Menyusun Shaff dalam Sholat

Di bawah ini sedikit disebutkan hadits-hadits yang berkaitan dengan SHAF yang terbagi pada poin-poin secara ringkas :

1. Menyusun shaf

Hadits dari Abu Mas’ud, dari Nabi ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ diriwayatkan bahwa beliau ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ bersabda :

“Hendaklah yang ada di belakangku (shaf pertama bagian tengah) adalah kalangan orang dewasa yang berilmu. Kemudian diikuti oleh mereka yang lebih rendah keilmuannya. Kemudian diikuti lagi oleh kalangan yang lebih rendah keilmuannya” (HR. Muslim no. 433).

Hadits ini mengandung faedah bahwa menyusun shaf sesuai dengan urutan keutamaan di belakang imam. Hendaknya di belakang imam adalah orang-orang yang lebih faqih di bidang agama dan lebih bagus hafalan/ bacaannya dalam Al-Qur’an dibandingkan yang lain; sebagaimana imam dipilih berdasarkan yang demikian. Hal tersebut mengandung hikmah bahwa bila sewaktu-waktu imam lupa/salah dalam bacaan Al-Qur’an, makmum dapat mengingatkannya. Atau sewaktu-waktu imam ada udzur syar’i (misal batal, sakit, dan lain-lain) sehingga imam tidak bisa meneruskan shalatnya, maka orang yang di belakangnyalah yang akan maju menggantikan dan meneruskan imam sebelumnya memimpin shalat berjama’ah.

2. Meluruskan dan merapatkan shaf

Dalam Shahih Muslim diceritakan bahwa Rasulullah ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ meluruskan shaf-shaf kami (para shahabat) seolah-olah beliau meluruskan ‘qadah’ (= kayu untuk anak panah ketika dipahat dan diasah menjadi anak panah), sehingga beliau ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ yakin bahwa kami telah menyadari kewajiban kami (untuk meluruskan shaf). Suatu hari, ketika beliau ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ sudah hendak takbir, tiba-tiba beliau ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ melihat ada salah seorang diantara kami membusungkan dadanya ke depan melebihi shaf. Maka beliau ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ bersabda :

“Hendaknya kalian meluruskan shaf-shaf kalian, kalau tidak Allah akan menjadikan wajah-wajah kalian saling berselisih” (HR. Muslim no. 436).

Rasulullah ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ bersabda :

“Luruskan shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf-shaf termasuk menegakkan shalat (berjama’ah)”; dan dalam lafadh lain : “karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan shalat (berjama’ah)” (HR. Bukhari no. 723 dan Muslim no. 433).

Hadits An-Nu’man bin Basyir ﻪﻨﻋﷲﺍﻲﺿﺭ : Rasulullah ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ menghadap ke arah jama’ah shalat dan bersabda :

“Tegakkanlah shaf kalian, tegakkanlah shaf kalian, tegakkanlah shaf kalian. Demi Allah, bila kalian tidak menegakkan shaf kalian, maka Allah akan mencerai-beraikan hati kalian”.
An-Nu’man ﻪﻨﻋﷲﺍﻲﺿﺭ berkata : “Aku saksikan sendiri, masing-masing diantara kami saling menempelkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya” (HR. Abu Dawud no. 662 dengan sanad shahih)

Hadits di atas mengandung faedah diantaranya :

– Disunnahkannya meluruskan shaf dalam shalat berjama’ah, bahkan banyak di antara ulama yang mengatakannya wajib. Hendaknya para jama’ah benar-benar memperhatikannya dengan memperhatikan kanan kirinya, mengatur diri, dan saling mengingatkan jama’ah lain, sehingga shaf dapat menjadi benar-benar lurus dari awal shalat sampai akhirnya.

– Termasuk juga kesempurnaan shaf shalat berjama’ah adalah dengan merapatkannya dengan tidak membiarkan ruang-ruang yang longgar/sela antar jama’ah. Caranya adalah dengan menempelkan nahu dengan bahu dan mata kaki dengan mata kaki antar jama’ah/makmum. Jangan ada perasaan risih karena tertempelnya badan saudara kita dengan badan kita.

– Hendaknya imam memperhatikan keadaan para jama’ahnya dengan selalu mengingatkan agar shaf selalu lurus dan rapat. Tidak cukup imam hanya berkata [sawwuu shufuufakum dst. “………ﻢﻜﻓﻮﻔﺻ ﺍﻭﻮﺳ”]. Tapi harus diikuti dengan mengingatkan dan memeriksa keadaan shaf jama’ahnya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ. Karena…… imam bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya (yaitu jama’ah/makmum). Rasulullah ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ bersabda :

“Setiap dari kamu adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Sangat dianjurkan menyambung shaf dan mengisi shaf yang lowong.

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu mendoakan orang-orang yang menyambung shaf dalam shalat. Siapa saja yang mengisi bagian shaf yang lowong, akan diangkat derajatnya oleh Allah satu tingkat” (HR. Ibnu Majah no. 995; shahih lighairihi).

4. Berdirinya makmum sendirian di belakang shaf dapat menyebabkan shalatnya (si makmum tersebut) tidak sah.

Dari Hadits Ali bin Syaiban ﻪﻨﻋﷲﺍﻲﺿﺭ bahwasannya Rasulullah ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ pernah melihat seorang laki-laki shalat bermakmum di belakang shaf, maka beliau ﻢﻟﺳﻭ ﻪﻳﻟﻋ ﷲﺍﻰﻟﺻ berhenti sampai laki-laki itu selesai shalat. Selanjutnya beliau ﻢﻟﺳﻭ ﻪﻳﻟﻋ ﷲﺍﻰﻟﺻ bersabda :

“Ulangi kembali shalatmu. Tidak sah shalat seorang yang yang bermakmum sendirian di belakang shaf” (HR. Ahmad 4/23 dan Ibnu Majah no. 1003; dengan sanad shahih).

Para ulama berbeda pendapat mengenai tentang permasalahan ini. Namun yang rajih, insya allah, adalah pendapat yang mengatakan : “shalat tersebut tidak sah tanpa adanya udzur syar’i”. Misalnya, bila shaf di depannya masih longgar atau tidak rapat sedangkan dia memilih bermakmum sendirian di belakang shaf tersebut, maka shalatnya tidak sah (karena dia masih memungkinkan untuk mengisi kelowongan atau kelonggaran shaf di depannya tersebut). Namun bila shaf di depannya telah penuh dan rapat sehingga tidak mungkin dia masuk mengisi di antara shaf-shaf tersebut, maka shalatnya tetap sah. Wallaahu a’lam.

Sebagai rujukan untuk muraja’ah, dapat dilihat kitab-kitab sebagai berikut : Al-Mughni (Ibnu Qudamah) 3/49, Nailul-Authar (Asy-Syaukani) 2/429, Subulus-Salam (Ash-Shan’ani) 3/101-111, dan Syarhul-Mumti’ (Al-‘Utsaimin).

5. Menghindari tiang atau sesuatu lain dalam shaf (yang akan memutus kebersambungan shaf).

Dari Qurrah bin Iyas ﻪﻨﻋﷲﺍﻲﺿﺭ, ia berkata :

“Kami dilarang untuk berbaris di antara tiang-tiang di jaman Rasulullah dan kami menyingkir darinya” (HR. Ath-Thayalisi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Majah, dan lain-lain; dengan sanad shahih).

Dari Abdul Hamid bin Mahmud berkata :

“Aku shalat bersama Anas bin Malik pada hari Jum’at, kami terdesak (berbaris) pada tiang-tiang. Sebagian dari kami maju dan sebagian lagi mundur. Maka Anas berkata : ‘Kami menghindari ini di jaman Rasulullah ﻢﻟﺳﻭ ﻪﻳﻟﻋ ﷲﺍﻰﻟﺻ” (HR. Ibnu Khuzaimah, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lain-lain; dengan sanad shahih).

Hadits menunjukkan bahwa shaf sebaiknya menghindari jalur yang ada tiangnya, karena hal itu dapat memutuskan shaf. Hal ini dilakukan apabila memungkinkan, yaitu masjidnya luas. Namun apabila sempit, menurut para ulama, tidak apa-apa insya Allah.

Marilah kita membiasakan diri dan ‘memakmurkan’ sunnah-sunnah Rasulullah ﻢﻟﺳﻭﻪﻳﻟﻋ ﷲﺍﻰﻟﺻ.

“Aku tidak bermaksud (kecuali) mendatangkan perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali” (QS. Huud : 88).

4 Responses

  1. Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh

    ‘Afwan akh,…. tulisan di atas ada sedikit koreksi dan perbaikan. Kemarin ana sempat buka-buka file dan coba mencocokkan dengan kitab haditsnya. Nah, ini hasil koreksiannya :

    ===============

    Di bawah ini sedikit disebutkan hadits-hadits yang berkaitan dengan SHAF yang terbagi pada poin-poin secara ringkas :

    1. Menyusun shaf

    Hadits dari Abu Mas’ud, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam diriwayatkan bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

    ليلني منكم أولو الأحلام والنهى ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

    “Hendaklah yang ada di belakangku (shaf pertama bagian tengah belakang imam) adalah kalangan orang dewasa yang berilmu. Kemudian diikuti oleh mereka yang lebih rendah keilmuannya. Kemudian diikuti lagi oleh kalangan yang lebih rendah keilmuannya” [HR. Muslim no. 432].

    Hadits ini mengandung faedah bahwa menyusun shaf sesuai dengan urutan keutamaan di belakang imam. Hendaknya di belakang imam adalah orang-orang yang lebih faqih di bidang agama dan lebih bagus hafalan/ bacaannya dalam Al-Qur’an dibandingkan yang lain; sebagaimana imam dipilih berdasarkan yang demikian. Hal tersebut mengandung hikmah bahwa bila sewaktu-waktu imam lupa/salah dalam bacaan Al-Qur’an, makmum dapat mengingatkannya. Atau sewaktu-waktu imam ada udzur syar’i (misal batal, sakit, dan lain-lain) sehingga imam tidak bisa meneruskan shalatnya, maka orang yang di belakangnyalah yang akan maju menggantikan dan meneruskan imam sebelumnya memimpin shalat berjama’ah.

    2. Meluruskan dan merapatkan shaf

    Di sini ada beberapa hadits yang menjelaskannya, diantaranya :

     Hadist An-Nu’man bin Basyir radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

    كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يسوي صفوفنا حتى كأنما يسوي بها القداح حتى رأى أنا قد عقلنا عنه ثم خرج يوما فقام حتى كاد يكبر فرأى رجلا باديا صدره من الصف فقال عباد الله لتسون صفوفكم أو ليخالفن الله بين وجوهكم

    Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam meluruskan shaf-shaf kami (para shahabat) seolah-olah beliau meluruskan ‘qadah’ sehingga beliau yakin bahwa kami telah menyadari kewajiban kami (untuk meluruskan shaf). Suatu hari, ketika beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam sudah hendak takbir, tiba-tiba beliau melihat salah seorang diantara kami membusungkan dadanya ke depan melebihi shaf. Maka beliau bersabda : “Hendaknya kalian meluruskan shaf-shaf kalian, kalau tidak Allah akan menjadikan wajah-wajah kalian saling berselisih” [HR. Muslim no. 436].

     Hadits Anas bin Malik, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasalam :

    سووا صفوفكم فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة. (وفي لفظ : فإن تسوية الصف من تمام الصلاة)

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf-shaf termasuk menegakkan shalat (berjama’ah)”. Dan dalam lafadh lain : “…karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan shalat (berjama’ah)” [HR. Bukhari no. 690 dan Muslim no. 433].

     Hadits An-Nu’man bin Basyir radliyallaahu ‘anhu ia berkata :

    أقبل رسول الله صلى الله عليه وسلم على الناس بوجهه فقال أقيموا صفوفكم ثلاثا والله لتقيمن صفوفكم أو ليخالفن الله بين قلوبكم قال فرأيت الرجل يلزق منكبه بمنكب صاحبه وركبته بركبة صاحبه وكعبه بكعبه

    Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam pernah menghadap ke arah jama’ah shalat dan bersabda : “Tegakkanlah shaf kalian, tegakkanlah shaf kalian, tegakkanlah shaf kalian. Demi Allah, bila kalian tidak menegakkan shaf kalian, maka Allah akan mencerai-beraikan hati kalian”. An-Nu’man berkata : “Aku saksikan sendiri, masing-masing diantara kami saling menempelkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya” (HR. Abu Dawud no. 662 dengan sanad shahih)

    Hadits di atas mengandung faedah diantaranya :

    – Disunnahkannya meluruskan shaf dalam shalat berjama’ah, bahkan banyak di antara ulama yang mengatakannya wajib. Hendaknya para jama’ah benar-benar memperhatikannya dengan memperhatikan kanan kirinya, mengatur diri, dan saling mengingatkan jama’ah lain, sehingga shaf dapat menjadi benar-benar lurus dari awal shalat sampai akhirnya.

    – Termasuk juga kesempurnaan shaf shalat berjama’ah adalah dengan merapatkannya dengan tidak membiarkan ruang-ruang yang longgar/sela antar jama’ah. Caranya adalah dengan menempelkan bahu dengan bahu dan mata kaki dengan mata kaki antar jama’ah/makmum. Jangan ada perasaan risih karena tertempelnya badan saudara kita dengan badan kita. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

    خياركم ألينكم مناكب في الصلاة

    “Sebaik-baik kalian adalah yang mempunyai bahu paling lembut di dalam shalat” [HR. Abu Dawud no. 623; shahih lighairihi].

    Maksud hadits ini adalah bahwa salah satu katagori orang yang paling baik adalah orang yang ketika berada di dalam shaff, kemudian ada orang lain yang memegang bahunya untuk menyempurnakan (merapatkan dan meluruskan) shaff, ia akan tunduk dengan hati yang ikhlash lagi lapang tanpa ada pembangkangan [lihat selengkapnya dalam Badzlul-Majhud 4/338 dan Ma’alimus-Sunan 1/184].

    – Hendaknya imam memperhatikan keadaan para jama’ahnya dengan selalu mengingatkan agar shaf selalu lurus dan rapat. Tidak cukup imam hanya berkata [sawwuu shufuufakum dst. “سووا صفوفكم…… ]. Tapi harus diikuti dengan mengingatkan dan memeriksa keadaan shaf jama’ahnya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Imam bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya (yaitu jama’ah/makmum). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

    كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته الإمام راع ومسؤول عن رعيته

    “Setiap dari kamu adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Dan seorang imam adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang kepemimpinannya” (HR. Bukhari no. 853).

    3. Sangat dianjurkan menyambung shaf dan mengisi shaf yang lowong.

    إن الله وملائكته يصلون على الذين يصلون الصفوف ومن سد فرجة رفعه الله بها درجة

    “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu mendoakan orang-orang yang menyambung shaf-shaf dalam shalat. Siapa saja yang mengisi bagian shaf yang lowong, akan diangkat derajatnya oleh Allah satu tingkat” (HR. Ibnu Majah no. 995; shahih lighairihi).

    4. Berdirinya makmum sendirian di belakang shaf dapat menyebabkan shalatnya (si makmum tersebut) tidak sah.

    Dari Hadits Ali bin Syaiban radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seorang laki-laki shalat bermakmum di belakang shaf, maka beliau berhenti sampai laki-laki itu selesai shalat. Selanjutnya beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

    استقبل صلاتك فلا صلاة لرجل فرد خلف الصف

    “Ulangi kembali shalatmu. Tidak sah shalat seorang yang yang bermakmum sendirian di belakang shaf” (HR. Ahmad 4/23 no. 16340 dan Ibnu Majah no. 1003; dengan sanad shahih).

    Para ulama berbeda pendapat mengenai tentang permasalahan ini. Namun yang rajih, insya allah, adalah pendapat yang mengatakan : “shalat tersebut tidak sah tanpa adanya udzur syar’i”. Maksudnya : Bila shaf di depannya masih longgar atau tidak rapat sedangkan dia memilih bermakmum sendirian di belakang shaf tersebut, maka shalatnya tidak sah (karena dia masih memungkinkan untuk mengisi kelowongan atau kelonggaran shaf di depannya tersebut). Namun bila shaf di depannya telah penuh dan rapat sehingga tidak mungkin dia masuk mengisi di antara shaf-shaf tersebut, maka shalatnya tetap sah. Wallaahu a’lam.

    Sebagai rujukan untuk muraja’ah, dapat dilihat kitab-kitab sebagai berikut : Al-Mughni (Ibnu Qudamah) 3/49, Nailul-Authar (Asy-Syaukani) 2/429, Subulus-Salam (Ash-Shan’ani) 3/101-111, dan Syarhul-Mumti’ (Al-‘Utsaimin).

    5. Menghindari tiang atau sesuatu lain dalam shaf (yang akan memutus kebersambungan shaf).

    Dari Qurrah bin Iyas radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

    كنا ننهى أن نصف بين السواري على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ونطرد عنها طردا

    “Kami dilarang untuk berbaris di antara tiang-tiang di jaman Rasulullah dan kami menyingkir darinya” (HR. Ibnu Majah no. 1002, Ibnu Khuzaimah no. 1567, dan Ibnu Hibban no. 2219; dengan sanad shahih).

    Dari Abdul Hamid bin Mahmud berkata :

    صليت مع أنس بن مالك يوم الجمعة فدفعنا إلى السواري فتقدمنا وتأخرنا فقال أنس كنا نتقي هذا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم

    “Aku shalat bersama Anas bin Malik, dan kami terdesak (berbaris) pada tiang-tiang masjid. Sebagian di antara kami ada yang maju dan ada pula yang mundur. Maka Anas berkata : ‘Kami menghindari ini di jaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam” (HR. Abu Dawud no. 673, Ibnu Khuzaimah no. 1568, Ibnu Hibban no. 2218, dan lain-lain; dengan sanad shahih).

    Hadits menunjukkan bahwa shaf sebaiknya menghindari jalur yang ada tiangnya, karena hal itu dapat memutuskan shaf. Hal ini dilakukan apabila memungkinkan, yaitu masjidnya luas. Namun apabila sempit, menurut para ulama, tidak apa-apa insya Allah.

    Marilah kita membiasakan diri dan ‘memakmurkan’ sunnah-sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

    إِنْ أُرِيدُ إِلاّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِيَ إِلاّ بِاللّهِ عَلَيْهِ تَوَكّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

    “Aku tidak bermaksud (kecuali) mendatangkan perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali” (QS. Huud : 88).

    Abu Al-Jauzaa’ 1429 H.

  2. jazakallahu khoir atas koreksinya akhi.

  3. assalaamu’alaikum…
    afwan akh.., ada yang ingin ana tanyakan seputar shof dalam sholat berjama’ah..
    Apabila seorang yang ingin membentuk shof baru di barisan belakang, maka yang sesuai dengan sunnah itu dimulai dari sebelah mana?, dari tengah atau dari sisi sebelah kanan..
    mohon penjelasannya..
    mohon disertakan dalil yang lebih kuat yang menerangkan masalah ini..
    jazakumullohu khoiron katsiiroo..

  4. #Fahmi Abu Muhammad
    Yang benar adalah dari tengah, lalu menepi. Kemudian meluruskan.

    Dalilnya seperti di atas:
    Hadits dari Abu Mas’ud, dari Nabi ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ diriwayatkan bahwa beliau ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ bersabda :
    “Hendaklah yang ada di belakangku (shaf pertama bagian tengah) adalah kalangan orang dewasa yang berilmu. Kemudian diikuti oleh mereka yang lebih rendah keilmuannya. Kemudian diikuti lagi oleh kalangan yang lebih rendah keilmuannya” (HR. Muslim no. 433).

    Kalau ingin hadits yang lainnya, silakan buka Artikel ini, gambar nomor 2.

    wallahu’alam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: