Ghibah (bag-1)

GHIBAH UNTUK ORANG FASIK

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimulloh ditanya tentag sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam “Tidak ada ghibah untuk orang yang fasik” apa batasan kefasikan? Dan seseorang breselisih dengan dua orang, salah satunya adalah peminum khamr, suka menemani minum, memakan barang haram, menghadiri tari-tarian, mendengarkan musik, atau mendengarkan syair-syair tentang muda-mudi: apakah bagi orang yang tidak memberi salam kepadanya berdosa?

Beliau menjawab:

Ucapan tersebut bukan hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, tetapi atsar yang diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri bahwa ia berkata, “Apakah kamu suka menyebut orang yang durhaka? Sebutkanlah tentang suatu kejelekan yang terdapat dalam dirinya agar manusia waspada terhadapnya”. Dalam hadits yang lain disebutkan, “Siapa saja yang melepaskan pakaian malunya, maka tidak ada ghibah untuknya”. Dua jenis berikut ini diperbolehkan ghibah tanpa diperselisihkan di kalangan ulama:

Pertama, seseorang menampakkan kedurhakaannya, misalnya kezhaliman, kenistaan dan bid’ah yang menyelisihi sunnah. Sebab jika dia menampakkan kemungkaran, maka wajib dicegah menurut kemampuan, sebagaimana sabdanya,

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman”
(HR. Muslim)

Dalam Al Musnad dan As Sunan dari Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu, bahwa ia berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca Al Qur’an dan membaca ayat ini, tetapi kalian memahaminya secara keliru,

“artinya: Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuknya”.
(Q.S Al Maidah 105)

Sesungguhnya aku mendengar Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“artinya: Manusia apabila melihat kemungkaran dan tidak merubahnya, maka nyaris Allah akan mengadzab mereka semua karena kemungkaran tersebut.”
(HR. Tirmidzi).

Barangsiapa yang menampakkan kemungkaran, maka wajib dicegah, dikucilkan dan dicela. Inilah makna sabdanya, “Barangsiapa yang melepaskan pakaian malu, maka tidak ada ghibah atasnya.” Berbeda dengan orang yang menyembunyikan dosanya maka ini harus ditutupi tetapi secara rahasia. Sementara orang yang mengetahui perihal dirinya bisa mengucilkannya sampai dia bertaubat serta mengingatkan perihal dirinya dengan cara menasehati.

Kedua, seseorang dimintai nasihat (pendapat) mengenai pernikahan, muamalah dan persaksian seseorang, sedangkan dia tahu bahwa ia tidak layak untuk itu. Lalu yang diminta nasihatnya menasehatinya dengan menjelaskan perihal orang yang dimaksud. Sebagaimana termaktub dalam hadits Shohih bahwa Fathimah binti Qais berkata kepada rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam, “Abu Jahm dan Mu’awiyah telah meminangku.” Maka beliau berkata kepadanya, “Adapun Abu Jaham, maka ia adalah laki-laki yang suka memukul wanita; sedangkan Mu’awiyah adalah orang miskin tak berharta” (HR. Muslim dalam ath Thalaq 1480/36)

Jadi, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan tentang perihal dua peminang wanita tersebut. Ini adalah hujjah terhadap ucapan Al Hasan, “Apakah kamu suka menyebut seseorang durhaka? Sebutkanlah dia tentang apa yang terdapat dala dirinya sehingga manusia waspada kepadanya.” Sebab nasihat untuk agama itu lebih besar daripada nasihat untuk dunia. Jika Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menasehati wanita tersebut untuk urusan dunianya, maka menasehati dalam urusan agama tentu lebih besar.

Jika seseorang meninggalkan shalat dan melakukan berbagai kemungkaran, berteman dengan orang baik yang sangat mungkin agamanya rusak karena persahabatannya tersebut, maka boleh dijelaskan kepadanya perihal temannya suapya dia berhati-hati bergaul dengannya. Jika ia pelaku bid’ah yang mengajak kepada keyakinan-keyakinan yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah, atau meniti jalan yang menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah, serta dikhawatirkan orang tersebut akan menyesatkan manusia dengan perbuatannya itu, maka jelaskan perihalnya kepada manusia agar mereka hati-hati terhadap kesesatannya dan mengetahui perihal dirinya. Ini semuanya wajib dengan cara menasehati dan bertujuan untuk mencari keridhaan Allah, bukan karena hawa nafsu seseorang terhadap orang lain. Misalnya antara keduanya terdapat permusuhan duniawi, kedengkian, kebencian, atau persengketaan untuk menduduki suatu jabatan, kemudian dia berbicara mengenai keburukannya seolah-olah mensehati padahal tujuan batinnya adalah untuk menghina dan menuntut hak dairnya. Ini adalah perbuatan setan dan,

“Perbuatan itu hanyalah tergantung niatnya, dan masing-masing orang itu hanyalah tergantung apa yang diniatkannya”.
(HR. Al Bukhari dan Muslim)

Tetapi sebaliknya orang yang menasehati hendaknya bermaksud agar Allah memperbaiki keadaan orang tersebut dan menolak dampak buruknya terhadap umat Islam, baik urusan dunia maupun akhirat, dan untuk mencapai tujuan ini, ia menempuh cara yang paling mudah dilakukan.

Tidak boleh sseorang menghadiri tempat-tempat kemungkaran dengan kemauannya sendiri tanpa alasan yang dibenarkan. Sebagaimana dalam hadits bahwa beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka janganlah ia duduk pada suatu hidangan yang di atasnya disediakan khamr”.

Pernah diajukan kepada Umar ibn Abdul Aziz suatu kaum yang meminum khamr, maka beliau memerintahkan supaya mencambuk mereka. Dikatakan kepadanya, “Di antara mereka ada yang tidak minum.” Maka beliau memerintah, “Mulailah (hukuman itu) dengannya! Apakah kalian tidak mendengar firman Allah, ‘Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olok (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. (An Nisa’:140)’” Umar bin Abdul Aziz menjelaskan bahwa Allah menjadikan orang yang menghadiri kemungkaran sama dengan pelaku kemungkaran. Karena itu para ulama mengatakan, “Jika seseorang diundang ke sebuah pesta yang di dalamnya terdapat kemungkaran, seperti khamr dan seruling (musik), maka tidak boleh menghadirinya.” Itu mengingat karena Allah subhanahu wa ta’alaa memerintahkan kepada kita supaya mengingkari kemungkaran menurut kesanggupan. Karena itu barangsiapa yang hadir dengan pilihannya sendiri dan tidak mengingkarinya, maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan meninggalkan perintah-Nya, yaitu tidak mengingkari dan mencegahnya. Jika masalahnya demikian, maka orang yang mendatangi tempat-tempat khamr dengan kesadarnnya tanpa keterpaksaan dan tidak mengingkari kemungkaran sebagaimana yang diperintahkan Allah adalah sekutu orang-orang yang fasik dalam hal kefasikan mereka. Maka ia disamakan dengan mereka.

One Response

  1. […] tetang saudaramu mengenai apa yang tidak disukainya”. Seperti yang telah saya tulis di artikel sebelumnya tentang ghibah. Maka sekarang ini kita bahas ghibah terhadap seseorang. Kita ketahui bahwa orang […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: