Tulisan Nasehat bag2: Ruju’ dan Tajassus

Bismillahirahmanirrahiim

Alhamdulillah. Washolatu ‘alaa rasululloh wa ‘alaa ‘alihi wa ash habihi ajma’in ilaa yaumiddin. Amma ba’du.

Yaa ikhwah fillah, beberapa waktu dan akhir-akhir ini sering terjadi yang namanya tajassus yaitu perbuatan memata-matai dan ini dilakukan oleh salah seorang ikhwan terhadap asatidz, terhadap kaum muslimin dengan bermaksud mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka. Dan ikhwan tersebut juga mengaku dirinya sebagai salafi, namun dia melakukan tajassus kepada saudaranya sendiri.

Ya ayyuhal ikhwah, sesungguhnya tajassus baik mencari berita yang samar ataupun berita yang terang adalah terlarang di dalam agama ini, sebagaimana Allah berfirman:

“artinya:Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanykan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain…” (Qs. al-Hujuraat [49]: 12).

Dalam mencari sebuah fakta, tidaklah seseorang itu hanya berbekal mesin search engine semacam google, kemudian dia dengan lantang sudah menyatakan bahwa dirinyalah yang benar karena dengan usahanya bisa mengorek banyak berita dari internet, baik itu seorang ustadz, seorang mubaligh, ataupun kaum muslimin yang mana mereka semua hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Sungguh orang-orang yang melakukan sifat-sifat semacam ini, melakukan pekerjaan pengangguran seperti ini, mereka adalah orang-orang yang jelek di sisi Allah dan Rasul-Nya.

Ibnu Katsir rahimahulloh meriwayatkan sebuah hadits berkenaan dengan ayat ini:
“..Janganlah kalian saling memata-matai, janganlah kalian saling menyelidik, janganlah kalian saling berlebih-lebihan, janganlah kalian saling berbuat kerusakan…”[HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah, lihat hadits-hadits senada dalam Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, surat al-Hujuraat [49]: 12, semisal riwayat Imam Malik dari Abu Hurairah].

Maka dari sini sudah jelas pada dasarnya Allah dan Rasul-Nya melarang tajassus, perbuatan memata-matai apalagi memata-matai seorang muslim. Bahkan rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam selalu mengajarkan untuk berkhusnuzhon kepada sesama saudara muslim, apabila ada satu berita buruk, maka dilawan dengan khusnuzhon dan harus seorang muslim menjauhi prasangka-prasangka buruk yang akan menimbulkan fitnah, perpecahan dan juga kehancuran di tubuh umat Islam sendiri.

Tajassus sendiri bermula dari su’uzhon, setelah su’uzhon kemudian dia berghibah dan setelah berghibah, ia bertajassus. Sehingga apabila dia telah mendapatkan keterangan dari target, maka ia akan sebarkan dihadapan publik. Ya ikhwah fillah, tiada manusia yang sempurna di dunia ini, semuanya pasti mempunyai kesalahan dan kesalahan itu pasti ada pada setiap diri manusia. Dan hendaknya kita ingat firman Allah ketika melihat saudara kita melakukan kesalahan yaitu:

artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali bagi mereka yang beriman, dan beramal sholeh, dan saling bertausiyah dalam kebenaran dan saling bertausiyah dalam kesabaran”. [ Q.S. Al Ashr ]

Apabila salah seorang saudaramu berada dalam keadaan futur, hendaknya yang pertama kalian lakukan adalah menolongnya, bukan mencelanya. Kesalahan kita dalam berdakwah yang pertama kali adalah mencela orang yang berbuat maksiat atau salah. Sehingga dia akan lebih tenggelam ke dalam kesalahannya, ke dalam perbuatan maksiatnya. Apabila dia memang tidak tahu, maka yang menjadi kewajiban kita adalah untuk memberitahunya. Orang yang setingkat ulama saja pernah khilaf, bahkan seorang shahabat juga pernah khilaf, maka sudah sepantasnya orang-orang biasa dari umat rasululloh pun akan mendapatkan khilaf yang mungkin lebih parah daripada umat-umat terdahulu.

Sehingga apabila seseorang muslim menolong saudaranya dengan pertolongan yang baik, maka Allah akan membalasnya dengan ganjaran yang lebih baik. Tidak malah mengorek segala keterangan yang bisa dia tampilkan di blognya kemudian mencelanya. Ini adalah perbuatan tercela. Bahkan orang yang membaca blognya akan mendapatkan dosanya. Lagipula para ustadz sudah menasehati si pemilik admin blog tersebut, namun ia masih keras kepala dan tidak bertaubat. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Subhanallah. Allah sungguh akan memberikan petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah akan menyesatkan bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Maka dari itu hendaknya kita kembali kepada Allah, memohon pertolongan-Nya, memohon petunjuk-Nya, dan di bulan Ramadhan ini kita harus lebih banyak bersujud dan menghisab diri.

Saya telah ruju’ dari perbuatan-perbuatan saya yang salah. Dulu saya menganggap bahwa seorang salaf akan bisa memberikan warna di mana dia berada. Namun saya lupa satu hal, yaitu seorang salaf harus mengutamakan imannya. Agar dia bisa selamat agamanya, maka ia harus faham kemana ia harus berpijak. Dan dari situlah saya kemudian mulai saat ini dan seterusnya ruju’ kepada pemahaman salaf yang benar. Allah Ta’ala berfirman :

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al Maidah : 2)

Sungguh seolah-olah saya baru saja membaca ayat itu, seolah-olah saya baru faham tafsirnya, padahal ayat tersebut saya pernah baca, dan faham tafsirnya. Dan kita harus selalu menjaga diri dari segala hal, harus berhati-hati dalam bertindak, dalam beribadah, dalam beramal.

Saya menasehatkan kepada ikhwah fillah yang masih melakukan tajassus kepada sesama muslim, hendaknya ia takut kepada Allah dan menghentikan perbuatannya. Sebab hari pembalasan telah dekat, dan sungguh bukan sifat seorang muslim berbuat demikian. Apakah kalian mau dosa-dosa orang yang kalian zhalimi dibebankan kepada kalian? Sungguh Allah itu Maha Adil dan dengan keadilan pulalah Al Mizan ditegakkan. Sungguh telah banyak beredar berita-berita miring terhadap ustadz-ustadz salafi, yang mana ustadz A adalah Sururi, Ustadz B ihwanul muflishin, Ustadz C plagiat, Ustadz D bla…bla…bla… Dan ironisnya hal ini terjadi kepada sesama orang-orang yang mengaku berada di atas manhaj salaf. Hindarilah tajassus, hindarilah ghibah, bulan puasa ini mari kita berbenah, menjadi seorang yang bertaqwa. Sungguh orang yang menebar perpecahan dan fitnah, berbuat tajassus dengan memakai nama manhaj salaf mereka adalah musuh-musuh dakwah salaf. Berhati-hatilah terhadap mereka, mereka suka memutar balikkan fakta, pandai bersilat lidah, mereka lebih berbahaya daripada ahlu bid’ah. Kotoran sekalipun ditutup dengan bungkus yang cantik yang tampak adalah kotoran, dan mutiara sekalipun dibungkus kotoran namanya tetap mutiara. Wallahu musta’an.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: