Ilmu Musthalah Hadits bag-24

Pedoman Menolak Hadits Majhul
Syaikh Al-Albani dalam Tamaamul-Minnah

Al-Khathib berkata dalam Al-Kifaayah (halaman 88) :

المجهول عند أصحاب الحديث هو كل من لم يشتهر بطلب العلم في نفسه ولا عرفه العلماء به ، ومن لم يعرف حديثه إلا من جهة راو واحد

Al-Majhul menurut ahli hadits adalah orang yang tidak populer sebagai penuntut ilmu dan tidak dikenal oleh para ulama. Orang ini hanya meriwayatkan hadits dari satu rawi/sumber”.

Kemajhulan ini akan terangkat paling sedikit karena adanya dua atau lebih perawi terkenal keilmuannya yang meriwayatkan hadits darinya.

Aku (Syaikh Al-Albani) berkata : Tetapi keadilan itu tidak dapat ditentukan oleh riwayat dua perawi itu. Ada sekelompok orang menduga keadilan dapat ditentukan dengan cara demikian. Kemudian Al-Khathib menjelaskan rusaknya pendapat mereka dalam bab khusus setelah ini. Bagi orang yang berminat dapat melihatnya.

Aku (Syaikh Al-Albani) berkata : Orang yang majhul (tidak dikenal) yang hanya satu orang perawi meriwayatkan darinya itulah yang dikenal dengan majhul ‘ain ( المجهول العين ). Kemajhulan ini akan terangkat oleh adanya dua atau lebih perawi darinya. Ini yang disebut majhul haal ( المجهول الحال) dan mastur (tertutup), dan riwayatnya diterima oleh jama’ah tanpa ikatan dan ditolak oleh jumhur seperti dijelaskan dalam syarhun-Nukhbah (halaman 24) :

والتحقيق أن رواية المستور ونحوه مما فيه الاحتمال لا يطلق القول بردها ولا بقبولها ، بل يقال : هي موقوفة إلى استبانة حاله ، كما جزم به إمام الحرمين

“Sesungguhnya riwayat rawi yang mastur dan sejenisnya mengandung beberapa kemungkinan, tidak dapat ditolak atau diterima secara mutlak. Tetapi ia bergantung kepada kejelasan keadaan perawi, seperti yang diyakini oleh Imam Al-Haramian”.

Saya (Syaikh Al-Albani) berkata : Mungkin kejelasan keadaan perawi diperoleh dari adanya tautsiq (pengakuan terpercaya) dari seorang imam yang diakui tautsiq-nya. Dalam pernyataannya (yaitu Al-Hafidh) bahwa majhul haal adalah orang yang teriwayatkan haditsnya oleh dua orang atau lebih perawi, tetapi tidak ada pengakuan terpercaya. Saya mengatakan : Imam yang diakui tautsiq-nya, karena di sana ada ahli-ahli hadits yang tidak dapat diandalkan tautsiq-nya, seperti berbedanya Ibnu Hibban dari tradisi para ahli hadits pada umumnya. Ini akan saya jelaskan dalam pedoman berikutnya.

Memang benar bahwa riwayat majhul dapat diterima jika ada sejumlah besar perawi-perawi terpercaya meriwayatkan darinya hadits yang tidak mengandung unsur pengingkaran. Pendapat ini dianut oleh ulama muta’akhkhiriin seperti ibnu Katsir, Al-‘Asqalani, dan yang lainnya. Lihat beberapa contoh pada halaman 204-207 (yaitu di buku Tamaamul-Minnah – @Abu Al-Jauzaa’ ).

Menguatkan Hadits dengan Banyaknya Jalur Tidak Bersifat Mutlak

Sudah dikenal oleh ahli ilmu bahwa hadits akan menjadi kokoh (kuat) dan dapat dijadikan hujjah manakala diriwayatkan dari berbagai jalur, meskipun secara tersendiri masing-masing jalur itu lemah. Ini tidak bersifat mutlak. Artinya, menurut peneliti hadits, kekokohan hadits ini tetap ada jika kelemahan para perawinya dari berbagai jalur berada pada jeleknya hafalan mereka. Bukan pada kejelekan (muttaham) kejujuran atau kejelakan agama mereka yang dipertanyakan, yang ini menyebabkan tidak kuatnya hadits meskipun banyak memiliki jalur.

Beginilah apa yang dinukil oleh peneliti hadits, Al-Munawi, dalam Faidlul-Qadiir dari para ulama mereka mengatakan :

وإذا قوي الضعف لا ينجبر بوروده من وجه آخر وإن كثرت طرقه

“Jika sudah parah, kelemahan itu tidak dapat diperbaiki dengan mendatangkannya dari sisi lain meskipun banyak jalur”.

Oleh sebab itu, mereka sepakat atas lemahnya hadits :

من حفظ على أمتي أربعين حديثا

”Barangsiapa yang menghapal dari kalangan umatku empat puluh hadits” (Hadits ini ditakhrij dalam Adl-Dla’iifah 4589).

meskipun memiliki banyak jalur, karena kelemahannya yang sangat dan tidak bisa diperbaiki.
Berbeda jika masih ringan. Kelemahan itu dapat diperbaiki dan diperkuat. Lihatlah masalah ini dalam Qawa’idut-Tahdits (halaman 90) dan Syahun-Nukhbah (halaman 25).

Bagi orang yang ingin memperkuat hadits dengan banyaknya jalur, hendaklah ia memperhatikan para perawi masing-masing jalur, sehingga menjadi jelas baginya kelemahan hadits tersebut. Namun sangat disayangkan, sedikit sekali ulama –terutama mereka yang lahir belakangan – yang melakukan hal itu. Mereka melakukan penguatan hadits sekedar menempuh jalan orang lain tanpa mengadakan penelitian atau mengetahui hakekat kelemahan hadits. Bagi orang yang ingin mengetahui contoh-contoh hadits di atas, dapat menemukan banyak sekali pada kitab-kitab takhrij, terutama kitab saya (yaitu Syaikh Al-Albani rahimahullah) Silsilah Al-Ahaadits Adl-Dla’iifah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: