Dha’if Riyadhus Shalihin bag-4

159. Bab: Segera Membayar Utang si Mayit

27/951. Hushain bin Wahwah RA berkata.


أنَّ طَلْحَةَ بْنَ البَرَاءِ بن عَازِبٍ رضي الله عنهما مَرِضَ ، فَأتَاهُ النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعُودُهُ ، فَقَالَ : (( إنِّي لاَ أرى طَلْحَةَ إِلاَّ قَدْ حَدَثَ فِيهِ المَوْتُ ، فآذِنُوني بِهِ وَعَجِّلُوا بِهِ ، فَإنَّهُ لاَ يَنْبَغِي لجِيفَةِ مُسْلِمٍ أنْ تُحْبَسَ بَيْنَ ظَهْرَانِيْ أهْلِهِ )) رواه أَبُو داود .

“Ketika Thalhah bin Al Bara’ sedang sakit, Rasulullah SAW datang menjenguknya. Kemudian Nabi SAW bersabda, ‘Aku perhatikan keadaan Thalhah mungkin akan segera wafat. Oleh karena itu, jika ia wafat maka segera beritahu Aku, dan segerakan merawat jenazahnya, karena jenazah seorang muslim tidak layak ditahan di rumah keluarganya’.” (HR. Abu Daud).

Keterangan:

Hadits ini dha’if, karena ada perawi yang bernama Urwah -atau Azrah bin Said Al Anshari dari bapaknya. Keduanya (Urwah dan Said Al Anshari), identitasnya tidak diketahui, sebagaimana ditegaskan oleh Al Hafizh dalam kitabnya At-Taqrib.

Lihat Ahkamul Janaiz (cetakan lama halaman 13 dan cetakan baru halaman 24), Adh-Dha’ifah hadits no. 3232, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 944 dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 944.

174. Bab: Apa yang Dibaca Jika Turun atau Berhenti Pada Suatu Tempat

28/990. Ibnu Umar RA berkata,


كَانَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إِذَا سَافَرَ فَأقْبَلَ اللَّيْلُ، قَالَ: (( يَا أرْضُ، رَبِّي وَرَبُّكِ اللهُ ، أعُوذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّكِ وَشَرِّ مَا فِيكِ ، وَشَرِّ مَا خُلِقَ فِيكِ ، وَشَرِّ مَا يَدِبُّ عَلَيْكِ ، وَأعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ أسَدٍ وَأسْوَدٍ ، وَمِنَ الحَيَّةِ وَالعَقْرَبِ ، وَمِنْ سَاكِنِ البَلَدِ ، وَمِنْ وَالِدٍ وَمَا وَلَدَ )) رواه أَبُو داود .

“Rasulullah SAW jika dalam bepergian dan tiba waktu malam, maka beliau membaca, ‘Hai bumi Rabbku dan Rabbmu Allah, aku berlindung kepada Allah dari bahayamu dan dari bahaya yang ada di dalammu, dan bahaya yang dijadikan padamu dan semua bahaya yang melata di atasmu. Aku juga berlindung dari bahaya singa dan manusia, dari ular dan kalajengking, dan dari bahaya jin, Iblis, dan syetan’.” (HR. Abu Daud).

Keterangan:

Hadits ini dha’if, karena ada dua perawi yang bermasalah. Pertama, Az-Zubair bin Al-Walid Asy-Syami. An-Nasa’i berkata, “la tidak aku ketahui kecuali lewat periwayatan hadits ini”. Kedua, Asyuraih bin Ubaid, ia menyendiri dalam periwayatan haditsnya, dan tidak diketahui identitasnya, sebagaimana dijelaskan dalam kitab riwayat kehidupan perawi. Hal yang mengherankan, bagaimana bisa Al Hakim menshahihkannya dan Adz-Dzahabi menguatkan-nya, sedangkan Al Hafizh meng-hasan-kannya.. Disebutkan juga periwayatan hadits lainnya sebagai syahid hadits tersebut, dari hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh Ibnu Sinni di dalam Amalul Yaum wal-Lailah hadits no. 528; hadits itu ada keraguannya, karena matan (redaksi) hadits tersebut redaksinya lain dan sanadnya dha’if, karena ada perawi yang bernama Isa bin Maimun, (perawi dha’if). Lihat Adh-Dha’ifah hadits no. 4837, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 983, Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 983.

180. Bab: Keutamaan Membaca Al Quran

29/1007, Ibnu Abbas RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

إنَّ الَّذِي لَيْسَ في جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ القُرْآنِ كَالبَيْتِ الخَرِبِ )) رواه الترمذي ، وقال :  حديث حسن صحيح )) .

”’Sesungguhnya seseorang yang di dalam dadanya (dirinya) tidak sesuatu dari Al Qur’an, maka ia bagaikan rumah yang rusak dan kosong”. (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan shahih”).

Keterangan:

Hadits ini sanadnya dha’if karena ada perawi yang bernama Qabus bin Abi Zhibyan, orang yang dha’if haditsnya, sebagaimana Al Hafizh men-dhai’fkan-nya di dalam kitab At-Taqrib.

Lihat Al Misykah hadits no. 2135, Bahjatun-Nazhirin Hadits no. 1000; dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1000.

184. Bab: Anjuran Untuk Membaca Beberapa Surah dan Ayat-ayat Khusus

30/1028. Dari Abu Darda RA Rasulullah SAW bersabda,


مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الكَهْفِ ، عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

“Barang siapa menghafal sepuluh ayat dari awal surat Al Kahfi, maka dia akan dilindungi dari Dajjal.

Dalam riwayat yang lain:

مِنْ آخِرِ سُورَةِ الكَهْفِ

”Sepuluh ayat dari akhir surat Kahfi” (Riwayat Muslim).

Keterangan:

Hadits dalam riwayat yang lain مِنْ آخِرِ سُورَةِ الكَهْفِ adalah syadz, karena matan hadits sesuai dengan riwayat yang benar adalah, (Sepuluh ayat dari awal surat Al Kahfi). Syahid hadits ini juga terdapat dalam riwayat Muslim yang diriwayatkan oleh An-Nawas bin Sam’an, yaitu: ”Barangsiapa dari kalian yang mendapatinya (gangguan Dajjal), hendaknya membaca awal surah Al Kahfi”

Imam An-Nawawi juga mencantumkan hadits syahid tersebut nomor 1817.Lihat Silsilah Al Ahadits Ash-Shahihah hadits no. 582 dan hadits no. 1021.

185. Bab: Keutamaan Wudhu

31/1031. Abu Hurairah RA berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,


إنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ القِيَامَةِ غُرَّا مُحَجَّلينَ مِنْ آثَارِ الوُضُوءِ ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ  متفقٌ عَلَيْهِ .

“Sesungguhnya umatku pada hari kiamat akan dipanggil dengan cahaya putih berseri-seri (di wajah dah kaki) karena bekas wudhu, maka barangsiapa yang ingin memperlebar cahayanya, hendaklah ia melakukannya (memperbanyak wudhu)”. (Muttafaq ‘alaih).

Keterangan;

Lafazh hadits فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ adalah mudraj (perkataan perawi yang diselipkan dalam hadits). Syaikh Al Bani menjelaskan bahwa redaksi hadits tersebut merupakan ucapan Abu Hurairah RA, sebagaimana dipertegas oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan perkataannya “Tambahan redaksi hadits tersebut berasal dari ucapan Abu Hurairah, bukan sabda Nabi SAW, sebagaimana dijelaskan oleh kebanyakan ahli hadits lainnya”.

Lihat Silsilah Adha’ifah hadits no. 1030, Al Irwa’ hadits no. 94, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1024, dan Takhrij Riyadhus-Shalihin hadits no. 1024.

32/1039. Dari Umar bin Khaththab RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda,


مَا مِنْكُمْ مِنْ أحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلغُ – أَوْ فَيُسْبِغُ – الوُضُوءَ ، ثُمَّ يقول : أشهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ؛ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ  رواه مسلم .وزاد الترمذي :  اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ ، وَاجْعَلْنِي مِنَ المُتَطَهِّرِينَ .

”Barang siapa di antara kalian berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian berkata, aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah Melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan rasul (utusan)-nya, maka akan dibukakan untuknya pintu surga yang delapan dan dia bisa masuk ke dalamnya lewat pintu mana saja yang dikehendakinya.” (HR .Muslim)

Imam Tirmidzi menambahkan: “Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mensucikan diri.”

Keterangan:

Yang perlu kami jelaskan di sini bukan hadits di atas, tapi tambahan kalimat dalam riwayat lain, yaitu: “wa min ibadika sholihin” (dan jadikanlah aku termasuk golongan hamba-Mu yang shalih…dst.). Tambahan tersebut tidak mempunyai asal-usul sanad dan riwayat yang jelas sebagaimana yang dikatakan Albani. Lihat Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1032.

Catatan: Imam Nawawi tidak menyebutkan riwayat tambahan tersebut dalam kitab Riyadhush-Shalihin, tetapi tambahan tersebut dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.

189. Bab: Keutamaan Berjalan ke Masjid

33/1067. Abu Said Al-Khudri RA mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda,


إذا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ المَسَاجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بالإيمَانِ ، قال اللهُ – عز وجل – : { إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ } الآية  رواه الترمذي، وقال:  حديث حسن

“Jika kalian melihat seorang yang biasa pergi ke masjid, maka saksikanlah oleh kalian bahwa ia orang yang beriman”. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla, ”Sesungguhnya yang memakmurkan masjid, ialah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir”. (HR. At-Tirmidzi. ia berkata, “Hadits ini hasan”).

Keterangan:

Keterangan: Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada seorang perawi yang bernama Darraj Abu As-Samah (periwayatannya dari Abu Al Haitsam dha’if). la juga banyak meriwayatkan hadits-hadits munkar, sebagaimana dikatakan oleh Adz-Dzahabi, “Darraj adalah orang yang banyak meriwayatkan hadits-hadits mungkar”. Akan tetapi hadits tersebut mempunyai atau mengandung makna yang shahih, seperti pada ayat yang difirmankan oleh Allah SWT tadi, (yaitu orang yang memakmurkan masjid Allah dengan berdzikir, shalat, dan membaca Al Qur’an di dalamnya, mereka adalah orang yang betul beriman).

Lihat Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 490, 600, 601, Dha’if Sunan Ibnu Majah hadits no. 172; Dha’if Jami’ Ash-Shaghir hadits no. 509 dan Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1060.

194. Bab: Keutamaan Barisan Pertama Pada Shalat dan Perintah untuk Meluruskan serta Merapatkan Barisan Shalat

34/1101. Aisyah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,


إنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى مَيَامِنِ الصُّفُوفِ  رواه أبُو دَاوُدَ بإسنادٍ عَلَى شرط مسلم ، وفيه رجل مُخْتَلَفٌ في تَوثِيقِهِ

“‘Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya mendoakan orang yang shalat pada barisan sebelah kanan”. (HR. Abu Daud dengan sanad berdasarkan syarat Muslim dan di dalamnya ada perawi yang diperselisihkan tentang keterpercayaannya)

Keterangan:

Matan (redaksi) hadits tersebut syadz (bertentangan dengan riwayat hadits lain yang lebih kuat) Redaksi hadits tersebut (yang diriwayatkan oleh Muawiyah bin Hisyam) bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat, disamping itu ia juga orang yang lemah hafalannya. Al Baihaqi berkata (di dalam As-Sunan Al Kubra 3/103):  “Bila ditinjau dari sisi redaksi (matan) haditsnya, maka Muawiyah meriwayatkannya secara menyendiri, dan saya menilai redaksi hadits tersebut tidak sah dari Nabi SAW.” Sedangkan lafazh matan hadits yang sah dari Nabi SAW yaitu:

”Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya mendoakan orang-orang yang menyambung shaf-shaf pada waktu shalat.'” (Hadits diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al Hakim).

Lihat Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 131 Dha’if Sunan Ibnu Majah hadits no. 209, Dhaiful Al Jami’ Ash-Shaghir hadits no. 1668, dan Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1094.

35/1103. Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,


وَسِّطُوا الإمَامَ ، وَسُدُّوا الخَلَلَ . رواه أبُو دَاوُد

Posisikan imam shalat itu tepat di tengah dan tutuplah celah-celah Shaf…”. (HR. Abu Daud).

Keterangan:

Matan (redaksi) hadits adalah dha’if, karena ada dua orang perawi yang majhul (tidak diketahui identitasnya), yaitu Yahya bin Basyir bin Khallad dan ibunya. Tapi lanjutan redaksi hadits tersebut yang berbunyi, (dan tutuplah celah-celah shaf)”.adalah shahih sebagaimana ada syahid riwayat hadits yang lain dari Ibnu Umar, yaitu pada hadits no. 1098 (kitab Riyadhush-Shalihin).

Lihat Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 133, Dhaiful Jami’ Shaghir hadits no. 6122, Bahjatun-Nazhirin no hadits 1096, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1096.

200. Bab: Shalat Sunah Sebelum Ashar 36/1128.

36/1128. Ali bin Abi Thalib RA berkala,


أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُصَلِّي قَبلَ العَصْرِ رَكْعَتَيْنِ . رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ بإسناد صحيح

“Nabi SAW shalat sunah sebelum Ashar sebanyak dua rakaat”. (HR. Riwayat Abu Daud dengan sanad yang shahih).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut hasan, tetapi matan (redaksi) haditsnya adalah syadz (menyalahi riwayat yang lebih kuat). Riwayat hadits yang lebih kuat adalah dengan lafazh (empat rakaat), sesuai dengan perbuatan dan ucapan Nabi SAW.

Lihat Dha’if Sunan Abi Daud hadits no. 276, ‘Dhaiful Jami’ Ash-Shaghir hadits no. 4568; Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1121 dan Takhrij hadits no. 1121

210. Bab: Keutamaan Hari Jum’at, Mandi dan Memakai Wewangian

37/1164. Abu Burdah bin Abi Musa Al Asy’ary RA berkata.


قَالَ عبد الله بن عمر رضي الله عنهما : أسَمِعْتَ أبَاكَ يُحَدِّثُ عَنْ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ، في شأنِ سَاعَةِ الجُمُعَةِ ؟ قَالَ : قُلْتُ : نَعَمْ ، سَمِعْتُهُ يَقُولُ : سَمِعْتُ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ، يقول : (( هِيَ مَا بَيْنَ أنْ يَجْلِسَ الإمَامُ إِلَى أنْ تُقْضَى الصَّلاةُ )) رواه مسلم

“Abdullah bin Umar RA bertanya kepadaku, ‘Apakah engkau pernah mendengar bapakmu bercerita tentang saat (waktu) yang utama pada hari Jum’at?.’ Abu Burdah, menjawab, “Ya, aku mendengar bapakku berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Saat itu adalah diantara duduknya imam di atas mimbar hingga dilaksanakannya shalat’ (HR. Muslim)

Keterangan:

Hadits tersebut dha’if marfu’, yaitu suatu hadits yang sanadnya bersambung sampai kepada Nabi SAW, sedangkan hadits tersebut hanya sampai kepada Abu Burdah. Jadi hadits tersebut derajatnya mauquf yaitu riwayat hadits/berita yang hanya disandarkan kepada sahabat, sebagaimana dipertegas oleh Al Imam Ad-Daruquthni di Al Fath (2/351). Lihat Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 229, Dha’if Al Jami hadits no. 6103, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1157, Takhrij Riyadhus-Shalihin  hadits no. 1157.

211. Bab: Disunnahkan Sujud Syukur Jika Mendapat Kenikmatan

38/1166. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata,


خَرَجْنَا مَعَ رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – مِنْ مَكّةَ نُريدُ المَدِينَةَ ، فَلَمَّا كُنَّا قَرِيباً مِنْ عَزْوَرَاءَ نَزَلَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَدَعَا الله سَاعَةً ، ثُمَّ خَرَّ سَاجِداً ، فَمَكَثَ طَويلاً ، ثُمَّ قَامَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ سَاعَةً ، ثُمَّ خَرَّ سَاجِداً – فَعَلَهُ ثَلاثَاً – وقال : (( إنِّي سَألتُ رَبِّي ، وَشَفَعْتُ لأُمَّتِي ، فَأعْطَانِي ثُلُثَ أُمَّتِي ، فَخَرَرْتُ سَاجِداً لِرَبِّي شُكْراً ، ثُمَّ رَفَعْتُ رَأسِي ، فَسَألْتُ رَبِّي لأُمَّتِي ، فَأعْطَانِي ثُلُثَ أُمَّتِي، فَخَرَرْتُ سَاجِداً لِرَبِّي شُكْراً ، ثُمَّ رَفَعْتُ رَأسِي ، فَسَألْتُ رَبِّي لأُمَّتِي ، فَأعْطَانِي الثُّلثَ الآخَرَ ، فَخَرَرْتُ سَاجِداً لِرَبِّي )) رواه أَبُو داود .

“Kami keluar bersama Rasulullah SAW dari kota Makkah menuju Madinah. Ketika kami mendekati Azwara’, tiba-tiba Rasulullah SAW turun dari kendaraannya kemudian mengangkat kedua tangannya (berdoa sejenak) lalu sujud. Kemudian beliau bangun sambil mengangkat kedua tangannya (berdoa), dan sujud kembali. (diulanginya sampai tiga kali). Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya aku minta kepada Tuhanku supaya diizinkan memberikan syafaat bagi umatku. Lalu Tuhan memperkenankan sepertiga dari umatku, sehingga aku sujud syukur kepada Tuhanku, Kemudian aku mengangkat kepala dan minta pula kepada Tuhanku, dan diperkenankan untuk sepertiga lainnya, sehingga aku sujud syukur kepada Tuhanku. Kemudian aku mengangkat kepala lagi dan berdoa minta untuk umatku, dan diperkenankan untuk sepertiga yang akhir, sehingga aku sujud syukur kepada Tuhanku’.” (HR. Abu Daud).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada dua perawi, yaitu Musa bin Ya’qub Az-Zamai (orang yang buruk hafalannya) dan Yahya bin Al Hasan bin Utsman (gurunya), yaitu orang yang majhul, (tidak diketahui identitasnya). Walaupun demikian, sujud syukur ketika mendapatkan suatu nikmat atau terhindar musibah merupakan suatu sunah Nabi SAW dan kebiasaan para salafush-shalih, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah, dengan sanad yang hasan:

“Jika Nabi SAW mendapat kabar yang menggembirakan, maka beliau langsung sujud”. (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Begitu pula sujud syukurnya Ka’ab bin Malik pada zaman Nabi SAW, ketika ia diberi kabar bahwa taubatnya diterima oleh Allah SWT. Kejadian tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Lihat Silsilah Adh-Dha’ifah hadits no. 3229, Al Irwa’ hadits no. 467; Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 590; Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1159 Takhrij Riyadhus hadits no. 1159.

222. Bab: Keutamaan Segera Berbuka Puasa

39/1243. Abu Hurairah berkata,


قَالَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – : (( قَالَ اللهُ – عز وجل – : أحَبُّ عِبَادِي إلَيَّ أعْجَلُهُمْ فِطْراً )) رواه الترمذي ، وقال :  حديث حسن

Rasulullah SAW bersabda,  Allah SWT berfirman, ”Hamba-Ku yang lebih Aku sukai ialah yang menyegerakan berbuka (pada waktunya) (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan’).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada seorang perawi yang bernama Qurrah bin Abdurrahman, dia buruk hafalannya. Ibnu Hibban menguatkan Qurrah, tetapi jumhur ahli hadits melemahkannya, sehingga pendapat yang diterima adalah pendapat jumhur. Hadits tersebut bisa dipakai sebagai syahid untuk hadits-hadits lain yang semakna dengannya. Dengan demikian penghasanan hadits tersebut (oleh At-Tirmidzi) tidak dapat dikatakan sebagai hadits yang berderajat hasan. Wallahu a’lam. Lihat Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1235 dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1235.

40/1246. Salman bin Amir RA dari Nabi SAW, beliau bersabda,


إِذَا أفْطَرَ أحَدُكُمْ ، فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ ، فَإنْ لَمْ يَجِدْ ، فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ ؛ فإنَّهُ طَهُورٌ  رواه أَبُو داود والترمذي ، وقال :  حديث حسن

Jika Salah seorang kalian berbuka, hendaklah berbuka dengan kurma, karena kurma itu berkah. Kalau tidak ada kurma maka dengan air, karena ia suci”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dia berkata: “Hadits ini hasan'”)

Keterangan: Sudah dibahas di muka.

225. Bab: Keutamaan Puasa Pada Bulan Muharram dan Sya’ban

41/1256. Dari Mujibah Al Bahiliyyah dari bapaknya atau pamannya, dia berkata


أنه أتى رسولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – ، ثُمَّ انطَلَقَ فَأَتَاهُ بَعْدَ سَنَةٍ – وَقَدْ تَغَيَّرَتْ حَالُهُ وَهيئَتُهُ – فَقَالَ : يَا رسولَ الله ، أمَا تَعْرِفُنِي ؟ قَالَ : (( وَمَنْ أنْتَ )) ؟ قَالَ : أَنَا الباهِليُّ الَّذِي جِئْتُك عام الأَوَّلِ . قَالَ : (( فَمَا غَيَّرَكَ ، وَقَدْ كُنْتَ حَسَنَ الهَيْئَةِ ! )) قَالَ : مَا أكَلْتُ طَعَاماً مُنْذُ فَارقتُكَ إِلاَّ بِلَيْلٍ . فَقَالَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – : (( عَذَّبْتَ نَفْسَكَ ! )) ثُمَّ قَالَ : (( صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ ، وَيَوماً مِنْ كُلِّ شَهْرٍ )) قَالَ : زِدْنِي ، فَإنَّ بِي قُوَّةً ، قَالَ : (( صُمْ يَوْمَيْن )) قَالَ : زِدْنِي ، قَالَ : (( صُمْ ثَلاثَةَ أيَّامٍ )) قَالَ : زِدْنِي ، قَالَ : (( صُمْ مِنَ الحُرُم وَاتركْ ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتركْ ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتركْ )) وقال بأصابِعه الثَّلاثِ فَضَمَّها ، ثُمَّ أرْسَلَهَا . رواه أَبُو داود .وَ(( شَهْر الصَّبر )) : رَمَضَان)) .

“la datang kepada Rasulullah SAW, kemudian setelah satu tahun kembali lagi kepada Rasulullah SAW dalam keadaan yang sangat berubah bentuk, sehingga asing bagi Rasulullah SAW, dia berkata, ‘Ya Rasulullah, apakah engkau tidak mengenalku?’ Nabi berkata, ‘Siapa engkau la menjawab ‘Aku Al Bahili, yang datang kepadamu tahun lalu.’ Nabi bertanya, ‘Mengapa engkau sangat berubah demikian rupa, sedangkan dulu engkau sangat tampan? la berkata, ‘Sejak aku berpisah padamu, aku tidak makan kecuali hanya waktu malam’. Rasulullah SAW berkata, ‘Puasalah engkau pada bulan Ramadhan dan satu hari pada tiap bulan la berkata, ‘Tambahkan lagi untukku, karena aku masih kuat’. Nabi bersabda, ‘Puasalah tiap bulan dua hari. la berkata, Tambah lagi’. Nabi SAW bersabda, ‘Puasalah tiga hari tiap bulan la berkata, ‘Tambahkan lagi untukku’. Nabi SAW bersabda, ‘Puasalah pada bulan-bulan Al Hurum (bulan Rajah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, -Penerj.) dan hentikanlah. Puasalah pada bulan-bulan Al Hurum dan hentikanlah. Puasalah pada bulan bulan Al Hurum dan tinggalkanlah. Rasullullah berkata sambil menunjukkan jari yang tiga (dibuka dan ditutupnya).” (HR. Abu Dawud).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada perawi yang bernama Mujibah Al Bahiliyyah, orang yang majhul (tidak diketahui identitasnya), sehingga hadits tersebut tidak dapat dipakai sebagai hujjah. Lihat catatan Al Albani pada At-Ta’liq Ar-Raghib ala At-Targhib wa At-Tarhib (2/82); Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1248, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1248.

231. Bab: Keutamaan Orang yang Memberi Buka Puasa pada Orang Berpuasa dan Doa Orang yang Berbuka di Rumah Orang Lain

42/1274. Dari Ummu Umarah Al Anshariyah RA


أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ عَلَيْهَا ، فَقَدَّمَتْ إِلَيْهِ طَعَاماً ، فَقَالَ : (( كُلِي )) فَقَالَتْ : إنِّي صَائِمَةٌ ، فَقَالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( إنَّ الصَائِمَ تُصَلِّي عَلَيْهِ المَلاَئِكَةُ إِذَا أُكِلَ عِنْدَهُ حَتَّى يَفْرغُوا )) وَرُبَّمَا قَالَ : حَتَّى يَشْبَعُوا )) رواه الترمذي ، وقال :  حديث حسن ))

“Nabi SAW datang ke rumahnya, maka dia menghidangkan makanan kepada beliau . Nabi berkata, ‘Makanlah engkau’. Ummu Umarah menjawab, ‘Aku sedang puasa’. Lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘ Sesungguhnya orang yang puasa akan tetap didoakan oleh para malaikat jika ada orang yang makan di tempatnya hingga ia selesai makan; atau sampai orang itu kenyang’.” (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan”).

“Nabi SAW datang ke rumahnya, maka dia menghidangkan makanan kepada beliau . Nabi berkata, ‘Makanlah engkau’. Ummu Umarah menjawab, ‘Aku sedang puasa’. Lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘ Sesungguhnya orang yang puasa akan tetap didoakan oleh para malaikat jika ada orang yang makan di tempatnya hingga ia selesai makan; atau sampai orang itu kenyang’.” (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan”).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada seorang perawi (yang bernama Laila), yang majhul (tidak diketahui identitasnya). Meskipun demikian, ada suatu riwayat dengan sanad yang shahih dengan syarat Bukhari-Muslim dari Abdullah bin Amr. Hadits tersebut mauquf, tetapi mempunyai hukum marfu’ sampai kepada Nabi SAW, yaitu:

‘Orang yang sedang puasa tetap akan didoakan oleh para malaikat, selagi ada orang yang makan di sisinya.” (Riwayat Ibnu Abu Syaibah dan Abdurrazak). Lihat Silsilah Adh-Dha’ifah hadits no. 1332, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1266 dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1266.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: