Kisah Nabi yang Ujub (Perhatikan ini wahai ikhwah yang selalu membanggakan diri!!!)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Suhaib berkata, “Apabila  Rasulullah shalat, beliau membisikkan sesuatu yang tidak aku  mengerti dan tidak menjelaskan kepada kami. Beliau bertanya, ‘Apakah kalian memperhatikanku?’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Beliau  bersabda, ‘Sesungguhnya aku teringat salah seorang Nabi yang  memiliki pasukan dari kaumnya–dalam riwayat lain, ‘membanggakan umatnya’–Dia berkata,   ‘Siapa yang menandingi mereka? Atau siapa yang bisa melawan mereka? Atau ucapan seperti itu.’

Maka diwahyukan kepadanya, “Pilihlah satu dari tiga perkara untuk kaummu: Kami menguasakan musuh dari selain mereka atas mereka, atau kelaparan, atau kematian.” Maka Nabi itu bermusyawarah dengan kaumnya dan mereka berkata, “Engkau adalah Nabiyullah, engkau yang memutuskan. Pilihlah untuk kami.” Lalu dia mendirikan shalat setiap kali mereka sedang menghadapi urusan penting,  mereka mengatasinya melalui shalat. Maka dia shalat sesuai dengan kehendak Allah.

Nabi melanjutkan, “Kemudian dia berkata, ‘Ya Rabbi, adapun musuh dari selain mereka, maka jangan. Adapun kelaparan, maka jangan. Akan tetapi aku memilih kematian.’ Lalu kematian dikirim kepada mereka, dan yang mati di kalangan mereka sebanyak tujuh puluh ribu.

Nabi bersabda, “Bisikanku yang kalian perhatikan itu adalah aku berkata, ‘Ya Allah, dengan-Mu aku berperang, dengan-Mu aku melawan dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.”
TAKHRIJ HADITS

Syaikh Albani dalam Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah, 5/588, no. 2455. Dia berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad (6/16), Abdur Rahman bin Mahdi menyampaikan kepada kami, Sulaiman bin Al-Mughirah menyampaikan kepada kami dari Tsabit bin Abdur Rahman bin Abi Laila dari Suhaib berkata…

Aku berkata, “Sanad ini shahih di atas syarat Syaikhain, didukung oleh riwayat Ma’mar dari Tsabit Al-Bunani yang sejenis tanpa doa, yang di akhir hadits dan   riwayat lain dan tambahannya adalah tambahannya.” Dia menambahkan, “Dan jika dia menyampaikan hadits ini, dia pun menyampaikan hadits yang lain bahwa ada seorang raja dan raja itu memiliki seorang dukun…” Hadits selengkapnya.

Diriwayatkan oleh Tirmidzi (2/236-237). Diriwayatkan oleh Muslim (8/229-231) dan Ahmad dalam riwayatnya (1/16-17) dari jalan Hammad bin Salamah: Tsabit menyampaikan kepada kami tanpa hadits yang pertama, dan Tirmidzi berkata, “Hadits
hasan gharib.”

Aku berkata, “Dan sanadnya di atas syarat Syaikhain juga.”

Hadits ini disebutkan pula oleh Syaikh Nashir (Albani) dalam As-Shahihah (3/50), no. 1061. Dia berkata tentang takhrij-nya,”Diriwayatkan oleh Ibnu Nashr dalam Ash-Shalah (2/35). Ishaq bin Ibrahim menyampaikan kepada kami, Abu Usamah memberitakan kepada kami, Sulaiman bin Al-Mughirah menyampaikan kepada kami dari Tsabit Al-Bunani dari Abdur Rahman bin Abu Laila dari Suhaib, lalu dia menyebutkan haditsnya.

Aku berkata, “Ini adalah sanad shahih di atas syarat Syaikhain.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (4/333, 6/16) dari dua jalan yang lain dari Sulaiman bin Al-Mughirah dan dari jalan Hammad bin Salamah. Tsabit menyampaikan kepada kami hadits senada dengannya, dan di dalamnya terdapat tambahan bahwa shalat itu adalah shalat Subuh, dan berbisik itu terjadi sesudah shalat pada hari-hari perang Hunain. Dan Darimi meriwayatkan darinya (2/217)   ucapannya, “Ya  Allah, dengan-Mu aku  berusaha, dengan-Mu aku melawan, dan dengan-Mu aku berperang.” Dan sanad keduanya shahih di atas syarat Muslim.

PENJELASAN HADITS

Rasulullah memberitakan kepada kita di dalam hadits ini kisah tentang seorang Nabiyullah dengan umat yang besar jumlahnya dan tangguh. Dia melihat pemberian Allah ini dan takjub dengan apa yang dilihatnya. Dalam dirinya muncul kekaguman bahwa tidak ada yang mampu menghadapi umatnya, tidak ada yang bisa mengalahkannya.

Semestinya orang yang menduduki kursi kenabian tidak boleh bersikap demikian, karena ujub dengan diri sendiri atau dengan anak atau harta atau umat adalah penyakit yang buruk. Seorang mukmin dalam menghadang musuhnya tidak tertipu oleh bala tentaranya yang banyak, tidak kecut dengan bala tentaranya yang sedikit, karena kemenangan hanya dari Allah semata.

وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللَّه

“Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah.” (QS. Ali Imran: 126)

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِين

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249)

Kadangkala membanggakan jumlah yang besar justru menjadi penyebab kekalahan.

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِين

“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu pada waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu  tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)

Nabi ini dihukum pada kaumnya. Allah meminta kepadanya untuk memilih bagi    umatnya satu dari tiga perkara. Dikuasakannya    musuh dari selain mereka atas mereka atau kelaparan atau kematian.

Aku bertanya pada   diriku sendiri, rahasia apakah gerangan sehingga Nabi itu disuruh memilih satu dari tiga perkara. Maka aku mendapati bahwa satu dari tiga hal itu bisa melemahkan, bahkan melenyapkan kekuatan sebuah umat. Ia menghilangkan ujub yang ada di hati Nabi itu dan umatnya. Jika  Allah menguasakan musuh dari selain mereka atas mereka, maka musuh itu  akan   menghinakan dan merenggut kehormatan mereka. Jika kelaparan yang menimpa, maka kekuatan mereka lenyap dan mudah untuk dikalahkan. Jika mati, maka jumlah mereka berkurang.

Memilih satu dari tiga perkara adalah perkara yang membingungkan dan perlu pertimbangan yang matang. Nabi ini telah berunding dengan umatnya dan mereka    menyerahkan perkara itu kepadanya, karena dia adalah Nabiyullah. Para Nabi diberi petunjuk dan langkahnya adalah lurus.

Pilihan Nabi ini cukup tepat. Dia memilih kematian, bukan kelaparan atau kekuasaan musuh atas mereka. Jika seseorang yang hanya menimbang dengan tolak ukur dunia, niscaya dia memilih lain dari apa yang dipilih oleh Nabi itu.

Mungkin sebagian orang yang berpikiran dangkal berpendapat bahwa pilihan tepat adalah dikuasakannya musuh atas mereka, karena mereka akan tetap hidup walaupun musuh bisa saja membunuh sebagian dari mereka. Akan tetapi, Nabi ini tidak rela jika kaumnya dihina dan diinjak-injak. Dan pembunuhan tidak bisa terelakkan jika musuh mereka menguasai mereka. Kelaparan adalah perkara berat. Bisa jadi kelaparan menjadi penyebab kalahnya mereka dari musuh mereka, bahkan mungkin banyak yang mati karenanya.

Memilih kematian adalah memilih sesuatu yang pasti datang. Siapa yang hari ini tidak mati, maka dia akan mati besok atau lusa, tidak ada tempat berlari dan berlindung darinya. Nabi ini memilih kematian buat umatnya. Orang-orang yang kembali kepada Tuhan mereka diharapkan bisa diterima di sisi-Nya, dan orang-orang yang hidup sesudah mereka diharapkan bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada mereka. Bisa  jadi setelah mereka mati, Allah memberi ganti dalam jumlah yang banyak jika Dia berkehendak. Segala perkara berada di tangan Allah.

Nabi ini shalat. Begitulah para Nabi dan orang-orang shalih manakala      menghadapi perkara besar, mereka berdiri shalat. Maka dia shalat sesuai yang dikehendaki oleh Allah untuk shalat. Lalu Allah memberinya taufik untuk memilih perkara yang paling ringan. Dia berkata kepada Tuhannya, “Adapun musuh dari selain mereka, maka jangan. Kelaparan juga jangan, akan tetapi kematian.”

Kematian menyebar di kalangan mereka seperti api yang menyebar di hamparan rumput kering. Satu per satu wafat. Kematian menjemput dan membinasakan generasi   yang tumbuh. Dalam satu hari ada tujuh puluh ribu yang wafat. Akibat dari ujub yang ada pada Nabi ini kepada kaumnya sangatlah mengerikan. Rasulullah khawatir akibat seperti ini bisa menimpa para sahabatnya. Maka beliau berbisik setelah shalat, “Ya Allah, dengan-Mu aku berusaha, dengan-Mu aku melawan, dan dengan-Mu aku berperang.” Dan beliau mengingat kisah Nabi ini, maka beliau berdoa dengan doa seperti di atas kepada Allah, mengumumkan ketidakmampuan dan ketidakberdayaan serta hanya bergantung kepada kekuatan dan daya para sahabatnya. Dalam menghadapi musuh Nabi berpegang kepada Allah semata, tanpa selain-Nya. Hanya dari-Nya pertolongan dan kemenangan,dan tiada daya dan kekuatan kecuali hanya dengan-Nya.

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADITS

1. Rasulullah memberi pengertian kepada sahabat-sahabatnya tentang sebab-sebab kelemahan dan kebinasaan. Di antaranya adalah ujub terhadap diri.
2. Akibat ujub sangatlah mengerikan, sebagaimana yang terjadi pada umat Nabi tersebut. Hal itu karena ujub melemahkan tawakkal dan berpijak kepada Allah,  serta menjadikan seseorang hanya bergantung kepada sebab-sebab materi.
3. Hendaknya para pemimpin, para panglima dan para pengendali   urusan harus     waspada. Jangan sampai Allah menurunkan apa yang telah Allah timpakan kepada kaum Nabi ini. Pada zaman ini kita sering melihat dan mendengar banyaknya kekaguman para pemimpin dan panglima terhadap tentara dan pengikut mereka.
4. Bisa jadi sebab turunnya ujian adalah sesuatu yang samar, hanya diketahui oleh orang yang mengerti agama Allah. Musibah seperti ini bisa menimpa kaum shalih yang berjihad, sementara mereka tidak mengetahui darimana sebabnya.
5. Adanya umat yang baik dalam jumlah besar sebelum kita. Pada kalangan mereka terdapat orang-orang yang berperang dan berjihad di jalan Allah. Dalam rentang waktu yang pendek, jumlah orang yang mati mencapai tujuh puluh ribu orang.
6. Seorang muslim dianjurkan untuk melaksanakan shalat jika menghadapi       suatu perkara besar. Semoga Allah membimbingnya kepada pilihan yang paling lurus. Termasuk hal ini adalah Istikharah yang disyariatkan oleh Allah setelah dua rakaat.
7. Dalam perkara yang mengharuskan memilih, seorang muslim hendaknya tidak    tergesa-gesa. Dia harus bermusyawarah seperti yang dilakukan oleh Nabi ini. Dia harus memikirkan dengan matang, menimbang antara pilihan-pilihan yang ada. Dia harus berdoa kepada Allah agar memberinya taufik sehingga bisa memilih dengan benar.

[Diambil dari Shahih Qashash Syaikh Dr. Umar Al Asyqar Edisi Terjemah Indonesia Kisah-kisah Shahih Seputar Para Nabi dan Rasul, Terbitan Pustaka Elba, Surabaya]

Dari saya, kisah ini adalah sebuah kisah yang penuh hikmah, yang mana sekarang ini banyak sekali manusia yang bersifat ujub. Mereka bangga dengan diri mereka yang telah berinfaq, bersedekah, membantu orang, padahal hal itu akan mengakibatkan rusaknya amal. Bayangkan saja seandainya seorang yang beramal dengan pahala sebesar gunung, kemudian dia bangga dengan amalnya, maka sifat bangganya ini akan menjadi riya’, tidak ikhlas karena Allah, maka di hari akhir ia akan dapati amalannya bagai debu yang berterbangan.

Sebagaimana dengan sikap saudara-saudara kita di salah satu partai, mereka selalu menampakkan sifat ujub mereka, agar orang-orang yang diluar mereka mengatakan wah ini lho, wah dan wah. Mereka bangga telah menolong korban gempa sementara lainnya tidak menolong. Mereka bangga telah berdakwah di parlemen, mereka bangga telah berdakwah untuk anak-anak jalanan, mereka juga bangga telah begini begitu, juga bangga dengan pengikut mereka yang banyak. Mereka melakukan itu semua untuk pamer. Allhu Musta’an.

Saya pribadi menilai, orang-orang yang mengaku mengikuti salafush sholeh tidak perlu menampakkan amalan-amalan mereka, tidak perlu membanggakan diri. Boleh jadi apa yang mereka lihat tidak seperti apa yang mereka ketahui. Kenapa mereka harus bertanya kepada salafiyin, “Apa yang telah diperbuat oleh salafiyin? Apakah mereka terjun langsung ketika terjadi bencana? Apakah mereka telah terjun langsung ketika ada kristenisasi?”

Kita jawab, “Sesungguhnya amalan itu tidaklah untuk diperlihatkan.

Rosulullah bersabda: ”Tatkala Allah menciptakan bumi, bumi tersebut bergoyang-goyang, maka Allah pun menciptakan gunung-gunung kalau Allah lemparkan gunung-gunung tersebut di atas bumi maka tenanglah bumi. Maka para malaikatpun terkagum-kagum dengan penciptaan gunung, mereka berkata, ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhluk Mu yang lebih kuat dari gunung?” Allah berkata, “Ada yaitu besi”. Lalu mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhlukMu yang lebih kuat dari besi?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu api.”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk Mu yang lebih kuat dari pada api?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu angin” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada angin?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu seorang anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya lalu dia sembunyikan agar tidak diketahui tangan kanannya”. Diriwayatkan oleh Imam Ahamad dalam Musnadnya 3/124 dari hadits Anas bin Malik. Berkata Ibnu Hajar, ”Dari hadits Anas dengan sanad yang hasan marfu’” (Al-Fath 2/191).

Allah berfirman,

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِير

yang artinya:
“Jika kalian menampakkan sedekah kalian maka itu adalah baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir maka menyembunyikanya itu lebih baik bagi kalian. Dan Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian, dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan” (QS. Al-Baqoroh: 271).

Saya yakin salafiyin tidak perlu dipuji atas tindakan mereka. Salafiyin juga tidak perlu mendapatkan pujian atas tersembunyinya amal-amal mereka. Salafiyin juga tidaklah bangga atas apa yang telah mereka lakukan, ketika seseorang menanyakan apa yang sudah kita perbuat, maka tentu saja kita berbuat yang terbaik tanpa perlu diberitahukan. Kalau manusia memandang perlu untuk diberitakan, buat apa? Apakah dengan memberitahukan amalan seseorang itu akan mendapatkan nilai yang lebih dari Allah Azza Wa Jalla? Sementara Allah berfirman bahwasannya yang menyembunyikan amalan itu lebih baik?

Dengarlah wahai saudaraku yang duduk di parlemen, yang mereka berada di partai dan membanggakan partainya. Sesungguhnya amalan kepada Allah itu haruslah ikhlas dan bebas dari riya’ dan sifat ujub. Sebab kedua sifat itu akan menghapus apa yang telah kalian lakukan.”

Nasehat saya yang berikutnya adalah, bahwasannya mereka yang bangga akan jumlah, maka dalam kisah di atas ada peringatan besar. Jangan bangga terhadap jumlah yang lebih, sekali-kali jangan merasa bahwa jumlah kaum muslimin yang banyak itu adalah sumber kekuatan. Kekuatan itu nomor dua, yang nomor satu adalah kualitas iman yang ada di dalam hati. Apabila kualitas iman itu bagus, niscaya baguslah seluruh amalannya. Lihatlah bagaimana ketika Perang Badar, lihatlah bagaimana ketika Perang Yarmuk, jumlah umat muslim tidaklah sebanding dengan jumlah musuh yang ada. Makanya Khalid bin Al Walid radhiyallahu’anhum berkata, “Janganlah kalian jadikan jumlah sebagai penentu kemenangan, sesungguhnya kalian kalah akibat dari dosa-dosa kalian” (Al Bidayah Wan Nihayah)

Banyak sekali nash-nash baik di Al Qur’an dan As Sunnah bahwasannya banyaknya umat belum tentu menjadi sebab kemenangan, justru yang menjadi kemenangan adalah mereka yang di dalam hatinya imannya benar, dan karena iman mereka benar niscaya Allah akan menurunkan pertolongan dan ini adalah janji Allah. Buat apa kalian wahai saudaraku yang masuk partai memikirkan jumlah sementara hati-hati kalian masih dipenuhi bid’ah, khurafat dan takhayul? Apakah mau bersatu di atas aqidah yang amburadul, campur aduk dan tidak sesuai aqidah yang benar? Sungguh peristiwa perang Uhud ataupun perang Hunain adalah sebuah gambaran yang jelas bahwasannya ketika umat tidak sempurna imannya, tidak mengikuti Allah dan Rasul-Nya maka Allah tidak akan menolong mereka. Kalau hal ini tidak difahami oleh setiap muslim, niscaya percuma saja perjuangan kalian membentuk partai, kemudian mengatakan partai hanyalah sarana yang penting dakwahnya. Tidak perlu seseorang berdakwah untuk menasehati orang yang gemar berzina dengan ikut mendirikan pelacuran atau lokalisasi, atau tidak perlu juga untuk menasehati orang yang berjudi harus menyediakan meja untuk berjudi kemudian berdakwah di tengah perjudian. Rasululloh Shallallahu’alaihi wa salam adalah sebaik-baik contoh. Lihatlah bagaimana beliau tidak mengikuti atau membantu kesyirikan, atau membantu orang-orang menuangkan arak di saat kaum kafir Quraisy mabuk, pernahkah ada nash rasululloh shallallahu’alaih.i wa sallam membantu kesyirikan kaum kafir ataupun membantu menuangkan minuman seseorang untuk mabuk lalu berdakwah? Padahal kala itu umat beliau masih sedikit dan lemah. Sama seperti kita, di negara yang dipenuhi orang-orang liberal, sekuler dan nasionalis, perlukah dakwah itu dengan mendukung mereka?

Islam sesungguhnya agama yang mulia, bersih dari segala jenis kekufuran. Demokrasi jelas kekufuran. Dan orang yang mengatakan bahwa Demokrasi adalah salah satu jalan untuk meraih kemenangan, maka dia telah menyalahi nash-nash yang ada, dia melesat jauh dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya.

Kesimpulannya, karena sifat ujub mereka melakukan hal-hal yang baik di dalam partai mereka, tidak bermanfaat sama sekali. Dan sekali lagi ujub bisa merusak amal, bisa merusak pahala dan mendatangkan kekalahan bagi kaum muslimin. Kalau ingin kaum muslimin menang, maka sempurnakan iman di hati mereka. Hanya itu sajalah yang bisa mengantarkan manusia menuju kemenangan, sebab setelah iman itu sempurna, maka sudah pasti Allah selalu menepati janji, yaitu dengan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong dirinya sendiri. Yaitu dengan cara menyempurnakan iman mereka, menegakkan dien di dalam hati mereka. Dan tidak ada cara lain selain menuntut ilmu syar’i, memahaminya, beramal, dan mendakwahkan. Inilah jihad yang ada ketika belum dikumandangkan jihad oleh Ulil Amri.

Wallahua’lam bishawab

[Ditulis oleh Abu Aisyah Al Kediri pada waktu shubuh, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, keluarganya, dan kaum muslimin]

2 Responses

  1. Jazakallah, smoga kita trhindar dari sifat ujub. Krna sesungguhnya man

  2. […] Ini tulisan recycle dari blog saya yang lain […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: