Buku Tamu

Silakan bagi teman-teman yang ingin memberikan tanggapan dan komentar. Komentar tidak akan di approve apabila berisi hal-hal yang berbau pornografi, kesyirikan, kekufuran, spam dan lain-lainnya yang tidak saya setujui.

Masukan dan saran sangat saya nantikan. Terima kasih.

49 Responses

  1. ALHAMDULILLAH,telah hadir adanya web mengenai meneladani para salafus sholeh, yang kita sebagai penerusnya harus memegang erat – erat dengan geraham kita .dengan banyaknya firqoh- firqoh ,membuat banyak orang tercerai berai .mudah-mudahan web ini memberikan nuansa untuk bersatunya umat islam dan memperkecil adanya perbedaan.kalau bisa web ini lebih banyak membahas musuh-musuh islam yahudi,para munafikin agar umat islam sadar bahwa kita di buat terlena dan dininabobokan dengan tipu dayanya.

  2. Titip link ke situs kami, akhi.
    Jazakallahu khairan katsiiran.

  3. Assalamu’alaikum
    kaifa haluk akh,…perkenalkan ana Abu Zubair Danny Kurnianto,….blogs antum bagus, insya Alloh bermanfaat bagi kaum muslimin. Ana buatkan link ke blogs antum ya. Barokallahu fiik

  4. Saya mengharapkan kumpulan shalawat tersebut penulisannya dengan latin agar kami yang sangat bodoh ini bisa juga membacanya.

    Sengaja tulisan tersebut tidak saya beri huruf latinnya, agar yang bersangkutan juga bisa belajar membaca. Karena penulisan latin dengan bunyi huruf arab sangat terbatas, dan tidak akan sesuai kalau diterapkan.

  5. Assalamu’alaikum
    Insya Alloh, banyak manfaat dari blog antum. Salam kenal dari Joga

  6. Assalamu’alaikum…
    Salam kenal akhi….
    Kami ikhwan-ikhwan dari Universitas Sumatera Utara Medan.
    Jika antum berkenan, link kan blog Kami di blog antum ya…..
    blog antum juga akan Kami link kan di blog Kami.
    Oh iya, kalau tidak keberatan bisakah Kami meminta Kode HTML Link Situs Salafi dari antum akhi…???
    Jazakallahu khaoiran……

    Silakan, saya tak keberatan. Kalau mau link situs-situs salafi sebagian besar belum ana tambahkan. Tapi Insya Allah akan segera ana tambahkan di blogroll.

  7. Assalamu’alaikum…
    Salam kenal akhi….
    Perkenalkan ana Abu Ahmad Fadhillah Al Binjy
    Ana tinggal di Kota Binjai Sumatera Utara.
    Jika antum berkenan, link kan blog Kami di blog antum ya…..
    blog antum juga akan Kami link kan di blog Kami.
    Tapi kalau tidak berkenan juga tidak apa-apa, soalnya blog ana baru dibuat. Sekalian masih belajar lagi….
    Blog antum sangat bagus sekali…Semoga bermanfaat selalu…
    Jazakallahu khaoiran……

  8. Alhamdulillah
    mudah2 han blog ini makin keren dan oke punya

    Amiin Insya Allah, dan semoga antum menyadari kalau asmak-asmak dan sejenisnya adlaah perbuatan syirik. Semoga Allah memberi hidayah.

  9. artikel yang ada di blog anda, sangat membantu saya.makasih ya….

    semoga pembuat blog ini sehat selalu.

    Amiin, Alhamdulillah, selain kesehatan yang dibutuhkan manusia adalah aqidah yang benar. Percuma sehat kalau aqidah tidak benar. Semoga Antum mendapatkan hidayah dan mempelajari tauhid lebih dalam lagi. Karena Islam ini bukan hanya semata-mata menjalankan ibadah saja, tapi juga harus faham ditujukan kepada siapa ibadah itu dan juga apakah cara ibadahnya sesuai dengan tuntunan dari rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam ataukah tidak.

  10. Assalamu’alaykum
    Baarokalloohufiik
    ana ijin akhi, tuk mentautkan blog antum di blog ana :
    http://akhsa.wordpress.com/blog-ikhwah/

  11. Assalaamu’alaykum,
    akh salam kenal dari ana. mau tukeran link g? sekalian berkunjung ke blog ana.syukron

  12. jangan lah kalian saling memfitnah.bahkan kalian beranggapan orang yang melakukan dosan lebih baik dibanding yang melakukan bidah.
    LALU APA HUKUMAN BAGI MEREKA YANG MEMFITNAH SEORANG MUSLIM YANG ALIM DENGAN MENGHUJAT MEREKA BIDAH

    Tidak ada yang memfitnah. Berbuat dosa apa dulu? Klaau berbuat dosanya adalah dosa besar, tentunya ada tingkatan-tingkatan tertentu. Sebagaimana Syaikhul islam Ibnu Taimiyah rahimahulloh berkata, “Orang yang berdosa besar di akhirat, keputusan mereka ada di tangan Allah. Kalau mereka diampuni oleh Allah maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, kalau Allah mengadzab mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba Allah”.
    Jadi harus dijelaskan dulu dosanya. Kalau orang yang berbuat syirik, jelas mereka dosa, bahkan dosanya tidak bisa diampuni oleh Allah.
    Kalau dikatakan apakah orang yang berbuat bid’ah berdosa? Jawabannya adlah berdosa. Karena rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam sendiri bersabda, “Setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap sesat masuk ke neraka”.
    Masalah yang anda sebutkan memfitnah, saya tidak tahu memfitnah yang mana. Apakah saya memfitnah anda? Coba jelaskan di sini saya memfitnah dibagian mana.

  13. Assalamu’alaikum akhi…

    Saya Didit Fitriawan dari ITS Surabaya. Setelah jalan – jalan, saya menemukan blog antum. Sangat menyenangkan jika kita bisa menukar ilmu dan silaturrahim untuk saling tukar alamat blog. Semoga dengan ini, ukhuwah antum, saya serta ikhwah yang lain akan terjaga…

    http://fitrahfitri.wordpress.com/

    Salam ukhuwah dari saya untuk antum…

    Jazakallahu Khairan, akhi…

  14. Assalamu’alaikum
    Silakan Kungjungi :
    http://www.pustaka-albinjy.co.cc
    Semoga Bermanfaat

  15. Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

    Terimakasih atas kunjungannya di Blog saya akh.

    abul.jauzaa@gmail.com

  16. Assalamualaikum…

    Blog yang bagus. bermanfaat..

    Myspace Graphics

  17. Assalamualaikum Warrahmatullah Wabarrakatuh

    Numpang mampir sambil nimba ilmu.
    Jazakallohu Khairan Katsiiran akhi.
    salam ukhuwah.

  18. exblopz semoga apa yang dituliskan menjadi hujjah kebaikan bagi antum di hari akhir nanti, jika tidak tentu akan menjadi hujjah yang lain.
    Masih koleksi anim?
    barokallahufik

    Waiyyakum. Saya masih tidak setuju dengan perbuatan Ibrahim yang memata-matai orang lain. Semoga matanya dicongkel oleh Allah Azza Wa Jalla.

  19. Assalamu’alaikum
    Apa kabar akhi, ana mau titip pengumuman kajian akbar d purwokerto, ini redaksinya:

    Hadirilah….!

    PENGAJIAN AKBAR

    Dengan Tema :

    BINA PERSAHABATAN HINDARI PERMUSUHAN

    Pembicara :

    Al Ustadz Dr. Ali Musri, MA

    (Ketua Sekolah Tinggi DI Imam Syafi’I Jember)

    (Alumni universitas Islam Madinah Arab Saudi)

    Waktu & Tempat :

    Kamis, 25 Desember 2008

    Pukul : 09.00 – 15.00 WIB

    Di Masjid Agung Baitussalam Purwokerto

    Jl. Masjid Purwokerto (Depan Alun-Alun)

    Gratis!!!

    Terbuka Untuk Umum (Putra & Putri)

    Informasi :

    Latif (081546966656)

    Abu Mu’adz (081327241124)

    Di Selenggarakan oleh :

    Yayasan Al Ishlah Purwokerto

  20. Assalamu’alaikum…
    Salam kenal akhi….
    Semoga kesehatan dan kesejahteraan terus menyertai akhi..sehingga bisa terus memberikan manfaat buat agama allah lewat blog ini, ana mohon ijin untuk mengkopy beberapa artikel akhi..buat tausiyah di pengajian kami di tangerang.

    Salam ukhuwah dari saya untuk antum…

    Jazakallahu Khairan, akhi…

  21. assalamu’alaikum….

    mohon maaf, saya ingin bertanya,
    apakah seseorang yang belum baligh memfitnah seseorang,orang tersebut mendapatkan dosa…?

    mohon pencerahannya…

    Wa’alaykumsalam warohmatullohi wabarokaatuh,
    kalau anak kecil memfitnah seseorang maka dilihat dulu apakah dia sudah faham dosa atau tidak. Anak kecil ada yang tidak faham tentang dosa dan pahala. Kalau anak tersebut tidak mengerti, maka tugas kita adalah memberitahunya bahwa tindakan tersebut tidak baik. Sebab itu sama saja dengan berdusta.
    Kalau anak tersebut faham. Maka kita harus memberitahukannya kepada orang tuanya yang telah mengasuhnya, agar mendidiknya dengan baik.
    Adapun dosanya, maka dosanya adalah menjadi tanggungan orang tuanya. Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan seorang shahabat yang berhaji dengan seorang anak yang belum baligh, ketika ditanya pahalanya untuk siapa, rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam mengatakan bahwa pahala dari haji anak tersebut adalah milik orang tuanya.

    Maka dari itu hati-hati dalam mendidik anak. Kita bisa menjadikan anak kita preman kalau kita mendidiknya dengan cara preman. Kita bisa mendidik anak kita menjadi seorang ulama, kalau kita mendidik anak kita dengan cara ulama.

    wallahu’alam bishawab.

  22. terima kasih atas bantuan untuk menjawab pertanyaan saya,
    tetapi bila anak tersebut memfitnah karena kemauannya sendiri,lalu siapa yang berdosa ?si anak? atau orang tuanya?

    dan adakah ampunan bagi seseorang yang memfitnah ?

    Jawaban saya tetap seperti yang lalu. Dan masalah ampunan, Allah adalah Maha Pengampun yang akan mengampuni segala dosa kecuali dosa syirik. Jadi selama orang itu bertaubat atas segala perbuatannya dengan sebenar-benarnya taubat, maka Allah pasti akan mengampuninya Insya Allah.

  23. Wa kalau penyampaian ilmunya dengan cara yang halus terhindar kekerasan seperti ini saya sangat setuju sekali…

  24. Alhamdulillah…akhirnya menemukan blog yang penuh dengan artikel islam…syukron jazakalloh khoir…

  25. Saya berkesimpulan Blog anda menukil dari faham wahabi yang berpotensi memecah belah umat Islam, segeralah bertaubat dan luruskan niat anda.

    • Terima kasih sudah mengingatkan saya untuk bertaubat, memang kita semua harus bertaubat, sebab setiap hari manusia punya dosa baik yang disengaja maupun tidak.

      Blog ini sebagian besar memang berisi artikel atau faham yang dikatakan orang sebagai Wahabi. Tapi saya balik kepada anda Saudara Achmad, apakah anda tau apa itu wahabi? Dari mana anda mengenal wahabi? Seperti apakah wahabi yang anda maksud?

    • @ achmad……namamu tak mencerminkan akhlakmu……salah satu bentuk akhlak orang Islam adalah berbicara dengan bukti….tunjukkan satu bukti saja tentang yang kamu tuduhkan tersebut

  26. Jikalau mengikuti Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah disebut sebagai wahabi…maka saksikanlah wahai kawan, bahwa saya adalah WAHABI…!!!

  27. Assalamu’alaikum akhi salam kenal saya arif saya ingin tanya tentang komentar antum di blog ustadz addariny mohon ditanggapi ya… maaf sedikit ada ganjalan

    “1. Kita memang harus ta’at kepada Ulil Amri.”

    bagaimana dengan hadits Rasulullah yang mengatakan “tidak ada ketaatan terhadap makhluk untuk bermaksiat kepada Allah”..?

    “5. Karena ini adalah persoalan khilafiyah, hendaknya setiap orang mengamalkan apa yang mereka ambil sebagai pendapat,”
    adakah dalil bahwa masalah waktu sholat adalah masalah khilafiyah…?

    sedangkan di Qiblati menyebutkan:
    Bahkan umat Islam telah berijma’ bahwa waktu fajar mulai dari terbitnya cahaya putih dan penyebarannya di ufuq. Diantara yang menukil adanya ijma’ adalah al-Hafizh ibn Abdil barr al-Andalusi bdalam kitabnya al-Tamhid (3/275) yang mana ia berkata:

    ((أجمع العلماء على أنَّ أول وقت صلاة الصبح طلوع الفجر الثاني إذا تبين طلوعه؛ وهو البياض المنتشر من أفق المشرق، والذي لا ظلمة بعده))،

    “Para ulama telah berijma’ bahwa awal waktu shalat subuh adalah terbitnya fajar kedua jika telah nampak terang kemunculannya; yaitu cahaya putih yang menyebar dari ufuq timur, yang tidak ada gelap sesudahnya.”

    Sementara di tempat lain (al-Tamhid 8/ 94) ia berkata:

    ((وأجمعوا أنَّ أول وقت صلاة الصبح طلوع الفجر وانصداعه؛ وهو البياض المعترض في أفق السماء، وهو الفجر الثاني الذي ينتشر ويطير))

    Mereka telah berijma’ bahwa awal waktu shalat subuh adalah kemunculan fajar dan terangnya, yaitu cahaya putih yang membentang di ufuq timur, yaitu fajar kedua yang menyebar dan mengembang.”[2]

    semoga akan menambah ilmu bagi saya..
    jazakumullah atas jawabannya

    • Wa’alaykumsalam warohmatullohi wabarokaatuh.

      Afwan baru lihat. Ana jawab sebisanya.

      1. “tidak ada ketaatan terhadap makhluk untuk bermaksiat kepada Allah”..?

      2. adakah dalil bahwa masalah waktu sholat adalah masalah khilafiyah…?

      jawaban saya dalam hal ini:

      1. Kepada siapakah kita harus kembali ketika ada perselisihan ? Tentunya kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan Ulil Amri. Inilah yang tertulis di dalam Al Qur’an Surat An Nisaa’: 59

      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِي

      Sekarang, antum lihat apakah yang terjadi di umat sekarang, perpecahan ataukah persatuan dalam masalah ini? Jawabannya adalah perpecahan. Kalau orang-orang itu benar-benar berada di dalam satu pemahaman sunnah, maka niscaya tiada perbedaan yang begitu mendalam dalam hal ini, yaitu dalam masalah sholat subuh berjama’ah. Sedangkan persoalan tentang apakah waktu fajar itu sudah datang atau belum, di tempat kita sangat sulit untuk dilihat.

      Ada sebuah kasus yang terjadi di Surabaya, ketika ada seorang ikhwan memahami bahwa waktu subuh belum tiba, ia tidak ikut berjama’ah. Akibatnya ia langsung ditanyai oleh ta’mir masjid saat itu kenapa tidak ikut berjama’ah. Dan ikhwan tersebut menjawab, “Saat ini belum masuk waktu subuh, karena menurut pengamatan Fajar di Lamongan belum masuk”.

      Kalau ikhwan ini memang punya bukti yang sangat kuat dan disertai ilmu yang benar, maka niscaya hal tersebut tidak akan jadi masalah. Masalahnya adalah masyarakat sekarang tidak faham tentang waktu fajar. Kalau ikhwan ini bisa membuktikan bahwa di Surabaya saat itu belum masuk fajar, niscaya mereka tidak akan mengusir ikhwan ini dari masjid tersebut, dikarenakan ada indikasi memecah jama’ah.

      Dalam hal ini saja sudah diketahui bahwasannya persoalan ini mendatangkan yang namanya perpecahan, hanya karena orang yang tidak tahu bagaimana cara menyikapi yang benar masalah ini. Seandainya ikhwan tersebut tetap ikut sholat berjama’ah dengan pemahamannya bahwa saat itu memang belum masuk waktu subuh, niscaya tak perlu sampai ada perpecahan. Jadi dalam hal ini, ada orang awam yang ikut2 dalam masalah ini, dan ia tidak punya ilmu, sehingga menyebabkan perpecahan.

      Sekarang bagaimanakah pendapat antum kalau misalnya persoalan ini dihadapkan kepada orang yang ilmunya kurang? Justru dengan maksud saya menyerahkan kepada Ulil Amri ataupun lembaga-lembaga seperti MUI atau DEPAG adalah kalau mereka memang tidak tahu waktu fajar, tidak tahu bagaimana fajar, maka hendaknya ustadz2 yang memang punya pengetahuan tentang masalah ini, segera menyelesaikan hal ini dengan orang-orang yang memang punya ilmu lebih dalam masalah ini. Sehingga tidak dibahas berlarut-larut oleh orang-orang bawah yang tidak punya ilmu sepadan dengan mereka.

      Ingat bagaimana orang-orang yang melubangi kapal gara-gara tidak ingin memberatkan orang-orang yang ada di atas kapal untuk mengambil air? Itulah akibatnya kalau orang awam seperti kita bersibuk-sibuk dengan sesuatu yang kita sendiri masih awam, sedangkan kita di saat sekarang ini harus benar-benar menjaga jama’ah, apalagi kita adalah sama-sama salafiyin, bagaimana mungkin bisa salafiyin yang satu sholat berjama’ah, yang satunya tidak?

      Dalam masalah menta’ati Allah juga harus dilihat hasil dari kita ta’at. Apabila dengan keta’atan tersebut membuat mudharat yang lebih besar, maka kita tidak adil dalam bertindak. Sebagaimana salah seorang shahabat yang tidak bicara lantaran mengetahui bahwa di tempatnya banyak orang tua. Padahal ia tahu bahwa ia benar. Hal itu semata-mata karena shahabat tersebut menghormati mereka dan tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan gara-gara salah ucap.

      Dalam hal ini, seandainya memang masalah ini bukan masalah khilafiyah lalu kenapa satu ustadz salafi membela fajar yang satu, sedangkan yang lainnya membela fajar yang lain? Padahal kita tahu sama-sama keilmuan mereka? Ini jelas perkara khilafiyah, dan ini adalah persoalan ijtihad. Satu ulama berpendapat waktu subuh itu apabila fajarnya muncul merah, yang satu mengatakan fajarnya adalah ketika berwarna putih. Seandainya salah seorang mengikuti salah satunya apakah bisa dikatakan salah?

      Hadits rasululloh shallallahu’alaihi wa salam yang antum sebutkan, adalah ketika kita dihadapkan kepada persoalan untuk membela hak-hak Allah, membela nash-nash, dan teguh di atas jalan As Sunnah. Kalau yang sekarang kita hadapi adalah dua orang yang sama-sama tahu dalil, tapi kita tidak tahu siapa yang paling benar dalam masalah ini, apakah sama kalau kita ibaratkan seperti hadits yang antum bawakan. Terus terang saya sendiri tidak tahu siapa yang benar, maka dari itulah, saya berijtihad dengan mengikuti waktu yang ada sekarang Insya Allah itu sudah cukup. Kalau toh memang ijtihad saya salah dalam hal ini, semoga Allah masih memberikan saya satu pahala, dan kalau benar Allah akan memberikan saya dua pahala. Apalagi seandainya memang sholat kita tidak benar maka semoga sholat-sholat sunnah kita bisa menutupinya.

      2. Yang saya maksudnya memahami pendapat masing-masing adalah, memahami pendapat masing-masing terhadap fajar kedua. Setiap mereka yang berbeda pendapat sekarang ini adalah pada masalah fajar kedua. Di sinilah perbedaan masalah fajar subuh itu akhi. Di sini ada 2 pendapat yang berbeda dalam memahami fajar kedua. Memang tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa fajar kedualah masuknya waktu subuh. Tapi yang jadi persoalan adalah terjadi khilafiyah masalah fajar kedua.

      Kalau untuk yang jadi landasan pegangan saya adalah dari tulisan ini dan ini

      Memang dalam masalah ini kita harus mengumpulkan seluruh pendapat, tidak bisa kita harus langsung berpegang pada satu pendapat tanpa melihat pendapat-pendapat yang lain. Semuanya punya pegangan yang kuat akhi. Kalau antum kumpulkan ustadz-ustadz untuk membahas masalah ini, maka niscaya antum akan dapatkan manfaat dari mendengar penjelasan-penjelasan mereka. Sementara ini ana sudah mengumpulkan beberapa pendapat para ustadz, ada yang berada di tengah, ada yang sependapat dengan Qiblati ada yang tidak sependapat. Semuanya kembali kepada pembahasan perbedaan dalam memahami Fajar kedua, bukan berarti mereka tidak tahu bahwa fajar kedua itu adalah waktunya shalat subuh.

      Insya Allah ini bisa menjawab. jazakallahu khairan katsir atas komentar dan jalan-jalan ke blog ana yang sederhana ini.

      Wallahua’lam bishawab.

  28. Wa’alaykumsalam warohmatullohi wabarokaatuh.
    Afwan baru lihat. Ana jawab sebisanya.
    1. “tidak ada ketaatan terhadap makhluk untuk bermaksiat kepada Allah”..?
    2. adakah dalil bahwa masalah waktu sholat adalah masalah khilafiyah…?
    jawaban saya dalam hal ini:
    1. Kepada siapakah kita harus kembali ketika ada perselisihan ? Tentunya kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan Ulil Amri. Inilah yang tertulis di dalam Al Qur’an Surat An Nisaa’: 59
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِي
    Sekarang, antum lihat apakah yang terjadi di umat sekarang, perpecahan ataukah persatuan dalam masalah ini? Jawabannya adalah perpecahan. Kalau orang-orang itu benar-benar berada di dalam satu pemahaman sunnah, maka niscaya tiada perbedaan yang begitu mendalam dalam hal ini, yaitu dalam masalah sholat subuh berjama’ah. Sedangkan persoalan tentang apakah waktu fajar itu sudah datang atau belum, di tempat kita sangat sulit untuk dilihat.

    ———————————————-
    Ganjalan saya dari jawaban antum sebagi berikut :
    Dalil yang antum pergunakan kayaknya kok kurang pas karena ayat tersebut menyebutkan bahwa jika berselisih kembalilah kepada Allah dan Rasulnya tanpa ulil amri tapi wallahu a’lam jika ada dari tafsir yang menambahi juga untuk ulil amri saya belum mengetahuinya mungkin jika antum ada rujukan tentang mohon kiranya diterangkan kepada saya. karena setahu saya dalil quran dan sunnah jelas ada yang mengatakan putih ada yang mengatakan merah dan sepengetahuan saya hanya Indonesia yang menentukan pada sudut minus 20 derajat satu-satunya di dunia padahal pada sudut tersebut sebagaimana beberapa kali saya mencoba membuktikan memang pada sudut tersebut sangat gelap tidak ada cahaya fajar sebagaimana yang disebutkan ustadz yang kontra dengan terjemahan mendatar baik dari ustadz yang pro yaitu dengan terjemahan membentang.

    Ada sebuah kasus yang terjadi di Surabaya, ketika ada seorang ikhwan memahami bahwa waktu subuh belum tiba, ia tidak ikut berjama’ah. Akibatnya ia langsung ditanyai oleh ta’mir masjid saat itu kenapa tidak ikut berjama’ah. Dan ikhwan tersebut menjawab, “Saat ini belum masuk waktu subuh, karena menurut pengamatan Fajar di Lamongan belum masuk”.
    Kalau ikhwan ini memang punya bukti yang sangat kuat dan disertai ilmu yang benar, maka niscaya hal tersebut tidak akan jadi masalah. Masalahnya adalah masyarakat sekarang tidak faham tentang waktu fajar. Kalau ikhwan ini bisa membuktikan bahwa di Surabaya saat itu belum masuk fajar, niscaya mereka tidak akan mengusir ikhwan ini dari masjid tersebut, dikarenakan ada indikasi memecah jama’ah.
    Dalam hal ini saja sudah diketahui bahwasannya persoalan ini mendatangkan yang namanya perpecahan, hanya karena orang yang tidak tahu bagaimana cara menyikapi yang benar masalah ini. Seandainya ikhwan tersebut tetap ikut sholat berjama’ah dengan pemahamannya bahwa saat itu memang belum masuk waktu subuh, niscaya tak perlu sampai ada perpecahan. Jadi dalam hal ini, ada orang awam yang ikut2 dalam masalah ini, dan ia tidak punya ilmu, sehingga menyebabkan perpecahan.
    Sekarang bagaimanakah pendapat antum kalau misalnya persoalan ini dihadapkan kepada orang yang ilmunya kurang? Justru dengan maksud saya menyerahkan kepada Ulil Amri ataupun lembaga-lembaga seperti MUI atau DEPAG adalah kalau mereka memang tidak tahu waktu fajar, tidak tahu bagaimana fajar, maka hendaknya ustadz2 yang memang punya pengetahuan tentang masalah ini, segera menyelesaikan hal ini dengan orang-orang yang memang punya ilmu lebih dalam masalah ini. Sehingga tidak dibahas berlarut-larut oleh orang-orang bawah yang tidak punya ilmu sepadan dengan mereka.

    ——————————————–
    Yang kedua ganjalan saya :
    1. apakah setiap kasus bisa dijadikan sebagai dalil untuk memvonis sesuatu, misalkan saja ada seorang berdakwah tentang haramnya demokrasi… bid’ahnya waktu imsyak.. haram perdukunan, bid’ahnya upacara kematian sebagaimana adat di jawa lantas orang tersebut diusir dari kampungnya karena memecah belah disana ada anak yang tidak mau menyelenggarakan upacara kematian orang tuanya dan lain sebagainya apakah dia termasuk dari hal yang antum sebutkan dan dia telah memecah belah.

    Ingat bagaimana orang-orang yang melubangi kapal gara-gara tidak ingin memberatkan orang-orang yang ada di atas kapal untuk mengambil air? Itulah akibatnya kalau orang awam seperti kita bersibuk-sibuk dengan sesuatu yang kita sendiri masih awam, sedangkan kita di saat sekarang ini harus benar-benar menjaga jama’ah, apalagi kita adalah sama-sama salafiyin, bagaimana mungkin bisa salafiyin yang satu sholat berjama’ah, yang satunya tidak?
    Dalam masalah menta’ati Allah juga harus dilihat hasil dari kita ta’at. Apabila dengan keta’atan tersebut membuat mudharat yang lebih besar, maka kita tidak adil dalam bertindak. Sebagaimana salah seorang shahabat yang tidak bicara lantaran mengetahui bahwa di tempatnya banyak orang tua. Padahal ia tahu bahwa ia benar. Hal itu semata-mata karena shahabat tersebut menghormati mereka dan tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan gara-gara salah ucap.
    Dalam hal ini, seandainya memang masalah ini bukan masalah khilafiyah lalu kenapa satu ustadz salafi membela fajar yang satu, sedangkan yang lainnya membela fajar yang lain? Padahal kita tahu sama-sama keilmuan mereka? Ini jelas perkara khilafiyah, dan ini adalah persoalan ijtihad. Satu ulama berpendapat waktu subuh itu apabila fajarnya muncul merah, yang satu mengatakan fajarnya adalah ketika berwarna putih. Seandainya salah seorang mengikuti salah satunya apakah bisa dikatakan salah?
    Hadits rasululloh shallallahu’alaihi wa salam yang antum sebutkan, adalah ketika kita dihadapkan kepada persoalan untuk membela hak-hak Allah, membela nash-nash, dan teguh di atas jalan As Sunnah. Kalau yang sekarang kita hadapi adalah dua orang yang sama-sama tahu dalil, tapi kita tidak tahu siapa yang paling benar dalam masalah ini, apakah sama kalau kita ibaratkan seperti hadits yang antum bawakan. Terus terang saya sendiri tidak tahu siapa yang benar, maka dari itulah, saya berijtihad dengan mengikuti waktu yang ada sekarang Insya Allah itu sudah cukup. Kalau toh memang ijtihad saya salah dalam hal ini, semoga Allah masih memberikan saya satu pahala, dan kalau benar Allah akan memberikan saya dua pahala. Apalagi seandainya memang sholat kita tidak benar maka semoga sholat-sholat sunnah kita bisa menutupinya.

    —————————————
    Yang berikutnya :
    Antum bisa membuktikan apakah sebelum ada permasalahan Fajar Shodiq para pengikut salaf (salafiyyin) bersatu.. ?
    bagaimana jika kita dudukkan masalah secara proporsional ustadz salaf 1 mengatakan fajar shodiq putih berdasarkan al quran dan dalam beberapa hadits disebutkan fajar shodiq berwarna merah.. kita berusaha untuk mengamati fajar shodiq ditempat yang layak untuk melakukan pengamatan apakah memang benar bahwa fajar selalu putih atau kadang-kadang putih kadang kadang merah.. dan syareat sholat setelah tampaknya/terlihatnya fajar (dalam kondisi yang memungkinkan) sepengetahuan saya belum ada dari apa yang say abaca baik yang pro maupun yang kontra sudah di nasah(dihapus)
    dan apakah jika kita sudah mengetahui ilmu tentang waktu sholat subuh yang benar tapi kita tidak membuktikan kebenaran jadwal yang ada pokoknya kita ikut.. berarti kita sudah lepas tanggungan dalam masalah ini, terus apa gunanya kita belajar ini dan itu…

    2. Yang saya maksudnya memahami pendapat masing-masing adalah, memahami pendapat masing-masing terhadap fajar kedua. Setiap mereka yang berbeda pendapat sekarang ini adalah pada masalah fajar kedua. Di sinilah perbedaan masalah fajar subuh itu akhi. Di sini ada 2 pendapat yang berbeda dalam memahami fajar kedua. Memang tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa fajar kedualah masuknya waktu subuh. Tapi yang jadi persoalan adalah terjadi khilafiyah masalah fajar kedua.
    Kalau untuk yang jadi landasan pegangan saya adalah dari tulisan ini dan ini
    Memang dalam masalah ini kita harus mengumpulkan seluruh pendapat, tidak bisa kita harus langsung berpegang pada satu pendapat tanpa melihat pendapat-pendapat yang lain. Semuanya punya pegangan yang kuat akhi. Kalau antum kumpulkan ustadz-ustadz untuk membahas masalah ini, maka niscaya antum akan dapatkan manfaat dari mendengar penjelasan-penjelasan mereka. Sementara ini ana sudah mengumpulkan beberapa pendapat para ustadz, ada yang berada di tengah, ada yang sependapat dengan Qiblati ada yang tidak sependapat. Semuanya kembali kepada pembahasan perbedaan dalam memahami Fajar kedua, bukan berarti mereka tidak tahu bahwa fajar kedua itu adalah waktunya shalat subuh.

    —————————————
    Ganjalan yang ini :
    Saya sangat yakin.. bahwa para ustadz yang tidak sependapat bahwa mereka sangat ahli dalam ilmu bahkan masalah fajar shodiq tapi sepengetahuan saya belum ada yang menunjukkan dengan tangan bahwa… itu loh fajar shodiq.. dan melihat jadwal yang ada dan mengatakan sudah pas dengan jadwal…!!!

    Insya Allah ini bisa menjawab. jazakallahu khairan katsir atas komentar dan jalan-jalan ke blog ana yang sederhana ini.
    Wallahua’lam bishawab.

    —————————————
    Terakhir mohon maaf jika apa yang saya sampaikan kurang berkenan, tapi apa yang saya sampaikan tidaklah lebih untuk memberikan motifasi kepada yang membaca komentar saya untuk lebih proporsional dalam menyikapi permasalahan, bukan dikit-dikit “memecah belah umat…!”.
    dikit-dikit “pokoknya…”. dan sedikit kritikan untuk makalah dari alfurqon mungkin antum bisa baca di blog salafiyunpad tentang fajar shodiq

    • Terima kasih akhi atas komentarnya.
      ana akan tampung dulu. Insya Allah besok akan ana sampaikan jawaban ana.

    • Walhamdulillah,

      Akhirnya ana punya waktu untuk menjawabnya. Dalam persoalan pertama, yang antum katakan ganjalan, dalam jawaban saya, yaitu menggunakan ayat yang kurang pas dalam masalah ini. Menurut saya sudah pas ayat tersebut, memang kalau terjadi perselisihan kita harus mengembalikannya kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Bukankah sekarang memang terjadi perselisihan? Dalam arti memang ada dua pendapat yang berseberangan.

      Kalau misalnya keduanya sama-sama punya dalil yang kuat, maka sudah pasti satu-satunya jalan adalah dengan tabayyun dengan didudukan permasalahan yang sebenarnya. Misalnya pihak Qiblati bertemu dengan pihak-pihak yang berseberangan dengan pendapatnya dalam masalah Fajar Shodiq. Sebagaimana ustadz Abdul Hakim, kemudian ustadz Zainal Abidin dan ustadz-ustadz lainnya yang memang dalam hal ini adalah khilaf, yang mana memang hanya mereka yang punya ilmu yang lebih yang mampu mendudukkan persoalan ini.

      Kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah berarti mencari kebenaran. Siapa yang pendapatnya lebih kuat maka dia yang dijadikan patokan bukan begitu? Tapi kalau metodenya sama, cara yang ditempuh sama, maka ini adalah khilaf dalam memahami sesuatu. Terus terang selama ini saya masih menunggu perkembangan dari masalah ini. Saya tahu sifatnya ustadz Agus, beliau tidak akan berhenti sampai masalah ini selesai. Dan memang satu-satunya jalan keluar yang paling baik adalah menunggu jawaban dari DEPAG ataupun MUI. Sebab masyarakat kita cenderung lebih percaya kepada kedua lembaga itu ketimbang orang per orang. Lagi pula DEPAG dan MUI adalah wadah umat Islam.

      Dalam persoalan kedua.

      Yang kedua ganjalan saya :
      1. apakah setiap kasus bisa dijadikan sebagai dalil untuk memvonis sesuatu, misalkan saja ada seorang berdakwah tentang haramnya demokrasi… bid’ahnya waktu imsyak.. haram perdukunan, bid’ahnya upacara kematian sebagaimana adat di jawa lantas orang tersebut diusir dari kampungnya karena memecah belah disana ada anak yang tidak mau menyelenggarakan upacara kematian orang tuanya dan lain sebagainya apakah dia termasuk dari hal yang antum sebutkan dan dia telah memecah belah.

      Tidak sama akhi, antum salah faham. Sudah saya jelaskan dimuka bahwa ini adalah khilaf dalam memahami hadits, bukan berarti antara sunnah dan bid’ah. Kalau yang antum katakan seperti di atas, jelas itu bukan memecah belah.

      Yang berikutnya :
      Antum bisa membuktikan apakah sebelum ada permasalahan Fajar Shodiq para pengikut salaf (salafiyyin) bersatu.. ?
      bagaimana jika kita dudukkan masalah secara proporsional ustadz salaf 1 mengatakan fajar shodiq putih berdasarkan al quran dan dalam beberapa hadits disebutkan fajar shodiq berwarna merah.. kita berusaha untuk mengamati fajar shodiq ditempat yang layak untuk melakukan pengamatan apakah memang benar bahwa fajar selalu putih atau kadang-kadang putih kadang kadang merah.. dan syareat sholat setelah tampaknya/terlihatnya fajar (dalam kondisi yang memungkinkan) sepengetahuan saya belum ada dari apa yang say abaca baik yang pro maupun yang kontra sudah di nasah(dihapus)
      dan apakah jika kita sudah mengetahui ilmu tentang waktu sholat subuh yang benar tapi kita tidak membuktikan kebenaran jadwal yang ada pokoknya kita ikut.. berarti kita sudah lepas tanggungan dalam masalah ini, terus apa gunanya kita belajar ini dan itu…

      Tentu saja dalam dua pendapat ada satu yang lebih rojih untuk diambil. Dalam masalah ini (fajar shodiq) saya masih mengikuti perkembangannya. Dan memang saya tidak berani menyimpulkan yang mana yang benar, karena memang ilmu saya belum sampai ke sana. Antum menyarankan saya untuk lihat di Salafiyunpad, ya saya sudah download MP3-nya, saya juga membandingkan dengan berbagai tulisan ustadz-ustadz.


      Ganjalan yang ini :
      Saya sangat yakin.. bahwa para ustadz yang tidak sependapat bahwa mereka sangat ahli dalam ilmu bahkan masalah fajar shodiq tapi sepengetahuan saya belum ada yang menunjukkan dengan tangan bahwa… itu loh fajar shodiq.. dan melihat jadwal yang ada dan mengatakan sudah pas dengan jadwal…!!!

      Ini benar

      Terakhir mohon maaf jika apa yang saya sampaikan kurang berkenan, tapi apa yang saya sampaikan tidaklah lebih untuk memberikan motifasi kepada yang membaca komentar saya untuk lebih proporsional dalam menyikapi permasalahan, bukan dikit-dikit “memecah belah umat…!”.
      dikit-dikit “pokoknya…”. dan sedikit kritikan untuk makalah dari alfurqon mungkin antum bisa baca di blog salafiyunpad tentang fajar shodiq

      Sudah saya lakukan. Sebenarnya persoalannya itu sederhana akhi, tapi kebanyakan orang-orang yang mengikuti pendapat dari Qiblati tidak memahami cara mereka menerapkannya di masyarakat.

      Semisal:
      Fulan meyakini bahwa belum masuk waktu subuh. Apa yang harus dilakukan oleh dia?

      1. Menunda sholat dengan berjama’ah di rumah
      2. Ikut sholat dengan niat sholat sunnah. Lalu sholat sendiri di rumah.

      Kemudian bagaimana dengan batas waktu sahur?

      1. Mengikuti jadwal yang waktu subuh sekarang.
      2. Mengikuti pendapat yang diberikan oleh Qiblati yaitu menambah 20 menit.

      Kalau antum tanya kepada orang-orang yang telah membaca majalah Qiblati, maka jawaban mereka berbeda-beda. Dan ternyata disinilah letak permasalahan yang besar.

      Kalau misalnya seseorang itu menunda sholat subuhnya 20 menit, dan itu diketahui oleh para jama’ah masjid. Misalnya dengan sholat jama’ah sendiri di rumah, maka orang ini telah melakukan kesalahan. Yaitu tidak berjama’ah bersama manusia, dan sholat berjama’ah di rumah, padahal sholat subuh itu jama’ah di masjid. Ini saya ambil contoh masjid yang tidak tahu menahu masalah ini.

      Padahal sebenarnya yang menjadi jalan keluar yang telah saya dengar ketika mengikuti Dauroh Fajar shodiq adalah “Tetap ikut berjama’ah bersama manusia, dan dia sholat lagi nanti setelah masuk waktu subuh, adapun sholatnya diniatkan sholat sunnah”. Kalau dia punya keyakinan waktu subuh belum masuk. Hal ini dilakukan agar, ia tetap menjaga jama’ah bersama manusia. Sebab kalau hal itu tidak dilakukan bagaimana bisa dikatakan berjama’ah? Bagaimana dakwah bisa masuk? Sembari orang tersebut, punya kewajiban menyampaikan tentang waktu subuh yang belum masuk.

      Pertanyaannya adlah apakah ini sudah dilakukan oleh orang-orang yang mengikuti Qiblati? Saya yakin kalau tidak ikut Daurah yang diselenggarakan Qiblati ataupun membaca penjelasan Qiblati agar dakwah ini tidak mati, mustahil orang tersebut melakukannya.

      Kedua, batas waktu sahur. Kalau orang yang mengikuti pendapat Fajar Shodiq ditambah 20 menit mengakhirkan sahurnya, dalam arti mengikuti waktu Qiblati, maka orang tersebut melakukan kesalahan juga. Dari yang dijelaskan oleh ustadz Agus, kita tetap berpuasa bersama-sama manusia, dalam arti ketika adzan subuh berkumandang harus menahan dari makan dan minum. Karena puasa itu sah apabila makan minum sebelum waktu subuh. Tetapi sholat harus masuk waktu sholat. Setahu saya inilah yang dijelaskan oleh beliau.

      Dalam hal ini saya masih mengikuti perkembangan dari permasalahan ini. Yaitu tetap menunggu keputusan akhirnya. Dari berita terbaru, bahwa kalender Ummul Qura’ telah merubah waktunya menjadi 18 derajat lebih sedikit. Memang dalam hal ini harus dilakukan penelitian, dan tidak boleh gegabah. Saya lebih memilih hati-hati dalam masalah ini.

      Wallahua’lam bishawab.

      • jazakumullah akhi atas tanggapannya.. hanya satu yang saya sarankan : kenali Sifat Fajar Shodiq lakukan pengamatan setelah itu terserah antum bilang mereka “Qiblati” atau orang yang mengikuti mereka memecah belah umat atau cap yang lain… dan saran saya jangan menghukumi sebuah dakwah yang dianggap “nyleneh” hanya karena mustami’nya yang salah dalam mensikapi, contoh dakwah tentang pentingnya Jihad tidak ada hilaf bahwa Jihad adalah sebuah amalan yang sangat agung hanya karena beberapa kelonpok yang salah dalam mensikapi ajaran jihad maka Dakwah tentang Jihad dianggap memecah belah, dakwah yang perlu ditinggalkan dan yang lainnya.
        wal afwu minkum..

  29. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Semoga blog ini tetap eksis dan banyak pengunjung yang membaca, karena blog ini sangat bermanfaat.

  30. Ass.wr.Wb.
    saya senang dengan blog ini, dan saya setuju bahwa kita memang harus mencontoh apa yang sudah diteladankan Nabi. Beberapa artikel yang saya baca di Blog ini, ada beberapa yang menyebut pendapat Ibnu Taimiyah. bukan maksud apa, tapi saya juga membaca artikel tentang sejarah Beliau yang konon mengeluarkan fatwa yang dianggap keliru hingga akhirnya Beliau dipenjara. Apakah memang fatwa Beliau keliru? mohon ulasan atau tanggapannya. t. kasih. semoga menambah ilmu. Wass.wr.wb.

  31. Assalamu’alaikum
    Insya Alloh, banyak manfaat dari blog antum. Dan ana ijin untuk menyebarkan ulang sebagian tulisan di blog antum. Jazaakallaahu khair sebelumnya.

  32. barokallohu fiik, ya akhil karim
    oh ya akhiy, kenapa di top clicks ada link yang menghujat dakwah salaf dan ulama2 salaf?

  33. assalamu’alaikum wr wb.

    mau tanya nii..
    apa kajian rutin di masjid muhajirin dibuka untuk umum??
    laki dan perempuan?

    terimakasih..
    wassalamu’alaikum..

  34. Ass Wr Wb
    SUPPORT SALAFUS SHALIH!!

  35. saya hanya ikut menyimak perdebatan anda dengan mutiara zuhud, alhamdulillah

  36. Assalamu’alaykum
    akhi, an minta jadwal kajian yang update untuk tahun 2012 ya.. syukron…

  37. Yang macam ini mesti di perdebatkan dalam ranah ahli-ahli hadist. Keputusan bid’ah atau bukan, yang boleh berfatwa adalah ahli hadist, bukannya pendapat dari ulama jadi-jadian.

  38. afwan jiddan, ana copas beberapa artikel antum akh utk bahan buletin? jika berkenan ana ucapkan jazakumullah khairan, dengan tetap menjaga sumbernya.

  39. permohonan izin copas utk bhn artikel ana terhapus atau apa ya akh?

  40. barakallahu fiik…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: