Bantahan atas mereka yang memakai dalil-dalil Shahih untuk memperkuat pendapat mereka tentang bolehnya Maulid.

Beberapa waktu lalu saya berdiskusi dengan orang yang tidak dikenal, karena memang kita belum kenalan yang langsung menanggapi link yang saya berikan tentang maulid. Selebihnya kami berdiskusi panjang lebar di twitter yang akhirnya dikarenakan keterbatasan waktu saya di jejearing sosial tersebut saya terpaksa menulis di blog ini. Di akhir diskusi saya meminta dia untuk memberikan dalil shohih yang berhubungan dengan maulid. Dan seperti yang sudah saya duga, dalilnya sama seperti orang-orang yang lain.

Dalil pertama:

artinya:”Berkata Abbas bin Abdulmuttalib radhiyallahu’anhu : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas radhiyallahu’anhu memuji dengan syair yang panjang, diantaranya : “… dan engkau saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya”
[Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417]

Dalil kedua:

Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa Keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari hadits no.4813).

Nash Hadits yang asli:

Telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Nafi’ telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Az Zubair bahwa Zainab binta Abu Salamah telah mengabarkan kepadanya Ummu Habibah binti Abu Sufyan telah mengabarkan kepadanya bahwa ia pernah berkata, “Wahai Rasululloh nikahilah saudaraku binti Abu Sufyan.” Maka beliau balik bertanya: “Apakah suka akan hal itu?”. Lalu aku jawab, “Ya. Namun aku tidak mau ditinggal oleh Anda. Hanya saja aku suka bila saudariku ikut serta denganku dalam kebaikan”. Maka nabi shallallahu’alaihi wa salam pun bersabda: “Sesungguhnya hal itu tidak halal bagiku”. Aku berkata, “Telah beredar berita bahwa anda ingin menikahi binti Abu Salamah”. Beliau bertanya, “Anak wanita Ummu Salamah?”. Aku menjawab, “Ya”. Maka beliau pun bersabda, “Meskipun ia bukan anak tiriku, ia tidaklah halal bagiku. Sesungguhnya ia adalah anak saudaraku sesusuan. Tsuwaibah telah menyusuiku dan juga Abu Salamah. Karena itu, janganlah kalian menawarkan anak-anak dan saudari-saudari kalian kepadaku.” Urwah berkata, Tsuwaibah adalah bekas budak Abu Lahab. Waktu itu, Abu Lahab membebaskannya, lalu Tsuwaibah pun menyusui Rasululloh Shallallahu’alaihi wa salam. Dan ketika Abu Lahab meninggal, ia pun diperlihatkan kepada sebagian keluarganya di alam mimpi dengan keadaan yang memprihatinkan. Sang kerabat berkata kepadanya, “Apa yang telah kau dapatkan?” Abu Lahab berkata, “Setelah kalian, aku belum pernah mendapati sesuatu nikmat pun, kecuali aku diberi minum lantaran memerdekakan Tsuwaibah”. [HR. Bukhari no. 4711 versi Lidwa Pusaka]

Penjelasan saya. Siapapun tak akan mau dikatakan sebagai orang sesat, bahkan orang yang sudah jelas-jelas sesat seperti Qodariyah, maupun Khawarij tidak bakal mau dianggap orang sesat. Maka dari itulah mereka memakai dalil-dalil yang shahih sebagai pembenaran atas apa yang mereka lakukan.

Dalil pertama bercerita tentang salah seorang shahabat Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallahu’anhu. Namun yang menjadi esensi dari dalil ini adalah sya’ir yang dibawakan oleh shahabat ini.

“…dan engkau saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang,
dan langit bercahaya dengan cahayamu,
dan kami kini dalam naungan cahaya itu
dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya”

Mungkin karena kata-kata kelahiran inilah sehingga dianggap sebagai pembolehan bagi mereka. Tapi saya sama sekali tidak melihat bahwa ini adalah sebuah perintah untuk beribadah (baca: maulid). Lalu apa sebenarnya makna dari hadits ini.

Hadits ini menjelaskan bahwa rasululloh shallallahu’alaihi wa salam mempunyai keistimewaan dan shahabat menyanjung beliau dengan syair yang berupa kiasan. Dan kiasan ini tidaklah berlebihan. Sebab kiasan ini kiasan yang benar, dan kiasan ini adalah qorinah. Dalam memahami sebuah dalil kita memaknai hukum asal lafazh adalah haqiqoh bukan majaz, terkecuali sebuah pertanda (qorinah).

Dalam hal ini Allah telah berfirman:

Artinya: “Telah datang kepada kalian cahaya dan sebuah kitab” [Al Ma’idah: 15]

Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini: “Allah Ta’ala mengabarkan dalam Al Qur’an Al Karim bahwa Ia mengutus Nabi-Nya yang mulia” [Tafsir Ibnu Katsir]

Namun apakah dalil ini bisa dianggap sebagai pembolehan maulid? Jawabnya tentu saja tidak. Seandainya memang benar ini dijadikan sebagai pembolehan maulid, yang pertama kali melakukannya adalah Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, sebab beliau adalah anak dari Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallahu’anhu. Yang mana tidak ada satupun ilmu yang disembunyikan dari sang ayah kepada anak. Dan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu menjadi salah seorang shahabat yang memahami Al Qur’an turunnya beserta tafsirnya. Dan ini dikenal luas oleh para shahabat. Apakah Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma merayakan maulid?

Penjelasan dalil kedua:

Abu Lahab sudah pasti masuk neraka. Allah telah menceritakannya di dalam surat Al Lahab. Adapun Abu Lahab diberikan minum lantaran memerdekakan Tsuwaibah bukanlah sebuah dasar pembolehan maulid. Hadits ini tidak ada hubungannya dengan maulid. Justru hadits ini menceritakan tentang saudara sepersusuan, dan juga keistimewaan rasululloh shallallahu’alaihi wa salam, dan juga keistimewaan memerdekakan budak. Tidak diceritakan di hadits ini bahwasannya ada perintah untuk merayakan maulid. Apakah Abu Lahab dibebaskan dari neraka karena merayakan maulid?

Kalau memang demikian berarti maulid itu bukan dari Islam, karena yang melakukannya adalah orang-orang musyrik???

Dari dalil di atas sudah jelas, dalil yang dibawakan tidak nyambung. Kalau pun nyambung ya disambung-sambungin. Alhasil sampai sekarang tidak ada satupun dalil yang shahih tentang maulid nabi.

17 Responses

  1. kalau ingin berdiskusi tentang masalah maulid NABI tanyalah kepada orang yang ahli dalam hal itu bukan dengan orang yang anda belum kenal tentang keilmuan dan ibadahnya. Berapa banyak ulama-ulama bahkan yang dikenal sebagai waliyullah yang tidak diragukan lagi keilmuan dan ibadahnya dengan gencarnya meluaskan tradisi MAULID NABI tentu mereka telah mengkaji dan menelaah tentang boleh atau tidaknya melaksanakan MAULID NABI tsb.
    WALLAHU A’LAM BISSHAWAB

    • Siapa ulamanya ahli hadits-kah? Tradisi itu sunnah atau bukan? Maulid nabi itu bid’ah, tidak ada satupun ulama yang mengatakan MAULID itu SUNNAH.

      bantahan masalah maulid sudah saya tulis di blog ini juga. Dan para ulama pun sudah banyak membahas bahwa Maulid Nabi Bid’ah.

      • Assalamualaikum Abu Aisyah al Kediri,
        saya orang awam tentang hadits, namun bicara tradisi maulid nabi Muhammad SAW, itu sudah berjalan mungkin sejak ratusan tahun yang lalu . bila Ulama jaman dahulu saja ( yang mungkin mereka juga salafus sholeh ) tidak mempermasalahkan tentang maulid nabi, maka seyogyanya kita sebagai sebagai umat muslim juga tidak mempermasalahkannya. apalagi bila mungkin ilmu kita dibanding ulama terdahulu tidak lah seberapa.

        mengenai topik debat anda dengan orang yang tak di kenal.. itu memang saya rasa kurang pas. bila memang ingin mendebat bagusnya ke orang yang berlimu tentang itu, misalkan anda pergi ke-tempat pesantren lirboyo Kediri atau ke tebu ireng di jombang. tentu disana terdapat kiai bisa anda ajak diskusi.

        WALLAHU A’LAM BISSHAWAB
        Purwanto – Batam

  2. bismillah..
    SAUDARA PURWANTO BILANG, ULAMA TERDAHULU TIDAK MEMPERMASALAHKAN MAULID? DARI MANA DAPAT KABAR? SEBUTKAN 1 SAJA ULAMA AHLI SUNNAH YG MEMBOLEHKAN MAULID, JUSTRU MEREKA GENCAR MEMBANTAH.. KARNA MEREKA FAHAM BETUL DG HADITS NABI: ”man amila amalan laisa alaihi amruna fahuwa raddun” – Barangsiapa yg beramal dg amalan yg bukan urusan/syariat/tuntunan kami maka tertolak.- (HR. MUSLIM, dari Aisyah rad.’anh).

    • Shollu ‘alaa Muhammad! Wahai saudara2 muslimku, mari kita senantiasa mencintai Rosululloh SAW. Maulidunnabi sejak dulu sampai kapanpun tidak ada jeleknya, teruskan Mujahadah dan Maulid, karna itu akan semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT yang Maha Mengasihi semua mahlukNya. Mari kita tingkatkan diri dalam usaha selalu memperbaiki akhlaq kita untuk bisa saling menjaga perasaan sesama muslim, masih ingat pesan para Kyai sepuh? *Seseorang bisa masuk syurga karna baik ahlaq budi pekertinya, meskipun sedikit ibadahnya. Seseorang juga bisa terjerumus ke dalam neraka terendah karna jelek ahlaqnya, meskipun banyak ilmu dan ibadahnya. Walloohua’lamubishowab… Shollu ‘alaa Muhammad!

  3. مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

    “Barang siapa yang menjalankan suatu sunnah yang baik didalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tidak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa yang menjalankan suatu sunnah yang jelek didalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tidak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (HR. Imam Muslim no.1017)

    Dalam menjelaskan hadits tersebut Imam Abu Zakaria Yahya Bin Syaraf Nawawi Ad Dimasyqi As Syafi’i yang dikenal dengan Imam Nawawi mengatakan dalam Kitabnya yaitu Syarah Muslim sebagai berikut :

    (من سن في الاسلام سنة حسنة فله أجرها ) إلى آخره فيه الحث على الابتداء بالخيرات وسن السنن الحسنات والتحذير من اختراع الاباطيل والمستقبحات وسبب هذا الكلام في هذا الحديث أنه قال في أوله فجاء رجل بصرة كادت كفه تعجز عنها فتتابع الناس وكان الفضل العظيم للبادى بهذا الخير والفاتح لباب هذا الاحسان وفي هذا الحديث تخصيص قوله صلى الله عليه و سلم كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وأن المراد به المحدثات الباطلة والبدع المذمومة وقد سبق بيان هذا في كتاب صلاة الجمعة وذكرنا هناك أن البدع خمسة أقسام واجبة

    Artinya: Hadits (“Barang siapa melukan kebaikan dalam islam, maka baginya pahalanya”) dst.. dalam hadits tsb terdapat dorongan/motifasi untuk memulai kebaikan, dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik, dan (dalam hadits tsb) terdapat Tahdzir (peringatan/ancaman) untuk mengadakan perkara-perkara bathil dan buruk/menjijikkan dst…. (hingga ucapan beliau) dan dalam hadits ini terdapat “TAKHSHISH” (pembatasan keumuman) sabda Rosululloh saw, (yang berbunyi) “Setiap perkara baru adalah Bid’ah dan setiap Bid’ah adalah sesat”. Sesungguhnya yang dikehendaki dengan hadits tsb adalah “AL MUHDATSAAT AL BATHILAH DAN AL BIDA’ AL MADZMUMAH” (perkara-perkara baru yang bathil dan bid’ah-bid’ah yang tercela). Dan sungguh penjelasan tentang masalah ini telah lalu pada “Kitab Sholat Jum’ah” dan telah kami terangkan di sana sesungguhnya bid’ah terbagi atas lima hukum. (Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, 7/104)

    Jadi jelas disini bahkan Imam Nawawi dengan lebih teliti lagi membagi bid’ah menjadi 5 bagian yaitu :
    1. Bid’ah Wajibah (Bid’ah Wajib)
    2. Bid’ah Mandubah (Bid’ah Sunnah)
    3. Bid’ah Mubahah (Bid’ah Mubah)
    4. Bid’ah Muharamah (Bid’ah Haram)
    5. Bid’ah Makruhah (Bid’ah Makruh)

    Jadi jelas disini bahwa dengan pemahaman ulama yang mu’tabar kita tahu apa yang dimaksud bid’ah yang disampaikan oleh junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa alihi wasallam. Seperti juga yang dilakukan para sahabat, seperti : Menyusun mushaf Qur’an, Mengumpulkan dalam satu jamaah (dengan satu Imam) shalat tarawih sebulan penuh dengan 23 rakaat (termasuk witir), adzan jum’at 2 kali dan lain-lain.

    Dalam amaliah agama ada yang :
    1. Ibadah Mahdhoh bekaitan dengan Usuliyah (Ibadah Yang Pokok) yaitu yang terkait pada Shalat, Puasa, Zakat, dan Haji itu semua dalam ushul fiqh disebut Asal hukum dari Ibadah adalah tauqif (dalam mengerjakannya harus mengikuti dalil syar’i yang kuat dalam Qur’an dan Hadits Shahih). Dalam ushul fiqih pula, untuk menjelaskan masalah tauqif ini, yaitu tauqif harus memenuhi kriteria :
    1. Sifat (Sesuai syarat dan rukun)
    2. Zaman (Waktunya tertentu)
    3. Macam (Shalat lima waktu, zakat fitrah, Puasa Ramadhan dan Haji)
    4. Tempat (Wukuf di Arafah)

    2. Ibadah Ghairu Mahdhoh berkaitan dengan Furu’iyyah (Ibadah yang merupakan cabang Ibadah pokok) yaitu ibadah diluar ibadah pokok diatas, maka tidak mengikuti tauqif diatas, tapi berlaku hukum dalam ushul fiqh “Lil Wasail Hukmul Maqashid” = “Hukum untuk jalan ke tujuan sama dengan hukum tujuannya”.

    Lebih jelasnya begini, Hukum minum khamr (minuman keras) adalah haram, maka menjualnya pun haram.

    Maka minum khamr sebagai maqashid (tujuannya) jelas ada dalilnya, yaitu haram meminum khamr. Sedangkan kalau ada yang tanya, “Mana dalilnya menjual khamr itu haram ?” Itu adalah pertanyaan lucu, dan jelas menunjukkan orang tersebut tidak mengerti ushul fiqh.

    Contoh lain : Membaca shalawat itu diperintahkan, maka mengikuti maulid (pembacaan sejarah kehidupan Rasulullah Muhammad SAW. agar kita mengerti sosok Rasulullah untuk meneladaninya dan mencintai beliau) adalah masuk cabang perintahnya. Artinya membaca shalawat itu sebagai maqashid (tujuan) dalilnya jelas, sedang peringatan maulid sebagai wasail (cabangnya) maka dalilnya mengikuti dalil maqashid.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    • bengong dah tuh yg bilang maulid sesat..
      lagi nyari lg dalil2 di mbah gooegle buat bisa berhujjah..

    • Sudah lama saya ndak mengunjungi blog saya yang ini, baiklah mari kita teliti dulu maksud dari hadits yang antum berikan cuma “sepotong” saja itu.

      Pertama dalil yang anda bawakan itu tidaklah lengkap. Berikut lengkapnya:

      Dari Jarir bin Abdillah, beliau berkata,

      كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَدْرِ النَّهَارِ فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوْ الْعَبَاءِ مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ عَامَّتُهُمْ مِنْ مُضَرَ بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا رَأَى بِهِمْ مِنْ الْفَاقَةِ فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ فَأَمَرَ بِلَالًا فَأَذَّنَ وَأَقَامَ فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ

      يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا وَالْآيَةَ الَّتِي فِي الْحَشْرِ اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ

      تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ مِنْ دِرْهَمِهِ مِنْ ثَوْبِهِ مِنْ صَاعِ بُرِّهِ مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ حَتَّى قَالَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ قَالَ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا بَلْ قَدْ عَجَزَتْ قَالَ ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ حَتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

      Kami bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di pagi hari. Lalu datanglah satu kaum yang telanjang kaki dan telanjang dada berpakaian kulit domba yang sobek-sobek atau hanya mengenakan pakaian luar dengan menyandang pedang. Umumnya mereka dari kabilah Mudharatau seluruhnya dari Mudhar, lalu wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah ketika melihat kefaqiran mereka. Beliau masuk kemudian keluar dan memerintahkan Bilal untuk adzan, lalu Bilal adzan dan iqamat, kemudian beliau shalat. Setelah shalat beliau berkhutbah seraya membaca ayat,

      يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

      “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An Nisa: 1)

      dan membaca ayat di surat Al Hasyr,

      يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسُُ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ

      “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Hasyr:18) Telah bershodaqah seseorang dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, takaran sha’ kurmanya sampai beliau berkata walaupun separuh kurma.

      Jarir berkata, ‘Lalu seorang dari Anshar datang membawa sebanyak shurroh, hampir-hampir telapak tangannya tidak mampu memegangnya, bahkan tidak mampu’. Jarir berkata: ‘Kemudian berturut-turut orang memberi sampai aku melihat makanan dan pakaian seperti dua bukit, sampai aku melihat wajah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersinar seperti emas, lalu Rasulullah bersabda,

      مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

      “Barang siapa yang membuat contoh dalam Islam contoh yang baik, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barang siapa yang mencontohkan contoh jelek dalam islam maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka”.

      Hadits ini dikeluarkan oleh : Imam Muslim dalam Shahih Muslim (7/103-104, dengan Syarah An Nawawi) dan (16/225-226), Ahmad dalam Al Musnad (4/357, 359, 361, 362), An Nasaa’i dalam Al Mujtaba’ (5/75-76-77), Al Tirmidzi dalam Al Jaami’ (5/42) no. 2675

      Dari hadits ini Sama sekali tidak ada indikasi untuk melegalkan yang namanya bid’ah atau amalan-amalan baru. Sebab maksud dari sunnah yang baik dijelaskan oleh para ulama adalah mengerjakan amalan-amalan sunnah yang mana orang lain tidak mengerjakannya sehingga mereka tergerak untuk mengerjakan amalan tersebut. Maka orang yang memulai atau mengajak orang untuk melakukan amalan shalih tersebut disebut sebagai orang yang mendapatkan kebaikan dalam hal ini. Dan lihatlah sekali lagi, di hadits tersebut tidak ada terbesit satupun atau tersirat untuk melakukan bid’ah. TIDAK ADA SAMA SEKALI.

      Kedua, penjelasan ibadah mahdhoh dan ghairu mahdhoh bukan demikian.

      Para ulama menjadikan perkara ibadah menjadi dua macam. Macam pertama adalah ibadah yang murni ibadah (ibadah mahdhoh). Ibadah yang satu ini harus melalui wahyu,tanpa wahyu seseorang tidak mungkin mengamalkannya. Contohnya adalah shalat,puasa,dan dzikir. Ibadah jenis pertama ini tidak boleh seseorang membuat kreasi baru di dalamnya,sebagaimana nanti akan dijelaskan.
      Sedangkan macam kedua adalah ibadah ghoiru mahdhoh (bukan murni ibadah). Macam kedua ini,asalnya adalah perkara mubah atau perkara dunia. Namun karena diniatkan untuk ibadah,maka bernilai pahala. Seperti berdagang,jika diniatkan ikhlas karena Allah untuk menghidupi keluarga,bukan semata-mata untuk cari penghidupan,maka nantinya bernilai pahala. [Lihat pembahasan dalam kitab Tahdzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah,Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdil ‘Aziz AL Jibrin,hal. 39-40,Maktabah Al Mulk Fahd,cetakan pertama,1425 H]

      Jadi ibadah mahdhoh adalah ibadah yang sudah ada nash-nya dan itu adalah ibadah murni. Sedangkan ibadah ghairu mahdhoh adalah bukan ibadah namun dianggap sebagai ibadah karena niatnya

      Ketiga, Mengikuti maulid bukan perkara cabang, dan tidak bisa diqiyaskan membaca shalawat sama dengan maulid. Karena itu dua hal yang berbeda. MENGQIYASKAN sesuatu itu dilarang karena dalil bershalawat telah ada. Sedangkan dalil maulid tidak pernah ada dan para shahabat TIDAK PERNAH MELAKUKANNYA PADAHAL MEREKA MAMPU.

      Terlalu mengada-ada kalau dianggap maulid adalah cabang. Cabang apa? Cabang perintah? Siapa yang memerintahkan? Apakah engkau kira para shahabat membuat kue, kemudian mereka berkeliling di depan kue buatan mereka, menyalakan lilin, lalu bersholawat kepada nabi, setelah itu ketika selesai meniup lilin untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam??? TIDAK TENTU SAJA.

      Maulid itu adalah ibadah orang Nashara. Ibadah orang Yahudi!

      لا تتخذوا قبري عيدًا ولا بيوتكم قبورًا ، وصلوا عليَّ فإن تسليمكم يبلغني أين كنتم ” رواه أبو داود (2042) وصححه الألباني في صحيح أبي داود (1796) .

      “Janganlah engkau semua menjadikan kuburanku sebagai ied (tempat perayaan) dan janganlah engkau semua menjadikan rumah-rumah kamu semua (seperti) kuburan. Dan bershalawatlah kamu semua kepadaku, karena salam kamu semua akan sampai kepadaku dimanapun kamu berada.” HR. Abu Dawud, 2042 dan dishohehkan oleh Al-Bany di Shoheh Abu Dawud, 1796.

      Lho, kita tidak menjadikan kuburan beliau sebagai hari raya. Kita merayakan hari lahir beliau. Alasan ini pun terbantahkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam wafat pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal, dan seluruh para ulama sepakat akan hal ini. Namun tentang kelahiran beliau coba kita lihat pendapat para ulama, Sampai sekarang pun terjadi khilaf. Artinya ini perkara yang mutasyabihat. Bahkan jumhur (pendapat mayoritas)menyebutkan beliau lahir pada tanggal 9 Rabi’ul Awwal. Lha koq hebat bisa memastikan beliau lahir pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal??

      Kalau anda mengetahui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam wafat pada tanggal tersebut, harusnya ANDA BERSEDIH, bukan BERGEMBIRA!

      Inilah mengapa beliau bersabda “kuburanku”. Karena ini adalah wahyu dari Allah bahwasannya di masa depan umat beliau akan banyak yang merayakan hari kematian beliau dengan dalih sebagai MAULID.

      Wallahu a’lam bishawab.

  4. إن أعظم المسلمين في المسلمين جرما من سأل عن شيء لم يحرم على المسلمين فحرم عليهم من أجل مسألته
    “Sungguh sebesar – besar kejahatan muslimin pada muslimin lainnya, adalah yang bertanya tentang hal yang tidak diharamkan atas muslimin, menjadi diharamkan atas mereka karena pertanyaannya”
    (Shahih Muslim hadits No.2358 dan juga teriwayatkan pada Shahih Bukhari riwayat yang sama)

  5. Imam Hafizh Ibnu Rajab berkata : ”Kewajiban orang yang telah menerima dan mengetahui perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menyampaikan kepada ummat, menasehati mereka dan menyuruh mereka untuk mengikutinya sekalipun bertentangan dengan pendapat mayoritas ummat”.

  6. Kesimpulan :

    Apa yang disampaikan oleh Abu Aisyah Al Kediri adalah dengan harapan agar kita menjadi Muslim yang terbiasa beribadah dengan landasan ilmu dan ketakwaan, bukan karena fanatik kelompok atau sekadar kebiasaan yang telah mengakar.

  7. Begitulah muhaddits google…

  8. Wahai saudaraku se iman
    shalawat kalian bukanlah bid’ah tapi memperingati hari hari kelahiran nabi apa bedanya dengan ulang tahun? perayaan maulid itu bercampur baurnya
    lelaki dan perempuan didalam sebuah masjid sambil bernyanyi sedangkan kita tau nyanyian itu hukumnya haram.

  9. maulid hukum nya mubah…..menambah kecintaan kt kpd rosul dgn mengingat kelahiran, perjuangan dan dakwah Nabi SAW……wahabi emang disusupi YAHUDI yg mau menghancurkan panji2 Islam…makam Rosul aja mau digusur…awas lo berani gusur gue PANCUNG,,,,,!!…..

    • Tahu nggak, kalau Abu Bakar, Umar dan Utsman juga Ali membuat kue, kemudian kue itu ada lilinnya kemudian mereka bershalawat untuk rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meniup lilin tersebut.

      Kemudian orang-orang membagi-bagikan kue tersebut.

      Cerita di atas pasti cerita bohong, hanya saja kira-kira bolehkah seperti ini kira-kira di jaman nabi?

      Ketika Anda bicara “MUBAH” anda butuh dalil untuk bisa mendatangkan bukti kemubahannya. Menganggap bahwa MAulid adalah bagian dari agama Anda pun butuh dalil, nyatanya tak ada dalil yang shahih yng menjelaskan bahwa maulid nabi ini bagian dari agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: