Partai dan Masuk Parlemen itu Hanyalah sebagai Sarana Dakwah?

Alhamdulillah. Washolatu wa ‘alaa rasulillahi wa ‘alaa ‘alihii wa ash habihi waman tabi’ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma Ba’du.

Dalam syari’at Islam, Allah dan Rasul-Nya mengajarkan Al Wara’ wal Bara’. Yaitu loyalitas terhadap kaum muslimin dan berlepas dirinya kaum muslimin kepada orang kafir. Allah mengajarkan bahwa kita sebagai umat muslimin, harus secara kaffah menjadi muslim. Menjauhi sifat-sifat orang kafir, orang musyrik, baik dalam hal iman, aqidah, perbuatan, pakaian dan sifat-sifat yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang kafir. Alasannya sangat sederhana, karena mereka tidak menegakkan kalimatullah, justru apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik adalah menjatuhkan kalimatullah. Inilah yang menjadi dasar kita tidak boleh tasyabuh kepada orang kafir. Demikian juga kita tidak boleh mengikuti ideologi atau cara berfikir mereka dalam masalah yang besar, seperti masalah negara, masalah umat, sebab masalah negara dan masalah umat adalah masalah besar yang menyangkut jiwa kaum muslimin, hak-hak kaum muslimin, dan juga harta-harta kaum muslimin, yang mana darah dan harta mereka haram.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Rasululloh Shalalllahu’alaihi wa salam bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari golongannya”’ [HR. Abu Dawud dengan sanad jayyid . Lihat juga Jami’ush Shahih Syaikh Al Albani 2831 dan 6149]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِين

artinya:”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” [Q.S. Al Maidah: 51]

Abdullah bin ‘Amr berkata: “Barangsiapa membangun rumah di negeri kafir, membuat tempat ibadah mereka serta menyerupai mereka, sampai mati maka dibangkitkan bersama mereka pada hari kiamat” [telah dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Sunanul Kubra (9/2334)]

Kita semua tahu, setiap orang juga tahu bahwa Demokrasi bukanlah berasal dari Islam, demokrasi adalah alat orang kafir untuk memimpin diri mereka. Demokrasi Islam apalagi, ini hanyalah buatan orang-orang muta’akhirin yang mana mereka jauh dari As Sunnah, dan istilah demikian tidak pernah disebut-sebut sebelumnya, baik ketika zaman generasi-generasi awal ataupun jauh setelah itu. Padahal para ulama juga sudah mengetahui tentang filsafat-filsafat yang menyebar dari Yunani. Dan memang asal dari Demokrasi ini adalah dari Yunani, di mana saat itu negeri ini dipenuhi animisme dan dinamisme, kemusyrikan adalah pondasi negeri ini.

Kita sering mendengar saudara-saudara kita di PKS berkata, “Kami mendirikan partai, mengikuti parlemen hanyalah sebagai sarana. Bukan tujuan utama. Kami melakukan ini untuk menolong umat, sebab banyak permasalahan-permasalahan umat yang sangat urgent. Kalau tidak ada orang muslim yang ada di parlemen, lalu bagaimana agama Islam bisa ditolong, bagaimana juga umat bisa ditolong?”

Demokrasi sekarang ini disanjung dan dijunjung seperti sebuah cara untuk menyelamatkan sebuah negara. Dulu pada awal-awalnya berdakwah, PKS tidaklah menyebutkan bahwa Demokrasi bagian dari mereka. Dan benar, dulu mereka benar-benar tegas dalam berdakwah memerangi bid’ah, kekufuran dan kemusyrikan. Mereka sangat tegas, bahwasannya tidak ada Demokrasi dalam Islam, mereka mendirikan partai Islam hanyalah sebagai sarana untuk mendirikan khilafah Islamiyah. PKS yang sekarang?

Sebenarnya PKS dari dulu sampai sekarang tidak ada perubahan, namun yang sekarang mereka ingin lebih moderat daripada sebelumnya. Kalau dulu mereka tidak merangkul orang-orang liberal, orang-orang kafir, orang-orang nasionalis ataupun ahli bid’ah pembenci wahabi, tapi sekarang mereka ingin merangkul seluruh golongan. Akibatnya ada statemen yang sangat aneh dari PKS, bahwa mereka bukan wahabi.

Jadi dari sini ada 2 poin yang akan kita bahas. Yaitu: 1. Partai hanyalah sebagai sarana untuk berdakwah, ikut berpolitik di dalamnya dan takluk terhadap hukum-hukum di dalamnya. 2. Merangkul seluruh golongan baik dari kaum muslimin maupun yang selainnya, dan tidak menisbatkan diri pada jalan yang benar.

Jawaban dari Syubhat PKS

Syaikh Muhammad Nasiruddin Al Albani rahimahulloh dalam Madharikun Nadhar memberikan jawaban seperti berikut dalam masalah mengikuti pemilu (parlemen)

Pertanyaan pertama: Bagaimana hukum syar’i mengenai pemilu (parlemen) yang akan kami ikuti dalam rangka usaha mendirikan negara Islam atau khilafah Islam?

Jawab: Suasana paling membahagiakan kaum muslimin di negeri mereka ialah ketika bendera Laa Ilaaha Illallah dikibarkan dan hukum Allah dijalankan. Sudah barang tentu setiap muslim menurut kemampuan masing-masing harus berjuang menegakkan negara Islam yang berdasarkan hukum Allah dan sunnah Rasul-Nya menurut manhaj Salafus Shalih. Sudah diyakini oleh setiap cendekiawan muslim bahwa hal itu hanya bisa diwujudkan dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.

Sebagai langkah pertama, para ulama hendaklah melaksanakan dua perkara penting berikut ini:

Pertama, Mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada kaum muslimin di lingkungannya. Alternatif satu-satunya adalah membersihkan ilmu yang mereka warisi dari para pendahulu dari segala bentuk syirik dan ajaran paganisme yang telah membuat mayoritas umat Islam sekarang tidak lagi memahami makna kalimat Laa ilaaha illallah. Kalimat thayyibah ini memberi konseksuensi wajibnya mengesakan Allah dalam beribadah hanya kepada-Nya semata tiada sekutu bagi-Nya. Tidak meminta bantuan kecuali kepada-Nya, tidak menyembelih kecuali untuk-Nya dan tidak bernadzar kecuali karena- Nya. Dan menyembah-Nya hanya dengan tata-cara yang telah disyariatkan oleh Allah melalui lisan Rasul-Nya, itulah konsekuensi kalimat syahadat Muhammadur Rasulullah.

Sebagai konsekuensinya, para ulama harus membersihkan kitab-kitab fiqih dari pendapat-pendapat dan ijtihad-ijtihad yang bertentangan dengan sunnah Nabi, agar ibadah mereka diterima oleh Allah. Mereka juga harus membersihkan sunnah Nabi dari hadits-hadits dhaif dan maudlu’ yang sejak dahulu telah disusupkan ke dalamnya. Mereka juga harus membersihkan tingkah laku dan etika menyimpang yang terdapat dalam ajaran tarikat-tarikat sufi, misalnya berlebih-lebihan dalam ibadah dan kezuhudan dan masalah-masalah lain yang bertentangan dengan ilmu yang benar.

Kedua, hendaklah mereka mendidik diri sendiri, keluarga dan kaum muslimin di lingkungan mereka dengan ilmu yang benar. Dengan demikian, ilmu mereka akan berguna dan amal mereka akan menjadi amal yang shalih, seperti yang difirmankan Allah:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa”. Barangsiapa rnengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang salih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-rr.ya “. (QS. Al-Kahfi : 110)

Bila terdapat segolongan kaum muslimin yang melaksanakan gerakan tashfiyah dan tarbiyah yang disyariatkan ini, niscaya tidak akan ada lagi di tengah mereka orang-orang yang mencampuradukkan cara-cara syirik dengan cara-cara syar’i. Karena mereka memahami hahwa Rasulullah telah membawa syariat yang paripurna, lengkap dengan pedoman dan wasilahnya.

Salah satu pedoman tersebut adalah larangan menyerupai orang- orang kafir, misalnya mengambil metode dan sistem mereka yang sejalan dengan tradisi dan adat mereka. Sebagai contoh, memilih pemimpin dan para anggota parlemen melalui pemungutan suara. Cara-cara seperti ini sejalan dengan kekufuran dan kejahilan mereka yang tidak lagi membedakan antara keimanan dan kekufuran, antara yang baik dan yang buruk, antara laki-laki dan perempuan, padahal Allah telah berfirman:

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينمَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُون

Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir) ? Mengapa kamu (berbuat demi­kian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan? (QS. Al-Qalam 35-36)

Dan Allah berfirman:

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى

“Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. ” (QS. Ali Imran 36)

Demikian pula, mereka mengetahui bahwa dalam usaha menegakkan negara Islam, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam mengawalinya dengan dakwah tauhid dan memperingatkan mereka dari penyembahan­-penyembahan thaghut. Lalu membimbing orang-orang yang menyambut dakwah beliau di atas hukum-hukum syar’i, sehingga kaum muslimin merasa bagaikan tubuh yang satu. Bila salah satu anggota tubuh merasa sakit maka seluruh tubuh turut merasakan demam dan tidak dapat tidur. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih. Tidak ada lagi di tengah mereka orang-orang yang terus-menerus melakukan dosa besar; riba, zina dan mencuri kecuali segelintir orang saja.

Barangsiapa benar-benar ingin mendirikan negara Islam, jangan-lah ia mengumpulkan massa yang pemikiran dan perilakunya saling bertentangan satu sama lain, seperti yang dilakukan oleh partai-partai Islam dewasa ini. Namun terlebih dahulu harus menyatukan pemikiran dan paham mereka di atas prinsip Islam yang benar, yakni berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah di atas pemahaman Salafus Shalih seperti yang telah diuraikan di atas, saat itulah berlaku firman Allah:

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُون بِنَصْرِ اللَّه

Dan di hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman, dengan pertolongan Allah (QS. Ar- Ruum : 4-5)

Siapa saja yang menyimpang dari metode tersebut dalam mendirikan negara Islam dan mengikuti metode orang kafir dalam mendirikan negara mereka, maka perumpamaannya seperti orang yang berlindung dengan pasir yang mendidih dari panasnya api! Cara semacam itu jelas salah -jika tidak boleh disebut dosa- karena menyalahi petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam dan tidak menjadikan beliau sebagai contoh teladan. Sedang Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahrnat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)

Selesai kata Syaikh.

Dari apa yang dijelaskan beliau dapat kita ambil banyak catatan. Antara lain setiap firqoh menginginkan berdirinya negara Islam, berdirinya khalifah Islamiyah. Inilah yang diperjuangkan oleh Hizibiyin. Mereka berusaha mendirikan khilafah Islamiyah, namun cara yang mereka tempuh bermacam-macam. Walaupun bermacam-macam, namun dari tindakan mereka ada 3 golongan, yaitu:

1. G olongan yang bergerak aktif, yaitu mereka memakai banyak cara untuk menegakkan khilafah, antara lain mengikuti parlemen, berdemo dan sebagainya.

2. Golongan yang berikutnya adalah mereka menuntut ilmu, beramal dan berdakwah, baik kepada umat muslim, orang kafir maupun penguasa.

3. Golongan yang berikutnya mereka pasrah terhadap apa yang terjadi. Mereka tidak mengikuti jalan golongan pertama dan kedua. Mereka berpendapat dengan memperbanyak ibadah Allah akan meridhoi mereka, sebab yang mereka cari adalah ridho Allah. Kalau Allah telah meridhoi mereka, maka Allah akan berikan apapun yang mereka mau.

Golongan Ikhwanul Muslimin ini ada di golongan yang pertama. Sebab mereka menggunakan cara-cara yang tidak syar’i, dan menurut ijtihad mereka dengan mengikuti parlemen adalah salah satu cara untuk segera mendirikan khilafah dan juga untuk menolong umat, serta jihad di jalan Allah. Sedangkan mereka mencela jalan yang dijalankan oleh golongan kedua dan ketiga.

Golongan ketiga kebanyakan dihuni oleh thoriqat-thoriqat shufiyyah, ataupun golongan mu’tazilah, yang mana mereka benar-benar tidak ada andil dan upaya untuk memperjuangkan Islam selain beribadah dan mempelajari filsafat dan tasawuf-tasawuf. Mereka lebih menggunakan akal, dan lebih menggunakan kata hati mereka dalam beribadah. Apabila menurut akal pas dan apabila mereka merasakan hati mereka pas, mereka akan mengambilnya.

Makanya itu kajian-kajian shufi lebih banyak tentang manajemen qolbu, ataupun tentang masalah-masalah amalan berpahala, berdzikir dengan jumlah tertentu, hari-hari tertentu, shalawat-shalawat tertentu yang semuanya adalah bid’ah. Adapun mu’tazilah, lebih mengkaji ayat-ayat sesuai dengan akal mereka, sebenarnya hampir ada kesamaan, bedanya adalah kaum mu’tazilah lebih berpikir secara logis, namun kaum shufi lebih ke arah hati.

Sedangkan golongan kedua adalah golongan moderat. Golongan ini tidaklah beramal tanpa ilmu, tidaklah berdakwah melainkan dakwah yang benar, dan berusaha di atas sunnah. Makanya itu sungguh berbeda dengan golongan pertama dan golongan ketiga.

Asy Syaikh menjelaskan apabila ingin menegakkan kalimat laailaahaillallah maka seseorang harus benar-benar menegakkan kalimat itu di dalam hati mereka. Dan cara ini mustahil ditempuh tanpa di dasari dengan ilmu. Menegakkan sunnah, meninggalkan khurafat, bid’ah dan takhayul, berlepas diri dari faham-faham filsafat, liberal, dan orientalis. Artinya berlepas diri dari orang-orang kafir, sifat-sifat mereka, pemikiran-pemikiran mereka yang mana semuanya tidak sesuai dengan syari’at Allah dan Rasul-Nya.

Maka dari itu kita timbang sekarang apa yang telah dilakukan saudara-saudara kita dengan apa yang dikatakan oleh Syaikh.

Tujuan dari didirikannya partai itu sendiri adalah untuk mengumpulkan masa, yang tentu saja masa disini bisa siapapun, orang yang aqidahnya bagus, orang ahli maksiat, orang ahli bid’ah, orang kafir dan seterusnya. Bisa jadi juga para ulama, orang alim, orang jumud, orang jahil dan lainnya. Mereka semua dalam satu wadah demi satu tujuan partainya. Kalau memang ini yang diinginkan maka sudah jelas hal ini akan mengakibatkan perpecahan di dalam tubuh partai tersebut. Walaupun mereka mengatakan bahwa perbedaan adalah rahmat, justru kalau perbedaan aqidah disatukan di dalam satu ruang lingkup maka akan terbentur antara satu kepentingan dengan kepentingan yang lain.

Tujuan mereka benar-benar mulia, namun cara yang mereka lakukan sungguh jauh dari apa yang disunnahkan, dari apa yang diajarkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa salam. Mereka meniru cara-cara yang dilakukan oleh orang-orang kafir, mereka meniru adat istiadat mereka dengan memungut suara, yang mana Islam tidak mengajarkan hal ini dan bahwasannya hal ini kerusakannya lebih besar daripada manfaatnya. Namun sampai sekarang banyak orang yang tidak sadar terhadap ini semua. Sebagian orang-orang dari kalangan yang awam terhadap masalah dien, tentu mereka akan menganggap bahwasannya demokrasi adalah sebuah cara yang paling baik. Demokrasi mendengarkan seluruh aspirasi rakyat, mengajak seluruh rakyat ikut serta dalam pemilihan pemimpin. Orang-orang yang awam seperti ini tentu saja pendapat mereka bisa diterima dengan akal, sebab mereka belum faham terhadap masalah dien. Kita akan bahas.

Mereka berpendapat bahwasannya rakyat punya andil dalam menentukan nasib negara. Dengan memilih pemimpin ataupun calon legislatif yang mewakili mereka di parlemen, sehingga aspirasi mereka bisa tersampaikan. Dan juga dengan memilih pemimpin dengan pemungutan suara bisa menyalurkan aspirasi mereka dalam berpendapat dan juga hak-hak mereka dalam bersuara.

Sungguh Islam telah mengajarkan bagaimana caranya menyampaikan pendapat dengan benar, Islam juga telah mengatur segala hal. Hanya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan orang-orang jahil saja yang mengatakan Islam tidak mengatur dalam masalah mengeluarkan pendapat. Banyak contoh dari jaman shahabat, tabi’in, ataupun tabi’ut tabi’in dan generasi salaf sesudahnya, bahwasannya orang-orang yang tidak punya pengetahuan terhadap suatu masalah, mereka sama sekali tidak bersuara, sebab Allah telah berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُون

artinya: “Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu apabila kamu tidak mengetahui” [Q.S. An Nahl: 43]

Dengan landasan ayat ini, maka setiap insan yang tidak mempunyai pengetahuan terhadap sesuatu dilarang berfatwa ataupun berkata terhadap hal-hal yang mereka tidak mengetahuinya. Inilah jalan yang lurus. Dan orang-orang yang duduk di pemerintahan, yang duduk di legislatif, haruslah orang-orang yang berilmu, yang faham terhadap masalah dien, masalah pemerintahan, hudud dan berbagai hukum untuk menjelaskan segala sesuatu. Dan apabila rakyat ingin mengeluarkan pendapat mereka, maka mereka harus mengeluarkan pendapat mereka dengan cara yang paling baik, yaitu bertanya kepada orang yang lebih tahu dan faham terhadap masalahnya.

Sedangkan cara pemilihan yang sekarang ini dilakukan oleh manusia, bukanlah cara memilih pemimpin yang diajarkan oleh syari’at. Syari’at tidak pernah mengajarkan untuk menunjuk pemimpin. Berkali-kali di Al Qur’an diceritakan yang memilih pemimpin adalah ahlu ‘ad wal ‘aql dan juga para ulama. Merekalah yang mempunyai kredibilitas untuk memberitahu pemimpin-pemimpin yang paling baik untuk dijadikan pemimpin, bukan dengan cara memilih, bukan dengan cara memungut suara. Adapun pemungutan suara yang dilakukan oleh orang-orang sekarang ini mereka mencampur adukkan seluruh pendapat dari orang-orang yang diperbolehkan kesaksiannya, tidak diperbolehkan bersaksi bahkan yang tidak boleh diajukan pendapatnya. Mereka mengambil pendapat dari orang-orang fasik, orang-orang jahil, orang-orang munafiq, kafir, muslim, dan setiap pendapat orang-orang seperti ini dihargai sama dengan pendapat para ulama. Hingga akhirnya para ulama yang dikatakan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa salam sebagai pewaris para nabi, sebagai orang yang selalu dimintai pertanyaan terhadap suatu masalah tiada artinya.

Coba anda nilai sendiri, nilai pendapat seorang pemabuk disamakan dengan nilai pendapat seorang Syaikh seperti Syaikh bin Baaz, Syaikh Al Albani, ataupun yang kalau sekarang ini masih ada disamakan dengan pendapat Imam Bukhari. Padahal nilai seorang Imam Bukhari itu lebih daripada satu juta manusia yang ada sekarang ini. Dan sejak dulu para ulama pun sudah mengetahui tentang demokrasi ini, terbukti dulu filsafat-filsafat Yunani sudah masuk ke jazirah arab ketika masa tabi’in. Dan tentu saja hal mengenai demokrasi ini pun sudah mereka ketahui. Tapi mereka tidak memakainya dikarenakan sistem demokrasi ini lebih banyak pintu-pintu kerusakannya daripada pintu-pintu manfaatnya.

Garis besarnya adalah, demokrasi terdapat banyak kerusakan. Diantara kerusakannya sangat banyak, yaitu:

1. Kedustaan atau ingkar janji. Banyak orang-orang yang berkampanye akan melakukan ini dan itu tapi ternyata setelah jabatan itu diraihnya ia tidak amanah.

2. Korupsi. Akan terjadi banyak sekali para peserta politik melakukan korupsi, sedangkan korupsi adalah sebuah dosa besar.

3. Suap. Akan banyak orang yang menyuap seseorang hanya untuk memilihnya.

4. Kemunafikan. Bermuka dua, memang sudah menjadi ciri khas dalam berpolitik. Tidak ada di dalam demokrasi itu orang yang tidak memilih bermuka dua. Sehingga dari luar mereka sepertinya baik, tapi ternyata di dalam hati mereka busuk.

5. Terbukanya pintu-pintu kesyirikan, kemurtadan dan zindiq. Sebab orang-orang yang mengikuti sosok figur tertentu mereka akan menyanjungnya, dan yang lebih parah partai-partai dari agama tertentu akan menyebarkan ajarannya, ataupun partai-partai dari orang-orang quburiyun akan mengajarkan kesyirikan mereka, dan orang-orang zindiq akan mengajarkan kebodohan mereka.

6. Membuka pintu-pintu syahwat dan menghalalkan segala cara. Tidak bisa kita pungkiri bahwasannya ada isu-isu yang beredar kalau para tokoh politik ada yang membeli wanita untuk mereka tiduri. Dan juga dalam beberapa waktu lalu saja di beberapa koran beredar berita dan faktanya adalah mereka mabuk-mabukan di ruang sidang, sambil menyewa wanita untuk berdangdutan. Na’udzubillah.

7. Akan banyak perpecahan yang terjadi di kalangan kaum muslimin sendiri. Sebab antara partai satu dengan yang lainnya tidak bersatu, mereka mempertahankan ideologi mereka, mereka mempertahankan golongan mereka, sehingga kaum muslimin berpecah belah, padahal berpecah belah itu adalah sifat kaum musyrikin. Allah berfirman:

وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِين مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُم

artinya: “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrikin, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan” [Q.S Ar Ruum:31-32]

Dan masih banyak yang lainnya. Syaikh ‘Abdul Majid bin Mahmud Ar Raimi membahas dalam bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul 50 Indikasi Desktruktif Pemilu dan Demokrasi. Dan mustahil saya tulis secara lengkap di sini.

Dan kemudian jawaban dari kaum pencinta demokrasi ini ada. Jawaban mereka, “Tidak seluruh partai itu dusta, korupsi, suap, dan munafik. Pilihlah partai yang tidak melakukan hal-hal tersebut”.

Kalau tujuan partai, dengan masuk ke parlemen itu adalah tujuannya untuk menegakkan kalimatulloh dengan cara yang haq, yaitu memberantas kesyirikan, memberantas khurafat, memberantas takhayul, liberalis, orientalis, sosialis, serta menjadikan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai dasar mereka, dan mereka benar-benar memperjuangkan itu maka cara yang mereka lakukan itu adalah benar. Tapi yang ada sekarang, tiada satupun partai yang memperjuangkan ini. Yang kita lihat mereka tetap berbuat bid’ah, mereka tetap membiarkan kesyirikan merajalela, mereka tidak menegakkan kalimatulloh, bahkan mereka terkesan seakan-akan membiarkan. Tidak mengajak manusia untuk memahami ilmu, tidak mengajak manusia untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah.

Aneh sekali memang, disaat mereka menggembar-gemborkan untuk tidak meniru dunia barat, disaat mereka memboikot Amerika, justru adat-istiadat amerika tetap mereka pakai, seperti maulid, haul, pemungutan suara dan sebagainya. Ini semua adalah adat orang-orang ahli kitab, dan mereka memakainya, mengerjakannya.

Apabila ingin tegak Islam, maka harus kembali kepada ajaran para salafush sholeh, yaitu menyatukan ideologi umat, menyatukan manhajnya, menyatukan cara berfikir mereka, menyatukan aqidah mereka, sehingga apabila dalam hal-hal ini mereka bersatu, Insya Allah akan tegak Islam itu di negeri ini. Dan hal ini mustahil dilakukan kalau manusia itu tidak menegakkan Islam di dalam dada mereka. Mustahil mereka itu berhasil melakukannya kalau manusia masih jauh dari Islam, masih bergelimang dengan kemaksiatan, dan masih diselimuti oleh kebodohan.

Sesungguhnya Islam ini mulia, dan hanya akan berdiri dengan cara yang mulia. Yaitu dengan cara yang telah ditempuh oleh nabi-nabi terdahulu, dan juga yang lebih utama dengan cara yang ditempuh oleh Muhammad Shallallahu’alaihi wa salam. Caranya tidak lain adalah dengan menuntu ilmu syar’i, beramal dan berdakwah serta istiqomah di atas jalan yang lurus. Inilah sebaik-baik jalan. Inilah jalan yang akan mengantarkan mereka kepada keselamatan bukan jalan yang akan mengantar mereka kepada kebinasaan.

Kita lihat sekarang ini saudara-saudara kita yang duduk di parlemen. Betapa mereka berbuat yang sia-sia. Memperjuangkan hukum yang bukan hukum Allah, tidak berusaha memperbaiki tapi tunduk terhadap hukum-hukum tersebut. Tidak berusaha untuk mendakwahi tiap manusia baik yang muslim maupun yang kafir, tapi mereka diam saja ketika duduk di kursi kebanggaan mereka. Yang menjadi pokok tujuan mereka tiada lain adalah mencari kekuasaan untuk kemudian mendirikan yang dinamakan khilafah Islamiyah. Cara ini jelas tidak sesuai dengan cara yang syar’i.

Pernah suatu ketika rasululloh shallallahu’alaihi wa salam diberikan tiga hal agar beliau berhenti untuk berdakwah, yaitu harta, wanita, atau kedudukan yang mulia di para pembesar Quraisy. Namun beliau menolaknya. [Diriwayatkan oleh Abu Ya’la no. 1818, Abdun bin Humaid dalam Al-Muntakhab no. 1141, Abu Nu’aim dalam Dalaailun-Nubuwwah no. 182. ]

Dari riwayat ini kita bisa mendapatkan sebuah pelajaran yang agung, hikmah yang besar. Bahwasannya rasululloh shallallahu’alaihi wa salam seandainya beliau memilih harta, maka sia-sia saja dakwah beliau, namun beliau dikukuhkan dan diteguhkan di atas jalan as sunnah untuk tidak memilihnya. Sebab beliau tidak butuh harta untuk berdakwah. Kemudian juga wanita, rasululloh shallallahu’alaihi wa salam tidak membutuhkan wanita yang menjadi tujuannya berdakwah. Sebab justru wanita akan membuat dakwah beliau lemah. Sedangkan kedudukan, beliau tetap menolaknya.

Seandainya kita secara logis berpikir tentang poin yang ketiga, kenapa rasululloh shallallahu’alaihi wa salam menolak untuk diberikan kedudukan, padahal seandainya beliau memperoleh kedudukan tentunya beliau akan dengan mudah mendekati pembesar-pembesar Quraisy, dan juga dengan mudah juga beliau bisa mengajak orang-orang yang ada di bawah beliau, namun beliau tidak menerimanya, beliau faham, bahwa dakwah yang paling mulia adalah dakwah yang dimulai dari bawah. Dari masyarakat.

Itulah mengapa beliau berjuang selama lebih dari 13 tahun di Makkah berdakwah menegakkan aqidah. Beliau sampaikan tauhid, beliau sampaikan ayat-ayat ancaman, beliau menerima wahyu yang berisi memperbaiki akhlaq, manhaj dan aqidah para shahabat, sehingga ketika setelah memiliki kekuatan beliau siap untuk melangkah ke arah yang lebih tinggi daripada itu. Dan tingkatan-tingkatan jihad rasululloh shallallahu’alaihi wa salam ini telah dijelaskan oleh Al Imam Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah rahimahulloh dalam kitab beliau Za’adul Maad. Yaitu dimulai kenapa dan alasan apa rasululloh shallallahu’alaihi wa salam tidak membalas perlakuan kaum kafir, dan juga kenapa rasululloh shallallahu’alaihi wa salam menolak ketika diberikan kedudukan. Semata-mata karena beliau faham bahwa apabila beliau menerima kedudukan, maka niscaya tidak akan ada orang yang akan mengikuti beliau dengan ikhlas. Beliau adalah seorang rasul yang menerima wahyu Al Qur’an, dan apabila beliau diberi kedudukan kemudian menerima, maka akan disibukkan diri beliau dengan kedudukannya.

Hal ini kita bisa lihat sekarnag, bagaimana orang-orang yang sudah diberikan kedudukan di parlemen. Apakah mereka mengurus umat? Apakah mereka masih lanjut berdakwah? Dalam skala prioritas, ketika mereka berjuang di bawah, mungkin persentase mereka berdakwah 80-90 persen, namun ketika mereka sudah di parlemen, sudah dapat kedudukan mereka sedikit sekali dalam masalah berdakwah. Ini disebabkan beberapa faktor:

1. Mereka tidak tunduk lagi kepada Al Qur’an dan lebih mendahulukan thoghut.

2. Mereka tidak lagi ingat bagaimana perjuangan mereka ketika di bawah dulu, ketika mendakwahi orang-orang dengan ikhlas.

3. Mereka disibukkan mengurus harta mereka yang diperoleh dari hasil gaji mereka, mereka disibukkan oleh pekerjaan mereka yang menumpuk, dan mereka lupa bahwa sekalipun sudah ada di atas dakwah tetap berjalan.

4. Mereka disibukkan oleh orang-orang yang memusuhi mereka di parlemen, sehingga konsentrasi mereka terpecah antara mengurusi yang bawah dan yang atas. Memerangi gesekan-gesekan yang terjadi di antara mereka.

5. Mereka masih menggunakan metode berdakwah seperti ketika mereka ada di bawah. Yaitu ketika mereka melihat kesyrikan masih dibiarkan, melihat bid’ah masih dibiarkan, dengan dalih bahwa umat belum faham dengan ilmu dan mereka tidak punya kekuatan. Padahal sudah menjadi kewajiban mereka yang telah mempunyai kedudukan dan kekuasaan untuk berdakwah dengan tangan, tidak lagi dengan lisan ataupun hati. Akhirnya mereka tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan lahirlah pemimpin-pemimpin yang menzhalimi rakyat. Dan Allah murka kemudian menimpakan adzab kepada rakyat dan negara, dikarenakan mereka tidak berammar ma’ruf nahi mungkar.

Kembali kepada kedua pertanyaan sebelumnya.

1. Partai hanyalah sebagai sarana untuk berdakwah, ikut berpolitik di dalamnya dan takluk terhadap hukum-hukum di dalamnya.

2. Merangkul seluruh golongan baik dari kaum muslimin maupun yang selainnya, dan tidak menisbatkan diri pada jalan yang benar.

Secara tersirat jawaban dari dua pertanyaan itu sudah terjawab di atas. Bahwa menjadikan partai sebagai sarana berdakwah adalah salah. Dan ikut berpolitik di sebuah sistem yang tidak syar’i tidak dibenarkan oleh syari’at, sebab kerusakan-kerusakannya lebih besar dari manfaat yang diterimanya, sebab bercampurnya antara sistem thoghut dan sistem Islam, namun yang dimenangkan tetap sistem thoghutnya. Dan mustahil seseorang yang sudah di parlemen untuk tidak tunduk terhadap hukum-hukum buatan manusia.

Merangkul seluruh golongan yang tidak semanhaj dan seaqidah, akan menyebabkan kehancuran, dan perpecahan, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Asy Syaikh Muhammad Nasirudin Al Albani rahimahulloh di atas. Jadi, masihkah anda menganggap bahwa partai hanyalah sarana dakwah saja? Dan masihkah berusaha untuk merangkul seluruh golongan daripada mendakwahi mereka dulu agar manhaj mereka benar?

Saya nasehatkan kepada ikhwah sekalian, jauhilah demokrasi, jangan terlibat di dalam urusan demokrasi. Sebelum dasar yang mereka gunakan adalah dasar Al qur’an dan As Sunnah. Sebab dasar itulah yang bisa menyelamatkan, bukan malah menghancurkan.

Wallahua’lam bishawab.

One Response

  1. “jauhilah demokrasi, jangan terlibat di dalam urusan demokrasi”
    SETUJU. tidak ada sejarahnya islam menang melalui demokrasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: