Hukum Air Musta’mal

Bismillahirahmaanirrahiim,

Alhamdulillah, wa sholatu’alaa rasulillahi wa ‘alaa ‘aliihii wa ash habihi ajma’in waman tabi’ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma Ba’du.

Wudhu adalah salah satu syarat sahnya sholat. Seseorang yang belum berwudhu maka shalatnya tidaklah sah. Lalu bagaimana dengan kondisi air yang digunakan untuk berwudu ataupun untuk mandi jinabah?

Berikut pembahasan air musta’mal (air yang telah dipakai untuk wudhu dan mandi jinabah).

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودنِي وَأَنَا مَرِيضٌ لَا أَعْقِلُ فَتَوَضَّأَ وَصَبَّ وَضُوءَهُ عَلَيَّ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ}

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, Datanglah Rasulullah sholallhu ‘alahi wasallam mengunjungi aku, sedangkan aku dalam keadaan sakit yang tidak sadar, kemudian Rasulullah sholallhu ‘alahi wasallam berwudhu dan meyiramkan air wudhunya kepadaku. (HR Ahmad, Bukhori dan Muslim)

وَفِي حَدِيثِ صُلْحِ الْحُدَيْبِيَةِ , مِنْ رِوَايَةِ الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ , وَمَرْوَانَ بْنِ الْحَكَمِ : { مَا تَنَخَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُخَامَةً إلَّا وَقَعَتْ فِي كَفّ رَجُلٍ , فَدَلَكَ بِهَا وَجْهَهُ وَجِلْدَهُ , وَإِذَا تَوَضَّأَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ } . وَهُوَ بِكَمَالِهِ لِأَحْمَدَ وَالْبُخَارِيِّ

Dan dalam hadist perdamaian Hudaibiyyah dari riwayat Al Miswar bin Makhromah, dan Marwan bin Al hakim, “Tidaklah Rasulullah sholallhu ‘alahi wasallam mengeluarkan dahak kecuali pasti jatuh ketelapak tangan seseorang kemudian menggosakan kewajah dan kulitnya, dan apabila berwudhu, mereka berebutan air wudhu Rasulullah. Dan hadist ini kelengkapannya ada pada Musnad Imam Ahmad dan Bukhori)

[Lihat Nailul Authar hadits no 3, pembahasan air]

Pada kedua hadits di atas sudah jelas bahwasannya air bekas wudu tidaklah najis. Dan hal ini tidak ada perbedaan khilaf di kalangan para ulama bahwasannya bekas air wudhu tidaklah najis. Sedangkan syarat agar wudhu itu sah adalah air yang digunakan harus suci mensucikan. Dalam hal ini tidak tercampuri dengan sesuatu yang berbau najis.

Dan hal ini diperkuat dengan hadits yang lain:

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata :

أن النبي صلى الله عليه وسلم لقيه في بعض طرق المدينة وهو جنب ، فانخنس منه فذهب فاغتسل ثم جاء فقال : ( أين كنت يا أبا هريرة ؟ ) فقال : كنت جنبا ، فكرهت أن أجالسك وأنا على غير طهارة ، فقال : سبحان الله إن المؤمن لا ينجس )

Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berpapasan dengannya di salah satu jalan Madinah saat ia junub. Lalu ia menyelinap, kemudian pergi mandi. Lalu datang lagi, maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Kemana engkau tadi wahai Abu Hurairah ?”. Ia menjawab : “Saya tadi dalam keadaan junub. Saya tidak senang mendampingi Anda dalam keadaan tidak suci”. Lalu beliau bersabda : “Maha Suci Allah. Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis” [HR. Jama’ah; shahih].

Berdasarkan hadits tersebut, bahwa orang muslim itu tidak najis, dan air bekas wudhunya pun sudah pasti tidaklah najis.

Bagaimana dengan air musta’mal bekas seorang wanita yang dibuat bersuci?

Terjadi ikhtilaf diantara ulama ahli hadist dalam masalah ini sebagaimana Riwayat berikut:

عَنْ الْحَكَمِ بْنِ عَمْرٍو الْغِفَارِيِّ { أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يَتَوَضَّأَ الرَّجُلُ بِفَضْلِ طَهُورِ الْمَرْأَةِ } . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا أَنَّ ابْنَ مَاجَهْ وَالنَّسَائِيُّ قَالَا : وَضُوءُ الْمَرْأَةِ . وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ , وَقَالَ ابْنُ مَاجَهْ , وَقَدْ رَوَى بَعْدَهُ حَدِيثًا آخَرَ : الصَّحِيحُ الْأَوَّلُ , يَعْنِي حَدِيثَ الْحَكَمِ

Dari Hakam bin ‘Umar Al Ghifari, bahwasannya Rasulullah Sholallhu ‘alahi wasallam melarang laki-laki berwudhu dengan bekas air yang dipakai bersuci perempuan. (Riwayat Imam yang lima, kecuali Ibnu majah dan An Nasai, Ibnu majah dan Nasai “bekas wudhu perempuan”, Dan Tirmidzi mengatakan Hadits ini hasan dan Ibnu majah berkata sesudah ia meriwayatkna hadis yang lain, yakni hadist Ahkam.

Namun hadist yang memperbolehkan bahwa bolehnya bersuci dengan air bekas sisa wanita yang mandi junub, yaitu hadist berikut:

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : اغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَفْنَةٍ فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَتَوَضَّأَ مِنْهَا أَوْ يَغْتَسِلَ , فَقَالَتْ لَهُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إنِّي كُنْت جُنُبًا , فَقَالَ : إنَّ الْمَاءَ لَا يُجْنِبُ } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ وَالتِّرْمِذِيُّ , وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dan Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Sebagian istri Nabi sholallhu ‘alahi wasallam, mandi di dalam benjana besar (wadah) lalu datanglah Nabi Sholallhu ‘alaihi wasallam akan berwudhu atau mandi dari padanya, maka sebagian istrinya berkata kepadanya : Ya Rasulullah sesungguhnya aku junub, maka Nabi bersabda :”Sesungguhnya air itu tidak dapan menjunubkan”. (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Nasai, dan At Tirmidzi, dan berkata At Tirmidzi hadist hasan)

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ , رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ

Dan dari Ibnu ‘Abbas : Bahwasannya Nabi Sholallhu ‘alahi wasallam adalah pernah mandi dengan air bekas Maimunah. (Riwayat Ahmad dan Muslim)

Hadist senada juga di riwayatkan oleh Ibnu majah dari Ibnu Abbas dari maimunah.

Ibnu Taimiyyah berkata “Para ulama menjadikan kemudahan bagi laki-laki menggunakan air bekas sisa perempuan yang berhadast, dan hadist-hadist yang berkaitan tentangnya lebih shahih. Tetapi Imam Ahmad dan Ishaq memakruhkannya apabila perempuan itu mandi sendirian, dan mereka membawa hadist maimunah itu, sebenarnya dia tidak mandi sendirian dengan mengkompromikan hadis Hakam dengan haidts maimunah.

[Lihat Nailul Authar]

Ibnul-Mundzir berkata :

روي عن علي وابن عمر وأبي أمامة وعطاء والحسن ومكحول والنخعي : أنهم قالوا فيمن نسي مسح رأسه فوجد بللا في لحيته : يكفيه مسحه بذلك ، قال : وهذا يدل على أنهم يرون المستعمل مطهرا

Diriwayatkan dari ‘Ali, Ibnu ‘Umar, Abu Umamah. ‘Atha’, Al-Hasan, Makhul, dan An-Nakha’i, bahwasannya mereka berkata : Barangsiapa lupa membasuh kepalanya lalu ia mendapati air yang membasahi jenggotnya, maka cukuplah ia membasuh kepalanya dengan air tersebut”. Ia (Ibnul-Mundzir) berkata lagi : “Hal ini menunjukkan bahwa mereka beranggapan air musta’mal itu mensucikan”.

Kesimpulannya : Air musta’mal itu suci lagi mensucikan.Wallaahu a’lam.

5 Responses

  1. apa yang kita lakukan ketika kita akan tayamum, sedangkan yang ada air musta’mal, apa kita menggunakan air tersebut atau kita melakuakan tayamum

  2. Assalamu’alaikum wbt,
    Anak saya telah membeli rumah yang pernah diduduki oleh seorang bukan Islam. Wajibkah dapur rumah ini disamak dan bagaimana menunaikannya?

    • wa’alaykumsalam warohmatulloh.

      Kalau dapur tersebut pernah digunakan untuk memasak, makanan yang harom, maka dibersihkan sebagaimana cara membersihkan najis. Tapi hal itu berkenaan dengan alat-alat dapurnya atau tempat yang anda tahu digunakan untuk memasak makanan yang harom, seperti babi dan lainnya.

      Selain itu saya belum mengetahui persoalan harus menyamak dapur. Dulu di zaman para shahabat juga, mereka sebelumnya belum masuk kepada Islam, lalu setelah masuk tidak pernah saya ketahui bahwa mereka harus menyamak dapur dan sebagainya.

      wallahu’alam bishawab.

  3. syukron informasinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: