Ilmu Musthalah Hadits bag-25

Pedoman Keenam : Pernyataan Mereka (Ahli Hadits) : Para Perawinya adalah Para Perawi Hadits Shahih ( رجاله رجال الصحيح), Bukanlah Penilaian Shahih Atas Suatu Hadits.
Syaikh Al-Albani dalam Tamaamul-Minnah

Pada pedoman pertama telah diketahui pengertian hadits shahih yaitu hadits yang terbebas dari cacat-cacat seperti syudzudz, idlthirab (kegoncangan), dan tadlis, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pernyataan beberapa ahli hadits : “Para Perawinya adalah Para Perawi Hadits Shahih” ( رجاله رجال الصحيح ) atau “Para Perawinya adalah Orang-Orang Terpercaya” ( رجاله ثقات ) atau yang semisal; adalah tidak sama dengan pernyataan : “Rantai Periwayatannya Shahih ( إسناده صحيح ). Pernyataan yang terakhir ini berbeda dengan pernyataan yang sebelumnya, yaitu menunjukkan adanya semua persyaratan keotentikan seperti terbebas dari cacat. Adapun pernyataan yang pertama hanya menunjukkan satu syarat, yaitu keadilan dan dipercayanya para perawi, tetapi tidak menunjukkan keotentikan hadits.

Ada juga hal yang perlu diperhatikan lagi, yaitu hadits yang dibahas di atas meskipun terbebas dari cacat-cacat, tidak otomatis hadits tersebut shahih. Sebab terkadang dalam rantai periwayatannya ada seorang perawi yang tidak menjadikan hadits tersebut sebagai acuan, tetapi ia meriwayatkannya sekedar sebagai saksi, karena ia lemah hafalannya, atau termasuk perawi yang hanya mendapat kepercayaan dari Ibnu Hibban.

Pernyataan beberapa peneliti hadits : “Dan perawi-perawinya adalah orang-orang yang mendapatkan kepercayaan” ( ورجاله موثقون ), menunjukkan bahwa mempercayai beberapa perawi tersebut mengandung kelemahan. Oleh karena itu, keotentikan hadits tidak dapat dipahami dari pernyataan mereka yang telah kami sebutkan di atas.

Karena kurang menyadari hal ini, muallif (yaitu Sayyid Sabiq dalam Fiqhus-Sunnah) sering menganggap shahih hadits berdasarkan pada otoritas ini. Saya telah menambahkan penjelasan bagi pedoman ini pada muqadimah kitab saya Shahih At-Targhib wat-Tarhib (halaman 39-46). Lihatlah, karena sangat penting.

Thabaqat Para Rawi Hadits

[Bagi seorang tholibul ‘ilmi shoghir seperti kita-kita ini yang mau mempelajari ilmu hadits, selayaknya bagi kita untuk mengenal juga tentang para perowi hadits berdasarkan tingkatan zamannya (thobaqot-nya), berikut ini kami nukilkan sebuah tanya-jawab tentang masalah ini dari kitab “Syarh ‘Ilalil Hadits ma’a As-ilah wa Ajwibah fi Mushtholahil Hadits” hal. 74-75, karya asy-Syaikh Mushthofa al-’Adawi. Dan di akhir tulisan ini, kami tambahkan contoh para rowi hadits yang terkenal pada masing-masing thobaqot. Semoga bermanfaat….]

Pertanyaan : Apa makna perkataan al-Hafidz Ibnu Hajar rohimahulloh dalam kitabnya ((Taqribut Tahdzib)) : dari ke-10 atau dari ke-11 atau dari ke-5 …. Dan yang semisal itu dalam biografi-nya terhadap para rowi ?

Jawab : yang dimaksud oleh Ibnu Hajar dari yang seperti itu adalah bahwa rowi ini dari thobaqot ke-10, atau dari thobaqot ke-11, atau dari thobaqot ke-5, dan perinciannya kami katakan :

Bahwa antara (zaman) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para penulis kitab-kitab sunan kira-kira berjarak antara 200-250 tahun, jarak waktu ini antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para penulis kitab-kitab tersebut, kira-kira terbagi menjadi 12 thobaqot :

1. Thobaqot yang pertama : para shahabat (الصحابة).

2. Thobaqot yang kedua : thobaqot Kibar Tabi’in (كبار التابعين), seperti Sa’id bin al-Musayyib, dan begitu pula para Mukhodhrom.
Mukhodhrom (المخضرم) : orang yang hidup pada zaman jahiliyyah dan Islam, akan tetapi ia tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beriman. Misalnya : seseorang masuk Islam pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ia tidak pernah bertemu Rasulullah karena jauhnya jarak atau udzur yang lain. Atau seseorang yang hidup sezaman dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ia belum masuk Islam melainkan setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Thobaqot ketiga : thobaqot pertengahan dari tabi’in (الطبقة الوسطى من التابعين), seperti al-Hasan (al-Bashri, pent) dan Ibnu Sirin, dan mereka adalah (berada pada) thobaqot yang meriwayatkan dari sejumlah Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

4. Thobaqot keempat : Tabi’in Kecil (صغار التابعين), mereka merupakan thobaqot yang sesudah thobaqot yang sebelumnya (thobaqot ke-3, pent). Kebanyakan riwayat mereka adalah dari kibar tabi’in (thobaqot ke-1, pent). Rowi yang dalam thobaqot ini contohnya adalah az-Zuhri dan Qotadah.

5. Thobaqot kelima : Thobaqot yang paling kecil dari tabi’in (الطبقة الصغرى من التابعين), mereka adalah yang lebih kecil dari yang thobaqot-thobaqot tabi’in yang sebelumnya. Dan mereka adalah termasuk tabi’in, mereka melihat seorang atau beberapa orang Shahabat. Contoh thobaqot ini adalah Musa bin ‘Uqbah dan al-A’masy.

6. Thobaqot keenam : thobaqot yang sezaman dengan thobaqot ke-5 (عاصروا الخامسة), akan tetapi tidak tetap khobar bahwa mereka pernah bertemu seorang Shahabat seperti Ibnu Juraij.

7. Thobaqot ketujuh : thobaqot Kibar Tabi’ut Tabi’in (كبار أتباع التابعين), seperti Malik dan ats-Tsauri.

8. Thobaqot kedelapan : thobaqot Tabi’u Tabi’in Pertengahan (الوسطى من أتباع التابعين), seperti Ibnu ‘Uyainah dan Ibnu ‘Ulaiyyah.

9. Thobaqot kesembilan : thobaqot yang paling kecil dari Tabi’ut Tabi’in (الصغرى من أتباع التابعين), seperti Yazid bin Harun, asy-Syafi’i, Abu Dawud ath-Thoyalisi, dan Abdurrozzaq.

10. Thobaqot kesepuluh : thobaqot tertinggi yang mengambil hadits dari Tabi’ut Taabi’in (كبار الاخذين عن تبع الاتباع) yang mereka tidak bertemu dengan tabi’in, seperti Ahmad bin Hanbal.

11. Thobaqot kesebelas : thobaqot pertengahan dari rowi yang mengambil hadits dari Tabi’ut Tabi’in (الوسطى من الاخذين عن تبع الاتباع), seperti adz-Dzuhli dan al-Bukhori.

12. Thobaqot keduabelas : thobaqot yang rendah dari rowi yang mengambil hadits dari Tabi’ut Tabi’in (صغار الاخذين عن تبع الاتباع), seperti at-Tirmidzi dan para imam yang enam lainnya yang tertinggal sedikit dari wafatnya para tabi’ut tabi’in, seperti sebagian para syaikh-nya an-Nasa’i.

[diterjemahkan dari kitab “Syarh ‘Ilalil Hadits ma’a As-ilah wa Ajwibah fi Mushtholahil Hadits” hal. 74-75, karya asy-Syaikh Mushthofa al-’Adawi]

————-
Tambahan 1 :
————-
Keterangan al-Imam Ibnu Hajar :
Jika dari thobaqot ke-1 dan ke-2 : mereka wafat sebelum tahun 100 H.
Jika dari thobaqot ke-3 sampai ke-8 : mereka wafat setelah tahun 100 H.
Jika dari thobaqot ke-9 sampai akhir thobaqot : maka mereka wafat setelah tahun 200 H, dan yang keluar dari batasan ini maka aku menjelaskannya (dalam kitab taqrib, pent).

[Dari Muqoddimah Taqribut Tahdzib]

————-
Tambahan 2 : Para Rowi yang Masyhur
————-
1. Thobaqot yang pertama : para shahabat (الصحابة).
InsyaAllah mereka sudah masyhur bagi kita, jadi tidak perlu disebutkan di sini.

2. Thobaqot yang kedua : thobaqot Kibar Tabi’in (كبار التابعين).
Sa’id bin al-Musayyib, Abu Wa’il Syaqiq bin Salamah, Masruq bin al-Ajda’, Abul ‘Aliyah, Syuraih bin al-Harits al-Qodhi, al-Ahnaf bin Qois, Muhammad bin al-Hanafiyyah (yakni Muhammad bin ‘Ali bin Abi Tholib), Abu Idris al-Khoulani, ‘Atho’ bin Yasar (bekas budak Maimunah), Shilah bin Zufar, dll.

3. Thobaqot ketiga : thobaqot pertengahan dari tabi’in (الطبقة الوسطى من التابعين).
‘Atho’ bin Abi Robah, Muhammad bin Sirin, Sa’id bin Jubair, al-Hasan al-Bashri, Sulaiman bin Yasar, Thowus bin Kaisan, ‘Amir asy-Sya’bi, ‘Urwah bin Zubair, ‘Ikrimah, ‘Ali bin al-Husain bin ‘Ali bin Abi Tholib (dikenal juga dengan Zainul Abidin), Mujahid, Nafi’ (bekas budak Ibnu ‘Umar), Abu Qilabah al-Jarmi, Wahb bin Munabbih, Salim bin Abdillah bin ‘Umar bin al-Khoththob, Hafshoh bintu Sirin, dll.

4. Thobaqot keempat : Tabi’in Kecil (صغار التابعين).
Maimun bin Mihron, Sulaiman bin Thorkhon At-Taimi, Qotadah bin Di’amah, Ibnu Syihab Az-Zuhri, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz (Sang Amirul Mu’minin), Amr bin Dinar, dll.

5. Thobaqot kelima : Thobaqot yang paling kecil dari tabi’in (الطبقة الصغرى من التابعين).
Ibrohim An-Nakho’i, Ayyub As-Sikhtiyani, Hisyam bin Urwah, Yahya bin Sa’id Al-Anshori, Yahya bin Abi Katsir At-Tho’i, Sulaiman bin Mihron al-A’masy, Mak-hul asy-Syami, Yunus bin ‘Ubaid, dll.

6. Thobaqot keenam : thobaqot yang sezaman dengan thobaqot ke-5 (عاصروا الخامسة).
An-Nu’man bin Tsabit Abu Hanifah (al-Imam), Ja’far ash-Shodiq, Abdul Malik bin Juraij, Ibnu ‘Aun, dll.

7. Thobaqot ketujuh : thobaqot Kibar Tabi’ut Tabi’in (كبار أتباع التابعين).
Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas (Imam Darul Hijroh, penulis al-Muwaththo’), al-Laits bin Sa’ad, Abdurrohman bin ‘Amr al-Auza’i, Syu’bah bin al-Hajjaj, Ma’mar bin Rosyid, dll.

8. Thobaqot kedelapan : thobaqot Tabi’u Tabi’in Pertengahan (الوسطى من أتباع التابعين).
Abdullah bin al-Mubarok, Sufyan bin ‘Uyainah, Fudhail bin ‘Iyadh, Hammad bin Zaid, Hammad bin Salamah, Ibnu ‘Ulaiyyah, dll.

9. Thobaqot kesembilan : thobaqot yang paling kecil dari Tabi’ut Tabi’in (الصغرى من أتباع التابعين).
Abdurrahman bin Mahdi, Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (al-Imam), Waki’ bin al-Jarroh, Abdurrozzaq ash-Shon’ani (Penulis Mushonnaf Abdirrozzaq), Sulaiman bin Harb, Yahya bin Sa’id al-Qoththon, Abu Dawud ath-Thoyalisi (Penulis Musnad ath-Thoyalisi), Yazid bin Harun, dll.

10. Thobaqot kesepuluh : thobaqot tertinggi yang mengambil hadits dari Tabi’ut Taabi’in (كبار الاخذين عن تبع الاتباع).
Ahmad bin Muhammad bin Hanbal (Imam Ahlis Sunnah wal Jama’ah), Yahya bin Ma’in, Ishaq bin Rohawaih, Ibnu Abi Syaibah (Penulis Mushonnaf Ibni Abi Syaibah), Musaddad bin Musarhad, Sa’id bin Manshur (Penulis Sunan Sa’id bin Manshur), Ali bin al-Madini, dll.

11. Thobaqot kesebelas : thobaqot pertengahan dari rowi yang mengambil hadits dari Tabi’ut Tabi’in (الوسطى من الاخذين عن تبع الاتباع).
Muhammad bin Isma’il al-Bukhori (Penulis Shohih al-Bukhori), Abu Hatim ar-Rozi, Abu Zur’ah ar-Rozi, Abu Dawud as-Sijistani (penulis Sunan Abi Dawud), Abdullah bin Abdurrahman ad-Darimi (Penulis Sunan ad-Darimi), Muhammad bin Sa’ad bin Mani’ (Ibnu Sa’ad, Penulis ath-Thobaqot al-Kubro), dll.

12. Thobaqot keduabelas : thobaqot yang rendah dari rowi yang mengambil hadits dari Tabi’ut Tabi’in (صغار الاخذين عن تبع الاتباع).
Muhammad bin ‘Isa at-Tirmidzi (Penulis Jami’ at-Tirmidzi), Ibnu Abid Dunya al-Baghdadi, Abdullah bin Ahmad (anak al-Imam Ahmad bin Hanbal).

Maroji’ : al-Maktabah asy-Syamilah v.2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: