Ketika Puasa Melakukan Istimna’ (Onani), Bagaimana Membayarnya?

Alhamdulillah. Washolatu wa’alaa rasulillahi wa’alaa ‘alihi wa ash habihi wa man tabi’ahum bi ihsaan ilaa yamiddin. Wa ba’du.

Ramadhan telah tiba. Bulan yang dinanti bagi mereka yang bertaqwa, bagi mereka yang beriman. Bulan Al Qur’an, bulan diturunkannya Al Qur’an ke langit dunia. Bulan di mana manusia berduyun-duyun memenuhi masjid. Bulan di setiap rumah dibacakan Al Qur’an. Bulan di setiap masjid selalu penuh dengan tausiyah-tausiyah. Bulan di mana Allah memudahkan banyak orang untuk melakukan ibadah. Yang biasanya tidak pernah ke masjid, bisa ke masjid. Yang biasanya sholat Isya’ hanya satu shaf, di bulan ini masjid hampir penuh.

Allahu Akbar!

Permasalahan yang saya bawakan adalah permasalahan tentang hukum sesuatu hal yang mana sudah jelas keharamannya. Yaitu Istimna’ atau onani. Onani (mansturbasi) definisnya adalah berusaha mengeluarkan mani dengan cara mengocok/mengurut atau bagi wanita memasukkan sesuatu di kemaluannya.

Hukumnya jelas haram.

وَالّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ * إِلاّ عَلَىَ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas” [QS. Al-Mukminuun : 5-7]

Allah berusaha menjaga kesucian umat Islam dengan menurunkan ayat-ayat yang jelas. Bahwa hanya ada 2 cara untuk menjaga kesucian itu daripada terjerumus zina, antara lain:

1. Menikah apabila mampu.

2. Menggauli budak.

Hadis riwayat Abdullah bin Mas`ud radhiyallahu’anhum:
Dari Alqamah ia berkata: Aku sedang berjalan bersama Abdullah di Mina lalu ia bertemu dengan Usman yang segera bangkit dan mengajaknya bicara. Usman berkata kepada Abdullah: Wahai Abu Abdurrahman, inginkah kamu kami kawinkan dengan seorang perempuan yang masih belia? Mungkin ia dapat mengingatkan kembali masa lalumu yang indah. Abdullah menjawab: Kalau kamu telah mengatakan seperti itu, maka Rasulullah shallallahu’alahi wa sallam pun bersabda: Wahai kaum pemuda! Barang siapa di antara kamu sekalian yang sudah mampu memberi nafkah, maka hendaklah ia menikah, karena sesungguhnyamenikah itu lebih dapat menahan pandangan mata dan melindungi kemaluan (alat kelamin). Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penawar bagi nafsu. (Shahih Muslim No.2485)

Namun perbedaannya adalah sekalipun onani adalah dosa besar, namun tingkatannya tidak sama dengan zina. Kalau zina orang yang melakukannya maka dihukum dengan rajam (bagi yang telah menikah) atau dera oleh Ulil Amri. Sedangkan onani tidak. Tidak ada dalil atau nash yang menghukum bagi pelaku onani. Sebab onani ini lebih sering disebut sebagai “kebiasaan yang tersembunyi”.

Bagaimana apabila hal tersebut dilakukan di bulan Ramadhan. Bulan yang mulia ini yang mana seharusnya seseorang itu menjaga dirinya dari yang halal dan haram?

Ada 2 pendapat di kalangan ulama dan ini sudah sangat masyhur.

1. Pendapat pertama adalah hukumnya sama dengan jima’ (hubungan suami istri) dan kaffarahnya adalah puasa 2 bulan berturut-turut. Dalil yang dipakai adalah:

يدع طعامه وشرابه وشحوته من أجلي

“Ia meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena-Ku” [HR. Al-Bukhari no. 1984]

Para ulama mengatakan bahwa kalimat “meninggalkan syahwatnya karena-Ku” adalah umum yang mencakup syahwat farji/kemaluan. Hal itu termasuk keluarnya mani dalam bentuk apapun (secara sengaja), apakah melalui jalan jima’ atau yang lainnya. Karena, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memutlakkan lafadh syahwat kepada mani, sebagaimana hadits :

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً قَالُوا  : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ : أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

“Dan setiap kemaluan kalian ada shadaqah. Mereka bertanya : “Wahai, Rasulullah apakah salah seseorang di antara kami yang menyalurkan syahwatnya ada pahala padanya ?. Beliau bersabda : “Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan di jalan yang haram, bukankah baginya dosa ? Demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada jalan yang halal, maka baginya mendapatkan pahala”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Pembahasan lengkap silakan lihat Al-Fiqhul-Islaamiy wa Adillatuhu oleh Dr. Wahbah Az-Zuhailiy, 2/651-678, Daarul-Fikr, Cet. 2/1404 dan lihat Ad-Durrul-Mukhtaar 2/104, Al-Qawaaniin Al-Fiqhiyyah hal. 81, Raudlatuth-Thaalibiin 2/361, Al-Umm 2/86, Al-Mughniy 3/48, dan Kasysyaaful-Qina’ 2/352.

2. Pendapat berikutnya adalah hukumnya tidak sama dengan jima’. Dalam hal ini Hazm Adh-Dhahiriy rahimahulloh memberikan tanggapan:

ولم يأت بذلك نص ولا إجماع ولا قول صاحب ولا قياس

“Tidak ada satu nash pun yang melandasi pendapat itu; tidak pula ijma’, perkataan shahabat, dan qiyas” [Al-Muhalla, 6/203,205 – melalui perantaraanShahih Fiqhis-Sunnah oleh Abu Malik Kamal As-Sayyid Saalim; Al-Maktabah At-Taufiqiyyah].

Ash-Shan’aniy mengisyaratkan kesesuaian pendapatnya dengan Ibnu Hazm ini dalam perkataannya :

الأظهر أنه لا قضاء ولا كفارة إلا على من جامع وإلحاق غير المجامع به بعيد.

“Tapi pendapat yang paling benar adalah tidak perlu qadla’ dan tidak perlu kaffarat, kecuali bagi orang yang melakukan jima’. Dan menyamakan sebab lain dengan jima’ adalah tidak benar” [Subulus-Salaam oleh Ash-Shan’aniy, 2/226; Daarul-Hadiits, Cet. Thn. 1425].

Dalil-dalil yang dibawakan jumhur dibantah, bahwa yang dimaksudkan dengan”menahan syahwatnya karena-Ku” jika dikaitkan dengan pembatal puasa adalah menahan jima’. Ini ditunjukkan oleh beberapa hadits, diantaranya :

عن عائشة رضى الله تعالى عنها قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقبل وهو صائم ويباشر وهو صائم ولكنه أملككم لإربه

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa bahwasannya ia berkata : ”Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah mencium dan bercumbu pada saat beliau sedang berpuasa.  Namun beliau adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya diantara kalian” [HR. Al-Bukhari no. 1927 dan Muslim no. 1106; ini adalah lafadh Muslim].

Telah diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radliyallaahu ‘anhuma ia berkata :

كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم فجاء شاب فقال يا رسول الله أقبل وأنا صائم قال لا فجاء شيخ فقال أقبل وأنا صائم قال نعم قال فنظر بعضنا إلى بعض فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم قد علمت لم نظر بعضكم إلى بعض ان الشيخ يملك نفسه

Kami pernah bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba seorang pemuda mendekati beliau seraya berkata,”Wahai Rasulullah, bolehkah aku mencium istriku sedangkan aku dalam kondisi berpuasa?”.  Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab,”Tidak boleh”. Kemudian datang seorang yang telah tua seraya berkata,”Apakah aku boleh mencium (istriku) sedangkan aku dalam kondisi berpuasa?”.  Beliau menjawab,”Boleh”.  Abdullah berkata,”Lalu kami saling berpandangan, kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Sesungguhnya orang yang sudah tua tersebut mampu untuk menahan nafsunya” [HR. Ahmad 2/185 dan 2/220. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalamSilsilah Ash-Shahiihah no. 1606].

Makna ‘menahan nafsu’ dalam dua hadits di atas tidak melakukan jima’. ‘Aisyahradliyallaahu ‘anhaa ketika ia ditanya apa yang diperbolehkan bagi seorang suami yang sedang berpuasa terhadap istrinya, maka ia menjawab :

كل شيء إلا الجماع

“Semuanya, kecuali jima’” [HR. ‘Abdurrazzaq no. 1260; sanad hadits ini jayyid].

Selesai pendapat.

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwasannya onani tidak sama dengan jima’. Dan para ulama ada yang berbeda pendapat mengenai kaffarah untuk orang yang melakukan onani di siang hari di bulan Ramadhan. Namun dilihat dari asal mulanya hukum pembatal-pembatal puasa, maka fokus dari pembatalnya adalah makan, minum, dan jima’. Maka sudah tentu onani tidak termasuk jima’, sekalipun bagi yang melakukannya maka puasanya batal, karena mengeluarkan mani dengan sengaja. Tapi ia tetaplah wajib mengqadha’-nya pada hari lain, dan tidak boleh menggantinya dengan membayar fidyah. Sebab membayar fidyah hanya diperuntukkan bagi mereka yang tidak bisa berpuasa lantaran karena ada udzur.

Wallahu’alam bishawab.

6 Responses

  1. Saya setuju artikel ini, karena syahwat terkadang datang tiba2, dimana istri kita sendiri mungkin sedang lampu merah, dari pada berbuat zina, WaAllahu Laahaulla wallaquataillabillahilalliyuladzim

  2. kalo gga puasa 2 bulan berturt turut gimana ??

  3. kajian yang bagus, Ilmiah. karena pembaca diberikan jawaban yang beragam disertai dengan hujjah yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak asal-asalan. Plus disertai tarjih/kesimpulan yang menurut penulisnya dianggap lebih tepat.

  4. al hamdulillah

  5. Assalamualaikum…

    itu diantara 2 pendapat ulama diatas yang paling kuat yang mana mas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: