Kenapa Iblis bisa Kafir?

Dulu ketika saya masih saya masih SD atau SMP, pernah ada yang bilang bahwa kita sama Iblis itu masih lebih beriman Iblis. Soalnya Iblis itu langsung bicara sama Allah, dan Iblis juga tahu bahwa Allah itu satu-satunya tuhan di semesta raya ini. Saya yang masih awam tentu saja manggut-manggut dengan pendapat seperti itu, bahkan itu bisa memacu seseorang untuk lebih banyak beribadah agar tidak seperti Iblis. Yang akhirnya tujuan dari ibadah itu sendiri adalah ingin bisa bertemu dengan Allah (di dunia), sehingga orang-orang yang mempunyai pemikiran seperti ini biasanya adalah orang-orang sufi dan orang-orang yang menganggap Allah bisa menyatu dengan mereka. Hal ini menggelitik saya untuk membahas tentang permasalahan ini. Saya bagi 3 pembahasan, pertama pembahasan makna tauhid, pembatal-pembatal Islam, sebab-sebab dan alasan Iblis dikafirkan.

Makna Tauhid

Yang pertama makna tauhid. Tauhid adalah mengesakan Allah dalam setiap peribadatan. Tauhid merupakan dasar keimanan yang paling dasar. Pondasi yang akan menguatkan sebuah bangunan, sehingga apabila bangunan itu terkena gempa, badai, atau apapun juga apabila pondasinya kuat, maka bangunan itu tidak akan rubuh. Apabila pondasinya saja tidak kuat bahkan hancur, niscaya tidak akan bisa bangunan itu berdiri, bahkan tumbang.

Allah berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 34:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Artinya: “Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para Malaikat “Sujudlah kamu sekalian kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”.

Dari ayat ini kita bisa mendapatkan pelajaran yang paling berharga yang mana di ayat ini juga termasuk di dalamnya banyak syubhat-syubhat yang biasanya dilontarkan kepada orang-orang awam yang tidak faham terhadap ayat ini. Di dalam ayat ini Allah memberikan perintah, yang mana setiap perintah yang berasal dari Allah secara langsung maka itu wajib dita’ati. Tidak ada pilhan kedua, ketiga dan seterusnya yang mana Allah telah tetapkan. Sebagaimana Allah telah berfirman kepada matahari untuk terbit dari barat, sebagaimana juga Allah berfirman kepada lautan untuk tidak meluap, maka setiap makhluk tunduk kepada firman Allah dan hanya orang-orang kafir saja yang tidak tunduk kepada perintah-Nya.

Inti dari tauhid itu sendiri adalah peng-Esaan Allah dalam setiap peribadatan. Sehingga setiap kita ibadah nilainya hanya diperuntukkan kepada Allah, serta lepas dari segala bentuk kesyirikan baik itu syirik kecil ataupun syirik besar. Ibadah adalah segala perbuatan yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana yang diajarkan oleh nabi dan Rasul. Beribadah sendiri berarti tunduk, patuh, ta’at dengan jujur dan ikhlas dengan menafikan segala yang tidak bisa diibadahi. Sehingga dari sini bisa diambil sebuah kesimpulan “TAUHID adalah PEMURNIAN ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’alaa“. Sedangkan tujuan dari agama Islam sebagai tugas rasul untuk manusia sendiri adalah membentuk sebuah pribadi yang berakhlaq. Berakhlaq artinya adalah seorang manusia yang tunduk kepada aturan-aturan Rabb semesta alam, tidak merugikan manusia ataupun makhluk lain, serta orang lain selamat dari lisan dan tangannya sehingga perbuatannya mengantar dia menuju tempat yang telah dijanjikan oleh Allah. Sehingga boleh dikata Islam itu memberikan rasa nyaman dan ketenangan baik kepada dirinya maupun orang lain. Memberikan manfaat dan menepis mudharat.

Pembatal-pembatal Keislaman

Sebelumnya kita harus faham tentang pembatal-pembatal keislaman yang mengakibatkan seseorang itu keluar dari Islam dan dianggap sebagai orang kafir. Pembatal-pembatal keIslaman antara lain:

1. Syirik kepada Allah.

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Artinya: “Sesungguhnya barangsiapa yang berbuat syirik (mempersekutukan sesuatu) dengan Allah, maka pasti Allah akan mengharamkan baginya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun” [Q.S. Al Maidah : 72]

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itubagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka dia sungguh telah berbuat dosa yang besar.” [Q.S. An Nisaa: 48]

Memang Allah tidak mengampuni dosa syirik dan akan mengampuni dosa selain dosa syirik. Namun ada catatannya yaitu “bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. Kalau Allah ingin mengampuni seorang hamba dengan dosa-dosanya, maka Allah sungguh Maha Pengampun. Sedangkan kalau Allah ingin mengadzab seorang hamba, maka itu adalah kehendak Allah. Dan sungguh Allah itu Maha Adil dalam urusan ini.

Dari Ibnu Umar rodhiyallohu’anhuma, sesungguhnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: ”Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau mengucapkan laa ilaaha illalloh (Tiada sesembahan yang haq kecuali Alloh), menegakkan sholat, dan membayar zakat. Apabila mereka telah melakukan semua itu, berarti mereka telah memelihara harta dan jiwanya dariku kecuali ada alasan yang hak menurut Islam (bagiku untuk memerangi mereka) dan kelak perhitungannya terserah kepada Alloh subhanahu wata’ala.” [HR. Bukhori dan Muslim]

2. Menjadikan perantara antara dia dengan Allah dalam peribadatan.

Maksudnya adalah menganggap Allah itu seperti makhluk. Menganggap Allah itu seperti raja-raja yang ada di dunia yang mana apabila do’anya ingin dikabulkan maka ia meminta orang-orang yang dianggap sholeh agar do’anya dikabulkan oleh Allah. Yang mana orang-orang sholeh ini telah meninggal, sehingga makamnya dimintai pertolongan. Atau kepada yang selain itu, yang mana tujuannya tetap menganggap Allah itu ada perantara.

Hal ini sering kita jumpai di makam-makan para wali yang mana mereka mengatakan, “Ini bukan syirik, kami percaya, kami beriman bahwa hanya Allah-lah tempat meminta, Allah adalah tuhan. Para wali ini kedudukannya tinggi di hadapan Allah, kami mendekatkan diri kepadanya agar dia mendekatkan diri kami kepada Allah“.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

artinya: “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya” [Q.S Az Zumar:3]

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya: “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).” [Q.S. Yunus: 18]

3. Tidak mengkafirkan orang kafir.

Ada segolongan orang-orang di jaman sekarang yang mengatakan bahwa orang-orang Nasrani, orang-orang Yahudi itu bukan orang kafir, sebab mereka masih dalam satu agama samawi, masih satu garis, maka kita tidak boleh mengkafirkannya. Ini adalah kesalahan yang teramat besar. Dulu sebelum Islam datang, maka mereka memang bukan orang kafir, sebab mereka mengikuti nabi mereka masing-masing. Namun apabila Islam telah datang maka mau tidak mau mereka harus mengikuti Islam.

Allah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

Artinya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku atasmu, dan telah kuridhai Islam sebagai agama bagimu”. [Q.S. Al Maidah: 3]

Firman-Nya yang lain:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولا

Artinya:”Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merobah muka (mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuk mereka sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang (yang berbuat ma’siat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku.” [Q.S. An Nisa:47]

4. Berhukum kepada Hukum selain Hukum Allah

Apabila seseorang mengatakan dengan yakin bahwa ada hukum yang lebih baik daripada hukum Allah, meyakini kebolehannya, mewajibkan berhukum kepada selain hukum Allah, menganggap hukum Allah itu lemah, ataupun meyakini bahwa Undang-undang atau hukum buatan manusia itu lebih adil daripada hukum Allah, ataupun berhukum kepada hukum selain hukum Allah, ataupun mengatakan hukum Allah itu sama dengan hukum manusia, maka orang yang seperti ini telah jatuh kepada kekafiran.

Contohnya adalah mengatakan: “Tujuannya adalah melepaskan dari perselisihan-perselisihan dan hal ini bisa dicapai dengan undang-undang buatan manusia dan bisa pula dengan syari’at ini, maka perkaranya sama saja.”

Maka hukum selain hukum Allah ini disebut thaghut. Sebab hukum Allah itu mencakup segala hal, yang mana semuanya telah dijelaskan baik di dalam Al Qur’an dan Hadits. Karena tanpa berhukum kepada keduanya manusia akan tersesat. Namun kita perlu garis bawahi dalam masalah ini. Tidaklah setiap manusia yang sekarang ini berada di negara ini bisa kafir lantaran patuh kepada perundangan di Indonesia.  Dijelaskan bahwasannya orang-orang muslim yang ada di negara ini, apabila mereka patuh kepada perundangan yang ada, namun mereka melakukannya “lantaran penguasa yang zhalim” ataupun “lantaran memang kondisi negaranya yang tidak ditegakkan syari’at” ataupun “tetap mengatakan bahwa hukum Allah itu di atas segalanya tapi melaksanakan hukum buatan manusia karena kondisi yang ada pada dirinya tidak bisa berhukum kepada hukum Allah” maka hal ini tidak dikatakan kafir. Para ulama menghukuminya Kufur Dunna Kufrin, yaitu Kekufuran di bawah kekafiran.

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu adalah yang terbaik untuk kalian dan paling bagus dampaknya.” [QS. an-Nisaa’: 59]
Hal ini juga senada seperti yang dikatakan oleh  Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan isi Kitab at-Tauhid:
Yang dimaksud dengan berhukum dengan selain hukum Allah yang dihukumi kafir dan murtad -sehingga layak untuk disebut sebagai thaghut- adalah dalam tiga keadaan:
[1] Apabila dia meyakini bahwa berhukum dengan selain hukum Allah -yang bertentangan dengan hukum Allah- itu boleh, seperti contohnya: meyakini bahwa zina dan khamr itu halal.
[2] Apabila dia meyakini bahwa selain hukum Allah itu sama saja (sama baiknya) dengan hukum Allah.
[3] Apabila dia meyakini bahwa selain hukum Allah lebih bagus daripada hukum Allah.
Lalu, dia bisa dihukumi zalim -yang tidak sampai kafir– apabila dia masih meyakini hukum Allah lebih bagus dan wajib diterapkan namun karena kebenciannya kepada orang yang menjadi objek hukum maka dia pun menerapkan selain hukum Allah. Demikian juga ia dikatakan fasik -yang tidak kafir- apabila dia menggunakan selain hukum Allah dengan keyakinan bahwa hukum Allah yang benar, namun dia melakukan hal itu -berhukum dengan selain hukum Allah- karena faktor dorongan hawa nafsu, suap, nepotisme dsb. Kemudian beliau juga menjelaskan bahwa tindakan orang yang mengganti syari’at dengan undang-undang buatan manusia dapat dikategorikan sebagai bentuk kekafiran akbar -yang saya dengar dari ceramah Syaikh Abdul Aziz ar-Rays beliau telah rujuk dari pendapat ini sebelum wafatnya-. Meskipun demikian, orang yang memberlakukan undang-undang ini tidak serta merta dikafirkan. Seperti misalnya, apabila dia menyangka bahwa sistem yang diberlakukannya itu tidak bertentangan dengan Islam, atau dia menyangka bahwa hal itu termasuk urusan yang diserahkan oleh Islam kepada manusia, atau dia tidak mengetahui bahwa apa yang dilakukannya itu termasuk kekafiran (lihat al-Qaul al-Mufid [2/68-69 dan 71]).
5. Membenci Ajaran Rasul Walaupun Mengamalkannya
Menolak, atau bahkan membenci ajaran rasululloh Shallallahu’alaihi wa salam bisa jatuh kepada kekafiran. Sebagai contoh ajaran rasululloh Shallallahu’alaihi wa salam adalah makan dengan tangan kanan. Apabila seseorang membenci makan dengan tangan kanan dikarenakan ini adalah ajaran rasululloh Shallallahu’alaihi wa salam maka dia telah kafir.
Allah berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

artinya: “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” [Q.S. Muhammad: 9]

6. Mengolok-olok perkara Agama

Barangsiapa mengolok-olok (becandaan) dalam masalah agama, maka dia telah kafir. Dalilnya:


وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

artinya: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu) tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok? Tidak usah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir sesudah beriman.” [At Taubah: 65-66]

Sebab turunnya ayat ini adalah ada sekelompok pemuda yang mana mereka sebetulnya bercanda untuk menghilangkan penat dalam perjalanan. Mereka berkata, “Kita tidak pernah bertemu seorang qura’ yang paling dusta lisannya, paling buncit perutnya, dan penakut ketika bertemu musuh” dan yang mereka maksudnya hal itu adalah rasululloh shallallahu’alaihi wa salam. Ada seorang shahabat yang mendengar itu dan melaporkannya kepada rasululloh Shallallahu’alaihi wa salam. Lalu turunlah ayat ini, kemudian rasululloh Shallallahu’alaihi wa salam mengambil tali kekang onta dan menaikinya.

Orang-orang yang berolok-olok tadi pun segera meminta maaf terhadap apa yang mereka lakukan tadi, “Wahai Rasulullah sesungguhnya kami hanya berbincang-bincang untuk menghilangkan keletihan dalam perjalanan, kami tidak memaksudkan untuk memperolok-olok, kami hanya bersenda gurau”. Rasululloh Shallallahu’alaihi wa salam tidak bergeming bahkan menoleh pun tidak, beliau tetap melajukan ontanya, lalu membaca dua ayat di atas.

Jadi, apakah sekarang Anda berani bercanda dalam masalah agama?

7. Sihir

Orang yang melakukan sihir dan mengajarkannya, maka mereka telah kafir. Dalilnya adalah surat Al Baqarah ayat 102.


وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ

artinya: “Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu) sebab itu janganlah kamu kafir.” [Al-Baqarah: 102]

8. Membantu dan menolong kaum kafir untuk melawan orang Islam

Dalam hal ini adalah perkara al wala’ wal baro’ (loyalitas dan pelepasan diri). Kita harus loyal kepada kaum muslimin dan kita harus berlepas diri dari orang kafir. Inilah kewajiban dalam agama ini, karena definisi Islam sendiri adalah, “Berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan keta’atan, dan berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang yang berbuat syirik”.

Allah berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

artinya:”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.”. [Q.S. Al Maidah : 51]

Menjadikan pemimpin-pemimpin, artinya wala’ kepada mereka, dan mencintai mereka. Maka barangsiapa yang mencintai mereka dan wala’ (loyal) kepada kaum kafir untuk memerangi Islam, maka sesungguhnya orang ini bagian dari mereka dan Allah memasukkannya ke dalam golongan mereka, yang artinya murtad.

9. Menyatakan Boleh keluar dari syari’at.

Ada sebuah kasus yang pernah saya temui, yaitu tentang seorang kyai yang mengatakan ia telah sampai kepada derajat ma’rifat, sehingga apa yang ia lakukan seperti minum khamer, zina ataupun mencuri dikatakan sebagai ibadah. Ia mengatakan telah melampaui tingkat syari’at yang mana syari’at itu adalah sholat, zakat, puasa, dan haji. Lalu sampai kepada hakikat hakekat, yang mana tingkatannya lebih tinggi daripada syari’at, lalu ma’rifat. Ia menganggap dirinya telah menyatu dengan Allah, sifat-sifat Allah telah menyatu ke dalam dirinya. Kemudian ia meniadakan syari’at bagi dirinya, bahwa syari’at seperti sholat, zakat dan puasa sudah tidak berlaku baginya.

Syarat untuk mencapai tingkat-tingkat itu bermacam-macam. Di antaranya adalah dengan membaca dzikir-dzikir seperti membaca ayat kursi 5.000 kali, sampai 25.000 kali, ataupun membaca shalat Nariyah sampai ribuan kali sehingga sampai kepada derajat yang dimaksud.

Ketahuilah saudaraku, ini adalah bid’ah dan jelas telah keluar dari syari’at Islam.

Kasus yang kedua. Seseorang yang mengatakan bahwa ia telah bertemu dengan nabi Khidir dan melakukan syari’at yang baru, keluar dari syari’at nabi Muhammad. Sholat bukan amalan yang seperti kita lakukan, zakat tidak dilakukan, puasa juga bukan seperti puasa yang disyari’atkan oleh nabi Muhammad, yang demikian juga telah kafir.

Allah berfirman:


وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

artinya: “Dan tiadalah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat untuk seluruh alam” [QS. Al Anbyaa’ : 107 ]

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

artinya: “Dan Kami tidak mengutsmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” [QS. Saba’: 28]

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

artinya: “Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang umi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. [QS. Al A’raaf: 158]

10. Berpaling dari Agama Allah

Yaitu tidak mempelajarinya, tidak mengamalkannya. Orang yang masih mengamalkan agama Allah itu lebih baik, yaitu seperti mengamalkan hal-hal yang wajib, walaupun jarang melakukan amalan sunnah, sekalipun orang itu tidak mempelajari dan hanya tahu dari apa yang ia ketahui dulu. Namun memang yang lebih afdhol dan lebih baik adalah mempelajari dan mengamalkannya. Sebagaimana Allah memberikan keutamaan bagi orang-orang yang menuntut ilmu.

Setiap saat kita berdo’a kepada Allah di dalam surat Al Fatihah agar ditujukan kepada jalan yang lurus dan dijauhkan dari jalan orang-orang yang dimurkai dan disesatkan.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

Artinya: “Tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus. Dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai lagi Engkau sesatkan” [Al Fatihah: 6-7]

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

artinya:”Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.[QS. Thaahaa: 124]

وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ

artinya: “Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka” [QS. Al Ahqaaf: 3]

Sebab-sebab dan alasan Iblis dikafirkan

Setelah kita mengetahui 10 pembatal-pembatal keIslaman yang mana jika salah satu saja seseorang melakukan 10 hal di atas maka dia telah keluar dari Islam, Islamnya telah batal, dan apabila dia bertaubat ia harus mengulang syahadat lagi, kita harus tahu bahwa mengakui bahwa diri bertauhid saja tidak cukup, tapi juga harus menjauhi 10 perkara di atas. Lalu sifat manakah yang menyebabkan Iblis dikatakan kafir?

1. Sombong, Iblis sombong kepada manusia dan merasa dirinya lebih mulia dari manusia. Sehingga kesombongan itu menutupi akalnya untuk bertindak rasional dengan tidak menolak kebenaran. Menolak kebenaran di sini adalah menolak kebenaran bahwa Allah adalah satu-satunya yang harus dita’ati dan tidak ada pilihan serta menolak sekalipun hatinya berat.

Dari Abdullah Bin Mas’ud radhiayallahu’anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru(sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” [HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Iman, Bab: Tahrimul Kibri wa Bayanuhu]

Sedangkan tindakan Iblis adalah sombong, menolak kebenaran yang mana Allah berfirman kepadanya untuk sujud kepada Adam, tapi Iblis menolaknya menganggap dirinya lebih mulia daripada Adam.

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Artinya: “Aku lebih baik darinya, Engkau ciptakan aku dari api sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah” [QS. Al A’raaf: 9]

Dalam hal ini karena sifat sombongnya, Iblis telah keluar dari syari’at yang diberikan Allah kepada Malaikat dan dirinya. Yaitu sujud kepada Adam.

2. Iblis tidak ta’at dan patuh terhadap syari’at Allah. Syari’at yang diberikan Allah secara langsung kala itu adalah agar para malaikat dan Iblis sujud kepada Adam. Dalam hal ini sujud bisa berarti dua hal, yaitu penghormatan dan sikap sujud, sebagaimana sujud yang kita fahami. Kita tidak boleh bersujud kepada siapapun di dunia ini, selain kepada Allah. Sedangkan Allah ketika itu memerintahkan bersujud kepada Adam, maka sudah seyogyanya perintah langsung ini adalah sebuah kewajiban yang harus dipatuhi, kalau pun tidak dipatuhi maka sudah pasti kekafirannya.

Maka dari itu apabila ada perintah di dalam Al Qur’an yang mana itu adalah perintah larangan, maka hal tersebut adalah harom. Sebagaimana Allah melarang untuk mencuri, membunuh, berzina, berjudi, lari dari peperangan, berdusta, berbuat syirik, maka hal-hal ini adalah hal yang diharamkan. Adapun perintah di dalam hadits bisa saja menjadi sebuah hal yang wajib, anjuran bahkan makruh, tergantung kondisi dan hal-hal yang mempengaruhi hadits tersebut.

Sebagaimana rasululloh Shallallahu’alaihi wa salam melarang makan dan minum dengan berdiri, bukan berarti perbuatan tersebut haram, tetapi makruh. Namun ada juga larangan rasululloh shallallahu’alaihi wa salam menjadi wajib seperti larangan shalat di 3 waktu. Wallahua’lam bishawab.

Sedangkan kita tidak boleh beribadah baik itu penghormatan dan sebagainya melebihi dari apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebagai contoh, kita tidak boleh thawaf selain thawaf yang diajarkan oleh rasululloh Shallallahu’alaihi wa salam, yaitu thawaf mengelilingi Ka’bah. Dan juga kita kalau Allah dan Rasul-Nya tidak mencontohkan mencium Hajar Aswad dan menghormatinya, maka kita tidak boleh melakukannya. Jadi ketika Iblis disuruh bersujud, maka bersujud itu juga merupakan hal yang diperintahkan, namun Iblis ingkar.

Demikianlah. Iblis itu kafir, tauhidnya tidak sempurna, dan sekali-kali kita tidak boleh mengatakan Iblis lebih baik dari kita. Bagaimana mungkin seorang yang kafir dikatakan lebih baik daripada orang yang beriman? Dari mana logikanya, sedangkan Allah telah memberikan perbedaan yang jelas orang kafir dan orang beriman dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” [QS. Al Bayyinah : 6]

Dan juga bagaimana mungkin orang yang bakal mendapatkan siksa dari Allah, lebih mulia daripada orang yang akan mendapatkan nikmat dari Allah?

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. An Nisaa’: 56]

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَنُدْخِلُهُمْ ظِلا ظَلِيلا

Artinya:”Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai istri-istri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.” [QS. An Nisaa’:57]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ

Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah, sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.” [QS. Mumthahannah: 13]

Kesimpulan

Pendapat bahwa Iblis itu lebih mulia daripada kita karena bertemu Allah secara langsung dan berbicara kepada-Nya adalah salah. Memang dulu sebelum Iblis kafir, ia mulia, tapi setelah itu ia kafir. Dan tidaklah sama orang-orang kafir disejajarkan dengan orang-orang beriman selama-lamanya. Iblis telah sombong, takabur dan telah menolak kebenaran, oleh karena itulah pikirannya tertutup tidak berpikir logis, sehingga ia berpaling dari perintah Allah untuk sujud kepada Adam. Dan setiap makhluk dilarang bersujud selain kepada Allah. Dan apabila Allah memerintahkan bersujud maka Iblis seharusnya bersujud. Namun ia ingkar, inilah yang mengakibatkan iblis menjadi kafir.

Wallahu a’lam bishawab.

Maraji’:

1. Al Qur’an Al Kariim.

2. Shahih Bukhari.

3. Shaih Muslim.

4. Arba’in Nawawi.

5. Buku pembatal-pembatal ke-Islaman oleh Syaikh Sholeh Fauzan bin Al Fauzan hafizhahulloh.

3 Responses

  1. maap, mau bertanya, apakah yg menganggap aturan selain aturan Alloh itu baik, maka batalah ke islamannya, terus bagaimana dengan kondisi negara indonesia yg uud nya bukan uud islam?

    • Kalau masalah menganggap UUD lebih baik dari Al Qur’an maka jelas batallah ke-Islamannya. Namun perlu dilihat, juga apakah seseorang melakukan hal tersebut karena ia tidak faham ataukah sudah faham dalam masalah ini. Apabila ia sudah faham bahwa Al Qur’an adalah satu-satunya hukum yang mana milik Allah, kemudian ia menghalalkan Undang-undang buatan manusia sebagai sesuatu yang sejajar dengan Al Qur’an bahkan menggantikannya, maka tentunya ia telah jatuh kepada kekafiran. Kalau tidak, misalnya karena tuntutan masyarakatnya, atau karena perpolitikan seperti di negara kita yang tidak mungkin kita mengubahnya menjadi dasar seperti AL Qur’an dan As Sunnah secara mentah-mentah, maka tidak sampai kepada kekafiran.
      Dalam hal ini Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Bazz rahimahulloh menghukuminya “kufur dunna kufrin”, yaitu kekufuran di bawah kekafiran.

  2. Hmm…, masalah ketauhidan, tidak banyak yang harus diperdebatkan. cukup ikuti perintah Allah jauhi Larangannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: