Tips Agar Tidak Mengantuk Saat Khutbah Jum’at

Sholat Jum’at adalah sholat yang wajib bagi mereka yang bermukim di sebuah tempat dan dilakukan pada hari Jum’at. Sholat ini pula wajib bagi laki-laki, namun tidak diwajibkan buat perempuan. Namun tidaklah perempuan dilarang melaksanakan sholat Jum’at asalkan aman terhadap fitnah, yaitu disediakan tempat khusus yang terpisah dengan kaum laki-laki. Salah satu pahala yang besar yang ada pada sholat Jum’at adalah datang sebelum khatib naik mimbar.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنِ اغْتسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَ نَّمَا قَرَّبَ بُدْ نَةً، وَمَنْ رَاحَ فىِ السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَ نَّمَاقَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَ نَّمَا قَرَّبَ كَبْشًااَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَ نَّمَاقَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَ نَّمَاقَرَّبَ بَيْضَةً، فَاِذَا خَرَجَ اْلاِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ.

“Barang siapa yang mandi seperti mandi junub pada hari Jum’at, kemudian dia pergi ke masjid pada kesempatan pertama, maka pahalanya seperti pahala berkorban dengan seekor unta. Barang siapa pergi ke masjid pada kesempatan kedua, maka pahalanya seperti pahala berkorban dengan sapi. Barang siapa pergi ke masjid pada kesempatan ketiga, maka pahalanya seperti pahala berkorban dengan seekor kambing. Barang siapa pergi ke masjid pada kesempatan keempat, maka pahalanya seperti pahala berkorban dengan ayam. Barang siapa tiba ke masjid pada kesempatan kelima, maka pahalanya seperti pahala berkorban dengan sebutir telur. Jika imam (khatib) telah keluar, para malaikat hadir mendengarkan khutbah (tidak ada yang mencatat siapa yang datang setelah itu).” (HR. Muslim).

Sumber: http://m.dakwatuna.com/2012/01/18071/ibadah-jumat-yang-memprihatinkan/#ixzz1tCktuKHP

 

Dalam hadits lain disebutkan:

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ, وَقَفَتِ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ يَكْتُبُوْنَ اْلأَوَّلَ فَاْلأَوَّلَ وَمَثَلُ الْمُهَجِّرِ كَمَثَلِ الَّذِى يُهْدِى بَدَنَةً, ثُمَّ كَالَّذِى يُهْدِى بَقَرَةً, ثُمَّ كَبْشًا, ثُمَّ دَجَاجَةً, ثُمَّ بَيْضَةً،  فَاِذَا خَرَجَ اْلاِمَامُ طَوَوْا صُحُفَهُمْ, يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ.

“Jika tiba hari Jumat, para malaikat berdiri di pintu-pintu masjid menulis yang hadir pertama dan yang seterusnya. Dan perumpamaan orang yang berangkat pertama adalah seperti orang yang berkorban seekor unta, kemudian seperti orang yang berkorban sapi, kemudian seekor domba, kemudian seekor ayam, kemudian sebutir telur. Jika imam telah hadir, maka mereka menutup buku catatan dan menyimak dzikir (khutbah).” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah).
Sumber: http://m.dakwatuna.com/2012/01/18071/ibadah-jumat-yang-memprihatinkan/#ixzz1tClA5fTi

 

Rasulullah SAW bersabda:

وَاِذَ قُلْتَ لِصَا حِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاْلاِمَامُ يَخطُبُ أَنْصِتْ فَقَدْ لَغَوْتَ.

“Bila engkau katakan kepada temanmu pada hari Jumat “diam” sewaktu imam berkhutbah, maka sesungguhnya engkau telah menyia-nyiakan (shalat Jum’atmu)” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber: http://m.dakwatuna.com/2012/01/18071/ibadah-jumat-yang-memprihatinkan/#ixzz1tClmNyVt

Itu tadi dalil-dalil seputar sholat Jum’at. Intinya keutamaan sholat Jum’at adalah Anda datang sebelum khotib naik mimbar, kemudian diam ketika hotib memberikan ceramahnya. Namun ada sebuah hal yang perlu dijadikan sebuah renungan. Tiap kali khutbah, terkadang karena kita capek, trus angin yang masuk masjid sepoi-sepoi membuat mata kita nyaman alias ngantuk.

Berikut tips-tips dari saya pribadi yang sudah saya buktikan ampuh untuk mengusir ngantuk ketika khutbah berlangsung. Karena ini tips dari saya, tentunya akan berbeda pula tips-tips dari orang lain.

1. Sebelum berangkat sholat Jum’at usahakan mandi junub terlebih dahulu, biar badan segar dan sejuk. Dan karena badan segar dan sejuk, ngantuk pun hilang. Badan segar membuat anda semangat, apalagi untuk sholat jum’at.

2. Kalau masih mengantuk, maka jangan sarapan terlalu banyak paginya. Karena sarapan terlalu banyak akan membuat anda mengantuk.

3. Kalau Anda tidak bekerja di hari Jum’at atau bekerja setelah sholat Jum’at, maka tidur dulu sejenak sebelum sholat Jum’at bisa jadi salah satu solusinya.

4. Kalau ketiga cara di atas masih gagal, mungkin salah satu cara yang sedikit ampuh adalah minum kopi sebelum berangkat sholat Jum’at. Kopi bisa jadi salah satu cara yang ampuh untuk membuat kita terjaga dan tidak mengantuk.

5. Kalau Anda masih mengantuk geser tempat duduk, atau ganti tempat duduk (kalau masih ada yang kosong). Atau Anda bisa mengambil air wudhu dan berwudhu lagi.

6. Kalau Anda tetap mengantuk, maka bawa catatan dan catat isi khutbah. Hal ini diperbolehkan oleh para ulama. Karena isi khutbah adalah ilmu dan dengan mencatatnya ilmu tersebut telah diikat. Yang tidak diperbolehkan adalah membuat kegiatan yang sia-sia ketika khutbah berlangsung, namun menulis ilmu yang ada pada khutbah itu bukanlah perbuatan yang sia-sia dan salah satu ibadah.

7. Harus punya niat yang kuat bahwa pada saat khutbah nanti ingin benar-benar memahami isi khutbah, mendengarkan ceramah dan tidak akan mengantuk. Tanpa komitmen dari awal, anda akan mengantuk nantinya.

Demikian 7 tips yang bisa saya sampaikan. Mungkin kalau ada yang mau menambahkan lagi tipsnya silakan.

Wallahu a’lam bihsawab.

Shalat di atas Kendaraan

Anda tentunya pernah berpergian. Baik berpergian antar kota, propinsi, antar pulau atau bahkan antar negara. Apakah Anda tahu sebuah sunnah yang mulia yang ditinggalkan kaum muslimin? Ya, sunnah itu adalah sholat di atas kendaraan. Ini bukanlah karangan saya, bahwa kalau kita lihat sekarang saja di kereta api, bus, atau kendaraan umum lainnya. Orang-orang dari kaum muslimin jarang melakukan ibadah ini. Sebagai contohnya adalah ketika seseorang berpergian jauh, misalnya dari Malang ke Jakarta. Paling tidak akan menghabiskan waktu berjam-jam. Sehari semalam paling lambat. Atau kalau menurut pengalaman saya sampai 12 jam kurang lebih. Banyak di antara mereka tidak sholat.

Fenomena ini terjadi di kalangan kaum muslimin sendiri yang harusnya menjadikan sholat 5 waktu sebagai sebuah kewajiban. Nyatanya mereka melalaikan kewajiban ini. Boleh jadi saya harus khusnuzhon, bahwa mungkin mereka sholat tapi saya tidak tahu. Boleh jadi mereka nantinya akan sholat ketika tiba di tempat. Namun sebagaimana yang saya fahami terhadap permasalahan ini, sholat yang sampai meninggalkan 3x waktu sholat apa bisa boleh? Padahal apabila sudah masuk waktu sholat kita wajib sholat, bahkan walaupun musafir tetap sholat itu adalah kewajiban.

Dari pengalaman saya ketika naik kereta Mutiara Selatan jurusan Bandung-Surabaya, saya berangkat sore ba’dha Ashar. Setelah melakukan sholat qashar saya berangkat. Kemudian saya duduk bersama para penumpang lainnya. Setelah satu atau dua jam perjalanan jam sudah menunjukkan pukul 18:00 wib, waktunya sholat maghrib. Dan di dalam kereta saya tak mendapati seorang pun sholat. Bisa jadi para penumpang itu melakukan qashar. Kebetulan kereta Mutiara Selatan yang saya naiki adalah eksekutif, jelas sekali toiletnya airnya sangat melimpah. Saya sholat maghrib dan Isya’ jama’ qashar sambil duduk di kereta. Para penumpang baik di sebelah saya, ataupun di depan saya tidak ada yang sholat. Lanjut lagi pukul 20:00 wib. Tak ada yang sholat. Saya hanya mendapati satu gerbong mendengkur semua atau sebagian mainan handphone atau nonton tv yang kebetulan ada tv di dalam kereta itu. Setelah itu lanjut sampai subuh pukul 04:30 wib. Tak ada satupun yang sholat subuh. Bahkan saya ragu kalau mereka sudah sholat Isya’. Dan sampai di surabaya pukul 08:00 wib tidak ada satupun penumpang yang saya temui melaksanakan sholat maghrib, Isya’ dan subuh.Astaghfirullah.

Saudaraku yang saya cintai karena Allah, sesungguhnya telah banyak ayat-ayat dan hadits-hadits nabi yang menjelaskan betapa sholat itu penting dan merupakan rukun Islam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar bin Khoththob radhiyallahu’anhum beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salambersabda: ‘Islam itu didirikan oleh lima hal, dua kalimat syahadat Laailaahaillallah dan Muhammad rasulullah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berhaji, dan puasa di bulan Ramadhan’“. [HR. Bukhari]

Padahal rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam dengan jelas memberikan keringanan bagi mereka yang sholat tidak dengan berdiri. Beliau bersabda, “Shalatlah dengan berdiri, apabila tidak mampu maka dengan duduk, apabila tidak mampu maka dengan berbaring” [HR. Bukhari dan kitab-kitab sunan lainnya]

Kemudian tatacaranya pun mudah. Apabila hendak sholat maka seseorang harus menghadap kiblat dulu baru kemudian apabila ia mampu maka ia harus menghadap kiblat kemanapun kendaraan itu berpindah arah. Namun apabila tidak mampu tidak mengapa. Allah berfirman yang artinya:

“Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Qs.Al-Baqarah:144) 

Sungguh Allah itu tidak menghendaki kepada kita kesukaran, namun terkadang kita sendirilah yang selalu mempersulit diri. Banyak orang mengharap surga, saya yakin seluruh para penumpang yang ada di kereta tersebut mengharap surga. Tapi bagaimana mereka bisa berharap sedangkan sholat saja mereka lalai. Dan benar apa yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa ta’alaa yang artinya:

“Celakalah orang-orang yang sholat. (Yaitu) orang yang lalai sholatnya” [Q.S. Al Maa'uun: 4-5]

Padahal banyak sekali riwayat baik dari rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam yang mana beliau sholat di atas unta. Juga dari para shahabat yang mana mereka sholat berjama’ah di atas kapal bahkan ketika kapal itu berganti haluan mereka pun tetap menghadap kiblat. Juga dari riwayat-riwayat para ulama salafush sholih yang mana mereka tetap sholat di atas kendaraan sampai ditujuan. Lalu apa yang sebenarnya dicari oleh kita padahal Islam ini sudah memberikan kemudahan cara beribadahnya? Sholat itu kewajiban yang selayaknya tidak boleh ditinggalkan oleh pribadi seorang muslim.

Wallahua’alam bishawab.

Ringkasan Tata Cara Shalat

Bismillahirahmaanirrahiim,

Alhamdulillah. Washolatu wa’alaa rasulillah wa’alaa ‘alihi wa ash habihi ajma’in waman tabi’ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma Ba’du.

Berikut ini saya menyusun tata cara sholat sesuai sunnah. Saya ambil dari buku Sifat Shalat Nabi oleh Syaikh Muhammad Nasiruddin Al Albani rahimahulloh. Saya ringkas untuk saya ambilkan bagian-bagian pokok saja, sehingga bisa dengan mudah langsung dipraktekkan. Continue reading

Jadwal Shalat Subuh yang Dipermasalahkan bag-2

Oleh
Abu Ibrohim Muhammad Ali AM Hafidzahullah

MUQODDIMAH
Salah satu syarat sahnya shalat adalah masuknya waktu shalat tersebut. Apabila shalat dilakukan sebelum waktunya atau sesudah waktunya berlalu maka tidak sah. Allah Subha ahu wa Ta’ala berfirman.

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” [an-Nisa 4 : 103]

Allah Subhanahu wa Ta’ala membagi waktu-waktu shalat secara global dalam al-Qur’an (seperti dalam al-Isra 127 : 78) dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah menjelaskannya secara terperinci dalam beberapa hadits beliau (seperti HR Muslim : 612, dan lainnya). Tanda-tanda masuknya waktu shalat dapat dilihat dan diketahui oleh siapapun dengan penglihatan masing-masing. Hanya saja sebagian tanda-tanda tersebut berbeda-beda tingkat kemudahan dalam melihatnya. Masuknya waktu Maghrib misalnya, sangat jelas karena dalam hadits-hadits disebutkan bahwa awal waktunya disandarkan kepada terbenamnya matahari. Hal ini berbeda dengan waktu Subuh, di mana tanda masuknya (terbit fajar) tergolong paling samar dibandingkan dengan tanda-tanda masuknya waktu shalat yang lain.

Zaman dahulu untuk melihat tanda-tanda masuknya awal dan akhir waktu shalat sangatlah mudah. Akan tetapi ketika zaman mulai berubah, dengan banyaknya bangunan tinggi di daerah-daerah dan perkotaan, belum lagi dengan banyaknya penerangan-penerangan buatan dan berbagai macam alat transportasi modern, serta banyaknya pabrik-pabrik dengan asap-asapnya yang tebal cukup mempengaruhi kondisi langit. Hal tersebut mempengaruhi tingat kesulitan melihat tanda-tanda awal waktu masuk shalat terutama waktu shalat Subuh. Saat itulah kaum muslimin berijtihad (mencari jalan) untuk mengetahui tanda masuknya shalat yang menjadi samar, di antaranya yaitu dengan membuat jadwal waktu-waktu shalat berdasarkan atas penglihatan sebelumnya dan mengikuti jadwal-jadwal yang ada di negara-negara Islam.

Di Saudi Arabia misalnya, pemerintahnya berpegang kepada jadwal ini untuk menentukan waktu shalat bagi penduduknya, dan manusia pun berpegang kepada jadwal ini sejak kepemimpinan raja Abdul Aziz alu Su’ud hingga hari ini.

AWAL MULA PEMBUATAN JADWAL WAKTU SHALAT
Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia mengetahui waktu shalat dengan melihat tanda-tanda yang tampak bagi mereka. Lalu ketika zaman semakin berubah, mereka memikirkan cara-cara yang mudah untuk mengetahui waktu-waktu shalat dan lainnya. Dahulu mereka hanya berpegang dengan pergantian hari yang terus berputar berbeda-beda menurut musim yang berbeda. Setelah ditemukan alat penunjuk waktu berupa alat yang dipancangkan dan mempunyai bayangan, maka mereka beralih kepada alat ini selama ribuan tahuan, lalu terus berkembang, sehingga ditemukan jam mekanik sekitar abad 13M dan tersebarlah pemakaian jam ini pada abad 15M

Dengan alat ini kaum muslimin mengetahui waktu-waktu dengan sangat tepat, bahkan dapat mengetahui perbedaan waktu permenitnya, kemudian ditemukan jam yang menggunakan bandul pada abad 18. Penemuan ini semakin membuat manusia mengetahui waktu lebih teliti sampai perdetiknya, dan terus berkembang bentuk-bentuk jam ini sampai sekarang. [1]

Ketika manusia telah membutuhkan jam-jam waktu ini, maka mereka juga membutuhkannya untuk mudahnya mengetahui waktu shalat. Karena jika tidak demikian maka mereka harus berulang kali melihat tanda-tanda masuknya waktu shalat yang setiap harinya terulang 5 kali waktu, belum lagi keadaan langit sudah berubah. Bersamaan dengan itulah menjadi dikenal perhitungan waktu-waktu bagi kaum muslimin. Dan cara-cara hisab/perhitungannya ini terus berkembang seiring dengan berkembangnya alat-alat perhitungan waktu yang digunakan oleh kaum muslimin. Lalu ketika ditemukan mesin cetak mulailah dicetak jadwal waktu shalat dan puasa yang kemudian disebarkan sehingga memudahkan kaum muslimin dalam menjalankan ibadah mereka. [2]

Pembuatan jadwal-jadwal ini berdasarkan perhitungan yang sangat teliti para ahli dibidangnya, yaitu menjadikan gerakan matahari sebagai patokannya. Mereka membedakan penentuan waktu ini sesuai dengan perbedaan hari dan tempatnya, bahkan dengan perhitungan menggunakan alat-alat yang lebih canggih dapat diketahui waktu shalat lima waktu sampai beberapa tahun kedepannya [3]. Demikianlah kaum muslimin terus menggunakan jadwal-jadwal waktu shalat dari dahulu hingga sekarang. Continue reading

Jadwal Shalat Subuh yang Dipermasalahkan bag-1

Oleh
Abu Ibrohim Muhammad Ali AM Hafidzahullah

MUQODDIMAH
Salah satu syarat sahnya shalat adalah masuknya waktu shalat tersebut. Apabila shalat dilakukan sebelum waktunya atau sesudah waktunya berlalu maka tidak sah. Allah Subha ahu wa Ta’ala berfirman.

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” [an-Nisa 4 : 103]

Allah Subhanahu wa Ta’ala membagi waktu-waktu shalat secara global dalam al-Qur’an (seperti dalam al-Isra 127 : 78) dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah menjelaskannya secara terperinci dalam beberapa hadits beliau (seperti HR Muslim : 612, dan lainnya) [1]. Tanda-tanda masuknya waktu shalat dapat dilihat dan diketahui oleh siapapun dengan penglihatan masing-masing. Hanya saja sebagian tanda-tanda tersebut berbeda-beda tingkat kemudahan dalam melihatnya. Masuknya waktu Maghrib misalnya, sangat jelas karena dalam hadits-hadits disebutkan bahwa awal waktunya disandarkan kepada terbenamnya matahari. Hal ini berbeda dengan waktu Subuh, di mana tanda masuknya (terbit fajar) tergolong paling samar dibandingkan dengan tanda-tanda masuknya waktu shalat yang lain.

Zaman dahulu untuk melihat tanda-tanda masuknya awal dan akhir waktu shalat sangatlah mudah. Akan tetapi ketika zaman mulai berubah, dengan banyaknya bangunan tinggi di daerah-daerah dan perkotaan, belum lagi dengan banyaknya penerangan-penerangan buatan dan berbagai macam alat transportasi modern, serta banyaknya pabrik-pabrik dengan asap-asapnya yang tebal cukup mempengaruhi kondisi langit. Hal tersebut mempengaruhi tingat kesulitan melihat tanda-tanda awal waktu masuk shalat terutama waktu shalat Subuh. Saat itulah kaum muslimin berijtihad (mencari jalan) untuk mengetahui tanda masuknya shalat yang menjadi samar, di antaranya yaitu dengan membuat jadwal waktu-waktu shalat berdasarkan atas penglihatan sebelumnya dan mengikuti jadwal-jadwal yang ada di negara-negara Islam.

Di Saudi Arabia misalnya, pemerintahnya berpegang kepada jadwal ini untuk menentukan waktu shalat bagi penduduknya, dan manusia pun berpegang kepada jadwal ini sejak kepemimpinan raja Abdul Aziz alu Su’ud hingga hari ini. [2]

AWAL MULA TIMBUL KERANCUAN WAKTU SUBUH[3]
Sekitar dua puluh tahun yang lalu muncul beberapa orang mempermasalahkan jadwal-jadwal waktu shalat yang telah ada. Mereka menuduh bahwa jadwal waktu shalat tersebut tidak tepat, yaitu terlalu mendahului dari waktu sebenarnya sekitar 20 menit [4]. Mereka mengajak orang-orang untuk menyaksikan secara langsung terbitnya fajar, sebagian orang mengambil pendapatnya dan sebagian yang lain eggan mengikutinya.

Ketika permasalahan tersebut semakin mulai membuat orang ragu dan bingung. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah selaku Mufti Umam Saudi Arabia pada saat itu menugaskan Lajnah khusus (suatu lembaga) untuk meninjau ulang, melihat dan meneliti kembali keabsahan jadwal-jadwal waktu shalat terutama jadwal waktu shalat pada kalender Ummul Quro (kalender resmi yang berlaku di KSA). Setelah diteliti dengan cermat, Lajnah tersebut berkesimpulan dan memutuskan bahwa waktu-waktu shalat yang sebenarnya bersesuaian dengan jadwal-jadwal yang dipakai oleh kaum muslimin (jadwal waktu shalat Ummul Quro), tidak ada yang salah. Dengan demikian hilanglah kerancuan permasalahan tersebut.

Hanya saja akhir-akhir ini kerancuan tersebut muncul kembali dan semakin diperbincangkan, kemudian Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh hafidzahullah selaku Mufti Umum Kerajaan Saudi Arabia sepeninggal Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, membantah kerancuan ini berdasarkan bukti-bukti yang sampai kepadanya berupa saksi-saksi yang menguatkan kebenaran jadwal-jadwal waktu shalat, ditambah kenyataan yang berjalan selama ini bahwa jadwal-jadwal tersebut dipakai tanpa adanya kesalahan. Demikianlah apa yang dikuatkan oleh Syaikh Dr Shalih Al-Fauzan hafidzahullah dan Syaikh Jad Al-Haq Hafidzahullah (syaikhul Azhar), juga dikuatkan oleh Ahli Falak Dr Shalih bin Muhammad Al-Ujairi Hafidzahullah.[5] Continue reading

Patokan Kita Dalam Waktu Shalat Bukanlah Jam

Bismillahirahmaanirrahiim,

Alhamdulillah, washolatu wa ‘alaa rasulillah wa ‘alaa ‘aliihi wa ash habihi waman tabi’ahum bi ihsan ilaa yaumiddin. Amma Ba’du.

Ya ayyuhal ikhwah, sesungguhnya Allah telah menetapkan akan waktu-waktu sholat, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوت

Artinya:”Sesungguhnya Shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” [Q.S An Nisaa: 103]

Dan firman-Nya:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِين

artinya: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” [ Q.S. Al A'raaf : 205 ]

Dan firman-Nya:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِين

artinya: “Peliharalah semua shalatmu, dan peliharalah shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk” [Q.S. Al Baqarah: 238]

Dan dari ayat-ayat tersebut maka jelas sudah, bahwa patokan utama dari shalat adalah dengan melihat matahari, bukan dengan patokan waktu. Ketika sekarang ini orang-orang sudah memakai patokan waktu yang dibuat oleh manusia—ahli falak khususnya—maka pada hakekatnya mereka tidak faham bagaimana waktu-waktu sholat itu yang sebenarnya. Sebab, dengan kita tidak mengerti waktu-waktu shalat maka niscaya banyak sekali sholat kita yang tidak terjaga. Dan orang yang tidak menjaga sholatnya benar-benar orang yang celaka.

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ

Artinya: “Maka celakalah orang-orang yang shalat” [Q.S. Al Maa'uun: 4]

Di dalam Bulughul Maram Ibnu Hajar Asqolani mendahului bab Sholat dengan membawakan hadits tentang waktu-waktu sholat. Hal ini beliau lakukan karena memang sholat kalau belum masuk waktunya tidak dianggap sah. Adapun orang-orang yang tidak faham maka harus benar-benar memperhatikan hal ini. Continue reading

ANJURAN MEMPERBAGUS SHALAT DAN ANCAMAN BAGI SHALAT TANPA ATURAN

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pembaca yang budiman.

Kita sekarang sedang dalam bulan penuh ibadah, dan bulan berpuasa ; yaitu bulan Ramadhan nan penuh berkah. Hendaknya di dalam bulan puasa ini kita dapat tampil selaku mukmin yang shalih ; yang taat kepada Rabb-nya, dan mengikuti sunnah Nabi-Nya dalam segala ajaran yang beliau bawa dari Rabb-nya, terutama yang berkaitan dengan menegakkan ibadah nan agung ini ; yakni shalat tarawih. Dalam hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang beribadah dibulan Ramadhan ini dengan penuh keimanan dan perhitungan, niscaya akan diampuni baginya dosa-dosanya yang terdahulu”.

Kita telah mengetahui, hal-hal yang baik sekali lewat pembahasan terdahulu dalam tulisan ini. Diantaranya tata cara shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan dari sisi kebagusan dan panjangnya. Sebagaimana yang diungkapkan ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha : ” … beliau shalat empat raka’at ; jangan tanya soal bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat lagi empat raka’at ; jangan tanya juga soal bagus dan panjangnya..” Juga seperti yang diungkapkannya : “..beliau tak bergeming dalam bersujud, selama kalau seorang diantara kamu membaca lima puluh ayat ..” Atau seperti yang dituturkan oleh Hudzaifah : “Kemudian beliau membaca surat Al-Baqarah (yakni dalam raka’at pertama), setelah itu beliau ruku’. Dan ruku’nya itu sama panjang dengan berdirinya tadi … ” Kemudian ia menceritakan bahwa berdirinya beliau sesudah ruku’ dan sujudnya beliaupun sepanjang/selama itu juga. Kitapun mengetahui, bahwa para ulama As-Salaf pada masa Umar Radhiallahu ‘anhu juga biasa memanjangkan bacaan pada shalat tarawih, sehingga dalam shalat itu mereka membaca tak kurang dari tiga ratus ayat, sampai-sampai mereka terpaksa bertelekan pada tongkat-tongkat mereka karena oleh sebab lamanya berdiri. Dan mereka hanya baru usai menunaikan shalat menjelang fajar.[1]

Semua ini harus menjadi motivator bagi kita sekalian untuk sebisa mungkin menjadikan shalat tarawih kita mendekati kualitas shalat mereka. Hendaknya kita memanjangkan bacaannya, memperbanyak membaca tasbih dan dzikir dalam ruku’, sujud dan diantara keduanya [2], sehingga kita dapat merasakan –meskipun hanya sedikit– satu kekhusyu’an yang merupakan ruh dan saripati dari shalat itu sendiri. Kekhusyu’an inilah yang dilalaikan oleh banyak orang yang melakukan shalat itu saking bernafsunya mereka mengejar shalat 20 raka’at yang mereka yakini dari Umar ! Mereka takperdulikan lagi tuma’ninah. Bahkan mereka shalat ibarat ayam mematuk. Seolah-olah mereka itu alat ataupun perangkat yang naik turun dengan cepat, sehingga mereka tak sempat lagi merenungkan ayat-ayat Allah yang mereka dengar. Sampai-sampai orang lainpun hanya bisa mengikuti mereka kalau berusaha setengah mati !.

Saya ungkapkan hal ini, dengan tetap menyadari bahwa tidak sedikit diantara para imam masjid pada akhir-akhir ini yang mulai sadar dengan kondisi shalat tarawihnya yang sudah sampai sedemikian bobroknya. Merekapun kembali melaksanakannya dengan 11 raka’at yang diimbangi dengan tuma’ninah dan kekhusyu’an. Semoga Allah menambah taufik-Nya atas mereka untuk mengamalkan dan menghidupkan As-Sunnah. Orang-orang semacam mereka itu banyak terdapat di Damaskus dan di tempat-tempat lain.

Hadist-hadits Yang Menganjurkan Dibaguskannya Shalat, Serta Mengancam Shalat Yang Tanpa Aturan

Sebagai support bagi mereka agar terus memperbagus dan menambah kualitas shalat, serta sebagai peringatan bagi mereka untuk tidak shalat serampangan, saya akan membeberkan beberapa hadits shahih yang diriwayatkan berkaitan dengan anjuran memperbagus shalat dan ancaman terhadap mereka yang shalat tanpa aturan. Saya katakan.

Yang Pertama :
Dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu diceritakan bahwa seorang lelaki pernah masuk masjid dan shalat, sedangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di pojok masjid tersebut. (Seusai shalat) Ia mendatangi beliau seraya mengucapkan salam. Setelah menjawab salamnya, beliau bersabda : “Shalatlah kamu,sesungguhnya tadi kamu belum shalat “. Orang itu balik lagi dan kembali shalat. Lalu menemui beliau lagi dan memberi salam. Setelah menjawab salamnya, beliau bersabda lagi : “Shalatlah kamu, sesungguhnya kamu belum lagi shalat”. Pada kali yang ketiga lelaki itu berujar : “Tolong ajarkan aku”. Beliaupun bersabda :

“Apabila kamu hendak shalat, maka berwudhulah dengan sempurna kemudian menghadaplah kearah kiblat dan bertakbirlah. Lalu bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu, kemudian ruku’lah, hingga kamu tuma’ninah dalam ruku’. Lalu tegaklah berdiri, hingga kamu berdiri lurus. kemudian bersujudlah hingga kamu tuma’ninah dalam sujud. Lalu bangkitlah dari sujud hingga kamu tuma’ninnah dalam duduk. Kemudian bersujud lagi hingga kamu tuma’ninah dalam sujud. Kemudian bangkitlah dari sujud, hingga kamu tegak berdiri. Kemudian lakukanlah itu dalam shalat kamu seluruhnya”.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (II : 1919, 219, 222, XI : 31, 467) Muslim (II : 10,11) dan lain-lain.
Continue reading

SIFAT DUDUK DALAM SHALAT DUA RAKA’AT

Oleh
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Telah berselisih para ulama dalam masalah sifat duduk di dalam shalat yang dua raka’at seperti shalat shubuh, shalat jum’at, dan shalat-shalat sunat yang dua rakaat, apakah sifat duduknya iftirasy seperti duduk di antara dua sujud, atau tawarruk?

Sebagian ulama berpendapat bahwa : Setiap shalat yang dua raka’at atau dengan kata lain setiap shalat yang hanya ada satu tasyahhudnya saja, seperti shalat shubuh, shalat jum’at, dan shalat-shalat sunat yang dua raka’at, sifat duduknya adalah iftirasy seperti duduk di antara dua sujud.

Dalil meraka ialah kemutlakan hadits-hadits atau riwayat yang menjelaskan bahwa hukum asal sifat duduk di dalam shalat adalah iftirasy. Kecuali shalat-shalat yang ada dua tasyahhud-nya seperti shalat zhuhur, ashar, maghrib, isyaa’, dan shalat-shalat sunat yang empat raka’at, maka duduk akhirnya tawarruk.

Ringkasnya, kalau shalat itu dua raka’at maka kembali kepada hukum asal sifat duduk di dalam shalat yaitu iftirasy. Dan kalau shalat itu mempunyai dua tasyahhud, maka sifat duduk tasyahhud awal adalah iftirasy, sedangkan tasyahhud akhir sifat duduknya tawarruk.

Inilah yang menjadi madzhabnya Imam Ahmad bin Hambal dan mereka yang sepaham dengan beliau.

Adapun madzhab Imam Abu Hanifah, karena sangat berpegang dengan hukum asal sifat duduk di dalam shalat adalah iftirasy, maka madzhab beliau tidak membedakan antara shalat yang dua raka’at dengan shalat yang mempunyai dua tasyahhud atau antara tasyahhud awal dan akhir sama saja, yaitu kembali kepada hukum asal sifat duduk di dalam shalat yaitu iftirasy, tidak ada tawarruk.

Madzhab Imam Abu Hanifah ini lemah, kalau tidak mau dikatakan sangat lemah, karena jelas sekali bertentangan dengan sejumlah hadits yang menjelaskan adanya sifat duduk tawarruk.

Kita kembali ke madzhab Imam Ahmad, dari keputusan madzhab beliau kita mengetahui, tidak ada satupun dalil -setahu saya- yang sampai kepada kita yang menjelaskan secara khusus bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kalau shalat yang dua raka’at seperti shalat shubuh dan lain-lain sifat duduknya adalah iftirasy. Atau sebagian Shahabat pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka’at duduknya iftirasy. Sebab, kalau ada riwayat yang seperti ini, sah dan tegas, maka tidak ada lagi perselisihan, tetapi wajib bagi kita taslim dan mengamalkannya sesuai dengan contoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena tidak ada dalil khusus seperti yang saya terangkan di atas, maka tahulah kita bahwa masalah ini adalah masalah cara mengeluarkan hukum atau istimbath yang sering membawa perselisihan yang berkepanjangan di antara para ulama’.
Continue reading

Bentuk Shaf dalam Sholat yang Benar

Di bawah ini adalah gambar-gambar tata cara membentuk shaf dalam sholat yang benar. Saya mendapatkannya dari seorang teman. Yang Insya Allah gambar yang singkat ini bisa menjawab segala hal yang terjadi di masyarakat. Karena kekeliruan yang terus-menurus dilakukan oleh masyarakat. Kita juga wajib memperingatkannya karena ini berhubungan dengan sholat, sedangkan sholat adalah ibadah inti dari umat Islam ini. Maka kita harus menjaga agar sholat kita sempurna. Wallahu’alam bishawab.

Continue reading

Menyusun Shaff dalam Sholat

Di bawah ini sedikit disebutkan hadits-hadits yang berkaitan dengan SHAF yang terbagi pada poin-poin secara ringkas :

1. Menyusun shaf

Hadits dari Abu Mas’ud, dari Nabi ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ diriwayatkan bahwa beliau ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ bersabda :

“Hendaklah yang ada di belakangku (shaf pertama bagian tengah) adalah kalangan orang dewasa yang berilmu. Kemudian diikuti oleh mereka yang lebih rendah keilmuannya. Kemudian diikuti lagi oleh kalangan yang lebih rendah keilmuannya” (HR. Muslim no. 433).

Hadits ini mengandung faedah bahwa menyusun shaf sesuai dengan urutan keutamaan di belakang imam. Hendaknya di belakang imam adalah orang-orang yang lebih faqih di bidang agama dan lebih bagus hafalan/ bacaannya dalam Al-Qur’an dibandingkan yang lain; sebagaimana imam dipilih berdasarkan yang demikian. Hal tersebut mengandung hikmah bahwa bila sewaktu-waktu imam lupa/salah dalam bacaan Al-Qur’an, makmum dapat mengingatkannya. Atau sewaktu-waktu imam ada udzur syar’i (misal batal, sakit, dan lain-lain) sehingga imam tidak bisa meneruskan shalatnya, maka orang yang di belakangnyalah yang akan maju menggantikan dan meneruskan imam sebelumnya memimpin shalat berjama’ah.
Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.