Ciri-Ciri Murji’ah Menurut Ahli Bid’ah Terdahulu Dan Murji’ah Menurut Hizbiyyun Dan Harakiyyun

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
materi serupa dapat ditemui disini

CIRI-CIRI MURJI`AH YANG PALING MENONJOL
Murji`ah memiliki sekian banyak ciri, dan ada beberapa ciri yang paling menonjol, di antaranya sebagai berikut.

[1]. Mereka berpendapat, iman hanya sebatas penetapan dengan lisan, atau sebatas pembenaran dengan hati, atau hanya penetapan dan pembenaran.
[2]. Mereka berpendapat, iman tidak bertambah dan tidak berkurang, tidak terbagi-bagi, orang yang beriman tidak bertingkat-tingkat, dan iman semua orang adalah sama.
[3]. Mereka mengharamkan istitsn` (mengucapkan ‘saya beriman insya Allah’) di dalam iman.
[4]. Mereka berpendapat, orang yang meninggalkan kewajiban dan melakukan perbuatan haram (dosa dan maksiat) tidak berkurang imannya dan tidak merubahnya.
[5]. Mereka membatasi kekufuran hanya pada pendustaan dengan hati.
[6]. Mereka mensifati amal-amal kekufuran yang tidak membawa melainkan kepada kekufuran, seperti menghina dan mencela (Allah, Rasul-Nya, maupun syari’at Islam); bahwa hal itu bukanlah suatu kekufuran, tetapi hal itu menunjukkan pendustaan yang ada dalam hati.[19]

CIRI-CIRI MURJI’AH MENURUT AHLI BID’AH TERDAHULU
Dahulu para ahli bid’ah –dari kalangan Khawarij dan selainnya- menuduh Ahlus-Sunnah wal- Jama’ah dengan irja`, dikarenakan perkataan mereka (Ahlus-Sunnah) bahwa pelaku dosa besar tidak dikafirkan, kecuali jika dia menghalalkan perbuatan tersebut. Dan mereka berpendapat, orang yang meninggalkan shalat karena malas atau meremehkannya tidaklah kafir yang dapat mengeluarkannya dari agama.[20]

Di antara dali-dalil yang menunjukkan hal itu ialah sebagai berikut.
Pertama. Atsar yang dikeluarkan Ishaq bin Rahawaih dari Syaibân bin Farrûkh, ia berkata: “Aku bertanya kepada ‘Abdullah Ibnul-Mubârak: ‘Apa pendapatmu tentang orang yang berzina dan meminum khamr atau selain itu. Apakah ia dikatakan mukmin?’. ‘Abdullah Ibnul Mubârak menjawab,‘Aku tidak mengeluarkannya dari iman,’ maka Syaibân berkata,‘Apakah pada saat tua nanti engkau menjadi Murji`ah?,’ lalu ‘Abdullah Ibnul-Mubârak menjawab,‘Wahai, Aba ‘Abdillah! Sesungguhnya Murji`ah tidak menerimaku, karena aku mengatakan iman itu bertambah, sedangkan Murji`ah tidak mengatakan demikian’.”[21]

Kedua. Apa yang disebutkan oleh al-Qâdhi Abul-Fadhl as-Saksaki al-Hanbali (wafat 683 H) dalam kitabnya, al-Burhân: Bahwa ada sekelompok ahlul bid’ah yang dinamakan dengan al-Mansuriyyah -mereka adalah sahabat dari ‘Abdullah bin Zaid-, mereka menuduh Ahlus-Sunnah sebagai Murji`ah, karena Ahlus-Sunnah mengatakan, orang yang meninggalkan shalat, apabila ia tidak mengingkari kewajibannya maka ia tetap seorang muslim; demikian menurut pendapat yang shahîh dari madzhab Imam Ahmad.

Mereka (ahlu bid’ah) mengatakan: “Ini menunjukkan bahwa iman menurut mereka (Ahlus Sunnah) adalah perkataan tanpa amal.”[22]

CIRI-CIRI SESEORANG TERLEPAS DARI MURJI’AH, MENURUT AHLUS-SUNNAH
Para ulama Ahlus-Sunnah telah menyebutkan sejumlah ciri yang dapat diketahui bahwa seseorang terlepas dari bid’ah Irja`, di antaranya ialah:
[1]. Mengatakan bahwa iman itu adalah perkataan dan perbuatan.
Imam Ibnul-Mubarak rahimahullah pernah ditanya: “Engkau berpendapat Irja`?,” maka ia menjawab,“Aku mengatakan bahwa iman itu perkataan dan perbuatan. Bagaimana mungkin aku menjadi Murji`ah?!”[23]

[2]. Mengatakan bahwa iman itu bertambah dan berkurang.
Imam Ahmad ditanya tentang orang yang mengatakan: “Iman itu bertambah dan berkurang,” maka ia menjawab,“Orang ini telah berlepas diri dari Irja`.”

[3]. Mengatakan bahwa maksiat mengurangi iman dan membahayakannya.

[4]. Mengatakan bahwa kekufuran dapat terjadi dengan perbuatan sebagaimana dapat terjadi dengan keyakinan dan perkataan. Dan ada di antara amal yang menjadi kufur karena melakukan amal tersebut tanpa keyakinan, dan menganggap halal perbuatan tersebut.[24]

CIRI-CIRI SESEORANG TERLEPAS DARI MURJI`AH MENURUT HIZBIYYUN DAN HARAKIYYUN
Di antara ciri seseorang terlepas dari Murji`ah menurut kaum Hizbiyyun dan Harakiyyun ialah:

[1].Mengkafirkan orang yang berhukum dengan selain hukum Allah dengan mutlak tanpa perincian yang telah disepakati oleh para salaf, Ahlus-Sunnah sejak dahulu sampai hari ini.

[2]. Mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat karena malas dan meremehkan. Dalam masalah ini terjadi khilâf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama Ahlus-Sunnah sejak dahulu hingga hari ini. Menurut mereka, apabila seorang muslim berpendapat dengan dua pendapat tersebut, maka ia telah terlepas dari Murji`ah.[25]

TUDUHAN DUSTA TERHADAP AHLI HADITS ABAD INI, YAITU SYAIKH MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI RAHIMAHULLAH
Ada sebagian orang dari kalangan hizbiyyun dan harakiyyun yang menuduh Syaikh al-Albani sebagai Murji`ah. Tuduhan ini merupakan tuduhan yang kejam, dusta, bohong, dan mengada-ada.

Syaikh al-Albani rahimahullah telah menjelaskan dalam kitab-kitabnya dan tahqîqnya tentang masalah iman, sebagaimana dipegangi para ulama salaf. Kalau kita mau membahas satu per satu dari kitab beliau, maka akan panjang pembahasannya. Tetapi saya cukupkan dengan penjelasan para ulama yang memuji beliau.

Syaikh Abdul-‘Azîz bin ‘Abdullah bin Bâz rahimahullah berkata,”Aku tidak melihat di bawah kolong langit seorang yang ‘alim tentang hadits pada zaman ini, seperti al-‘Allamah Muhammad Nâshiruddin al-Albâni.”

Beliau rahimahullah juga pernah ditanya: “Siapa mujaddid (pembaharu) pada zaman ini?”

Lalu beliau menjawab, “Menurutku, Syaikh Muhammad Nâshiruddin al-Albâni. Beliaulah mujaddid (pembaharu) pada zaman ini. Wallahu a’lam.”

Syaikh bin Bâz juga pernah berkata,“Aku tidak mengetahui seorang di alam semesta yang lebih ‘alim daripada Syaikh Nâshir (al-Albani) pada zaman ini.”

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullah pernah ditanya, tentang orang yang menuduh Syaikh al-Albâni dengan irja` (Murji’ah), maka beliau menjawab: “Barangsiapa yang menuduh Syaikh al-Albâni dengan tuduhan irja`, maka ia telah salah, – orang itu – satu di antara dua kemungkinan, (yaitu): ia tidak mengenal al-Albani atau tidak mengetahui apa itu Irja`. Al-Albâni rahimahullah seorang dari Ahlus-Sunnah dan pembela Sunnah. Dia juga seorang imam dalam bidang hadits. Aku tidak mengetahui ada seorang yang menandinginya pada zaman sekarang. Akan tetapi, sebagian orang –kami mohon kepada Allah al-‘Afiyah- timbul perasaan dengki pada hatinya. Apabila ia melihat penerimaan seseorang, mereka mulai mencela seperti perbuatan orang-orang munafik yang mencela orang-orang mukmin yang bershadaqah dan tidak mendapatkan kecuali usaha mereka. Mereka (munâfiqîn) mencela orang yang bershadaqah dengan harta yang banyak dan orang miskin yang bershadaqah. Kami mengetahui beliau (al-Albâni) rahimahullah dari buku-bukunya, dan aku mengetahuinya sebagai seorang yang memiliki ‘aqidah Salaf dan selamat manhajnya. Akan tetapi, sebagian orang ingin mengafirkan hamba Allah dengan apa-apa yang Allah tidak mengafirkan mereka dengannya, kemudian menuduh bahwa orang yang menyelisihinya dalam masalah takfir maka ia adalah Murji`ah; ini merupakan suatu kebohongan, kedustaan, dan kezhaliman. Oleh karena itu, janganlah kalian mendengar perkataan-perkataan ini dari siapa pun.”

Beliau (Syaikh ‘Utsaimin) juga berkata: “Syaikh al-Albâni seorang yang panjang langkahnya (luas ilmunya), luas pengetahuannya, dan kuat pemikirannya”. [26]

Begitu pula tuduhan hizbiyyun kepada Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi hafizhahullâh. Mereka menuduh bahwa beliau adalah “Murji`ah”?! Mereka menuduh demikian karena ada fatwa dari Lajnah Da-imah yang memperingatkan dua buku karya Syaikh ‘Ali bin Hasan, yaitu at-Tahdzîr min Fitnatit-Takfîr dan Shaihatun-Nadzîr bi Khatharit-Takfîr. Padahal fatwa ini tidak memvonis Syaikh ‘Ali sebagai Murji’ah.

Dalam masalah ini, Syaikh ‘Ali telah menjawab serta menjelaskan dalam bukunya. Beliau mengajak “polemik” kepada anggota Lajnah Da-imah dengan buku beliau yang berjudul al-Ajwibah al-Mutalâ-imah ‘alâ Fatâwa al-Lajnah ad-Dâ-imah.

Kemudian beliau membantah orang-orang yang memanfaatkan fatwa itu untuk kepentingan hawa nafsu dan membela kelompok mereka. Beliau membantah dalam bukunya yang berjudul at-Tanbîhâtul Mutawâ-imah fî Nushrati Haqqi Ajwibah al-Mutalâ-imah ‘alâ Fatâwa al-Lajnah ad-Dâ-imah setebal 610 halaman, diterbitkan oleh Maktabah Dârul-Hadîts-Daulah Imârât, Cet. I, Th. 1424 H. Beliau membantah dengan bantahan ilmiah dan menjawab tuduhan itu dengan dalil-dalil dari al-Qur`an dan as-Sunnah, perkataan ulama Salaf, dan disertai bukti-bukti akurat dan marâji’ (referensi) yang banyak. Beliau jawab satu per satu dengan rinci, ilmiah dan nukilan yang sempurna, tidak sepotong-sepotong.

Tentang fatwa Lajnah Da-imah dijelaskan dengan gamblang oleh Syaikh Dr. Husain bin ‘Abdul-‘Azîz Âlu Syaikh dan Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn rahimahullah.

Dr. Hushain bin ‘Abdul Azîz Alu Syaikh –imam Masjid Nabawi dan Qadhi (hakim) di Pengadilan Tinggi Madinah Nabawiyyah- pernah ditanya berkaitan dengan fatwa Lajnah Da-imah:

Fadhilatusy-Syaikh, bagaimana pendapat Syaikh tentang fatwa yang dikeluarkan oleh Lajnah Da-imah tentang kedua kitab Syaikh ‘Ali al-Halabi: at-Tahdzîr dan Sha’ihatun Nadzîr, bahwasanya kedua kitab ini mengajak kepada pemikiran Irja`, bahwa amalan bukanlah syarat sahnya iman. Padahal kedua kitab ini tidak membahas masalah syarat sahnya iman atau syarat kesempurnaan iman?

Menghadapi pertanyaan ini, maka Syaikh Dr. Husain bin ‘Abdul Azîz Âlu Syaikh menjawab: Yang pertama, wahai saudara-saudaraku! Syaikh ‘Ali dan masyayikh lainnya satu jalan. Syaikh ‘Ali adalah saudara tua sebagaimana para masyayikh yang mengeluarkan fatwa ini. Syaikh ‘Ali mengenal mereka, dan mereka pun mengenal Syaikh ‘Ali. Mereka memiliki hubungan baik dengan Syaikh ‘Ali.

Syaikh ‘Ali telah diberi Allah ilmu dan bashirah untuk mengatasi masalah ilmiah antara dia dan masyayikh, dan masalah ilmiah ini untuk menjelaskan al-haq (kebenaran).

Adapun Syaikh ‘Ali dan gurunya –Syaikh al-Albâni- barangsiapa yang berada di atas jalan Sunnah, maka tidak ada satu pun yang meragukan bahwasanya mereka di atas manhaj yang diridhai –walillahil hamdu. Syaikh Ali –walillahil hamdu- termasuk pembela manhaj Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

Fatwa tersebut tidak me-nash-kan bahwa Syaikh ‘Ali sebagai Murji`ah –tidak akan beliau mengucapkan ini!- khilaf antara fatwa ini dengan Syaikh ‘Ali pada masalah kitab dan diskusi bersamanya pada perkara ini. Keberadaan orang lain yang hendak memaksakan kandungan fatwa ini, bahwasanya fatwa ini mewajibkan hukum atas Syaikh ‘Ali bahwa beliau Murji`, maka ini tidak saya pahami, dan aku menyangka bahwa saudara-saudara disini juga tidak memahami ini. Fatwa ini –walillahil hamdu- tidak menyelisihi hubungan antara Syaikh ‘Ali dan masyayikh, mereka menghormati dan menghargai Syaikh ‘Ali.

Syaikh ‘Ali telah menerangkan dengan penjelasan ilmiah (dalam kitab beliau -Ajwibah Mutalâ’imah ‘ala Fatwa Lajnah Dâ-imah) –sebagaimana dilakukan oleh Salaful-Ummah-; tidak ada seorang pun dari kita melainkan mengambil dan memberi, setiap orang diambil perkataannya dan juga dibantah, kecuali penghuni kubur ini, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan oleh Imam Mâlik rahimahullah : “Setiap ucapan diterima dan ditolak, kecuali perkataan Rasul”.

Demikianlah umat ini, berselisih pada awalnya antara yang mengambil dan yang menolak. Tetapi manusia –dari segi asalnya- kadang-kadang di tengah-tengah ucapannya ada ucapan-ucapan lain –yaitu yang dinamakan dengan perkataan-perkataan spontan disebabkan adanya perdebatan, dan sebab tabi’at asli manusia- yang terdapat di dalamnya sedikit keras; bahkan juga di antara para sahabat Radhiyallahu ‘anhum sebagaimana terjadi antara Abu Bakar dan ‘Umar, dan antara yang lainnya dari kalangan sahabat –seperti antara ‘Aisyah dan ‘Ali Radhiyallahu ‘anhuma.

Kesimpulannya, fatwa ini –dalam pandanganku- tidak menghukumi, dan tidak menashkan dengan nash yang jelas bahwa Syaikh ‘Ali di atas manhaj Irja`. Sesungguhnya fatwa ini adalah pembicaraan tentang sebuah kitab yang ditulis oleh Syaikh. Syaikh ‘Ali telah menulis kitab (Ajwibah Mutalâ’imah) sesudah keluarnya fatwa, bukan dalam rangka membantah, tetapi menjelaskan manhajnya dan manhaj gurunya, yaitu Syaikh al-Albâni.

Yang kami yakini dan kami pertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwasanya Syaikh ‘Ali dan gurunya –Syaikh al-Albâni- sangat jauh di antara manusia dari madzhab Murji`ah –sebagaimana telah kami katakan sebelumnya-. Syaikh ‘Ali –demikian juga Syaikh al-Albâni- jika ditanyakan kepadanya: “Apakah definisi iman?” Tidak akan kita dapati dalam ucapannya perkataan Murji’ah yang mengatakan bahwa amalan tidak masuk dalam keimanan. Bahkan nash-nash Syaikh al-Albâni menashkan bahwa definisi iman, adalah keyakinan dengan hati, perkataan dengan lisan, dan amalan dengan anggota tubuh, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.[27]

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn ketika ditanya oleh Syaikh ‘Ali tentang fatwa Lajnah Da-imah, beliau menjawab: “Ini adalah suatu kesalahan dari Lajnah, dan aku merasa terganggu dengan adanya fatwa ini. Fatwa ini telah memecah-belah kaum Muslimin di seluruh negeri, sampai-sampai mereka menghubungiku baik dari Amerika maupun Eropa. Tidak ada yang mengambil manfaat dari fatwa ini melainkan takfiriyyun (tukang mengafirkan) dan tsauriyyun (para pemberontak).”

Beliau juga berkata: “Saya tidak suka keluarnya fatwa ini, karena membuat bingung manusia. Dan nasihatku kepada para penuntut ilmu agar tidak terlalu berpegang teguh dengan fatwa fulan atau fulan”.[28]

Saya ingatkan kepada orang-orang yang menuduh para ulama dan kaum Muslimin dengan tuduhan yang tidak benar akan sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Barangsiapa syafa’at (pertolongan)nya menghalangi had (sanksi hukum) dari hukum-hukum Allah, maka ia telah melawan Allah. Dan barangsiapa yang bertikai (bermusuhan) dalam kebathilan padahal dia mengetahuinya, maka ia berada dalam kemurkaan Allah sampai ia melepasnya. Dan barangsiapa yang menuduh seorang mukmin dengan tuduhan yang tidak ada padanya, maka Allah akan menempatkannya dalam radghatul khabal sampai ia keluar dari perkataannya (bertaubat). [29]

Makna radghatul-khabal ialah cairan (keringat) penghuni neraka, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang terdapat dalam Shahîh Muslim.[30]

Maraaji’
1). Al-Qur’an dan terjemahannya, terbitan DEPAG.
2). Shahîh al-Bukhâri.
3). Shahîh Muslim.
4). Musnad Imam Ahmad bin Hanbal.
5). Sunân Abi Dawud.
6). Sunân at-Tirmidzi.
7). Sunân an-Nasâ-i.
8). Al-Mustadrak ‘alash Shahîhain, karya Imam al-Hakim.
9). Kitâbus Syarî’ah, karya Imam al-Ajurri.
10). Syarhus Sunnah, karya Imam al-Baghawi.
11). Syarhus Sunnah, karya Imam al-Barbahari.
12). As-Sunnah, karya Imam Abu Bakar al-Khallal.
13). Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah, karya Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
14). Al-Îmân, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, takhrij Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.
15). Al-Milal wan Nihal, karya asy-Syahrastani.
16). Al-Farqu bainal Firaq, karya Abdul Qahir al-Baghdadi.
17). Maqalât Islamiyyîn wakhtilâful Mushallîn, karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari.
18). Majmû’ Fatâwa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
19). Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah, karya Imam al-Lalikâ-i.
20). Syarah Aqîdah ath-Thahâwiyyah, karya Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi tahqiq para ulama dan takhrij Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.
21). At-Takfîr wa Dhawâbithuhu, karya Syaikh Dr. Ibrâhim ar-Ruhaili.
22). Dirâsât fil Ahwâ’, karya Syaikh Dr. Nâshir bin Abdul Karîm al-‘Aql.
23). Wasathiyyah Ahlis Sunnah, karya Syaikh Muhammad Bakarim bin Muhammad Ba’abdullah.
24). Firaq Mu’âhirah, karya Ghâlib bin Ali ‘Awâji.
25). Mujmal Masâ-ilil Îmân wal Kufr al-‘Ilmiyyah fi Ushûl al-‘Aqîdah as-Salafiyah, Syaikh Musa Âlu Nashr, Syaikh ‘Ali Hasan al-Halaby al-Atsary, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly, Masyhur Hasan Alu Salman, Husain bin ‘Audah al-‘Awaisyah, Baasim bin Faishal al-Jawabirah, cet. II-Markaz Imam al-Albany.
26). Murji`atul ‘Ashr, karya Syaikh Dr.Khâlid bin ‘Ali al-Anbari.
27). Fatâwâ ‘Ulamâ al-Akâbir fîmâ Uhdira min Dimâ-in fil Jazâ-iri, karya Abdul Malik Ramadhan al-Jazâ-iri.
28). At-Tanbihâtul Mutawâ-imah fii Nushrati Haqqi al-Ajwibatil Mutalâ-imah ‘alaa Fatwaa al-Lajnah ad-Dâ-imah, karya Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid.
29). Ar-Raddul Burhâni Fintishâri lil ‘Allâmah al-Imam asy-Syaikh al-Muhaddits Muhammad Nâshiruddin al-Albâni. Karya Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi.
30). At-Ta’rîf wat Tanbi-`ah bi Ta-shîlât al-‘Allâmah asy-Syaikh Muhammad Nâshiruddin al-Albâni rahimahullaah fî Masâ-ilil Imân war Raddi ‘alal Murji-`ah, karya ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid.
31). Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah, oleh Yâzid bin Abdul Qadir Jawas, cet. IV-Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XI/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo]
___________
Foote Note
[19]. Lihat Murji’atul Ashr (hal. 54)
[20]. Tentang masalah seseorang bisa menjadi kafir, lihat makalah penulis di majalah As-Sunnah, edisi 03/Tahun XI/1428H/2007M (hal. 34-42)
[21]. Musnad Ishaq (III/670), dinukil dari Murji’atul ashr (hal.56)
[22]. Lihat Murji’atul Ashr (hal.56-57)
[23]. As-Sunnah (III/566) oleh Imam Abu Bakar Al-Khallal
[24]. Lihat Murji’atul Ashr (hal. 60). Lihat poin I (Ciri-ciri Murji’ah Menurut Ahlul Bid’ah Terdahulu)
[25]. Lihat Murji’atul Ash (hal.62)
[26]. Lihat Fatawa Ulama Al-Akabir (hal. 6-7)
[27]. Lihat At-Tanbihat Al-Mutawaimah (hal. 553-557)
[28]. At-Ta’rif wat Tanbi-ah (hal. 15)
[29]. HR Abu Dawud (no. 3597), Al-Hakim (II/27) dan Ahmad (II/70) dari Sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini shahih, lihat Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah (no. 437)
[30]. Lihat Shahih Muslim (no. 2002 (72) dan Shahih At-Targhib wa Tarhib (II/545-546)

17 Responses

  1. Islam itu mudah koq…..tapi kenapa banyak orang yang ngaku MUSLIM justru saling tuduh manhaj sesat, manhaj benar atau apapun namanya…kapan sich….MUSLIM DUNIA ini mau bersatu…..Ingat kebenaran itu hanya milik Allah…..yang wajib kita kerjakan sekarang adalah Amar Makruf Nahi Mungkar ! bukan hanya menyebarkan ikhtilaf yang gak ada habisnya….Kembalikan semua persoalan pada Kitabullah dan pegang kembali Sunnah Rasulnya agar ada kedamaian antar MUSLIM bukan permusuhan….

    • Lah…pemilik blog nulis artikel tersebut kan jg dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar…agar kita jangan sampe terjerumus dalam paham murji’ah…

      Kebenaran hanya milik Allah, anda benar, Islam itu mudah, anda benar sekali, tapi justru ada org2 yg kelewat menganggap mudah sehingga jadi meremehkan, itulah yg ingin kita hindari, dan ga ada salahnya kita berdakwah memerangi paham2 dan manhaj2 sesat, bukan untuk mentakfiri, bukan untuk membid’ahkan tp dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar…saya harap anda mau mengerti.

      Justru dengan dakwah spt inilah muslim dunia diharapkan bisa bersatu dan kembali pada manhaj haq agama ini yaitu manhaj berdasarkan Al Quran, Sunnah Nabi dan salafus sholeh kita yaitu para sahabat -radhiyallahu ‘anhuma-.

  2. Yang saya paham Umat Islam akan tetap berpecah sebagaimana yang dinubuwahkan Rosulullah menjadi 73, maka kewajiban kita hanya lah mengajak ke manhaj yg satu saja yakni manhaj salaf dan tidak membebani diri mengajak semuanya bersatu, karena fenomena perpecahan adalah suatu hal yang pasti hingga saat yang sudah ditentukan kaum muslimin akan sempat dibawak seorang pemimpin yang adil yakni Imam Mahdi..!

  3. Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn ketika ditanya oleh Syaikh ‘Ali tentang fatwa Lajnah Da-imah, beliau menjawab: “Ini adalah suatu kesalahan dari Lajnah, dan aku merasa terganggu dengan adanya fatwa ini. Fatwa ini telah memecah-belah kaum Muslimin di seluruh negeri, sampai-sampai mereka menghubungiku baik dari Amerika maupun Eropa. Tidak ada yang mengambil manfaat dari fatwa ini melainkan takfiriyyun (tukang mengafirkan) dan tsauriyyun (para pemberontak).”

    Wah Syikh ini kok enteng banget yaa bilang kesalahan…..padahal yang mengeluarkan kan Lajnah Daimah.l.

  4. #Abu Hira:
    Kalau engkau menganggap bahwa para ulama di Lajnah Daimah adalah orang-orang yang ma’sum berarti anda salah. Siapa saja bisa berbuat salah, terkecuali Abul Qosim.

    Adapun masalah perkataan Syaikh Utsaimin, itu dan para ulama mereka telah berijtihad. Dan orang yang berijtihad tidak bisa dihukumi sesat atau kafir. Apalagi seorang ulama sekelas Syaikh Ali Hasan Al Halabi. Beliau sendiri adalah seorang ahlussunnah, beliau berijtihad dengan ilmu. Adapun orang-orang seperti kita, hanya melihat fatwa ulama sepotong, tanpa mengerti bagaimana menyikapi fatwa, apalagi fatwa tentang rifqon.

    Sebagaimana dalam buku Rifqon Ahlussunnah bi Ahlussunnah dijelaskan, seseorang bisa saja mereka salah dalam hal fatwa, bisa saja mereka dalam tulisan-tulisan mereka terpengaruh oleh pemahaman-pemahaman ahlu bid’ah. Hal itu karena lingkungan, atau karena dulunya ia ada di jalan itu.

    Hal ini sangatlah lazim, sebagaimana pemahaman Asy’ari pada ulama-ulama salaf seperti Imam Nawawi rahimahulloh, dan juga sebagaimana ada sebagian pemahaman mu’tazillah pada diri Ibnu Hajar rahimahulloh, atau syi’ah Zaidi pada diri Ibnul Jauzy rahimahulloh dan Syaukani rahimahulloh. Hal ini semua ulama ma’lum, karena memang mereka ada pada lingkungan di mana saat itu bid’ahnya sedang bear-besarnya, namun mereka telah berlepas diri dari hal tersebut. Dan kita bisa lihat bagaimana mereka di akhir hayatnya dalam keadaan kembali kepada sunnah.

    Adapun Syaikh Ali, maka kita tidak bisa mengatakan bahwa beliau adalah seratus persen Murji’ah, sebelum ditegakkan hujjah atas diri beliau, yaitu dari Umara’. Dan apakah beliau sudah dihajr atas hal tersebut.

    Dan, kalau toh Syaikh Utsaimin bilang bahwa fatwa tersebut adalah sebuah kesalahan, maka beliau berhak melakukan hal tersebut. Sebab beliau juga adlah seorang ulama. Yang tidak berhak itu adalah orang-orang seperti kita yang menuduh para ulama kafir, murji’ah, bid’ah, sesat dan sebagainya, sebab apa yang kita punyai tak sebanding dengan ujung kuku mereka.

  5. yang jelas apa yang anda inginkan sebuah kebenaran maka kita tidak puas dangan sesuatu yang anda ketahui saat ini maksubnya kita selalu belajar dan bersukur atas nikmat iman wal islam yaitu menuntut ilmu (syar’i ) yang allah wajibkan setiap Muslim maka dari itu kita sebaikan umat islam yang baik berusaha melakun apa yang pernah dilakukan generasi terdahulu “salafussholah” sebagaimana Allah perintahkan kita akui bahwa selian Nabi tidak ada yang ma’sum tetapi itu jagan sebagai alasan untuk pembenaran sipapun kalau salah katakan salah kalau benar katakan benar tapi kita ingat bahwa ulama’ harus kita hormati harus jaga mereka karena ilmunya coba bandingkan dengan diri kita bahwa mereka mempunyai tanggung jawab besar dihadapan Allah maka mareka “al ulama’u warasatul ambiya’ dan mudah2han kita termasuk orang2 yang dipilih oleh Allah golongan yang selamat.. amin

  6. Assalamu’alaikum,ustadz apa yang sebaiknya kita lakukan sebagai tholib agar kita selamat dalam artian tidak mudah takfir dan tidak terlalu toleran dalam akidah/manhaj?dan menurut ustadz aqidah dan manhaj apa yang paling mendekati benar atau paling murni belum terubah,tambah dll?

    • Wa’alaykumsalam warohmatullohi wabarokaatuh,
      Sebagai tholib, kita memang harus berusaha untuk belajar tentang aqidah dan manhaj yang benar. Aqidah dan manhaj yang benar adalah apa yang dibawa oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa salam dan para shahabatnya. Yaitu aqidah tauhid, manhaj salafush sholeh.
      Agar kita selamat, tiada lain selain kita berdo’a agar Allah menambahkan kita ilmu dan diberi petunjuk. Sebab kita berada di aqidah yang benar, kita berada di manhaj yang benar itu tiada lain karena rahmat Allah, bukan semata-mata atas usaha kita sendiri. Saya juga dulu tidak lahir langsung di manhaj ini, tetapi dengan belajar dari satu tempat ke tempat lain. Hingga kemudian saya mantap di tempat ini.
      Anda setiap saat harus bertanya dan bertanya kepada diri apakah sudah benar langkah kita, apakah sudah benar manhaj yang saya pegang, aqidah yang saya pegang. Apakah tidak tercampur dengan pemikiran-pemikiran bid’ah, khurafat, sosialis, liberalis dan lain-lain. Setiap saat anda coba tanyakan pada diri sendiri. Dan selalu meminta pertolongan Allah agar diberi hidayah, Insya Allah anda akan menemui jalan yang benar.

      wallahua’lam bishawab.

  7. Biar komentator/penulis menolak pemecah belah ummat.. artikel ini tidak meluruskan ummat tetapi bisa jadi makin memecah belah ummat, arahnya tulisan ini adalah diluar salafy merupakan kelompok murji’ah atau hizbiyyin…ini adalah sebuah tuduhan secara tdk langsung

  8. Surga bukan hanya milik salafy.. jadi bukan berarti yang tidak mengaji di salafy sesat.. ana melihat sebagian ikhwah salafy mudah sekali mentabdi’ (memvonis bid’ah kpd seseorang secara serampangan), jika tidak mengaji di ustadz fulan, maka ia sesat/hizby dll. Kaidah bid’ah dari mana itu? sebuah vonis yg diluar aturan ahlussunnah wal jama’ah.

    • Mudahnya gini akhi. Antum pernah melihat saya atau mengetahui saya membid’ahkan antum? Kalau iya, maka saya akan minta maaf dan menarik ucapan saya, tapai kalau saya tidak pernah membid’ahkan antum. Maka antum salah tanggap tentang siapa salafi.

    • Yaa maklum, dan anda harus memaklumi mereka biasanya org yang masih seperti itu (mudah menvonis) adalah masih kurang ilmu atau disebut orang yang masih kuber karena bagi mereka itu hal yang baru, yang mengagumkan aliyas masih kuber-kubernyanya atau bisa disebut org lagi jatuh cinta dan sedang kasmaran yaa, saolah-olah gak ada org yang paling sip kecuali kekasihnya/pahamnya,
      Yaa, akhiy lihatnya aja org seperti itu,! nantinya suatu saat dia sadarkan diri/tambah ilmu lain,… maka dia akan tertawa kalau ingat masa lalunya (ketiga masih kuber & membid’ah-bid’ahkan org lain).
      Dan ini tidak terjadi kepada salafiyiin aja, tetapi sangat mungkin/bisa terjadi setiap kelompok/paham lain baik itu LDII, PKS (IM) HTI, FPI, Muhammadiyah, NU dan salafi (wahabi), Lihatlah pada saatnya nanti akan jelas mana yang lebih mendekati Al Qur’an dan Al Hadist Nabi SAW, (generasi salafussholih). Sebab ilmu islam (syari’at islam ini bukannya kira-kira (dhon), kurofat, akal, perasaan, pengalaman, cerita mistik/mitos, sajarah, dan akan tetapi islam adalah agama kepastian dan keyakinan (agama fitrah) ilmiah, matematika/fisika dan metafisika, yang tidak bercampur dengan keraguan sedikitpun. Dzalikal kitaabu laaraibafiih hudallimutqiiin…
      Sekarang timbul pertanyaan kenapa salafi paling dominan/terkenal memvonis org lain/kelompok lain?
      Karena mereka cara pembelajaran akidah tauhid memang betul-betul mantab dan dalil-dalilnya sangat jelas dan kuat dibandingkan seliannya setahu saya,. Dan saya selama ini baru menemukan akidah tauhid yang paling saya anggap mantab dan kuat adalah baru di salafi (akidah salaf). Maka ini bukan doktrin, maka salah kalau ada orang mengatakan Doktrim salafi (wahabi), dan lain halnya dengan kelompok/paham-paham islam lainnya mungkin secara akidah keyakinan kurang menggigit (kuat) baik dalam dalil nakli maupun dalam arguman dalil akli sehingga secara hasil atau dampak bagi masyarakat yg mengkajinya juga kurang kuat aliysas ngejoooss. Maka sewajarnyalah sikap mereka seperti itu dan insya’Allah kalau mereka sudah bertambahnya ilmu yakni dalam arti yuniversal (agama, sosial, maupun budaya) pastilah cara bersikap akan lain (berubah), maka itulah yang namanya proses.
      Maka dari itu perlu kita ketahui, Bahwa agama islam ini adalah agama ilmu (wahyu Al Qur’an dan Al Hadist Nabi SAW), dan bukan agama kurofat/kegoiban, maka dengan demikian agama islam ini agama melalui proses pembelajaran, perenungan dan berfikir yang kuat dan kalau purlu adakan eksperimen-eksperimen serta penelitian secara mendalam dalam kajian islam sebab aksioma dasar Al Qur’an ini jelas, sebagaimana kejadian peristiwa alam telas baik telah terjadi sedang terjadi dan akan terjadi sudah jelas-jelas terbukti keotentikannya dan tak terbantahkan dan sayangnya kita ini kurang peduli terhadap masalah agama ini.
      Dan akan saya garis bawahi agar tidak terkesan kontraversial tehadap sebagian tulisan saya di atas!,.bahwa; islam ini bukan agama doktrin, atau kurofat, dan agama sejarah, maksudnya adalah; bahwa agama islam adalahagama ilmu serta keyakinan dan tidak bercampur dengan keraguan keraguan sedikitpun maka apa saja proses berpikir, perenunan anda, mengadakan penelitian-penelitian dan eksperimen maka itu adalah perintah Tuhan (Allah), dan kesemuanya berstandardkan Al Qur’an dan as sunnah dan tidak bertentangan dengan keduanya, dengan ini tidak akan terasesat sebagaimana seperti kaum Filsafat telah tersesat dari jalan yang lurus (tauhid/islam)
      Penilaianini tidak lepas dari sifat subyektifitas saya tetapi yang insya’aallah ada benar dan bisa diambil manfaatnya agar kita ini lebih bijaksana dan santun dalam bersikap.

  9. Manhaj bukan figuritas! Kt wajib mnerima kbenaran dri siapapun dtangnya, & wajib menjauhi kebathilan sekalipun disampaikan oleh figur terhormat. Maka bentuk ihtisab bila hendak mengomentari suatu kelompok adalah dgn ungkapan: “Jangan Ikuti fatwa mereka tntang wala’ wal baro’ karena pendapat mereka didasari dengan perem…ehan dalam masalah yg agung ini. Namun dlm fatwa yg lain bisa jadi pendapat mereka benar/bermanfaat”

  10. Manhaj bukan figuritas! Kt wajib mnerima kbenaran dri siapapun dtangnya, & wajib menjauhi kebathilan sekalipun disampaikan oleh figur terhormat. Maka bentuk ihtisab bila hendak mengomentari suatu kelompok adalah dgn ungkapan: “Jangan Ikuti fatwa mereka tntang wala’ wal baro’ karena pendapat mereka didasari dengan peremehan dalam masalah yg agung ini. Namun dlm fatwa yg lain bisa jadi pendapat mereka benar/bermanfaat”

    Hal ini pernah dicontohkan oleh Ibnu Mubarok, ia berkata: Jangan sedikitpun kalian ikuti pendapat ahli Makkaah tentang riba’ dan pendapat ahli Madinah tentang Musik.!

    • bagi siapa , yg suka makan harta riba, dan suka musik, silakan ikuti fatwa ibnu Mubarok,yg anda cantumkan disini,karena fatwa makkah dan madinah ,hanya sifat nya mengajak tidak memaksakan ,sebab mereka juga tau mereka bukan pengumpul/pencatat ‘amalan orang2 , yg akan membalas ‘amalan orang2 semuanya adalah ALLAH SWT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: