Dha’if Riyadhus Shalihin bag-6

295. Bab: Larangan Mencukur Sebagian Rambut dan Membiarkan yang Sebagian Lagi

57/1649. Ali RA berkata,

نَهَى رسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – أنْ تَحْلِقَ المَرْأةُ رَأسَهَا . رواه النسائي

“Rasulullah SAW melarang perempuan mencukur rambut kepalanya.” (HR. An-Nasa’i).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut idhtirab (hadits yang berlawanan cara-cara periwayatannya, baik perawi itu satu orang ataupun banyak, dengan syarat sebagiannya tidak lebih kuat dari yang lain), karena perawi yang bernama Hammam, menyandarkan periwayatannya kepada Ali RA dan periwayatan lainnya disandarkan kepada Aisyah RA. At-Tirmidzi berkata, “Hadits yang diriwayatkan dari Ali RA ini mudhtharib, karena Hammam juga meriwayatkan dari Aisyah RA. Hadits dari Aisyah tersebut juga munqathi (hadits yang di tengah sanadnya gugur seorang perawi atau beberapa perawi, tetapi tidak berturut-turut), karena Qatadah tidak mendengar dari Aisyah RA.

Namun ada hadits shahih yang memberikan penjelasan tentang bolehnya wanita memendekkan atau memotong rambutnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ad-Darimi dari Ibnu Abbas RA, Nabi SAW, beliau bersabda

“Wanita tidak diperkenankan mencukur (rambutnya), tetapi cukup dipendekkan (dipotong)”. (HR. Abu Daud dan Ad-Darimi)

Lihat Dha’if Sunan An-Nasa’i hadits no. 376, Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 157, Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah hadits no. 678, Al Misykah hadits no. 2653, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1641, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1641

303. Bab: Larangan Mendatangi Dukun dan Ahli Nujum

58/1679. Qabishah bin Al Mukhariq RA mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda,

(( العِيَافَةُ ، وَالطِّيَرَةُ ، والطَّرْقُ ، مِنَ الجِبْتِ )) . رواه أبو داود بإسناد حسن .

Corat-coret (menggaris menebak nasib) atau menebak nasib dengan burung atau melempar burung supaya terbang; kalau terbang ke arah kanan bertanda baik, sedangkan kalau ke kiri bertanda sial, merupakan perbuatan tukang ramal.” (HR. Abu Daud dengan sanad yang hasan)

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada perawi yang majhul (tidak diketahui identitasnya) yaitu Hayyan bin Al Alla, walaupun demikian, ada hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim yang meriwayatkan tentang syiriknya perbuatan meramal, khurafat, atau yang lainnya, diantaranya adalah hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda,

‘Tidak ada ‘adwa, thiyarah, hamah, dan shafar”. (HR. Al Bukhari dan Muslim). Dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan tambahan: dan tidak ada na’u serta ghul”.

Adwa: penjangkitan atau penularan penyakit. Sabda Nabi SAW bermaksud menolak anggapan masyarakat jahiiiyah, bahwa penyakit berjangkit atau menular tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan dengan kehendak dan takdir Allah SWT.

Thiyarah’. merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya, atau apa saja.

Hamah’. burung hantu. Orang-orang jahiliyah merasa bernasib sial jika melihatnya. Jika burung hantu hinggap di suatu rumah, maka mereka berkeyakinan bahwa akan ada berita kematian dirinya atau anggota keluarganya.

Shafar: orang-orang jahiliyah beranggapan bahwa bulan shafar akan membawa kesialan atau mendatangkan hal-hal yang tidak menguntungkan.

Na’u’: tenggelam atau terbitnya suatu bintang: Masyarakat jahiliyah menisbatkan kepada bintang dalam suatu urusan, misalnya turunnya hujan (kepada suatu bintang)

Ghul’: makhluk halus (hantu/salah satu makhluk jenis jin). Masyarakat jahiliyah berkeyakinan bahwa hantu tersebut (dengan perubahan bentuk maupun warna) dapat menyesatkan seseorang dan mencelakakannya. Padahal anggapan tersebut dalam Islam tidak benar, karena celakanya seseorang atau lainnya berasal dari kekuasaan Allah SWT.

Lihat Ghayatul Maram hadits no. 301, Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 842, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1670, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1670.

304. Bab: Larangan Menganggap Sial Terhadap Sesuatu Hal

59/1686. Urwah bin Amir mengatakan bahwa ketika masalah tebak sial dibicarakan di sisi Rasulullah SAW, maka beliau bersabda,

احْسَنُهَا الفَألُ . وَلاَ تَرُدُّ مُسْلِماً فإذا رَأى أحَدُكُمْ ما يَكْرَهُ ، فَليْقلْ : اللَّهُمَّ لاَ يَأتِي بِالحَسَناتِ إلاَّ أنْتَ ، وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إلاَّ أنْتَ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ بِكَ حديث صحيح رواه أبو داود بإسناد صحيح

Sebaik-baiknya adalah fa’al (perkataan yang baik dan menimbulkan harapan) dan thiyarah tersebut tidak dapat menolak keinginan seorang muslim. Jadi apabila seseorang melihat sesuatu yang tidak disukai, maka hendaklah membaca, ‘Allahumma laaya’ti bilhasanati illaa Anta walaa yadfa’ussayyi’ati illaa Anta, walaa haula walaa quwwaia illa bika. (Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Engkau dan tiada yang dapat menghindarkan bahaya kecuali Engkau. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan bantuan-Mu (Hadits shahih riwayat Abu Daud)

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, dikarenakan ada dua illat (cacat), yaitu:

1. Ada perawi yang bernama Urwah bin Amir, yang diperselisihkan oleh ahli hadits tentang kedudukannya sebagai sahabat Nabi SAW. Ada yang berpendapat ia sebagai generasi tabi’in. Hadits tersebut disandarkan langsung kepada Nabi SAW.

2. Ada perawinya bernama Hubaib bin Abu Tsabit, ia suka melakukan tadlis (periwayatan hadits yang disembunyikan cacat sanadnya, sehingga seakan-akan tidak ada aib di dalamnya) dan hadits yang diriwayatkannya secara mu’an’an (hadits yang disanadkan dengan kata an), sedangkan periwayatannya dari Urwah munqathi’ (terputus sanadnya).

Ada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari yang memberikan makna yang sama dengan hadits tersebut, diantaranya:

Dari Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘ Tidak ada menebak nasib, dan sebaik-baiknya adalah Al Fa’al’. Seseorang bertanya, ‘Apa itu Al Fa’al Wahai Rasulullah?’ Nabi bersabda, ‘Al Fa’al adalah perkataan yang baik yang didengarkan oleh salah seorang dari kalian”. (HR. Bukhari).

Lihat Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 843, Al Misykah hadits no. 4591, At-Ta’liq Kalamul Tayyib hadits no. 193, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1677, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1677.

314. Bab: Larangan Bersumpah dengan Makhluk Seperti Nabi, Ka’bah, Malaikat, dan Lain-lain

60/1720. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi SAW, bersabda,

الرِّياءُ شِرْكٌ

Perbuatan riya’ adalah syirik.

Keterangan:

Hadits tersebut lengkapnya adalah:

Sesungguhnya sedikit berbuat riya’ adalah syirik.

Imam An-Nawawi membawakan hadits tersebut di dalam kitab Riyadhush-Shalihin dengan sighat/kata (diriwayatkan), yaitu kata kerja majhul (kata kerja pasif, yakni tidak menyebutkan orang yang meriwayatkan), menandakan bahwa Imam Nawawi mengisyaratkan bahwa hadits ini adalah dha’if (sanadnya). Hadits yang shahih menerangkan bahwa riya dikategorikan sebagai perbuatan syirik yang terkecil, yaitu:

Kami menganggap riya’ di zaman Rasulullah SAW sebagai perbuatan syirik yang terkecil”. (HR. Ath-Thabrani dan Al Bazzar; dan hadits yang semisal dengannya)

Begitu pula hadits lainnya dengan sanad yang jayyid (bagus/dapat diterima) yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah, Nabi SAW bersabda,

Sesungguhnya yang paling aku takuti dari kalian adalah syirik terkecil Mereka bertanya, “Apa itu syirik terkecil?” Nabi SAW bersabda, ”riya'”. (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad). Lihat Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah hadits no. 1850, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1711

319. Bab. Dimakruhkan Meminta Selain ‘ Surga Dengan Nama Allah

61/1731. Jabir RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لاَ يُسْأَلُ بِوَجْهِ اللهِ الا الجَنَّةُ

Tidak layak meminta dengan nama Allah selain surga” (HR. Abu Daud).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada perawi yang bernama Sulaiman bin Muadz, orang yang dibicarakan oleh banyak ulama jarh wa ta’dil; diantaranya adalah Imam Ahmad bin Hambal, ia berkata, “Aku tidak mengetahui keadaannya (dalam periwayatannya) sedangkan An-Nasa’i berkata, “la orang yang dha’if’.

Lihat Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 368, Dha’if Al Jami’ hadits no. 6351, Al Misykah hadits no. 1944, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1722, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1722.

341. Bab: Makruh Menoleh Pada Saat Shalat Tanpa Ada Udzur Hukumnya Makruh

62/1765. Anas RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,


(( إيَّاكَ والالتِفَاتَ فِي الصَّلاَةِ ، فَإنَّ الالتفَاتَ في الصَّلاَةِ هَلَكَةٌ ، فَإنْ كَانَ لاَ بُدَّ ، فَفِي التَّطَوُّعِ لاَ في الفَريضَةِ )) . رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن صحيح ))

“Hindarilah menoleh pada saat shalat, karena menoleh dalam shalat berarti celaka. Kalau terpaksa, maka boleh dalam shalat sunah, bukan shalat wajib”. (HR. At-Tirmidzi, ia berkata: “Hadits hasan shahih”).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada dua illat (cacat), yaitu:

  • Periwayatan Said bin Al Musayyib dari Anas merupakan periwayatan yang terputus.
  • Pada sanadnya ada perawi yang dha’if yaitu Ali bin Zaid bin Jad’an, sebagaimana perkataan Ibnu Al Qaththan, “Haditsnya tidak dipakai”. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Ma’in berkata, “la orang yang tidak kuat periwayatannya”

Kedua illat ini juga dijelaskan oleh Ibnu Qayim Al Jauziyah di Zadul Ma’ad (1/249).

Ada hadits lain yang melarang menoleh ketika dalam shalat (tanpa membedakan apakah shalat wajib atau sunah), tetapi haditsnya dha’if Lihat Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 194 dan Dha’if Sunan An-Nasa’i hadits no. 57, yaitu sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Daud, An-Nasa’i, dan Imam Ahmad dari Abu Dzar, mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda,

“Allah SWT tetap mendatangi seorang hamba di dalam shalatnya selama ia tidak menoleh, tetapi jika ia memalingkan wajahnya (menoleh) dari-Nya, maka Allah akan pergi darinya”. (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ahmad)

Ada jalur sanad lain yang shahih, yang melarang menoleh di dalam shalat, diantaranya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Tirmidzi:

“….. maka jika kalian shalat janganlah menoleh, karena sesungguhnya Allah SWT akan menegakkan (memperhatikan) wajah-Nya ke wajah hambanya di dalam shalatnya, selama ia tidak menoleh””. (Hadits riwayat Ahmad dan At-Tirmidzi. Lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi hadits no. 2298 dan Shahih Jami’ Ash-Shaghir hadits no. 1724).

Lihat Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 90, Al Misykah hadits no. 997, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1756, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1756.

370. Bab: Tentang Dajjal dan Tanda-tanda – Hari Kiamat

63/1841. Abu Tsa’labah Al Khusyani Jurtsum bin Nasyir RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

(( إنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا ، وَحَدَّ حُدُوداً فَلاَ تَعْتَدُوهَا ، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا ، وَسَكَتَ عَنْ أشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوا عَنْهَا )) حديث حسن . رواه الدارقطني وغيره

Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi telah menetapkan beberapa kewajiban, maka jangan kalian abaikan, dan menetapkan beberapa hukum, maka jangan kalian langgar, dan menetapkan beberapa yang haram, maka jangan kalian langgar. Sedangkan mendiamkan beberapa hal dikarenakan adanya kasih sayang untuk kalian bukan dikarenakan hal itu terlupakan, maka jangan kalian mencari-carinya (menyelidiki lebih dalam)” (HR. Ad-Daruquthni dan lainnya, hadits hasan).

Keterangan;

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada dua illat (cacat), sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rajab di dalam kitab Syarah Al Arba’in An-Nawawiyah (halaman 200, sebagai berikut:

  • Sebenarnya perawi yang bernama Makhul tidak mendengar dari Abu Tsa’labah.
  • Meskipun benar dia mendengar dari Abu Tsa’labah, tetapi ia melakukan dan meriwayatkannya secara mu’an’an dari Abu Tsa’labah.
  • Adanya perselisihan pendapat ahli hadits tentang kedudukan haditsnya yang disandarkan kepada Abu Tsa’labah,

Riwayat hadits tersebut ada syahidnya lewat dua jalur periwayatan dari Abu Ad-Darda seperti yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Ad-Daruquthni:

Apa saja yang dihalalkan oleh Allah di dalam kitab-Nya maka menjadi halal, apa yang diharamkannya maka ia menjadi haram, dan apa yang didiamkannya darinya maka itu termaafkan. Jadi kalian terimalah apa yang dimaafkannya, karena sesungguhnya Allah tidak lalai akan segalanya.” Kemudian Nabi SAW membacakan ayat yang berbunyi, ”Tidaklah Tuhanmu menjadi lupa” (Surah Maryam ayat 64); (HR. Ath-Thabrani dan Ad-Daruquthni)

Namun hadits ini lemah sekali karena pada jalur periwayatan Ath-Thabrani ada perawi yang bernama Ashram bin Hausyib, dia seorang pendusta Jalur periwayatan dari Ad-Daruquthni ada perawi yang bernama Nahsyal Al Khurasani, yang juga seorang pendusta.

Namun ada riwayat hadits hasan dari riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah yang memberikan makna seperti hadits tersebut, ketika Nabi SAW ditanya tentang hukum samin (lemak) dan jubn (keju), maka Nabi SAW menjawab,

Yang halal sudah ditetapkan kehalalannya oleh Allah di dalam kitab-Nya, yang haram sudah ditetapkan keharamannya di dalam kitab-Nya, dan apa saja yang didiamkannya maka itu perkara yang di maafkan-Nya” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah; Lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi, hadits no. 1410)

Lihat Ghayatul Maram fi Takhrij Ahadits Halal wal Haram hadits no. 4, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1832, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1832

371. Bab: Perintah Untuk Memohon Ampunan dan Keutamaannya

64/1882. Ibnu Abbas RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda.

(( مَنْ لَزِمَ الاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجاً ، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجاً ، وَرَزَقهُ مِنْ حَيثُ لاَ يَحْتَسِبُ )) . رواه أبو داود

Barangsiapa membiasakan memohon ampunan, maka Allah akan melepaskan dari segala kesukaran dan melapangkan dari segala kesempitan, dan akan memberinya rezeki tanpa terduga”(HR. Abu Daud)

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada perawi bernama Al Hakam bin Mush’ab yang majhul (tidak diketahui identitasnya), sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh (di dalam kitab At-Taqrib) dan Adz-Dzahabi. Abu Hatim Ar-Razi berkata, “la orang yang majhul” Ibnu Hibban juga menyebutkan hadits tersebut di dalam Adh-Dhu’afa.

Lihat Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah hadits no. 705, Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 327, Dha’if Sunan Ibnu Majah hadits no. 834, Dhaiful Jami’ hadits no. 5829, Al Misykah hadits no. 2339, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1873, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1873.

Hadits-hadits Yang Diperselisihkan Kedhaifannya

55. Bab. Keutamaan dan Anjuran Zuhud Terhadap Dunia

1/476. Abu Al Abbas Sahal bin Sa’ad Assa’idi RA berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النبي – صلى الله عليه وسلم – ، فقال : يَا رسولَ الله ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أحَبَّنِي اللهُ وَأحَبَّنِي النَّاسُ ، فقال : (( ازْهَدْ في الدُّنْيَا يُحِبّك اللهُ ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبّك النَّاسُ )) حديث حسن رواه ابن ماجه وغيره بأسانيد حسنة

“Seseorang datang kepada Nabi SAW dan berkata, ‘Ya Rasulullah, tunjukkanlah aku suatu amal perbuatan yang bila aku kerjakan maka aku akan dicintai Allah dan manusia? Nabi SAW menjawab, ”Berbuatlah zuhud (tidak rakus pada dunia, -Penerj), niscaya engkau akan dicintai Allah, dan zuhudlah untuk hak orang lain, niscaya engkau akan dicintai manusia’.” (Imam An-Nawawi berkata, “Hadits hasan, riwayat Ibnu Majah dan selainnya dengan sanad yang hasan'”).

Keterangan:

  • Syaikh Al Albani berkata, ”Hadits ini shahih atau sekurang-kurangnya berderajat hasan dengan syahid (riwayat lain) hadits yang mursal, dan riwayat-riwayat lain yang berhubungan dengan hadits tersebut”. Hadits syahid berderajat mursal dengan sanad jayyid (bagus) yaitu: “Berbuatlah zuhud, niscaya engkau akan dicintai Allah, dan adapun kepada manusia, maka berbuatlah demikian kepada mereka, niscaya mereka akan mencintaimu”. (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Al Hilyah (8/41). Hadits tersebut juga dihasankan oleh An-Nawawi, AI Iraqi, dan Al Haitsami. Lihat Ash-Shahihah hadits no. 944).
  • Syaikh Salim bin Id Al Hilali mengatakan bahwa hadits tersebut dha’if, karena ada seorang (dalam sanadnya) yang bernama Khalid bin Amr Al Qurasyi; Al Hafizh berkata (di dalam At-Taqrib), “Ibnu Ma’in menuduhnya sebagai pendusta”. Riwayat pada jalur yang lain juga bersanad dha’if. Ada syahid hadits tersebut, tetapi hadits tersebut mursal (diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Hilyah), sehingga hadits tersebut dha’if. Lihat Bahjatun-Nazhirin no hadits 472.

80. Bab: Wajib Taat Pada Pemerintah Selain Dalam Kemaksiatan

2/678. Abu Bakrah RA mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah SAW Bersabda,

(( مَنْ أهانَ السُّلطَانَ أَهَانَهُ الله )) رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن ))

“Siapa saja yang merendahkan (menghina) penguasa (pemerintah), maka Allah akan menghinakannya”. (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan”)

Keterangan:

  • Syaikh Al Albani berkata, Hadits tersebut hasan. Hadits tersebut mempunyai sanad dengan perawi yang tsiqah (terpercaya), kecuali orang yang bernama Ziyad bin Kusaib (dia tidak dipercaya). Di dalam kitab At-Taqrib dijelaskan tentang keadaannya, “Dia orang yang haditsnya dapat diterima”. Aku katakan (Al Albani, -Penerj): Dia dapat diterima haditsnya manakala haditsnya mutaba’ah (hadits yang sanadnya menguatkan sanad lain dari hadits itu juga). Hadits ini mempunyai mutaba’ah, seperti yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Abi Bakrah, dan ia mendapat kabar dari bapaknya. Hadits tersebut adalah: “Siapa yang memuliakan seorang sultan (penguasa) Allah, maka ia akan dimuliakan oleh Allah dihari Kiamat”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Asim di dalam As-Sunnah). Lihat Silsilah Al Ahadits Ash-Shahihah hadits no.2297.
  • Syaikh Salim bin Id Al Hilali berkata: Hadits tersebut Dha’if, karena ada perawi yang bernama Ziyad bin Kusaib, yang periwayatan haditsnya dapat diterima bila ada mutaba’ah, tetapi bila tidak ada mutaba’ah maka ia orang yang lemah periwayatannya. Hadits tersebut mempunyai mutaba’ah dari jalur Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari bapaknya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim. Tetapi saya berpendapat bahwa sanad hadits ini (lewat jalur sanad Abdurrahman) sangat dha’if sekali, karena ada dua cacat. Pertama, dalam sanad itu juga ada perawi yang bernama Ibnu Luhai’ah, orang yang buruk hafalannya. Kedua, ada perawi lain yang tidak jelas identitasnya. Jadi bagi saya, mutaba’ah tersebut tidak dipakai sebagai bahan pertimbangan. Wallahu ‘alam. Lihat Bahjatun-Nazhirin hadits no. 673.

100. Bab: Membaca Basmalah sebelum Makan dan Hamdalah sesudah Makan

3/736. Umayah bin Makhsyi RA berkata,

كَانَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – جَالِسَاً، وَرَجُلٌ يَأكُلُ، فَلَمْ يُسَمِّ اللهَ حَتَّى لَمْ يَبْقَ مِنْ طَعَامِهِ إِلاَّ لُقْمَةٌ ، فَلَمَّا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ ، قَالَ : بِسْمِ اللهِ أوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، فَضَحِكَ النَّبيّ – صلى الله عليه وسلم – ، ثُمَّ قَالَ : (( مَا زَالَ الشَّيْطَانُ يَأكُلُ مَعَهُ ، فَلَمَّا ذَكَرَ اسمَ اللهِ اسْتَقَاءَ مَا فِي بَطْنِهِ )) رواه أَبُو داود والنسائي

“Ketika Rasulullah SAW sedang duduk, ada seseorang yang sedang makan dengan tidak menyebut nama Allah, hingga tinggal sesuap saja. Ketika yang tinggal sesuap itu akan dimasukkan ke mulutnya, maka ia membaca, ‘Bismillahi Awwalahu wa Akhirahu’. Mendadak Nabi SAW tertawa dan bersabda, “Syetan selalu makan bersama dia, kemudian ketika dia menyebut nama Allah, maka syetan tersebut memuntahkan isi perutnya’.” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i).

Keterangan:

  • Syaikh Al Albani berkata, “Sanad hadits ini lemah, karena ada perawi yang bernama Al Mutsanna bin Abdurrahman Al Khuza’i, seorang yang majhul (tidak diketahui identitasnya)”. Syaikh Syu’aib Al Arnauth juga mendha’ifkan sanad hadits tersebut (lihat Takhrij Riyadhus-Shalihin Syu’aib Al Arnauth, hadits no. 732, ” halaman 246).
  • Sedangkan Syaikh Salim bin Id Al Hilali berkata, , “Hadits tersebut Shahih bi Syawahidihi dalam hadits itu ada perawi yang bernama Al Mutsanna bin Abdurrahman AI Khuza’i dan Adz-Dzahabi, berkata dalam Al Mizan. “Dia tidak diketahui identitasnya dan Jabir bin Shabah meriwayatkan secara menyendiri yang didapat darinya”. AI Madini juga berkata, “Dia seorang yang majhul. Walaupun begitu, hadits tersebut mempunyai syawahid (Jalur hadits yang lain), diantaranya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, yaitu (hadits no. 733 pada bab tersebut di atas juga): “Aisyah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian hendak makan, maka hendaknya menyebut nama Allah (Basmalah). Jika lupa menyebut nama Allah (membaca Basmalah), hendaklah membaca, ‘Bismillah awwalahu wa Akhirahu’.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi).

135. Bab: Disunnahkan Mengucapkan Salam Ketika Masuk Rumah

4/866. Anas RA. berkata,

قَالَ : قَالَ لي رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( يَا بُنَيَّ ، إِذَا دَخَلْتَ عَلَى أهْلِكَ ، فَسَلِّمْ ، يَكُنْ بَرَكَةً عَلَيْكَ ، وعلى أهْلِ بَيْتِكَ )) رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن صحيح )) .

“Rasulullah mengajarkan kepadaku, ‘Hai nak, jika kamu masuk rumah keluargamu, hendaklah kamu memberi salam, supaya kamu dan keluargamu mendapat keberkahan”.’ (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan shahih “).

Keterangan:

  • Syaikh Al Albani berkata, “Hadits tersebut dha’if, karena ada seorang perawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jud’an, orang yang lemah dalam meriwayatkan hadits.” Lihat Dha’if Sunan lit-Tirmidzi hadits no. 509, Dha’if Al Jami’ Ash-Shaghir hadits no. 6389, dan Tuhfatul Asyraf (7/478).
  • Sedangkan Syaikh Salim bin Id Al Hilali berkata, “Hadits tersebut hasan bi syawahidihi. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ali bin Zaid bin Jud’an, seorang yang dha’if. Akan tetapi hadits tersebut mempunyai jalur lain yang banyak dalam periwayatannya, sehingga saling menguatkan. Hal tersebut sebagaimana dikumpulkan jalur periwayatan yang lain oleh Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam bab khusus, yaitu dalam kitabnya Nataijul Afkar (1/168-170). Lihat Bahjatun-Nazhirin hadits no.861.

157. Bab: Apa yang Dibaca Dalam Shalat Jenazah?

5/945. Abu Hurairah RA berkata,

عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – في الصَّلاَةِ عَلَى الجَنَازَةِ : (( اللَّهُمَّ أنْتَ رَبُّهَا ، وَأنْتَ خَلَقْتَهَا ، وَأنتَ هَدَيْتَهَا للإسْلاَمِ ، وَأنتَ قَبَضْتَ رُوحَهَا ، وَأنْتَ أعْلَمُ بِسرِّهَا وَعَلاَنِيَتِهَا ، وَقَدْ جِئنَاكَ شُفَعَاءَ لَهُ ، فَاغْفِرْ لَهُ )) رواه أَبُو داود

“Ketika Rasulullah SAW menyalatkan jenazah, (beliau membaca) ‘Ya Allah Engkau Tuhannya dan Engkau menjadikannya. Engkau yang memberi hidayah kepada Islam dan engkau yang mengambil ruhnya. Engkau lebih mengetahui hal-hal rahasia atau yang terang dari amal perbuatannya. Kami datang kepada-Mu untuk memintakan ampun baginya, maka ampunilah dia’.” (HR. Abu Daud).

Keterangan:

  • Syaikh Al Albani berkata, Hadits tersebut sanadnya dha’if, karena ada perawi yang bernama Ali bin Syamakh tidak ada seorangpun yang menguatkan dia kecuali Ibnu Hibban. Lihat Dha’if Sunan Abi Daud hadits no. 703.
  • Syaikh Salim bin Id Al Hilali berkata, ”Sanad hadits tersebut -insya Allah- hasan lighairihi”. Sanad hadits tersebut memang dha’if tetapi Ali bin Syamakh (perawi hadits tersebut) maqbul, dapat diterima periwayatannya, bila mutaba’ah (hadits yang sanadnya menguatkan sanad lain dari hadits itu juga). Sanad ini diikuti seperti dalam riwayat Ath-Thabrani dalam bab doa dengan nomor hadits 1178 dan 1180. Lihat Bahjatun-Nazhirin no. hadits 938.

Hadits-hadits yang pada awalnya dha’if kemudian naik derajatnya karena ada syawahid

1/366. Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

(( مَنْ عَادَ مَرِيضاً أَوْ زَارَ أخاً لَهُ في الله ، نَادَاهُ مُنَادٍ : بِأنْ طِبْتَ ، وَطَابَ مَمْشَاكَ ، وَتَبَوَّأتَ مِنَ الجَنَّةِ مَنْزِلاً )) رواه الترمذي ، وَقالَ : (( حديث حسن )) ، وفي بعض النسخ : (( غريب ))

“Barangsiapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi sahabatnya karena Allah, maka ia akan dipanggil oleh seruan, ‘Selamatlah engkau, selamatlah perjalananmu, dan selamat menjadi penghuni surga’.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan, tetapi pada sebagian periwayatan lain hadits ini gharib).

Keterangan:

Syaikh Al Albani berkata, “Hadits tersebut dha’if, karena ada seorang perawi yang. bernama Abu Sinan Al Qasmali (Isa bin Sinan), seorang yang lemah dalam periwayatan hadits. Tetapi hadits ini ada syahidnya dari Abu Rabi’ yang dimarfu’kan (disandarkan langsung) kepada Nabi SAW; beliau SAW bersabda,

Barangsiapa menjenguk orang sakit, maka sepanjang waktu jenguk itu ia dalam keadaan memetik / mendapat surga sampai ia pulang kembali.” (HR. Muslim)

Jadi, hadits tersebut derajatnya hasan lighairihi. Lihat Al Misykah hadits no. 5015, Bahjatun-Nazhirin no. 362

2/947. Abdullah bin Abi Aufa RA menyalatkan jenazah putrinya, maka ia bertakbir empat kali, dan sesudah takbir yang keempat ia masih tetap berdiri membaca istighfar dan berdoa. Kemudian ia berkata,

كَانَ رسول اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصْنَعُ هكَذَا .وفي رواية : كَبَّرَ أرْبَعاً فَمَكَثَ سَاعَةً حَتَّى ظَنَنْتُ أنَّهُ سَيُكَبِّرُ خَمْساً ، ثُمَّ سَلَّمَ عَنْ يَمينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ . فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْنَا لَهُ : مَا هَذَا ؟ فَقَالَ : إنِّي لاَ أزيدُكُمْ عَلَى مَا رأيْتُ رسولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصْنَعُ ، أَوْ : هكَذَا صَنَعَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – . رواه الحاكم ، وقال : (( حديث صحيح ))

“Dahulu Rasulullah SAW berbuat demikian”.

Dalam lain riwayat: Sesudah bertakbir empat kali ia berhenti sejenak, hingga disangka ia akan bertakbir untuk yang kelima. Kemudian ia salam ke kanan dan ke kiri. Ketika ia telah selesai, maka kami bertanya, “Mengapa demikian?” la menjawab, “Aku tidak menambah apa yang telah aku lihat dari perbuatan Rasulullah SAW.” Atau ia berkata, “Seperti inilah yang dikerjakan Rasulullah SAW.” (HR. Al Hakim, ia berkata, “Hadits shahih”)

Keterangan:

Syaikh Al Albani berkata, “Hadits tersebut dha’if, karena ada perawi yang bernama Ibrahim Al Hajari.” Oleh karena itu, Adz-Dzahabi mengatakan bahwa kalangan muhadditsin sepakat mendha’ifkannya. Selain itu, ia juga orang yang buruk hafalannya, seperti yang disinggung oleh Al Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitabnya At-Taqrib, “la orang yang lemah periwayatannya dan suka memarfu’kan riwayat-riwayat mauquf. Tetapi – hadits tersebut mempunyai syahid dengan sanad yang shahih dari Abi Ya’fur, dari Abdullah bin Abi Aufa RA, beliau berkata,

“Aku menyaksikannya (yakni menyaksikan Ibnu Abi Aufa, -penerj) melakukan takbir dalam shalat jenazah empat kali, kemudian ia berdiri sejenak -maksudnya berdoa- seraya berkata, ‘Apakah kalian mengira aku bertakbir lima kali?’ Hadirin menjawab, ‘Tidak.’ la berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah SAW bertakbir empat kali.”‘(HR. Al Baihaqi).

Jadi hadits tersebut maknanya shahih dengan adanya syahid hadits riwayat Al Baihaqi tersebut. Lihat kitab Ahkamul Janaiz -cetakan lama halaman 126, sedangkan cetakan baru halaman 160.Lihat Bahjatun-Nazhirin hadits no. 940.

——————————————-

Alhamdulillah, selesai juga pembahasan Dha’if Riyadhus Shalihin. Sumber yang saya ambil dari buku Hadits-hadits Dhaif dalam Kitab Riyadhus Shalihin, Takhrij oleh Syaikh Al Albani, Disusun oleh Abu Zuhdi Munir A. Badjeber. Diterbitkan oleh Pustaka Azam. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

One Response

  1. cari tahu yang lain tntang hadits

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: