Perlukah Menyebut diri Sebagai Salafy atau Ahlussunnah?

Bismillahirahmaanirrahiim,

Alhamdulillah. Asyhadu anlaa ilaahaillallah wah dahu laa syarikalahu wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasululloh. Allahumma shali ‘alaa muhammad wa ‘alaa ‘alihi wa ash habihi ajma’in waman tabi’ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma Ba’du.

Setiap orang siapapun dia harus faham bahwa Muhammad Shallallahu’alaihi wa salam telah menunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalan yang mana siapapun yang berjalan di atasnya akan selamat dan Allah telah memberikan janji-Nya siapapun yang ada di atas jalan tersebut baginya surga yang mana di bawahnya mengalir sungai-sungai. Untuk itulah sebagai seorang muslim, baik dia berada di ujung dunia manapun apabila dia kembali kepada jalan yang benar, maka kebenaran itu yang akan menyelamatkannya, meskipun seluruh manusia memusuhinya. Sebab apabila seseorang telah diberi hidayah oleh Allah, maka tiada suatu makhluk-pun yang mampu menyesatkannya, dan siapa yang telah disesatkan oleh Allah, maka tiada satu makhluk-pun yang mampu menolongnya.

Rasululloh shallallhu’alaihi wa salam bersabda, “Suatu saat nanti umat Yahudi akan terpecah menjadi 71 golongan dan seluruhnya masuk neraka. Kemudian umat Nasrani akan terpecah menjadi 72 golongan dan seluruhnya masuk neraka. Dan umat Islam akan terpecah mejadi 73 golongan semuanya masuk neraka kecuali satu.” Para shahabat bertanya, “Bagaimana ciri-ciri mereka ya rasululloh?” Rasululloh shallallahu’alaihi wa salam bersabda, “Yang aku dan para shahabatku ada di atasnya”. [Abu Dawud 4586, Tirmidzi 2640, Ibnu Majah 3991 Ahmad 2/332]

Para shahabat tidaklah bertanya tentang siapa golongan yang selamat tersebut, dikarenakan golongan yang selamat itu bisa jadi dinamai bermacam-macam oleh manusia. Antara lain karena sifat manusia yang iri, dengki, bahkan punya sifat hasud. Kita bisa lihat ketika seseorang berdakwah kepada Allah, sebutan mereka kepada para pendakwah ini sangat jelek. Ketika rasululloh shallallahu’alaihi wa salam berdakwah saja dikatakan gila, maka apalagi pengikutnya, pasti dikatkaan yang lebih jelek daripada itu. Seperti teroris, pedofilia, agama yang anarkis, dan macam-macam. Hal ini akan selalu ditemui disetiap kita yang benar-benar berdakwah di atas jalan yang benar.

Allah berfirman yang artinya, “Orang-orang yang beriman dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan yang mengikuti mereka dengan baik, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya” [Q.S At Taubah:100]

Rasululloh shallallahu’alaihi wasalam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian yang datang sesudahnya, kemudian yang datang sesudahnya”. [Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim]

Penamaan ahlussunnah, penamaan salafiyah adalah untuk membedakan diri daripada hizbiyun, membedakan diri dengan ahlu bid’ah. Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari hafizhahulloh dalam Mukadimah Kitab Ru’yah Waqi’iyah menjelaskan “Sesungguhnya istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah muncul ketika timbul bid’ah-bid’ah yang meyesatkan sebagian manusia. Maka perlu nama untuk membedakan umat islam yang komitmen dengan sunnah. Nama itu adalah Ahlus Sunnah sebagai lawan Ahlu Bid’ah. Ahlus Sunnah juga disebut Al-Jama’ah, karena mereka adalah kelompok asal (asli). Sedangkan orang-orang yang terpecah dari ahlus sunnah dikarenakan bid’ah dan hawa nafsu adalah orang-orang yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”

Kemudian beliau melanjutkan, “Sedangkan saat ini, istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah telah menjadi rebutan berbagai kaum dan jama’ah yang beraneka ragam. Bisa kita saksikan sendiri, banyak kaum hizbi yang menyebut jama’ah dan organisasi mereka dengan istilah ini. Bahkan beberapa tharekat Sufi melakukan tindakan yang sama. Sampai-sampai Asy’ariyah, Maturidiyah, Barilawiyah dan lain-lainnya mengatakan ‘Kami adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah’.

Namun mereka semua menolak untuk menamakan diri mereka dengan Salafiyah. Mereka menjauhkan diri untuk menisbatkan kepada manhaj salaf, terlebih lagi kenyataan dan hakikat mereka (yakni mereka jauh dari mengikuti Salafush Shalih).

Ini adalah suatu yang biasa bagi kita, karena termasuk perkara yang sudah maklum di kalangan para dai yang mengajak kepada Al Quran dan as Sunnah dengan pemahaman ulama salaf, bahwa slogan/prinsip para ahli bid’ah adalah tidak menganut prinsip mengikuti salaf. Karena ittiba’ (mengikuti) sesungguhnya mengikuti pemahaman salaf merupakan kata pemutus terhadap perselisihan pemahaman-pemahaman orang-orang di masa kini. Karena sebagian orang menghukumi dengan akalnya, yang lain menghukumi dengan dasar pengalamannya, yang lain lagi menghukumi dengan emosi.

Demikianlah pemahaman mereka, tanpa memperhatikan jalan orang-orang yang beriman (yaitu jalan para sahabat) yang wajib diikuti dan didakwahkan. Jalan orang-orang yang beriman itu pada hakikatnya adalah jalan Salafush Shalih, yang kita menisbatkan diri kepadanya dan kita mengambil petnjuk cahayanya. Karena itu slogan Ahlus sunnah adalah mengikuti salafush shalih dan meninggalkan segala sesuatu yang bid’ah dan baru dalam agama.

Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf dan mencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan madzab salaf dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena mazhab salaf itu pasti benar [Majmu Fatawa 4/149]

Pada zaman ini banyak pengakuan-pengakuan sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah (memang pada hakekatnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah merupakan sifat di antara sifat-sifat salafiyah), Maka ada keharusan untuk membedakan diri dari orang-orang yang mengaku-aku Ahlus Sunnah wal Jama’ah (namun mereka menyelisihi sunnah, baik dalam aspek aqidah maupun manhaj) dengan menisbatkan diri dengan manhaj yang mereka ketakutan untuk terang-terangan menyatakannya dan tidak merasa terhormat dengan bernisbat kepadanya. Karena hal itu akan mengadili mereka apakah mereka mencocoki atau menyelisihi manhaj itu yaitu manhaj salaf dalam metode dan tujuan dakwah, atau dalam aqidah, fiqih, persepsi tentang Islam dan perilaku.

Juga perlu dikatakan kepada orang yang mengikngkari penisbatan kepada Salafiyah. Sesungguhnya menisbatkan diri kepada salaf dan terus terang berbangga terhadap setiap orang yang menyelisihi kebenaran, baik menyelisihi dalam perilaku maupun pembuatan teori-teori, dan terang-terangan menyatakan bahwa satu-satunya dakwah yang benar adalah dakwah salafiyah, itu semua bukanlah aib. Tidak ada bahaya bagi pelakunya. Karena salafiyah adalah nisbat kepada salaf. Penisbatan ini tidak pernah terpisah meski dalam sekejap mata dari umat Islam sejak terbentuknya minhaj kenabian. Salafiyah itu mencakup semua umat Islam yang menempuh metode generasi pertama dan orang-orang yang mengikuti mereka, dalam metode mendapatkan ilmu, memahami ilmu dan mendakwahkannya. Jadi Salafiyah tidak lagi terbatas pada fase sejarah tertentu, bahkan harus dipahami bahwa makna salaf terus berjalan sepanjang kehidupan dunia.

Hal ini makin dikuatkan bahwa Salafiyah mencakup setiap bagian dari Islam yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Jadi Salafiyah bukanlah suatu corak beragama yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, baik dengan menambah ataupun dengan menguranginya.

Termasuk perkara yang perlu diperhatikan, seandainya umat ini telah berada di dalam bentuk Islam yang benar, tanpa tercampur dengan bid’ah dan hawa nafsu, sebagaimana yang terjadi di masa awal Islam terutama masa salafus shalih, niscaya lenyaplah berbagai sebutan yang berfungsi sebagai pembeda karena tidak adanya penentang.

Karena hal itu maka ikatan wala’ (kecintaan) dan bara'(berlepas diri), pembelaan dan permusuhan menurut orang-orang yang menisbatkan diri kepada salaf adalah berdasarkan Islam. Bukan yang lain. Tidak dengan corak tertentu selain Islam. Wala’ dan bara’ itu hanyalah berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah saja.

Dengan ini semua, benar-benar jelas bahwa makna Salafiyah dan hakikat penisbatan kepada salaf adalah nisbat kepada salaf shalih, yaitu semua sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Bukan orang-orang setelah sahabat yang dibelokkan oleh hawa nafsu, yang mereka adalah generasi yang buruk. Generasi yang menyimpang dari salaf shaleh dengan nama atau corak tertentu. Dari sinilah mereka dinamai khalaf (orang yang datang kemudian) dan penisbatannya adalah khalafi.

Jadi Salafiyah tidak memiliki corak yang keluar dari Kitab dan Sunnah. Salafiyah adalah nisbat yang tidak pernah terpisah sekejappun dari generasi pertama. Bahkan Salafiyah adalah bagian dari mereka dan merujuk kepada mereka.

Sedangkan orang-orang yang menyelisihi salaf shalih dengan nama atau corak tertentu, bukanlah bagian dari mereka, meski hidup di tengah-tengah mereka atau senantiasa dengan mereka. Karena itulah para sahabat berlepas diri dari Qadariyah, Murjiah dan lain-lain.

Jika demikian maka asas-asas dan kaedah-kaedah untuk mengikuti salaf harus nampak jelas dan tegar. Sehingga tidak merancukan orang-orang yang ingin mengikuti salafus shaleh.

Karena itulah harus ada pembeda antara Ahlus Sunnah dengan para pengaku Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Yaitu dengan sebuah nisbat yang mereka tidak berani menggunakannya. Karena penisbatan itu akan membongkar penyimpangan dan cacat jika dicek/dibandingkan dengan jalan orang-orang yang beriman (yaitu sahabat) dan metode salafus shalih. Pembeda itu adalah Salafiyah. Jalan salaf shalih itulah jalan yang jelas tanpa perlu diragukan. Yakni jalan para sahabat dan tabi’in. Inilah jalan petunjuk dan jalan untuk mendapatkan petunjuk.

“Artinya : Maka janganlah orang-orang yang tidak mau beriman dan mengikuti hawanya menghalangimu darinya sehingga engkau akan binasa” [Thaha :16]

Selesai kutipan.

Jadi justru, mereka yang menyelisihi sunnah, enggan menggunakan kata-kata salaf pada diri mereka. Sebab mereka tahu siapa para salaf ini. Dan syubhat-syubhat sering dimunculkan oleh mereka yang berada di thoriqot-thoriqot dan di kalangan kaum hizbiyun. Dan para ulama tidaklah asing terhadap penamaan salaf, mereka tidaklah asing dalam memakai kata salafiyah, salafi ataupun salaful ummah. Justru hal itu tidak pernah dipakai oleh thoriqoh-thoriqoh dan juga oleh mereka yang tidak sejalan dengan jalan ini.

Saya akan berikan catatan atau syubhat-syubhat yang sering muncul di kalangan para pendakwah, yang mana mereka membisikkan syubhat-syubhat ini di kalangan para pemuda agar goyah imannya, manhajnya sehingga mereka tidak berani memakai kata salaf pada dirinya.

Syubhat pertama adalah, “Kita adalah umat yang kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah, penamaan ahlussunnah saja sudah cukup”.

Bisa kita jawab: Tidaklah cukup memakai Al Qur’an dan As Sunnah saja sebagai pedoman. Sebab setiap hizbiyun, setiap thoriqoh, mereka juga punya rujukan yang sama, yaitu Al Qur’an dan As Sunnah. Bedanya adalah, mereka sama sekali tidak mempunyai pemahaman tentang Al Qur’an dan As Sunnah secara benar, yaitu dengan mengembalikannya kepada pemahaman sebagaimana yang telah diajarkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa salam dan para shahabatnya, yaitu pemahaman salaful ummah. Inilah yang membedakan.

Kita bahkan sering dengar mereka, kaum thoriqoh, kaum hizbiyun, menggunakan Al Qur’an dan As Sunnah, tapi dengan pemahaman yang bathil. Kita bisa lihat bagaimana Syi’ah Rofidhoh, mereka menggunakan Al Qur’an dan As Sunnah untuk memusuhi kita, juga kaum zindiq yang mereka menggunakan Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman mereka sendiri, menduga-duga, prasangka, sehingga apabila cocok dengan hati mereka, maka mereka akan memakai pemahaman itu. Tidak demikian. Sesungguhnya Allah telah melindungi Al Qur’an dan As Sunnah ini dalam satu paket perlindungan.

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Qur`an dan (sesuatu) yang serupa dengannya.” -yakni As-Sunnah-, (H.R. Abu Dawud no.4604 dan yang lainnya dengan sanad yang shahih, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad IV/130)

Syubhat kedua, “Penisbatan kata SALAF ini adalah bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang khususnya wahabi untuk memecah belah umat ini”

Kita jawab: Syaikh Muhammad Nasiruddin Al Albani rahimahulloh, seorang muhaddits abad ini telah menjelaskan

“Namun ada sebagian orang yang mengaku berilmu, mengingkari nisbat (penyandaran diri) pada istillah SALAF karena mereka menyangka bahwa hal tersebut tidak ada asalnya. Mereka berkata : “Seorang muslim tidak boleh mengatakan “saya seorang Salafi”. Secara tidak langsung mereka beranggapan bahwa seorang muslim tidak boleh mengikuti Salafus Shalih baik dalam hal aqidah, ibadah ataupun ahlaq”.

Tidak diragukan lagi bahwa pengingkaran mereka ini, (kalau begitu maksudnya) membawa konsekwensi untuk berlepas diri dari Islam yang benar yang dipegang para Salafus Shalih yang dipimpin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Artinya : Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim).

Maka tidak boleh seorang muslim berlepas diri (bara’) dari penyandaran kepada Salafus Shalih. Sedangkan kalau seorang muslim melepaskan diri dari penyandaran apapun selain Salafus Shalih, tidak akan mungkin seorang ahli ilmupun menisbatkannya kepada kekafiran atau kefasikan.

Orang yang mengingkari istilah ini, bukankah dia juga menyandarkan diri pada suatu madzhab, baik secara akidah atau fikih ..?. Bisa jadi ia seorang Asy’ari, Maturidi, Ahli Hadits, Hanafi, Syafi’i, Maliki atau Hambali semata yang masih masuk dalam sebutan Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

Padahal orang-orang yang bersandar kepada madzhab Asy’ari dan pengikut madzhab yang empat adalah bersandar kepada pribadi-pribadi yang tidak maksum. Walau ada juga ulama di kalangan mereka yang benar. Mengapa penisbatan-penisbatan kepada pribadi-pribadi yang tidak maksum ini tidak diingkari ..?

Adapun orang yang berintisab kepada Salafus Shalih, dia menyandarkan diri kepada ishmah (kemaksuman/terjaga dari kesalahan) secara umum. Rasul telah mendiskripsikan tanda-tanda Firqah Najiah yaitu komitmennya dalam memegang sunnah Nabi dan para sahabatnya. Dengan demikian siapa yang berpegang dengan manhaj Salafus Shalih maka yakinlah dia berada atas petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla.

Salafiyah merupakan predikat yang akan memuliakan dan memudahkan jalan menuju “Firqah Najiyah”. Dan hal itu tidak akan didapatkan bagi orang yang menisbatkan kepada nisbat apapun selainnya. Sebab nisbat kepada selain Salafiyah tidak akan terlepas dari dua perkara :

Pertama.
Menisbatkan diri kepada pribadi yang tidak maksum.

Kedua.
Menisbatkan diri kepada orang-orang yang mengikuti manhaj pribadi yang tidak maksum.

Jadi tidak terjaga dari kesalahan, dan ini berbeda dengan Ishmah para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan supaya kita berpegang teguh terhadap sunnahnya dan sunnah para sahabat setelahnya.

Kita tetap terus dan senantiasa menyerukan agar pemahaman kita terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah selaras dengan manhaj para sahabat, sehingga tetap dalam naungan ISHMAH (terjaga dari kesalahan) dan tidak melenceng maupun menyimpang dengan pemahaman tertentu yang tanpa pondasi dari Al-Kitab dan As-Sunnah.” [Diambil dari Majalah As-Sunnah Edisi 09/Th III/1419H-1999M disadur dari Majalah Al-Ashalah edisi 9/Th.II/15 Sya’ban 1414H ]

Selesai kutipan.

Dari penjelasan di atas sudah jelas, bahwa jalan yang paling benar, pemahaman yang membuat kita tidak melenceng dari pemahaman yang sebenar-benarnya terhadap Islam ini tentu saja kembali kepada pemahaman salaful ummah. Dan penisbatan kata salaf, bukanlah hal yang baru ataupun bid’ah, sebab rasululloh shallallahu’alaihi wa salam pun pernah bersabda, “Sebaik-baik salaf adalah aku”. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Hakim dari shahabat Sayyidah Fatimah Radhiyallahu’anha.

Syubhat ketiga, “Kita tidak bisa menisbatkan diri kepada salafiyah, dikarenakan kita tidak bisa seratus persen seperti mereka, jadi penggunaan nama  FULAN AL ATSARI atau FULAN AS SALAFY tidaklah tepat, sebab orang yang menyandang nama ini harus benar-benar sesuai dengan sifat yang dibawa oleh para salafush sholeh”

Kita jawab: Telah saya jelaskan di atas, menisbatkan diri kepada para salaf adalah wajib hukumnya. Sebab mereka berada di atas pemahaman yang ma’shum, yaitu pemahaman rasululloh shallallahu’aliahi wa salam. Adapun memang orang yang ada di dalamnya tidak bisa kita hukumi ma’shum, dan itu benar. Namun tentang wajibnya penisbatan diri kepada mereka, tiada keraguan seluruh ulama salaf dan khalaf bersepakat atas hal ini.

Justru para ulama menjelaskan, hanya orang-orang ahlu bid’ah dan orang-orang hizbiyah saja yang tidak menisbatkan diri kepada kata salaf. Menisbatkan diri kepada salaf itu harus, bahkan tiada cela apabila memang dirinya mengikuti salafush sholeh. Berbeda dengan orang yang tidak mengikuti salafush sholeh tapi menisbatkan diri kepada mereka. Apabila kita memang demikian adanya, yaitu mengikuti jalan salafush sholeh, maka menisbatkan diri dengan nama As Salafy adalah hal yang tidaklah aneh.

Dan memang kaum thoriqot dan kaum hizbiyun enggan memakai hal ini dikarenakan alasan mereka adalah, “Saya tidak seratus persen seperti salaf”. Kalau kita balik pertanyaan kepada mereka, “Apakah anda bisa seratus persen seperti rasululloh shallallahu’alaihi wa salam?” Jawabannya tentu saja tidak mungkin. Bahkan tiada satu manusia pun yang seperti rasululloh shallallahu’alaihi wa salam, lalu apakah kita tidak bisa menisbatkan diri kepada beliau? Lihatlah, apakah kita tidak bisa mengatakan sebagai umat Muhammad sebelum seratus persen seperti Muhammad shallallahu’alaihi wa salam dan para shahabatnya ridwanu ‘alaih?

Tentu saja tidak. Urusan hati, iman itu masing-masing jiwa yang lebih mengetahui dan tentunya Allah Rabb semesta alam. Tidak bisa kita vonis seseorang itu, “Anda itu belum ‘nyalaf’ koq beraninya pakai nama salafi pada nama anda?”

Kita bisa balik syubhat ini dengan pertanyaan yang tak mungkin mereka jawab, “Anda koq berani-beraninya mengaku muslim padahal anda itu belum menjadi seorang muslim yang kaaffah?”

Jadi urusan hati itu urusan masing-masing jiwa dengan Allah, bukan urusan manusia menilai. Bisa jadi orang yang selama ini kita kenal biasa saja ternyata ia lebih baik dari kita, dan bisa jadi orang yang selama ini kita kenal baik, ternyata ia lebih jelek dari kita. Dan tentunya, kembali lagi kepada penisbatan salaf, tiada cela bagi mereka yang memang berjalan di atas jalan yang mulia ini menyebut diri mereka sebagai salafy, justru orang yang enggan menisbatkan diri kepada kata salafy, merekalah yang enggan kembali jalan assunnah. Hal ini sudah dibahas oleh para ulama seperti Syaikh Muhammad bin Nasirruddin Al Albani rahimahulloh, Syaikh Ali Al Halabi hafizhahulloh, Syaikh Salim bin Ied Al hilali hafizhahulloh, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahulloh, dan juga ulama-ulama terdahulu seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahulloh, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahulloh dan sebagainya.

Kesimpulan

Jalan yang terang adalah jalan yang telah dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya di dalam kitab dan Sunnah. Namun dengan berpegangan kepada keduanya belum cukup, tanpa kembali kepada pemahaman salaful ummah yaitu rasululloh shallallahu’alaihi wa salam dan para shahabatnya. Menisbatkan kepada mereka adalah wajib, sedangkan mengingkari jalan mereka adalah bathil. Kebanyakan kaum thoriqoh dan hizbiyyun enggan menggunakan kata salaf, dikarenakan mereka memang tidak sejalan dengan pemikiran salaful ummah, mereka enggan menerima kebenaran, karena itu selalu saja terjadi perselisihan antara ahlussunnah dan ahlu bid’ah. Tidak perlu takut menisbatkan diri pada salafy, kalau memang itulah yang kita tiru dan kita jadikan panutan. Dan disamping itu juga kita harus beristiqomah di atas jalan yang mulia.

Wallahu’alam bishawab.

11 Responses

  1. Akhi yang saya hormati.. antum sepertinya belum mendalami apa itu Ahlussunnah wal jama’ah.. yang namanya Ahlussunnah itu adalah golongan yang berpedoman dengan al-Qur’an dan sunnah, dengan pemahaman para salaf (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in)

    Jadi cukup dengan Ahlussunnah wal Jama’ah

    jika antum berpendapat bahwa ahlussunnah belum cukup, maka antum telah menyelisihi Jumhur Ulama demi mengikuti pendapatnya Syaikh Al-Albani

    jadi sebenarnya antum yang kena syubhat

    • Saya kira sudah jelas ditulisan tersebut alasan kenapa tidak cukup dengan mengatakan diri ahlussunnah. Apa salahnya dengan menyebut diri dengan salafiyin? Padahal salafiyin sendiri diambil dari salafush sholeh. Salahkah menisbatkan diri kepada salafush sholeh? Salahkah kita menisbatkan diri kepada para pendahulu yang sholeh?

      Kalau persoalan antum tidak setuju dengan pendapatnya Syaikh Al Albani rahimahulloh sah-sah saja. Namanya juga ijtihad. Kalau antum punya hujjah kuat tidak perlu menamai diri dengan salafi, tapi cukup dengan ahlussunnah wal jama’ah saja, maka itu bisa benar asal yang antum ikuti juga benar-benar yang seperti antum sebutkan. Toh maknanya juga sama sebenarnya. Alasan menisbatkan diri kepada salafi karena tidak lain adalah golongan2 yang berselisih sekarang ini menyebut diri mereka dengan sebutan ahlussunnah, dan mereka benci menyebut diri mereka dengan kata “salafi”, karena pada dasarnya maknanya pun sama. Aqidah salafi tidak berbeda dengan aqidah ahlussunnah wal jama’ah.

      Hanya orang yang awam tentang istilah ini, tentang definisi salaf saja yang enggan menerimanya. Kalau antum merunut definisi yang dijelaskan syaikh Al Albani niscaya antum juga faham yang beliau maksud juga adalah golongan yang berpedoman dengan Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman para salaf.

      wallahu’alam bishawab.

      • Sebenarnya firqoh-firqoh sesat yang mengaku ahlussunnah itu hanya pengakuan tanpa bukti. ya kita bersyukur mereka mash mengakui bahwa ahlussunnah adalah yang paling benar.. tinggal pembuktiannya..!! tidak seperti syi’ah atau hti.. mereka berdua anti dengan istilah Ahlussunnah. Tapi bukan berarti Ahlussunnah harus mengganti nama, kalo diteliti, NU juga banyak punya pesantren yang pake nama pesantren SALAF. nah loh, apakah salafy juga harus ganti nama lagi??

        Dan satu lagi, ahlussunnah itu tidak hanya yang berada di kajian ustadz salafi.. dimanapun mereka berada, kepada siapapun mereka menuntut ilmu, asalkan mereka tetap memegang perinsip manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. maka mereka tetap termasuk Ahlussunnah.

  2. afwan sebelumnya jika koment tadi kurang sopan

  3. kebanyakan mereka yang mengaku salaf menganggap mereka yang diluar kajian salaf bukan ahlus sunnah.
    dan dengan se-enaknya menganggap orang yang dakwah dengan berjamaah adalah ahlul bid’ah.
    (ini pengalaman pribadi)
    ana pernah di bilang begitu oleh “si fulan” dalam hati ana..
    apakah semua orang yang mengaku salafi itu seperti ini!!!??
    mudah-mudahan tidak.

    • Antum tidak bisa menjudge seseorang yang salaf yang berbuat demikian, maka manhaj yang dia naungi juga demikian. Tidak bisa seperti itu akhi. Manhaj salafush sholeh itu ma’shum, namun orang-orang yang ada di dalamnya tidak. Tidak ada istilah “Yang ada di luar kajian salaf bukan ahlussunnah”. Setiap orang berhak belajar, setiap orang berhak mendapatkan ilmu. Dulu memang saya demikian karena tidak faham terhadap bagaimana caranya berammar ma’ruf. Namun Alhamdulillah setelah berjalan bertahun-tahun setelah belajar bertahun-tahun akhirnya saya faham, bahwa hal yang seperti itu tidak benar.

      Yang jelas tidak semua orang salafi itu seperti itu.wallahua’lam bishawab.

  4. ym ana kalau mau berdiskusi
    ana tunggu…

  5. aina nahnu min akhlaqissalaf
    “sementara kita dengan mudah mengeluarkan seseorang dari ahlussunnah dan memyematkan ahlul bid’ah kepada saudaranya.!!”

  6. Assalamualaikum…
    Al- Akh saya Mau Tanya Apakah Orang yang berdakwah dengan berjama’ah(berorganisasi) adalah Ahlul Bid’ah?
    dan kenapa salafi Membid’ahkan tanzim(organisasi)
    Al-akh Jawab?..
    karena itulah yang disematkan kepada kami yang berdakwah secara berjama’ah dan terpimpin.
    sadarilah….akhi
    bahwa kita di haruskan tolong menolong dalam hal kebaikan.
    orang-orang kuffar memerangi kita dengan segala macam cara, mereka terorganisir, organisasi itu hanya sebuah wadah. bukan tujuan, ketika organisasi itu tidak lagi berasaskan alqur’an dan As-sunnah, bisa di katakan organisasi itu sesat dan menyesatkan. dan apabila organisasi itu berasaskan Al-qur’an dan As-sunnah, organisasi bukan organisasi sesat. bagaimana kita bisa menjadi umat yang kuat kalau kita yang didalamnya terpecah-pecah. dan saling menghujat dan saling menyesatkan, tanpa ada tabayun.
    ym ana kalau mau tau lebih lanjut siapa ana?
    biar tidak ada prasangka buruk di antara kita. ini nomor ana 081387739193. untuk ketemuan juga boleh.
    sukron atas perhatiannya,
    jazakumullahu khairon….

    • Wa’alaykumsalam warohmatullohi wabarokaatuh,

      Akhuna, salafi tidak pernah membid’ahkan yang namanya organisasi. Antum tanya kepada ustadz-2 salafi saja untuk konfirmasi seperti ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, atau ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas atau ustadz-2 yg lain.
      Kalau antum tanya kepada mereka yang masih awam ilmu dan suka membid’ahkan maka itu bukan kesalahan dari manhaj salafi.

      Manhaj salafi itu ma’shum, namun orang2-nya tidak. Dan setahu saya tidak ada yang membid’ahkan hal tersebut. Dan saya belum pernah tahu ada yang membid’ahkan.

      Syukron untuk nomor HP-nya, ana akan simpan kalau kelak dikemudian hari dibutuhkan.

  7. assalamualaikum wr wb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: