Tanya Jawab: Tentang Salafush Sholeh

Bismillahirahmaanirrahiim,

Alhamdulillah. Wa sholatu ‘alaa muhammadin wa ‘alaa ‘alihii wa ash habihi wa man tabi’ahum bi ihsan ilaa yaumiddin. Amma Ba’du.

Di sebuah Komunitas Muslim Surabaya ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh seseorang fulan yang kebetulan ikut di sana. Mulanya membahas tentang Di manakah Allah. Hingga kemudian membahas tentang Mu’tazillah dan seterusnya. Sehingga orang yang awam terhadap masalah dien ini pun terkadang ragu terhadap diri mereka sendiri. Dan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pun seolah memberikan pertanyaan juga terhadap diri kita sendiri, apakah kita sudah meniti jalan salafush sholeh ataukah belum. Sangat berat memang untuk bisa seperti mereka–salafush sholeh. Tapi kita harus berusaha, sebab merekalah golongan yang selamat, dan jalan merekalah jalan yang selamat.

Pertanyaan-pertanyaan itu adalah seperti:
1. Siapakah yang dimaksud dengan “para salafush sholeh”? tolong sebutkan nama2nya!
2. Apakah mereka dimulai dari para sahabat Nabi saw dan tabi’in?
3. Apakah semua sahabat Nabi saw adalah Salafush sholeh? Jika tidak, bukankah semua sahabat Nabi saw itu sama2 punya jasa yg besar mendampingi beliau dlm perjuangan Islam?
4. Adakah dasar di dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi saw yg menyuruh kita untuk mengikuti Salafush Sholeh?
5. Bagaimana kalau terjadi perbedaan pendapat di antara Salafush Sholeh, yg mana yg harus kita ikuti?
6. Apakah di dlm mu’tazilah itu tdk ada ulama yg mampu memahami Al-Qur’an dan sunnah Nabi saw?
7. Kalau di dalam mu’tazilah itu ada ulama, mengapa sesama ulama mengkafirkan? Bukankah ulama itu pewaris Nabi saw.
8. Bukankah perbedaan mazhab itu hanyalah dalam memahami teks Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw?
9. Apakah pemahaman Salafush sholeh terhadap Al-Qur’an dan sunnah itu pasti benar persis seperti yg dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya?
10. Jika sama2 belum pasti benar mutlak, mengapa terjadi saling mengkafirkan? Apa dasarnya?


Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan:

1. Para salafush sholeh adalah pendahulu dari umat ini, yaitu umat generasi awal. Yaitu umat di jamannya rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam, di jaman para shahabat dan di jaman tabi’in.
Diceritakan dalam sebuah hadits yang shohih:

“Artinya: Dari Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiallohu ta’ala ‘anhu berkata: Manusia bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya; Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliah dan keburukan, kemudian Alloh mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan? Beliau bersabda: ‘Ada’. Aku bertanya: Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan? Beliau bersabda: “Ya, akan tetapi di dalamnya ada dakhanun”. Aku bertanya: Apakah dakhanun itu? Beliau menjawab: “Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah”. Aku bertanya: Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan? Beliau bersabda: “Ya”, dai – dai yang mengajak ke pintu Jahanam. Barang siapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda: “Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita”. Aku bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya? Beliau bersabda: “Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya”. Aku bertanya: “Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya?” Beliau bersabda: “Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”. (Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399)

Allah berfirman :

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya:”Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” [Q.S At Taubah: 100]

Siapakah orang-orang yang disediakan oleh Allah surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya dan kekal selama-lamanya? Allah menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang terdahulu dari yang pertama-tama masuk Islam di antara orang-orang muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Dan disebutkan pula dalam hadits di atas yang mengikuti mereka (muhajirin dan anshar) adalah para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, karena mereka pendahulu umat. Sedangkan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik adalah kaum muslimin pada umumnya sampai akhir zaman. Mengikuti mereka dengan baik dijelaskan di hadits yang lain:

Dari Abu Najih ‘Irbadh bin Sariyah rodhiallohu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati kami dengan nasihat yang menggetarkan hati dan mencucurkan air mata. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, seperti ini adalah nasihat perpisahan, karena itu berilah kami nasihat”. Beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk tetap menjaga ketakwaan kepada Alloh ‘azza wa jalla, tunduk taat (kepada pemimpin) meskipun kalian dipimpin oleh seorang budak Habsyi. Karena orang-orang yang hidup sesudahku akan melihat berbagai perselisihan, hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk (Alloh). Peganglah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah ajaran-ajaran yang baru (dalam agama) karena semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan shahih”)

Yaitu, mereka yang memegang kuat-kuat sunnah (jalan yang ditempuh oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam) dengan gigi geraham dan menjauhi ajaran-ajaran yang baru dalam agama. Muhdats artinya hal yang baru. Adapun muhdats di dalam agama disebut dengan bid’ah. Hal yang baru artinya tidak pernah diajarkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam ataupun sesuai dengan petunjuk beliau. Maksud dari menggigit dengan gigi geraham artinya adalah memegang dengan kuat sampai-sampai apabila ditarik seolah-olah geraham itu putus. Artinya berpegang dengan sunnah sebaik-baiknya sampai akhir hayat. Inilah yang dimaksud dengan “mengikuti dengan baik” pada ayat di atas.

Jadi cukup jelaslah siapa salafush sholeh dari penjelasan ini.

2. Cukup jelas di jawaban nomor 1.

3. Cukup jelas di jawaban nomor 1.

4. Cukup jelas di jawaban nomor 1.

5. Dalam masalah khilafiyah (perbedaan pendapat) tentu saja diambil orang yang pendapatnya paling rojih. Dalam arti pendapatnya yang benar. Kalau terjadi perbedaan pendapat di kalangan para shahabat pun seseorang harus mengembalikan kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan di jaman para shahabat telah dilakukan hal ini. Sebagaimana firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [Q.S. An Nisaa: 59]

Perbedaan yang timbul di umat Islam dewasa ini adalah:

1. Dalam masalah memahami ayat atau hadits.
2. Dalam masalah ibadah.

Apabila persoalannya adalah persoalan nomor 1, maka harus dikembalikan kepada ahlinya. Yaitu kepada para ulama yang benar-benar faham terhadap ayat atau hadits tersebut. Sebagaimana Allah berfirman:

ْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“…maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” [QS. An Nahl : 43]

Maka dari itu apabila ada persoalan masalah hukum, masalah hadits, sudah sepatutnya seseorang tholibul ‘ilmi mengembalikan persoalan ini kepada ahlinya, yaitu ahlu hadits. Namun apabila dari 2 ahli hadits tersebut ada perbedaan. Maka perlu dilihat juga cara mereka mengambil pendapat. Apabila yang satunya mengambil pendapat dengan cara yang salah, misalnya dengan pikirannya sendiri tanpa ada dasar dalil naqlinya, maka diambil yang punya dasar kuat, yang ada dalil naqlinya. Dan juga penjelasannya tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits shohih lainnya.

Adapun apabila jalannya sama-sama benar, dan tatacara pengambilan pendapatnya benar. Maka boleh kita memilih salah satunya. Dalam hal ini, diibaratkan apabila kita benar mendapatkan pahala dua, dan apabila kita salah maka akan dapat satu pahala.

Apabila perbedaanya dalam masalah ibadah. Misalnya yang satu punya dalil sedangkan yang satunya tidak. Maka sama halnya menyejajarkan langit dan bumi. Sudah tentu yang tidak ada dalilnya itu adalah yang salah. Dan orang ini harus rujuk kepada yang dalilnya shohih. Tidak ada khilaf dalam hal bid’ah. Semua bid’ah sesat tanpa terkecuali.

6. Perlu difahami bahwa Mu’tazillah adalah firqoh yang lebih mengedepankan akal mereka daripada Al Qur’an dan As Sunnah. Dalam arti mereka berusaha menafsirkan ayat dan hadits dengan pikiran mereka sendiri dan tidak kembali kepada pemahaman yang telah diajarkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Apakah tidak ada para ulama mu’tazillah yang faham terhadap Al Qur’an dan As Sunnah, wallahu’alam. Namun kenapa harus mencari para ulama Mu’tazillah dalam menuntut ilmu, kenapa tidak kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah, tentu saja kembali kepada penjelasan para ulama ahlussunnah?

Allah berfirman :

وَمَنْ يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya: “Dan barang siapa yang menukar ni`mat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.” [QS Al Baqarah: 211]

7. Ulama itu ada 2 macam. Ulama yang sunnah dan ulama su’. Ulama sunnah adalah mereka yang berakhlaq mulia, ahlu atsar, dan mereka semua kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah yang shohih, itulah mahzab mereka. Imam Ahmad bin Hambal rahimahulloh pernah berkata, “Apabila engkau dapati perkataanku tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits yang shohih, maka buanglah perkataanku. Ambil Al Qur’an dan Hadits yang shohih sebab itulah mahzabku”.

Sedangkan ulama su’ adalah ulama yang menyesatkan umat. Mereka berfatwa untuk mencelakai umat, mengedepankan hawa nafsu, bahkan berfatwa tanpa ilmu. Ketika ditanya kenapa sesama ulama saling mengkafirkan? Jawabannya “Tidak ada ulama yang saling mengkafirkan terhadap ulama yang lain”. Justru para ulama adalah orang yang paling berhati-hati dalam hal mengkafirkan orang. Sebab menuduh saudaranya kafir apabila terbukti tidak kafir, maka kekafiran itu jatuh ke dirinya sendiri. Sebagaimana kisah Imam Ahmad bin Hambal rahimahulloh yang raja-nya punya pemahaman kafir bahwa Al Qur’an itu adalah makhluk bukan Kalamullah. Imam Ahmad bin Hambali rahimahullah tidak mengkafirkan penguasa itu, justru mendo’akannya. Sebab sang raja masih sholat, masih menjalankan hukum-hukum Islam. Namun apabila kekafiran itu tampak dengan nyata, seperti tidak pernah sholat, berdo’a di gereja dan sebagainya, maka tentunya tanda-tanda kekafiran itu ada. Dan tidak ada yang salah menyebut seseorang kafir apabila didapati tanda-tanda kekafiran.

Ada sebuah hadits yang mungkin menjadi dasar dari pertanyaan ini: “Ulama adalah pewaris para nabi”.

Memang benar. Ulama adalah pewaris para nabi. Namun tentunya ulama yang mewarisi para nabi adalah para ulama yang memahami jawaban nomor 1 di atas. Yaitu ulama yang mengikuti rasululloh dan para shahabatnya dengan baik. Apakah mu’tazillah mengikuti rasululloh dan para shahabatnya dengan baik?

8. Definisi mazhab sendiri adalah ilmu hukum, atau pemikiran. Di dalam Islam mahzab lebih dikenal sebagai garis pemikiran. Dan mahzab menurut eranya ada 4 macam, yaitu Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’ie dan Mazhab Hambali. Ada mazhab lain? Setahu saya tidak ada. Dan ke-4 ulama mazhab ini adalah satu pemikiran. Dalam arti mereka berpegang teguh di atas Al Qur’an dan As Sunnah. Adapun permasalahan perbedaan mereka adalah dalam bidang hukum agama. Dan ini pun bukanlah perbedaan yang mendasar. Dan ke-4 mazhab ini sama-sama memerangi bid’ah, khurafat, dan takhayul. Mereka semuanya juga ahli hadits. Siapa yang tidak kenal dengan Imam Abu Hanifah? Siapa yang tidak kenal dengan Imam Malik? Siapa yang tidak kenal Imam Syafi’ie? Siapa yang tidak kenal Imam Hambali?

Dan ke-4 ulama ini tidaklah sama seperti Mu’tazillah, mereka semua adalah ahlussunnah, dan mereka semua tidak mengkafirkan satu dengan yang lainnya.

9. Sudah dijawab di nomor 1.

10. Saling mengkafirkan itu terjadi diantara orang-orang yang bodoh dalam masalah agama. Kaum takfirin misalnya mereka adalah Khawarij. Dan kaum khawarij sendiri sudah ada pada zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Mereka mengkafirkan sesama muslim. Dan kalau toh sesama ulama sunnah tidak ada yang saling mengkafirkan. Bahkan tidak ada satupun para salafushsholeh yang mengkafirkan saudara mereka sendiri. Kalau memang benar ada silakan datangkan kepada saya atsar yang shohih.

Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang lainnya:

5. Apa dasarnya karena salah memahami atau berbeda dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah itu bisa jatuh kafir?
6. Apakah ada kelompok Islam yang pemahamannya terhadap Al-Qur’an dan sunnah itu bersifat kebenaran mutlak? Bukankah pemahaman manusia, selain Nabi saw, pemahamannya terhadap Al-Qur’an dan sunnah itu bersifat relatif?
7. Apakah yang dimaksud dengan Ahlussunnah? Siapakah Ahlussunnah itu? Sejak kapan adanya Ahlussunnah itu? Apakah ada sejak Nabi saw atau sesudah beliau wafat? Bukankah kita diperintahkan mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw? Mengapa muncul mazhab Ahlussunnah?

Saya mungkin bisa jawab yg ini:

5. Apabila kesalahan itu ada dalam masalah aqidah, yaitu dalam masalah keimanan maka sudah tentu seseorang bisa terjerumus ke dalam kekafiran. Seperti halnya salah dalam masalah aqidah “Allah itu mempunyai Asma’ul HUsna, yang mana nama-nama Allah juga mengandung sifat-Nya”. Ada orang yang memahami Wihdatul Wujud (Manunggaling Kawulo Gusti). Mereka tentu saja kafir dan tidak ada perbedaan ulama atas hal ini.
Kemudian ada aqidah “Mengimani Al Qur’an saja dan menolak Hadits” ini juga salah. Maka dari itu dalam masalah-masalah Aqidah apabila seseorang aqidahnya tidak benar, maka ia bisa tersesat, dan yang paling parah adalah murtad atau keluar dari agama Islam.

Adapun mengatakan seseorang itu kafir, maka hal itu adalah keputusan Umara’, setelah diputuskan hajr atas orang tersebut. Sebagaimana Al Hallaj yang divonis kafir oleh para ulama.

Seseorang tidak boleh dikatakan kafir, apabila dia tidak ada pembatal-pembatal ke islaman ada pada dirinya.

Perbedaan memahami Al Qur’an dan As Sunnah bisa menjadi seseorang kafir? Ada kasusnya seperti ini. Sebagaimana orang-orang syi’ah yang terlalu berlebihan menyanjung Ali bahkan sampai taraf penuhanan. Mereka bahkan menganggap para shahabat kafir, hanya gara-gara termakan oleh hadits-hadits palsu yang disebarkan oleh ABdullah bin Saba’.

Ada juga seperti orang-orang Ingkarus sunnah yang menganggap Al Qur’an adalah satu-satunya yang harus dipatuhi selainnya ditolak. Bahkan hadits ditolak. Jadi jawabannya adalah “Bisa jadi karena salah memahami Al Qur’an dan hadits seseorang jatuh kafir, dan selama tidak ada tanda-tanda kekafiran jatuh pada dia maka kita tidak boleh menyebut seseorang itu kafir”

6. Al Qur’an dan As Sunnah kebenarannya mutlak harus diterima. Kebenaran itu datang dari Allah, dan Al Qur’an itu adalah kalamullah. Dan yang menjaga Al Qur’an dan As Sunnah itu adlaah Allah.
Pemahaman manusia relatif kalau manusia itu berpikir dengan pikiran mereka sendiri tidak merujuk kepada penjelasan yang telah diberikan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam, para shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Selama tata cara yang digunakan orang-orang untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dngan cara yang benar dan cara yang baik, sesuai dengan petunjuk rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam, maka mereka adalah orang-orang selamat. Sekalipun mereka berbeda-beda dalam memahaminya.
Maka dari itulah muncul khilafiyah. Adapun khilafiyah yang caranya benar maka hal ini tidak menjadi persoalan.

Yang jadi persoalan adalah orang yang melakukan bid’ah, kemudian membandingkan dengan sunnah. Maka ini bukan khilafiyah. Seperti orang melakukan tahlilan untuk orang mati. Ini bid’ah. Tidak ada sunnahnya.

Maka yang ini sudah jelas bid’ahnya.

Adapun seperti perbedaan dalam masalah “Mana yang lebih Afdhol ketika turun sujud, Tangan dulu ataukah lutut dulu?” Nah yang ini baru perbedaan dalam bidang sunnah, sebab ada dalilnya dan ada runtutan cara berpikirnya. Tidak seperti tahlilan.

7. Imam Ahmad berkata ketika ditanya siapakah Ahlussunnah, beliau menjawab, “Selain ahli hadits aku tidak tahu”.

Yang dimaksud dengan ahlussunnah adalah mereka yang meruntut jalan yang telah ditunjukkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa salam. Berpegang teguh kepada nash syar’i dan menjauhi segala hal yang baru di dalam agama ini.

Shahabat rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bernama Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu pertama kali menyebut golongan yang mengikuti rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam sebagai golongan ahlussunnah.

Disebut sebagai ahlussunnah karena mereka adalah sebagai pembeda dari banyaknya ahlu bid’ah. Dan ahlussunnah itu tidaklah dilihat dari namanya. Tapi dari sifat mereka, dari perbuatan mereka dari cara mereka beribadah. Dan Allah telah menggambarkan mereka dalam surat At Taubah ayat 100, juga surat Al Fath ayat terakhir.

Wallahu’alam bishawab.

One Response

  1. Ternyata Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kenduri kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.
    Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

    MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
    KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
    TENTANG
    KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

    TANYA :
    Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB :
    Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

    KETERANGAN :
    Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
    “MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN ( YANG DILARANG ).”

    Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :
    “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.
    Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”
    Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).
    Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi  terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.
    Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

    SELESAI, KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

     REFERENSI : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

     CATATAN : Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa bacaan atau amalan yang pahalanya dikirimkan/dihadiahkan kepada mayit adalah tidak dapat sampai kepada si mayit. Lihat: Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim 1 : 90 dan Takmilatul Majmu’ Syarah Muhadzab 10:426, Fatawa al-Kubro (al-Haitsami) 2:9, Hamisy al-Umm (Imam Muzani) 7:269, al-Jamal (Imam al-Khozin) 4:236, Tafsir Jalalain 2:19 Tafsir Ibnu Katsir ttg QS. An-Najm : 39, dll.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: