Pembahasan Mengenai Puasa bag-1

Bismillahirahmaanirrahiim.

Alhamdulillah. Kita memuji Allah, memohon pertolongan Allah, memohon ampunan-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari kejahatan jiwa dan kejelekan amal-amal kita. Barangsiapa yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada satupun makhluk yang bisa menyesatkannya, dan barangsiapa yang telah disesatkan oleh Allah, maka tiada satupun makhluk yang bisa menolongnya. Aku bersaksi bahwa tiada ilaah yang Haq untuk diibadahi melainkan Allah dan aku tidak berbuat syirik, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan dan hamba Allah, dan tiada nabi setelahnya.

Wa shallallahu’ala Muhammadin wa ‘alaa ‘alihi wa ash habihi ajma’in, amma ba’du.

Puasa (Shoum) artinya menahan diri, yaitu menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa dari terbit matahari sampai terbenam. Inilah arti yang sebenarnya.

Yang membatalkan puasa sesuai dengan ijma’ para ulama ada beberapa hal, yaitu:
1. Niat membatalkan puasa.
2. Makan dan minum dengan disengaja, setelah terbitnya fajar sampai matahari tenggelam.
3. Jima’ (hubungan suami istri) setelah terbitnya fajar sampai matahari tenggelam.
4. Muntah dengan disengaja pada saat puasa. (misalnya memasukkan jemari ke tenggorokan)
5. Mengeluarkan mani dengan disengaja.

Puasa telah disyari’atkan juga kepada umat-umat terdahulu sebelum Islam. Kemudian pada umat Islam maka puasa ini diwajibkan pada bulan tertentu yaitu Ramadhan. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 183-185:

artinya:”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”.

Tidak ayal lagi puasa adalah salah satu dari rukun Islam, karena wajib diikuti. Barangsiapa menolak syari’at puasa, maka dia telah keluar dari Islam. Islam itu ada rukun iman dan rukun Islam. Apabila salah satu dari keduanya ditolak, maka dia telah keluar dari Islam, maka demikianlah Islam. Karena kalau kita masuk ke dalam agama ini maka kita harus masuk secara kaaffah.

Diriwayatkan secara shohih oleh Imam Bukhari dari sebuah hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhu, bahwasannya rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Islam itu berdiri atas 5 hal, Bersaksi bahwa tiada tuhan yang haq selain Allah dan Muhammad adalah rasul-Nya, mendirikan sholat, menunaikan zaat, berpuasa di bulan Ramadhan dan Haji bila mampu”.

Ada beberapa faidah dari ayat ini yaitu:
1. Allah mewajibkan puasa terhadap kaum mukminin sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum mereka, yang mana di dalam puasa ini banyak terdapat faidah baik dunia maupun akhirat.
2. Diperolehnya tingkatan takwa kepada Allah Azza wa Jalla di dalam berpuasa.
3. Puasa itu hari-harinya spesifik, tertentu, namun tidaklah lebih dari tiga puluh hari.
4. Orang yang sakit dan musafir, diperbolehkan berbuka pada bulan Ramadhan dan wajib atas mereka menggantinya (qodho’).
5. Dahulu, ada pilihan antara berbuka di bulan ramadhan dan membayar fidyah atau berpuasa, kemudian hukumnya dimansukh (dihapus) dan berpuasa di bulan Ramadhan
menjadi wajib hukumnya.
6. Keutamaan bulan Ramadhan dan keutamaan Al-Qur`an yang Alloh turunkan di dalamnya.Perlu diketahui bahwa yang namanya inzal (menurunkan Al-Qur`an) itu pastilah dari atas ke bawah, oleh karena itulah inzal ini menunjukkan atas ketinggian Alloh di atas arsy-Nya sebagaimana ditegaskan tentangnya ayat-ayat dan hadits-hadits nabi yang shahih (autentik).
7. Wajibnya berpuasa atas mukallaf (orang yang mendapatkan beban kewajiban) yang mendapati bulan Ramadhan.
8. Syariat Alloh yang samhah (toleran/lapang) dan mudah, jauh dari kesukaran dan kesulitan.
9. Mengagungkan Alloh dengan bertakbir pada hari ‘ied dan ucapan syukur atas nikmatnikmat Alloh.

Bagaimanakah hukum puasa Ramadhan:
1. Puasa Ramadhan adalah wajib bagi seorang muslim yang telah baligh (dewasa), berakal dan mampu melaksanakannya dan muqim (menetap). Wajib pula bagi wanita apabila dia telah suci dari haidh dan nifas.
2. Ramadhan ditetapkan dengan melihat hilal atau menyempurnakan Sya’ban sebanyak 30 hari apabila tertutup mendung (tidak bisa melihatnya). Dalilnya:
Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Berpuasalah ketika melihat hilal, dan berbukalah karena melihat hilal. Apabila penglihatan kalian terhalang, maka sempurnakanlah menjadi 30 hari”. [ HR. Muttafaqun ‘alaihi ]

Karena pada dasarnya bulan-bulan yang ada di tanggal Qomariyah semuanya rata-rata berjumlah 29 hari.
Hadits yang lain adalah Hadis riwayat Ummu Salamah radhiyallahu’anha:
Bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersumpah tidak akan menemui sebagian istri-istrinya selama sebulan. Dan setelah 29 hari berlalu, beliau datang menemui mereka. Kemudian beliau ditanya: Wahai Nabi! Anda bersumpah tidak akan menemui kami selama satu bulan. Mendengar itu, beliau bersabda: Sesungguhnya bulan itu berjumlah 29 hari. [Shahih Muslim Kitab Puasa Bab Bulan yang berjumlah 29 No.1816]

Keutamaan Bulan Ramadhan:
1. Pada bulan ini diturunkannya Al Qur’an, sebagaimana firman Allah:
artinya: “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an” [ Q.S. Al Baqarah: 185 ]

dan firman-Nya:
artinya: “Sesungguhnya kami menurunkannya di Lailatul Qadar” [ Q.S. Al Qadar: 1 ]

2. Pada bulan ini pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka di tutup dan syaithon dibelenggu.
Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Ramadhan telah masuk, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu jahannam ditutup serta syaithon-syaithon dibelenggu”. [ HR. Tirmidzi ]

Maka dari itulah di bulan ini banyak orang yang berlomba-lomba menuju kebaikan. Masjid ramai dengan ceramah dan tarawih, rumah-rumah selalu terdengar orang yang membaca Al Qur’an. Dan banyak orang disibukkan untuk membaca Al Qur’an. Karena kesibukan manusia yang luar biasa dalam mencari pahala di bulan suci inilah, maka dari itu seolah-olah pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu jahannam ditutup, dan syaithon-syaithon dibelenggu.

3. Di bulan ini, khususnya para Malaikat selalu berseru kepada setiap manusia agar bersegera menuju kebaikan dan meninggalkan kejelekan. Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila Ramadhan datang maka Berseru seorang penyeru, wahai orang yang menghendaki kebaikan lakukan dan laksanakanlah, wahai orang yang menghendaki keburukan kurangilah. Dan Alloh memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka dan hal ini terjadi setiap malam sampai berakhirnya Ramadhan.” [ HR. Tirmidzi dengan sanad hasan ]

Para Malaikat-malaikat itu semata-mata diutus oleh Allah untuk menyeru kebaikan kepada kita. Kita tidak bisa mendengarnya namun kita bisa merasakannya dari setiap hawa yang ada di bulan Ramadhan ini selalu mengajak untuk menuju kebaikan.

4. Dilipatgandakannya setiap amalan. Yang sunnah menjadi setara dengan nilai wajib, yang wajib dilipatgandakan lebih lagi. Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Setiap amal bani Adam dilipatgandakan, kebaikan diganjar sepuluh kali lipat yang sepadan dengannya hingga sampai seratus kali lipat, bahkan hingga sampai kepada apa yang Alloh kehendaki. Alloh Azza wa Jalla berfirman : ‘kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untukku dan Aku sendirilah yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwat dan makannya hanya karena Aku.’ Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan tatkala ia berbuka dan kegembiraan tatkala ia bertemu dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut seorang yang berpuasa itu adalah lebih harum di sisi Alloh dibandingkan harumnya kesturi.” [muttafaq ’alaihi].

Pada bulan ini hendaknya seorang muslim menggiatkan dirinya untuk beribadah kepada Allah. Bermunajat kepada-Nya. Bau mulut seorang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah karena, di bulan tersebut seseorang menjaga mulutnya hanya untuk berkata-kata yang baik. Di bulan itu banyak dibacakan Al Qur’an yang mana setiap huruf dihargai 10 kebaikan, bagaimana kalau di bulan Ramadhan ini? Tentunya lebih dilipatgandakan lagi.

5. Bagi orang-orang yang berpuasa ada pintu khusus untuknya di surga, yaitu pintu yang bernama Ar Royyan. Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut dengan ar-Royyan. Orang orang yang berpuasa masuk darinya pada hari kiamat, dan tidak ada seorangpun selain mereka yang dapat memasukinya. Apabila mereka (orang-orang yang berpuasa, pent.) telah memasukinya pintu tersebut ditutup, dan tidak ada lagi seorangpun yang dapat memasukinya”. [HR. Muttafaqun ‘alaih]

6. Puasa di bulan Ramadhan menghapus dosa-dosa kecil, sebagaimana sabda rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan
dengan keimanan dan ihtisab (mengharap balasan dari Alloh) maka diampuni dosadosanya yang terdahulu.” [HR. Muttafaqun ‘alaihi]

Dan sabda beliau yang lainnya: “…antara sholat lima waktu, antara Jum’at dengan Jum’at, antara Ramadhan dengan Ramadhan terdapat kafarat (penghapus dosa) diantaranya, selama dosa-dosa besar dijauhi”. [ HR. Muslim ]

Demikianlah, begitu mulianya Islam, setiap dosa kecil diampuni oleh Allah Subhanahu wa ta’alaa. Agama ini adalah agama yang penuh ampunan. Bahkan bagi orang yang berbuat dosa besar, dia harus bertaubat nasuha, dan Insya Allah kesalahan-kesalahannya akan diampuni oleh Allah.

7. Puasa bisa menjauhkan diri dari neraka dan memasukkan diri ke dalam surga.
Abi Umamah radhiyallahu’anhu berkata, “suatu ketika aku bertanya kepada Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam, “Tunjukanlah kepadaku amalan yang bisa memasukkanku ke dalam surga”. Rasululloh shallallahu’aliahi wa sallam bersabda, “Berpuasalah karena tidak ada yang sepadan dengannya”. Kemudian aku mendatangi beliau untuk kedua kalinya dan beliau Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Berpuasalah karena tidak ada yang sepadan dengannya””.

Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Alloh, melainkan Alloh jauhkan pada hari itu wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh kharif (jarak perjalanan).” [HR Muslim].

8. Puasa bisa sebagai syafa’at di hari akhir kelak. Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Puasa dan Al-Qur`an memberikan syafa’at bagi seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata : Wahai Rabb, sesungguhnya aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka berilah dia syafa’at karenaku. Al Qur’an berkata : Wahai Rabb, sesungguhnya aku telah menahannya dari tidur di malam hari untuk membacaku, maka berilah dia syafa’at karenaku. Maka Allah mengabulkan syafa’at keduanya.” [Shahih, HR Ahmad dan selainnya].

Allah berfirman
“artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [Q.S. Al Baqarah 186]

Di ayat berikutnya Allah berfirman bahwa dirinya dekat. Artinya dalam berdo’a Allah itu pasti mendengar hamba-Nya, sebab Allah itu Maha Mengetahui, dia juga Maha Lembut yang mana tidak ada satupun makhluk-Nya yang ada di dasar kegelapan bumi terkecuali Allah pasti mengetahuinya. Maka dari itulah di bulan Ramadhan ini banyak-banyak berdo’a, karena do’a orang puasa lebih di dengar oleh Allah.

Allah berfirman: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” [ Q.S. Al Baqarah: 187 ]

Sebelum ayat ini turun dulu para shahabat dilarang untuk berjima’ baik siang ataupun malam, bahkan batas untuk makan minum hanya maghrib sampai waktu Isya’ berakhir atau tengah malam. Dan ini berlangsung sampai setengah bulan, sehingga kemudian Allah memberikan rukshah kepada manusia dengan diturunkannya ayat ini.

Tentang maksud dari benag putih dan benang hitam, dahulu para shahabat dulu menganggap ayat ini ditafsirkan dengan mengikat benang merah dan benang putih di kaki, sehingga apabila sudah pagi mereka bisa melihat benang merah dan benang putih. Kemudian rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan dengan sebuah hadits, “Makan dan minumlah ketika kalian mendengar Bilal Adzan, sesungguhnya Bilal adzan untuk membangunkan orang untuk sholat malam. Dan berhentilah makan dan minum ketika Ummi Maktum adzan, karena dia tidaklah adzan kecuali waktu subuh sudah datang”. [ HR. Muttafaqun ‘alaih ]

Hadits ini juga menjelaskan bahwa adzan ketika sepertiga malam terakhir itu ada, dan adalah termasuk syari’at. Zaman sekarang orang lebih memilih menyetel tape murrotal, yang tidak ada dasarnya dan keluar dari jalur yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Yang benar adalah adzan pada sepertiga malam terakhir untuk membangunkan orang sholat ataupun orang yang sahur. Baru kemudian adzan subuh sebagai pertanda sahur telah selesai. Jadi waktu sahur itu habis ketika adzan subuh dikumandangkan bukan ketika imsak.

Kemudian kandungan lain dari ayat ini adalah orang yang beri’tikaf di masjid tidak boleh mendatangi istri-istri mereka. I’tikaf artinya berdiam diri di masjid, yang dilakukan oleh orang beri’tikaf adlaah berdzikir, membaca Al Qur’an dan Sholat, atau cukup hanya berdiam diri, atau muhasabah. Zaman dulu para shahabat sampai mendirikan tenda di masjid (karena masjidnya belum ada lantainya, dan masih tanah), dan terkadang mengajak istri mereka.

Demikianlah hal-hal tentang puasa, semoga hal tersebut menjadi kebaikan bagi kita semuanya, dan menjadi tambahan ilmu bagi kita semua, serta nasehat untuk kita semuanya. Akhirul kalam wa da’wana wa shallallahu’alaa muhammadin wa ‘alaa ‘alihi wa ash habihi ajma’in.

Walhamdulillahirabbil ‘alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: