Shahabat Berbuat Bid’ah!!??

Alhamdulillah. Wa sholatu wa ‘alaa rasulillahi wa ‘alaa ‘alihi wa ash habihi ajma’in wa man tabi’ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma Ba’du.

Yaa ayyuhal ikhwah, sungguh banyak syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh orang-orang ahlu bid’ah untuk memuluskan mereka dalam berbuat bid’ah. Namun kita harus tetap meyakini bahwasannya Islam ini sudah sempurna dan syari’at Islam juga mencakup seluruh hukum, dan tiada yang sempurna melainkan syari’at yang telah dibawa oleh Allah dan Rasul-Nya.

Maka dari itu seseorang apabila tidak kembali kepada Allah dan Rasul-Nya niscaya ia tidak akan diberikan rahmat oleh Allah. Dan Subhanallah, saudara-saudara kita masih saja ada yang terperangkap dalam tipu daya syaithon dan menganggap apa yang mereka lakukan baik. Sebab tentu saja, banyak diantara mereka yang tidak faham tentang dien, tidak juga faham terhadap tipu daya iblis dan kroni-kroninya, menganggap segalanya yang berbau ibadah baik, sehingga kabur antara batas sunnah dan bid’ah.

Beberapa hari ini juga saya mendapati syubhat-syubhat, salah satunya syubhat yang dilontarkan oleh salah seorang khatib di khutbah shalat jum’at di Masjid Al Muhajirin di perumahan Araya. Berikut akan saya bahas Insya Allah.

Syubhat tersebut adalah, “Bid’ah itu ada bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah (maksudnya bid’ah yang baik dan bid’ah yang sesat), sebab para shahabat juga pernah melakukan bid’ah, sebagaimana Ummi Maktum yang adzan pertama sebelum adzan subuh, kemudian rasululloh shallallahu’alaihi wa salam membiarkannya. Sebab hal itu adalah baik. Dan juga perkataan Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu yang mengomentari sholat tarawih secara berjama’ah dengan perkataan, ‘Inilah sebaik-baik bid’ah’. Maka dari itulah kalau kita bilang tahlilan, dzikir berjama’ah itu bukan bid’ah, sebagaimana kita puasa di bulan Rajab, karena bulan ini sangat mulia dan salah satu bulan yang diistimewakan oleh Allah Azza Wa Jalla”.

Kurang lebih demikian isi khutbah jum’at seorang khatib fulan.

Jawaban:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

Artinya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu” [Q.S. Al Maidah: 3]

Allah Subhanahu wa ta’alaa telah menetapkan bahwa Islam ini telah sempurna, dan karena sempurna maka tiadalah berhak seseorang itu menambah-nambahkan, dan juga mengurangi syari’at ataupun ajaran yang ada di dalamnya. Ayat telah turun semua, dan hadits sudah dibukukan. Tiada lagi yang bisa dimintai wahyu, sebab sang penerima wahyu telah wafat.

Seseorang yang menuduh shahabat telah berbuat bid’ah, maka dia tidak faham terhadap agama ini. Menganggap para shahabat berbuat bid’ah berarti telah menuduh para shahabat telah mengkhianati rasululloh shallallahu’alaihi wa salam, padahal mereka adalah orang yang paling ikhlas, orang yang paling mulia kedudukannya setelah rasululloh shallallahu’alaihi wa salam. Ini adalah tuduhan jahat yang dialamatkan kepada para shahabat dan kita harus membelanya.

Ada hal yang harus difahami oleh seluruh umat bahwa para shahabat tidak pernah melakukan bid’ah. Mereka adalah orang yang faham terhadap agama ini dan memerangi berbagai bentuk bid’ah, sebagaimana Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu yang mana dia mendapati orang-orang di masjid menghitung kerikil sebanyak seratus untuk bertasbih. Ini telah diingkari oleh beliau sebagai salah satu bentuk bid’ah. Ini sudah mengindikasikan bahwasannya para shahabat faham terhadap agama ini dan memerangi bid’ah.

“Telah menceritakan kepada kami Al-Hakam bin Al-Mubarak, dia mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Umar bin Yahya, dia mengatakan : Aku mendengar ayahku yang menceritakan apa yang didengarnya dari ayahnya, dia menyatakan: Kami sedang duduk di depan pintu rumah Abdullah bin Mas’ud menjelang shalat shubuh. Kebiasaannya bila beliau keluar dari rumahnya, kami pun berjalan bersamanya ke masjid untuk shalat berjama’ah di sana.

Di saat kami sedang menunggu Abdullah bin Mas’ud keluar dari rumahnya, tiba-tiba datanglah Abu Musa Al-Asy’ari dan beliau bertanya kepada kami: “Apakah Abu Abdurrahman telah keluar menemui kalian?” Kami pun menjawab: “Belum.” Maka Abu Musa akhirnya duduk bersama kami di depan pintu rumah Abdullah bin Mas’ud sampai beliau keluar dari rumah untuk menuju masjid. Ketika beliau keluar, kami semua berdiri menyambutnya. Maka Abu Musa pun menyatakan kepadanya : “Wahai Aba Abdirrahman, aku barusan melihat di masjid suatu kejadian yang engkau ingkari, akan tetapi aku tidak melihatnya alhamdulillah kecuali kebaikan.” Maka beliau pun bertanya: “Apakah kejadian yang engkau maksudkan?” Abu Musa menjawab: “Bila engkau sampai ke masjid engkau akan melihatnya. Aku melihat di sana ada sekelompok orang yang duduk berhalaqah-halaqah untuk menanti shalat. Pada setiap halaqah itu ada seorang pria yang memimpin mereka dan di tangan mereka ada batu kerikil. Pemimpin mereka berkata: ((“Bertakbirlah seratus kali.”)). Maka mereka pun bertakbir seratus kali. Kemudian pimpinan mereka menyatakan: ((“Bertahlillah seratus kali!.”)), maka mereka pun bertahlil seratus kali. Selanjutnya pemimpin mereka menyatakan: ((“Bertasbihlah seratus kali.”)), maka mereka pun bertasbih seratus kali.” Abdullah bin Mas’ud kemudian menyatakan kepada Abu Musa: “Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka?” Aku tidak berkata apapun kepada mereka, karena aku menanti pendapatmu dan perintahmu.” Ibnu Mas’ud mengatakan: “Tidaklah sebaiknya engkau perintahkan kepada mereka untuk menghitung kejelekan-kejelekan mereka dan engkau katakan kepada mereka bahwa kebaikan mereka itu sesungguhnya terjamin dan tidak akan disia-siakan.”

Kemudian Abdullah bin Mas’ud berjalan menuju masjid dan kami pun berjalan bersamanya. Ketika beliau masuk masjid dan mendatangi satu halaqah dari halaqah mereka itu, beliau pun berdiri di hadapan mereka sembari beliau menyatakan kepada mereka : “Perbuatan apa ini yang aku lihat sedang kalian lakukan?” Maka mereka pun menjawab: “Wahai Aba Abdirrahman, ini adalah kerikil yang kami pakai untuk menghitung takbir, tahlil dan tasbih kami.” Maka Abdullah bin Mas’ud menyatakan kepada mereka: “Hendaklah kalian menghitung kejelekan-kejelekan kalian, karena kita menjamin bahwa kebaikan-kebaikan kalian tidak akan hilang sia-sia sedikit pun. Celakalah kalian wahai Ummat Muhammad, betapa cepatnya kebinasaan kalian. Para Shahabat Nabi kalian masih ada dan baju Nabi belum rusak dan bejana-bejana peninggalan beliau masih belum pecah.

Demi yang diriku ada ditangan-Nya, sesungguhnya kalian dalam keadaan lebih baik dari agama yang diajarkan oleh Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam (dan yang demikian itu tidak mungkin terjadi, pent), atau kalian sedang membuka pintu kesesatan.” Mereka yang duduk di halaqah tersebut menyatakan kepada Abdullah bin Mas’ud: “Demi Allah, kami tidak menginginkan kecuali kebaikan wahai Aba Abdirrahman.” Maka beliau pun menyatakan: “Betapa banyaknya orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak bisa mencapainya selama-lamanya. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam telah menceritakan kepada kami bahwa akan adanya kaum yang membaca Al-Qur’an tetapi bacaannya tidak melampaui kerongkongan mereka. Demi Allah, saya tidak tahu barangkali mayoritas mereka itu adalah kalian.” Kemudian Abdullah bin Mas’ud berpaling dari mereka setelah menasehati mereka.

Amer bin Salamah berkata: “Kami melihat setelah itu bahwa mayoritas orang-orang yang duduk-duduk di halaqah-halaqah itu adalah orang-orang dari kalangan Khawarij yang memerangi kami di peperangan Nahrawan.” [Demikian riwayat ini dibawakan oleh Al-Imam Ad-Darimi dalam Sunannya jilid 1 hal. 68-69. ]

Kemudian mengatakan bahwa shalat tarawih berjama’ah adalah salah satu bentuk bid’ah, maka ini juga perlu diluruskan. Shalat tarawih berjama’ah bukanlah bid’ah. Dan perkataan Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu mengatakan “Seandainya ini bid’ah, maka ini adalah bid’ah hasanah.” Merupakan salah satu bentuk majas, yang mana Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu pernah shalat tarawih bersama rasululloh shallallahu’alaihi wa salam ketika bulan ramadhan bersama juga para shahabat yang lainnya, selama 3 malam berturut-turut dan kemudian rasululloh shallallahu’alaihi wa salam menegaskan bahwasannya beliau takut kalau sholat itu kemudian diwajibkan karena saat itu ayat masih turun. Dan beliau khawatir hal itu akan memberatkan umatnya. Artinya ketika di jaman Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu ayat sudah tidak lagi turun. Sehingga syari’at yang dulu pernah dilakukan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa salam maka tetaplah berlaku. Dan dianggap sebagai amalan sunnah. Sebagaimana hadits yang lainnya yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan yang lainnya dalam sanad yang bagus:

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang sholat malam bersama imam maka baginya pahala sholat semalam suntuk”.

Lagipula hadits yang sering dibawakan orang-orang sebagai bid’ah hasanah tidaklah selalu diberikan secara utuh, hanya dipotong pada bagian Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu mengatakan “sebaik-baik bid’ah”, namun kalau dibaca seluruhnya maka akan ada sesuatu yang ganjil.

Abdurrahman bin Abd al-Qariy berkata, “Saya keluar bersama Umar ibnul Khaththab pada suatu malam dalam bulan Ramadhan sampai tiba di masjid. Tiba-tiba orang-orang berkelompok-kelompok terpisah-pisah. Setiap orang shalat untuk dirinya sendiri. Ada orang yang mengerjakan shalat, kemudian diikuti oleh sekelompok orang. Maka, Umar berkata, ‘Sesungguhnya aku mempunyai ide. Seandainya orang-orang itu aku kumpulkan menjadi satu dan mengikuti seorang imam yang pandai membaca Al-Qur’an, tentu lebih utama.’ Setelah Umar mempunyai azam (tekad) demikian, lalu dia mengumpulkan orang menjadi satu untuk berimam kepada Ubay bin Ka’ab. Kemudian pada malam yang lain aku keluar bersama Umar, dan orang-orang melakukan shalat dengan imam yang ahli membaca Al-Qur’an. Umar berkata, ‘Ini adalah sebagus-bagus bid’ah. Orang yang tidur dulu dan meninggalkan shalat pada permulaan malam (untuk melakukannya pada akhir malam) adalah lebih utama daripada orang yang mendirikannya (pada awal malam).’ Yang dimaksudkan olehnya ialah pada akhir malam. Adapun orang-orang itu mendirikannya pada permulaan malam.” [HR. Bukhari]

Apa maksudnya yang lebih utama adalah orang yang melakukan shalat dengan tidur dulu? Apa hubungannya dengan bid’ah hasanah? Justru dari sini adalah salah satu bukti bahwa para ahlu bid’ah mengambil sebagian dalil yang sesuai dengan hati mereka dan membuang sebagian. Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu telah faham bahwa di zaman rasululloh shallallahu’alaihi wa salam hanya 3 hari saja rasululloh shallallahu’alaihi wa salam shalat tarawih berjama’ah, sehingga hal itu tidak dilakukan lagi karena takut datang kewajiban. Namun setelah itu tidak pernah dilakukan, di jaman Abu Bakar radhiyallahu’anhu pun tidak pernah.

Dan ketika Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu melakukannya, maka seolah-olah hal tersebut adalah bid’ah, karena pada masa sebelumnya hal itu tidak pernah dilakukan oleh beliau. Namun Umar yang faham karena pernah shalat di belakang rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam ketika masih hidup, maka sudah pasti hal itu bukanlah bid’ah. Sebab ada tuntunannya. Mungkin sang khatib tidak faham apa maksud bid’ah itu sebenarnya.

Bid’ah adalah segala sesuatu yang “tujuannya adalah mendekatkan diri kepada Allah, berupa ibadah, yang dilakukan ditetapkan pada waktu tertentu, atau ditetapkan dengan bilangan tertentu, atau ditetapkan dengan jumlah tertentu, yang mana ibadah tersebut tidak ada tuntunannya”. Inilah bid’ah itu. Mari kita simak tuduhan khatib yang menganggap Ibnu Ummi Maktum radhiyallahu’anhu berbuat bid’ah dengan melakukan adzan pertama.Cukup hadits berikut membantah apa yang dituduhkan oleh sang khatib:

Hadis riwayat Ibnu Masud radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam bersabda: Janganlah sekali-kali azan Bilal itu mencegah salah seorang di antara kalian untuk makan sahur, karena Bilal mengumandangkan azan atau memanggil pada malam hari adalah untuk mengingatkan orang yang sedang salat qiyam (akan dekatnya waktu fajar) dan untuk membangunkan orang yang masih tidur. Selanjutnya beliau bersabda: Janganlah engkau hiraukan ucapan seseorang bahwa fajar itu begini begini sambil membenahi letak tangannya kemudian mengangkatnya ke atas, sesungguhnya fajar yang dimaksud ialah begini, sambil merenggangkan celah di antara kedua jarinya. (Shahih Muslim No.1830)

Hadis riwayat Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu:
Dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam bahwa beliau bersabda bahwa ketika Bilal mengumandangkan azan pada malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai engkau mendengar azan yang dikumandangkan oleh Ibnu Ummu Maktum. (Shahih Muslim No.1827)

Dari sini bisa dijelaskan bahwa adzan yang dikumandangkan oleh Ibnu Ummi Maktum bukanlah adzan bid’ah. Sebab rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam memberikan tuntunannya. Sebagaimana kita tahu kriteria bid’ah batasannya adalah ibadah yang tidak ada tuntunannya setelah rasululloh shallallahu’alaihi wa salam wafat, sementara tidak ada wahyu lagi yang turun. Inilah yang disebut sebagai bid’ah. Sedangkan apabila para shahabat melakukan sebuah ibadah kemudian disetujui oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa salam maka hal tersebut menjadi syari’at. Sedangkan apabila seorang shahabat melakukan ibadah kemudian dilarang oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa salam maka menjadi syari’at pula. Sedangkan apabila Allah dan rasululloh shallallahu’alaihi wa salam diam, maka itu adalah keringanan yang diberikan Allah kepada kita.

Maka dengan ini sudah jelas bahwasannya para shahabat tidak melakukan bid’ah. Dan inilah dalil yang benar. Wallahu’alam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: