Seperti Apakah Salafi yang Dimaksud ? (bag 4-end)

Alhamdulillah, kemudian kita berada pembahasan terakhir bantahan terakhir untuk saudara A’ang Asy’ary. Pembahasan kali ini adalah pembelaan terhadap salafiyah, yang mana salafiyah dituduh habis-habisan oleh A’ang sebagai kelompok yang jauh dari sunnah, pentahdzir dan juga pembid’ah. Hal ini akan kita luruskan sesuai dengan apa yang ditulis oleh A’ang.

A’ang berkata:

Dalam bidang pengetahuan agama, mereka terlalu konsen dengan
menghafalkan tumpukan matan-syarah kitab, dan sibuk dengan fikih
furu’iyah yang sering tidak di bandingi dengan pengetahuan
kontemporer, sehingga yang terjadi adalah keluarnya fatwa-fatwa
keras pada soal khilafiyah yang sering bertabrakan dengan
kemaslahatan umat.

Menghafalkan kitab, mempelajari ilmu kalau oleh A’ang dianggap sebuah dosa, maka harusnya dia punya dalil yang benar-benar shohih, karena belajar agama, dan orang-orang berilmu derajatnya diangkat oleh Allah. Sekarang saudara A’ang, apa dalil anda sehingga menghalangi orang untuk mencari ilmu?
Berikutnya, masalah fiqih furu’iyah, kalau yang anda maksud furu’iyah adalah seperti masalah aqidah, maka anda salah kalau mengesampingkan aqidah. Justru aqidah itu adalah hal terpenting yang harus diajarkan oleh seorang muslim daripada hal yang lain.

Salafi tidak mengesampingkan khilafiyah. Khilafiyah itu ada, dan dalam khilafiyah haruslah berlapang dada. Kalau yang dalam masalah khilafiyah ini adalah antara hadits shohih dan hadits dho’if, tentunya hadits shohih-lah yang harus dibela. Kalau yang dimaksud adalah sama-sama dalilnya benar, maka kita harus berlapang dada. Terlebih lagi apabila seorang ulama memberikan ijtihad. Sayangnya anda tidak memberikan detailnya.

Menutup pintu kebenaran dari pendapat orang lain. Seolah yang benar
hanya dirinya saja. Efeknya mereka menekan orang lain untuk ikut
pendapatnya. Bahkan sebagian dari mereka tak segan untuk menyesatkan
ulama yang berfatwa kebalikan dari pendapatnya. Lihat misalnya kasus
yang menimpa pengarang buku best seller, La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-
Qarni yang dikecam habis gara-gara berfatwa wanita boleh tak memakai
cadar dan boleh ikut pemilu. Hal yang sama juga pernah menimpa
almarhum Syeikh Ghazali dan Syeikh Qaradhawi.

Buku La Tahzan dikecam karena Aidh Al Qarni tidak memberikan sebuah dasar yang syar’i tentang diperbolehkannya tidak memakai cadar. Apalagi sampai bertabaruj di tempat umum, padahal hal tersebut telah dijelaskan harom di kitabulloh. Kalau dasar pemilu jelas keharomannya. Karena pemilu sendiri adalah produk kafir, yang mana produk kafir itu adalah bagian dari kekufuran. Mengikutinya jelas tidak diperbolehkan, namun hal itu jadi boleh apabila manfaatnya lebih besar daripada mudharatnya. Dalam hal ini dharurat. Dan dharurat ini pun didasarkan pada banyak segi pertimbangan.

Sering me-blowup permasalahan ajaran sufi, ziarah kubur, maulid
nabi, tawasul dan sejenisnya, seolah-olah ukuran tertinggi antara
yang hak dan bathil. Tapi pada saat yang sama mereka tidak peduli
pada kebijakan publik dari pemerintahnya yang kadang tidak berpihak
pada kepentingan rakyat dan umat Islam. Mereka taat total pada
penguasa yang kadang kebijakannya tidak arif. Sangat jarang, kalau
tak dikatakan tak ada, tokoh-tokoh Wahabi melakukan kritik pedas
pada pemerintahan Arab saudi soal soal sistem pemerintah, kebijakan
penjualan minyak, kebijakan politik luar negeri, lebih-lebih
mengkritik “kedekatan” pemerintahanya sama Amerika dan sekutunya.

Memblow-up ajaran sufi, karena ajaran sufi adalah yang paling banyak menyimpang di dalam Islam. Semisal ziarah. Banyak orang ziarah qubur, tapi mereka berziarah tidak sekedar berdo’a untuk memohonkan ampun si mayyit tapi juga berdo’a kepada si mayit hal ini jelas harom. Juga masalah maulid. Kalau memang maulid nabi itu ada dalil untuk merayakannya, maka demi Allah, sudah dilakukan oleh para shahabat yang mana mereka lebih dekat pada rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam. Kalau masalahnya hanyalah sebagai alat, maka harus dilihat dulu resikonya. Apakah lebih besar manfaatnya ataukah lebih besar mudharatnya?

Ketika adanya maulid nabi, banyak orang yang melakukan amalan sunnah ataukah bid’ah? Anda bisa hitung sendiri. Di televisi banyak acara nyanyi-nyanyian, adanya shalawat-shalawat yang bid’ah, apakah itu pantas dijadikan sebagai alat? Jawabannya tidak. Berapa banyak orang yang melakukan kesesatan dengan menziarahi kuburan para wali untuk memohon kepada mereka ketika acara itu berlangsung? Banyak. Dan sudah pasti keburukan yang terjadi lebih banyak daripada kebaikan dan manfaatnya, maka sudah tidak sepantasnya Maulid dikatakan berasal dari ajaran Islam. Kalau kita meruntut sejarah ada banyak versi. Dan yang paling mengerikan adalah salah satu versinya adalah ajaran Maulid ini diajarkan oleh kaum Yahudi, yang dipelopori oleh Abdullah bin Saba’ Al Yahuudi.

Terlalu mengagungkan tokoh-tokoh kuncinya, semisal Ibnu Taymiah, Bin
Baz, dll, sehingga mengurangi nalar kritis. Padahal, pada saat yang
sama mereka berteriak anti taklid!

Tidak demikian. Seandainya apa yang diucapkan oleh ulama tersebut salah, maka sudah tidak sepantasnya kita mengikutinya. Sebab dasar yang dipakai adalah Al Qur’an dan As Sunnah, sedangkan ucapan yang bertentangan dengan keduanya maka ditolak. Di sini juga tidak menunjukkan contohnya.

Terlalu asyik dengan permasalahan mukhlataf fihi, sehingga sering
lalai dengan kepentingan global umat Islam

Terlalu tekstualis, sehingga sering menyisihkan pentingnya akal dan
kerap alergi dengan hal-hal baru.

Persoalan ikhtilaf yang mana contohnya? Sudah saya jelaskan di atas tentang ikhtilaf ini. Dan yang berikutnya adalah akal. Agama ini tidak berdiri di atas akal. Sebab agama ini berdiri atas wahyu. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata,
“Kalau agama ini berdiri di atas akal, maka seseorang akan mengusap khuf itu di bawahnya daripada di atasnya”

Intinya ajaran Islam ini berdasarkan dua dasar ini. Dan akal digunakan untuk membelanya dan juga untuk memahaminya. Akal harus tunduk pada keduanya, bukan keduanya yang harus tunduk pada akal. Jangan dibalik seperti JIL yang membalik Al Qur’an dan Hadits harus bisa dikoreksi dengan akal. Mereka adalah pemahaman-pemahaman sinting yang akan hancur oleh diri mereka sendiri.

Poin-poin di atas, menggiring kita pada kesimpulan bahwa Salafi-
Modern mengalami krisis metodologis dan krisis fikih prioritas. Maka
tak terlalu mengherankan kalau mereka juga biasa mengecam keras, dan
sering gerah dengan sikap dan pendapat tokoh yang saya sebutkan di
mukadimah yang dikenal moderat dan mumpuni secara keilmuan.
Kesimpulan ini tentu tidak bisa digenerilisir begitu saja kepada
semua Salafi-Wahabi. Karena ini sikap yang tidak ilmiah dan tak
adil. Tapi, minimal, kalau kita amati buku-buku yang beredar tentang
salafi yang ditulis oleh kalangan mereka, juga mengamati milist,
maupun website yang dikelolanya, sedikit banyak anda mungkin akan
setuju dengan kesimpulan saya. Lebih-lebih kalau yang dijadikan
sampel adalah kalangan generasi mudanya.

Persoalan metodologis, dan persoalan fiqih prioritas adalah hal yang kesekian kalinya dituduhkan kepada salafi, lantaran orang tersebut tidak faham terhadap metode cara belajar di dalam dien, dan juga apa yang disebut di dalam fiqih prioritas itu. Metode kita sudah tentu Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman para salafus sholeh. Persoalan Fiqih Prioritas, bicara fiqih prioritas, saya akan tuliskan bab khusus mengenai masalah ini.

Anda mengatakan tidak semua salafi berkata demikian. Hal ini tentunya menyeletuk benak saya. Apakah anda mau mengadu domba salafi di sini? Dan dari artikel yang anda tulis di situs anda, tujuan anda menulis ini pun sudah jelas yaitu ingin memperingatkan terhadap bahaya salafi. Terus terang bagi saya hal ini sangat setuju sekali bahwa, “Ketika salafi hadir di tengah-tengah kalian, maka segera singkirkan takhayul, bid’ah, khurafat, pluralisme, liberalisme!! Karena salafi pasti akan menghancurkannya”

Ada satu hal yang perlu digarisbawahi, dengan kritikan ini tidak
berarti kita memandang remeh pada hal-hal yang mereka bahas. Juga
tak berarti mereka tidak boleh memilih pendapat-pendapat yang
menjadi keyakinannya. Itu adalah hak mereka. Yang salah adalah
ketika pendapat-pendapat itu diekspor melewati teritorialnya
kemudian dipaksakan kepada orang lain. Dan siapa saja yang menolak
atau tidak ikut pendapatnya maka akan dihukumi bid’ah, bodoh akan
hukum Islam dan disesatkan!

Tidak ada paksaan terhadap pendapat ini. Justru kalau saya menasehati anda, maka anda terima Alhamdulillah, kalau anda tidak menerima, sesungguhnya saya hanya menyampaikan nasehat. Kalau saya ada benar maka benar itu adalah dari Allah, kalau ada salah maka dari saya pribadi. Dan hal itu saya serahkan kepada anda dan Allah. Apakah setiap ulama tidak berpikir demikian? Apakah setiap ahli ilmu tidak berpikir demikian. Andalah yang paranoid terhadap masalah ini.

Yang paling mengkhawatirkan bagi saya, krisis ini menyebabkan mereka
sering kehilangan akal kesadaran akan kepentingan global umat Islam,
bahwa kita sedang dikepung arus globalisasi dan era pasar bebas yang
tak mungkin dihindari. Arus ini bisa menggerus siapa saja yang tak
berdaya. Ya, saya takut kita kehilangan rasa persaudaran, rasa
sepenanggungan dan militansi akan kepentingan umat Islam! Padahal
sekarang ini umat Islam bukan pemegang pentas dunia, baik sosial,
politik maupun ekonomi. Artinya kita butuh ukhuwah untuk menegaskan
identitas kita, lebih dari pada masa-masa sebelumnya. Bukan Ukhuwah
yang hanya berhenti untuk membangkitkan romantisisme masa kejayaan
silam. Ukhuwah yang dimaksud adalah untuk membangkitkan tekad
membangun kembali peradaban Islam.

Membangun kembali peradaban Islam dengan kesyirikan di mana-mana, bid’ah di mana-mana? Apakah ini yang anda inginkan? Tidak wahai saudaraku, sesungguhnya lihatlah perjuangan rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam dulu. Apakah rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam selama 13 tahun berada di Makkah mengajarkan tentang membangun peradaban Islam? Mengajarkan tentang membangun Islam ? Tidak, rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam mengajarkan “Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”. Lihatlah surat-surat Makiyah, Al Qur’anlah yang telah menjawabnya.

Sebagai penutup, marilah kita sadar fikih prioritas dan saling bahu-
membahu pada hal yang kita sepakati, dan memberikan kebebasan
memilih pada hal yang masih mukhtalaf fihi. Dan dalam bidang hukum
Islam, khususnya, dan pemikiran pada umumnya mestinya sekarang ini
jangan hanya mencukupkan diri pada apa yang telah dihasilkan ulama
klasik sambil berteriak: ma taraka al-awal lil-akhir! (bahwa
semuanya telah dibahas ulama klasik). Tapi harus menggabungkan
antara apa yang pernah diwariskan ulama klasik dengan produk
kontemporer. Dengan begitu kita tak tercerabut dari akar identitas
kita, juga tak kaku-gagap dengan segala hal kebaruan. Konsep ini
berdasarkan pada kenyataan bahwa setting formulasi-formulasi
pemikiran ulama klasik banyak dihasilkan tepat pada saat umat Islam
memegang kendali dunia. Ingat data sejarah mencatat -+ 700 tahun
kita memegang peradaban dunia. Misalnya saja konsep bahwa non muslim
yang tinggal di negara Islam harus mengenakan pakaian tertentu atau
konsep uang yang wajib dizakati adalah uang yang berbentuh dinar dan
dirham saja. Padahal dua jenis uang itu, kesaktiannya telah
digantikan oleh uang kertas, khususnya dollar, dll.

Permasalahan Ulama yang dipilih adalah ulama yang sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah, bukan memakai ulama generasi baru. Jangan salah!! Salafi tidak memandang seorang ulama karena mereka ulama klasik ataupun ulama komtemporer. Tapi melihat ulama dari sisi dalil yang mereka bawa. Siapa bilang kami tidak mengakui keilmuan Yusuf Al Qardhawi? Kita mengakui keilmuan beliau dalam hal zakat. Sekalipun dalam hal-hal tertentu dia ada kekeliruan yang semoga Allah memaafkan beliau. Tuduhan ini tidak berdasar dan terburu-buru.

Realitas saat ini sangat berbeda. Umat Islam sedang terpuruk dalam
banyak hal. Data dilapangan menunjukan 50% umat Islam pendapatan
perkapitanya dibawah 2 dollar. Dengan pendapatan itu jangan berpikir
bisa meningkatan kualitas pendidikan. Membuat anaknya tidak
kelaparan saja sudah sangat layak mendapatkan gelar Bapak Teladan!

Permasalahan umat Islam berpenghasilan kecil, apakah itu menjadi tanggung jawab anda? Tidak, Rejeki ada di tangan Allah. Allah yang memberikan rizqi tersebut, bukan anda. Jadi jangan khawatirkan rizqi itu datang dari mana. Kalau anda berniat membantu maka bantulah jangan banyak bicara. Apakah ada dan pernah anda ketahui seorang yang anda sebut sebagai salafi menggembar-gemborkan kalau dia baru saja menyumbang ke suatu yayasan, atau sebagainya? Berikan contohnya!!

Akibat dari keterpurukan ini maka cermatilah hasil-hasil keputusan
hukum fikih yang ditelorkan baik, oleh Majma’ Buhust Mesir, Bahtsul
Masail PBNU, Majelis tarjih PP. Muhamadiyah, dll seringkali yang
temukan adalah fikih solusi, bukan hukum normal yang berdiri dengan
gagah. Kaidah adh-dharurat tubihu al-mahdhurat, al-amru idza dzaka
it-tasa’, konsep sadz- adz-dzari, dan kaidah-kaidah lain yang
mengisyaratkan kita dalam posisi “kalah hidup” pun menjadi kaidah
yang paling laris. Kenapa? Karena realitas kebijakan hitam-putih
dunia sekarang ini tidak ditangan kita. Mereka yang punya otoritas
kebijakan dunia. Bukan kita! Sekarang pertanyaannya: Sudah siapkah
kita untuk lebih mendahulukan persatuan dan kepentingan umat?
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa! Astagfirullah Li Walakum.
Takaballah Mina wa Minkum Ajma’in. Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Sebenarnya realitas yang terjadi sekarang adalah umat Islam tidak mengenal Islam itu sendiri. Coba anda tanyakan kepada banyak orang Islam, tanya kepada mereka apa definisi Islam itu? Sedikit dari mereka yang akan tahu apa itu Islam. Dan apabila mereka ditanya tentang cara wudu yang benar, cara sholat yang benar. Saya yakin sedikit yang tahu tentang hal ini. Sudahkah mata anda terbuka?

Dan juga ketika anda tanya mereka tentang Allah, di mana Allah, berapa jumlah tangan Allah, tentunya jawaban mereka berbeda-beda, dan sedikit yang menjawab benar. Itu karena mereka sudah pada didikan yang salah. Yaitu sejak kecil diajarkan didikan agama tanpa dalil. Sejak kecil diajarkan harus mengikuti Kyai A karena dia orangnya hebat, bisa terbang, kebal bacok dan sebagainya. Apakah ini sebutan ulama? Seorang kyai mampu membuat hukum yang tidak bersumber dari Al Qur’an dan Hadits. Ini adlah kerusakan yang sangat nyata. Padahal dasar dari kita beribadah, beramal adalah Al Qur’an dan Hadits. Mustahil tanpa keduanya kita bisa mendapatkan segala jawaban atas segala persoalan.

Kalau anda mau membandingkan orang-orang yang peduli terhadap sesama, maka sesungguhnya yang bersifat ingin dilihat itu lebih banyak daripada yang tidak ingin dilihat. Dan bersedekah tanpa diketahui oleh orang lain itu pahalanya lebih besar daripada bersedekah diketahui oleh orang lain. Sebagaimana tangan kanan bersedekah tangan kirinya tidak tahu. Dan ada salah seorang shahabat yang melakukan hal ini. Lalu apakah anda ingin agar kita mengikuti anda dengan lebih peduli terhadap sesama dengan digembar-gemborkan? Saya rasa tidak. Justru anda hanya ingin menguak keburukan orang-orang yang anda bela sendiri.

Wallahu’alam bishawab

3 Responses

  1. Dari Eksblopz:
    “Buku La Tahzan dikecam karena Aidh Al Qarni tidak memberikan sebuah dasar yang syar’i tentang diperbolehkannya tidak memakai cadar. Apalagi sampai bertabaruj di tempat umum, padahal hal tersebut telah dijelaskan harom di kitabulloh. Kalau dasar pemilu jelas keharomannya. Karena pemilu sendiri adalah produk kafir, yang mana produk kafir itu adalah bagian dari kekufuran. Mengikutinya jelas tidak diperbolehkan, namun hal itu jadi boleh apabila manfaatnya lebih besar daripada mudharatnya. Dalam hal ini dharurat. Dan dharurat ini pun didasarkan pada banyak segi pertimbangan.”

    Laa hawlaa walaa Quwwata Illa billah …

    Apa yang antum tulis .. ini menunjukkan qillatul ‘ilmi katsratul kalam …

    Jumhur ulama mengatakan bahwa wajah wanita bukan aurat … dan itu masyhur .. sebagaimana yang dikatakan Syaikh al Albany rahimahullah …, maka apa yang dikatakan oleh Syaikh ‘Aidh al Qarny adalah sesuai dengan pandangan jumhur …

    Tentang pemilu .. emang hanya ulama kalangan salafi saja yang menolaknya, walau syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh al Albany, juga Syaikh bin Bazz menerima dengan syarat …

    Namun, ahlul Ilmi bukan hanya mereka … yang mengkaji dalil beserta kaidah-kaidah bukan ulama kecintaan antum saja .. ahlul Ilmi banyak di dunia ini, mereka tersebar di bebagai negara Islam …

    Syaikh Abdul majid az Zindani, Syaikh Abdul Karim Zaidan, Syaikh Ali al Khafif, Syaikh Abdul Hamid al Kisyk, Syaikh Salman al Audah, Syaikh Safar al hawali, Syaikh Umar Sulaiman al Asyqar, Syaikh Mutawalli Asy Sya’rawi, Syaikh Musthafa az Zarqa, Syaikh Ali Ath Thanthawi, Syaikh Jasim al Muhalhil, Syaikh Awadh al Qarny, Syaikh Abdul Hamid al Bilaly, dll …

    merekalah para ulama dan ahli ilmu yang membolehkan pemilu …, dan tidak serta merta menuduhnyaa sebagai produk kafir Barat …

    Bagi antum yang masih muqallid … ahsan jangan banyak begaya dan betingkah … meberikan no coment masih lebih baik …

    apa yang antum katakan bahwa Al Qaradhawy dalam hal-hal tertentu ada kesalahan …, dalam konteks apa Antum bebicara, mencelakah? semua ulama ada kesalahan, baik itu Syaikh bin Baz , Syaikh al Albany, dan lain-lain … bukan hanya Syaikh al Qaradhawy .. belajarlah bebuat objektif dan adil .. tapi tidak sepantasnya kesalahan itu diumbar berulang-ulang tanpa bosan padahal sudah pernah diberikan bantahan .., syaikh bin baz, syaikh al Albany dll, oun kita tidak mau menyebarkab kesalahan mereka ..

    Saya rasa antum bisa berbuat adil .. semoga

  2. Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin saya ubah dan ralat dari tulisan-tulisan saya. Tunggu saja postingan yang sedang saya susun. Insya Allah secepatnya bisa selesai.

    Intinya adalah, ada beberapa hal yang harus difahami yaitu salafi bukanlah sebuah firqoh, salafi adalah sebuah manhaj dakwah. Ahlussunnah dan salafi adalah 2 kosakata yang sama, baik makna, ataupun definisi.

    barakallahufik atas komentarnya.

  3. Puncak dari ilmu dan amal dalam kehidupan beragama adalah AKHLAK sekali lagi AKHLAK.
    Sebanyak dan sedalam apapun ilmu dan amalnya tapi tidak membuahkan AKHLAQ yang baik hanyalah cermin hati orang yang berilmu dan beramal hanya untuk nafsunya.
    Nafsu untuk dianggap orang berilmu, orang sholeh, ahli surga. Bagaimana bisa dikatakan orang berilmu tapi terhadap ulama2 yg sama2 beragama islam dia selalu menghujat, membid’ahkan amaliyah mereka.
    Salafi hanya mengedapankan dalil biarpun dalil itu benar dari Allah dan Rosulnya tapi hanya dipahami dari sisi akal dan egonya. Ada banyak ayat2 dlm kitabullah dan hadist yg hanya bisa dipahami oleh ulama2 arif billah,
    Tetapi krn kaum salafi hanya mengandalkan akal mereka lalu mereka menolak pendapat2 para ulama arif billah. Berani2nya mereka menghukumi kafir syaikh abdul qodir al jilani. Lucu sekali … Tapi semoga kita semua dapat petunjuk oleh Allah mana yg haq dan batil.
    Sekarang jalani saja kepercayaan masing2. Kedepankan akhlaq untuk ukhuwah islamiyah.

    Yang ana ketahui, salafi tidak mengkafirkan. Entah dari mana antum mendapatkan kabar tersebut. Dan juga saya butuh bukti bahwa para ulama salafi MENGKAFIRKAN Syaikh Abdul Qodir Jaylani. Ini sama sekali tidak lucu, bahkan karena ini tidak lucu saya jadi ingin tahu, salafi seperti apa yang anda maksud?

    Kalau kita dalam beribadah tidak kembali kepada dalil, lalu kepada apa? Apakah pendapat para ulama itu lebih dipegang daripada dalil itu sendiri? Sesungguhnya seluruh perkataan manusia itu bisa tertolak, kecuali perkataan rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam.

    Kalau masalahnya adalah mebid’ahkan, maka setahu saya, salafi tidak pernah membid’ahkan yang sunnah.

    Dakwah itu adalah ilmu sebelum berucap dan berbuat, dan sebelum ilmu adalah adab. Ini adalah kaidah dalam berdakwah. Kalau yang antum temui tidak mengedepankan ini, ana meragukan bahwa dia adalah salafi. Setahu saya, orang-orang awam menganggap bahwa PKS juga salafi, orang-orang HT juga salafi, orang-orang jama’ah tabligh, atau semua yang memakai cadar, berjenggot, kemudian tidak isbal, dan sebagainya dikatakan salafi, bahkan orang yang jidatnya hitam semuanya dikategorikan salafi.

    Anda salah, salafi tidaklah ciri-cirinya seperti itu. Saya sendiri kerja pakai dasi. Saya memang mengikuti sunnah, tidak isbal, berjenggot. Namun saya tidak berlebihan dalam segala hal. Saya juga bergaul dengan banyak orang, ikut juga pertemuan kampung. Adapun yang sunnah-sunnah tetap ditempatkan pada tempatnya, sedangkan yang bid’ah-bid’ah saya memang tidak mengikutinya. Saya seperti kebanyakan orang pada umumnya, bahkan saya juga sholat tidak selalu pakai ghamis. Kalau yang anda maksudkan salafi yang sangat fanatik, yang taqlid, maka saya katakan ia hanya memakai nama salafi saja untuk dirinya.

    Sudah saya jelaskan berulang-ulang, bahwa salafi itu bukan dilihat dari orangnya, dari perawakannya, tapi kepada siapa dia mengikuti. Apabila dia mengikuti Allah dan Rasul-Nya sebagaimana manhaj yang dibawa oleh para shahabat, maka dialah yang pantas disebut sebagai salafi, yang artinya mengikuti para salafush sholeh. Anda harus bertabayun dengan orang-orang yang memang mengikuti jalan ini. Sebab merekalah yang disebut salafi.

    wallahu’alam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: