MAHRAM, Perkara yang Diabaikan

oleh: Al Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al Atsariyyah

Perselingkuhan dengan ipar, perzinaan dengan saudara sepupu, adalah sebagian peristiwa yang sudah banyak terjadi di sekitar kita. Mengapa terjadi demikian? Ini tak lain dikarenakan hukum syariat telah dilanggar dan diabaikan. Berduaan dengan kerabat non mahram, menampakkan aurat di depannya, dsb, merupakan perbuatan-perbuatan yang tanpa sadar sering lakukan dengan menjadikan hubungan kekerabatan sebagai tameng.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:


((لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ ثَلاَثةَ أَيَّامٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ))

“Tidak boleh seorang wanita bepergian (safar) sejauh perjalanan tiga hari kecuali bersama mahramnya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 1086, 1087 dan Muslim no. 1338)
Pernah pula beliau bersabda:


(( لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ و مَعهاَ ذُوْ مَحْرَمٍ))

“Sekali-kali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 1862 dan Muslim no. 1341)

Kata mahram yang disebutkan dalam dua sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas sering kita dengar, yang oleh kebanyakan orang di negeri kita ini disebut dengan istilah muhrim (istilah yang lebih tepat untuk menunjukkan orang yang berihram untuk haji atau umrah). Namun demikian, meski kata ini acap didengar, seringkali disebut, tetapi tidak dimengerti oleh sebagian besar orang. Terbukti, dua titah Rasul yang agung di atas jauh dari pengamalan. Entah karena tidak memahami apa itu mahram, entah karena tidak mengetahui adanya titah yang agung ini, atau mereka tahu namun tak peduli, wallahul musta’an.

Berkaitan dengan ini, syariat yang mulia menetapkan keharaman bagi seorang wanita untuk menampakkan perhiasannya kecuali di hadapan kerabatnya yang diistilahkan dengan mahram ini, karena :


(( اَلْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ ))

“Wanita itu adalah aurat.” (HR. At-Tirmidzi no. 1882. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil di atas syarat Muslim dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/36)
Namun, sekali lagi apa yang dikehendaki syariat agar wanita berhijab di hadapan laki-laki selain mahramnya banyak diabaikan oleh para muslimah dan wali-wali mereka pun tak ambil peduli.

Apakah Mahram Itu?

Mahram adalah keluarga dekat dari kalangan pria yang tidak halal baginya menikahi si wanita, seperti anak laki-laki (wanita tersebut), ayahnya, saudara laki-lakinya, pamannya, dan orang yang semisal mereka. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar, 1/373)

Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullah membawakan definisi mahram menurut para ulama, yakni laki-laki yang diharamkan menikahi si wanita selama-lamanya dengan sebab yang mubah karena hubungan mahram2. (Fathul Bari, 4/94)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Mahram adalah laki-laki yang diharamkan untuk menikahi seorang wanita (tertentu) selama-lamanya.” (Hijabul Mar’ah Al-Muslimah wa Libasuha fish Shalat, hal. 18)

Siapakah Mahram Kita?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Tanzil-Nya :

 

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوْ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي اْلإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوْ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: ‘Hendaklah mereka menundukkan pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka serta jangan menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak darinya (tidak mungkin ditutupi). Hendaklah pula mereka menutupkan kerudung mereka di atas leher-leher mereka dan jangan mereka tampakkan perhiasan mereka kecuali di hadapan suami-suami mereka, atau ayah-ayah mereka, atau ayah-ayah suami mereka (ayah mertua), atau di hadapan putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau di hadapan saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka (keponakan laki-laki), atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau di hadapan wanita-wanita mereka, atau budak yang mereka miliki, atau laki-laki yang tidak punya syahwat terhadap wanita, atau anak laki-laki yang masih kecil yang belum mengerti aurat wanita. Dan jangan pula mereka menghentakkan kaki-kaki mereka ketika berjalan di hadapan laki-laki yang bukan mahram agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan dan hendaklah kalian semua bertaubat kepada Allah, wahai kaum mukminin, semoga kalian beruntung’.” (An-Nur: 30-31)

Dalam ayat yang mulia di atas, dinyatakan bahwa selain di hadapan suami, dibolehkan pula bagi seorang wanita untuk menampakkan perhiasannya di hadapan ayahnya, ayah suaminya (ayah mertua), putranya, putra suaminya, saudara laki-lakinya, putra saudara laki-lakinya (keponakan laki-laki), atau putra saudara perempuannya. Mereka yang disebutkan ini adalah mahram bagi si wanita. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/295)

Bila dirinci, mahram-mahram yang tersebut dalam ayat di atas adalah sebagai berikut:

  • Ayah, ayahnya ayah/ibu (kakek), kakek buyut (datuk), dan seterusnya ke atas.
  • Ayahnya suami (mertua), kakek suami baik dari pihak ayah ataupun pihak ibu dan terus ke atas.
  • Anak laki-laki, cucu laki-laki baik dari anak laki-laki maupun anak perempuan, cicit laki-laki dan terus ke bawah.
  • Anak laki-laki suami, cucu laki-laki suami baik dari anak laki-lakinya maupun dari anak perempuannya, dan terus ke bawah.
  • Saudara laki-laki, baik sekandung, ataupun seayah atau seibu.
  • Anak laki-laki dari saudara laki-laki (keponakan laki-laki), anak laki-laki dari keponakan laki-laki (cucu) dan terus ke bawah.
  • Anak laki-laki dari saudara perempuan (keponakan), anak laki-laki dari keponakan tersebut (cucu) dan terus ke bawah. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 12/154)

Dengan perincian di atas berarti:

– Seorang ayah adalah mahram bagi putrinya, seorang kakek adalah mahram bagi cucu perempuannya, dst.

– Ayah mertua adalah mahram bagi istri anak laki-lakinya (menantunya), kakek mertua adalah mahram bagi istri cucu laki-lakinya, dst.

– Anak laki-laki adalah mahram bagi ibunya, cucu laki-laki adalah mahram bagi neneknya, dst.

– Anak laki-laki suami adalah mahram bagi ibu tirinya3, cucu laki-laki suami adalah mahram bagi nenek tirinya, dst.

– Saudara laki-laki adalah mahram bagi saudara perempuannya, baik yang sekandung, seayah saja ataupun seibu saja.

– Anak laki-laki dari saudara laki-laki (keponakan) adalah mahram bagi ‘ammah-nya (bibi/saudara perempuan ayah), anak laki-laki dari keponakan laki-laki (cucu keponakan) adalah mahram bagi saudara perempuan kakeknya, dst.

– Anak laki-laki dari saudara perempuan (keponakan) adalah mahram bagi khalah-nya (bibi/saudara perempuan ibu), anak laki-laki dari keponakan tersebut (cucu) mahram bagi saudara perempuan neneknya, dst.

Mahram lainnya adalah:

‘Ammi (paman/saudara laki-laki ayah) dan khal (paman/saudara laki-laki ibu) merupakan mahram bagi keponakan perempuannya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

ولا تنكحوا ما نكح آباؤكم من النساء إلا ما قد سلف, إنه كان فاحشة و مقتا و سآء سبيلا. حرمت عليكم أمهاتكم و بناتكم و أخواتكم و عماتكم و خالاتكم و بنات الأخ و بنات الأخت و أمهاتكم اللاتي أرضعنكم و أخواتكم من الرضاعة و أمهات نسائكم و ربائبكم اللاتي في حجوركم من نسائكم اللاتي دخلتم بهن فإن لم تكونوا دخلتم بهن فلا جناح عليكم و حلائل أبنائكم الذين من أصلابكم و أن تجمعوا بين الأختين إلا ما قد سلف. إن الله كان غفورا رحيما

“Janganlah kalian menikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayah-ayah kalian (ibu tiri) kecuali pada masa yang telah lampau (sebelum datangnya larangan ini) karena sesungguhnya perbuatan menikahi ibu tiri itu amatlah keji, dibenci, dan sejelek-jelek jalan yang ditempuh. Diharamkan atas kalian menikahi ibu-ibu kalian, putri-putri kalian, saudara-saudara perempuan kalian, ‘ammah kalian (bibi/saudara perempuan ayah), khalah kalian (bibi/saudara perempuan ibu), putri-putri dari saudara laki-laki kalian (keponakan perempuan), putri-putri dari saudara perempuan kalian, ibu-ibu susu kalian, saudara-saudara perempuan kalian sepersusuan, ibu mertua kalian, putri-putri dari istri kalian yang berada dalam pemeliharaan kalian dari istri yang telah kalian campuri, tetapi jika kalian belum mencampuri istri tersebut (dan sudah berpisah dengan kalian) maka tidak berdosa kalian menikahi putrinya. Diharamkan pula bagi kalian menikahi istri-istri anak kandung kalian (menantu), dan menghimpunkan dua wanita yang bersaudara dalam pernikahan, kecuali apa yang telah terjadi di masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa: 22-23)

Dalam ayat di atas, Allah mengharamkan seorang paman untuk menikahi keponakan perempuannya, sama saja baik keponakannya itu putri dari saudara laki-laki-lakinya ataupun saudara perempuannya. Ini menunjukkan bahwa paman termasuk mahram, yang menurut pendapat jumhur ulama, paman disamakan dengan mahram lain dalam kebolehan memandang perhiasan yang dikenakan seorang wanita sebatas yang dibolehkan bagi mahram lainnya. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 12/155)

Yang menguatkan hal ini adalah hadits Aflah, paman ‘Aisyah radhiallahu ‘anha karena susuan. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengabarkan:


أَنَّ أَفْلَحَ أَخَا أَبِي الْقُعَيْس جَاءَ يَسْتَأْذِنُ عَليهَا وَ هُوَ عَمُّهَا مِنَ الرَّضَاعَةِ بَعْدَ أَنْ نَزَلَ الْحِجَابِ , فَأَبَيْتُ أَنْ آذِنَ لَهُ فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللهِ صلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي صَنَعْتُ, فَأَمَرَنِي أَنْ آذِنَ لَهُ.

Aflah, saudara Abul Qu’ais pernah datang meminta izin untuk bertemu dengannya setelah turunnya perintah berhijab. Dan Aflah ini adalah paman ‘Aisyah karena susuan. ‘Aisyah berkata: ‘Aku pun menolak untuk mengizinkannya. Ketika datang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , aku ceritakan kepada beliau tentang apa yang kuperbuat, maka beliau memerintahkan aku untuk mengizinkan Aflah’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5103 dan Muslim no. 1445)

Dalam riwayat Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


((لاَ تَحْتَجِبِي مِنْهُ, فَإِتَّهُ يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ))

“Janganlah engkau berhijab darinya, karena menjadi haram dengan sebab penyusuan apa yang haram karena hubungan nasab.” (Shahih, HR. Muslim no. 1445)

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dalam hadits ini menunjukkan wajibnya wanita berhijab dari laki-laki ajnabi (non mahram) dan disyariatkan bagi mahram untuk minta izin ketika masuk menemui wanita yang merupakan mahramnya.” (Fathul Bari, 9/184)

Dalam surat An-Nisa di atas, dapat kita pahami bahwa wanita-wanita yang haram dinikahi karena hubungan mahram selain ibu, anak perempuan, saudara perempuan, ‘ammah (bibi/saudara ayah), khalah (bibi/saudara ibu) dan keponakan perempuan (putri dari saudara laki-laki/perempuan), termasuk pula ibu susu, saudara perempuan sepersusuan, ibu mertua, putri tiri (anak perempuan dari istri yang telah dicampuri) dan menantu perempuan (istri dari anak kandung). Mengenai ibu susu dan saudara sepersusuan akan dibicarakan dalam pembahasan tersendiri.
Sedangkan mengenai ibu mertua, putri istri, dan menantu perempuan sebagai berikut:

Ibu mertua dengan suami putrinya (menantu) memiliki hubungan mahram hingga ibu mertua ini haram dinikahi oleh menantu tersebut selama-lamanya dengan semata-mata dilangsungkannya akad antara si menantu dengan putri ibu tersebut, menurut pendapat jumhur ulama, sama saja apakah setelah itu istrinya ia gauli ataupun belum. Sehingga seorang lelaki bila bercerai dengan istrinya walaupun istri tersebut belum sempat ia gauli, ibu mertuanya tetap sebagai mahramnya, haram untuk dinikahinya. Diriwayatkan pendapat ini dari Ibnu Mas‘ud, ‘Imran bin Hushain, Masruq, Thawus, ‘Ikrimah, ‘Atha, Al-Hasan, Mak-hul, Ibnu Sirin, Qatadah dan Az-Zuhri. Dan ini merupakan pendapat imam yang empat dan fuqaha yang tujuh serta jumhur fuqaha yang dulu maupun yang belakangan. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/482)

Anak perempuan istri dari suami yang lain (anak tiri). Ia tidaklah haram untuk dinikahi oleh ayah tirinya hingga ayah tirinya itu telah bercampur (jima) dengan ibunya. Dengan demikian bila ayah tiri itu menceraikan ibunya sebelum bercampur (jima’) maka boleh baginya menikahi putri bekas istrinya. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/481, Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 5/70)

Istri dari anak laki-laki (menantu) dan ayah si anak laki-laki (mertua) memiliki hubungan mahram sehingga haram terjalin pernikahan antara keduanya, namun dengan ketentuan menantu itu adalah istri dari anak laki-laki kandung. Adapun bila anak tersebut adalah anak angkat maka istrinya tidaklah haram dinikahi oleh ayah angkat suaminya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


وَ مَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ

“Dan Dia tidaklah menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak-anak kandung kalian.” (Al-Ahzab: 4)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


و حلائل أبنائكم الذين من أصلابكم

Yakni Allah mengharamkan kalian menikahi istri-istri dari anak-anak laki-laki kalian yang dilahirkan dari sulbi kalian (anak kandung), sehingga dikecualikan dari larangan ini istri dari anak angkat yang dulunya di masa jahiliyyah mereka anggap sebagai anak, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


فلما قضى زيد منها وطرا زوجناكها لكيلا يكون على المؤمنين حرج في أزواج أدعيائهم إذا قضوا منهن وطرا

“Maka tatkala Zaid6 telah menyelesaikan urusannya dengan istrinya (menceraikan Zainab bintu Jahsyin, istrinya), Kami nikahkan engkau dengan Zainab agar tidak ada keberatan bagi orang-orang beriman untuk menikahi istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya dari istri-istrinya tersebut (menceraikan istri-istri tersebut).” (Al-Ahzab: 37) [Tafsir Ibnu Katsir, 1/483)]

Adakah Mahram Sementara?

Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: Ada seorang wanita tinggal bersama saudara perempuannya yang telah menikah, dan ia tidak berhijab dari iparnya. Bila ditegur karena perbuatannya itu, ia menjawab bahwa iparnya adalah mahram sementara baginya. Karena selama saudara perempuannya masih berstatus sebagai istri dari iparnya, maka tidak boleh iparnya menikahinya. Bagaimana tanggapan Syaikh terhadap hal ini?

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjawab: “Wanita ini memiliki syubhat (kerancuan) yaitu tidak boleh bagi iparnya untuk menikahinya selama saudara perempuannya masih berstatus sebagai istri dari iparnya tersebut. Dengan demikian, ia (menurut pemahaman wanita itu) merupakan mahram bagi iparnya sampai waktu tertentu. Akan tetapi pemahaman wanita ini salah karena wanita yang haram dinikahi oleh seorang lelaki hanya dalam batas waktu/ keadaan tertentu, bukanlah mahram bagi lelaki tersebut.

Pengertian mahram itu sendiri adalah wanita-wanita yang haram dinikahi seorang lelaki selama-lamanya karena hubungan nasab atau karena sebab yang mubah seperti kekerabatan yang terjalin lewat hubungan pernikahan dan lewat penyusuan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menyebutkan wanita-wanita yang haram dinikahi oleh seorang laki-laki:


ولا تنكحوا ما نكح آباؤكم من النساء إلا ما قد سلف, إنه كان فاحشة و مقتا و سآء سبيلا. حرمت عليكم أمهاتكم و بناتكم و أخواتكم و عماتكم و خالاتكم و بنات الأخ و بنات الأخت و أمهاتكم اللاتي أرضعنكم و أخواتكم من الرضاعة و أمهات نسائكم و ربائبكم اللاتي في حجوركم من نسائكم اللاتي دخلتم بهن. فإن لم تكونوا دخلتم بهن فلا جناح عليكم و حلائل أبنائكم الذين من أصلابكم و أن تجمعوا بين الأختين إلا ما قد سلف. إن الله كان غفورا رحيما﴾.

“Janganlah kalian menikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayah-ayah kalian (ibu tiri) kecuali pada masa yang telah lampau (sebelum datangnya larangan ini) karena sesungguhnya perbuatan menikahi ibu tiri itu amatlah keji, dibenci dan sejelek-jelek jalan yang ditempuh. Diharamkan atas kalian menikahi ibu-ibu kalian, putri-putri kalian, saudara-saudara perempuan kalian, ‘ammah kalian (bibi/saudara perempuan ayah), khalah kalian (bibi/ saudara perempuan ibu), putri-putri dari saudara laki-laki kalian (keponakan perempuan), putri-putri dari saudara perempuan kalian, ibu-ibu susu kalian, saudara-saudara perempuan kalian sepersusuan, ibu mertua kalian, putri-putri dari istri kalian yang berada dalam pemeliharaan kalian dari istri yang telah kalian campuri, tetapi jika kalian belum mencampuri istri tersebut (dan sudah berpisah dengan kalian), maka tidak berdosa kalian menikahi putrinya. Diharamkan pula bagi kalian menikahi istri-istri anak kandung kalian (menantu) dan menghimpunkan dalam pernikahan dua wanita yang bersaudara, kecuali apa yang telah terjadi di masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa: 22-23)

Dalam ayat di atas, Allah mengharamkan seorang laki-laki mengumpulkan dua wanita yang bersaudara sebagai istri. Dan Allah tidak mengatakan bahwa yang diharamkan adalah menikahi saudara-saudara perempuan istri (ipar), sehingga saudara perempuan istri tidaklah haram selama-lamanya bagi lelaki tersebut. (Diringkas dari Fatawa Al-Haram, 1408 H, hal. 288-292)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

——————-
Footnote:

1. Diistilahkan dengan Ahkam Ar-Radha’ (hukum-hukum penyusuan)

2. Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Yakni wajib bagi ayah si anak untuk memberikan nafkah dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf yaitu menurut kebiasaan wanita-wanita semisal mereka di negeri mereka tanpa berlebih-lebihan dan tanpa mengurangi sesuai dengan kemampuan ayah dalam kelapangannya, pertengahan hidupnya dan kesempitannya sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ مَا آتَاهَا

“Hendaklah orang yang memiliki kelapangan memberikan infak dari kelapangannya, dan siapa yang disempitkan rizkinya maka hendaklah ia menginfakkan dari apa yang Allah berikan kepadanya. Allah tidak membebani suatu jiwa kecuali sesuai dengan apa yang Allah berikan padanya.” (Ath-Thalaq: 7) (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 1/291)

3. Kemudharatan yang diderita sang ibu bisa dengan mencegahnya untuk menyusui anaknya atau si ibu tidak diberikan haknya berupa nafkah dan pakaian atau upah menyusui. (Al-Jami’ li Ahkamil Quran, 3/110, Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 104)

4. Dengan si ibu menolak untuk menyusui anaknya karena ingin memudharatkan sang ayah atau ia menuntut tambahan dari apa yang wajib diberikan kepadanya. (Al-Jami’ li Ahkamil Quran, 3/110)

5. Bila ayah si anak telah meninggal sementara anak itu tidak memiliki harta, maka ahli waris anaklah yang menanggung kewajiban seperti kewajiban sang ayah dengan memberi nafkah dan pakaian kepada ibu yang menyusui. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal.104)

6. Bila si anak disusui oleh wanita selain ibunya

7. Dan penyusuan itu membolehkan (menghalalkan) apa yang halal karena hubungan nasab (Fathul Bari, 9/170)

8. Yakni bila dari sisi nasab wanita itu haram dinikahi maka demikian pula dari hubungan penyusuan, misalnya saudara perempuan ibu (khalah) haram dinikahi oleh keponakannya, maka demikian pula saudara perempuan ibu susu , haram dinikahi oleh keponakannya karena susuan.

9. Termasuk pula ibunya ibu susu (nenek susu), neneknya ibu susu dan seterusnya ke atas.

10. Termasuk pula putrinya anak perempuan susu (cucu perempuan karena susuan) dan seterusnya ke bawah.

11. Termasuk pula cucu keponakan susu dan seterusnya ke bawah, sebagaimana ketentuan ini berlaku pada mahram karena hubungan nasab.

12. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Hamzah bin Abdil Muththalib radhiallahu ‘anhu disusui oleh ibu susu yang sama yaitu Tsuwaibah, bekas budak Abu Lahab, sehingga selain sebagai paman, Hamzah juga saudara Rasulullah sepersusuan

13. Tsuwaibah ini ibu susu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum Halimah As-Sa‘diyyah

14. Seluruh anak keturunan si anak susu ini, baik itu anaknya, cucunya dan seterusnya ke bawah adalah mahram bagi ayah dan ibu susunya.

15. Ammi di sini adalah saudara laki-laki ayah susu.

2 Responses

  1. “DITEMBAK” ADIK SEPUPU

    Ditulis oleh Farid Ma’ruf di/pada Februari 25, 2007

    Pertanyaan :

    Ass. Mas Farid aku minta tolong. Ada pertanyaan sederhana tapi aku masih ragu. Anaknya adik ibuku itu muhrim bukan? Karena aku di”tembak” dia. Bagaimana cara menolak akhwat?

    Koko; 081xxxxxxxxx

    Jawaban :

    A. DAFTAR MAHRAM

    Anaknya adik ibu, seperti yang anda maksud, biasa disebut sepupu, misan, atau cousin (bahasa Inggris). Wanita yang menjadi adik sepupu anda tidak mempunyai hubungan mahram dengan anda. Oleh karena itu, syariah membolehkan apabila anda menikah dengan adik sepupu anda.

    Daftar mahram secara ringkas adalah sebagai berikut :

    1. Mahram karena nasab
    Ibu kandung dan kaum ibu yang mempunyai hubungan nasab dengan anda, misalnya nenek, ibunya nenek, dan seterusnya, baik dari pihak ibu ataupun dari pihak bapak
    Anak wanita dan semua wanita yang memiliki hubungan nasab dengan anda, seperti : anak, cucu, anaknya cucu, dan seterusnya ke bawah.
    Saudara kandung wanita
    Bibi (saudara wanita ayah)
    Bibi (saudara wanita ibu)
    Anak wanita dari saudara laki-laki (keponakan)
    Anak wanita dari saudara wanita (keponakan)

    2. Mahram karena pernikahan
    Ibu dari istri (ibu mertua)
    Anak wanita dari istri (anak tiri)
    Istri dari anak laki-laki (menantu peremuan)
    Istri dari ayah (ibu tiri)

    3. Mahram karena penyusuan
    Ibu yang menyusui
    Ibu dari wanita yang menyusui (nenek)
    Ibu dari suami yang istrinya menyusuinya (nenek)
    Anak wanita dari ibu yang menyusui (saudara wanita sesusuan)
    Saudara wanita dari suami wanita yang menyusui
    Saudara wanita dari ibu yang menyusui.

    Selain daftar di atas, ada juga mahram yang sifatnya hanya sementara. Hanya mengharamkan menikah dengannya, tetapi tetap tidak boleh melihat auratnya maupun berduaan dengannya. Misalnya yaitu istri teman/istri orang lain.

    Sayangnya, masyarakat kita banyak yang tidak memahami hal ini. Saudara sepupu dianggap masih keluarga dekat, sehingga diperlakukan seperti saudara sendiri. Padahal sebenarnya bukan, sehingga haram bagi laki-laki dan wanita yang memiliki hubungan sepupu untuk :

    1. Berduaan (berkhalwat) jika tanpa disertai mahram

    2. Melihat auratnya

    Dalam kitab Nizhamul Ijtimai fil Islam karya Syaikh Taqiyuddin an Nabhani bab Wanita-Wanita Yang Haram Dinikahi dijelaskan sebagai berikut :

    Wanita-wanita yang haram dinikahi telah disebutkan pengharamannya dengan jelas di dalam al-Quran dan as-Sunnah. Artinya, dasar pengharamannya adalah al-Quran dan as-Sunnah. Di dalam al-Quran, Allah Swt. berfiman:

    Janganlah kalian mengawini wanita-wanita yang telah dikawin oleh bapak-bapak kalian, kecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya tindakan semacam itu amat keji, dibenci Allah, dan jalan yang paling buruk. (QS an-Nisâ’ [4]: 22)

    Diharamkan atas kalian ibu-ibu kalian; anak-anak perempuan kalian; saudara-saudara perempuan kalian; keponakan perempuan anak saudara laki-laki kalian; keponakan perempuan anak saudara perempuan kalian; mertua wanita kalian; anak-anak tiri kalian yang berada dalam pemeliharaan kalian dari istri yang telah kalian pergauli—tetapi jika kalian belum menggauli istri kalian itu (sementara ia sudah kalian cerai), maka tidak kalian tidak berdosa mengawininya; menantu perempuan istri anak kandung kalian; upaya menghimpun (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara—kecuali yang telah terjadi pada masa lampau, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang; dan para wanita yang telah bersuami, kecuali budak-budak yang kalian miliki sebagaimana ketetapan Allah atas kalian. Di luar mereka adalah halal bagi kalian. (QS an-Nisâ [4]: 23-24)

    Sementara itu, di dalam as-Sunnah terdapat riwayat dari Abû Hurayrah r.a. yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut:

    Janganlah seorang pria Muslim menghimpun seorang wanita dengan bibinya (dari pihak ibunya) atau bibinya (dari pihak bapaknya).

    ‘Aisyah r.a. juga menuturkan, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Rasulullah saw. bersabda demikian:

    Sesungguhnya persusuan itu (akan) mengharamkan apa yang telah diharamkan melalui (sebab) kelahiran.

    Dari kedua sumber di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

    § Sama sekali diharamkan menikahi ibu dan setiap wanita yang bernisbat (memiliki hubungan nasab) kepadanya melalui kelahiran, baik yang biasa disebut dengan ibu yang sebenarnya (ibu kandung) yang telah melahirkan anda, atau ibu dalam makna kiasan, yaitu wanita yang telah melahirkan ibu anda (nenek), dan begitu seterusnya. Di antara mereka adalah: kedua nenek anda, baik dari pihak ibu ataupun dari pihak bapak; kedua buyut anda, yakni nenek ibu anda dan nenek bapak anda; dan terus demikian silsilahnya hingga ke atas, baik yang mewarisi maupun yang tidak mewarisi. Semuanya disebut sebagai kaum ibu yang haram dinikahi.

    § Sama sekali diharamkan menikahi anak-anak perempuan anda dan setiap perempuan yang bernisbat (memiliki hubungan nasab) kepada anda melalui kelahiran, seperti: anak kandung perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki maupun dari anak perempuan, dan begitu terus silsilahnya hingga ke bawah, baik yang mewarisi maupun yang tidak mewarisi. Semuanya disebut sebagai anak-anak perempuan yang haram dinikahi.

    § Haram secara mutlak menikahi saudara-saudara perempuan anda dilihat dari tiga aspek: dari ibu dan bapak kandung; dari bapak (saudara perempuan sebapak); dan dari ibu (saudara perempuan seibu).

    § Haram menikahi bibi dari pihak bapak, dilihat dari tiga sisi serta saudara perempuan kakek dan seterusnya hingga ke atas; baik dari pihak ibu ataupun dari pihak bapak; baik kakek dekat ataupun kakek jauh; baik yang mewarisi ataupun yang tidak mewarisi.

    § Haram menikahi bibi dari pihak ibu dilihat dari tiga sisi, serta saudara perempuan nenek dan seterusnya hingga ke atas. Sebab, setiap nenek memiliki ibu, dan setiap saudara perempuan nenek adalah bibi yang haram dinikahi.

    § Haram menikahi keponakan perempuan anak saudara laki-laki dan setiap wanita yang bernisbat (memiliki hubungan nasab) kepada saudara laki-laki melalui kelahiran. Mereka haram dinikahi dilihat dari sisi bahwa mereka juga saudara, begitu juga keponakan perempuan anak saudara perempuan.

    § Haram menikahi ibu-ibu persusuan, yaitu mereka yang telah menyusui anda. Begitu juga ibu-ibu serta nenek-nenek mereka dan seterusnya hingga ke atas, sesuai dengan apa yang telah disebutkan dalam pertalian nasab. Setiap wanita yang telah menyusui anda berarti ibu anda. Setiap kali anda menyusu kepada seorang wanita berarti ia adalah ibu anda. Setiap kali anda menyusu kepada seorang wanita, sementara wanita tersebut menyusui pula perempuan lain, atau ia meyusui anda sementara ia sendiri sepersusuan, meskipun hanya beberapa kali menyusu, berarti ia adalah saudara perempuan anda yang haram anda nikahi.

    § Haram menikahi ibu mertua. Siapa saja yang telah menikahi seorang wanita, berarti haram atas dirinya menikahi ibunya, baik karena adanya hubungan nasab ataupun karena persusuan; baik kerabat dekat ataupun jauh, semata-mata karena adanya akad; baik anaknya telah digaulinya ataupun belum. Dalam hal ini, ‘Amr ibn Syu‘aib telah menuturkan riwayat dari bapaknya, sementara bapaknya menerimanya dari kakeknya. Disebutkan bahwa Nabi saw. bersabda sebagai berikut:

    Siapa saja yang mengawini seorang wanita, kemudian ia menjatuhkan talak kepadanya sebelum ia menggaulinya, maka tidak menjadi soal jika ia mengawini anak tiri perempuan (dari mantan istrinya itu ), tetapi tidak halal baginya mengawini ibu mantan istrinya (mantan ibu mertuanya) itu.

    § Haram menikahi anak-anak tiri perempuan istri anda yang telah anda gauli. Mereka adalah anak tiri dan tidak haram untuk dinikahi, kecuali jika ibu-ibu mereka telah anda gauli. Termasuk ke dalam golongan ini adalah setiap anak tiri perempuan dari istri, baik karena adanya hubungan darah ataupun karena hubungan persusuan; baik hubungannya dekat ataupun jauh; baik mewarisi ataupun tidak mewarisi, sesuai dengan predikatnya sebagai anak-anak perempuan. Jika ibunya telah digauli, haram atas mantan suaminya mengawini anak mantan istrinya (mantan anak tirinya), baik ia berada dalam pemeliharaannya ataupun tidak. Sebab, potongan ayat yang berbunyi demikian:

    .…yang berada dalam pemeliharaan kalian

    merupakan predikat yang diberikan sesuai dengan kegaliban faktanya, dan tidak menyimpang dari syarat-syarat yang dapat mengeluarkannya. Sebaliknya, potongan ayat yang berbunyi demikian:

    ….dari istri yang telah kalian pergauli

    inilah yang telah mengeluarkannya, yang dijelaskan dengan gamblang oleh potongan ayat berikutnya yang berbunyi:

    ….tetapi jika kalian belum bercampur dengan istri kalian itu (sementara dia sudah kalian ceraikan), maka kalian tidak berdosa jika mengawininya. (QS an-Nisâ’ [4]: 23)

    Artinya, jika seorang pria belum menggauli istrinya (yang kemudian diceraikannya), maka ia tidak diharamkan mengawini anak perempuan dari mantan istrinya (mantan anak tirinya).

    § Haram sama sekali mengawini menantu perempuan. Seorang pria haram mengawini istri dari anak laki-lakinya dan istri dari cucu laki-laki dari anak perempuannya, baik karena adanya hubungan darah ataupun karena hubungan persusuan; baik hubungannya dekat ataupun jauh, semata-mata karena akad; baik menantu perempuannya itu sudah digauli oleh anak laki-lakinya ataupun belum.

    § Haram mengawini istri-istri bapak (ibu tiri). Seorang pria haram mengawini ibu tirinya, baik hubungannya dekat ataupun jauh; mewarisi ataupun tidak mewarisi; baik karena adanya hubungan darah ataupun karena hubungan persusuan. Dalam hal ini, An-Nasâ’î menuturkan bahwa Barrâ’ ibn ‘Azib pernah berkata demikian:

    Aku pernah bertemu dengan pamanku, sementara ia sedang membawa sebuah panji. Aku lalu bertanya kepadanya, “Apa yang engkau inginkan (dengan panji itu)?” Pamanku menjawab, “Aku telah diutus oleh Rasulullah saw. menjumpai seorang pria yang telah mengawini istri bapaknya (ibu tirinya) untuk aku penggal lehernya atau aku bunuh.”

    § Haram menghimpun dua orang wanita yang bersaudara, baik karena adanya hubungan darah ataupun hubungan persusuan; baik dari kedua orang tua yang sama ataupun hanya karena satu bapak atau karena satu ibu; baik sebelum digauli ataupun sesudah digauli. Jika ia telah terlanjur mengawininya dengan akad yang sama, maka akadnya dipandang rusak (fasad).

    § Haram menghimpun seorang wanita dengan bibinya dari pihak bapak atau bibinya dari pihak ibu. Dalam hal ini, Abû Hurayrah r.a. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda sebagai berikut:

    Seorang pria tidak boleh menghimpun (untuk dikawini, pen) seorang wanita dengan bibinya dari pihak bapaknya ataupun dengan bibinya dari pihak ibunya.

    Dalam riwayat Abû Dâwud, redaksinya berbunyi demikian:

    Seorang wanita tidak dinikahi bersama dengan bibinya dari pihak bapak; tidak juga bibinya itu dinikahi bersama dengan keponakan perempuan anak saudara laki-lakinya. Seorang wanita tidak dinikahi bersama dengan bibinya dari pihak ibu; tidak juga bibinya itu dinikahi bersama dengan keponakan perempuan anak saudara wanitanya.

    § Haram mengawini wanita-wanita yang telah bersuami. Allah Swt. menyebut mereka dengan istilah muhshanât (yang terpelihara kehormatannya), karena mereka telah menjaga kehormatannya melalui pernikahan.

    § Haram menikahi wanita-wanita karena adanya hubungan persusuan sebagaimana haramnya mengawini wanita-wanita karena adanya hubungan darah. Setiap wanita yang haram dinikahi karena adanya hubungan darah, maka haram pula dinikahi karena adanya hubungan persusuan. Mereka adalah ibu, anak perempuan, saudara perempuan, bibi (baik dari pihak bapak maupun dari pihak ibu), keponakan perempuan anak saudara laki-laki, dan keponakan perempuan anak saudara perempuan. Semua itu dijelaskan secara gamblang dalam kaitannya dengan adanya hubungan darah. Nabi saw. bersabda:

    Keharaman (wanita-wanita untuk dinikahi) karena faktor hubungan persusuan adalah sama dengan keharaman karena faktor hubungan darah.

    Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Nabi saw. bersabda demikian:

    Persusuan mengharamkan apa yang diharamkan karena faktor kelahiran.

    Sementara itu, ‘Aisyah r.a. bertutur sebagai berikut:

    Sungguh beruntung saudara Abû al-Qâ‘îs yang telah meminta izin kepadaku setelah turunnya ayat mengenai hijab. Aku berkata kepadanya, “Demi Allah, tidak ada izin baginya hingga aku meminta izin kepada Raulullah saw., karena sesungguhnya saudara Abû Qâ‘îs bukanlah saudara sepersusuanku. Istrinyalah yang telah menyusuiku.” Rasulullah saw. kemudian masuk ke kamarku. Aku lalu berkata kepadanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya pria itu bukan saudara sepersusuanku. Istrinyalah yang telah menyusuiku.” Mendengar itu beliau berkata, “Izinkanlah dia karena dia adalah pamanmu. Semoga engkau memperoleh kebahagiaan.”

    Faktor yang mengharamkan dalam persusuan adalah air susu itu sendiri. Pemilik air susu (shâhib al-laban) yang telah menyusui seseorang, menjadi haram bagi orang yang disusuinya, begitu pula orang-orang yang telah menyusu kepadanya. Keharaman ini berlaku baik pemilik air susu itu pria atau wanita, baik orang yang menyusu itu anaknya sendiri ataupun bukan. Dari sini bisa disimpulkan bahwa, seseorang boleh mengawini wanita yang menjadi saudara dari saudara sepersusuannya, tetapi ia tidak boleh mengawini saudara sepersusuannya, baik pria ataupun wanita. Jika seseorang telah disusui oleh seorang wanita, maka wanita itu telah menjadi ibunya karena faktor persusuan, dan suami wanita itu telah menjadi bapaknya, juga karena faktor persusuan. Anak-anaknya pun merupakan saudara-saudara sepersusuan baginya. Akan tetapi, saudara perempuan dari orang yang telah disusui tadi bukan merupakan saudara bagi saudara-saudaranya yang sepersusuan. Dengan demikian, bagi mereka (saudara sepersusuannya) boleh mengawini saudara perempuannya, karena faktor yang mengharamkannya adalah air susu, bukan yang lain.

    Itulah wanita-wanita yang haram dinikahi. Wanita-wanita selain mereka tidak haram untuk dinikahi, sebagaimana firman Allah Swt.:

    Dihalalkan bagi kalian selain dari mereka. (QS an-Nisâ’ [4]: 24)

    Dalam konteks ini, dikecualikan wanita-wanita yang telah dijelaskan keharamannya, yaitu wanita dari golongan musyrik dan wanita yang telah bersuami.

    Yogyakarta, 25 Februari 2007
    Tim Konsultan Syariah Publications; Farid Ma’ruf

    Publikasi : http://www.syariahpublications.com

    sumber: http://konsultasi.wordpress.com/2007/02/25/“ditembak”-adik-sepupu/

  2. Sumber : http://groups.google.co.uk/group/RantauNet/browse_thread/thread/89b9cfc6473aa51c?hl=en&ie=UTF-8

    Aassalamu’alaykum wr.wb

    Mohon maaf saudara sepupu memang bukan termasuk mahram, terima kasih
    kepada akhi Muhammad Ridha atas koreksinya

    Untuk melengkapinya, ada artikel tanya jawab .

    Wassalamu’alaykum wr.wb

    Arnoldison

    Apakah Sepupu Mahram?
    Selasa, 8 Agu 06 15:53 WIB Kirim Pertanyaan
    Assalamualaikum wr. wb.

    Ustadz yang dimuliakan Allah, saya seorang akhwat, ingin bertanya,
    apakah sepupu dari bapak (keponakan bapak) termasuk muhrim saya?
    Bisakah sepupu tersebut menjadi wali nikah saya? Sebenarnya, siapa
    saja laki-laki yang termasuk muhrim wanita? Mohon disertakan
    dalilnya.

    Jazakumullah khair atas jawabannya.

    Wassalamualaikum wr. wb.

    Ari Tri Wahyuni
    ariku at eramuslim.com

    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Yang benar penyebutannya bukan muhrim tetapi mahram. Sedangkan makna
    muhrim adalah orang yang sedang melakukan ibadah umrah. Mahram
    adalah hubungan yang mengharamkan terjadinya pernikahan antara laki-
    laki dan wanita.

    Saudara sepupu bukan termasuk mahram, sehingga sangat mungkin untuk
    terjadinya pernikahan yang sah antara laki-laki dan wanita yang
    hubungannya saudara sepupu. Kalau kita perhatian daftar mahram di
    bawah ini, hubungan saudara sepupu tidak termasuk yang mahram.

    Siapa Saja Mahram

    Ada dua jenis kemahraman. Pertama, kemahraman yang bersifat abadi
    dan t idak pernah berubah. Kedua, kemahraman yang bersifat
    sementara, bisa berubah menjadi tidak mahram.

    Jenis yang pertama, yaitu yang kemahraman yang bersifat abadi bisa
    terjadi karena tiga hal. Yaitu hubungan nasab, hubungan karena
    pernikahan dan persusuan.

    Di antara hubungan mahram yang abadi karena nasab adalah hubungan
    seorang laki-laki dengan:

    Ibunya atau neneknya dan terus ke atas
    Anak perempuannya dan terus ke cucu perempuannya ke bawah
    Saudari perempuannya
    Bibinya dari pihak ayah
    Bibinya dari pihak ibu
    Anak wanita dari saudara laki-lakinya
    Anak wanita dari saudara perempuannya
    Sedangkan mahram yang abadi karena adanya pernikahan adalah hubungan
    antara seorang laki-laki dengan:

    Ibu dari isterinya (mertua wanita)
    Anak wanita dari isterinya (anak tiri)
    Isteri dari anak laki-lakinya (menantu peremuan)
    Isteri dari ayahnya (ibu tiri)
    Dan mahram yang abadi karena adanya hubungan persususuan adalah
    hubungan antara seorang laki-laki dengan:

    Ibu yang menyusuinya
    Ibu dari wanita yang menyusui (nenek)
    Ibu dari suami yang isterinya menyusuinya (nenek juga)
    Anak wanita dari ibu yang menyusui (saudara wanita sesusuan)
    Saudara wanita dari suami wanita yang menyusui
    Saudara wanita dari ibu yang menyusui.
    Di luar di luar dari hubungan mahram yang bersifat abadi, masih ada
    jenis mahram yang kedua, yaitu kemahraman yang tidak abadi. Jadi
    keharaman untuk terjadinya pernikahan hanya untuk sementara waktu
    saja, tapi karena keadaan tertentu, keharamannya menjadi hilang
    berganti menjadi boleh untuk terjadinya pernikahan.

    Di antaranya adalah hubungan seorang laki-laki dengan:

    Saudari perempuan isterinya, atau yang dikenal dengan adik/kakak
    ipar. Bila isteri wafat atau dicerai, maka mantan ipar bisa jadi
    isteri.
    Isteri orang lain, hukumnya haram dinikahi. Tetapi bila suaminya
    wafat atau wanita itu dicerai suaminya dan telah habis iddahnya,
    maka wanita itu boleh dinikahi
    Mantan isteri yang ketika cerai dengan metode talak tiga. Hukumnya
    haram dinikahi, tetapi bila mantan isteri itu pernah menikah dengan
    laki-laki lain dan telah terjadi dukhul, lalu dicerai suaminya dan
    telah habis masa iddahnya, hukumnya kembali lagi boleh dinikahi
    Dan masih banyak lagi contoh lainnya.
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi
    wabarakatuh,

    Ahmad Sarwat, Lc

    Sumber : http://groups.google.co.uk/group/RantauNet/browse_thread/thread/89b9cfc6473aa51c?hl=en&ie=UTF-8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: