KAIDAH-KAIDAH

MUQADDIMAH

Sesungguhnya segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon ampun kepada-Nya. Dan kita berlindung dari kejahatan diri, dan kejelekan amal-amal kita. Barangsiapa telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada satupun makhluk yang sanggup untuk menyesatkannya, dan barangsiapa telah disesatkan oleh Allah, maka tiada satupun makhluk yang dapat menyelamatkannya. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang Haq untuk diibadahi melainkan Allah semata dan aku tidak berbuat syirik. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad bin Abdulloh adalah rasululloh, nabi terakhir, nabi yang Ummi, dan tiada lagi nabi setelah beliau. Sholawat dan Salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam, beserta keluarganya, shahabat dan orang-orang beriman yang mengikuti mereka dengan baik, hingga hari akhir.

Amma Ba’du.

KAIDAH PERTAMA

Berdasarkan firman Allah:
“Artinya: Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku”. [ QS. Adz Dzariyat: 56 ]

Allah adalah satu-satunya ilaah yang berhak untuk diibadahi. Tiada sesuatu apapun untuk diagungkan kecuali hanya mengagungkan Allah, memuja-Nya, mencintai-Nya melebihi cinta kepada makhluk, mengharumkan nama-Nya. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang berhak dimintai pertolongan terkecuali Allah. Tidak ada hal yang berhak dibela melainkan syari’at-Nya. Tiada hal yang paling dipatuhi melainkan hukum-Nya. Keta’atan hanya ada pada Allah semata di atas ketaatan atas makhluk. Tidak boleh menghalalkan hukum terkecuali hukum Allah.

Allah adalah Rabb, Allah adalah Ilaah, dan Allah adalah tempat setiap makhluk bergantung. Tiada beranak dan diperanakkan, tiada terdiri dari emas dan perak. Dia tidak sama seperti makhluk-Nya. Allah adalah tempatku berserah diri, Allah adalah tempatku mengadu, Allah adalah tempatku memohon pertolongan, Allah adalah tempatku berlindung, Allah adalah tempatku beribadah, Allah adalah tempatku memberikan seluruh harta dan nyawaku karena segalanya adalah milik-Nya.

Mengimani sifat-sifat dan nama-nama Allah adalah wajib. Tidak berbuat takyif, tidak berbuat ta’til, tidak berbuat tamtsil, tidak berbuat tahrif terhadap asma’ dan sifat-Nya. Mengimani atas segala bentuk Asma’ wash shifat adalah wajib dan bertanya atasnya adalah harom.

Dalam beribadah kepada Allah, maka kita wajib melakukan beberapa hal, antara lain adalah:

1. Ta’at dan patuh kepada Allah Azza Wa Jalla. Artinya ta’at terhadap setiap risalah yang dibawa oleh rasululloh Shallallahu’alaihi wa sallam, menta’ati segala apa yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang. Ta’at kepada Allah lebih utama daripada ta’at kepada orangtua, atau ta’at kepada pemimpin. Apabila pemimpin berbuat maksiat dan memerintahkan kepada kemaksiatan, kita harus menjauhi kemaksiatan dan takut kepada Allah. Kita hanya takut kepada Allah saja, bukan kepada pemimpin, ustadz, kyai, ulama, presiden, Amerika, atau yang lain. Bahkan kalau sampai ada orang yang menyembah keris, mengagung-agungkan sesuatu sehingga ia ta’at kepadanya, maka dia telah terjerumus ke dalam kesyirikan.

2. Mengakui bahwa tiada hukum yang lebih baik melainkan hukum Allah. Dalam hal ini seorang muslim harus menjauhi thoghut. Yaitu sesuatu yang menjadi tandingan Allah. Menjadi tandingan hukum-hukum Allah, menjadikan sesuatu sejajar dengan Allah, harus dijauhi. Apapun bentuknya. Maka dari itulah, apabila seseorang menganggap ada peraturan yang “dianggap” lebih baik daripada hukum Allah, maka dia telah kafir. Apabila ada seseorang yang menganggap bahwa hukum-hukum Allah itu perlu direvisi maka ia telah kafir. Inilah sifat-sifat tahalul yang harus dibenci, dijauhi, karena bisa mengeluarkan seseorang dari Islam.

3. Tidak membenci dan mencintai, melainkan membenci dan mencintai karena Allah. Kita harus mencintai seseorang dikarenakan ketaqwaan orang tersebut terhadap Allah dan Rasul-Nya. Kita juga harus membenci seseorang dikarenakan kekafirannya terhadap Allah dan Rasul-Nya. Maka dari itu siapa yang tidak mengatakan seorang muslim adalah muslim, maka dia jelas kafir, dan barang siapa tidak mengatakan seorang kafir adalah kafir, maka dia telah kafir.

KAIDAH KEDUA

Berdasarkan firman Allah:
“artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [ QS. Al Ahzab : 21 ]

Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” [ HR. Al Bazaar ]

Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah dari golongan kami orang yang tidak mengasihi dan menyayangi yang lebih muda, tidak menghormati orang yang lebih tua, dan tidak beramar ma’ruf dan nahi mungkar.” [ HR. Tirmidzi ]

Rasululloh Shallallahu’alaihi wa sallam adalah suri tauladan yang harus diikuti. Selalu bershalawat atasnya ketika disebut namanya. Melaksanakan sunnah-sunnahnya, membela ajarannya, mendakwahkan ajarannya, dan istiqomah di atas jalannya. Menghormati dan tidak mencela para keluarganya, dan para shahabatnya. Menjadikan mereka sebagai panutan, sebagai guru, sebagai pengajar, dan mengikuti jalan mereka adalah wajib. Berpikir seperti pemikiran mereka, berakhlaq seperti akhlaq mereka, berdakwah dengan cara mereka. Sebab rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam diutus untuk menyempurnakan akhlaq.

Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam mengajarkan akhlaq dalam setiap dakwahnya, maka adalah wajib bagi kita untuk mendahulukan berakhlaq yang baik sebelum berdakwah. Wajib bagi orang yang mengikuti ahlussunnah wal jama’ah berdakwah dengan adab sebelum ilmu. Adanya adab didahulukan daripada ilmu yang ada adalah dakwah akan masuk kepada hati setiap manusia, sebagaimana yang dicontohkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam. Adapun dakwah tanpa adab, hanya akan terjadi kekurang ajaran. Imam Malik lebih banyak mengajarkan adab daripada hadits dan inilah juga yang diajarkan oleh generasi salaf terdahulu.

KAIDAH KETIGA

Berdasarkan sebuah hadits:
“Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai-berai sehingga keduanya menghantarku ke telaga (Surga).” (Di-shahih-kan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’)

Siapapun yang berada di atas manhaj salafush sholeh adalah orang-orang terhormat. Mereka adalah generasi terbaik dari umat ini, yaitu umat pada masa rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam, masa para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Perilaku mereka wajib diikuti, menisbatkan diri kepada mereka atas segala masalah. Mengikuti jalan yang telah mereka tempuh, berlepas diri terhadap setiap firqoh yang menolak mengikuti jalan mereka, mengingkari setiap ajaran yang berlawanan dengan ajaran mereka, dan beramar ma’ruf nahi mungkar sesuai dengan cara mereka.

Karena Golongan Yang Selamat ialah golongan yang setia mengikuti manhaj Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam hidupnya, serta manhaj para sahabat sesudahnya. Golongan Yang Selamat akan kembali (merujuk) kepada Kalamullah dan RasulNya tatkala terjadi perselisihan dan pertentangan di antara mereka. Golongan Yang Selamat tidak mendahulukan perkataan seseorang atas Kalamullah dan RasulNya. Golongan Yang Selamat senantiasa menjaga kemurnian tauhid. Golongan Yang Selamat senang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah, baik dalam ibadah, perilaku dan dalam segenap hidupnya. Golongan Yang Selamat tidak berpegang kecuali kepada Kalamullah dan Kalam RasulNya yang maksum, yang berbicara dengan tidak mengikuti hawa nafsu. Golongan Yang Selamat adalah para ahli hadits. Golongan Yang Selamat menghormati para imam mujtahidin, tidak fanatik terhadap salah seorang di antara mereka. Golongan Yang Selamat menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Golongan Yang Selamat mengajak seluruh umat Islam agar berpegang teguh kepada sunnah Rasul dan para sahabatnya. Golongan Yang Selamat mengingkari peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh manusia apabila undang-undang tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Golongan Yang Selamat mengajak seluruh umat Islam berjihad di jalan Allah.

KAIDAH KEEMPAT

Dari Muadz bin Jabbal radhiyallahu’anhu, Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Bertakwalah kepada Alloh di mana pun kamu berada, ikutilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan baik, maka perbuatan baik itu akan menghapuskan (dosa) perbuatan buruk tersebut, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik” (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad 5/153, dan At Tirmidzi no. hadits 1987)

Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai seorang hamba mukmin yang terjerumus dosa tetapi bertaubat.” (HR. Ahmad)

Mengaku diri sebagai seorang salaf bukanlah merupakan sebuah kewajiban. Mengaku diri sebagai seorang salafiyah Ahlussunnah wal Jama’ah harus dibarengi dengan sikap istiqomah dan berserah diri kepada Allah. Setiap salaf bukanlah orang yang ma’shum. Yang ma’shum hanyalah rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam, para salaf adalah mereka yang senantiasa apabila berbuat dosa akan memperbaiki dosa-dosanya dengan perbuatan yang ma’ruf. Allah menyukai orang-orang yang bertaubat sedangkan para salaf adalah orang-orang yang selalu bertaubat setiap waktu, menjaga diri dari perbuatan riya’, hasad, Allah lebih suka menciptakan hamba-hamba yang banyak berbuat dosa kemudian mereka bertaubat daripada menciptakan seorang hamba yang ia selalu benar dalam setiap langkahnya.

Sebagai ukuran dari seseorang disebut sebagai ahlussunnah wal jama’ah assalafiyah adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Lisan mereka adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Akhlaq mereka adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Perbuatan mereka adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka menangis karena Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka mulia karena Al Qur’an dan As Sunnah. Maka dari itu setiap insan tiadalah yang sempurna, karena manusia pada dasarnya banyak kesalahan dan dosa. Maka dari itulah manusia yang paling disukai oleh Allah adalah mereka yang selalu bertaubat. Bisa jadi seseorang yang di mata kita berbuat jelek, yang selalu mengajarkan kejelekan, tapi di malam harinya ia adalah ahli sujud yang dipuji oleh Allah dihadapan penduduk langit. Namun ada juga orang yang zhahir terlihat baik, tapi seluruh penduduk langit mencelanya.

KAIDAH KELIMA

Siapakah yang berhak disebut sebagai salafiyah Ahlussunnah wal Jama’ah? Siapapun seorang muslim yang berakhlaq baik, berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As Sunnah, mengajarkan kepada kebaikan dan mencegah yang mungkar, istiqomah di atas jalan yang baik dan bersabar atasnya, sebagaimana firman Allah:

“artinya: Demi Masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Melainkan mereka yang beriman, beramal sholeh, saling bertausiyah dalam kebenaran dan saling bertausiyah dalam kesabaran” [ QS Al Ashr ]

Siapapun mereka, yaitu orang muslim harus dan wajib untuk berdakwah. Para salafush sholeh adalah mereka yang selalu berdakwah. Sekalipun kita adalah orang yang ahlu maksiat, tapi kita tetap dituntut berdakwah. Lisan seseorang yang mengajarkan satu ayat lebih baik daripada yang tidak mengajarkan sama sekali. Terlebih baik lagi apabila sebelum berdakwah kita juga mengamalkannya. Hasan Al Bashri rahimahulloh selalu mengamalkan dulu sebelum berdakwah, agar mantap ketika beliau berdakwah. Terlebih lagi para shahabat, mereka adalah orang-orang pilihan yang ikhlas dalam melaksanakan perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Mereka mengamalkan dulu baru kemudian berdakwah, walaupun terkadang para shahabat juga mengeluh ketika di dekat rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam dan berada di majlisnya seolah-olah melihat surga dan neraka begitu dekat. Namun setelah berada di rumah mereka, mereka seperti dilalaikan oleh itu semua. Itu bukanlah satu alasan untuk mereka tidak mendakwahkan yang haq dan mencegah yang mungkar.

Para ulama berkata, “Apabila ada sesuatu yang benar dari diriku, maka itu adalah dari Allah dan Rasul-Nya. Dan apabila ada yang tidak benar, maka itu adalah dari diriku sendiri.”

Saya berkata, “Janganlah kalian mengikuti diriku karena namaku, janganlah mengambil tulisanku karena alasan diriku, karena hartaku, tapi ambillah apa yang aku tulis karena Allah, karena apapun yang benar itu semua dari Allah, adapun yang salah itu adalah dari kedho’ifan diriku semata, dari kejelekan jiwa, dari terbolak-baliknya hati. Janganlah mengikuti perbuatanku, karena pasti banyak perbuatanku yang sangat menyakitkan dirimu, tapi ambillah tulisan-tulisanku yang mengajak kepada kebaikan, yang berbicara tentang kebaikan. Karena kalian pasti akan mendapatkan manfaat di dalamnya, baik itu langsung ataupun tidak langsung, cepat ataupun lambat. Tanah yang tandus pasti akan butuh air, walaupun ia tidak ingin. Suatu saat tanah yang tandus itu akan subur dengan sendirinya dan tumbuh-tumbuhan bisa tumbuh di atasnya. Dakwah yang dibutuhkan manusia zaman ini adalah dakwah yang bisa menghilangkan dahaga di iklim yang panas dan terik. Dakwah yang dibutuhkan manusia di zaman ini adalah dakwah seperti yang dilakukan oleh para salaf, yaitu lebih mengedepankan akhlaq.

“Dakwah yang sia-sia adalah dakwah yang diiringi rasa benci, dakwah yang diiringi cacian, celaan, makian. Ada kalanya dakwah keras itu dicontohkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam, yaitu disaat setiap orang sudah faham terhadap agama mereka, dan juga berdakwah kepada Allah dalam masalah tauhid, ketika hak-hak Allah dilanggar, maka ada kalanya harus keras. Namun dakwah yang mengajak kepada orang-orang yang masih awam, orang yang mungkin ngaji saja tidak pernah, orang yang mungkin setiap hari disuguhi oleh tayangan liberal, bid’ah, takhayul, kurafat apakah cocok dakwah dengan cara keras dan menekan? Hidayah adalah milik Allah, akan tetapi Allah juga akan murka apabila dakwah malah membuat orang lari. Islam saat ini sudah dihina dan dilecehkan, janganlah ditambah dengan hinaan dan dilecehkan, bahkan oleh penganutnya sendiri. Perpecahan di tubuh Islam memang ada, tapi kita harus pandai-pandai mengambil hati orang-orang yang beriman agar mengikuti syari’at dan ajaran yang benar. Jangan sampai apa yang kita lakukan hari ini, akan menjadi penyesalan yang sangat panjang di hari akhir nanti. Allah yang mencatat, Allah yang melihat, Allah yang akan memutuskan apakah kita nantinya selamat di shirath ataukah tidak, Allah yang memutuskan apakah kaki ini akan menyentuh pintu surga atau tidak, Allah juga yang memutuskan apakah kita akan jadi bahan bakar api neraka.

“Nasehat saya kepada setiap orang yang meniti jalan as salaf termasuk saya, mari perbaiki akhlaq diri kita, mari kita perdalam ilmu kita, mari kita amalkan ilmu kita, mari kita dakwahkan ilmu kita. Tiada manusia yang sempurna. Saya, anda, dan orang lain sudah pasti ada dosanya. Kita hanya berserah diri, memohon ampun kepada-Nya dan meniti jalan ini bersama, serta istiqomah di atas jalan ini. Saya bukanlah orang yang bisa disejajarkan dengan para shahabat, juga disejajarkan dengan para ulama pendahulu. Tapi saya berdo’a agar saya bisa dikumpulkan dengan mereka di surga kelak. Saya menuliskan segalanya ikhlas karena Allah semata, dan hanya menginginkan perjumpaan dengan Dzat Yang Maha Agung, Allahu Azza Wa Jalla.”

Akhirul kalam washallallahu’ala muhammadin wa ‘ala ‘alihi wa ash habihi ajma’in, wallhamdulillahi rabbil ‘alamin. wallahu’alam bishawb.

%d bloggers like this: