Keutamaan Shalawat Nariyyah

Keutamaan Shalawat Nariyyah

Tanya : Mohon dijelaskan apa keutamaan membaca shalawat nariyyah. Terima kasih.

Jawab : Tidak diragukan lagi bahwa membaca shalawat mempunyai keutamaan yang sangat besar di sisi Allah. Allah telah berfirman :

إِنّ اللّهَ وَمَلاَئِكَـتَهُ يُصَلّونَ عَلَى النّبِيّ يَأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ صَلّواْ عَلَيْهِ وَسَلّمُواْ تَسْلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya “ (QS. Al-Ahzab : 56).

Ibnu Katsir rahimahullah dalam menjelaskan maksud ayat di atas berkata bahwa Allah ta’ala mengabarkan kepada para hambanya tentang kedudukan hamba dan nabi-Nya di sisi makhluk-Nya yang tinggi. Dimana Allah ta’ala memujinya di hadapan para malaikat yang dekat, dan para malaikat pun bershalawat kepadanya. Kemudian (Allah ta’ala) memerintahkan penduduk jagad raya bagian bawah (penduduk bumi) agar bershalawat dan mengucapkan salam atasnya, sehingga berkumpul segala pujian atasnya dari dua penghuni alam jagad raya yang di atas dan yang di bawah (Tafsir Ibnu Katsir 3/508).

Selain itu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melalui lisannya yang mulia juga telah menjelaskan :

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً وَاحدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ صَلَوَات وَحطَُّتْ عَنْهُ عَشْرَ خَطِيْئَات وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرَ دَرَجَات

”Barangsiapa yang bershalawat kepadaku dengan satu shalawat hatinya, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali dengan shalawat yang diucapkannya itu, menghapus darinya sepuluh kejelekan, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan” (HR. Nasa’i no. 1297 dalam Ash-Shughra dari Anas bin Malik radliyallaahu ’anhu; shahih).

لا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلا تَجْعَلُوا قَبْريْ عيْدًا وَصَلُّوا عَلَىَّ فَإنَّ صَلاتَكُمْ تَبْلُغُني حَيْثُ كُنْتُمْ

“Jangan kalian menjadikan kuburanku sebagai (tempat) hari raya dan jangan kalian jadikan rumah kalian sebagai kuburan. Dan bershalawatlah kepadaku dimanapun kalian berada karena sesungguhnya shalawat kalian (itu) sampai kepadaku “ (HR Abu Dawud no. 2042; shahih).

Karena shalawat merupakan ibadah, maka segala sesuatunya harus berdasarkan contoh dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Adapun shalawat nariyyah yang Saudara tanyakan, lafadhnya kurang lebih adalah sebagai berikut :

اللَّهُمَّ صَلِّي صَلاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُ بِهِ اْلعُقََدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ اْلكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ اْلحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ اْلرَّغَائِبُ وَحُسْنُ اْلخَوَاتِيْمِ وَيَسْتَسْقَى اْلغَمَامُ بِوَجْهِهِ اْلكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ كلِّ مُعْلُوْمٍ لَكَ

“Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk penghulu kami Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, dan semoga pula dilimpahkan untuk segenap keluarga, dan shahabatnya sebanyak hitungan setiap yang Engkau ketahui “.

Disebutkan oleh beberapa orang bahwa dengan membaca shalawat ini sebanyak 4444 kali, maka segala kesusahan akan dihilangkan dan segala hajat akan dikabulkan. Ada dua sisi yang perlu dikomentari mengenai shalawat nariyyah ini.

Pertama; Perlu Saudara ketahui bahwa shalawat ini bukanlah berasal dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Shalawat ini adalah buatan manusia yang sama sekali tidak ditunjang dengan dalil. Atas dasar ini, maka shalawat ini adalah shalawat bid’ah yang sudah selayaknya untuk ditinggalkan. Otomatis, segala keutamaan yang dinisbatkan kepada shalawat ini adalah tidak benar.

Kedua; Kandungan shalawat nariyyah ini mengandung kesyirikan. Aqidah tauhid yang kepadanya Al-Qur’an menyeru, dan yang dengannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita, menegaskan kepada setiap muslim agar meyakini bahwa hanya Allah ta’ala semata yang kuasa mengurai segala ikatan. Yang menghilangkan segala kesedihan. Yang memenuhi segala kebutuhan dan memberi apa yang diminta manusia ketika berdoa. Setiap muslim tidak boleh berdoa dan memohon kepada selain Allah ta’ala untuk menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya, bahkan meski yang dimintanya adalah seorang malaikat yang diutus atau nabi yang dekat (kepada Allah ta’ala). Al-Qur’an mengingkari berdoa kepada selain Allah ta’ala, baik kepada rasul atau wali. Allah ta’ala berfirman :

قُلِ ادْعُواْ الّذِينَ زَعَمْتُم مّن دُونِهِ فَلاَ يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضّرّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحْوِيلاً * أُولَـَئِكَ الّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىَ رَبّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنّ عَذَابَ رَبّكَ كَانَ مَحْذُوراً

“Katakanlah,’Panggilah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharap rahmat-Nya dan takut akan siksa-Nya; sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti”. (QS. Al-Israa’ : 56-57).

Para ahli tafsir mengatakan, ayat di atas turun sehubungan dengan sekelompok orang yang berdoa dan meminta kepada Isa Al-Masih, malaikat, dan hamba-hamba Allah yang shalih dari jenis makhluk jin.

Bagaimana mungkin Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam akan rela, jika dikatakan bahwa beliau dikatakan kuasa menguraikan segala ikatan dan menghilangkan segala kesedihan. Padahal Al-Qur’an turun menyeru kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk memaklumkan :

قُل لاّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً إِلاّ مَا شَآءَ اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسّنِيَ السّوَءُ إِنْ أَنَاْ إِلاّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah : ‘Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudlaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudlaratan. Aku tidak lain hanya pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman “ (QS. Al-A’raf : 188).

أَنَّ رَجُلا أَتَى النَّبيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ في بَعْضِ اْلأَمْرِ فَقَالَ مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ فَقَالَ النَّبيُّ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَجَعَلْتَنِي للهِ عَدْلا قلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, lalu ia berkata kepada beliau,”Atas kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Apakah engkau menjadikan aku sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah? Katakanlah : Hanya atas kehendak Allah semata “(HR. Nasa’i dalam Al-Kubraa no. 1085; dengan sanad hasan).

Apabila hal ini dimaksudkan sebagai tawassul terhadap diri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau telah wafat, maka tawasul seperti ini tidak dapat dibenarkan 1. Tidak pernah diriwayatkan satu atsar shahih pun dari para shahabat yang melakukan demikian setelah beliau wafat. Juga Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan lain-lain dari kalangan para imam kaum muslimin yang terpercaya. Adapun yang dianggap dalil oleh sebagian orang sebagai dasar perbuatan mereka bertawasul terhadap diri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka hal ini tidak terlepas dari dua kemungkinan :

a. hadits tersebut adalah dla’if, maudlu’, atau bahkan tanpa asal;
b. salah ber-istidlal dan ber-istimbat terhadap suatu dalil shahih.

Apabila seorang muslim ingin bershalawat, hendaklah ia bershalawat dengan apa-apa yang telah tsabit (tetap) dalam Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih.
Diantaranya ia bisa mengucapkan :

اللهم صل على محمد، وعلى آل محمد؛ كما صليت على [إبراهيم وعلى] آل إبراهيم، إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد، وعلى آل محمد؛ كما باركت على [إبراهيم، وعلى] آل إبراهيم، إنك حميد مجيد

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahiim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahiim. Sesunggunya Engkau Mah Perpuji lagi Maha Mulia” (Muttafaqun ‘alaihi). Dan yang semisal dengannya yang bersumber dari kitab-kitab hadits.

Kesimpulan : Shalawat nariyyah adalah shalawat yang tidak ada asalnya dari nash-nash (Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahiihah). Segala keutamaan yang dinisbatkan kepada pengucapan shalawat tersebut juga tidak benar. Sikap yang patut dilakukan oleh seorang muslim dalam hal ini adalah ia hanya bershalawat dengan apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam yang dengan itu ia akan dibalas dengan sebaik-baik balasan oleh Allah ta’ala. Wallaahu a’lam. [Abu Al-Jauzaa’ 1428]

——–
Catatan kaki :

1. Tawassul yang disyari’atkan berdasarkan dalil-dalil yang shahih adalah : Pertama, Tawassul dengan Al-Asmaaul-Husana atau dengan salah satu sifat-Nya yang mulia; Kedua, Tawassul dengan amal shalih yang dilakukan oleh yang berdoa itu sendiri; dan Ketiga, Tawassul dengan doa orang yang shalih.

7 Responses

  1. Tuan,
    Saya pengamal salawat tafrijiyah atau nariyyah ini sekian lama. Ada yang mendakwa salawat ini merupakan raja segala salawat.

    Bagaimana harus saya terima kenyataan ini jika benar ia tidak ada asal daripada nasnya. Bagaimana wujudnya salawat ini, sila jelaskan.

    Tuan, mungkin anda perlu menanyakan kepada orang yang mendakwa raja segala salawat. Apakah rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam dan para shahabatnya pernah mengatakan bahwa hal itu adalah raja shalawat?

    Kalau toh memang raja shalawat kenapa ketika shalat tidak menggunakan shalawat tersebut? Kenapa justru shalawat Ibrahimiyah yang sering kita baca ketika tahiyat akhir?

    Shalawat yang benar adalah shalawat yang ada di hadits-hadits yang shohih yang ada di kitab-kitab hadits. Anda bisa menemukannya di sana. Dan shalawat tersebut tidak bertambah dan berkurang. Dan sampai meninggalnya rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam tidak ada riwayat shalawat-shalawat terbaru selain shalawat Ibrahimiyah dan shalawat-shalawat yang telah beliau shallallahu’alaihi wa sallam ajarkan kepada para umatnya.

    Cukup yang menjadi pegangan adalah Al Qur’an dan Hadits nabi yang shohih. Itu saja. Tidak perlu ditambah dengan perkataan-perkataan manusia yang justru bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.

  2. […] thoriqot dan yang sefaham dengan mereka) berbuat kesyirikan yang masya Allah. Mereka melakukan shalawat Nariyah sekian ribu kali dan seterusnya, yang padahal tidaklah ada dalil yang shahih tentang sholawat […]

  3. Assalamu’alaikum,

    Kita sebagai umat islam disuruh bershalawat kepada Rasulullah,

    Rasulullah juga sudah mengajarkan bagaimana cara kita bershalawat,

    Semua shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah bisa dibaca ketika kita shalat, ketika membaca doa sewaktu tahiyat,

    Dan shalawat selain yang diajarkan oleh Rasulullah adalah hanya membawa kita kepada murka Allah, dan penyebab kita tidak bisa minum dari telaga rasulullah, karena itu adalah termasuk amalan yang tidak ada contohnya, terlepas siapapun yang membuat shalawat tersebut….

    bagaimana sih shalawat yang diajarkan Rasulullah?? bisa dibaca disini: http://aslibumiayu.wordpress.com/2010/06/11/bagaimanakah-lafadz-cara-dan%c2%a0waktu%c2%a0untuk%c2%a0bershalawat/

    Dan janganlah kita menyampaikan suatu amalan ibadah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah, sebab ancamannya sangat besar, karena sama aja dengan berdusta atas nama Rasulullah, bisa dibaca disini:

    http://aslibumiayu.wordpress.com/category/dusta/

    Sudah selayaknya sebagai sesama muslim saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran,

    Mohon maaf sekiranya nasehat saya ini kurang berkenan dihati anda,…..

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

  4. Saya kira penjelasan tuan-tuan diatas masih terlalu dangkal, ada penjelasan yang detail mengenai dasar diamalkannya selawat yaitu baca buku “Kamus Syirik” karangan A Shihabuddin. Atau lihat http://www.selawat.com

  5. Bagaimana mau bicara baik-baik wong diundang debat keilmuan di IAIN Sby. aja gak berani datang.
    Ulama Wahabi juga perlu introspeksi tuh! baca & belajar juga alasan-alasan ulama NU melakukan itu, mereka bukan orang bodoh kok. Misalnya baca buku “Kamus Syirik” yang dikarang bukan orang NU dan juga pernah lama belajar di Saudi Arabia, jadi dia tau persis bagaimana Wahabi itu. Saya kira sudah cukup bisa menjawab perdebatan ini, atau lihat http://www.selawat.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: