Seperti Apakah Salafi yang Dimaksud ? (bag-3)

Alhamdulillah. Washolatu ‘ala rasulillah, wa ‘ala ‘alihi wa ash-habihi ajma’in, wa man tabi’ahum bi ihsan ilaa yaumiddin. Amma ba’du.

Pembahasan ketiga kita kali ini menanggapi tulisan dari Ustadz Aang Suryana, Lc. yang mana telah disampaikan oleh akhi Rais di milis ukki-stikom. Bahkan mungkin saya menginginkan sebelum membaca tulisan yang ketiga ini, hendaknya membaca tulisan-tulisan yang sebelumnya.

Yang pertama akan kita bahas adalah masalah dihujat dan menghujat. Tulisan yang diberikan oleh Ustadz Aang Suryana tersebut mengatakan :

Salafiyah Tidak seperti yang saya duga sebelumnya, mungkin juga
anda, almarhum Syeikh Ghazali, DR. Yusuf Qaradhawi, DR. Ramdhan al-Bouti, DR. Aly Gum’ah –Mufti Mesir, dan sejumlah tokoh Islam lainnya yang selama ini dikenal moderat, ternyata juga tak luput dari hujatan, dibid’ahkan, bahkan kadang dianggap berpikiran sesat, oleh sekelompok orang yang mengaku salafi. Syeikh Ghazali menamakan kelompok yang kerap mengaku paling salafi ini sebagai Salafi-Baru.

Tak cukup individu saja yang dikecam, organisasi-organisasi sosial-
keagamaan yang tidak sejalan dengan pemikirannya, seperti Jama’ah Tabligh, Ikhwan Muslimin, dll, pun juga kena semprot. Seringkali yang terakhir ini diplesetkan menjadi Ikhwanul Muflisin.
Selanjutnya, Anda bisa mereka-reka sendiri bagaimana dengan nasib pemikir-pemikir Islam yang dianggap, katakan saja, “liar”?

Terus terang tulisan tersebut merupakan racun yang bisa merusak hati manusia hanya gara-gara membacanya, atau bahkan menjadikan sebuah perpecahan di kalangan umat Islam, apabila dibaca oleh orang awam. Sebenarnya orang-orang yang telah disebutkan di atas adalah salah satu tokoh yang banyak pemikirannya menyimpang, dan juga golongan-golongan seperti yang disebut Jama’ah Tabligh ataupun Ikhwanul Muslimin adalah golongan yang seringkali dinasehati oleh Salafiyun atas kesalahan-kesalahan yang telah mereka lakukan. Dan juga salafiyun menasehati kepada umat untuk tidak mengikuti jalan pemikiran mereka.

Seperti bagaimana Ikhwanul Muslimin tidak keras terhadap orang kafir dalam masalah dien mereka. Antum silakan baca tentang tulisan Mengucapkan Selamat Hari Raya Kepada Orang Kafir. Di sana Yusuf Al Qardhawi menganggap ucapan tersebut adalah ucapan basa-basi dan tidak menyangkut masalah agama.

Ikhwanul Muslimin juga menyebut bahwa peperangan rakyat Palestina dengan Yahudi adalah perang merebutkan wilayah saja, bukan perang dalam masalah agama.

maka saya ikrarkan bahwa permusuhan kita terhadap orang-orang Yahudi bukanlah merupakan permusuhan (atas dasar) agama, karena Al Quran yang mulia menganjurkan (kita) untuk bersahabat karib dan berteman dekat dengan mereka, dan (syariat) islam (sendiri) adalah syariat yang bersifat kemanusiaan sebelum menjadi syariat yang bersifat qaumiyyah (untuk kaum/bangsa tertentu), dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji mereka (orang-orang Yahudi) serta menjadikan adanya kesesuian antara kita dan mereka, (Allah berfirman):
“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik.” (QS. Al ‘Ankabuut: 46)
Dan ketika Al Quran ingin membicarakan masalah orang-orang Yahudi, Al Quran membicarakannya dari segi ekonomi dan undang-undang (saja),
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, …” (QS. An Nisaa’: 160)”

Ucapan Hasan Al Banna ini juga dinukil oleh As Siisy sendiri dalam kitabnya yang lain yang berjudul “Fii Qaafilatil Ikhwaanil Muslimin” (1/262, cet. Daaruth Thibaa’ati Wan Nasyri Wash Shautiyyaat juz 1-2 dan Daarul Qabas juz 3-4,4 juz).
Dan hal ini pun oleh sebagian pengikut Ikhwanul Muslimin dibantah, namun hal tersebut sudah disiarkan secara luas dan banyak orang yang tahu bahkan ulama mereka sendiri pun mengatakan hal ini. Sedangkan kita tahu bahwa orang kafir yahudi bukanlah saudara kita. Hubungan darah itu putus apabila mereka tidak dalam naungan dien yang haq yaitu Islam.

Bantahan terhadap ini adalah Allah telah berfirman di surat Al Baqarah ayat 120 yang artinya:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al Baqarah: 120)

Allah juga berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. An Nisaa’:101)

Dan potongan ayat yang tidak disebutkan oleh Hasan Al Bana adalah :

“…dan karena mereka (orang-orang Yahudi) banyak menghalangi ( manusia) dari jalan (agama) Allah.” (QS. An Nisaa’: 160)

Tentang hal ini silakan antum memikirkannya.

Ikhwanul Muslimin juga menganggap berjabat tangan dengan lain jenis yang bukan mahram adalah boleh. Untuk lebih lengkapnya pembahasan tersebut silakan lihat di sini. Bagaimana mungkin ulamanya berkata demikian, tapi tidak oleh para pengikutnya, sedangkan kita sendiri tahu dan faham bahwa hadits larangannya benar-benar shohih dan kalau hal tersebut tentang masalah larangan maka sudah barang tentu harus dijauhi. Namun ternyata hal tersebut tidak cukup bagi Dr. Yusuf Al Qardhawi.

Ketika saya berdialog dengan orang Ikhwanul Muslimin sendiri, mereka tak percaya terhadap apa yang saya katakan, bahkan sampai-sampai bersu’uzhan, namun setelah saya berikan link di atas, mereka baru tahu bahwa ulama mereka sendiri mengatakan hal demikian. Padahal sabda rasululloh shallallahu’alaihi wasallam sudah jelas.

Diriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Sungguh jika salah seorang dari kalian ditusuk kepalanya dengan jarum besi adalah lebih baik daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (Shahih, Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan al-Haitsami)[Al-Manawi berkata : “Menurut al-Haitsami, para perawinya shahih (dari Faidhul Qadir, jilid V, hal. 58). Sedangkan al-Mundziri mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan al-Baihaqi, dan para periwayat ath-Thabrani tsiqoh dan shahih. Lihat Adillatu Tahrimi Mushofahatil Mar’atil Ajnabiyah (terj. “Berjabat Tangan Dengan Perempuan”) karya Syaikh Muhammad bin Ahmad Ismail, Gema Insani Press, hal. 18; Hadits ini juga dishahihkan oleh al-Allamah al-Albani rahimahullahu di dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, no. 226)]

Insya Allah untuk masalah ini akan kami bahas pada kesempatan lainnya.

Sedangkan tentang jama’ah tabligh, para ulama telah memberikan tahdzir kepada mereka. Silakan lihat di sini, di sini, dan di sini. Antum bisa lihat sendiri bagaimana bahasa ulama, apakah di dalamnya ada cacian ataupun makian. Kita telaah lagi tentang apa yang dibawakan oleh Aang Suryana dalam hal ini.

Untuk permasalahan definisi salaf secara etimologi dan terminologi sudah dijelaskan di depan. Dan sudah dikupas dengan panjang lebar. Silakan dibaca perlahan-lahan dan difahami. Dan silakan antum menilai sendiri pemahaman yang dikemukakan oleh Aang Suryana dengan apa yang sudah saya sampaikan di muka.

Hanya saja, karena berbagai faktor, pada akhirnya, istilah salafi
sangat identik dengan kelompok Wahabi, sebuah aliran yang didirikan Syeikh Muhamad Bin Abdul Wahab (1703-1791) di Najd, Arab Saudi.Sebagian dari mereka, ada perasaan bahwa dirinya lah yang paling salafi. Mereka sendiri, sebetulnya lebih enjoy dipanggil salafi,daripada Wahabi.

Tapi, sayangnya ditangan mereka, makna salafi kemudian dicederai,
dikerangkeng pada permasalahan furu’iyah dan perdebatan-perdebatan lama ulama klasik, baik di bidang Fikih, Ilmu Kalam, Tashawuf. Dalam Fikih mereka lebih konsen: membid’ah-bid’ahkan tradisi maulid nabi, ziarah, tawasul dan yang sejenisnya. Dalam Ilmu Kalam, alih-alih menanamkan hakikat makna tauhid, mereka memperdebatkan kembali tentang, misalnya, asma wa sifat dan bahayanya menta’wil ayat ar-Rahmanu ‘ala al-‘arsyi istawa dengan tawil sebagai kinayah dari keagungan Allah Swt, dll. Mereka akan mengecam siapa pun yang tidak sejalan dengan alur pemikirannya. Tak heran, kalau dicermati karya-karyanya, maka kita akan menemukan daftar-daftar bid’ah mulai yang klasik sampai bid’ah kontemporer. Judulnya pun bisa kita tebak seputar rad wa al’tirad mandul: fulan dalam timbangan Islam, mengcounter pemikiran fulan atau menelanjangi pemikiran fulan. Tentu saja bukan berarti kita tidak boleh untuk mendiskusikan kembali soal-soal di atas. Yang tidak boleh adalah menjadikan permasalahan di atas sebagai prioritas utama.

Tulisan ini dimaksudkan sebagai pengantar singkat untuk membedah dan mendiskusikan kembali metode dan gerakan Salafi-Wahabi saja. Tak akan membahas gerakan salafi secara umum. Sudah kita maklumi semua, akhir-akhir ini, dalam beberapa hal, sebagian oknum yang berafiliasi pada kelompok Salafi-Wahabi dianggap kerap melakukan tindakkan-tindakkan yang berpotensi merusak citra Islam, meresahkan dan banyak menimbulkan perpecahan dikalangan intern umat Islam. Tidak hanya di Timur Tengah, tapi juga di negara-negara dimana ada komunitas Islamnya, termasuk di Barat. “Lawannya” pun di batasi hanya dari kelompok-kelompok moderat saja: Syeikh Qaradhawi cs. Artinya, kritikan-kritkan keras Wahabi yang ada di tulisan ini, ditunjukkan buat tokoh-tokoh di atas yang selama ini dianggap moderat dan diakui otoritas keilmuannya. Poinnya, betapa sama tokoh moderat pun Wahabi masih merasa kegerahan. Sebelum mengenal lebih jauh tentang dasar pemikiran Salafi-Wahabi, ada baiknya kita petakan secara sederhana dulu gerakan awal salafi, dengan menjadikan Mesir, Maroko dan Saudi sebagai sampel.

Sebenarnya banyak poin-poin yang harus dibahas pada tulisan ini. Namun akan saya berikan garis besarnya saja. Diantaranya adalah:

1. Wahabisme (pemahaman wahabi)

Permusuhan antara tauhid dan kesyirikan, sunnah dan bid’ah, akan tetap menggelora dan terus-menerus ada sampai akhir zaman. Tak terkecuali fitnah-fitnah dan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang penyembah kubur, pelaku bid’ah, dan juga orang-orang zindiq. Mereka tak akan berhenti sampai Islam yang lurus yang dicontohkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam itu melenceng dari jalurnya, lepas seperti anak panah yang lepas dari busurnya.

Ajaran rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam dalam masalah ketuhanan adalah monotheisme atau tauhid. Yang mana ajaran inilah yang membebaskan banyak manusia dari kejahiliyahan, dari kemungkaran dan dari kekufuran. Sebagaimana agama-agama lain mempunyai banyak tuhan, maka Islam yang haq mengajarkan bahwa tuhan yang berhak diibadahi adalah Allah Subhanahu wa ta’alaa. Dan bersyahadat bahwasannya Allah adalah satu-satunya Ilah dan Muhammad adalah rasul terakhir.

Dan benar saja, ketika zaman keemasan Islam dulunya dimulai adalah karena Islam berada pada poros yang benar. Sebagaimana pada zaman rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam, para shahabatnya adalah ahlussunnah. Mereka sangat ikhlas dalam memeluk Islam, merekalah yang disebutkan sebagai golongan yang selamat oleh Allah Azza wa Jalla. Dan kemudian masa keemasan itu menurun hingga kepada masa kegelapan lagi, di mana orang-orang kafir mulai menyerang Islam dari berbagai arah. Mulai dari filsafat, permainan, hiburan, musik dan berbagai hal yang membuat orang-orang Islam lalai terhadap ajaran dien ini.

Salah satu Islam yang terjerumus dalam filsafat ini adalah tasawuf yang biasa kita kenal dengan sufi. Aliran sufi ini sudah kita kenal dengan tarekat-tarekatnya. Mereka mengajarkan Maulid, dari mereka jugalah pengertian wali Allah adalah orang-orang sholeh, musik gambus dari mereka, dan berbagai ibadah-ibadah yang tidak pernah diajarkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam seperti thowaf dikuburan para wali, meminta berkah di kuburan mereka, melakukan haul, beristighotsah kepada selain Allah, meminta kepada rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam yang sudah meninggal dan sebagainya, semuanya berasal dari sufi.

Aliran sufi ini bermula ketika kaum Mu’tazillah dengan filsafatnya mulai memasuki pemikir dan ulama-ulama muslim pada zaman tabi’in. Sehingga dari sanalah berkembangnya pengertian “Sifat wajib bagi Allah” dan sebagainya, yang membuat hancurnya aqidah umat muslim.

Kemudian pada tahun 1115 H di ‘Uyainah, utara Riyadh, lahirlah seseorang yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahulloh. Muhammad bin Abdul Wahhab untuk pertama kalinya berdakwah di Bashra, dan beliau juga berguru kepada beberapa ulama senior sehingga ilmunya sangat dikagumi. Beliau juga telah menghafal Al Qur’an semenjak usia 10 tahun. Di Bashra inilah dakwahnya ditolak lantaran masyarakatnya yang sudah dengan kental kenal dengan yang namanya bid’ah dan kurafat. Seperti bertawassul dengan mayit di kuburan, meminta berkah di kuburan para wali dan sebagainya.

Perjalanan beliau terus berlanjut dari satu daerah ke daerah yang lainnya hingga tiba di negeri Sa’ud yang dipimpin oleh raja Sa’ud. Di negeri inilah dakwahnya mulai diterima dan berkembang pesat. Dakwah yang diajarkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah menapaki jejak salafush sholeh, sebagaimana rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, yaitu:

1. Kalian harus mengikuti jalan orang-orang yang hidup sebelum kalian.

2. Hari Kiamat ini tidak akan tiba sampai umatku mulai menyembah berhala.

3. Islam itu bermula dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing.

Demikianlah dakwah beliau secara ringkas hingga beliau kemudian menjadikan negeri Sa’ud menjadi sebuah negeri yang di dalamnya tegak tauhid. Ketika kekhalifahan Islam runtuh, negeri-negeri Islam mulai terpecah belah. Ada yang dikuasai oleh negeri kafir, ada yang mendirikan negara sendiri. Dan kabar bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab telah berada di Sa’ud dan berdakwah di negeri tersebut terdengar oleh musuh-musuh beliau, sehingga beliau dengan serta merta mulai diserang oleh musuh-musuhnya. Dari sinilah terjadi beberapa peperangan.

Dan bukan hanya lewat fisik, tetapi juga lewat fitnah-fitnah sampai sekarang. Zaman sekarang, kalau orang sufi diberitahu tentang Wahabi, maka mereka akan mengatakan bahwa wahabi itu kafir, sehingga ajaran murni tauhid yang mana adalah ajaran Islam yang sesungguhnya ini kemudian dikatakan ajaran Wahabi atau sebagai mahzab Wahabi. Subhanallah. Sehingga orang-orang yang tidak suka dengan dakwah tauhid dan sunnah akan membenci dakwah tauhid dan menuduh sebagai Wahabi. Tak perlu anda beritahukan diri anda wahabi, tapi kalau anda lurus kepada Al Qur’an dan As Sunnah, niscaya anda akan dikatakan sebagai Wahabi.

2. Permasalahan Aqidah dan Manhaj bukanlah Permasalahan Kulit

Dengan menggembar-gemborkan bahwa bersemayamnya Allah di atas Arsy adalah permasalahan kulit, atau permasalahan sholat di kuburan adalah permasalahan kulit, ataupun mengatakan bahwa pembahasan manhaj adalah permasalahan kulit di dalam agama, maka hal ini adalah sebuah kekeliruan yang besar.

Dasar dari agama Islam yang kita ketahui adalah tauhid. Tauhid artinya adalah mengesakan Allah, yang mana seorang hamba harus faham terhadap tuhannya, faham terhadap sifat-sifat-Nya. Namun apabila hal ini dianggap masalah furu’ alias kulit, maka yang terjadi adalah menyepelekan masalah ini yang mana masalah ini adalah sangat penting dalam Islam. Lalu apa yang mereka anggap permasalahan inti? Lain tidak lain adalah permasalahan bersatunya umat.

Mustahil umat itu bersatu, sedangkan iman mereka terpecah-belah. Mustahil juga seorang muslim bisa menjadi saudara muslim yang lainnya, padahal ibadah yang mereka lakukan adalah ibadah yang mengandung kesyirikan. Samakah orang yang sebelum pergi berjihad di medan perang berdo’a kepada Allah dengan orang yang sebelum pergi berjihad di medan perang meminta kekuatan kepada yang mereka anggap sebagai wali-wali Allah, sedangkan Allah dan rasul-Nya tidak punya tuntunan untuk hal itu?

Kemudian permasalahan “menjadikan sebagai prioritas utama”. Apabila hal tersebut adalah masalah aqidah dan manhaj, maka sudah barang tentu hal ini menjadi masalah yang sangat penting dan menjadi prioritas yang utama.

Sedangkan untuk masalah keilmuan, dari sebagian yang saya paparkan sebenarnya sudah cukup untuk masalah keilmuan yang mereka anggap sebagai ulama itu. Untuk buku masalah IM silakan download di sini.

3. Kenapa Salafiyah Disebut Sebagai Wahabi? Dan Siapa yang Pertama Kali Menyebutnya?

Untuk penjelasannya secara gamblang dan lengkap Insya Allah, dapat dibaca di sini.

bersambung Insya Allah….

2 Responses

  1. Akh antum menanggapi tulisan tentang IM dan JT, sebaiknya antum juga baca lagi tulisan antum sendiri :

    https://alatsari.wordpress.com/2008/01/19/contoh-khilaf-perbedaan-pendapat-di-antara-para-ulama-ahlu-sunnah-tapi-mereka-tidak-saling-mengingkarinya/

    lalu antum menganggap perbedaan yang tidak boleh dicela hanya perbedaan antara syaikh-syaikh antum saja,sedangkan diluar mereka pantas ditadhzir, padahal mungkin syaikh itu pun berijtihad


    Jawaban:
    Menghormati orang yang berbeda dengan tidak membid’ahkan mereka, selama mereka mempunyai pendapat yang kokoh dan mereka berdiri di atas pendapat tersebut. Saya sadari bahwa apa yang ada pada tokoh IM tidak berlandaskan dengan landasan yang kokoh, sebagai buktinya adalah mereka menganggap orang-orang kafir sebagai saudara mereka sendiri. Yusuf Al Qardhawi pun bertindak makan-makan semeja bersama orang-orang kafir. Padahal jelas sekali rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam melarangnya. Yusuf Al Qardhawi juga memperbolehkan mengucapkan selamat hari raya kepada orang-orang kafir.

    Kaidah ini dipegang oleh orang-orang Ikhwanul Muslimin dan ini sangat berbahaya. Yang mana pembatas antara haq dan bathil tidak ada, sehingga ayat-ayat Allah yang mana kita harus keras terhadap orang-orang kafir malah dikesampingkan. Sedangkan Jama’ah Tabligh sendiri, tak perlu diragukan lagi bahwa dasar aqidah mereka sudah rusak.

    Saya justru tidak pernah membid’ahkan IM ataupun JT, adapun tahdzir itu ada pada para ulama. Bukan dari saya sendiri. Kalau itu dari saya sendiri, tentunya saya akan mengeluarkan fatwa sendiri terhadap hal itu. Adapun kalau anda mempunyai argumen yang kokoh tentang kebenaran tentang IM dan JT, maka silakan anda berikan kepada saya. Sekaligus tulisan anda bisa membantah tahdzir yang sudah dikeluarkan oleh para ulama.

    Jazakallahukhoir telah mengisi komentar.

    wallahu’alam

  2. terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Benarkah Kita Hamba Allah?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/09/benarkah-kita-hamba-allah-1-of-2.html
    (link di atas adalah tulisan ke-1 dr 2 buah link benarkah kita hamba Allah?)

    Apakah Allah juga mengakui bahwa kita adalah hamba-Nya?

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: