Seperti Apakah Salafi yang Dimaksud ? (bag-2)

Alhamdulillah. Kita berlanjut pada pembahasan berikutnya.

Definisi Salafi yang Benar

Untuk menjelaskan apa itu salafi secara ringkas, saya ambil penjelasan Syaikh Abdul Qodir Al Arna’uth rahimahulloh dalam AL-WAJIZ FI MANHAJIS SALAF

Oleh : asy-Syaikh Abdul Qodir al-Arna`uth Rahimahullahu-

dialih bahasakan oleh Abu Salma Al Atsari

Definisi al-Wajiz secara etimologi :

Jika dikatakan : أوجز الكلام berarti memendekkan dan menjadikannya sedikit, yaitu اختصره (meringkasnya), dan kalimatnya pendek dan ringkas. الوَجْز : Perkataan dan perkara yang ringan dan sederhana. Serta الوَجْز : sesuatu yang ringkas seperti al-Wajiz.

Definisi al-Manhaj secara etimologi dan terminologi :

“النهج، والمنهج، والمنهاجartinya adalah : jalan yang nyata dan terang. Allah Ta”ala berfirman di dalam Kitab-Nya al-Aziz :

لكل جعلنا منكم شرعة ومنهاجا

yang artinya : “Untuk tiap-tiap ummat diantara kamu, kami berikan syariat dan manhaj” (al-Maidah : 48), yaitu : Syariat dan jalan yang terang lagi jelas.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan bagi tiap-tiap ummat syariat dan manhaj, Ahli Taurat memiliki syariat sendiri, Ahli Injil memiliki syariat sendiri demikian pula dengan Ahli al-Qur’an. Mereka memiliki syariat-syariat yang berbeda di dalam masalah hukum namun bersepakat di dalam masalah Tauhid (mengesakan) Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

أنا أولى الناس بعيسى بن مريم في الدنيا والآخرة، الأنبياء إخوة لعلاّت، أمهاتهم شتى، ودينهم واحد، وليس بيني وبين عيسى نبي

yang artinya : “Aku adalah manusia yang lebih utama dibandingkan Isa bin Maryam di dunia dan akhirat, para nabi seluruhnya bersaudara sebapak, namun ibu-ibu mereka berbeda-beda, agama mereka adalah satu serta tidak ada nabi antara diriku dengan Isa.” Hadits Riwayat Bukhari dalam Shahih-nya, Kitabul Anbiya”, bab “wadzkur fil Kitaabi Maryaam” dan Muslim di dalam shahih-nya nomor 2365 dalam kitab al-Fadla`il, bab “Fadlu Isa “alaihi as-Salam” dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu “anhu.

Artinya yaitu, mereka semua bersepakat di dalam pokok tauhid kepada Allah Azza wa Jalla, adapun masalah furu” (cabang-cabang) syariat, di dalamnya terdapat perbedaan dan syariat-syariat mereka beraneka ragam. Allah Ta”ala berfirman kepada nabi-Nya di dalam Kitabnya yang mulia :

وما أرسلنا من قبلك من رسول إلا نوحي إليه أنه لا إله إلا أنا فاعبدون

yang artinya : “Dan tidaklah kami utus para nabi sebelummu, melainkan kami wahyukan kepadanya bahwasanya tiada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Aku maka sembahlah Aku.” (al-Anbiyaa” : 25), dan firman-Nya :

ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت

yang artinya : “Dan sungguh telah kami utus seorang rasul pada setiap ummat untuk menyeru agar menyembah Allah semata dan menjauhi thaghut.” (an-Nahl : 36). Ini semua di dalam mentauhidkan Allah Azza wa Jalla, adapun syariatnya berbeda-beda perintah dan larangannya.

Definisi Salaf secara etimologi dan terminologi :

As-Salafالسلف ““memiliki arti : ما مضى وتقدم” (yang telah berlalu dan terdahulu). Jika dikatakan سلف الشيء سَلَفا : artinya adalah مضى (yang telah lewat), jika dikatakan سلف فلان سلفا” artinya adalah المتقدم (yang telah berlalu/terdahulu), dan as-Salif السالف berarti : المتقدم (pendahulu). Sedangkan as-Salaf bermakna : الجماعة المتقدمون (sekumpulan orang yang terdahulu).

Salaf juga berarti : القوم المتقدمون في السير (orang-orang yang mendahului di dalam perjalanan hidup). Allah Ta”ala berfirman di dalam Kitab-Nya yang Aziz :

فلما آسفونا انتقمنا منهم فأغرقناهم أجمعين، فجعلناهم سلفا ومثلا للآخرين

yang artinya : “Maka tatkala mereka membuat kami murka, kami hukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya, dan kami jadikan mereka sebagai salaf (pelajaran) dan contoh bagi orang-orang kemudian.” (az-Zukhruf : 55-56),

yang maknanya : Tatkala mereka menyebabkan kami marah maka kami hukum mereka dan kami tenggelamkan mereka semuanya, dan kami jadikan mereka sebagai salafan mutaqodiimiin (contoh orang-orang terdahulu) bagi orang-orang yang melakukan perbuatan mereka, agar orang-orang setelah mereka dapat mengambil pelajaran dan menjadikan mereka sebagai peringatan bagi lainnya.

Salaf juga berarti : كل عمل صالح قدّمته (Setiap amal shalih yang terdahulu), jika dikatakan : قد سلف له عمل صالح” amal shalihnya telah berlalu. Dan salaf” adalah من تقدمك من آبائك وذوي قرابتك الذين هم فوقك في السن والفضل orang-orang yang mendahuluimu dari bapak-bapakmu dan kaum kerabatmu yang mereka di atasmu dalam hal usia dan keutamaan, seorang dari mereka disebut سالف saalifun.

Seperti perkataan Thufail al-Ghonawi yang meratapi kaumnya :

مضوا سلفا قصد السبيل عليهم

وصرف المنايا بالرجال تقلّب

Pendahulu kita telah lewat dan kitapun akan mengikuti mereka

Kita akan menjadi sepertinya terhadap orang-orang setelah kita

Yaitu, kita akan mati sebagaimana mereka mati, dan kita akan menjadi salaf (pendahulu) bagi orang-orang setelah kita sebagaimana mereka menjadi salaf bagi kita.

Dari al-Hasan al-Bashri, beliau berdo”a di dalam sholat Jenazah terhadap anak kecil : اللهم اجعله لنا سلفا “Ya Allah jadikanlah dia salaf bagi kami.” Oleh karena itulah, generasi pertama dinamakan dengan as-Salaf ash-Sholih.

Rasulullah, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, mereka adalah salaful ummah (pendahulu ummat), dan siapa saja yang menyeru kepada apa yang diserukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, mereka juga salaful ummah. Serta siapa saja yang menyeru kepada apa yang diserukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka mereka berada di atas manhaj as-Salaf ash-Sholih. Maka wajib bagi setiap muslim untuk ittiba” (mengikuti) al-Qur’an al-Karim dan as-Sunnah al-Muthoharoh dengan mengembalikannya kepada pemahaman as-Salaf ash-Shalih ridlwanullahu “alaihim ajma”in, karena mereka adalah kaum yang lebih berhak untuk ditiru/diikuti, karena mereka adalah orang-orang yang paling benar keimanannya, yang kuat aqidahnya dan yang paling ikhlash ibadahnya.

Imamnya as-Salaf ash-Shalih adalah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mana Allah Ta”ala memerintahkan kita untuk mengikuti beliau di dalam Kitab-Nya dengan firman-Nya :

وما آتاكم الرسول فخذوه، وما نهاكم عنه فانتهوا

yang artinya : “Apa yang diberikan Rasul padamu maka ambillah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. (al-Hasyr : 7).

Beliau adalah Uswah Hasanah (suri tauladan yang baik) dan Qudwah Shalihah (suri tauladan yang shalih), Allah Ta”ala berfirman :

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا

yang artinya : “Telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada diri Rasulullah bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari akhir dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab : 21).

Beliau adalah orang yang berbicara dengan wahyu dari langit, Allah Ta”ala berfirman :

وما ينطق عن الهوى إن هو إلا وحي يوحى

yang artinya : “Dia tidaklah berbicara dari hawa nafsu melainkan dengan wahyu yang diwahyukan padanya” (an-Najm : 3-4).

Allah Ta”ala juga memerintahkan kita untuk menjadikan diri beliau sebagai hakim di dalam segala perkara hidup kita, firman-Nya :

فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما

yang artinya : “Maka demi Tuhanmu, sesungguhnya pada hakikatnya mereka tidak beriman hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim terhadap perselsihan yang terjadi diantara mereka, kemudian mereka tidak merasa berat di dalam hati dan mereka menerima dengan pasrah.” (an-Nisa” : 65).

Allah Ta”ala juga memperingatkan kita supaya tidak menyelisihinya dengan firman-Nya :

فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم

yang artinya : “Maka hendaknya orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpakan adzab yang pedih.” (an-Nuur : 63).

Adapun referensi para salaf shalih ketika berselisih adalah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Allah Ta”ala berfirman :

فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا

yang artinya : “Jika kalian berselisih tentang segala sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian ini lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa” : 59)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah penyampai risalah dari Rab-nya dan pemberi penjelasan bagi Kitab-Nya. Allah Ta”ala berfirman :

وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزّل إليهم

yang artinya : “Dan kami turunkan al-Qur’an kepadamu, supaya engkau menjelaskan kepada manusia tentang apa yang diturunkan kepada mereka.” (an-Nahl : 44).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، عضّوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل بدعة ضلالة

yang artinya : “Maka peganglah sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus dan mendapat petunjuk, gigitlah dengan gigi gerahammu, dan jauhilah olehmu perkara-perkara yang baru, karena setiap bid”ah itu sesat.”

Seutama-utama salaf setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah para sahabat, yang mereka mengambil agama mereka langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan kejujuran dan keikhlasan, sebagaimana Allah mensifati mereka di dalam kitab-Nya dengan firman-Nya :

من المؤمنين رجال صدقوا ما عاهدوا الله عليه فمنهم من قضى نحبه ومنهم من ينتظر وما بدلوا تبديلا

yang artinya : “Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur dan ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya.” (al-Ahzab : 23)

Mereka adalah orang yang mengamalkan perbuatan kebajikan sebagaimana yang Allah Ta”ala sebutkan di dalam Kitab-Nya dalam firman-Nya :

ولكن البر من آمن بالله واليوم الآخر والملائكة والكتاب والنبيين، وآتى المال على حبه ذوي القربى واليتامى والمساكين وابن السبيل والسائلين وفي الرقاب وأقام الصلاة وآتى الزكاة والموفون بعهدهم إذا عاهدوا والصابرين في البأساء والضراء وحين البأس أولئك الذين صدقوا وأولئك هم المتقون

yang artinya : “Akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir dan orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janji apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bena imannya, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. “ (al-Baqoroh : 177).

Ayat ini adalah ayat tadayyun yang menunjukkan cara beragama yang benar yang para sahabat radhiyallahu “anhum mensifatkannya. Kitabullah adalah dustur (undang-undang) dan nizham (peraturan) mereka, kemudian setelah itu as-Sunnah, yang merupakan ilmu yang paling berkah, yang paling utama dan paling banyak manfaatnya baik di dunia dan akhirat setelah Kitabullah Azza wa Jalla. As-Sunnah bagaikan taman-taman dan kebun-kebun, yang kau dapatkan di dalamnya kebaikan dan kebajikan. Kemudian setelah as-Sunnah adalah apa yang disepakati atasnya (ijma”) salaful ummah dan para imam mereka.

As-Salaf ash-Shalih juga merupakan generasi (kurun) terbaik yang paling utama sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam haditsnya :

خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

yang artinya : “Sebaik-baik manusia adalah pada generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” Dan sabdanya :

ثم يكون بعدهم قوم يشهدون ولا يستشهدون، ويخونون ولا يُؤتمنون، وينذرون ولا يوفون، ويظهر فيهم السـِّمَنُ

yang artinya : “Kemudian akan datang suatu kaum setelah mereka bersaksi namun tidak diminta kesaksiannya, mereka berkhianat dan tidak dipercaya, mereka bernadzar namun tak pernah memenuhinya, dan tampak kegemukan pada mereka.”

Ushuluddin (Pokok agama) yang dipegang teguh oleh para imam agama, ulama islam dan salaf shalih yang terdahulu, dan menyeru manusia kepadanya, adalah : mereka mengimani al-Kitab dan as-Sunnah secara global (ijmal) dan terperinci (tafshil), mereka bersaksi akan keesaan (wahdaniyah) Allah Azza wa Jalla dan bersaksi akan Nubuwah dan Risalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka mengenal Rabb mereka dengan sifat-Nya yang dipaparkan oleh wahyu-Nya dan risalah-Nya, atau yang dipersaksikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari berita yang datang dari khobar shahih dan dinukil oleh orang yang adil dan tsiqot. Mereka menetapkan bagi Allah Azza wa Jalla apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya sendiri di dalam Kitab-Nya, atau yang ditetapkan lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, tanpa melakukan tasybih (penyerupaan) terhadap makhluk-Nya, tanpa takyif (menggambarkan kaifiyatnya), tanpa ta”thil (meniadakan seluruh sifat-Nya), tanpa tahrif (memalingkan makna-Nya kepada makna yang bathil), tanpa tabdil (merubah maknanya) dan tanpa tamtsil (membuat contoh seperti makhluk). Allah Ta”ala berfirman :

ليس كمثله شيء وهو السميع البصير

yang artinya : “Tiada yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (asy-Syuraa : 11)

Imam az-Zuhri berkata :

على الله البيان، وعلى الرسول البلاغ، وعلينا التسليم

Artinya : “Hak Allah untuk menerangkan, dan hak Rasul untuk menyampaikan dan kewajiban kita untuk menerima pasrah”

Imam Sufyan bin “Uyainah berkata :

كل ما وصف الله تعالى به نفسه في كتابه، فتفسيره تلاوته والسكوت عنه

Artinya : “Setiap apa yang disifatkan oleh Allah Ta”ala terhadap diri-Nya di dalam Kitab-Nya maka penjelasannya (tafsirnya) adalah bacaannya dan kita diam dari (memperbincangkan)nya.”

Imam asy-Syafi”i berkata :

آمنت بالله، وبما جاء عن الله، على مراد الله، وآمنت برسول الله، وبما جاء عن رسول الله، على مراد رسول الله

Artinya : “Aku beriman kepada Allah, dan terhadap apapun yang datang dari Allah dengan apa yang dikehendaki Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah, dan terhadap apapun yang datang dari Rasulullah dengan apa yang dikehendaki Rasulullah.”

Di atas inilah para salaf dan para imam kholaf Radhiyallahu “anhum berjalan, seluruhnya bersepakat untuk mengikrarkan dan menetapkan segala sifat Allah yang datang dari Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya tanpa menentang dengan mentakwilnya, kita diperintahkan untuk mengikuti jejak mereka dan berpedoman dengan cahaya mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memperingatkan kita dari perkara-perkara baru (muhdats), dan memberitakannya bahwa hal tersebut termasuk kesesatan, beliau bersabda di dalam haditsnya :

عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، عضّوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل بدعة ضلالة

yang artinya : “Maka peganglah sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus dan mendapat petunjuk, gigitlah dengan gigi gerahammu, dan jauhilah olehmu perkara-perkara yang baru, karena setiap bid”ah itu sesat.” Yang telah disebutkan hadits dan takhrijnya.

Abdullah bin Mas”ud berkata :

اتبعوا ولا تبتدعوا فقد كفيتم

Artinya : “Ittiba”lah dan jangan membuat bid”ah karena kalian telah dicukupi”

Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu berkata :

قف حيث وقف القوم، فإنهم عن علم وقفوا وببصر نافذ كفوا

Artinya : “Berhentilah dimana kaum “salaf- itu berhenti, mereka berhenti karena berangkat dari dasar ilmu serta mampu untuk membahas namun mereka menahan diri darinya”

Imam al-Auza”i Rahimahullahu berkata :

عليك بآثار من سلف وإن رفضك الناس، وإياك وآراء الرجال وإن زخرفوه لك بالقول

Artinya : “Peganglah atsar dari salaf walaupun manusia menentangnya, jauhilah oleh kalian pemikiran-pemikiran manusia walaupun mereka menghiasinya dengan perkataan.”

Termasuk diantara aqidah salaf adalah, pendapat mereka bahwa Iman adalah ucapan dengan lisan, perbuatan dengan anggota tubuh, dan keyakinan dengan hati, serta iman dapat bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Termasuk diantara aqidah salaf adalah, bahwasanya kebaikan dan kejahatan adalah dengan keputusan (Qodlo”) Allah dan ketentuan-Nya (Qodar), namun Dia tidaklah memerintahkan keburukan. Sebagaimana perkataan sebagian salaf : Seluruhnya adalah dengan perintah Allah, karena Allah Ta”ala memerintahkan kebaikan dan melarang dari keburukan, Dia tidak memerintahkan kepada kekejian namun ia melarangnya. Dan manusia tidaklah dipaksa, ia mampu memilih perbuatan dan keyakinannya, dan ia berhak atas siksaan dan pahala sesuai dengan ikhtiarnya, ia dapat memilih perintah dan larangan. Allah Ta”ala berfirman :

فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر

yang artinya : “Barangsiapa yang berkehendak beriman maka hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang berkehendak kafir biarlah ia kafir.” (al-Kahfi : 29).

Termasuk diantara aqidah salaf adalah, mereka tidak mengkafirkan seorangpun dari kaum muslimin yang berdosa, walaupun mereka melakukan dosa besar, kecuali jika ia menentang sesuatu dari agama yang telah diketahui akan urgensinya, dan ia mengetahui mana yang khusus dan mana yang umum, dan perkara ini telah tetap dari al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma” salaful ummah dan para imamnya.

Termasuk diantara aqidah salaf adalah, mereka beribadah kepada Allah Ta”ala semata dan tidak mensekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, tidaklah mereka meminta melainkan hanya kepada Allah, mereka tidak pula beristighotsah dan beristi”anah melainkan kepada-Nya Subhanahu. Mereka tidak bertawakal melainkan kepada-Nya Jalla wa “Ala dan mereka bertawasul kepada Allah dengan ketaatannya, ibadahnya, dan amal-amal shalihnya. Sebagaimana firman Allah Ta”ala :

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وابتغوا إليه الوسيلة

yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan-jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (al-Maidah : 35) yaitu, dekatlah kepada-Nya dengan ketaatan dan ibadah kepada-Nya.

Termasuk diantara aqidah salaf adalah, sholat boleh di belakang setiap orang yang baik maupun yang fajir selama zhahirnya masih benar. Dan kita tidak menetapkan seorangpun siapapun dia dengan surga atau neraka kecuali terhadap orang-orang yang telah ditetapkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Akan tetapi kami mengharapkan kebaikan dan takut akan keburukan. Kami mempersaksikan sepuluh orang yang diberitakan masuk surga sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mempersaksikan mereka. Dan setiap orang yang dipersaksikan oleh Nabi dengan surga maka kami turut mempersaksikannya, karena beliau tidaklah berucap dari hawa nafsu kecuali wahyu yang diwahyukan.

Kami memberikan loyalitas/kecintaan kepada para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan menahan diri dari memperbincangkan percekcokan dan perselisihan dinatara mereka. Dan urusannya adalah pada Rabb mereka. Kami tidak mencela salah seorang dari sahabat, sebagai pengejawantahan sabdanya :

لا تسبوا أصحابي، فو الذي نفسي بيده لو أنفق أحدكم مثل أحد ذهبا ما بلغ مدّ أحدهم ولا نصيفه

Yang artinya : “Janganlah kalian mencela sahabatku, demi dzat yang jiwaku berada di tangannya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan hartanya sebanyak gunung uhud, tidak akan mampu mencapai satu mud infaq mereka maupun setengahnya.”

Para sahabat tidaklah maksum dari kesalahan, karena ishmah (kemaksuman) adalah milik Allah dan rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam menyampaikan. Dan Allah Ta”ala memelihara ijma” ummat dari kesalahan, bukan satu individu, sebagaimana sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam haditsnya :

إن الله لا يجمع أمتي على الضلالة، ويد الله على الجماعة

yang artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan ummatku di atas kesesatan, dan tangan Allah di atas jama”ah.”

Kami memohon Ridha Allah bagi isteri-isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Ummahatul Mukminin, dan kami berkeyakinan bahwa mereka suci terbebas dari segala keburukan.

Termasuk diantara aqidah salaf adalah, tidak wajib bagi seorang muslim untuk mengikatkan dirinya kepada madzhab fikih tertentu, dan boleh baginya keluar dari satu madzhab ke madzhab lainnya berdasarkan kekuatan dalil. Tidak ada madzhab bagi orang awam, madzhabnya adalah madzhab muftinya. Bagi penuntut ilmu, jika dia memiliki keahlian dan mampu untuk mengetahui dalil-dalil para imam maka hendaklah ia melakukannya, dan berpindah dari madzhabnya seorang imam dalam suatu masalah kepada madzhab imam lain yang memiliki dalil lebih kuat dan pemahaman lebih rajih di dalam masalah lainnya. Yang demikian ini dikatakan sebagai muttabi” bukanlah mujtahid, karena ijtihad adalah menggali hukum langsung dari Kitabullah dan as-Sunnah sebagaimana para imam yang empat melakukannya ataupun selain mereka dari para ahi fikih dan ahli hadits.

Termasuk diantara aqidah salaf adalah, bahwasanya para sahabat yang empat, yaitu : Abu Bakar, “Umar, “Utsman dan “Ali Radhiyallahu “anhum, mereka adalah para khalifah yang lurus lagi mendapatkan petunjuk (Khulafa”ur Rasyidin al-Mahdiyin). Mereka yang memegang kekhalifahan nubuwah selama 30 tahun ditambah kekhilafahan Husain Radhiyallahu “anhum, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

الخلافة في أمتي ثلاثون سنة، ثم مُلك بعد ذلك

yang artinya : “Kekhilafahan pada ummatku selama 30 tahun, kemudian akan berbentuk kerajaan setelahnya.”

Termasuk diantara aqidah salaf adalah, wajib mengimani seluruh yang berada di dalam al-Qur’an dan Allah Ta”ala memerintahkan kita dengannya, dan meninggalkan setiap apa yang dilarang Allah kepada kita baik secara global maupun terperinci. Kami mengimani segala apa yang diberitakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan yang telah shahih penukilan darinya baik yang dapat kita saksikan maupun yang tidak dapat, sama saja baik yang dapat kita nalar maupun yang tidak kita ketahui dan tidak pula dapat kita telaah hakikat maknanya. Kita melaksanakan segala perintah Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan kita menjauhi terhadap segala apa yang Allah dan Rasul-Nya melarangnya. Kita berhenti pada batasan-batasan (Hudud) Kitabullah Ta”ala dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan yang datang dari Khalifah ar-Rasyidin al-Mahdiyin. Wajib bagi kita mengikuti segala apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam baik berupa keyakinan, amal perbuatan, dan ucapan, serta meniti jalannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan jalannya para Khalifah ar-Rasyidin al-Mahdiyin yang empat baik berupa keyakinan, amal perbuatan mapun ucapan. Inilah dia sunnah yang sempurna itu, dikarenakan sunnah Khalifah ar-Rasyidin diikuti sebagaimana mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Umar bin Abdul Aziz berkata :

سن لنا رسول الله  وولاة الأمر من بعده سننا، الأخذ بها اعتصام بكتاب الله، وقوة على دين الله، ليس لأحد تبديلها ولا تغييرها، ولا النظر في أمرٍ خالفها، من اهتدى بها فهو المهتدي، ومن استنصر بها فهو المنصور، ومن تركها واتبع غير سبيل المؤمنين ولاّه الله ما تولى وأصلاه جهنم وساءت مصيراً

Artinya : “Rasulullah meninggalkan sunnah bagi kita demikian pula para pemimpin setelah beliau, mengambil sunnah dengan berpegang terhadap Kitabullah dan memperkuat agama Allah. Tidak ada seorangpun yang merubah maupun menggantinya, tidak pula ada pandangan terhadap sesuatu yang menyelisihinya. Barangsiapa yang berpetunjuk dengannya maka ia akan mendapatkan petunjuk, dan barangsiapa yang menolongnya maka ia akan ditolong. Namun barangsiapa yang meninggalkannya dan mengikuti selain jalannya orang yang beriman maka Allah akan membiarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang ia condong padanya dan baginya jahannam seburuk-buruk tempat kembali.”

Sebagai saksi kebenaran terhadap hal ini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة

yang artinya : “Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru karena setiap bid”ah itu sesat.” Hadits ini merupakan pokok yang agung dari pokok-pokok agama, dan hadits ini semakna dengan hadits :

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ

yang artinya : “Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam urusan kami yang tidak ada perintahnya maka tertolak.”

Di dalam hadits ini terdapat suatu peringatan dari mengikuti perkara-perkara yang baru (muhdats) di dalam agama dan ibadah. Yang dimaksud dengan bid”ah adalah segala perkara yang diada-adakan tanpa ada dasarnya dari syariat yang menunjukkan pensyariatannya. Adapun jika suatu perkara memiliki asal di dalam syariat yang menunjukkan pensyariatannya maka bukanlah hal ini termasuk bid”ah secara syariat, namun dimutlakkan sebagai bid”ah secara bahasa. Maka setiap orang yang mengada-adakan sesuatu dan menyandarkannya kepada agama padahal tidak ada asal yang yang menunjukkannya maka ia termasuk kesesatan, dan agama ini berlepas diri darinya baik itu dalam masalah keyakinan, perbuatan maupun ucapan.

Adapun yang terdapat pada ucapan salaf yang menyatakan kebaikan beberapa bid”ah, maka sesungguhnya yang dimaksud adalah bid”ah secara bahasa tidak secara syar”i (istilah), diantaranya adalah ucapan Umar bin Khaththab Radhiyallahu “anhu tatkala beliau mengumpulkan manusia pada saat sholat Tarawih di bulan Ramadhan pada imam yang satu di Masjid, beliau keluar dan melihat mereka sedang sholat, beliau berkata : نعمت البدعة هذه” yang artinya : “Ini adalah sebaik-baik bid”ah”, namun amalan ini memiliki dasar di dalam syariat, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah sholat Tarawih secara berjama”ah di Masjid, kemudian beliau meninggalkannya karena takut akan diwajibkan kepada ummatnya sedangkan ummatnya tidak mampu mengamalkannya. Ketakutan ini sirna setelah wafatnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, oleh karena itu Umar menghidupkannya kembali. Adapun ibadah yang telah tetap di dalam syariat maka tidak boleh menambah-nambahinya.

Misalnya adzan, telah baku kaifiyatnya yang disyariatkan tanpa perlu menambah-nambah maupun mengurang-ngurangi. Demikian pula sholat, telah baku kaifiyatnya yang disyariatkan, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : صلوا كما رأيتموني أصلي yang artinya : “Sholatlah kamu sebagaimana aku sholat.” Hadits ini shahih diriwayatkan oleh Bukhari di dalam Shahih”-nya. Haji pun juga telah baku kaifiyatnya dari syariat, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : خذوا عني مناسككم yang artinya : “Ambillah dariku manasik hajimu.” Ada beberapa perkara yang dilakukan oleh kaum muslimin yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Namun perkara-perkara ini merupakan suatu keharusan (dharuriyah) dalam rangka memelihara Islam, mereka memperbolehkanya dan mendiamkannya, seperti Utsman bin “Affan yang mengumpulkan mushaf menjadi satu karena khawatir ummat akan berpecah belah, dan para sahabat lainpun menganggap hal ini baik, karena padanya terdapat maslahat yang sangat jelas. Juga seperti penulisan hadits Nabi yang mulia dikarenakan khawatir akan sirna karena kematian para penghafalnya. Demikan pula penulisan tafsir al-Qur’an, al-Hadits, penulisan ilmu nahwu untuk menjaga Bahasa Arab yang merupakan sarana dalam memahami Islam, penulisan ilmu mustholah hadits. Semua ini diperbolehkan dalam rangka menjaga syariat Islam dan Allah Ta”ala sendiri bertanggung jawab dalam memelihara syariat ini sebagaimana dalam firman-Nya :

إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون

yang artinya : “Sesungguhnya kami yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya kami pula yang bertanggung jawab memeliharanya.” (al-Hijr : 9)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

يحمل هذا العلم من كل خَلَف عُدوله، ينفون عنه تحريف الغالين، وانتحال المُبطلين، وتأويل الجاهلين

yang artinya : “Ilmu ini diemban pada tiap generasi oleh orang-orang adilnya, mereka menghilangkan perubahan orang-orang yang ekstrim, penyelewengan orang-orang yang bathil dan penakwilan orang-orang yang bodoh.” Hadits ini hasan dengan jalan-jalannya dan syawahid (penguat)-nya.

Inilah aqidah generasi pertama dari ummat ini, dan aqidah ini adalah aqidah yang murni seperti murninya air tawar, aqidah yang kuat seperti kuatnya gunung yang menjulang tinggi, aqidah yang kokoh seperti kokohnya tali simpul yang kuat, dan ia adalah aqidah yang selamat, jalan yang lurus di atas manhaj al-Kitab dan as-Sunnah serta di atas ucapan Salaful Ummah dan para imamnya. Dan ia adalah jalan yang mampu menghidupkan hati generasi pertama ummat ini, ia merupakan aqidah Salafush Shalih, Firqoh Najiyah (Golongan yang selamat) dan Ahlus Sunnah wal Jama”ah. Aqidah ini mrp aqidahnya para imam yang empat dan pemegang madzhab yang masyhur serta para pengkutnya, aqidahnya jumhur ahli fikih dan ahli hadits serta para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan aqidahnya orang-orang yang meniti jalan mereka hingga saat ini dan hingga hari kiamat. Sesungguhnya telah berubah orang-orang yang merubah ucapan-ucapan mereka, oleh sebagian mutaakhirin (orang-orang generasi terakhir) yang menyandarkan diri mereka kepada madzhab mereka. Maka wajib atas kita kembali kepada aqidah salafiyah yang murni, kepada sumbernya yang telah direguk oleh orang-orang terbaik dari Salaf Sholih. Maka kita diam terhadap apa yang mereka diamkan, kita menjalankan ibadah sebagaimana mereka menjalankannya, dan kita berpegang dengan al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma” Salaful Ummah dan para imamnya serta qiyas yang shahih pada perkara-perkara yang baru (kontemporer).

Imam an-Nawawi berkata di dalam al-Adzkar :

واعلم أن الصواب المختار ما كان عليه السلف رضي الله عنهم، وهذا هو الحق، ولا تغترن بكثرة من يخالفه

yang artinya : “Ketahuilah, bahwa kebenaran yang terpilih adalah apa yang para salaf Radhiyallahu “anhum berada di atasnya.”

Demikian pula Abu Ali al-Fudhail bin “Iyyadh berkata :

الزم طرق الهدى ولا يضرك قِلة السالكين، وإياك وطرق الضلالة، ولا تغترن بكثرة الهالكين

yang artinya : “Tetapilah jalan-jalan petunjuk dan tidaklah akan membahayakanmu sedikitnya orang yang menitinya. Jauhilah olehmu jalan-jalan kesesatan, dan janganlah dirimu terpedaya dengan banyaknya orang yang binasa.”

Inilah satu-satunya jalan yang akan memperbaiki keadaan ummat ini. Telah benar apa yang dikatakan oleh Imam Malik bin Anas Rahimahullahu, seorang penduduk Madinah al-Munawarah ketika berkata :

لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها

yang artinya : “Tidaklah akan baik akhir ummat ini kecuali mereka mengikuti baiknya awal ummat ini.” Tidaklah akan musnah kebaikan di dalam ummat ini, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda di dalam haditsnya :

لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله وهم كذلك

yang artinya : “Akan senantiasa ada segolongan dari ummatku yang menampakkan kebenaran, tidaklah membahayakan mereka orang-orang yang mencela, mereka tetap dalam keadaan demikian sampai datangnya hari kiamat.”

Inilah Aqidah Salaf Sholih yang telah disepakati oleh sejumlah besar para ulama, diantaranya adalah Abu Ja”far ath-Thahawi, yang telah disyarah aqidahnya oleh Ibnu Abil Izz al-Hanafi salah seorang murid Ibnu Katsir ad-Dimasyqi, yang dinamakan dengan

“Syarh Aqidah ath-Thahawiyah”. Diantara mereka juga Abul Hasan al-Asy”ari di dalam kitabnya “al-Ibanah “an Ushulid Diyaanah”, yang di dalamnya terhimpun aqidah beliau yang terakhir, beliau berkata :

قولنا الذي نقول به، وديانتنا التي ندين بها: التمسك بكتاب الله عز وجل، وبسنة نبينا ، وما روي عن الصحابة والتابعين وأئمة الحديث، ونحن بذلك معتصمون، وبما كان يقول به أبو عبد الله أحمد بن حنبل قائلون، ولمن خالف قوله مجانبون

yang artinya : “Pendapat yang kita berpendapat dengannya dan agama yang kita beragama dengannya adalah : kita berpegang dengan Kitabullah Azza wa Jalla dan dengan Sunnah Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, serta dengan apa yang diriwayatkna dari para sahabat, tabi”in dan para imam hadits. Kami berpegang dengan itu semuanya, dan dengan apa yang dikatakan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, dan orang-orang yang menyelisihi ucapannya adalah orang yang sesat.”

Termasuk pula tulisan tentang aqidah salafus shalih adalah apa yang ditulis oleh Ash-Shabuni dalam kitabnya “Aqidah Salaf Ashabul hadits”, dan juga diantaranya adalah Muwafiquddin Abu Qudamah al-Maqdisy al-Hanbali dalam kitabnya “Lum”atul I”tiqod al-Haadi ila Sabilir Rosyad”, dan selain mereka dari para ulama yang mulia. Semoga Allah membalas mereka semua dengan kebaikan.

Kami memohon kepada Allah untuk menunjuki kami kepada Aqidah yang murni, jalan yang terang benderang lagi suci dan akhlak yang mulia terpuji. Dan kita memohon supaya menghidupkan kita di atas Islam dan mematikan kita di atas syariat nabi kita Muhammad alaihi Sholatu wa Salam.

Ya Allah, tetapkanlah kami sebagai muslim dan kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang shalih bukan orang-orang yang hina lagi terfitnah, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami serta seluruh kaum mukminin pada hari ditegakkannya perhitungan. Kami memohon kepada Allah Ta”ala agar senantiasa mengilhamkan kepada kami kebenaran di dalam berkata dan beramal, sesungguhnya Ia Maha Mampu atas segala hal dan Dialah Dzat satu-satunya yang layak dipinta. Demikianlah akhir seruan kami, segala puji hanyalah milik Allah pemelihara alam semesta.

Pelayan Sunnah Nabawiyah, Abu Muhammad Abdul Qodir al-Arna`uth

Allahlah di balik segala tujuan.

bersambung ke bagian 3….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: