Persoalan Mengucapkan Selamat Hari Raya Kepada Umat Agama Lain (bag-2)

Alhamdulillah. Pembahasan kita sekarang berlanjut kepada syubhat-syubhat yang sering ada di kalangan umat Islam terhadap hari raya kaum kafir. Sedangkan kita pada bagian pertama telah membahas tentang dasar-dasar hukumnya.

Syubhat pertama:
Saya tidak mengakui bahwa agama mereka benar, tapi saya ikut kepada perayaan mereka dengan datang ke gereja untuk menjaga persatuan. Karena negara kita adalah negara Pancasila dan sudah menjadi kewajiban kita untuk toleransi dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Jawaban:
Cukuplah hadits yang telah disebutkan pada bagian satu tentang haramnya seorang muslim melakukan ibadah di tempat di mana orang-orang kafir melakukan acara keagamaan mereka. Karena sesungguhnya tiada persatuan apabila tuhannya saja sudah beda, kitabnya saja sudah beda. Sesungguhnya persatuan dengan orang-orang kafir adalah persatuan yang nisbi, sebab Allah-lah yang telah memecah belah hati mereka, sedangkan Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

“Artinya: Dan jangan kau tiru orang-orang musyrik, Mereka memecah saling berpecah-belah”. [ Ar Ruum:31-32 ]

Dan Allah sama sekali tidak butuh kekafiran, dengan firman-Nya:

“Artinya : Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” [Az-Zumar:7]

Bukankah, tidak mengakui agama mereka sebagai agama yang haq, tapi ikut-ikutan dalam acara mereka, sekalipun hanya sekedar datang ke tempat peribadatan mereka adalah salah satu dari mereka? Kalau tidak maka sesungguhnya dia sudah termasuk orang munafik. Dan Allah melaknat orang-orang munafik.

Syubhat kedua:
Acara ini adalah acara perusahaan, karena kalau kita tidak ikut pada acara tersebut, maka kita akan di PHK

jawaban:
Sesungguhnya mendahulukan dunia daripada akherat adalah kebinasaan. Kenapa harus menukar agama Allah dengan sesuatu yang sedikit yaitu di PHK. Bumi masih luas dan masih banyak tempat untuk mencari nafkah. Manusia telah diberikan kebebasan untuk memperoleh rizqi dari mana pun asalkan halal. Yakinlah bahwa sesungguhnya Allah itu tidak akan meninggalkan hamba-Nya mati terkecuali seluruh rizqinya sudah diberikan. Banyak orang yang putus asa dalam masalah ini sehingga mereka mau tak mau harus mengikuti apa yang menjadi aturan dari perusahaan.

Bahkan sampai kepada mereka dibaptis secara tidak sadar pun tidak tahu tentang hal ini. Semisal dalam acara itu biasanya diadakan do’a-do’a yang berasal dari Injil bahkan mungkin saja mereka dibaptis tapi tanpa pernah tahu. Na’udzubillah.

Syubhat ketiga:
Kita mengucapkan selamat hanya untuk berbasa-basi saja, tidak untuk hal-hal yang seperti menyetujui acara mereka ataupun ikut-ikut di dalam acara mereka.

jawaban:
Ada salah seorang ulama yang berpendapat demikian. Namun hal itu sudah dijawab oleh ulama yang tingkat keilmuannya lebih tinggi daripada dirinya. Sebut saja Yusuf Al Qardhawi. Dia berkata:

Maka kami sebagai pemeluk Islam, agama kami tidak melarang kami untuk untuk memberikan tahni’ah kepada non muslim warga negara kami atau tetangga kami dalam hari besar agama mereka. Bahkan perbuatan ini termasuk ke dalam kategori al-Birr (perbuatan yang baik). Sebagaimana firman Allah SWT:

لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم في الدين ولم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم وتقسطوا إليهم إن الله يحب المقسطين

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Kebolehan memberikan tahni’ah ini terutama bila pemeluk agama lain itu juga telah memberikan tahni’ah kepada kami dalam perayaan hari raya kami.

وإذا حييتم بتحية فحيوا بأحسن منها أو ردوها

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.(QS. An-Nisa’: 86)

Dan jawaban ini telah dibantahkan bahkan sebelum Yusuf Al Qardhawi mengeluarkan perkataan ini oleh Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah rahimahulloh. Beliau berkata:

“Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah HARAM menurut IJMA’ (kesepakatan) para ulama, seperti mengucapkan selamat terhadap Hari-Hari besar mereka dan puasa mereka, sembari mengucapkan, ‘Semoga Hari raya anda diberkahi’ atau anda yang diberikan ucapan selamat berkenaan dengan perayaan hari besarnya itu dan semisalnya. Perbuatan ini, kalaupun orang yang mengucapkannya dapat lolos dari kekufuran, maka dia tidak akan lolos dari melakukan hal-hal yang diharamkan. Ucapan semacam ini setara dengan ucapannya terhadap perbuatan sujud terhadap SALIB bahkan lebih besar dari itu dosanya di sisi Allah. Dan amat dimurka lagi bila memberikan selamat atas minum-minum khamar, membunuh jiwa, melakukan perzinaan dan sebagainya. Banyak sekali orang yang tidak sedikitpun tersisa kadar keimanannya, yang terjatuh ke dalam hal itu sementara dia tidak sadar betapa buruk perbuatannya tersebut. Jadi, barangsiapa yang mengucapkan selamat kepada seorang hamba karena melakukan suatu maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka berarti dia telah menghadapi Kemurkaan Allah dan Kemarahan-Nya.”

Dan perkataan beliau ini sejalan dengan surat Al Maidah ayat 4 yang mana kita harus tolong-menolong untuk kebaikan dan jangan tolong menolong dalam kejahatan. Dengan mengucapkan selamat kepada mereka, maka kita sama saja menjadikan salam kita sebagai syi’ar kita. Sebab dalam suatu hadits ucapan “Assalaamu’alaykum warohmatullohi wabarokaatuh” adalah syi’ar Islam. Dan tentu saja ucapan “Selamat Hari Raya Natal” atau yang semakna dengan itu adalah ucapan kekufuran, yang mana ucapan ini dimurkai oleh Allah. Buat apa seorang muslim yang mana harga keimanannya lebih mahal dari bumi dan seisinya, bahkan ditambah dengan langit ke tujuh melakukan hal itu? Apakah ada faedahnya?

Syubhat keempat:
Kami melakukannya karena tidak ada contoh dari rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam yang melarang kami melakukannya.

jawaban:
Dasar hukum Fiqih adalah segala yang berhubungan dengan agama adalah haram, terkecuali ada dalil yang memperbolehkannya. Dasar hukum Muamalah adalah segala yang berhubungan dengan dunia adalah boleh terkecuali ada dalil yang melarangnya. Syarat pertama seseorang yang berkata hal ini adalah dia harus faham 2 hal ini terlebih dahulu sebelum berkata demikian, sebab apabila hanya asal berucap maka akibatnya akan fatal. Sebagaimana becak dikatakan truk.

Mengucapkan salam (selamat hari raya) kepada pemeluk agama lain, sudah tentu masuk dalam persoalan agama. Yang mana persoalan agama ini sudah diatur segalanya dan sudah dijelaskan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bahkan sampai burung yang terbang di langit pun tidak lepas dari penjelasan beliau. Apabila beliau shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah memberikan contohnya justru apabila hal tersebut dilakukan maka termasuk dalam kategori bid’ah, sebagaimana sabda beliau:

“Artinya: Barangsiapa yang melakukan amalan ibadah yang tidak berasal dari kami (Allah dan rasul-Nya) maka tertolak”. (HR. Muslim)

Sebagaimana persoalan, menghitung awal bulan tanpa melihatnya (hilal) pada bulan hijriah adalah bid’ah. Karena perintah rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam adalah sudah tegas yaitu melihat, bukan menghitung.

Syubhat kelima:
Tetangga kami adalah kebanyakan orang-orang non muslim, dan rasanya sangat tidak enak kalau tidak sekedar basa-basi mengucapkan selamat kepada mereka, sebagaimana mereka mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri kepada kami.

jawaban:
Sekali lagi agama yang haq adalah Islam. Islam adalah agama yang haq, oleh sebab itu anda harus tunjukkan kebenaran itu kepada mereka. Terlebih lagi kepada para tetangga. Kalau mereka merayakan hari besar mereka, ketahuilah anda juga punya hari besar. Dan kalau anda merasa tidak enak, sebaiknya anda istighfar kepada Allah, sebab Allah sudah memberikan hari besar kepada anda lalu kenapa anda iri kepada mereka?

Kenapa hanya karena perasaan tidak enak anda langsung berpaling dari Allah dan lebih menyukai jalan kekufuran yaitu dengan mengucapkan selamat hari raya kepada mereka? Padahal itu bukan hari raya anda? Anda punya identitas sebagai seorang muslim, sudah sepantasnya identitas itu anda tampilkan, anda munculkan sehingga anda itu jelas muslimkah, atau kafirkah atau munafikkah. Sehingga apabila anda berada di sebuah kawasan orang kafir, kemudian ke-Islaman itu masih melekat pada diri anda saya yakin niscaya orang-orang kafir banyak yang tersentuh oleh keteguhan anda dalam berdakwah dan juga dalam menjaga agama anda.

Sebaliknya orang kafir akan lebih senang kalau anda ikut-ikutan dalam acara mereka. Allah telah berfirman dalam Kitabulloh:

Artinya: ” Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah :” Sesungguhnya petunjuk Allah itulah sebaik-baik petunjuk. Dan sesungguhnya, jika kamu mengikuti kemauan mereka, setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. [Al Baqarah:120]

Dan Allah telah berfirman kepada ahlu kitab:

لْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

“Katakanlah: “Hai ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”.” [QS al-Mâ`idah : 77]

Semoga kita terhindar dari segala keburukan dan dari segala kesyirikan serta kekufuran, baik yang kita sengaja ataupun tidak. Dan Allah menetapkan hati kita di atas jalan yang teguh dan tidak goncang. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan pada diri kita sehingga pedang kita tetap tajam terasah dan kita tetap istiqomah untuk terus beramar ma’ruf nahi mungkar, baik kepada orang kafir maupun orang muslim itu sendiri.

Syubhat keenam:
Tindakan mengucapkan salam ini diilhami dari sikap rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam yang setelah terjadi peperangan mengambilkan kitab taurat kemudian dikembalikan kepada orang yahudi. Kalau seandainya kita dilarang mengucapkan salam selamat hari raya kepada orang ahlu kitab kenapa rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam melakukan perbuatan itu kalau memang perwujudan tindakan beliau adalah lakum diinukum waliyadin.

jawaban:
Tindakan beliau itu sudah jelas mengembalikan sesuatu yang tidak menjadi miliknya kepada yang dia punyai. Apalagi setelah perang besar tersebut kaum yahudi menyerah. Dan apabila kaum kafir menyerah, maka mereka menjadi kafir dzimmi yang darah dan hartanya dilindungi oleh Allah dan Rasul-Nya, selama mereka membayar Dzimmah yang telah disepakati kepada penguasa muslim.

Justru apabila beliau merobek taurat itu maka tentu saja hal itu tidak melindungi harta yang dimiliki oleh orang yahudi tersebut. Karena demikianlah perjanjian untuk kafir dzimmi. Kitab taurat itu adalah harta orang yahudi tersebut, dan sudah sepantasnya hal itu dikembalikan kepada yang mempunyai. Berbeda dengan kasus Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu yang membawa kitab taurat disaat rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam memberikan ilmunya kepada para shahabat. Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam membuang Kitab Taurat itu, karena di majilis rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam dibacakan Al Qur’an yang mana Al Qur’an ini lebih mulia dan menjadi kitab yang menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya.

Maka dari itulah rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya Musa ‘alaihissallam ada di sini maka sungguh dia harus mengikuti apa yang aku bawa dan berjuang bersamaku”. (HR. Bukhari).

Jadi di sini persoalannya sudah jelas kedua peristiwa itu beda, dan apabila mengucapkan salam selamat hari raya kepada non muslim dikaitkan dengan hadits ini sesungguhnya tidak sama dan berbeda jauh sekali situasi dan kondisi yang dialami. Hal ini masih dipegang sebagian dari kalangan umat muslim yang masih belum faham terhadap persoalan ini. Semoga Allah memberi mereka petunjuk.

Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat. Washalatu ‘ala rasulullohi shallallahu’alaihi wa sallama wa ‘ala ‘alihi wa ash habihi ajma’in wa maa tabi’ahum bi ihsan illa fii yaumiddin.

2 Responses

  1. […] tidak keras terhadap orang kafir dalam masalah dien mereka. Antum silakan baca tentang tulisan Mengucapkan Selamat Hari Raya Kepada Orang Kafir. Di sana Yusuf Al Qardhawi menganggap ucapan tersebut adalah ucapan basa-basi dan tidak menyangkut […]

  2. Oiya, saya belum memberikan referensi Ibnul Qayyim Al Jauziyah berkata pada tulisan di atas pada “Ahkâm Ahli adz Dzimmah”. sumber http://www.alsofwah.or.id/cetakkonsultasi.php?id=3362

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: