Persoalan Mengucapkan Selamat Hari Raya Kepada Umat Agama Lain (bag-1)

Bismillahirahmanirrahiim

Alhamdulillah. Shalawat dan salam senantiasa tetap tercurah kepada rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam sebagai nabi akhir zaman, kepada keluarganya, dan juga kepada para shahabat serta pengikutnya hingga akhir zaman. Amma Ba’du.

Persoalan tentang mengucapkan selamat hari raya kepada umat agama lain adalah persoalan pelik. Karena sekarang ini banyak orang yang kurang ilmu berfatwa, banyak orang yang mengaku ulama berfatwa, banyak orang yang mengikuti mereka hanya dikarenakan fanatik, taqlid ataupun karena asal ngikut. Beginilah parahnya sebuah umat Islam yang dulunya besar karena ta’at di atas jalan Al Qur’an dan As Sunnah, dan sekarang berseberangan lantaran mereka masih rindu dunia dan lupa terhadap surga.

Permasalahan yang akan kita bahas adalah hukum mengucapkan selamat hari raya kepada umat agama lain, baik itu hari raya orang Nasrani, Yahudi ataupun Majusi. Sekarang ini baik di televisi maupun media masa, sampai tokoh politik pun secara terang-terangan melanggar batas-batas yang sudah ditetapkan oleh Allah ini. Yang mana agama mereka Islam, tapi mereka memberikan ucapan selamat kepada yang beragama selain Islam.

1. Ikut merayakan hari besar umat agama lain adalah harom.

Sebagaimana yang dilarang oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam dalam sebuah hadits:

“Artinya : Apakah disana ada berhala, dari berhala-berhala orang Jahiliyah yang disembah ?” Dia menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya, “Apakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari raya mereka ?” Dia menjawab, “Tidak”. Maka Nabi bersabda, “Tepatillah nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam” [Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim]

Di riwayat hadits tersebut seorang shahabat bertanya kepada rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam tentang salah seorang shahabat yang bernadzar akan menyembelih binatang ternak di Buwanah. Kemudian rasululloh shallallahu’alaihi wa salam bertanya 2 hal. Yaitu, apakah ada berhalanya, yang kedua apakah dijadikan tempat merayakan hari besar mereka (orang musyrik).Apabila rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bertanya hal ini tentu saja hal ini adalah hal penting, dan apabila beliau bertanya hal ini tentunya hal ini adalah sebuah pernyataan bahwa 2 hal di atas adalah hal harom.

Bernadzar adalah sebuah kewajiban bagi orang yang bernadzar. Kemudian menyembelih hewan tidak boleh di tempat-tempat yang mengandung unsur kesyirikan. Ini adalah larangan. Tempat menyelenggarakan ibadah ataupun hari raya kafir adalah tempat yang harom untuk dibuat beribadah. Artinya tempat itu harom untuk siapa saja umat muslim beribadah di tempat tersebut. Dan karena itulah kita sebagai umat muslim tidak diperbolehkan untuk mengikuti hari raya mereka, membantu dalam urusan mereka, ataupun sebagai syi’ar hari raya mereka salah satunya adalah dengan mengucapkan “salam” (selamat hari raya mereka).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahulloh berkata, “Ikut merayakan hari-hari besar mereka tidak diperbolehkan karena dua alasan”:

Pertama.
Bersifat umum, seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa hal tersebut berarti mengikuti ahli Kitab, yang tidak ada dalam ajaran kita dan tidak ada dalam kebiaasaan Salaf. Mengikutinya berarti mengandung kerusakan dan meninggalkannya terdapat maslahat menyelisihi mereka. Bahkan seandainya kesamaan yang kita lakukan merupakan sesuatu ketetapan semata, bukan karena mengambilnya dari mereka, tentu yang disyari’atkan adalah menyelisihiya karena dengan menyelisihinya terdapat maslahat seperti yang telah diisyaratkan di atas. Maka barangsiapa mengikuti mereka, dia telah kehilangan maslahat ini sekali pun tidak melakukan mafsadah (kerusakan) apapun, terlebih lagi kalau dia melakukannya.

Alasan Kedua.
Karena hal itu adalah bid’ah yang diada-adakan. Alasan ini jelas menunjukkan bahwa sangat dibenci hukumnya menyerupai mereka dalam hal itu”.

Beliau juga mengatakan, “Tidak halal bagi kaum muslimin bertasyabuh (menyerupai) mereka dalam hal-hal yang khusus bagi hari raya mereka ; seperti, makanan, pakaian, mandi, menyalakan lilin, meliburkan kebiasaan seperti bekerja dan beribadah ataupun yang lainnya. Tidak halal mengadakan kenduri atau memberi hadiah atau menjual barang-barang yang diperlukan untuk hari raya tersebut. Tidak halal mengizinkan anak-anak ataupun yang lainnya melakukan permainan pada hari itu, juga tidak boleh menampakkan perhiasan.” [kitab At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-Aliy, Edisi Indonesia, Kitab Tauhid 1, Penulis Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Penerbit Darul Haq]

Dalam mengucapkan selamat ini MUI juga sudah memfatwakan, lihat fatwanya di sini.

2. Berhati-hatilah dalam Melakukan sebuah amalan

Dalam mengucapkan selamat juga Syaikh Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan juga berkata,

Tidak boleh memberi ucapan selamat (tahniah) atau ucapan belangsungkawa ta’ziyah) kepada mereka, karena hal itu berarti memberikan wala’ dan mahabbah kepada mereka. Juga dikarenakan hal tersebut mengandung arti pengagungan (penghormatan) terhadap mereka. Maka hal itu diharamkan berdasarkan larangan-larangan ini. Sebagaimana haram mengucapkan salam terlebih dahulu atau membuka jalan bagi mereka.

Ibnul Qayyim berkata, “Hendaklah berhati-hati jangan sampai terjerumus sebagaimana orang-orang bodoh, ke dalam ucapan-ucapan yang menunjukkan ridha mereka terhadap agamanya. Seperti ucapan mereka, “Semoga Allah membahagiakan kamu dengan agamamu”, atau “memberkatimu dalam agamamu”, atau berkata,”Semoga Allah memuliakannmu”. Kecuali jika berkata, ” Semoga Allah memuliakanmu dengan Islam”, atau yang senada dengan itu. Itu semua tahniah dengan perkara-perkara umum.

Tetapi jika tahni’ah itu dengan syi’ar-syi’ar kufur yang khusus milik mereka seperti hari raya dan puasa mereka, dengan mengatakan, “Selamat hari raya Natal” umpanya atau “Berbahagialah dengan hari raya ini” atau yang senada dengan itu, maka jika yang mengucapakannya selamat dari kekufuran, dia tidak lepas dari maksiat dan keharaman. Sebab itu sama halnya dengan memberikan ucapan selamat terhadap sujud mereka kepada salib ; bahkan di sisi Allah hal itu lebih dimurkai daripada memberikan selamat atas perbuatan meminum khamr, membunuh orang atau berzina atau sebangsanya.

Banyak sekali orang yang terjerumus dalam hal ini tanpa menyadari keburukannya. Maka barangsiapa memberikan ucapan selamat kepada seseorang melakukan bid’ah, maksiat atau kekufuran maka dia telah menantang murka Allah. Para ulama wira’i (sangat menjauhi yang makruh, apalagi yang haram),
mereka senantiasa menghindari tahni’ah kepada para pemimpin zhalim atau kepada orang-orang dungu yang diangkat sebagai hakim, qadhi, dosen, atau mufti ; demi untuk menghindari murka Allah dan laknat-Nya. [Ahkam Ahli Dzimmah, tahqiq Dr Subhi Shalih, 1/205-206]
[Disalin dari kitab At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-Aliy, Edisi Indonesia, Kitab Tauhid 1, Penulis Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan,Penerbit Darul Haq]

Mengucapkan selamat hari raya kepada umat agama lain, adalah bagian dari bertasyabbuh atau menyerupai mereka. Sebagaimana larangan rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam,

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [Hadits Riwayat Abu Daud]

Menyerupai mereka dalam hal pakaian, kegiatan, ibadah adalah larangan dan merupakan dosa besar. Allah berfirman:

إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ

“Artinya : Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” [Az-Zumar:7]
الْيَوْمَأَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُلَكُمُ الإِسْلاَمَ دِين
“Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.” [Al-Ma`idah :3]

Dan Allah juga telah berfirman dengan tegas:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Artinya: Untukmu agamamu,untukku agamaku”. [Al Kafirun:6]

Sehingga dengan demikian jelas sudah batasan-batasan antara orang kafir dan orang muslim, yaitu orang muslim tidak diperbolehkan meniru acara ibadah mereka, tidak diperbolehkan meniru cara berpakaian mereka, tidak boleh mensyi’arkan agama mereka, tidak boleh membantu mereka dalam hari raya mereka, tidak boleh memakan makanan hari raya mereka, tidak boleh memberikan hadiah kepada mereka, dan tidak boleh menerima hadiah dari acara mereka. Karena Allah telah berfirman Lakum diinukum Waliyadin. Inilah batas-batasnya, sehingga apabila memang diperbolehkan maka rasululloh shallallahu’alaihi wa salam akan contohkan.

Segala hal dalam ibadah ini telah diatur. Artinya ibadah tanpa tuntunan adalah harom dan bid’ah. Ibadah tanpa dasar yang jelas dari Al Qur’an dan As Sunnah adalah harom. Urusan merayakan hari raya umat lain, ataupun mengucapkan selamat hari raya kepada umat agama lain adalah urusan agama, bukan urusan dunia atau sekedar muamalah. Mengucapkan selamat adalah merupakan bagian dari acara hari raya mereka, artinya mendo’akan mereka. Sedangkan ucapan ini adalah ucapan bathil. Sebagaimana tempatnya (merayakan hari raya agama lain) pun najis untuk dijadikan tempat beribadah, maka sudah tentu mulut untuk mengucapkan selamat hari raya kepada mereka (kaum kafir) pun adalah harom.

Bersambung ke pembahasan Syubhat-syubhat hari raya orang kafir….

14 Responses

  1. assalam

    pak saya mau bertanya, entah kenapa selama ini saya berpendapat jika kita mengucapkan selamat hari raya bagi umat lain itu hanya sekedar menghormati saja. bukan berarti saya mengakui keberadaannya. toh saya juga tidak beriman dengan tuhan mereka.

    apa yang saya rasakan selama ini seperti itu, seolah begitu sombongnya umat muslim ketika mereka tidak mau sekedar membuat orang lega karena merasa dihormati. saya beigut banyak mendapatkan ucapan selamat hari raya idul fitri dari teman saya yang beragama Kristiani, Hindu, dan Budha. Tapi untuk sekedar berbalas simpati saja, saya nggak bisa melakukannya.

    mengapa agama kita melarangnya? bukankah itu hanyalah konteks hubungan horisontal saja?

    jazakumullah

    Abu Aisyah menjawab:
    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih telah berkunjung di blog saya yang sederhana ini, semoga artikel di dalamnya bermanfaat bagi kita semua. Dan jangan segan-segan untuk protes kalau ada tulisan yang tidak bener.

    Permasalahan ini adalah termasuk dalam Bab Al Wala’ Wal Bara’. Yaitu bagaimana kecintaan kita terhadap saudara kita sesama muslim. Dan Al Bara’ yaitu berlepas diri dari orang-orang kafir.

    Islam mengenal yang namanya tauhid. Dalam bertauhid kepada Allah artinya menganggap satu-satunya ilaah yang haq untuk diibadahi adalah Allah saja. Artinya adalah kita sebagai hamba dan Allah sebagai tuhan. Dalam masalah menghamba maka ada 3 hal yang perlu diperhatikan:

    1. Ta’at kepada Allah.
    2. Menyatakan bahwa tiada hukum yang lebih baik melainkan hukum Allah.
    3. Tiada membenci dan mencintai melainkan, membenci dan mencintai karena Allah.

    Maka dari itulah, Allah menurunkan surat Al Kafirun, yaitu surat yang jelas sekali mengatakan bahwa ibadah umat Islam dan orang kafir beda, ilah mereka dengan ilah umat Islam berbeda, untuk mereka adalah agama mereka dan untuk kita adalah agama kita.

    Maka dari itu tidak seyogyanya seorang muslim berbasa-basi kepada orang kafir dalam urusan ketaatan. Contoh keta’atan ini adalah hari raya, ibadah, dan kecintaan, ataupun idola. Sebagaimana yang sekarang ini telah melanda masyarakat pada umumnya, yaitu kecintaan mereka terhadap sebuah idola melebihi kecintaan mereka terhadap rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam dan ajarannya. Padahal hal itu tidak benar. Bahkan mereka lebih mengidolakan orang kafir. Subhanallah.

    Nah, dari hal berlepas diri ini, maka salah satu yang harus kita berlepas diri adalah tidak berbasa-basi terhadap ajaran agama mereka. Agama mereka adalah agama yang tidak berasal dari Allah. Agama mereka buatan manusia, atau agama mereka adalah mengubah ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya sehingga murka Allah atas mereka. Ini bukanlah sifat sombong.

    Kalau ini adalah sifat sombong, maka sesungguhnya merekalah yang lebih sombong. Kenapa? Karena mereka merasa ajaran mereka lebih baik daripada Islam, dan merasa ajaran Islam itu tidak ada apa-apanya bahkan dianggap tidak sempurna. Padahal Allah telah berfirman di Surat Al Maidah ayat 3:

    artinya: “Hari ini telah kusempurnakan nikmat-Ku padamu dan telah kuridhai Islam menjadi agama bagimu”.

    Karena Allah telah menyempurnakan Islam ini, maka tidak sepantasnya manusia menyetujui yang mana Allah Subhanahu wa ta’alaa sendiri tidak menyetujuinya. Konsekuensi dari berbasa-basi ini sangat besar. Bahkan hanya dalam masalah berolok-olok dalam agama Allah menghukumi kafir pada diri seseorang, bahkan yang paling rendah adalah munafik. Allah berfirman:

    artinya: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” [Q.S At Taubah 65-66]

    Dari ayat di atas sudah diketahui bahwasannya bermain-main atau berolok-olok dalam hal keta’atan kepada Allah berdosa besar, bahkan dosanya bisa mengeluarkan seseorang dari Islam. Jadi dengan mengucapkan salam atau selamat hari raya kepada non muslim, maka sudah dianggap mereka sebagian dari mereka. Sekalipun dianggap hanya berbasa-basi saja. Atau bahkan menganggap agar tidak terlihat sombong sekalipun.

    Siapakah yang lebih sombong daripada orang kafir? Dengan tidak mengucapkan selamat bukan berarti sombong, tapi inilah keta’atan kepada Allah dan Al Bara’ kita terhadap orang-orang kafir.

  2. […] 5. Persoalan Mengucapkan Selamat Hari Raya kepada Umat agama lain […]

  3. kamu manusia dangkal jangan terkecoh…AKU ADA dimana2..ada di bumu langit..aku maha ada dan maha besar..AKU bisa mengecil dan membesar..sorga dan neraka ada dalam kekuasaanku..fikiranmu terbatas sedang AKU tak terbatas..mana mungkin mengukur laut dengan penggaris anak sd..fikiranmu tidak mungkin mangukur keberadànku jangan mengambil kesimpulan sendiri..minta ampunlah kamu padaKU

    • yang nulis komen. Semoga Allah mengampuni Anda. Kalau anda ngaku Islam niscaya anda tak mengatakan hal ini. dan menulis ini. Allah tidak ada di mana-mana. Allah ada di Atas ‘Arsy. Dan Dzat-Nya tak mungkin bisa menulis di sini walaupun bisa, niscaya jebol ini komputer karena Dia terlalu agung untuk menulis hal-hal semacam ini. Saya terpaksa menghapus komentar-komentar yang lain, karena komentar anda sampah semua, mengaku sebagai Allah? Subhanallah.

      • astagfirullohaladzim ampunilah kata2 yang mengaku allah itu,, semoga disadarkan,, Allah swt itu ada di Arsy tempat tertinggi,, saya tidak setuju dengan kata kata yg ngaku alah… tks

    • Saya Setuju dengan Mas ALLAH ( saya tahu nama bukanlah hal penting ) Tuhan itu ada di mana-mana….Islam juga tahu kalau Allah Lebih Dekat dari Urat Nadimu…pengertian itu artinya Tuhan ada di dalam hatimu dalam pikiranmu…apapun agamamu….mungkin hal ini yang belum dimengerti oleh pemilik blog ini Mas … mudahan pemilik blog ini diberikan keterbukaan pikirannya agar tidak fanatik.

      • Persoalan setuju atau tidak itu hak anda. Sekali lagi saya katakan “DZAT ALLAH ada di atas Arsy”

        Jangan samakan Dzat dengan Ilmu-Nya, jangan samakan Dzat dengan pertolongan-Nya.

        Allah memang lebih dekat dengan urat nadi, tapi apa yang dekat ? Dzat-Nya? tentu tidak. Masih ingat ketika Nabi Musa ‘alaihissalam ingin bisa melihat Allah. Gunung saja hancur karena keagungan Allah. Kalau memang Dzat Allah itu ada di hati manusia, hancur hati mereka!

        banyak dalil-nya di Al Qur’an bahwa Allah ada Di atas Arsy. Semoga Anda tidak perlu saya kuliahi apa itu Dzat.

  4. Mas Abu Aisyah mungkin saya bukan manusia sempurna dan saya yakin anda juga bukan, untuk masalah agama tidak ada yang lebih tahu dari diri kita sendiri. karena masalah agama adalah masalah vertikal antara manusia dan tuhannya ( bagi anda tuhan anda adalah Allah dan bagi Kristen adalah Yesus dan bagi Hindu adalah Sang Hyang Widi Wasa dan bagi budha adalah Sang Budha ) jadi kita tidak bisa menilai jika ajaran orang lain itu salah atau benar…karena seorang Kyai pun tidak tahu Allah itu ada atau tidak,Surga dan Neraka itu ada atau tidak….tapi jika anda yakin ada maka itu akan ada…karena itulah intinya Agama ( KEYAKINAN ) sebuah keyakinan/Agama tidak bisa dipaksakan kebenarannya kepada orang lain, klau kita menyatakan secara terang-terangan umat lain itu salah berarti kita sudah menjadi manusia bodoh karena kita tidak mengerti dengan esensi dari Agama itu sendiri…jangankan menyatakan umat lain salah….lha wong kita sendiri aja nggak tahu Agama yg kita peluk itu benar atau salah..kalau kita YAKIN agama kita itu yang paling benar itu juga karena KEYAKINAN kita bukan karena ada bukti nyata seperti 1 + 1 = 2 atau api itu panas atau es itu dingin….begitu juga umat lain YAKIN dengan KEBENARAN agamanya karena YAKIN….Jadi hormatilah umat lain seperti halnya anda ingin dihormati.
    Saran saya jangan menerima 100% apa yang diajarkan manusia ( Kyai,Ustad,Pendeta,Biksu ) kepada kita, boleh diterima tapi dikut dipikirkan juga karena Anda juga punya hak untuk menilai kebenaran agama kita…Ikuti Kata Hati anda sehingga tidak menjadi FANATIK seperti sekarang ini OK.
    Jika ingin me REPLY silahkan ke email saya binvestasi@gmail.com karena takutnya saya lupa alamat blog anda.

    • saya punya poin pembahasan atas komentar ini:

      1) Kalau Anda tidak yakin agama yang anda peluk itu benar atau salah, maka tentu anda adalah orang atheis. Kenapa saya bilang demikian? Karena jelas sekali bagi saya Islam adalah agama yang paling benar dan satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah.

      Allah berfirman: artinya:

      “hari ini telah Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu dan telah kuridhai Islam sebagai agama bagi-Mu” [Q.S. Al Maidah : 3]

      dan setiap hari surat Al Fatihah itu bukan hanya dibaca, tapi juga difahami maknanya. Allah berfirman di surat itu:

      “Tunjukilah kami jalan yang lurus, dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai lagi Engkau sesatkan”

      Allah berfirman lagi yang artinya:
      Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”. [Al Baqarah: 135]

      Dan banyak sekali di Al Qur’an yang mengatakan jalan Islam adalah jalan yang lurus.

      2) Anda mengatakan bahwa saya taqlid buta. Bung, ndak kebalik? Bukannya anda yang taqlid buta? Buktinya anda seakan-akan tidak menerima semua tulisan saya, dan mencoba ditelaah baik-baik. Bahkan mencoba mengecek lagi apakah anda yang salah?

      3) Agama islam itu bukan mengikuti kata hati. Agama Islam mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah. Sudahkah Anda demikian? Saya tidak taqlid kepada ustadz, kyai, dan lainnya, saya taqlid dan fanatik kepada Al Qur’an dan As Sunnah, karena sebagai umat Islam saya harus menerima keduanya dan ta’at. Justru yang aneh adalah orang yang beragama islam tapi tidak ta’at kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Lalu buat apa Allah menurunkan keduanya? Buat jadi tisu toilet? Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Subhanallah.

      4) Siapa bilang saya tidak menghormati masalah hari raya agama lain. Agama lain tidak saya ganggu. Saya hanya membahas orang Islam jangan mengucapkan selamat hari raya kepada umat agama lain. Karena itu bagian dari agama lain, bukan agama Islam. Dengan mengucapkan salam/selamat, maka itu sama saja dengan menyebarkan syi’ar mereka.

      Wallahu’alam.

  5. Satu hal lagi yang perlu saya sampaikan silahkan baca surat berikut.,jangan membaca surat atau sumber dari surat sepengal sepenggal saja

    “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah:

    Terlebih lagi jika mereka mengucapkan selamat Hari Raya kepada kaum muslimin. Firman Allah SWT, “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An Nisaa : 86)

    Surat An Nisa :86 tadi bisa dijadikan acuan untuk merubah sikap anda terhadap Pengucapan Selamat Kepada Umat lain.
    Semoga anda tidak menjadi Islam yang Eksklusif lagi.
    Maaf jka menyinggung anda…saya cuma ingin berbagi saja. Trims

    • komentar ini cukup saya balas dengan pertanyaaan:
      Apakah orang kafir itu adil kepada Allah?

      Allah adalah tuhan mereka tapi mereka menyembah kepada selain-Nya? Padahal mereka tahu Allah itu tuhan mereka.

      Wallahu’alam bishawab.

  6. benar saya sangat setuju

  7. Assalamu’alaikum
    Akhi Ijin untuk memposting di FB untui berbagi Ilmu Insya Allah tetap mengamalkan amanah Ilmiah

  8. Jazakallohu khoiron

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: