Menjawab Bualan dengan Kalimat yang Baik

Sebuah Tanggapan untuk Ulil Abshar Abdalla
Tulisan yang sama dapat dibaca di sini.
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah seorang manusia yang telah dipilih oleh Allah untuk menyampaikan dan menjelaskan ayat-ayat-Nya serta menunjukkan kepada jalan yang lurus.
amma ba’du.

Para pembaca yang budiman, semoga Allah menjaga kita dari godaan syaitan
dan kerancuan-kerancuan yang ditebarkan oleh antek-anteknya. Sifat rendah
hati/tawadhu’ adalah salah satu ciri khas hamba-hamba Allah Yang Maha
Pengasih. Sebagaimana yang dijelaskan oleh-Nya dalam ayat-Nya yang mulia,
artinya :
“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di
atas muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa mereka,
mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan [25]: 63)

Di antara sapaan jahil yang baru-baru ini mengusik umat Islam Indonesia
adalah tulisan ‘orang yang sedang bingung’ yang diberi judul dengan
‘Doktrin-Doktrin Yang Kurang Perlu dalam Islam’. Dalam suasana
‘kebingungan’ yang masih menyelimuti pikirannya si penulis ingin mengajak
umat Islam untuk bersikap arogan dan tinggi hati. Sayangnya dia menamai
seruannya ini dengan ‘corak keberagamaan yang rendah hati’.

Aduhai, seandainya orang ini mau menyadari keruwetan akalnya! Orang yang
lugu akan mengatakan kelakuannya ini dengan ungkapan, “Bungkusnya bagus,
tapi isinya busuk.” Maka orang yang masih menyayangi kesehatan dirinya
tentu tidak akan mau memakan isi bungkusan itu. Sebetulnya meladeni bualan
semacam ini bukanlah sesuatu yang sukar. Kalau kita cermati
ucapan-ucapannya maka akan tampak kontradiksi yang sangat jelas. Lihatlah
betapa jujurnya orang ini ketika dia mengatakan bahwa dia ingin membuang
ajaran agama Islam!
Saksikanlah pengakuannya atas kejahatan yang dilakukannya sendiri :

“Saya hanya ingin menganjurkan suatu corak keberagamaan yang rendah hati,
yang tidak arogan dengan mengemukakan kleim-kleim yang berlebihan tentang
agama. Jika Islam menganjurkan etika “tawadhu'”, atau rendah hati, maka
etika itu pertama-tama harus diterapkan pada Islam sendiri. Mengaku bahwa
agama yang paling benar adalah Islam jelas menyalahi etika tawadhu’ itu.”
(lihat artikel Ulil Abshar Abdalla di situs JIL, 7 Januari 2008).
Dia juga yang mengatakan, “Banyak hal dalam agama yang jika dibuang
sebetulnya tidak mengganggu sedikitpun watak dasar agama itu. Oleh para
pemeluk agama, banyak ditambahkan hal baru terhadap esensi agama itu,
sekedar untuk menjaga aura agama itu agar tampak “angker” dan menakutkan di
mata pemeluknya. Saya akan mengambil contoh Islam.” (lihat artikel Ulil
Abshar Abdalla di situs JIL, 7 Januari 2008).

Pembaca sekalian, semoga Allah menambahkan hidayah-Nya kepada kita. Orang
ini dengan beraninya dan tidak tahu malu telah menyingkap hakekat dirinya
yang sombong dan arogan. Maka cukuplah kiranya bagi kita pengakuannya
sendiri yang ingin ‘membuang ajaran agama’ dengan menamainya dengan istilah
‘corak keberagamaan yang rendah hati’. Sungguh pengakuan yang tulus dan
sudah selayaknya mengetuk hati si pemilik ucapan untuk berintrospeksi dan
kembali menata diri. Bukankah muhasabah atau introspeksi adalah salah satu
esensi ajaran Islam yang sudah jelas dan tidak bisa ditawar-tawar lagi?!

Saudaraku sesama kaum muslimin, sesungguhnya sikap arogan atau sombong yang
dalam bahasa Arabnya adalah kibr merupakan akhlak yang sangat-sangat
tercela. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya :
“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no.
131. Maktabah Syamilah)

Kiranya hadits ini sangat tepat dengan konteks permasalahan yang sedang
kita bicarakan. Belum lagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
memberikan sebuah ancaman yang sangat keras bagi orang-orang yang
menyombongkan diri. Beliau bersabda, artinya :
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan
walaupun hanya sekecil dzarrah (anak semut).” (HR. Muslim no. 131. Maktabah
Syamilah)
Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan : “Sesungguhnya hadits ini
disebutkan dalam konteks larangan dari sikap menyombongkan diri yang sudah
dimengerti (oleh orang-orang, pent) yaitu sikap merasa tinggi dan lebih
hebat daripada manusia yang lain, melecehkan mereka, dan menolak
kebenaran.” (Syarh Muslim, Tahrimul kibr wa bayanuhu. Maktabah Syamilah)

Apakah Membuang Ajaran Islam Adalah Kerendahan Hati?
Itulah pertanyaan yang ingin kita ajukan kepada si pemilik ucapan tersebut.
Seorang muslim yang masih sehat akalnya tentu akan mengatakan bahwa
tindakan mengobok-obok dan membuang isi ajaran Islam adalah sikap menolak
kebenaran dan ekspresi dari perasaan lebih hebat dan sikap arogan yang
sangat keterlaluan. Semua umat Islam sudah sepakat bahwa hanya Islam agama
yang benar dan diridai oleh Allah. Adakah orang yang lebih sombong dan
lebih keras kepala daripada orang yang sengaja menyelisihi kesepakatan umat
Islam?
Allah ta’ala berfirman, artinya :
“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali
‘Imran [3]: 19)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa makna Islam di dalam ayat
ini adalah mengikuti ajaran rasul Allah yang diutus kepada mereka di setiap
masa sampai ditutupnya risalah dengan pengutusan Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam yang menutup semua jalan menuju Allah kecuali satu jalan
yang dibentangkan oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab
itu orang-orang sesudah diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang menghadap Allah dalam keadaan menganut agama selain syari’at beliau
maka tidak akan diterima (Tafsir al-Qur’an Al ‘Azhim, Maktabah Syamilah).

Allah ta’ala juga berfirman, artinya :
“Barang siapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan
diterima dan di akherat dia pasti termasuk orang yang merugi.” (QS. Ali
‘Imran [3]: 85)
Maka dimanakah letak ketawadhu’an orang yang mengatakan, “Mengaku bahwa
agama yang paling benar adalah Islam jelas menyalahi etika tawadhu’ itu.”
?!!! Bahkan perkataannya ini adalah sikap arogan dan penentangan yang jelas
terhadap kebenaran isi al-Qur’an. Dan itu artinya dia telah berani
menyombongkan dirinya di hadapan Allah ta’ala yang menurunkan al-Qur’an!
Inna lillahi wa inna ilahi raji’un… Tidakkah engkau menyadari musibah ini
wahai Ulil?! Adakah manusia yang lebih tidak tahu diri dan lebih arogan
daripada orang yang membusungkan dadanya dan merasa hebat di hadapan Rabb
yang menciptakan dirinya serta seluruh jagad raya? Akal siapakah yang bisa
menerima bualan seperti ini? Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang
masih memiliki pikiran (ulil abshar)!!!

Bahkan akan kita katakan bahwa sesungguhnya apa yang dikemukakan orang
tidak tahu malu ini sebagai hal-hal baru yang tidak pernah dikenal oleh
umat Islam dan ditambah-tambahkan kepada esensi ajaran Islam yang justru
akan mencoreng citra ajaran Islam yang rendah hati dan jauh dari sikap
arogan. Bukankah kebenaran datang dari Allah? Allah ta’ala berfirman,
artinya : “Al Haq adalah dari Rabbmu, maka janganlah sekali-kali kamu
termasuk orang yang ragu.” (QS. Al Baqarah [2]: 147)
Dan Allah sendiri yang menyatakan bahwa hanya Islam yang benar. Apakah anda
merasa lebih tahu daripada Allah wahai Ulil?

Ucapan Siapa yang Tidak Relevan?
Kalau kita cermati lagi, memang perbuatan orang ini sudah sangat
keterlaluan. Menentang ayat-ayat Allah baginya adalah sesuatu yang ringan
dan bahkan perlu untuk dikembangkan. Lihatlah perkataannya yang menunjukkan
sikap arogan yang sangat tercela. Dia mengatakan, “Sudah jelas Kitab Suci
terkait dengan konteks sejarah tertentu, dan banyak hal yang dikatakan
Kitab Suci sudah tak relevan lagi karena konteks-nya berbeda.” (lihat
artikel Ulil Abshar Abdalla di situs JIL, 7 Januari 2008).

Maha suci Allah dari bualan semacam ini!! Wahai Ulil, seandainya engkau mau
diam dan berhenti menulis untuk sejenak memikirkan kematian yang pasti akan
menghampirimu. Apakah perbedaan ucapanmu ini dengan ucapan orang-orang
kafir, “Tidaklah (al-Qur’an) ini melainkan hanya sekedar dongeng
orang-orang terdahulu.” (lihat QS. Al An’aam [6]: 25). Lihatlah betapa
mirip ucapannya dengan ucapan orang-orang kafir! Ada hubungan apa antara
anda dengan mereka wahai Ulil?

Kalau Ulil mengatakan bahwa doktrin yang menyatakan sumber hukum hanya
terbatas pada al-Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas sudah tidak relevan,
keyakinan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi
akhir zaman juga tidak relevan, keyakinan bahwa Islam yang diajarkan Nabi
Muhammad menghapus agama-agama yang lainnya juga tidak relevan, keyakinan
bahwa orang yang tidak mengikuti jalan Islam adalah kafir juga tidak
relevan, keyakinan bahwa hanya ada satu golongan umat Islam yang selamat
(al firqah an najiyah) juga tidak relevan, keyakinan bahwa firman Allah
tidak mungkin salah juga tidak relevan, keyakinan bahwa dalam perkara yang
sudah terdapat dalil tegas dalam syari’at maka tidak boleh ada ijtihad
adalah juga tidak relevan, keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak membuat
syari’at juga tidak relevan, kebenaran al-Qur’an tidak terikat dengan ruang
dan waktu (dalam artian al-Qur’an selalu benar kapan dan di manapun, pen)
juga tidak relevan, keyakinan bahwa Islam bisa menjawab semua masalah juga
tidak relevan bahkan dianggap sebagai bentuk arogansi [lihat semua bualan
ini dalam artikel Ulil Abshar Abdalla di situs JIL, 7 Januari 2008], maka
cukuplah kita katakan kepadanya bahwa: Semua yang anda lontarkan ini adalah
arogansi dan kekufuran terhadap hakekat ajaran Islam!!! Islam sama sekali
tidak turut campur tangan dengan apa yang anda lontarkan. Dan semua umat
Islam sepakat untuk menyatakan bahwa dakwah yang anda serukan bukanlah
dakwah Islam! Akan tetapi dakwahmu adalah propaganda sesat dan tidak
beradab yang mengajak umat untuk bersikap arogan dan meninggalkan akhlak
tawadhu’ yang sudah semestinya menghiasi perilaku seorang muslim yang taat.

Inilah ayat-ayat yang akan menghanguskan angan-angan anda untuk bisa
menarik simpati kaum muslimin terhadap ajaran Liberal. Inilah petir yang
akan membakar semua syubhat dan kedangkalan berpikir yang anda
agung-agungkan. Allah ta’ala berfirman, artinya :
“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah rasul serta ulil
amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu
perkara maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan rasul (As Sunah)
jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu lebih baik untuk
kalian dan lebih bagus hasilnya.” (QS. An Nisaa’ [4]: 59)

Allah ta’ala juga berfirman, artinya :
“Muhammad itu bukanlah bapak dari salah seorang lelaki di antara kalian,
akan tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi.” (QS. Al Ahzab
[33]: 40)

Allah ta’ala juga berfirman, artinya :
“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan Aku telah cukupkan
nikmat-Ku atasmu. Dan Aku pun ridha Islam sebagai agama bagimu.” (QS.
Al-Maa’idah [5]: 3)

Allah ta’ala juga berfirman, artinya :
“Barang siapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia
mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, maka Kami akan membiarkannya
terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pasti akan memasukkannya ke
dalam Jahanam, dan Jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS.
An Nisaa’ [3]: 115)

Allah ta’ala berfirman, artinya :
“Dan siapakah yang lebih benar pembicaraannya daripada Allah?” (QS. An
Nisaa’ [3]: 87)

Allah ta’ala juga berfirman, artinya :
“Dan siapakah yang lebih benar ucapannya daripada Allah?” (QS. An Nisaa’
[3]: 122)

Allah ta’ala juga berfirman, artinya :
“Dan tidaklah pantas bagi seorang yang beriman laki-laki atau perempuan
untuk memiliki pilihan lain apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan
suatu perkara. Dan barang siapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya
sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang sangat nyata.” (QS. Al
Ahzab [33]: 36)

Allah ta’ala juga berfirman, artinya :
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka cari, dan siapakah yang lebih baik
hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al
Maa-idah [4]: 50)

Allah ta’ala juga berfirman, artinya :
“Alif laam miim. Inilah Kitab yang tidak ada keraguan sedikitpun padanya,
petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa…” (QS. Al Baqarah [2]: 1-2)

Allah ta’ala juga berfirman, artinya :
“Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu (selain Allah) yang membuat syari’at
untuk mereka padahal itu tidak pernah diijinkan oleh Allah?” (QS. Asy
Syuura [42]: 21)

Allah ta’ala berfirman, artinya :
“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan Aku telah cukupkan
nikmat-Ku atasmu. Dan Aku pun ridha Islam sebagai agama bagimu.” (QS.
Al-Maa’idah [5]: 3)
Dan masih banyak ayat lain serta hadits-hadits shahih yang akan menghabisi
dan membakar habis kedangkalan berpikir serta membongkar kerusakan akal
para penganut ajaran Liberal!!!

PENUTUP
Setelah kita membaca ini semua wahai pembaca yang budiman, marilah kita
tanyakan kepada hati nurani kita masing-masing siapakah yang mengajak untuk
bersikap arogan dan menyombongkan diri?!! Apakah Allah, para rasul-Nya,
para sahabat dan para ulama sesudah mereka yang mengajak umat Islam untuk
bersikap arogan ataukah orang-orang Liberal yang berpikiran sempit dan
telah rusak akalnya semacam ini?! Jawablah wahai orang-orang yang masih
memiliki pikiran (ulil abshar)…! Kembalilah ke jalan kebenaran dan sikap
rendah hati yang sejati wahai Ulil. Kasihanilah kedua orang tuamu,
kasihanilah anak dan istrimu, kasihanilah dirimu sendiri… Sukakah engkau
disejajarkan dengan barisan orang-orang yang arogan semacam Fir’aun, Qarun,
dan Abu Jahal? Padahal karena sikap arogan seperti itulah Iblis dan bala
tentaranya layak untuk diseret ke dalam jurang neraka dan tersiksa secara
kekal di dalamnya. Renungkanlah! Semoga Allah memberikan taufik kepadamu.

Keterangan Tambahan
Meskipun demikian, kami kaum muslimin semua maklum. Bukanlah sebuah
keanehan apabila lontaran jahil seperti itu muncul dari seorang penganut
ajaran Liberal tulen semacam Ulil! Itu semua justru semakin menambah
keyakinan kita akan kebenaran al-Qur’an sebagai firman Allah dan As Sunnah
sebagai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan hal itu juga semakin
memperjelas bagi kita siapakah jati diri Ulil yang sebenarnya. Inilah bukti
lainnya yang menyingkap jati dirinya…

Pertama. Allah menyatakan dalam firman-Nya, artinya :
“Barang siapa di antara kalian yang berloyalitas kepada mereka (orang-orang
kafir), maka dia termasuk golongan mereka.” (QS. Al Maa’idah [5]: 51)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Seseorang itu
berada di atas agama kawan akrabnya.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi).

Bukankah selama ini Ulil telah merelakan dirinya dengan sedemikian
‘enjoy’nya berada di tengah-tengah mereka (orang-orang kafir) baik secara
fisik maupun pikirannya?! Dan bukankah dia telah menjadikan mereka (Yahudi,
dkk) sebagai kawan dekatnya; baik dari segi fisik maupun pikirannya? Bahkan
Ulil merasa risih apabila harus ikut bersama [dengan keyakinan] para ulama
Islam dan justru merasa tenang bersama [dengan keyakinan] para ulama Yahudi
Orientalis kafir tulen yang jelas-jelas anti terhadap al-Qur’an dan As
Sunnah. [Maka hal ini semakin memperjelas bagi kita : Kepada siapakah
sesungguhnya Ulil berpihak?!]

Kedua. Allah telah menyatakan dalam firman-Nya, artinya :
“Barang siapa berpaling dari peringatan Ar Rahman (Allah) maka Kami akan
menjadikan syaitan sebagai kawan pendampingnya.” (QS. Az Zukhruf [43]: 36).

Maka jadilah orang semacam itu (yang dengan sengaja mencampakkan peringatan
Allah) sebagai wali syaitan.
Bukankah selama ini Ulil juga telah mengesampingkan dalil-dalil al-Qur’an
dan As Sunnah bahkan bersikap antipati kepada keduanya [di antara buktinya
adalah kebatilan artikel Ulil yang sedang kita bantah ini, pen]. Sehingga
orang-orang yang tetap berpegang dengan kandungan dalil justru dia sebut
sebagai kaum tekstualis, bahkan penyembah teks! Sedangkan dirinya sendiri
justru lebih memilih untuk memeluk akidahnya kaum filsafat dan menelan
mentah-mentah sabda-sabda Orientalis. (La haula wa la quwwata illa billah!
Lelucon macam apakah ini wahai Ulil?!)

Ketiga. Bukankah Allah telah menyifati orang yang membenci ajaran Islam
(yaitu kaum munafikin, pen) sebagai orang yang di dalam hatinya tersimpan
penyakit yang kian hari kian bertambah keganasannya. Allah ta’ala
berfirman, artinya :
“Karena di dalam hati mereka sudah terdapat penyakit (keragu-raguan), maka
Allah semakin menambahkan penyakit itu kepada mereka.” (QS. Al Baqarah [2]:
10)

Dan karena penyakit yang diderita itulah segala hal menjadi berubah bagi si
sakit. Sate yang tadinya sangat mengundang selera dan terasa lezat oleh
lidah berubah menjadi pahit dan membakar lidah. Cahaya yang tadinya terasa
lembut di mata dan mempercerah pandangan berubah menjadi pancaran sinar
yang terasa pedih di mata dan menyakitkan. Dan seperti itulah kurang lebih
kondisi yang sedang dialami oleh Ulil pada hari-hari ini. Semoga Allah
segera menyembuhkan penyakitmu, wahai Ulil…

Terakhir, kami ingin menasihatkan kepada diri kami sendiri dan setiap orang
yang menghendaki kebaikan bagi dirinya supaya :
Pertama
Selalu berdoa meminta petunjuk dan keteguhan kepada Allah, seperti dengan
memanjatkan doa, ‘Rabbana la tuzigh qulubana ba’da idz hadaitana’ (Ya Allah
janganlah Engkau sesatkan hati-hati kami setelah Engkau berikan hidayah
kepada kami) atau doa ‘Ya muqallibal qulub tsabbit qalbi ‘ala diinik’
(Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah aku di atas agama-Mu).

Kedua
Perhatikanlah siapa gurumu. Sebab ilmumu adalah agamamu, maka hendaknya
kamu perhatikan dari manakah kamu mengambil agamamu.

Ketiga
Kenalilah siapa kawan-kawanmu, karena mereka itulah yang akan ikut mewarnai
bagaimana isi hatimu.
[keterangan tambahan ini kami salin dengan sedikit perubahan redaksional
dari tulisan tangan Ustadz Afifi Abdul Wadud]
Allahumma aarinal haqqa haqqa warzuqnat-tiba’ah, wa aarinal baathila
baathila warzzuqnajtinaabah. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa
‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam. Wa akhiru da’wana anil hamdu lillahi
Rabbil ‘alamin.

***
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Muraja’ah: Ustadz Afifi Abdul Wadud
Yogyakarta, Rabu 14 Muharram 1429/23 Januari 2008
Semoga Allah mengampuninya,
Kedua orang tuanya dan segenap kaum muslimin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: