Dha’if Riyadhus Shalihin bag-5

234. Bab: Kewajiban Jihad

43/1343. Uqbah bin Amir Al Juhani RA berkata,

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُدْخِلُ بِالسَّهْمِ الْوَاحِدِ ثَلَاثَةَ نَفَرٍ الْجَنَّةَ صَانِعَهُ يَحْتَسِبُ فِي صَنْعَتِهِ الْخَيْرَ وَالرَّامِيَ بِهِ وَمُنْبِلَهُ وَارْمُوا وَارْكَبُوا وَأَنْ تَرْمُوا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوا لَيْسَ مِنْ اللَّهْوِ إِلَّا ثَلَاثٌ تَأْدِيبُ الرَّجُلِ فَرَسَهُ وَمُلَاعَبَتُهُ أَهْلَهُ وَرَمْيُهُ بِقَوْسِهِ وَنَبْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ الرَّمْيَ بَعْدَ مَا عَلِمَهُ رَغْبَةً عَنْهُ فَإِنَّهَا نِعْمَةٌ تَرَكَهَا أَوْ قَالَ كَفَرَهَا

“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah akan memasukkan tiga orang ke dalam surga karena satu panah. Pembuatnya dengan niat kebaikan dalam membuatnya; orang yang memberikan anak panah kepada orang yang melemparkannya, dan orang yang melemparkannya. Untuk itu berlatihlah melempar dan menunggang. Menurutku berlatih melempar akan lebih baik daripada hanya menunggang. Siapa yang meninggalkan kepandaian melempar setelah ia lihai karena rasa jemu, berarti ia meninggalkan suatu nikmat atau mengabaikannya’ (Riwayat Abu Daud).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada dua illat (cacat). Pertama, dalam sanadnya ada dua orang perawi yang majhul (tidak diketahui identitasnya), yaitu Khalid bin Zaid dan Abdullah bin Al Azraq. Kedua, dalam sanadnya idhtirab yaitu yang berlawanan cara-cara periwayatannya, menyelisihi periwayatan Syaikh Abu Salam, sebagaimana dijelaskan oleh Al Hafizh Al Iraqi di dalam Takhrij Al Ihya’. Lihat Takhrij Albani di dalam Takhrij Fiqhus-Sirah (halaman 225), Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1335, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1335.

241. Bab: Keutamaan Menuntut Ilmu dan Mengajarkannya Karena Allah SWT

44/1393. Anas RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ خَرَجَ في طَلَبِ العِلْمِ فَهُوَ في سَبيلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ )). رواه الترمذي ، وقال:حديث حسن ))

“”Barangsiapa pergi untuk menuntut ilmu, maka ia berjuang di jalan Allah (sabilillah) hingga ia kembali. (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan”).

Keterangan

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada perawi yang bernama Abu Ja’far Ar-Razi, orang yang buruk hafalannya. Walaupun demikian, hadits tersebut mempunyai syahid yang semakna dengan sanad yang shahih, sebagaimana yang terdapat di dalam Sunan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda,

‘Siapa yang mendatangi masjidku ini, tidak lain kecuali hanya diniatkan untuk suatu kebaikan, untuk belajar, atau untuk mengajarkannya, maka ia menempati kedudukan seperti orang yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Ibnu Majah).

Lihat Silsilah Adh-Dha’ifah hadits no. 2037, Takhrij Al Misykah hadits no. 220, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1385, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1385.

45/1394. Dari Abu Said Al Khudri RA, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda,

لَنْ يَشْبَعَ مُؤْمِنٌ مِنْ خَيْرٍ حَتَّى يَكُونَ مُنْتَهَاهُ الجَنَّةَ )). رواه الترمذي، وقال: حديث حسن ))

Seorang mukmin tidak akan puas berbuat kebaikan hingga ia sampai ke puncaknya yaitu ke surga”. (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan”).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada seorang perawi bernama Darraj Abu As-Samah, disebabkan periwayatannya dari Abu Al Haitsam adalah dha’if (hal ini sudah dijelaskan pada hadits no. 1067). Untuk mencukupi makna hadits tersebut, maka ada sabda Nabi SAW yang shahih dengan berbagai jalur periwayatan dan syahidnya, yaitu:

”Ada dua kegemaran/kerakusan seseorang yang tidak akan pernah membuat puas, yaitu gemar (rakus) mencari llmu dan gemar (rakus) dalam hal mencari dunia”.

Lihat Takhrij Al Misykah hadits no. 222, Bahjatun-Nazhirin no hadits 1386, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits No. 1386.

242. Bab: Kewajiban Syukur Kepada  Allah SWT

46/1402. Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,

(( كُلُّ أمْرٍ ذِي بَالٍ لاَ يُبْدأُ فِيهِ بِالحَمْدُ للهِ فَهُوَ أقْطَعُ )) . حديث حسن ، رواه أَبُو داود وغيره

Tiap-tiap perkara penting yang tidak dimulai dengan alhamdulillah, maka terputuslah ia (berkah atau rahmatnya -Penerj)”. (Hadits hasan, riwayat Abu Daud dan selainnya).

Keterangan;

Sanad hadits tersebut dha’if, karena tiga hal yaitu:

  1. Dalam sanadnya ada perawi yang bernama Qurrah bin Abdurrahman, orang yang tidak kuat dalam periwayatan hadits, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad, “Hadits yang diriwayatkannya mungkar sekali” Dikatakan juga oleh Ibnu Ma’in, “la orang yang dha’if dalam periwayatan”
  2. Qurrah dalam meriwayatkan hadits tersebut menyendiri dalam periwayatannya dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dan dari Abu Hurairah. ‘Kedua penjelasan tersebut ditegaskan oleh Ad-Daruquthni (1/229).
  3. Sebab kedha’ifan lainnya adalah matan (redaksi) hadits tersebut Mudhtharib yaitu kadang datang dengan lafazh (terputuslah ia) atau lafazh iqto’a atau abtaru atau ajdamu, atau alhamdu  atau lafazh bidzikrillah.

Ada riwayat hadits lainnya dengan matan yang berlainan, yaitu:

“Tiap-tiap perkara penting yang tidak dimulai dengan membaca Bismilahirrahmannirrahim maka terputuslah ia (dari berkahnya). (Hadits tersebut dinisbatkan periwayatannya oleh As-Suyuti kepada Ar-Rahawi (4/147), dan dikeluarkan oleh Al Khatib di dalam Al Jami’ (2/69).

Hadits tersebut diperselisihkan oleh Kebanyakan ulama. Ada sebagian yang menshahihkannya seperti Imam An-Nawawi, dan ada sebagian yang mendha’iflkannya (syarah Tsalatsatul usul oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, hal 17). Namun Albani mendha’ifkannya, dengan memasukkannya ke dalam Dha’if Al Jami’ Ash-Shaghir hadits no. 4217.

Lihat Dha’if Al Jami Ash-Shaghir hadits no. 4216, Al Irwa’ hadits no. 1-2, Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 1031, Dha’if Sunan Ibnu Majah hadits no. 415, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1394, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1394.

244. Bab: Anjuran dan Keutamaan Berdzikir

47/1450. Saad bin Abi Waqqash RA datang bersama Rasulullah SAW kepada seorang perempuan yang kedua tangannya memegang biji-biji kurma atau batu-batu kerikil yang digunakan untuk menghitung bacaan tasbihnya, maka Rasulullah SAW bersabda,


(( أُخْبِرُكِ بما هُوَ أيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا – أَوْ أفْضَلُ – )) فَقَالَ : (( سُبْحَانَ الله عَدَدَ مَا خَلَقَ في السَّمَاءِ ، وسُبْحَانَ الله عَدَدَ مَا خَلَقَ في الأرْضِ ، وسُبْحَانَ الله عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ ، وسُبحَانَ الله عَدَدَ مَا هز خَالِقٌ ، واللهُ أكْبَرُ مِثْلَ ذَلِكَ ، والحَمْدُ للهِ مِثْلَ ذَلِكَ ؛ وَلاَ إلَهَ إِلاَّ اللهُ مِثْلَ ذَلِكَ ، وَلاَ حَولَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ مِثْلَ ذَلِكَ )) . رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن )) .

‘Maukah aku beritahu yang lebih ringan dan lebih utama daripada itu? Yaitu membaca ‘Subhanallaahi adada maa khalaqa fissama’, wasubhanallaahi adada maa khalaqa fil’ardli, wa subhanallaahi adada maa baina dzalika, wa subhanallahi adada maa huwa khaaliqun, wallaahu akbar mitsla dzaalika, walhamdulillaah mitsla dzaalika, wala ilaha illallahu mitsla dzaalika wala haula walaa guwwata illaa billaahi mitsla dzaalika’.'” (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, Hadits Hasan).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada seorang perawi yang bernama Khuzaimah, orang yang majhul (tidak diketahui identitasnya) sebagaimana dikatakan oleh Adz-Dzahabi di dalam Al Mizan. Begitu pula yang dikatakan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani (di dalam At-Taqrib), “Sesungguhnya dia (Khuzaimah) tidak diketahui identitasnya, dan perawi lainnya yaitu Said bin Abu Hilal, disamping dia tsiqah, tetapi sebagaimana dikabarkan oleh As-Saji dari Ahmad, (bahwa ia orang yang kacau pikirannya), maka bagaimana bisa hadits tersebut dikatakan shahih atau hasan?” Untuk diketahui, bahwa asal hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih nya (hadits no. 4905 / kitab Riyadhush-Shalihin hadits no. 1441) dari Juwairiyah RA, tanpa menyebutkan lafazh (biji-biji kurma dan batu-batu kerikil).

Lihat Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 323, Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 717, Silsilah Adha’ifah hadits no. 83 (hal 114), Al Misykah no hadits 2311, Dhaiful Jami’ no hadits 2155, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1442, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1442.

250. Bab: Tentang Doa-doa

48/1495. Imran bin Al Hushain RA berkata,

أنَّ النبيّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَّمَ أبَاهُ حُصَيْناً كَلِمَتَيْنِ يَدْعُو بهما : (( اللَّهُمَّ ألْهِمْني رُشْدِي ، وأعِذْنِي مِنْ شَرِّ نَفْسي )) . رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن ))

“Nabi SAW mengajarkan bapaknya Al Hushain dua kalimat untuk berdoa dengannya, ‘Allahumma alhimni rusydi wa aidzni min syarri nafsi'”. (Ya Allah, ilhamkan kepadaku hidayahku dan lindungilah dari kejahatan diriku). (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan”).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, bahkan At-Tirmidzi sendiri mendha’ifkannya hadits tersebut pada kesempatan lainnya, dengan mengatakan, Hadits gharib, yaitu dha ‘if karena ada perawi yang bernama Syabib bin Syaibah, orang yang jujur tapi banyak kebimbangan pada dirinya (wahm) dalam periwayatan suatu hadits, begitu ada perawi lainnya pada hadits tersebut (yaitu Al Hasan), ia melakukan tadlis (hadits yang disembunyikan cacat sanadnya, sehingga seakan-akan tidak ada aib di dalamnya. -Peny.) Ia juga meriwayatkan hadits tersebut dengan mu’an’an (hadits yang disanadkan dengan kata ‘an Namun ada riwayat hadits dengan jalur lain yang sanadnya shahih menurut syarat Bukhari-Muslim, yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Nabi SAW mengajarkan doa:

Ya Allah, jauhkan kejahatan pada diriku dan tetapkan bagiku segala kebenaran untuk urusanku”. (HR. Imam Ahmad)

Begitu pula hadits dengan jalur lain yang sanadnya Jayyid, Nabi SAW mengajarkan doa:

“Ya Allah, ampunilah aku akan dosaku, kesalahanku, dan perbuatanku yang disengaja. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon petunjuk-Mu, agar segala kebenaran ada pada urusanku, dan aku mohon perlindungan-Mu dari segala kejahatan yang ada pada diriku”. (HR. Imam Ahmad).

Lihat Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 690, Dha’if Al Jami’ Ash-Shaghir hadits no. 4098, Al Misykah hadits no. 2476, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1487, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1487.

49/1498. Abu Darda’ RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

كَانَ مِنْ دُعاءِدَاوُدَ : اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ حُبَّكَ ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ ، وَالعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أحَبَّ إلَيَّ مِنْ نَفْسِي ، وأهْلِي ، وَمِنَ الماءِ البارِدِ )) . رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن ))

“‘Diantara doa nabi Daud AS adalah, ‘Allahumma ini asaluka hubbaka, wahubba man yuhibbuka, wa ‘amal al-ladu yuballighuni hubbaka. Allahumaj’al hubbaka ahabba ilayya min nafsi wa ahli wa minal ma il baridi.(Ya Allah, aku mohon kepada-Mu untuk dapat mencintai-Mu,, dan cinta pada siapa yang cinta pada-Mu, dan amal perbuatan yang dapat menyampaikan agar aku mencintai-Mu. Ya Allah, jadikanlah cintaku kepada-Mu melebihi cintaku pada diriku sendiri dan keluargaku, dan pada air yang dingin (simbol kecintaan duniawi, -peny)’.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan”).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada seorang perawi yang bernama Abdullah bin Rabi’ah bin Yazid, orang yang tidak diketahui identitasnya (majhul), sebagaimana ditegaskan oleh Ai Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani di dalam At-Taqrib.

Lihat Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 691, Dha’if Al Jami’ Ash-Shaghir hadits no. 4153, Bahjatun-Nazhirin hadits no 1490, dan Takhrij Riyadhus-shalihin hadits no.1490.

50/1500. Abu Umamah RA berkata,


دعا رسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – ، بدُعاءٍ كَثيرٍ ، لَمْ نَحْفَظْ مِنْهُ شَيْئاً ؛ قُلْنَا : يَا رسول الله ، دَعَوْتَ بِدُعاءٍ كَثِيرٍ لَمْ نَحْفَظْ مِنْهُ شَيْئاً ، فَقَالَ : (( ألا أدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَجْمَعُ ذَلِكَ كُلَّهُ ؟ تقول : اللَّهُمَّ إنِّي أسَألُكَ مِنْ خَيْر مَا سَأَلَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ محمَّدٌ – صلى الله عليه وسلم – ؛ وأعوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا استَعَاذَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ – صلى الله عليه وسلم -، وأنتَ المُسْتَعانُ ، وَعَليْكَ البَلاَغُ ، وَلاَ حَولَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ باللهِ )) . رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن ))

“Rasulullah SAW berdoa dengan doa yang banyak, sehingga kami tidak dapat menghafalnya, maka kami berkata, ‘Ya Rasulullah, engkau berdoa dengan doa yang sangat banyak, sehingga kami tidak dapat kami menghafal sedikitpun’. Lalu Nabi SAW bersabda, ‘Maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu doa yang dapat menghimpun (mencakup) semua itu? yaitu membaca: Allahumma inni as aluka min khari maa saalaka minhti nabiyyuka Muhammad Saw wa audzu bika min syarri mas ta’adzaka minhu nabiyyuka Muhammad SAW wa antal musta’an wa’alaikal balaghu walaa haula walaa guwwata illaa billaah. (Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan yang diminta oleh Nabi Muhammad SAW dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang Nabi Muhammad SAW minta perlindungan-Mu daripadanya. Engkaulah tempat meminta pertolongan dan Engkau pula yang menyampaikan. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah)” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “‘Hadits ini hasan’).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada seorang perawi bernama Laits bin Abu Salim, orang yang hafalannya buruk dan sering melakukan tadlis (hadits yang disembunyikan kecacatan sanadnya, sehingga seakan-akan tidak ada aib di dalamnya. -peny).

Namun ada riwayat hadits lain yang shahih, yaitu riwayat Ibnu Majah dan Imam Ahmad dari Aisyah RA, Nabi SAW mengajarkan doa:

Ya Allah aku mohon kepada-Mu dari semua kebaikan yang segera maupun yang tertunda, dari yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dari kebaikan yang diminta oleh hamba-Mu dan Nabi-Mu. Aku juga berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang Hamba-Mu dan Nabi-Mu minta perlindungan-Mu daripadanya. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu untuk masuk surga dan dari apa-apa yang dapat mendekatkannya, baik dari suatu ucapan maupun perbuatan. Aku berlindung kepada-Mu dari api neraka dan apa-apa yang mendekatkannya, baik dari suatu ucapan maupun perbuatan. Aku juga mohon kepada-Mu agar Engkau jadikan setiap ketetapan yang telah Engkau tetapkan itu baik untukku.’ (HR. oleh Ibnu Majah dan Imam Ahmad).

Riwayat hadits tersebut shahih, sebagaimana terdapat di dalam Silsilah Al Ahadits Ash-Shahihah hadits no. 1542 dan Shahih Jami’ Ash-Shaghir hadits no. 1276.

Lihat Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 703, Silsilah Al Ahadits Adh-Dha’ifah hadits no. 3356. Dha’if Al Jami’ Ash-Shaghir hadits no. 2165, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1492, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1492.

51/1501. Ibnu Mas’ud berkata,


كَانَ من دعاءِ رسُولِ الله – صلى الله عليه وسلم – : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، والسَّلامَةَ مِنْ كُلِّ إثْمٍ، والغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ ، والفَوْزَ بالجَنَّةِ ، والنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ )) . رواه الحاكم أَبُو عبد الله ، وقال : (( حديث صحيح عَلَى شرط مسلمٍ ))

Diantara doa Rasulullah SAW adalah: ‘Allahumma inni as-aluka mujibati rahmatika wa aza-ima maghfiratika wassalaamata min kulli itsmin wal ghaniimata min kulli birrin walfauza biljannati wan-najaata minannaari. (Ya Allah, aku mohon kepada-Mu yang dapat mendatangkan rahmat-Mu, dan yang menentukan untuk mendapat ampunan-Mu, dan keselamatan dari semua dosa dan mencapai segala kebaikan, dan mendapat surga serta selamat dari api neraka)’.” (HR. Al Hakim, ia berkata, “Hadits shahih menurut syarat Muslim”).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada perawi yang bernama Humaid bin Al A’raj, sebagaimana dikatakan oleh Adz-Dzahabi (di dalam kitab AI Mizan) “Dia orang yang matruk (hadits yang diriwayatkan oleh orang yang dituduh berdusta dan hadits serupa tidak diriwayatkan oleh perawi lain yang terpercaya.-peny)”. Sedangkan Imam Ahmad berkata, “Dia orang yang dha’if”, Abu Zur’ah berkata, “Dia adalah orang yang lemah.” Ad-Daruquthni berkata, “Dia orang yang matruk”

Lihat Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah hadits no. 2908 Dha’if Al Jami’ hadits no. 1184, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1493, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1493.

254. Bab: Larangan Ghibah (Menggunjing Orang) dan Perintah Memelihara Lidah

52/1526. Ibnu Umar RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda


لا تُكْثِرُوا الكَلاَمَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ؛ فَإنَّ كَثْرَةَ الكَلاَمِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى قَسْوَةٌ لِلقَلْبِ ! وإنَّ أبْعَدَ النَّاسِ مِنَ اللهِ القَلْبُ القَاسِي

“Jangan banyak bicara selain dzikir kepada Allah, karena banyak bicara selain dzikrullah dapat menyebabkan seseorang berhati keras, dan sejauh-jauhnya manusia dari Allah adalah orang yang berhati keras”. (HR. At-Tirmidzi)

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada seorang perawi yang bernama Ibrahim bin Abdullah bin Hathib orang yang majhul hal, yaitu hadits yang pada sanadnya ada seorang perawi yang disebut namanya, tetapi tidak dikenal orangnya. Ibnu Hatim telah menerangkannya di dalam Al Jarh wa Ta’dil (2/110), dengan mengatakan, “Dirinya tidak pernah disebut oleh para ulama hadits, baik jarh (kecacatan perawi) maupun ta’dilnya (keadilan perawi)”. Sedangkan Adz-Dzahabi berkata di dalam Mizan Al I’tidal (1/41), “Setelah memasukkan hadits tersebut di dalam kumpulan hadits-hadits dha’if nya, Aku tidak mengetahui kedudukan jarhnya”. Jadi yang lebih utama untuk dijadikan pegangan adalah perkataan Ibnu Al Qaththan di dalam At-Tahdzib (1/133), Identitasnya tidak diketahui (keadaan dirinya)”.

Ada hadits lain yang semakna, tetapi hadits ini tanpa sanad. Hadits ini dimasukkan ke dalam Al Muwatha’ (2/986) oleh Imam Malik yang merupakan perkataan Nabi Isa ‘alaihis salam,

“Sesungguhnya Isa bin Maryam pernah berkata, ‘Jangan kalian banyak bicara tanpa dzikir kepada Allah, karena sesungguhnya hati yang keras jauh dari Allah’.” (Imam Malik memasukkannya ke dalam Al Muwatha’)

Akan tetapi hadits tersebut tidak sah berasal Nabi SAW, sehingga hadits ini derajatnya la asla lahu marfu’ an (Silsilah Adh-Dha’ifah hadits no. 908).

Tentang kewajiban memelihara lidah atau ucapan, ada beberapa hadits-hadits yang shahih, antara lain,

“Dari Ibnu Amr, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa diam, maka akan selamat.” (Hadits riwayat At-Tirmidzi; Shahih Sunan At-Tirmidzi -hadits no. 2031).

Dari Uqbah bin Amir ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, apa yang dapat menyelamatkan (dari kehidupan dunia)?’, Rasulullah menjawab, ‘Peliharalah lisanmu” (HR. At-Tirmidzi dan Shahih Sunan At-Tirmidzi hadits no. 1961).

Bahkan hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim menegaskan tentang hubungan antara keimanan seseorang dengan pemeliharaan lisannya (ucapannya), yaitu:

Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaknya bicara dengan baik atau diam”

Lihat Silsilah Adh-Dha’ifah hadits no. 920, Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 423, Dha’if Al Jami’ hadits no. 6265, Al Misykah hadits no. 2276, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1518 dan Takhrij Riyadhush-Shalihin  hadits no. 1518.

258. Bab: Larangan Menyampaikan Berita dan Omongan Orang Kepada Pemerintah (Ulil Amri) Kecuali Dikhawatirkan Adanya Bahaya

53/1547. Ibnu Mas’ud RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,


لا يُبَلِّغُنِي أَحَدٌ مِنْ أصْحَابِي عَنْ أَحَدٍ شَيْئاً ، فإنِّي أُحِبُّ أنْ أخْرُجَ إِلَيْكُمْ وأنَا سَليمُ الصَّدْرِ

Janganlah salah seorang dari sahabatku menyampaikan sesuatu kepadaku tentang seseorang, karena sesungguhnya aku lebih suka keluar kepada kalian dengan dada (hati) yang bersih”. (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada dua perawi yang majhul (tidak diketahui identitasnya), yaitu Al Walid, (sebenarnya dia adalah Ibnu Abu Hisyam, seorang hamba sahaya milik Hamdan), dan Zaid bin Zaaid (guru Al Walid).

Lihat Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 817, Dha’if Al Jami hadits no. 6322, Al Misykah hadits no. 4852, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1539, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1539.

270. Bab: Haramnya Hasad (Mengharap Hilangnya Nikmat Seseorang)

54/1577. Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda,


إيَّاكُمْ وَالحَسَدَ ؛ فَإنَّ الحَسَدَ يَأكُلُ الحَسَنَاتِ كَمَا تَأكُلُ النَّارُ الحَطَبَ  أَوْ قَالَ : (( العُشْبَ ))

“Jauhilah kalian sifat hasad, karena hasad akan memakan semua amal kebaikan, sebagaimana api yang memakan kayu bakar atau rumput. (HR. Abu Daud).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada seorang perawi yang majhul (tidak diketahui identitasnya), yaitu kakek dari Ibrahim bin Abu Usaid. Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani berkata, “Kakek dari Ibrahim bin Abu Usaid tidak diketahui identitas dirinya”. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik RA, tetapi di dalam sanadnya ada perawi yang bernama Isa bin Abu Isa Al Hannath, dia orang yang matruk (hadits yang diriwayatkan oleh orang yang dituduh berdusta, dan hadits serupa tidak diriwayatkan oleh perawi lain yang terpercaya, -peny). Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Isa tidak dianggap”. Yahya bin Said Al Qaththan berkata, “Hadits tersebut mungkar” Al Haitsami berkata (di dalam Az-Zawaid), “Isa bin Abu Isa adalah perawi hadits yang dha’if.

Lihat Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 1048, Dha’if Sunan Ibnu Majah hadits no. 922, Silsilah Al Ahadits Adh-Dha’ifah hadits no. 1902, Dha’if Al Jami’ hadits no. 2781. Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1569, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1569.

274. Bab: Larangan Menunjukkan Kegembiraan Ketika Seorang Muslim sedang Kesusahan

55/1585. Watsilah bin Al Asqa’ RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,


( لا تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لأَخِيكَ فَيَرْحَمَهُ اللهُ وَيَبْتَلِيكَ )) . رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن ))

“Janganlah menunjukkan kegembiraan dalam kesusahan saudaramu, maka Allah akan memberinya rahmat dan mengujimu “. (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada perawi yang bernama Makhul Asy-Syami, orang yang tsiqah (terpercaya) tetapi kadang melakukan tadlis (periwayatan hadits yang kecacatan sanadnya disembunyikan, sehingga seakan-akan tidak ada aib di dalamnya), sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hibban. la juga banyak melakukan periwayatan hadits mursal (hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang langsung disandarkan kepada Nabi SAW) dan melakukan periwayatan secara mu’an’an (hadits yang disanadkan dengan kata an). Keterangan yang menyatakan bahwa Makhul mendengar langsung dari sahabat Watsilah bin Al Asqa’, banyak diperselisihkan oleh para ulama hadits. Ada riwayat hadits lain yang menjadi syahid untuk hadits tersebut, sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Muadz bin Jabal:

“Barangsiapa menjelek-jelekkan saudaranya (sesama muslim) dengan suatu dosa (kesengajaan; tafsir Imam Ahmad), maka ia tidak meninggal hingga melakukannya” (HR. At-Tirmidzi).

Akan tetapi sanad tersebut munqathi (hadits yang di tengah sanadnya gugur seorang perawi atau beberapa perawi, tetapi tidak berturut-turut) dan di dalam sanadnya ada perawi yang bernama Muhammad bin Al Hasan bin Abu Yazid AI Hamdani (ia dituduh berdusta di dalam periwayatan hadits), sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Ma’in dan Abu Daud di dalam Al Mizan (3/514).

Ibnu Al Jauzi [di dalam Al Maudhuuat (3/82)] berkata, “Hadits tersebut tidak sah dan Muhammad bin AI Hasan adalah seorang pendusta”.

Lihat Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah hadits no. 178, Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 449 dan 450; Dhaiful Jami’ hadits no. 5710 dan 6245, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1577, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1577.

290. Bab: Haram Melihat Wanita yang Bukan Mahram Jika Tidak Ada Kepentingan Syar’i

56/1634. Ummu Salamah RA berkata,


كنتُ عِنْدَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ، وعندهُ مَيْمُونَة ، فَأقْبَلَ ابنُ أُمِّ مَكْتُومٍ ، وَذَلِكَ بَعْدَ أنْ أُمِرْنَا بِالحِجَابِ فَقَالَ النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – : (( احْتَجِبَا مِنْهُ )) فَقُلْنَا : يَا رسولَ اللهِ ، ألَيْسَ هُوَ أعْمَى ! لاَ يُبْصِرُنَا ، وَلاَ يَعْرِفُنَا ؟ فَقَالَ النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – : (( أفَعَمْيَاوَانِ أنتُما أَلَسْتُمَا تُبْصِرَانِهِ !؟ )) . رواه أَبُو داود والترمذي، وقال : (( حديث حسن صحيح ))

“Ketika aku dengan Maimunah ada di sisi Rasulullah SAW tiba-tiba Ibnu Ummu Maktum masuk ke tempat kami. Kejadian itu sesudah turun perintah kepada kami tentang hijab. Lalu Nabi SAW bersabda, ‘Berhijablah kalian berdua darinya”. Kami berkata, ‘Ya Rasulullah, bukankah ia orang buta yang tidak melihat dan tidak mengenal kami?’ Nabi SAW berkata, ”Apakah kalian berdua juga buta?, Bukankah kalian melihatnya? (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan shahih”).

Keterangan;

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada seorang perawi yang bernama Nabhan (hamba sahaya Ummu Salamah), yang majhul hal (tidak diketahui identitasnya). Akan tetapi sebagian ulama memperbolehkan wanita melihat laki-laki asing (Ajnabi) berdasarkan hadits Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA, ia berkata, Aisyah RA berkata, “Aku melihat Nabi SAW menutupiku dengan selendang beliau, ketika aku melihat orang-orang Habasyah sedang bermain (bermain pedang) di dalam masjid”. (HR. Bukhari-Muslim).

Sebagian ulama yang memperbolehkan wanita melihat laki-laki asing tersebut berdalil, bahwa utusan dari Habasyah tersebut datang ke Madinah tahun ke- 7 (tujuh) Hijriyah, dan Aisyah RA pada waktu itu sudah berumur 16 tahun, jadi Aisyah RA sudah baligh. Meskipun demikian, ada sebagian ulama yang melarang secara mutlak. Wa Allah a ‘lam.

Lihat Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 526; Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 887, Al Irwa’ hadits no. 1806, Al Misykah hadits no. 3116, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1626, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1626.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: