Berammar Ma’ruf Nahi Mungkar

Bismillahirahmaanirrahiim,

Alhamdulillah. Wa sholatu wa ‘alaa rasulillahi wa ‘alaa ‘alihi wa ash habihi wa man tabi’ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma ba’du.

Seorang muslim wajib berammar ma’ruf nahi mungkar, atas diri mereka, keluarga, shahabat dan orang muslim ataupun kafir. Wajib atas budak atau merdeka, wajib kepada penguasa atau rakyat. Sebab agama ini adalah agama yang mana umatnya adalah umat yang terbaik dikarenakan berammar ma’ruf nahi mungkar. Allah berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Artinya : Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” [Ali Imran: 110]

Agama Islam adalah agama terbaik dikarenakan hal ini. Sebab agama yang lain tidak berbuat demikian. Ketika agama Islam menyuruh umatnya untuk bertauhid, agama lain menyuruh umatnya untuk berbuat syirik. Ketika agama Islam menyuruh agar umatnya berbuat ma’ruf, agama lain menyuruh umat mereka untuk berbuat maksiat, berbuat kemungkaran. Inilah agama yang haq. Namun apabila ada orang muslim yang malah menyuruh saudaranya berbuat keji dan mungkar, maka ia bukanlah termasuk golongan umat Muhammad Shallallahu’alaihi wa salam. Sebagaimana orang-orang Syi’ah yang menyuruh kaumnya untuk membenci para shahabat, atau seperti JIL yang menghalalkan yang haram dan sebagainya.

Dari Abu Sa’id Al Khudry radhiyallahu ‘anhu berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)

Hadits di atas mempunyai pelajaran yang sangat penting dalam berammar ma’ruf nahi mungkar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulloh menjelaskan hal ini,

“Sesungguhnya maksud dari hadits ini adalah: Tidak tinggal sesudah batas pengingkaran ini (dengan hati) sesuatu yang dikategorikan sebagai iman sampai seseorang mukmin itu melakukannya, akan tetapi mengingkari dengan hati merupakan batas terakhir dari keimanan, bukanlah maksudnya, bahwa barang siapa yang tidak mengingkari hal itu dia tidak memiliki keimanan sama sekali, oleh karena itu Rasulullah bersabda, “Tidaklah ada sesudah itu”, maka beliau menjadikan orang-orang yang beriman tiga tingkatan, masing-masing di antara mereka telah melakukan keimanan yang wajib atasnya, akan tetapi yang pertama (mengingkari dengan tangan) tatkala ia yang lebih mampu di antara mereka maka yang wajib atasnya lebih sempurna dari apa yang wajib atas yang kedua (mengingkari dengan lisan), dan apa yang wajib atas yang kedua lebih sempurna dari apa yang wajib atas yang terakhir, maka dengan demikian diketahui bahwa manusia bertingkat-tingkat dalam keimanan yang wajib atas mereka sesuai dengan kemampuannya beserta sampainya khitab (perintah) kepada mereka.” (Majmu’ Fatawa, 7/427)

Karakter umat Islam adalah berammar ma’ruf nahi mungkar, baik dengan tangan mereka, lisan mereka atau mengingkari dengan hati. Makanya itu sungguh suatu hal yang aneh apabila seorang muslim tidak menampakkan kebencian mereka ketika ada kemungkaran, ketika ada kemaksiatan. Bahkan ada sebagian orang yang mengaku muslim, tapi dia diam saja ketika ada kemungkaran yang nyata di depan mereka. Seperti ketika ada kasus-kasus aliran Ahmadiyah yang terjadi beberapa tahun lalu, sebagian dari mereka malah membela ajaran mereka dan menganggap mereka tidak mengganggu kita.

Bagaimana cara berammar ma’ruf nahi mungkar ?

Dengan tangan berarti mengubah yang mungkar dengan kekuatan. Hal ini bisa dilakukan kepada siapapun yang mempunyai kekuasaan atas diri seseorang, atau yang lebih mampu. Misalnya adalah penguasa terhadap rakyat, atasan kepada bawahan, kepala keluarga terhadap istri dan anak, orang tua terhadap anak kecil dan seterusnya. Dan mengingkari yang mungkar dengan tangan bukan berarti dengan senjata.

Dengan lisan berarti kita memberikan nasehat kepada siapapun yang berbuat kemungkaran. Hal ini dikarenakan kita tidak bisa mengubah mereka dengan tangan. Ini berarti kita memberikan nasehat kepada manusia, mengajarkan yang ma’ruf kepada manusia adalah termasuk berammar ma’ruf nahi mungkar dengan lisan. Atau dakwah dengan tulisan adalah sama saja dengan lisan. Sebab tulisan itu menggambarkan apa yang kita ucapkan, sebagaimana para rasul yang berdakwah kepada pemimpin suatu negeri dengan mengirimkan surat. Mereka selalu menyampaikan ayat-ayat Allah di surat itu dan menyuruh kepada yang ma’ruf (dengan mentauhidkan Allah dan mematuhi syari’at Allah dan Rasul-Nya) dan mencegah kemungkaran ( lepas dari perbuatan syirik dan nista).

Sedangkan mengingkari dengan hati, tak lain adalah tingkatan iman yang paling rendah. Dalam arti seorang muslim yang di dalam hatinya masih ada iman tentu mereka akan memahami bahwa suatu tindakan sesuai dengan syari’at atau tidak. Inilah kewajiban yang paling utama dalam berammar ma’ruf nahi mungkar, yaitu mengingkari dengan hati. Sebab mustahil seseorang berammar ma’ruf nahi mungkar dengan tangan mereka, tapi hati mereka tidak, juga mustahil seseorang berammar ma’ruf nahi mungkar dengan lisan mereka, tapi hati mereka tidak. Perbuatan ini hanya terjadi pada orang-orang munafik.

Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِين

Artinya: “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” [QS. Al Baqarah: 8]

dan juga dalam ayat berikutnya:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُون َلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُون

Artinya: “Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. [QS. Al Baqarah: 11-12]

Salah seorang berkata kepada Ibnu Mas’ud, “Binasalah orang yang tidak menyeru kepada kebaikan dan tidak mencegah dari kemungkaran”,lalu Ibnu Mas’ud berkata, “Justru binasalah orang yang tidak mengetahui dengan hatinya kebaikan dan tidak mengingkari dengan hatinya kemungkaran.”(Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf beliau no. 37581)

Imam Ibnu Rajab mengomentari perkataan Ibnu Mas’ud di atas dan berkata :

“Maksud beliau adalah bahwa mengetahui yang ma’ruf dan mungkar dengan hati adalah kewajiban yang tidak gugur atas setiap orang, maka barang siapa yang tidak mengetahuinya maka dia akan binasa, adapun mengingkari dengan lisan dan tangan ini sesuai dengan kekuatan dan kemampuan.” (Jami’ul Ulum wal Hikam 2/258-259)

Kaidah-kaidah

Dalam berammar ma’ruf nahi mungkar, ada kaidah yang harus dilihat terlebih dahulu. Yaitu:

Pertama, mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadat. Ini yang harus difahami oleh orang-orang sebelum berammar ma’ruf nahi mungkar. Manusia tidaklah serta merta akan menerima seseorang yang berdakwah atas mereka, dan juga tidak setiap hal yang diubah dengan tangan akan menghasilkan kebaikan. Semuanya ini perlu pertimbangan yang matang dan perlu kejelian. Sebab Islam ini adalah agama yang rahmat, bukan agama yang malah membuat manusia lari darinya.

Anas radhiyallahu’anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa salam bersabda, “Mudahkanlah dan jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan membuat orang lari.” [HR. Bukhari]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulloh berkata,

“Jika amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan kewajiban dan amalan sunah yang sangat agung (mulia) maka sesuatu yang wajib dan sunah hendaklah maslahat di dalamnya lebih kuat/besar dari mafsadatnya, karena para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan dengan membawa hal ini, dan Allah tidak menyukai kerusakan, bahkan setiap apa yang diperintahkan Allah adalah kebaikan, dan Dia telah memuji kebaikan dan orang-orang yang berbuat baik dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, serta mencela orang-orang yang berbuat kerusakan dalam beberapa tempat, apabila mafsadat amar ma’ruf dan nahi mungkar lebih besar dari maslahatnya maka ia bukanlah sesuatu yang diperintahkan Allah, sekalipun telah ditinggalkan kewajiban dan dilakukan yang haram, sebab seorang mukmin hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam menghadapi hamba-Nya, karena ia tidak memiliki petunjuk untuk mereka, dan inilah makna firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman perhatikanlah dirimu, orang yang sesat tidak akan membahayakanmu jika kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-Maa’idah: 105)

Dan mendapat petunjuk hanya dengan melakukan kewajiban.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 10. cet. Wizarah Syuun al Islamiyah)

Dan beliau menambahkan,

“Sesungguhnya perintah dan larangan jika menimbulkan maslahat dan menghilangkan mafsadat maka harus dilihat sesuatu yang berlawanan dengannya, jika maslahat yang hilang atau kerusakan yang muncul lebih besar maka bukanlah sesuatu yang diperintahkan, bahkan sesuatu yang diharamkan apabila kerusakannya lebih banyak dari maslahatnya, akan tetapi ukuran dari maslahat dan mafsadat adalah kacamata syari’at.”

Dan juga tidak dibenarkan apabila dengan berammar ma’ruf nahi mungkar tersebut menjadikan kemungkaran yang lebih besar lagi. Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah rahimahulloh berkata,

“Jika mengingkari kemungkaran menimbulkan sesuatu yang lebih mungkar dandi benci oleh Allah dan Rasul-Nya, maka tidak boleh dilakukan, sekalipun Allah membenci pelaku kemungkaran dan mengutuknya.” (I’laamul Muwaqqi’iin, 3/4)

Jadi dilihat dari kondisi hilangnya kemungkaran itu ada 4 macam, yaitu:

1. Hilangnya kemungkaran tersebut secara total.

2. Kemungkaran akan berkurang, walaupun tidak sepenuhnya hilang, paling tidak disebagian tempat yang terdapat kemungkaran ini akan digantikan dengan yang ma’ruf.

3. Kemungkaran hilang, tapi ada kemungkaran serupa yang akan muncul di tempat lain.

4. Kemungkaran hilang, tapi muncul kemungkaran yang lebih besar lagi.

Kedua, karakteristik ilmu dari orang yang berammar ma’ruf nahi mungkar. Sudah barang tentu manusia yang berammar ma’ruf nahi mungkar itu haruslah orang yang berilmu. Mustahil orang yang berilmu faham akan yang ma’ruf dan yang mungkar. Justru bagi mereka yang tidak berilmu, akan sama saja seperti manusia yang membuat bangunan dari pasir, yang mana akan hancur di terjang ombak. Maka dari itu adanya kaidah berkata itu adalah ilmu, dan diam juga adalah ilmu.

Seseorang ulama, dengan ilmunya maka ia wajib untuk berdakwah kepada para pengikutnya. Dan seorang muslim juga wajib berdakwah. Sehingga setiap manusia itu saling nasehat menasehati dengan manusia yang lainnya. Allah berfirman:

إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر

artinya:”kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” [Al Ashr: 3]

Selain berilmu, seseorang harus mempunyai penyantun dan sabar. Seseorang yang tidak santun, lemah lembut dan sabar, malah akan membuat manusia ini lari dari hidayah Allah. Lari dari rahmat Islam, padahal Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Sebagaimana hadits yang telah lalu

Anas radhiyallahu’anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa salam bersabda, “Mudahkanlah dan jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan membuat orang lari.” [HR. Bukhari]

Tanpa lemah lembut mustahil hidayah itu akan masuk. Justru kebencian yang akan ada dan orang yang berbuat mungkar akan tetap menganggap tindakan mereka benar. Pada dasarnya manusia itu punya sifat tidak mau digurui dan cenderung lebih suka tidak dikritik. Maka dari itulah rasululloh shallallahu’alaihi wa salam selalu berdakwah dengan lemah lembut, dengan santun dan sabar. Sehingga banyak manusia yang mendapatkan hidayah dari-Nya, terkecuali orang-orang yang dikehendaki oleh Allah.

Ketiga, syarat perbuatan yang wajib untuk diingkari. Tidak seluruh kesalahan dan kemungkaran itu wajib diingkari terkecuali setelah ada syarat-syarat sebagai berikut:

1. Perbuatan tersebut jelas-jelas kemungkaran, kecil atau pun besar. Artinya, berammar ma’ruf tidak terbatas pada dosa-dosa besar saja, tapi juga dosa-dosa kecil. Kebanyakan orang itu salah sangka terhadap berammar ma’ruf nahi mungkar ini hanya terbatas pada dosa-dosa besar, seperti minum khamr, zina dan sebagainya. Padahal perbuatan dosa kecil itu juga termasuk diwajibkan atas kita untuk berammar ma’ruf nahi mungkar.

Apabila dosa-dosa kecil dibiarkan, maka kita akan menganggap dosa itu adalah suatu hal yang biasa. Yang akan mengakibatkan murka Allah karena kita membiarkan hal tersebut. Sebagaimana rahib-rahib Yahudi yang membiarkan umat mereka berbuat maksiat, tidak mengingkarinya, kemudian besoknya mereka membiarkannya, besoknya mereka memperbolehkannya, dan besoknya mereka ikut di dalamnya, dan besoknya lagi muncul kemaksiatan yang nilainya lebih besar dari sebelumnya. Ketika masih berupa dosa kecil ditegakkan ammar ma’ruf, maka tentu dalam dosa-dosa besar kita akan lebih perhatian.

2. Perbuatan maksiat itu masih melekat dalam diri seseorang. Maksudnya, telah dinasehati seseorang untuk tidak berbuat kemungkaran. Namun ia masih melakukannya, maka wajib bagi kita untuk terus menasehatinya hingga kemungkaran itu hilang dari dirinya. Baik yang tertutupi dan yang tidak.

3. Kemungkaran tersebut jelas dan nyata, tidak tersembunyi. Seseorang tidak boleh mencari kesalahan-kesalahan seorang muslim. Dan juga tidak boleh menguak aib orang lain. Kita boleh berammar ma’ruf nahi mungkar kepada apa yang kita lihat secara zhahir. Rasululloh shallallahu’alaihi wa salam menilai seseorang secara zhahir bukan bathin. Maka dari itu seluruh amalan itu dilihat dari zhahirnya.

Allah berfirman yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujuraat: 12)

4. Kemungkaran tersebut adalah sesuatu yang disepakati oleh kaum muslimin, bukan masalah yang masih diperselisihkan oleh para ulama. Contoh masalah khilaf yang kita tidak boleh berammar ma’ruf nahi mungkar atasnya adalah masalah khilaf utamanya suatu amalan, seperti turun sujud antara lutut dulu ataukah tangan dulu. Tidak boleh kita keras dalam masalah ini, hanya karena ada hadits yang mengatakan jangan meniru binatang. Sebab persoalan turun sujud inipun banyak yang berselisih.

Atau persoalan apakah boleh sholat orang yang setelah makan daging onta, atau jumlah raka’at dalam sholat tarawih, dan sebagainya. Ini masalah khilafiyah yang tidak perlu ditegakkan ammar ma’ruf nahi mungkar atasnya. Sedangkan permasalahan yang wajib ditegakkan adalah yang jelas-jelas keharamannya, seperti khamr, zina, nikah mut’ah, riba, maka ini wajib ditegakkan ammar ma’ruf nahi mungkar atasnya, tanpa terkecuali.

Keempat, berammar ma’ruf nahi mungkar kepada para penguasa. Manusia tidaklah sempurna, baik mereka rakyat jelata ataupu penguasa pasti mereka mempunyai sisi yang salah. Satu-satunya manusia yang dijamin kesalahannya hanyalah nabi dan rasul. Dalam berammar ma’ruf nahi mungkar kepada penguasa tidaklah dengan serta merta berdemo kepada mereka, kemudian kesalahan-kesalahan mereka ditampakkan ataupun dengan kudeta (mengangkat senjata).

Ada metode-metode yang harus ditempuh, yaitu:

1. Tidak boleh mengangkat senjata. Sebab ini bukanlah manhaj ahlussunnah wal jama’ah. Mengangkat senjata hanyalah manhaj kaum khawarij. Imam Ibnu Nahas dalam Tanbihul Ghafilin berkata:

“Tidak boleh bagi seorang pun melarang penguasa dengan menggunakan kekerasan dan tangan serta tidak boleh angkat senjata, atau mengumpulkan masa, karena yang demikian itu menyebabkan fitnah dan menimbulkan kejahatan (kerusakan) serta hilangnya wibawa seorang pemimpin di hati masyarakat, dan terkadang bisa menyebabkan keberanian mereka untuk khuruj (kudeta) terhadapnya, dan rusak (hancur) nya suatu Negara, dan kerusakan lain yang nyata (tidak di pungkiri).

2. Menasehati para pemimpin secara sembunyi. Dalam arti bertemu secara langsung dan bicara empat mata.

‪Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa‬‬ ‫‪yang ingin menasihati pemimpin dalam suatu urusan maka jangan ia‬‬ ‫‪perlihatkan secara terang-terangan, akan tetapi hendaklah ia memegang‬‬ ‫‪tangan dan membawanya menyendiri, jika dia menerima nasihatnya itulah‬‬ ‫‪yang diharapkan, dan jika tidak, ia telah menyampaikan apa yang wajib‬‬ ‫atasnya”. [HR. Ahmad]

Namun hal ini tidaklah terjadi pada masyarakat kita saat ini. Mereka malah berdemo, memanggul poster yang berisi hinaan dan cacian terhadap penguasa. Ini bukanlah cara salafush sholeh, ini bukanlah yang dituntukan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa salam. Maka dari itu kita harus kembali kepada jalan salafush sholeh tentang bagaimanakah cara berammar ma’ruf nahi mungkar yang benar. Sehingga Allah kembali menurunkan rahmat-Nya kepada kita dan tegaknya Islam bukan hanya mimpi di siang bolong belaka.

Kesimpulan

Ammar ma’ruf nahi mungkar itu ada tingkatannya, ada kaidahnya. Dan tidak boleh kita berammar ma’ruf nahi mungkar kalau hal tersebut malah membuat kerusakan yang lainnya. Dan tidak boleh kita menguak aib orang lain, khususnya para pemimpin. Nasehatilah mereka dengan nasehat yang paling baik, dengan perkataan lembut dan sabar di atas jalan kebenaran.

Semoga Allah mengampuni dosa kita, keluarga kita, dan saudara-saudara kita sesama muslim, dan di hari akhir kita dikelompokkan bersama dengan orang-orang sholih.

Wallahu a’lam bishawab.

 

Maraji:

1. Al Qur’an Al Karim

2. Ringkasan Shahih Bukhari

3. Ringkasan Shahih Muslim

4. Bagaimana Cara Ber-Ammar Ma’ruf Nahi Mungkar, Ustadz Nur Ihsan, MA

5. Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: