Dha’if Riyadhus Shalihin bag-3

65. Bab: Mengingat Kematian dan  Mengurangi Angan-angan

15/583. Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda,

بادِرُوا بِالأَعْمَالِ سَبْعاً ، هَلْ تَنْتَظِرُونَ إلاَّ فَقراً مُنسياً ، أَوْ غِنىً مُطغِياً ، أَوْ مَرَضاً مُفسِداً ، أَوْ هَرَماً مُفْنداً ، أَوْ مَوتاً مُجْهزاً ، أَوْ الدَّجَّالَ فَشَرُّ غَائِبٍ يُنْتَظَرُ ، أَوْ السَّاعَةَ فالسَّاعَةُ أدهَى وَأَمَرُّ

Segeralah beramal sebelum datangnya tujuh macam keadaan: apakah yang kamu nantikan selain kemiskinan yang dapat melalaikan, atau kekayaan yang dapat membuat orang sombong, atau suatu penyakit yang dapat merusak badan, atau masa tua yang melelahkan, atau datangnya kematian dengan cepat, atau kedatangan dajjal sejahat-jahat yang dinantikan, atau hari kiamat padahal hari kiamat itu sangat pedih dan dahsyat”. (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan”)

ket: hadits ini telah dibahas dimuka.

66. Bab: Disunnahkan Ziarah Kubur Bagi Laki-laki dan berdoa ketika berziarah

16/589. Ibnu Abbas RA berkata,

مرَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بِقُبورٍ بالمدِينَةِ فَأقْبَلَ عَلَيْهِمْ بِوَجْهِهِ ، فَقَالَ :  السَّلامُ عَلَيْكُمْ يَا أهْلَ القُبُورِ ، يَغْفِرُ اللهُ لَنَا وَلَكُمْ ، أنْتُمْ سَلَفُنَا وَنَحنُ بالأثَرِ )) رواه الترمذي ، وقال :  حديث حسن )) .

“Nabi SAW berjalan di kuburan Madinah, lalu beliau menghadap ke kuburan tersebut sambil berdoa, ‘Selamat sejahtera kepada kalian hai ahli kubur, semoga Allah mengampuni kami dan kalian. Kalian telah mendahului kami dan kami berikutnya’.” (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan”).

Keterangan:

Hadits ini dha’if, karena ada perawi yang bernama Qabus bin Abi Zhabyan. An-Nasa’i berkata, la (Qabus) tidak kuat hafalannya.” Ibnu Hibban berkata, “la buruk hafalannya dan ia sendiri yang meriwayatkannya dari bapaknya, yang tidak mempunyai sandaran untuknya”. Mungkin At-Tirmidzi mengatakan Hadits tersebut hasan karena ada pertimbangan bahwa hadits tersebut ada Syawahidnya (hadits-hadits lain yang semakna, yang memperkuatnya). Makna hadits tersebut shahih, kecuali matan (redaksi) hadits yang berbunyi: فَأقْبَلَ عَلَيْهِمْ بِوَجْهِهِ  (maka Nabi SAW menghadap ke kuburan tersebut) periwayatan matan ini mungkar, karena Qabus meriwayatkan sendiri dari bapaknya. Hadits shahih yang semakna dengan hadits tersebut antara lain:

“Buraidah RA berkata, “Nabi SAW mengajarkan sahabatnya jika pergi ke kuburan supaya membaca, ‘Selamat sejahtera bagimu penduduk kaum mukminin dan muslimin, dan kami insya Allah akan mengikuti kalian. Aku memohon pengampunan kepada Allah untuk kami dan kalian’.” (HR. Muslim).

Lihat Ahkamul-Jana’iz halaman 197 dan Bahjatun-Nazhirin hadits no. 584.

68. Bab: Wara’ (kesederhanaan) dan Menjauhi Syubhat

17/601. Athiyah bin Urwah Assa’di RA berkata, Rasullullah SAW bersabda,

لاَ يَبْلُغُ الْعَبدُ أنْ يَكُونَ منَ المُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لاَ بَأسَ بِهِ ، حَذَراً مِمَّا بِهِ بَأسٌ رواه الترمذي ، وقال :  حديث حسن  .

“‘Seorang hamba tidak dapat mencapai tingkat takwa yang sempurna, hingga ia meninggalkan apa-apa yang tidak dilarang karena khawatir terjerumus ke dalam hal yang dilarang (diharamkan)” (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan”).

Keterangan:

Hadits ini dha’if, karena ada perawi yang bemama Abdullah bin Yazid, ia di-dha’if-kan oleh jumhur ulama hadits. Al Hafizh berkata (di dalam At-Taqrib) “la adalah orang yang lemah dalam periwayatan hadits”. Meskipun hadits ini dha’if tetapi maknanya mempunyai dasar yang menjiwai tentang wara’ (kesederhanaan) dan menjauhi syubhat, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih:

An-nu’man bin Basyir RA mengatakan bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda,

”Sesungguhnya yang halal telah jelas dan yang haram juga telah jelas, dan diantara keduanya ada hal-hal yang menyerupai (meragukan), tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Jadi siapa yang berhati-hati dari syubhat maka akan terjaga agama dan kehormatannya, dan siapa yang terjerumus ke dalam syubhat maka akan terjerumus ke dalam yang haram”. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Lihat kitab Takhrij Al Halal wal Haram hadits no. 178 Bahjatun-Nazhirin hadits no. 596

96. Bab: Mengucapkan Selamat Tinggal dan Pesan Wasiat Kepada Teman yang Akan Bepergian

18/718.Umar bin Khathab berkata,

“Aku minta izin kepada Nabi SAW untuk melakukan umrah, dan beliau mengizinkanku. Kemudian Nabi SAW bersabda, Jangan engkau lupakan kami hai saudaraku dalam doamu” Umar berkata, “Sungguh, itulah suatu ucapan yang menyenangkan bagiku, daripada aku memiliki dunia ini”.

Dalam riwayat lain: Nabi berpesan, “Sertakanlah (sebutkanlah) kami dalam doa-doamu hai saudaraku”. (An-Nawawi berkata, “Hadits shahih Riwayat Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan shahih)

Keterangan: Sudah di bahas di muka.

Bab. 111. Adab Dalam Minum

19/762. Ibnu Abbas RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لاَ تَشْرَبُوا وَاحِداً كَشُرْبِ البَعِيرِ ، وَلَكِنِ اشْرَبُوا مَثْنَى وَثُلاَثَ ، وَسَمُّوا إِذَا أنْتُمْ شَرِبْتُمْ ، وَاحْمَدُوا إِذَا أنْتُمْ رَفَعْتُمْ  رواه الترمذي ، وقال :  حديث حسن .

“Jangan kalian minum sekaligus seperti unta, tetapi minumlah dua atau tiga kali. Bacalah nama Allah jika akan minum dan bacalah alhamdullillah jika selesai minum”. (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, Hadits ini hasan”). ”

Keterangan:

Dalam sanad hadits ini ada perawi yang bemama Yazid bin Sinan Abu Farwah Ar-Rahawi, dia adalah perawi yang dha’if, Syaikhnya (gurunya) juga seseorang yang tidak dikenal. Oleh sebab itu, dia didha’ifkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Al Fath (10/81).

Lihat Takhrij Al Misykah hadits no. 4278 dan Bahjatun-Nazhirin hadits no. 758.

119. Bab: Gambaran Tentang Panjang, Gamis, Kain, dan Ujung Serban

20/794. Asma’ binti Yazid RA berkata,

“Lengan baju Rasulullah SAW panjangnya sampai pergelangan tangan”. (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan”).

Keterangan: telak disebutkan dimuka

21/801. Abu Hurairah RA berkata,


بينما رَجُلٌ يُصَلَّي مسبلٌ إزَارَهُ ، قَالَ لَهُ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( اذْهَبْ فَتَوَضَّأ )) فَذَهَبَ فَتَوَضّأَ ، ثُمَّ جَاءَ ، فَقَالَ : (( اذْهَبْ فَتَوَضّأ )) فَقَالَ لَهُ رجُلٌ : يَا رسولَ اللهِ ، مَا لَكَ أمَرْتَهُ أنْ يَتَوَضّأَ ثُمَّ سَكَتَّ عَنْهُ ؟ قَالَ : (( إنّهُ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ مُسْبِلٌ إزَارَهُ ، وَإنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ صَلاَةَ رَجُلٍ مُسْبلٍ )) رواه أَبُو داود بإسناد صحيح عَلَى شرط مسلم .

“Ketika seseorang sedang shalat dengan kain yang di bawah mata kaki, Rasulullah SAW berkata kepadanya, ‘Wudhulah kamu Sesudah dia berwudhu, Nabi SAW berkata lagi kepadanya, ‘Wudhulah kamu Lalu seseorang bertanya, ‘Ya Rasulullah, mengapa engkau menyuruhnya berwudhu kemudian engkau diamkan dia?’ Nabi SAW berkata, ‘Dia telah shalat dengan kain di bawah mata kaki. Allah tidak menerima shalatnya orang yang berkain di bawah mata kaki”.” (HR. Abu Daud dengan sanad Shahih sesuai dengan syarat Muslim)

Keterangan:

Dalam sanad hadits ini ada perawi yang bernama Abu Ja’far. Al Mundziri berkata, “Dalam sanadnya ada orang yang bernama Abu Ja’far. la orang Madinah, tetapi tidak diketahui namanya”. Ada riwayat yang mengandung sebagian makna hadits tersebut, yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ibnu Mas’ud dengan sanad yang Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Siapa yang menjulurkan kainnya di bawah mata kaki ketika shalat dengan kesombongan, maka tidak ada dari Allah perlindungan (menghalalkan baginya surga dan mengharamkannya dari api neraka)”. (HR. Abu Daud).

Lihat Takhrij Al Misykah hadits no. 761. Dha’if Abu Daud no hadits 96, Bahjatun-Nazhirin no hadits 797, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth, hadits no. 797.

129. Bab: Adab Dalam Majelis dan Kawan

22/834. Hudzaifah bin Al Yaman RA berkata,


أنَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – لَعَنَ مَنْ جَلَسَ وَسَطَ الحَلْقَةِ . رواه أَبُو داود بإسنادٍ حسن .

“Rasulullah SAW melaknat orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis. (Riwayat Abu Daud, dengan sanad yang hasan)

وروى الترمذي عن أبي مِجْلَزٍ : أنَّ رَجُلاً قَعَدَ وَسَطَ حَلْقَةٍ ، فَقَالَ حُذَيْفَةُ : مَلْعُونٌ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – – أَوْ لَعَنَ اللهُ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – – مَنْ جَلَسَ وَسَطَ الحَلْقَةِ . قَالَ الترمذي : حديث حسن صحيح

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Mijlaz, bahwa ada seseorang yang duduk di tengah lingkaran majelis, maka Hudzaifah berkata, “Terlaknatlah lewat lisan Nabi Muhammad SAW” atau “Allah melaknat lewat lisan Nabi Muhammad SAW orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis”. (At-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih”).

Keterangan;

Hadits ini munqati’ (hadits yang di tengah sanadnya gugur seorang perawi), yaitu seorang perawi yang bernama Abu Mijlaz (yaitu Lahiq bin Humaid), ia tidak mendengar dari Hudzaifah, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Ma’in dan selainnya.

Lihat Bahjatun-Nazhirin hadits no. 830 dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 830.

143. Bab: Sunnah Berjabat Tangan, Bermuka Manis Saat Bertemu, dan Mencium Tangan Orang Shalih, Mencium Anak Kecil


قَالَ يَهُودِيٌّ لِصَاحِبِهِ : اذْهَبْ بِنَا إِلَى هَذَا النَّبيِّ ، فَأتَيَا رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – ، فَسَألاهُ عَنْ تِسْعِ آياتٍ بَيِّنَاتٍ … فَذَكَرَ الْحَدِيث إِلَى قَوْلهِ : فقَبَّلا يَدَهُ وَرِجْلَهُ ، وقالا : نَشْهَدُ أنَّكَ نَبِيٌّ . رواه الترمذي وغيره بأسانيد صحيحةٍ .

23/894. Shafwan bin Assal RA berkata,

“Seorang Yahudi berkata kepada temannya, ‘Mari kita pergi menemui Nabi itu’. Kemudian pergilah keduanya kepada Rasulullah SAW dan menanyakan tentang sembilan ayat. Setelah dijawab oleh Nabi SAW, mereka lalu mencium tangan dan kaki Nabi sambil berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar seorang Nabi’.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya dengan sanad shahih).

Keterangan:

Semua sanad hadits tersebut hanya satu dengan melalui seorang perawi yang bernama Abdullah bin Salimah. Aku katakan (Al Albani): bahwa ia di-dha’if-kan oleh semua ahli hadits yang terpercaya, seperti Imam Ahmad, Syafi’i, Imam Al Bukhari, dan yang lain. Juga di-dha’if-kan oleh penyusun kitab ini (kitab Riyadhush-Shalihin) Az-Zaila’i menukil dalam kitab Nash Ar-Rayah (4/258) dari An-Nasa’i, beliau berkata (tentang hadits ini yang diriwayatkan At-Tirmidzi), “Hadits tersebut mungkar”. Al Hafizh berkata (dalam kitab Takhrij Al Ahadits Al Kasyaf), “Hadits ini diriwayatkan oleh Al Hakim, Ahmad, Ishaq, Abu Ya’la, dan Ath-Thabrani melalui seorang perawi yang bernama Abdullah bin Salimah. Ketika usia lanjut hafalannya sangat buruk, sehingga sanad hadits tersebut dha’if.

Lihat Dha’if Abi Daud hadits no. 30, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 889, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 889.

24/895. Ibnu Umar RA bercerita, yang akhirnya ia berkata,


فَدَنَوْنَا مِنَ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَبَّلْنَا يَدَه . رواه أَبُو داود .

“Maka kami mendekat kepada Nabi SAW dan mencium tangannya”. (HR. Abu Daud).

Keterangan:

Dalam sanad hadits ini ada perawi yang bernama Yazid bin Abi Ziyad Al Hasyimi. Al Hafizh berkata, “la adalah orang yang lemah dalam periwayatan hadits, ketika usia lanjut ada perubahan pada dirinya”. Akan tetapi ada beberapa hadits lain yang menjelaskan adanya mencium tangan Rasulullah SAW. Oleh karena itu, maka ditetapkan bolehnya mencium tangan seorang alim atau bertakwa, sepanjang perbuatan tersebut tidak menjadi suatu kebiasaan. Hadits-hadits tersebut seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di Adabul Mufrad no. 975 dan Sunan Abu Daud no. 5225. Kedua hadits tersebut dha’if tetapi ada syahid lainnya seperti di Adabul Mufrad hadits no. 587 dengan sanad hadits maqbul (dapat diterima), sehingga status hadits dengan adanya syahid hadits lainnya menjadi hasan, insya Allah.

Lihat Bahjatun-Nazhirin hadits no. 890 dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 890.

25/896. Aisyah RA berkata,


قَدِمَ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ المَدِينَةَ وَرسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – في بَيتِي ، فَأتَاهُ فَقَرَعَ البَابَ ، فَقَامَ إِلَيْهِ النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – يَجُرُّ ثَوْبَهُ ، فَاعْتَنَقَهُ وَقَبَّلَهُ . رواه الترمذي ، وقال :  حديث حسن

“Zaid bin Haritsah datang ke kota Madinah, sedangkan Rasulullah SAW berada di rumahku. Kemudian Zaid mengetuk pintu, maka Nabi pun segera bangun menyambutnya dengan mengenakan kainnya, kemudian Zaid memeluk dan menciumnya”. (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan”’).

Keterangan:

Dalam sanad hadits ini ada dua orang perawi yang dha’if, yaitu Ibrahim bin Yahya dan bapaknya. Ada juga perawi lainnya yang bernama Muhammad bin Ishaq, seorang yang mudallis yang terkenal (perawi yang menyembunyikan atau menghilangkan aib yang menimbulkan persangkaan bahwa hadits tersebut tidak mempunyai aib, -Peny ) dan kadang kala ia meriwayatkan hadits secara mu’an’an (hadits yang diriwayatkan dengan memakai ‘an )

Lihat Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 516, Al Misykah hadits no. 4682, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 891, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 891.

147. Bab: Apa yang Dibaca oleh Orang yang Putus Asa dalam Kehidupan

26/917. Aisyah RA berkata.


رَأيتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – وَهُوَ بِالمَوْتِ ، عِنْدَهُ قَدَحٌ فِيهِ مَاءٌ ، وَهُوَ يُدْخِلُ يَدَهُ في القَدَحِ ، ثُمَّ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بالماءِ ، ثُمَّ يَقُولُ : (( اللَّهُمَّ أعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ المَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ المَوْتِ )) رواه الترمذي .

“Aku melihat Rasulullah SAW ketika beliau hampir wafat, di sisinya ada sebuah wadah berisi air, kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam wadah itu, kemudian mengusap mukanya dengan air sambil membaca, Ya Allah, berilah pertolongan kepadaku dalam beratnya kematian atau sakaratul-maut’ (HR. At-Tirmidzi).

Keterangan:

Keterangan: Hadits ini dha’if dari segi lafazh, karena ada perawi (dalam sanadnya) yang bernama Musa bin Sarjis, seorang yang majhul (tidak dikenal identitasnya). Lafazh hadits tersebut juga berlawanan dengan matan (redaksi) hadits shahih riwayat Al Bukhari,

“Dan Nabi SAW berkata, “Tidak ada Tuhan selain Allah, sesungguhnya bagi kematian itu adalah sakarat (rasa sakit yang sangat)”. (HR. Al Bukhari).

Lihat Al Misykah hadits no. 1564 Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 164, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 912 dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 912.

159. Bab: Segera Membayar Utang si Mayit

27/951. Hushain bin Wahwah RA berkata.


أنَّ طَلْحَةَ بْنَ البَرَاءِ بن عَازِبٍ رضي الله عنهما مَرِضَ ، فَأتَاهُ النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعُودُهُ ، فَقَالَ : (( إنِّي لاَ أرى طَلْحَةَ إِلاَّ قَدْ حَدَثَ فِيهِ المَوْتُ ، فآذِنُوني بِهِ وَعَجِّلُوا بِهِ ، فَإنَّهُ لاَ يَنْبَغِي لجِيفَةِ مُسْلِمٍ أنْ تُحْبَسَ بَيْنَ ظَهْرَانِيْ أهْلِهِ )) رواه أَبُو داود .

“Ketika Thalhah bin Al Bara’ sedang sakit, Rasulullah SAW datang menjenguknya. Kemudian Nabi SAW bersabda, ‘Aku perhatikan keadaan Thalhah mungkin akan segera wafat. Oleh karena itu, jika ia wafat maka segera beritahu Aku, dan segerakan merawat jenazahnya, karena jenazah seorang muslim tidak layak ditahan di rumah keluarganya’.” (HR. Abu Daud).

Keterangan:

Hadits ini dha’if, karena ada perawi yang bernama Urwah -atau Azrah bin Said Al Anshari dari bapaknya. Keduanya (Urwah dan Said Al Anshari), identitasnya tidak diketahui, sebagaimana ditegaskan oleh Al Hafizh dalam kitabnya At-Taqrib.

Lihat Ahkamul Janaiz (cetakan lama halaman 13 dan cetakan baru halaman 24), Adh-Dha’ifah hadits no. 3232, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 944 dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 944.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: