Ghibah (bag-2)

GHIBAH KEPADA ORANG TERTENTU

Syaikhul Islam ditanya tentang ghibah: Apakah ghibah boleh terhadap orang-orang tertentu atau seseorang menunjuk orang tertentu? Dan apa hukum mengenai hal itu? Berilah fatwa kepada kami secara ringkas; agar orang-orang yang memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran mengetahui perkara tersebut sertamasing-masing pihak bisa bsersandar menurut kemampuannya dalam ilmu dan hukum!

Beliau menjawab,

Alhamdulillahirabbi’alamin. Prinsip pembicaraan mengenai masalah ini hendaknya diketahiu bahwa ghibah itu, sebagaimana ditafsirkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits shohih, tatkala beliau ditanya mengenai ghibah lalu beliau menjawab,

“artinya: Kamu menyebut tentang saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya.” Ditanyakan, “Wahai rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam, bagaimana menurutmu jika apa yang aku katakan mengenai suadaraku itu benar adanya?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan itu memang benar, maka kamu telah menggunjingnya; dan jika apa yang kamu katakan itu tidak benar, maka kamu telah mendustainya”
(Musllim dalam Al Birr, 2589/70; dan Abu Daud dalam Al Adab, no 4874; keduanya dari Abu Hurairah )

Beliau membedakan antara Ghibah(menggunjing) dan Buhtan (berdusta), dan bahwa berdusta terhadapnya merupakan suatu kebohongan baginya. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’alaa,

“artinya: Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu, “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita membicarakan ini. Mahasuci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar”.
(An Nur:16)

Dan frimanNya,

“artinya: Dan tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka.”
(Al Mumtahanah ayat 12)

Dalam hadits shahih disebutkan,

“Sesungguhnya Kaum Yahudi adalah kaum yang suka berdusta”
(HR. Al Bukhari dalam Al Anbiya’, no 3329 dari Anas)

Berdusta terhadap seseorang adalah haram, baik dia muslim maupun kafir, berbakti maupun durhaka, tetapi mengada-adakan kedustaan atas orang mukmin adalah jauh lebih berat, bahkan kedustaan itu seluruhnya adalah haram.

Tetapi dibolehkan, tatkala dibutuhkan secara syar’i, melakukan Ta’ridh (bahasa kiasan) -kadangkala disebut “kedustaan” -. Karena pembicaraan yang dimaksudkan oleh si pembicara ialah arti tertentu, yaitu arti yang dikehendaki supaya difahami oleh orang yang diajak berbicara. Jika ia tidak berniat berbicara menurut apa yang dimaksudkannya, maka itu kedustaan sejati. Dan jika ia berkata menurut apa yang dimaksudkannya, tetapi bukan menurut apa yang difahami oleh orang yang diajak bicara, maka ini adlaah ta’ridh (kiasan). Ini kedustaan dari sisi pemahaman, meskipun bukan kedustaan menurut tujuan yang dimaksudkan. Termasuk dalam hal ini sabda rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam,

“Nabi Ibrahim tidak pernah berdusta kecuali tiga hal; dua di antaranya berkaitan dengan dzat Allah subhanahu wa ta’alaa 1) ketika ia berkata, ‘Sesungguhnya saya sakit’ dan 2) ‘Bahkan yang melakukan pembunuhan terhadap berhala-berhala tersebut adlah berhala yang paling besar ini’ 3) Ketika dia dan Sarah menerima masalah yaitu ketika suatu kabar datang kepada salah seorang raja tirani bahwa ada seorang laki-laki bresama seorang wanita yang cantik, maka raja tirani tersebut mengutus seorang mengutus seorang utusan yang menanyakannya seraya berkata, ’siapa ini?’ Dia adalah saudariku (padahal istri Ibrahim)….”
(Hr Al Bukhari dalam Al Anbiya’ no 3358 dari abu Hurairah)

Ketiga dasar inilah ta’ridh.

Dengan dasar inilah para ulama berargumen tentang bolehnya ta’ridh bagi orang yang dizhalimi. Yaitu: dengan ucapannya itu dia memaksudkan arti tertentu dari suatu kata yang mengandung pengertian lain, meskipun tidak dipahami orang yang bertanya. Karena itulah sebagian ulama mengatakan, “Apa yang diperbolehkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam hanyalah bertolak dari sini, sebagaimana dalam hadits Ummu Kultsum bin Uqbah dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

“Tidak dikatakan sebagai pendusta orang yang berdusta karena sesuatu yang diniatkan untuk mendamaikan diantara manusia. Lalu ia menyampaikan kebaikan, atau mengatakan dengan kebaikan”
(HR. Al Bukhari dalam Ash Shulh 2692 dan Muslim dalam Al Birr wa Ash Shilah wa Al Adab 2605/101)

Beliau tidak memberi rukhsah mengenai apa yang disebut manusia sebagai kedustaan, kecuali untuk tiga perkara: untuk mendamaikan sesama manusia, untuk peperangan, dan untuk suami istri yan gberbicara dengan istrinya. (HR Muslim dalam Al Birr). Ini semuanya termasuk Ta’ridh yang diperkenankan secara khusus.

Karenanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam meniadakan sebuan dusta darinya karena terdapat niat dan tujuan. Sebagaimana shahih dari beliau, bahwa beliau bersabda,

“Perang itu adalah tipu daya”. (HR. Al Bukhari dalam Al Jihad 3029, dan Muslim dalam Al Jihad 1740/18, 1740/17 dari Abu Hurairah dan Jabir bin Abdillah)

Jika hendak berperang beliau menyembunyikan hal itu dengan kiasan. Termasuk dalam kategori ini ialah ucapan ash Shiddiq saat dalam perjalanan hijrah tentang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, “Orang ini menunjjan jalan kepadaku.” Juga ucpaan beliau kepada orang kafir yang bertanya kepadanya dalam perang Badar, “Kami berasal dari Ma’ (air).” Dan ucapan beliau kepada orang yang bersumpah atas seorang muslim yang hendak ditawan oleh orang-orang kafir, “Sesungguhnya dia itu saudaraku”. Yakni saudara seagama, tetapi mereka memahaminyha sebagai saudara senasab. Sebab nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya akulah saudara yang paling berbakti dan paling jujur; orang Islam itu saudara bagi orang islam yang lainnya.”

Yang dimaksudkan di sini, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah membedakan antara Ghibah (menggunjing) dan Bughtan (berdusta). Beliau memberitahukan bahwa orang yang memberitakan tentang sesuatu yang dibenci oleh saudaranya yang beriman, jika ia memang benar, mnaka ia menggunjingkan. Sabda beliau, “Kamu menyebutkan saudaramu tentang apa yang tidak diskuainya” selaras dengan firman-Nya,

“artinya: Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah kamu memakan daging saudaramu yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya”.
(Q.S Al Hujurat: 12)

Alasan pengharaman tersebut adalah karena dia saudara, saudara dalam Iman. Karena itu ghibah semakin berat menurut keadaan seorang mukmin. Semakin besar keimanannya, maka menggunjingkannya lebih berat lagi (keharamannya).

Termasuk jenis ghibah ialah Al Hamz (mengumpat) dan Al Lamz(mencibir). Karena keduanya mencela orang lain dan menyakitinya, sebagaimana dalam ghibah. Tetapi Al Hamz(mengumpat) itu mencela dengan keras dan kasar. Berbeda dengan Al Lamz (mencibir), karena kadangkala tidak disertai kekerasan dan kekasaran, sebagaimana firman-Nya,

“artinya: Dan diantara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat”.
(Q.S At Taubah:58). Yakni mencela dan menyakitimu.

Dia berfirman:

“artinya: Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri”.
(Q.S Al Hujurat: 11) Yakni mencela satu sama lain.

Dia berfirman,

“artinya: Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah”.
(Q.S Al Qalam:11).

Dia berfirman,

“artinya: Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.”
(Q.S Al Humazah:1)

Jika ini sudah jelas, maka kami katakan: Menyebut orang lain dengan sesuatu yang tidak disukainya itu berdasarkan dua tinjauan: Pertama, menyebutkan jenis. Kedua, menyebutkan orang tertentu yang masih hidup atau sudah mati.

Adapun yang pertama, seluruh jenis yang dicela Allah dan Rasul-Nya maka wajib dicela, dan itu bukan ghibah. Demikian pula segala jenis yang dipuji Allah dan Rasul-Nya wajib dipuji, dan segala yang dikutuk Allah dan rasul-Nya harus dikutuk. Sebagaimana halnya orang yang telah diberi shalawat oleh Allah dan para malaikatnya harus diberi shalawat. Allah telah mencela orang kafir, pendurhaka, orang fasik, orang zhalim, orang yang menyimpang, orang sesat, pendengki, orang bakhil, tukang sihir, pemakan riba beserta pemberinya, pencuri, pezina, orang yang congkak, orang yang banyak durhaka, orang yang sombong dan angkuh dan sejenisnya. Demikian juga Dia memuji orang mukmin yang bertakwa, orang yang jujur, orang yang berbakti, orang yang adil, orang yang mendapat petunjuk, orang yang mendapat bimbingan, orang yang dermawan, orang yang bersedekah, penyayang dan semisalnya. Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam telah melaknat pemakan riba berikut pemberianya, saksinya dan penulisnya, melaknat Muhallil dan Muhallal lahu (Muhallil adalah orang yang sengaja menikahi wanita yang ditlaka tiga agar ia boleh dinikahi suaminya yang pertama (Muhallal lahu)), melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual dan lesbian), melaknat orang yan gmelakukan perbuatan kriminal atau melindungi penjahat, melaknant orang karena khamr yaitu orang yang memerahnya, orang yang menyimpannya (sehingga menjadi arak), ditrsibutornya, agennya penjualnya, pembelinya, orang yang meminuminya, peminumnya dan pemakan harganya. Beliau melaknat kaum Yahudi dan Nashrani yang kepada merkea diharamkan mamakan lemak, tetapi mereka mencairkannya menjadi minyak lalu menjualnya dengan memakan harganya. Allah melaknat orang-orang yang menyembunyikan apa yang diturunkanNya dari penjelasan-penjelasan sesudah Dia jelaskan kepada manusia. Di ajuga melaknat orang-orang zhalim.

Allah dan malaikatNya bershalawat kepada Nabi dan bershalawat kepada orang-orang yang beriman. Orang yang bersabar lagi beristirja’ (mengucapkan Inna lillahi wa Inna ilaihi raji’un) mendapatkan shalawat dan rahmat dari Tuhannya. Allah dan para malaikatNya juga bershalawat kepada orang yang mendidik manusia kepada kebajikan, dan segala sesuatu hingga ikan dan burung pun memohonkan ampunan untuknya. Allah subhanahu wa ta’alaa memerintahkan kepada Nabinya agar memohon ampun bagi dosanya dan bagi orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan.

Jika dimaksudkan ialah memerintahkan kebajikan dan meootifasinya untuk itu serta mencegah kemungkaran dan meminta berwaspada darinya, maka semua harus disebutkan. Karena itu apabila sampai kepada beliau bahwa seseorang melakukan apa yang dilarangnya, beliau bersabda:

“Mengapa suatu kaum menysaratkan syarat yang tidak ada dalam Kitabulloh? Barangsiapa mensyaratkan suatu syarat yang tidak terdapat dalam Kitabullah, maka itu batil, meskipun memberikan seratus syarat, niscaya syarat Allah lebih haq dan tepat”.
(HR. AL Bkuhari dalam Al Makatib 2563 dari Aisyah).

“Mengapa orang-orang menghindarkan diri dari hal-hal yang aku lakukan. Demi Allah, sungguh aku orang yang paling tahu tentang Allah dan paling bertakwa kepadaNya di antara mereka”
(HR. Al Bkuhari dalam Al I’tisham 7301 dari Aisyah dengan lafal yang mirip).

“Mengapa diantara orang-orang ada yang berkata, ‘Aku akan berpuasa dan tidak akan berbuka’; yang lainnya berkta, ‘Aku akan shalat sepanjang malam dan tidak tidur’; yang lainnya berkata, ‘Aku tidak akan menikahi wanita’; dan yang lainnya berkata, ‘Aku tidak akan makan daging’. Padahal aku berpuasa dan berbuka, bangung (untuk shalat malam) dan tidur, aku menikahi beberapa orang wanita dan makan daging. Siapa saja yang membenci sunnahku, maka dia bukan golonganku”.
(HR. Bukhari dalam An Nikah 5063, dan Muslim dalam An Nikah 1401/5)

Tidak boleh bagi seseorang melekatkan pujian dan celaan, cinta dan kebencian, loyalitas dan permusuhan, shalawat dan kutukan pada selain nama-nama yang diperkenankan oleh Allah. Seperti: Nama-nama kabilah, kota, madzhab, tahriqah yang dihubungkan kepada para imam dan para syaikh, dan sejenisnya yang dimaksudkan sebagai ta’rif (pengenalan). Sebagaimana firmanNya,

“artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu”.
(Q.S Al Hujaraat: 13)

“artinya: Ingatla, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yan gberiman dan mereka selalu bertakwa”.
(Q.S Yunus: 62-63).

“artinya:Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa” (Q.S Maryam: 63)

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukan para kekasih (penolong)ku, tetapi kekasih (penolong)ku hanyalah Allah dan kaum mukmin yang shahih”.
(HR. Al Bukhari dalam Al Adab 5990, dan Muslim dalam Al Iman 215/366, keduanya dari Amir bin Al Ash dan redasiknya berasal dari Muslim).

Beliau bersabda,

“Ketahuilah bahwa para kekasihku adalah orang-orang yang bertakwa di manapu nmereka berada dan siapapun mereka”.
(HR. Abu Daud dalam Al Fitan 4242, dalam Al Fitan)

Beliau bersabda,

“Allah telah melepaskan dari kalian “baju” jahiliyah dan berbangga-bangga dengan nenek moyang. Manusia itu hanya dua: Mukmin yang bertakwa atau pendurhaka yang celaka. Manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu berasal dari tanah”.
(HR. Abu Daud dalam Al Adab no 5116 dari Abu Hurairah; dan At Tirmidzi dalam At Tafsir no 3270 dari Ibnu Umar. At Tirmidzi berkata, “Ini hadits gharib. Saya tidak mengetahui sanandnya kecuali dari hadits Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar, kecuali dari jalan ini, sedangkan Abdullah bin Ja’far itu lemah, dilemahkan oleh Yahya bin Ma’in dan selainnya. Abdullah bin Ja’far adalah orang tua Ali bin Al Madini”)

Beliau bersabda,

“Sesungguhnya tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas Ajam (non Arab) dan tidak pula Ajam atas Arab, serta tidak ada kutamaan kulit putih atas kulit hitam dan tidak pula kulit hitam atas kulit putih, melainkan dengan ketakwaan”.
(HR. Ahmad 5/411)

Penyebutan zaman dan keadilan dengan sebutan-sebutan pengutamaan, kecintaan, negeri dan bernisbat kepada seorang alim atau syaikh hanyalah dimaksudkan sebagai pengenalan (ta’rif) agar mudah dikenali. Adapun memuji dan mencela, mencintai dan membenci, menemani dan memusuhi, hanya boleh dengan hal-ha yang dengannya Allah menurunkan “otoritas”Nya. Otoritasnya adalah KitabNya. Barangsiapa yang beriman, maka ia harus dicintai, dari golongan manapun datangnya; sedangkan orang kafir harus dimusuhi, dari golongan manapun datangnya. Allah Subhanahu wa ta’alaa berfirman:

“artinya: Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, rasulNya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa menjadikan Allah, rasulNya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”.
(QS. Al Ma’idah 55-56)

Dia berfirman,

“artinya:Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain”.
(Q.S Al Ma’idah ayat 51).

Dia berfirman,

“artinya: Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain”
(Q.S At Taubah: 71)

Dia berfirman,

“artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuhKu dan musuhmu sebagai teman-teman setia”. (Q.S Al Mumtahanah: 1).

Dia berfirman,

“artinya: Patutkah kamu menjadikan dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripadaKu, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zhalim”.
(Q.S Al Kahfi: 50).

Dia berfirman,

“artinya: Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak; atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah ornag-orang yang telah Allah tanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya”.
(QS. Al Mujadalah:22)

Barangsiapa yang di dalam dirinya terdapat keimanan dan kedurhakaan, ia dicintai menurut kadar keimanannya dan dibenci menurut kadar kedurhakaannya. Ia tidak boleh dikeluarkan dari iman secara keseluruhan hanya karena dosa dan kemaksiatan yang dilakukannya, sebagaimana pendapat Khawarij dan Mu’tazilah. Juga tidak boleh para nabi, shiddiqun dan orang-orang shalih dianggap sederajat dengan orang-orang yang fasik, dalam keimanan dan agama, cinta dan benci, kesetiaan dan permusuhan. Allah subhanahu wa ta’alaa berfirman,

“artinya:Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara…..
(Q.S Al Hujurat 9-10)

Allah menganggap mereka sebagai saudara, kendatipun telah terjadi peprangan dan kezhaliman. Dia berfirman,

“artinya:Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang- orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma’siat?”.
(QS. Shaad : 28)

Allah subhanahu wa ta’alaa berfirman,

“artinya: Dan janganlah berbelas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Akhirat”
(QS. An Nur: 2).

Ini aalah pembahasan tentang macam dan jenis manusia yang patut digunjing.

Adapun mengenai orang tertentu maka keburukannya boleh disebut-sebut dalam beberapa hal:

Pertama, orang yang dizhalimi boleh menyebutkan keburukan orang yang menzhaliminya, baik guna mencegah kezhalimannya maupun menuntut hak darinya. Sebagaimana Hindun berkata, “Wahai rasululloh, Abu Sufyan itu pria yang bakhil. Ia tidak memberi nafkah kepadaku yang bisa mencukupi kebutuhanku dan anakku”. Maka Nabi berkata kepadanya,

“Ambillah nafkah yang dapat mencukupi kebutuhanmu dan anakmu secara baik”
(HR. Al Bukhari dalam Al Buyu’, 2211; Muslim dalam Al Aqdhiyah, 1714/7; keduanya dari Aisyah).

Seperti halnya sabda beliau,

“Orang kaya yang tidak mau membayar hutang, dihalalkan mencela kehormatannya dan menghukumnya”.
(HR. Al Bukhari secara mu’allaq dalam Al Istiqradh, bab Li Shahibil Haq Maqal, Fath Al Bari 5/62; dan Abu Daud dalam Al Aqdhiyah, 3628)

Waki’ berkata, “bahwa yang dimaksud ‘menghalalkan kehormaannya’, adalah dia boleh diadukan dan ’sanksinya’ adalah penjara”. Allah Subhanahu wa ta’alaa berfirman:

“artinya: Allah tidak menyukai ucapan buruk(yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya”
(Q.S An Nisa’: 148).

Diriwayatkan, bahwa ayat ini turun mengenai laki-laki yang singgah pada suatu kaum tetapi mereka tidak menyambutnya (sebagai tamu). Jika ini mengenai orang yang dizhalimi karena tidak diperlakukan sebagai layaknya tamu, yang kewajibannya masih diperselisihkan oelh manusia-meskipun yang benar adalah wajib- maka bagaimana halnya dengan orang yang dizhalimi karena haknya dihalangi, yang disepakati oelh umat Islam bahwa ia berhak menuntut haknya kepada orang yang menzhaliminya?! Atau menyebut orang yang menzhaliminya sebagai bentuk qishash (pembalasan) tanpa berlebih-lebihan, tidak berdusta, dan tidka menzhalimi selainnya. Tapi tidak melakukan demikian adalah yang lebih utama.

Kedua, menyebutkan keburukannya guna menasehati umat Ilsma perihal agmaa dan dunia mereka. Sebagaimana dalam hadits shohih dari Fathimah bin Qais, keitka meminta pendapat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai siapa yang akan menikahi diirnya. Kata perempuan itu, “Mu’awiyah dan Abu Jahm telah meminangku”. Nabi mengatakan “Adapun Mi’awiyah, ia adalah seorang laki-laki miskin dan tidak berhata. Sedangkan Abu Jahm adalah laki-laki yang suka memukul wanita.” Dalam riwayat, “Ia tidak meletakkan tongkatnya dari pundaknya”. (HR. Abu Daud dalam Ath Thalaq 2283; An Nasa’i dalam An Nikah no 3245 dan Ad Darimi 2/135). Beliau menjelaskan kepadanya bahwa yang ini fakir tidak mampu memenuhi hakmu, sedangkan yang ini akan menyakitimu dengan pukulan. Ini sebagai nasihat untuknya, meskipun mengandung penyebutan aib pelamar.

Termasuk dalam kategori pengertian ini ialah menasehati seseorang tentang orang yang berinteraksi dengannya, orang yang mewakilinya dan yang diberinya wasiat, orang yang dijadikan sebagai saksi, hingga orang yang dijadikan sebagai hakim dan sejenisnya. Jika ini dalam kemaslahatan yang khusus, lalu bagaimana halnya dengan memberi nasihat tentang hal-hal yang bertalian dengan hak-hak umat Islam secara umum: para umara’, hakim, saksi, dan para pegawai orang-orang yang mengurus lembaga negara dan sejenisnya. Tidak diragukan lagi bahwa nasihat mengenai hal itu lebih besar, sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

“Agama itu nasihat, agama itu nasihat.” Mereka bertanya, “Bagi siapa, wahai rasululloh?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi Kitab-Nya, bagi rasulNya, bagi para pemimpin umat Islam dan umat Islam pada umumnya”.
(HR. Al Bukhari dalam Al Iman secara muallaq, bab sabda Nabi; Agama itu Nasehat, Fath Al Bari 1/137; dan Muslim dalam Al Iman, 55/95 dari Tamim Ad Dari)

Mereka pernah berkata kepada Umar bin Al Khaththab radhiyallahu’anhu mengenai Ahli Syura, “Pilihlah fulan dan fulan sebagai pemimpin.” Lalu ia menyebutkan mengenai hak masing-masing dari keenam orang itu -mereka adalah sebaik-baik umat ini-suatu hal yang menghalangi dirinya untuk menentukannya (siapa yang akan menggantikannya).

Jika nasihat itu wajib dalam kemaslahatan-kemaslahatan agama secara khusus dan umum, misalnya para penukil hadits dari orang-oran gyang ibasa melakukan kesalahan dan biasa berdusta, sebagaimana kata Yahya bin Sa’id, “Aku bertanya kepada Malik, Tsauri, Laits bin Sa’id dan Auza’i tentang orang yang tertuduh dalam hadits atau tidak hafal, maka mereka menjawab, ‘Jelaskan perihalnya!’ Sebagian mereka berkata kepada Ahmad bin Hanbal, ‘Sesungguhnya berat bagiku untuk mengatakan ‘Fulan demikian dan fulan demikian’. Imam Ahmad mengatakan, ‘Jika kamu diam dan aku juga mendiamkan, lalu kapan orang yang tidak tahu akan mengetahui antara yang shohih dan yang tidak shohih?’”.

Misalnya para pemimpin bid’ah dari ahli maqalat (para teolog/ahli kalam/filsafat) yang menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah atau ibadah-ibadah ang menyalahi Al Qur’an dan As Sunnah. Maka menjelaskan ihwal mereka dan mengingatkan umat supaya berwaspada terhadap mereka adalah wajib berdasarkan kesepakatan umat Islam. Bahkan pernah ditanyakan kepada AHmad bin Hanbal, “Apakah seseorang yang melaksanakan puasa, shalat dan i’tikaf lebih anda sukai, daripada seseorang yang berbicara tentang ahli bid’ah?” Ia menjawab, “Jika ia berpuasa, shalat dan i’tikaf, maka itu untuk dirinya sendiri dan apabila ia berkomnetar tentang ahli bid’ah, maka itu untku umat Islam. Ini lebih utama.” Beliau (Imam Ahmad rahimulloh) menjelaskan bahwa kemanfaatan ini berlaku umum untuk umat islam dalam urusan agama mereka, termasuk dalam kategori jihad fi sabilillah. Sebab menyucikan jalan Allah, agamaNya, minhaj dan syari’atNya, serta menolak kesesatan dan sikap permusuhan mereka dalam beragama adalah wajib kifayah menurut kesepakatan umat Islam. Seandainya bukan karena orang yang disiapkan Allah untuk menolak kerusakan mereka, niscaya agama ini telah rusak, yang kerusakannya jauh lebih besar ketimbang kerusakan akibat pendudukan musuh dari Ahlul Harbi (negeri kafir yang memusuhi Islam). Sebab apabila musuh telah menguasai, mereka tidak bisa merusak hati dan agama yang terdapat di dalamnya, kecuali sebagai dampaknya saja. Sedangkan mereka (para pelaku bid’ah) merusak hati sejak permulaannya. Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah tidak melihat beuntuk rupa dan harta kalian, tetapi hanyalah melihat hati dan amal kalian”
(Muslim dalam Al Birr wa Ash Shilah, 2564/ 33,34, dan Ibnu Majah dalam Al Zuhd 4143).

Hal ini karena Allah subhanahu wa ta’alaa berfirman dalam kitabNya,

“artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan memabawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca(keadilan) suapaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan suapa Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasulNya padahal Allah tidak dilihatnya.”
(Q.S Al Hadid:25)

Dia memberitahukan bahwa Dia menurunkan Al Qur’an dan Neraca (Mizan) suapaya manusia dapat melaksanakan keadilan, serta menurunkan besi, sebagaimana Dia sinyalir. Sebab tegaknya agama itu dengan Al Qur’an yang memberi petunjuk dan pedang yang memberi kemenangan,

“artinya: Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong”. (Q.S Al Furqan:31).

Al Qur’an adalah fundamen. Karena itu, permulaan Allah subhanahu wa ta’alaa mengutus rasul-Nya ialah menurunkan Kitab kepadanya. Selama tinggal di Makkah beliau tidak diperintahkan untuk menghunus pedang hingga beliau berhijrah dan memiliki pendukung untuk berjihad.

Musuh-musuh agama itu ada dua golongan: kafir dan munafik. Allah subhanahu wa ta’alaa telah memerintahkan kepada NabiNya supaya memerangi dua golongan tersebut dalam firmanNya,

“artinya: Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka”.
(Q.S At Taubah:73 dan At Tahrim:9) dalam 2 ayat Al Qur’an.

Sebab, jika kaum munafik mengada-adakan berbagai macam bid’ah yang menyelisihi Al Qur’an serta merancaukan manusia tentang bahaya bid’ah, sedangkan kebid’ahan tersebut tidak dijelaskan kepada manusia, maka rusaklah kandungan Kitab suci ini dan agama akan mengalami perubahan, sebagaimana rusaknya agama Ahlul Kitab sebelum kita karena terjadi perubahan di dalamnya yang tidak dicegah oleh pemeluk agama tersebut.

Jika kaum itu bukan munafik, tetapi mereka suka mendengar pembicaraan orang-orang munafik, yang terkadang membuat mereka rancu sehingga mereka menyangka bahwa ucapan mereka itu benar, padahal itu menyelisihi Al Qur’an. Akhirnya mereka menjadi para propagandis yang mengajak kepada kebid’ahan kaum munafik. Sebagaimana firmanNya,

“artinya: Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan diantara kamu; sendang diantara kamu ada orang-oran gyang amat suka mendengarkan perkataan mereka itu”.
(Q.S At Taubah :47)

Maka suatu keharusan pula menjelaskan ihwal mereka. Bahkan fitnah mereka ini jauh lebih besar. Karena dalam diri mereka terdapat keimanan yan gmenharuskan mereka dicintai. Mereka telah terlibat dalam bid’ah-bid’ah yang dilakukan kaum munafik yang dapat merusak agama ini. Karena itu harus memberikan penringatan supaya berwaspada terhadap bid’ah-bid’ah tersebut, meskipun harus menyebut dan menunjuk mereka secara terang-terangan. Bahkan seandainya mereka tidak mengambil bid’ah tersebut dari orang munafik tetapi mereka mengatakan dengan praduga bahwa itu petunjuk, bahwa itu kebaikan, dan bahwa itu ketaatan-padahal tidak demikian- maka wajib dijelaskan perihalnya.

Karena itu, wajib menjelaskan keadaan orang yang salah dalam hadits dan periwayatan, orang yang salah dalam memberikan pendapat dan fatwa, serta orang yang salah dalam melaksanakan zuhud dan ibadah, meskipun mujtahid yang keliru akan diampuni kesalahannya dan diberi pahala atas ijtihadnya itu. Menjelaskan pernyataan dan amalan yang ditunjukkan oleh Al Qur’an dan AS Sunnah adalah wajib, meskipun itu bertentangan dengan pernyataan dan perbuatannya. Barangsiapa diketahui berijtihad yang diperbolehkan, maka ia tidak boleh dicela dan dinilai berdosa, sebab Allah telah mengampuni kesalahannya, tetapi wajib-karena ia memiliki keimanan dan ketakwaan-memberikan loyalitas, kecintaan, dan memberikan hak-haknya yang diwajibkan oleh Allah: yaitu pujian, doa dan selainnya. Jika ia telah diketahui kemunafikannya, sebagaimana diketahui kemunafikan segolongan orang pada masa rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam, seperti Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya, dan sebagaimana umat Islam telah mengetahui kemunafikan semua Rafidhah-Abdullah bin Saba’ dan oknum-oknum semisalnya, seperti Abdul Quddus bin Al Hajjaj dan Muhammad bin Sa’id Al Mashlub-maka disebutkan kemunafikannya. Jika seseorang diumumkan melakukanperbuatan bid’ah dan tidka diketahui apakah ia munafik atau mukmin yang keliru, maka ia disebut dengan sesuatu yang telah diketahui darinya (tentang kesalhaan yang diketahuinya saja). Sebab tidak boleh bagi seseorang mengatakan sesuatu yang tidak diketahuinya. Tidak boleh ia berbicara mengenai masalah ini melainkan dengan niat karena Allah subhanahu wa ta’alaa serta agar kalimat ALlah itulah yang tertinggi dan suapaya ketaatan seluruhny amilik Allah. Barangsiapa berbicara mengenai perkara tersebut dengan tanpa ilmu atau dengan apa yang diketahui sebaliknya, maka ia berdosa.

Demikian juga qodhi, saksi dan mufti. Seperti sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

“Hakim itu ada tiga macam: satu di surga dan dua di neraka. Adapun yang masuk surga adalah hakim yang mengetahui kebenaran dan memutuskan hukum dengannya. Hakim yang mengetahui kebenaran namun berbuat kezhaliman dalam memutuskan hukum maka ia masuk neraka. Dan hakim yang memutuskan hkum berdasarkan ketiadaan pengetahuan maka dia masuk neraka.”
(HR. Abu Daud dalam Al Aqdhiyah 3575; Ibnu Majah dalam Al Ahkam 2315, keduanya dari Buraidah)

Allah Subhanahu wa ta’alaa berfirman,

“artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”
(Q.S An Nisa’ :135)

Al Layy adalah kedustaan dan I’radh adalah menyembunyikan kebenaran. Sebagai contoh, apa yang terdapat dalam Shohihain dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

“Jual beli itu dengan khiyar selama keduanya (penjual dan pembeli) belum berpisah. Jika keduanya jujur dan transparan, maka keduanya diberkahi dalam jual belinya, dan jika keduanya berdusta dan menyembunyikan, maka hlianglah keberkahan jual beli keduanya.”

Kemudian orang yan gmengatakan hal itu dengan ilmu, dia harus memiliki niat yang baik. Jika ia berbicara kebenaran karena niat congkak di muka bumi atau membuat kerusakan, maka ia tidak ubahnya dengan orang yang berjihad karena pamer dan pamrih. Jika ia berbicara karena ALlah subhanahu wa ta’alaa, ikhlas untuk menaatiNya, maka ia termasuk orang yang berjihad di jalan Allah, pewaris para nabi, dan “pengganti” para rasul. Masalah ini tidak bertentangan dengan sabda beliau,

“Ghibah adalah kamu menyebutkan tetang saudaramu mengenai apa yang tidak disukainya”.

Saudara adalah orang yang beriman. Dan saudara yang beriman jika ia jujur dalam keimanannya, maka tidak akan benci dengan apa yang anda katakan tentang kebenaran yang dicintai Allah dan RasulNya, meskipun berisi kesaksian terhadapnya beserta para pengikutnya. Bahkan mestinya ia wajib menegakkan keadilan dan menjadi saksi bagi Allah, walaupun terhadap dirinya, kedua orang tuanya dan kaum kerabatnya. Ketika ia tidak suka dengan kebenaran ini maka berartoi keimanannya kurang, yang dapat mengurangi hak persaudaraannya menurut kadar berkurangnya keimanannya tersebut. Karena itu, ketidaksukaannya tidak menjadi pertimbangan dari aspek yang menyebabkan keimanannya berkurang. Sebab ketidaksukaannya terhadap seseuatu yang tidak dicintai Allah dan RasulNya mengharuskannya untuk mendahulukan Allah dan RasulNya. Sebagaimana firmanNya,

“artinya: Padhaal Allah dan RasulNya itulah yang lebih patut mereka cari keridha’annya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin”.
(QS. At Taubah:62)

Kemudian bisa dikatakan: Ini tidak termasuk dalam kategori hadits ghibah, baik redaksi maupun makna. Kemudian bisa dikatakan pula: Masuk dalam kategorinya tetapi dikhususkan dairnya (artinya khusus dalam hal ini ghibah tidak haram), sebagaimana dikhususkannya lafazh dan makna yang bersifat umum. Baik hukum itu tiada karena ketiadaan sebabnya maupun keberadaannya penghalangnya, maka hukumnya sama. Dan perselisihan mengenai hal itu kembali kepada suatu lafazh (kata). Sebab ilat (alasan hukum) adakalanya bersifat sempurna dan adakalanya bersifat kausal. Wallahu’alam wa ahkam. Semoga shalawat dan salam terlimpah atas nabi kita Muhammad, keluarganya dan para shahabatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: