadikannya sebagai hadits mauquf. Maka terjadilah perselisihan.

Berdasarkan contoh ini, maka hadits yang datang dari jalur perawi tsiqah dinamakan Ma’ruf, sedangkan yang datang dari jalur tidak tsiqah dinamakan Munkar.

MU’ALLAL

Apabila sebab kecacatan pada perawi itu adalah wahm (keraguan),maka haditsnya dinamakan ma’allal.

Pengertiannya

Mu’allal menurut bahasa artinya yang ditimpa penyakit.
Hadits Mu’allal menurut istilah adalah “hadits yang dhahirnya shahih, tetapi setelah diperiksa terdapat ‘ilat yang dapat merusak keshahihan hadits tersebut”.

‘Illat adalah sebab tersembunyi yang dapat merusak keshahihan sebuah hadits.

Salah satu hal yang dapat menolong untuk mengetahui ‘illat sebuah hadits adalah bila si perawi meriwayatkan hadits itu sendiri, atau riwayat orang lain menyelisihi hadits yang ia riwayatkan, atau indikasi lainnya yang hanya diketahui oleh seorang yang ahli dalam bidang ilmu ini. Seperti terjadi keraguan atau kesamaran pada perawi . Ini dapat dilakukan baik dengan menyingkap hadits yang sebenarnya mursal, atau memarfu’kan hadits yang mauquf, atau memasukkan suatu hadits ke dalam hadits yang lain, atau pengkaburan yang serupa itu. Maka hadits seperti ini dihukumi tidak shahih.

Dan ‘illat kadang terdapat pada sanad, dan kadang terdapat pada matan, dan kadang terdapat pada keduanya secara bersamaan.

MUSHAHHAF (1)
Ulumul-Hadits halaman 252, Al-Baitsul-Hatsits halaman 170, Tadribur-Rawi halaman 384, Nudhatun-Nadhar halaman 49, dan Taisir Musthalah Hadits halaman 114

Definisi

Secara bahasa, kata mushahhaf adalah isim maf’ul dari kata At-Tashhif, yang berarti kesalahan tulis yang ada pada kitab-kitab hadits.

Sedangkan Ash-Shahafi adalah sebutan bagi perawi yang meriwayatkan hadits dengan membacakan buku, sehingga ia melakukan kesalahan karena kesulitan membedakan huruf-huruf yang mirip.

Ada yang mengatakan bahwa asal mula dinamakan dengan sebutan tersebut karena ada sekelompok orang yang mengambil ilmu dari membaca buku saja tanpa berguru, sehingga ketika mereka meriwayatkan ilmunya, mereka melakukan perubahan. Maka saat itu orang-orang berkata tentang mereka,”Qad shahafu” (= “Pantas aja demikian, mereka hanya meriwayatkan hadits dari buku saja” ). Mereka dinamakan Mushahhifuun (= orang-orang yang meriwayatkan ilmunya dari byku). Sedangkan bentuk mashdar dari kata tersebut adalah At-Tashhif.

Pembagiannya

Jika ditinjau dari tempat terjadinya kesalahan, maka hadits mushahhaf dibagi menjadi dua :

1. Tashhif dalam sanad

Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Syu’bah, dari Awwam bin Murajim Al-Qaisi, dari Abu ‘Utsman An-Nahdi. Namun Yahya bin Ma’in melakukan kesalahan dalam menyebut nama ayah dari Al-Awwam. Beliau mengatakan dengan : “..dari Al-Awwam bin Muzahim”; dengan menggunakan huruf dan yang dikasrah.

ð penulisan : Murajim (ﻢﺟﺍﺮﻣ) dan Muzaahim (ﻢﺣﺍﺰﻣ).

2. Tashhif dalam matan

Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit :
ﺪﺠﺴﻤﻟﺍ ﻲﻓ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﺮﺨﺘﺣﺇ
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuat kamar di dalam masjid.
Namun Ibnu lahi’ah melakukan kesalahan dalam meriwayatkan hadits di atas dengan menggunakan kalimat :
ﺪﺠﺴﻤﻟﺍ ﻲﻓ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﻢﺠﺘﺣﺇ
Sesungguhnya Rasulullah melakukan berkam di dalam masjid

Bila ditinjau dari sebab terjadinya kesalahan, maka hadits mushahhaf dibagi menjadi dua :

1. Tashhif Bashar (Penglihatan)

Tashhif bashar ini adalah sebab kesalahan yang sering terjadi. Sedangkan yang dimaksud dengan tashhif bashar adalah ketidakjelasan tulisan suatu hadits bagi yang membacanya. Hal ini disebabkan karena tulisannya yang jelek atau huruf-hurufnya yang tidak bertitik.

Contohnya adalah hadits yang berbunyi :

ﻝﻮﺷ ﻦﻣ ﺎﺘﺳ ﻪﻌﺒﺗﺃﻭ ﻥﺎﻀﻣﺭ ﻡﺎﺻ ﻦﻣ
Barangsiapa yang telah berpuasa Ramadlan kemudian diikuti 6 hari di bulan Syawal

Disebabkan karena ketidakjelasan tulisan maka seorang perawi meriwayatkan hadits tersebut dengan menggunakan kata syaian (ﺎﺌﻴﺷ) sebagai ganti kata yang seharusnya, yaitu sittan (ﺎﺘﺳ )..

2. Tashhif Sama’ (Pendengaran)

Tashhif ini terjadi disebabkan karena pendengaran yang lemah, jarak antara pendengar dan yang ia dengarkan sangat jauh, dan lain sebagainya. Hal ini menyebabkan sebagian kata menjadi tidak jelas bagi seorang perawi karena sebagian kata tersebut terbentuk dari pola yang sama.

Contihnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Ashim bin Al-Ahwal. Namun sebagian perawi hadits tersebut meriwayatkan dari Washil bin Al-Ahdab.

Ditinjau dari segi kata atau maknanya, maka hadits mushahhaf terbagi menjadi 2 bagian :

1. Tashhif dalam Lafal

Tashhif inilah yang banyak terjadi seperti pada contoh-contoh di atas.

2. Tashhif dalam Makna

Yang dimaksudkan dengan Tashhif ini adalah : Seorang perawi mushahhif (yang melakukan kesalahan) meriwayatkan sebuah hadits dengan menggunakan kaliamt-kalimat sesuai dengan aslinya, namun ia memberikan makna yang menunjukkan bahwa ia memahami hadits tersebut dengan pemahaman yang tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh hadits tersebut.

Contohnya adalah apa yang diucapkan oleh Abu Musa Muhammad bin Al-Mutsanna Al-‘Anzi, seorang laki-laki dari kabilah ‘Anazah. Ia berkata,”Kami adalah Kabilah ‘Anazah. Kami adalah suatu kamu yang mempunyai kemuliaan sebaba Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam shalat menghadap ke arah kami”.

Makna tersebut ia pahami dari sebuah hadits yang berbunyi,”Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam shalat menghadap ke ‘Anazah”. Maka ia memahaminya bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam shalat menghadap ke arah mereka. Padahal kata ’Anazah (huruf ‘Ain dan Nun difathah) berarti tombak kecil yang bermata dua, bentuknya persis seperti ‘Ukazah. Dimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menancapkannya di hadapan beliau sebagai pembatas (sutrah) ketika beliau shalat di tanah lapang.

Al-Hafidh Ibnu Hajar membagi hadits mushahhaf menjadi dua bagian :

Bagian pertama beliau namakan dengan sebutan Tashhif; yaitu jika perubahannya adalah merubah titik-titik yang ada pada satu atau beberapa huruf, sedangkan bentuk katanya masih berupa bentuk yang semula.

Bagian kedua beliau namakan dengan Tahrif. Sebutan ini beliau berikan pada perubahan yang terjadi pada bentuk kata. Ini adalah pembagian yang baru.

Jika seorang perawi sering melakukan Tashhif (kesalahan), maka hal ini dapat mengurangi kekuatan hafalannya. Namun apabila kadang-kadang saja ia melakukannya, maka (dimaafkan karena) mustahil orang selamat dari kesalahan.

Beberapa Buku tentang Tashhif yang Terkenal :

1. At-Tashhif Karya Al-Hafidh ‘Ali bin ‘Umar Ad-daruquthni.
2. Ishlah Khatha’ Muhadditsiin karya Imam Ahli Hadits Ahmad bin Muhammad Al-Khaththabi.
3. At-Tashhif wat-Tahrif wa Syarhu Maa Yaqa’u Fiih karya Imam Al-Hasan bin Abdillah Abu Muhammad Al-Askari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: