Tulisan Nasehat bag 1: Seorang Muslim Terhadap Muslim yang Lain itu Selamat Atas Lidah dan Tangannya

Alhamdulillah. Sholawat dan salam tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga, para shahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman. Amma Ba’du.

Bahasan kali ini lebih panjang daripada bahasan-bahasan sebelumnya. Karena menyangkut diri saya sendiri. Saya susun agar mudah difahami dan dibaca untuk seluruh orang. Baik orang yang kontra dengan saya, ataupun orang-orang yang sejalan dengan saya, atau orang-orang yang berada di tengah-tengah. Tulisan ini adalah untuk orang Islam, orang yang merasa dirinya adalah orang mukmin, orang yang merasa dirinya pernah melihat Allah, orang yang merasa ibadahnya benar, orang yang merasa orang lain melakukan bid’ah, orang kafir, dan orang-orang yang bingung akan agamanya. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semuanya, karena hidayah itu hanya datang dari Allah.

Hadits yang akan kita bahas adalah,

Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu’anhum, ia berkata:
Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw: Orang Islam manakah yang paling baik? Rasulullah menjawab: Orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. (Shahih Muslim No.57)

Hadis riwayat Abu Musa radhiyallahu’anhuma, ia berkata:
Aku pernah bertanya: Wahai Rasulullah, Islam manakah yang paling utama? Rasulullah saw. bersabda: Orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. (Shahih Muslim No.59)

Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” [HR. Bukhari]

Abu Musa radhiyallahu’anhuma berkata, “Mereka (para sahabat) bertanya, Wahai Rasulullah, Islam manakah yang lebih utama?’ Beliau menjawab, ‘Orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya. “‘[HR. Bukhari]

Kita sadari bahwa Islam ini adalah agama rahmat. Di dalamnya ada dua hal yang apabila manusia berpegang teguh dengannya ia akan selamat dan apabila bertanya maka setiap pertanyaan akan terjawab. Di dalamnya juga diceritakan bagaimana hakikat umat zaman dulu, dan umat zaman mendatang. Sebagaimana juga diceritakannya awal kehidupan dan juga diceritakan juga akhir kehidupan, sebagai batu ujian dan juga sebagai pelajaran yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang berakal, karena Allah berfirman:

artinya: “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran” (Q.S Ar Ra’d:19)

Dan kita harus berpegang teguh kepada jalan yang telah ditempuh oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam dan para shahabat beliau, sebagaimana sebuah hadits:

Dari Abu Najih ‘Irbadh bin Sariyah rodhiallohu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati kami dengan nasihat yang menggetarkan hati dan mencucurkan air mata. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, seperti ini adalah nasihat perpisahan, karena itu berilah kami nasihat”. Beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk tetap menjaga ketakwaan kepada Alloh ‘azza wa jalla, tunduk taat (kepada pemimpin) meskipun kalian dipimpin oleh seorang budak Habsyi. Karena orang-orang yang hidup sesudahku akan melihat berbagai perselisihan, hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk (Alloh). Peganglah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah ajaran-ajaran yang baru (dalam agama) karena semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan shahih”)

Begitu banyaknya firqoh-firqoh yang ada di negara kita ini tak lepas dari kurangnya pemahaman terhadap ilmu diin, dan juga karena masalah dunia. Kita tak bisa menghindarinya, sebab rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam telah mengatakan “Karena orang-orang yang hidup sesudahku akan melihat berbagai perselisihan”. Artinya akan banyak perselisihan di kalangan umat Islam ini, mau tidak mau kita sudah berada di tengah-tengahnya, suka atau tidak suka kita sudah terjun langsung ke dalam perselisihan umat. Baik dalam masalah aqidah, fiqih, ataupun dalam masalah akhlaq.

Hadits yang kita bahas di atas menganjurkan seorang muslim agar berbuat baik kepada muslim yang lainnya. Baik itu lewat lisan, ataupun lewat tangannya. Artinya seorang muslim harus sadar bahwa menyakiti muslim lainnya dilarang, alias diharomkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Baik itu menyakiti lewat lisan dengan ucapan-ucapan yang tidak baik, dan juga lewat perbuatan yang tidak baik. Intinya menganiaya orang lain.

Berbuat aniaya sendiri ada 2, yaitu menganiaya diri sendiri dan menganiaya orang lain. Menganiaya diri sendiri disebut sebagai perbuatan dhalim dan Allah melarangnya dalam firman-Nya:

artinya: “dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan?” [Q.S. Ibrahim: 45]

Menganiaya diri sendiri adalah melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya, Allah berfirman:

artinya: “Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertobatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”” [Q.S. Al Baqarah:54]

Dan menganiaya orang lain Allah berfirman:

artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [Q.S. An Nisaa’ : 29-30]

Allah menyediakan adzab bagi mereka yang menganiaya diri sendiri dan orang lain. Maka dari itulah kita harus perhatian terhadap hal ini, karena ini adalah perkara besar. Dari hadits yang kita bahas, sudah pasti yang dimaksud adalah Bab menganiaya orang lain. Artinya dimana hak-hak orang lain dizhalimi. Baik itu harta, nyawa, harkat dan martabat seseorang. Apabila persoalan menyangkut harta, maka seseorang harus mengembalikan harta yang telah diambilnya. Apabila nyawa maka hukum qishash berlaku, namun bagaimana apabila hal itu menyangkut kredibilitas seseorang, seperti memfitnah, berkata kotor, dan berkata yang tidak disukai oleh orang lain, maka satu-satunya jalan agar dosanya dihapus adalah dengan minta ma’af kepada orang itu dan kemudian bertaubat agar dosanya diampuni oleh Allah. Sebab apabila itu menyangkut hak-hak saudaranya, maka Allah tidak akan mengampuni orang itu sampai saudaranya mema’afkan dirinya.

Sebuah Bahasan: Bagaimana dengan Jarh Wa Ta’dil terhadap seorang muslim?

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahulloh berkata, perbuatan menjelek-jelekkan (jarh) oleh para ulama satu sama lain adalah perbuatan haram, bila seseorang tidak boleh mengghibah saudaranya mukmin walaupun bukan orang alim, maka bagaimana boleh meng-ghibah saudara-saudaranya yang beriman dari kalangan ulama??!

Kewajiban insan mukmin adalah menahan lisannya dari mengghibah saudara-saudaranya mukminin. Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [Al-Hujurat: 12]

Hendaknya orang yang ditimpa penyakit seperti ini (ghibah-pen) mengetahui bahwa jika ia menjarh seorang alim maka itu akan menjadi sebab ditolaknya kebenaran yang diucapkan oleh sang alim ini. Dan hendaknya ia juga mengetahui bahwa orang yang men-jarh seorang alim maka ia (sebenarnya) tidak men-jarh pribadinya, karena sesungguhnya ia telah menjelek-jelekkan warisan Rasulullah, karena sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi. Maka apabila para ulama telah di-jarh dan di “tikam” maka manusia tidak lagi mempercayai ilmu yang mereka miliki; yang merupakan warisan dari Rasulullah. Dan ketika itu, merekapun tidak lagi mempercayai syariat yang dibawa oleh sang alim yang telah di-jarh ini.

Dan saya tidak mengatakan bahwa setiap alim itu ma’shum (bersih dari kesalahan), karena setiap insan dapat terjatuh dalam kesalahan. Jika anda melihat satu kesalahan seorang alim menurut keyakinan anda, lalu anda menghubunginya dan mencoba saling memahamkan, jika ternyata yang haq adalah dia, anda wajib menerimanya. Dan jika anda menemukan perkataannya ternyata salah maka wajiblah anda membantah dan menjelaskan kesalahannya, karena mendiamkan kesalahan tidak diperbolehkan. Akan tetapi anda jangan men-jarhnya sementara ia adalah seorang alim yang dikenal dengan niat baiknya. Dan jika memungkinkan anda mengatakan: “Sebagian orang mengatakan begini dan begini padahal pendapat ini adalah lemah.” Kemudian anda menjelaskan sisi kelemahannya dan kebenaran pendapat yang anda lihat, (maka) ini tentu lebih baik dan utama.

Dan jika ingin men-jarh para ulama yang dikenal dengan niat baiknya disebabkan terpeleset dalam suatu kesalahan masalah agama, maka kita pasti akan men-jarh para ulama besar. Namun yang wajib (dilakukan) adalah seperti yang saya sebutkan. Bila anda melihat kesalahan dari seorang alim maka diskusikanlah dengannya. Jika anda yang benar maka ia harus mengikuti anda. Atau jika ternyata tidak jelas (pendapat yang benar) dan khilaf yang terjadi adalah khilaf yang dibenarkan maka saat itu anda harus menahan diri dan biarlah ia mengatakan pendapat yang ia katakan dan andapun mengatakan pendapat yang anda katakan…..

Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Bab VII, Perbedaan Pendapat (Khilaf) di Kalangan Ulama, Menuduh dan Merendahkan Para Dai, hal. 237-239, Terbitan Darul Haq

Ketika bicara mengenai kejelekan orang lain, artinya berbuat ghibah-“Ghibah adalah kamu menyebutkan tetang saudaramu mengenai apa yang tidak disukainya”. Seperti yang telah saya tulis di artikel sebelumnya tentang ghibah. Maka sekarang ini kita bahas ghibah terhadap seseorang. Kita ketahui bahwa orang muslim ada yang beriman, ada yang ta’at, ada yang fasik, ada yang berbuat bid’ah, ada yang munafik. Masing-masing dari mereka disebut sebagai orang muslim, karena mereka menampakkan ciri-ciri orang muslim, dan setiap orang mukmin haruslah diberi hak dan diberlakukan haknya seperti orang mukmin lainnya. Artinya, mengucapkan salam kepadanya, bersilaturrahim, saling nasehat-menasehati menuju kebaikan. Inilah yang disebut namanya ukhuwah.

Orang Fasik

Orang fasik adalah orang yang secara dhohir muslim, namun dia berbuat fasik, misalnya dengan terang-terangan berbuat yang diharamkan oleh Allah, seperti minum khomr, berzina, berdusta. Maka dia adalah orang fasik.

Ada 2 macam ghibah untuk orang Fasik, yang pertama, Ghibah yang memang diperuntukkan untuknya yang berguna untuk mencegah kemungkaran yang dilakukannya. Sebagaimana sabda rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim)

Dalam Al Musnad dan As Sunan dari Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu, bahwa ia berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca Al Qur’an dan membaca ayat ini, tetapi kalian memahaminya secara keliru,

“artinya: Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuknya”. (Q.S Al Maidah 105)

Sesungguhnya aku mendengar Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“artinya: Manusia apabila melihat kemungkaran dan tidak merubahnya, maka nyaris Allah akan mengadzab mereka semua karena kemungkaran tersebut.”(HR. Tirmidzi).

Penjelasannya adalah, apabila kefasikan seseorang itu bisa merusak orang lain, dan itu dia tampakkan di hadapan orang. Maka sudah pasti dia telah berbuat aniaya, dan telah melakukan apa yang diharamkan oleh Allah Azza Wa Jalla. Maka dari itulah Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan manusia untuk mencegah kemungkaran itu dengan tangan (apabila mampu), kemudian dengan lisan dan mengingkari dengan hati adalah selemah-lemah iman. Dan selebih dari mengingkari hati tidak akan pernah ada, sebab hati itu adanya di tangan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulloh berkata, “Barangsiapa yang menampakkan kemungkaran, maka wajib dicegah, dikucilkan dan dicela. Inilah makna sabdanya, “Barangsiapa yang melepaskan pakaian malu, maka tidak ada ghibah atasnya.” Berbeda dengan orang yang menyembunyikan dosanya maka ini harus ditutupi tetapi secara rahasia. Sementara orang yang mengetahui perihal dirinya bisa mengucilkannya sampai dia bertaubat serta mengingatkan perihal dirinya dengan cara menasehati.”

Di zaman sekarang, banyak sekali kemaksiatan, bahkan teman kita sendiri terkadang berbuat maksiat. Maka sudah sewajarnya kita mengingatkan teman kita tersebut. Terlebih lagi dia adalah orang mukmin, yang mana darahnya harom ditumpahkan, apalagi memakan bangkai saudaranya. Maka dari itulah kewajiban Amirul Mukminin (Seorang pemimpin muslim) apabila umatnya melakukan kemaksiatan maka dia harus dan wajib memerangi dan mengubahnya dengan tangan. Namun apabila dia bukan amirul mukminin, tapi misalnya saudara, atau teman, maka yang harus kita lakukan adalah mencegah dengan tangan apabila mampu, kalau tidak maka dengan lisan, menasehati dari hati ke hati. Dan ini wajib. Adapun aib seseorang yang tidak diketahui oleh orang lain, maka rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam melarangnya untuk diberitahukan. Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“artinya: Kamu menyebut tentang saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya.” Ditanyakan, “Wahai rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam, bagaimana menurutmu jika apa yang aku katakan mengenai suadaraku itu benar adanya?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan itu memang benar, maka kamu telah menggunjingnya; dan jika apa yang kamu katakan itu tidak benar, maka kamu telah mendustainya” (Musllim dalam Al Birr, 2589/70; dan Abu Daud dalam Al Adab, no 4874; keduanya dari Abu Hurairah )

Dan yang terakhir maksud dari mengingkari dengan hati adalah apabila tidak punya kekuatan bahkan tidak bisa dengan lisan, maka mengingkari perbuatan kemaksiatan itu adalah hal yang selemah-lemah iman. Manusia adalah makhluk yang dho’if, manusia adalah maksum kecuali para nabi dan rasul, dan yang Allah kehendaki. Maka dari itulah iman manusia itu naik turun. Di saat manusia itu imannya sedang naik, maka bisa jadi lebih tinggi tingkatannya daripada malaikat. Dan apabila turun bisa jadi lebih rendah dari hewan yang paling rendah tingkatannya. Maka dari itulah ada suatu nasihat, Ibnul Qayyim Al Jauziyah rahimahulloh berkata, “Iman itu bertambah dengan keta’atan dan turun dengan kemaksiatan”.

Sebab imanlah yang akan membawa cahaya dalam ruh, iman membawa cahaya dalam diri manusia, sehingga kewibawaan itu ada. Iman jugalah yang menjadikan seseorang lebih bertaqwa daripad yang lainnya. Dan untuk mengetahui bagaimana cara memperoleh keimanan, menaikkan iman tidak lain dan tidak bukan adalah dengan mempelajari ilmu agama. Disitulah jalan yang memudahkan seseorang memasuki surga,

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa melalui suatu jalan untuk mencari suatu pengetahuan (agama), Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” [ Muttafaqun ‘alaihi ].

Seseorang bisa masuk ke surga Allah, lantara ia berima kepada Allah. Mustahil seorang itu bisa beriman tapi dia tidak berilmu, dan mustahil juga seseorang bisa masuk surga kecuali ia faham yang mana yang haram dan yang mana yang bathil, mustahil seseorang akan masuk surga terkecuali dia pasti tahu cara-cara untuk memasuki surga itu, maka dari itulah orang yang berilmu faham jalan mana saja yang selamat, dan orang yang berilmu faham jalan mana yang sesat. Sebab itulah Allah akan memudahkan jalan orang yang berilmu untuk meraih surga-Nya.

Intinya ghibah yang ini adalah menasehati orangnya langsung ke orangnya, tidak diwakilkan dan tidak boleh orang lain tahu tentang keburukan-keburukan yang ada pada diri orang tersebut. Sebab hal itu dilarang oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam pada hadits di atas.

yang kedua, Ghibah untuk orang fasik adalah karena seseorang dimintai nasihat (pendapat) mengenai pernikahan, muamalah dan persaksian seseorang, sedangkan dia tahu bahwa ia tidak layak untuk itu. Misalnya ingin mengetahui keburukan-keburukan seseorang. Yang mana dia tidak faham tentang keburukan seseorang karena urusan seperti pernikahan, maka yang tahu wajib memberitahukan kepada yang bersangkutan.

Contoh peristiwa tentang ghibah ini sebagaimana termaktub dalam hadits Shohih bahwa Fathimah binti Qais berkata kepada rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam, “Abu Jahm dan Mu’awiyah telah meminangku.” Maka beliau berkata kepadanya, “Adapun Abu Jaham, maka ia adalah laki-laki yang suka memukul wanita; sedangkan Mu’awiyah adalah orang miskin tak berharta” (HR. Muslim dalam ath Thalaq 1480/36)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Jadi, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan tentang perihal dua peminang wanita tersebut. Ini adalah hujjah terhadap ucapan Al Hasan, “Apakah kamu suka menyebut seseorang durhaka? Sebutkanlah dia tentang apa yang terdapat dala dirinya sehingga manusia waspada kepadanya.” Sebab nasihat untuk agama itu lebih besar daripada nasihat untuk dunia. Jika Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menasehati wanita tersebut untuk urusan dunianya, maka menasehati dalam urusan agama tentu lebih besar.”

Adapun sekarang, ada orang yang ghibahnya mengikuti arus. Seperti yang telah dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulloh. Silakan lihat di sini. Ghibah semacam ini adalah tercela. Untuk itulah kita harus berhati-hati agar terhindar dari yang namanya menyakiti sesama muslim. Baik itu menyakiti dengan perkataan kita ataupun dengan tangan. Hendaknya seseorang yang melakukan ghibah terhadap saudaranya membaca dulu firman Allah:

artinya: “Demi masa. Sessungguhnya manusia itu dalam kerugian. Melainkan mereka yang beriman, beramal sholeh, dan saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan saling nasehat-menasehati dalam kesabaran”. [Q.S. Al Ashr]

Tidaklah rugi, andainya salah seorang diantara kita menasehati saudaranya. Dan dia juga tidaklah rugi. Dan hendaknya seseorang yang menasehati saudaranya haruslah dengan cara yang ma’ruf, haruslah dengan cara yang baik, dan harus faham adab-adab dalam berdakwah. Dan harus faham, bahwa dirinya juga banyak dosa, tidak ada manusia yang sempurna, setiap manusia adalah dho’if, terkecuali nabi dan rasul.

Sekian dulu untuk bagian pertama, Insya Allah bersambung untuk bagian ke-2……
wallahu’alam bishawab.

3 Responses

  1. saya membuat tulisan tentang “Benarkah Kita Hamba Allah?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/09/benarkah-kita-hamba-allah-1-of-2.html
    (link di atas adalah tulisan ke-1 dr 2 buah link benarkah kita hamba Allah?)

    Apakah Allah juga mengakui bahwa kita adalah hamba-Nya?

    semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

  2. Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” [HR. Bukhari]

  3. pernahkah teman menggunakan lidah untuk berucap dipake menyakiti orang lain? menghinalah, mencaci makilaah atau perkataan yg isinya buruk sangka yg dikatakan hadits “paling dusta pembicaraan”?

    Atau menggunakan tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya yg bisa membuat luka pada saudara kita?

    Jika pernah segera tinggalkan, jngan mengulanginya lagi.
    Krena Bagaimana jika itu terjadi pada kita? tidak mau kan?
    Oleh krena itu sebelum memberikan rasa kpda orang lain, rasakanlah dulu sendiri.

    Gunakan lidah, tangan pun anggota lainnya yg menyenangkan diri dan orang lain tentunya itu tdak bertentangan dngan syari’at, maka teman insyaAllah akan termasuk dalam golongan muslim yg terbaik.
    InsyaAllah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: